Disclaimer : Bleach milik Tite Kubo. Saya hanya fans, tidak mengambil keuntungan materiil atas pembuatan fanfiksi ini.
Note : Alternate Universe.


Ingin melakukan sesuatu demi orang yang disukai. Itu adalah keinginan setiap gadis. Kurasa banyak gadis yang ingin mempunyai suatu kesamaan dengan orang yang disukainya.

Dan aku menemukan cinta pertamaku ketika taman kanak-kanak, karena sebuah harmonika.


You're My Endless Love
Scene 4: Together.
plot by: kuroliv; march 2010.


Aku sedang menatap anak-anak yang bermain musik dengan riangnya. Mereka memainkan harmonika, recorder, bahkan pianika. Sedangkan aku? Aku hanya bisa berdiam diri di sudut ruangan sambil terus memperhatikan mereka.

"Ada apa?" tanya sebuah suara. Aku menolehkan kepalaku—kemudian menemukan seorang anak laki-laki dengan rambut putih sedang berjalan ke arahku. Ia tersenyum lembut.

"Alat musiknya—tidak ada," sahutku sambil berpangku tangan.

"Eh? Bukankah tadi Ochi-sensei sudah membagikan semuanya?" pekiknya khawatir. Anak laki-laki itu mengenggam harmonika dalam telapak tangannya.

"Tapi tidak ada," sahutku lagi.

Ia mengajakku untuk melihat kotak musik sekali lagi, kalau-kalau masih ada alat musik yang tertinggal di sana. Anak itu—yang kuketahui bernama Hitsugaya Toushiro—menilik kotak musik kemudian memandangku dengan raut kecewa.

"Eh iya, tidak ada."

Aku hanya mengangguk membenarkan pernyataannya. Ia kemudian berpikir, seraya melihat langit-langit ruangan ini. Beberapa detik kemudian ia berkata, " Baiklah, tunggu sebentar." Ia berlari menuju lokernya. Membuka kotak yang terkunci itu dengan mata kunci miliknya, kemudian dengan sigap berlari ke arahku lagi.

"Ini punyaku, kalau mau pakai saja," sahutnya sambil memberikan harmonika yang baru saja diambilnya. Aku masih tidak mengerti—lebih tepatnya terkejut dengan sikapnya.

"Anak-anak, ayo kita mulai latihan ensembel nya!" Ochi-sensei sudah memerintahkan kata-kata itu, dan beberapa anak-anak tampak berlarian mengerumuni beliau.

"Ayo! Ochi-sensei sudah memanggil!" Aku masih saja terpana akan sikap baik Toushiro. Ia pun menggandengku dan kami bersama-sama menuju lingkaran yang dibentuk Ochi-sensei.

"Aku juga memainkan harmonika, ayo berlatih bersama!" sahut Toushiro.

Sepertinya ia membuatku kagum dengan sikapnya. Sikap baiknya, tutur kata lembutnya, ajakannya. Semuanya begitu manis saat pertama kali ia mengajakku berbicara.

#

Kalau dipikir-pikir, itu cinta pada pandangan pertama. Saat sadar, aku sudah menyukai anak laki-laki yang pertama kali bersikap baik denganku. Dia pandai sekali bermain harmonika. Saat pentas ensembel pun ia diperbolehkan bermain solo.

Entah kenapa—aku jadi ingin pandai bermain harmonika juga. Aku pun berlatih keras, padahal sebelumnya aku tidak suka harmonika. Tapi sejak saat itu, harmonika menjadi salah satu alat musik yang paling aku sukai.

Kalau dipikir sekarang—saat itu aku ingin mempunyai suatu kesamaan dengannya. Aku ingin mempunyai hal yang bisa membuatku bergembira dan bersenang-senang bersama anak laki-laki itu. Bahkan aku menyukai harmonika sejak benar-benar menyukainya.

Ada yang bilang, gadis yang mengubah kesukaan atau hobinya agar cocok dengan laki-laki yang disukainya, berarti tidak mempunyai jati diri. Tapi kurasa tidak. anak perempuan tidak memaksakan diri. Menyukai hal yang disukai orang yang kita suka itu sangat indah.

#

Malam ini aku sedang menunggu kekasihku di pusat kota. Sudah sepuluh menit aku berada di sini dan ia belum juga muncul. Tiba-tiba, aku menyadari ada sebuah benda yang mengejutkanku dari belakang.

"Waa!" teriakku tepat ketika aku melihat benda itu.

"Gomennasai, menunggu lama ya? Aku mengambil ini dulu sih," sahut pemuda yang merupakan kekasihku itu. "Ini."

Ia memberikan benda yang tadi membuatku terkejut. Ternyata sebuah boneka sonic.

"Shiro-chan, ini cuma ada di game center kan? Bukannya kamu tidak menyukai game center?" tanyaku bertubi-tubi. Ia tersenyum sementara.

"Tapi Momo kan menyukai boneka ini. Aku masih tidak suka game center, tapi aku jadi suka boneka ini gara-gara kamu," sahut Toushiro menimpali.

"Arigatou," bisikku lirih. Ia pun segera menggandeng tanganku kemudian kami bersama-sama berjalan menyusuri trotoar.

Usaha untuk bisa mengobrol dan bergembira bersama orang yang disukai bukan berarti memaksakan diri. Karena para pemuda juga pasti akan melakukannya untuk gadisnya.

"Hei, masih suka harmonika, Shiro-chan?" tanyaku seraya menghentikan langkahnya. Ia pun menatapku lembut.

"Tentu saja."

"Ah—aku juga."


FIN.


Note : Hitsugaya/Hinamori. Apakah kalian pernah menyukai hal yang dia sukai?

Feedback?