.
Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted
Genre : Slice of life/psychology/Tragedy
No Pair
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story by DarkGrin
.
POSESIF
You Belong To Me : 2
Chapter 3
Keesokan harinya
Pagi itu keadaan di ruang makan kediaman Sabaku tampak hening tak seperti biasanya. Temari yang biasanya berceloteh hari ini begitu diam. Tak biasa-biasanya gadis itu mendiamkan Sakura. Keadaan yang seperti ini membuat Sakura merasa tak enak dan bersalah secara tak langsung pada Temari. Tapi dia juga heran dan tak menyangka Temari akan sampai semarah ini hanya karena dirinya tak pamitan pada Temari saat pergi. Gaara juga diam tak banyak bicara begitu juga dengan Kankuro serta Baki.
Begitu selesai sarapan pagi keempatnya segera masuk ke dalam mobil dan keadaan di dalam mobil sama saja seperti di ruang makan tadi. Tak ada tegur sapa, tak ada satu patah kata pun yang terlontar dari bibir keempat remaja itu. Diam-diam Baki melirik ke arah belakang dan sesaat kemudian langsung menghela napas pelan.
"Turunkan aku di sini," ucap Temari singkat saat mereka melintas di depan sebuah toko kue.
Baki tak banyak bertanya. Dia berhenti dan menurunkan Temari di tempat yang diminta oleh gadis itu.
"Saya akan segera kembali lagi kemari," ucapnya dengan tanggung jawab penuh.
"Tidak usah. Jarak dari sini tak terlalu jauh dari kampus. Kau langsung pulang saja, aku bisa jalan kaki." Baki mengangguk pelan mematuhi perintah Temari, sedangkan gadis itu dengan cepat berbalik dan masuk ke dalam toko tersebut.
Baki kembali melajukan kendaraan mewah tersebut menuju Sunagakure University. Mobil sedan itu tepat berhenti di depan gerbang kampus Sunagakure yang berdiri kokoh bagai tembok besi.
Sakura, Gaara dan Kankuro lekas turun dari mobil. Begitu turun dari dalam mobil Kankuro langsung pergi melengos begitu saja tanpa banyak bicara. Sakura menatap pemuda berambut coklat acak-acakan itu dengan tatapan agak sebal. Sampai sekarang dia masih tak mengerti kenapa sikap Kankuro bisa sampai seperti itu.
"Terima kasih Baki," ucap Gaara kepada Baki, sementara Sakura melempar senyum sambil sedikit membungkuk kepada Baki. Baki tak berkata apa-apa. Pria itu hanya membalas dengan senyuman tipis. Sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat pada wajah kaku dan tegasnya.
...
Begitu mobil mewah tersebut meluncur pergi meninggalkan mereka, Gaara mengajak Sakura untuk masuk. Begitu memasuki halaman kampus yang luas sosok Kankuro sudah tak terlihat lagi. Pemuda itu memang begitu cepat perginya. Tak berapa lama Gaara pun berpamitan pada Sakura. Pemuda berambut merah itu berjalan ke sisi kiri. Maklum saja mereka beda jurusan.
Sakura terdiam sejenak sambil menatap lurus ke depan. Diperhatikannya mahasiswa dan mahasiswi Sunagakure yang berlalu-lalang di area halaman kampus. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Entah kenapa dia selalu merasa takut dan canggung bila dalam keramaian seperti ini. Disaat seperti ini biasanya selalu ada Sasori yang akan berdiri di sampingnya, menggandeng tangannya dan menuntunnya berjalan sehingga dia dapat mengatasi semua rasa kikuk dan takutnya. Tapi kali ini berbeda, kali ini dia sendiri, bahkan Gaara sudah pergi meninggalkannya.
'Aku harus bisa,' ucapnya mantap dalam hati.
Perlahan namun pasti gadis bersurai merah muda panjang itu mulai melangkah, berjalan dengan percaya diri diantara keramaian. Beberapa kali gadis itu menarik napas hanya untuk menguatkan kakinya agar dapat terus berjalan maju ke depan tanpa keraguan.
"Sakura, kemari sebentar!" saat gadis itu tengah terfokus menatap lurus ke depan, tiba-tiba saja seseorang datang dari samping dan menarik lengannya.
"Sara? Kau membuatku kaget saja!" dengus gadis itu dengan ekspresi terkejut.
Sara, gadis berambut kemerahan itu langsung mengedarkan pandangannya disekitar Sakura seperti sedang mencari-cari sesuatu. Hal ini tentu saja mau tak mau membuat Sakura menautkan kedua alisnya karena melihat tingkah Sara yang mencurigakan.
"Sara, sebenarnya siapa yang sedang kau cari? Akunya di sini, lho!" Sakura dengan gemas membenarkan arah pandangan Sara ke arahnya.
"Temari tidak bersamamu, kan? Aku tak melihatnya sejak tadi... " Sekarang mengerti sudah Sakura kenapa Sara sampai celingak-celinguk seperti itu. Rupanya gadis itu sedang mencari-cari sosok Temari.
"Hn!" Sakura mendengus sesaat, "dia tidak bersamaku. Sepertinya dia sedang marah kepadaku karena sejak pagi tadi dia sama sekali tak bicara denganku," sambungnya sedikit curhat mengenai Temari dengan mimik muka sedih.
"Baguslah!" balas Sara dengan gembira tanpa bisa melihat situasi kalau Sakura sedang sedih karena Temari mendiamkannya.
"Ah, kau ini... " Sakura hanya bergumam pelan sambil memasang wajah masam.
"Sejak kemarin sebenarnya aku ingin bicara denganmu... " mendadak saja wajah Sara kini berubah menjadi sangat serius.
"Bicara mengenai apa?" tanya Sakura yang akhirnya mau tak mau jadi terbawa suasana dan mendengarkan Sara dengan seksama. Untuk sementara rasa sedihnya ia kesampingkan dan hasratnya untuk curhat pun ditahannya.
"A-aku ingin bicara mengenai Temari... " jawabnya yang kini malah berubah menjadi gugup.
"Mengenai Nee-san? Ada apa dengan Nee-san?" tanya Sakura penasaran. Jujur dia ingin sekali tahu apa yang ingin dikatakan Sara mengenai Temari. Sejak awal dia dapat merasakan kalau kakak angkatnya itu memiliki suatu 'keanehan' yang tak dapat ia jelaskan, tapi ia dapat merasakan dengan jelas keanehan itu.
"Tapi sebelum itu berjanjilah padaku. Apa pun yang kukatakan tolong berjanjilah kau tidak akan menceritakannya pada orang lain," pinta Sara sambil menggenggam kedua tangan Sakura dan menatapnya dengan serius. Tanpa sadar Sakura mengangguk pelan.
"Aku akan mengatakan kalau sebenarnya... Temari itu—" belum selesai Sara bercerita tiba-tiba saja muncul seseorang yang mengagetkan keduanya.
"Hayo! Kalau sebenarnya itu Temari apa?" Utakata muncul begitu saja sambil menepuk pundak Sara.
"Utakata!" kedua gadis itu menjerit kaget sambil merutuk.
"Utakata kau menyebalkan!" desis Sara dengan kesal. Padahal kata-kata itu sudah ada di ujung lidahnya dan dia hampir berhasil tapi Utakata mengacaukan semuanya.
Sakura sendiri juga terlihat kesal meskipun dia tak banyak bicara tapi dapat tersirat dari pandangannya yang merasa terganggu karena kehadiran Utakata yang kurang tepat.
"Habisnya kalian berdua kelihatan serius sekali, sih! Membuatku tidak tahan untuk menggoda kalian!" balas pemuda itu membela diri. "Sebenarnya apa sih yang kalian bicarakan? Aku boleh ikut tidak? Aku janji ini hanya akan menjadi rahasia kita bertiga?" pemuda itu kini menatap Sara dan Sakura dengan tatapan memohon sambil memasang senyum malaikatnya.
"Tidak, tidak boleh! Ini pembicaraan khusus perempuan, laki-laki tidak boleh tahu!" dengan cepat Sara menolak permohonan Utakata.
"Lho, kenapa begitu? Bukankah kita teman baik? Diantara teman baik tak boleh ada rahasia, kan?" Utakata berpura-pura memasang wajah kecewa.
"Pokoknya tidak boleh! Sudah, kau pergi saja. Kau itu mengganggu tahu!" gadis itu mendorong paksa Utakata untuk menjauh dari mereka.
"Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa?" Utakata tampaknya kukuh tak mau beranjak kemana-mana.
"Utakataaaaaa kau jangan membuatku tambah kesal!" dengan setengah merajuk Sara berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh pemuda itu. Akan tetapi Utakata tentunya jauh lebih kuat dari Sara. Pemuda itu sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Dia malah tertawa puas seperti meledek gadis itu.
"Pokoknya aku mau di sini~~ "
"Berhentilah bermain-main Utakata, hanya untuk sekali ini saja!"
Akhirnya terjadilah pertengkaran kecil diantara Utakata dan Sara. Keduanya bertengkar seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan, dan pemandangan seperti ini membuat suasana hati Sakura jadi menghangat. Sebuah kenangan lama tercetak kembali di dalam otaknya.
Flashback
"Kakak kembalikan bonekaku!" Sakura yang saat itu masih duduk di bangku SD merengek kepada Sasori yang sedang memainkan Boneka Sakura hanya untuk membuat perhatian gadis itu teralih padanya.
"Aku tak mau mengembalikannya. Habisnya Sakura-chan jadi sering bermain dengan boneka ini dan melupakanku." Tanpa mengindahkan permintaan sang adik, Sasori terus saja mengangkat boneka itu tinggi-tinggi ke atas agar Sakura tak bisa menjangkaunya.
"Ishh! Boneka itu milikku! Carilah yang milik Kakak sendiri!" Sakura marah sambil merajuk sebal pada kakaknya.
"Milikku sudah berdiri di depanku Saku-chan~~ " ucapnya cuek. Meski pada akhirnya Sasori mengembalikan boneka itu juga ke tangan Sakura karena gadis itu mulai hampir menangis.
End Flashback
Begitulah Sasori. Setiap Sakura punya mainan baru pemuda itu selalu mengganggunya hanya karena ingin kembali merebut perhatian Sakura yang teralihkan darinya.
"Kakak... " Sakura bergumam pelan, sangat pelan, bahkan Utakata dan Sara pun tak mendengarnya dan tetap berkutat dengan pertengkaran kecil mereka.
"Aku... mencintaimu, Sakura... "
terngiang kembali dalam ingatannya kata-kata yang diucapkan Sasori pada malam kebakaran itu dan Sakura benar-benar merasa sangat menyesal. Seharusnya dia menyadari perasaan Sasori yang dari dulu sudah mencintainya tapi dia terlalu egois untuk menyadari itu semua.
Sakura kini merasa pusing, rasanya tubuhnya kini terasa berat. Kuat-kuat ia mengepalkan tangannya hanya untuk membuatnya tetap berada di dalam realita.
"Utakata berapa kali kubilang jangan ganggu aku dan Sakura dulu!" terdengar suara Sara yang masih berusaha untuk mengusir Utakata.
"Huh, iya deh aku pergi." Utakata akhirnya hanya bisa mengeluh pasrah. Tampaknya Sara sedang benar-benar tak ingin diganggu.
"Makanya cepat pergi sana!" Sara yang tak sabar langsung mendorong pemuda itu dan tanpa sadar ada seseorang di depan mereka.
Blugh!
Utakata yang didorong secara kasar oleh Sara akhirnya menubruk seseorang yang sedang berdiri persis di depan mereka.
"Apa yang kalian bertiga sedang lakukan, kasak-kusuk di sini?" tanya sosok yang sedang berdiri itu.
Baik Utakata atau pun Sakura sama-sama kaget melihat sosok itu adalah Temari, terlebih lagi Sara yang langsung membeku seperti patung.
"Ah, tidak ada apa-apa. Hanya obrolan ringan seperti biasa dan sedikit bercanda." Utakata dapat dengan cepat menguasai keadaan dan mencairkan ketegangan yang sempat tercipta beberapa menit lalu.
"Sakura, bukannya kau harus masuk ke dalam kelas?" tanya gadis itu dengan datar dan menatap tajam pada Sara.
"I-iya!" Sakura dengan sigap mengangguk cepat. "Sara, kita ketemu di kelas ya!" ucapnya yang kemudian pergi bersama dengan Temari.
"Aaaah! Utakata semua ini gara-gara ulahmu! Aku hampir saja mengatakannya tapi kau malah merusak semuanya!" gadis itu berteriak frustasi ke arah Utakata. Kalau tidak ingat pemuda itu adalah seniornya plus teman dekatnya, mungkin saat ini dia sudah mencekik leher pemuda berambut coklat itu.
"Apa sih teriak-teriak begitu?" balas Utakata dengan tampang innocent.
"Pokoknya aku mogok bicara denganmu!" dengus Sara yang kemudian berlalu dari hadapan Utakata yang sekarang kebingungan. Apa sampai segitunya Sara ingin bicara dengan Sakura? Apa hal yang ingin dikatakannya itu sangat penting?
...
Sementara itu Temari dan Sakura masih berjalan dalam keheningan. Sakura berusaha melirik, mencuri pandang ke arah kakak angkat perempuannya yang berjalan tepat di sebelahnya tanpa suara.
"Temari-nee masih marah padaku?" akhirnya rasa tak enaknya memenangkan hatinya untuk bertanya pada Temari.
"Kau jangan dekat-dekat dengan Sara." Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Temari malah menyuruh Sakura untuk menjauhi Sara.
"Eh? Memangnya kenapa?" Sakura menoleh ke arah Temari meminta penjelasan lebih lanjut atas apa yang dikatakan oleh kakak angkat perempuannya itu.
"Sara itu penyuka sesama jenis," jawab Temari mencelos mulus dan sukses membuat Sakura terperangah.
'A-apa? Sara penyuka sesama je-jenis?' batin Sakura terkejut luar biasa. Ada sedikit keraguan, bagaimana mungkin gadis secantik Sara bisa menyukai sesamanya.
"Aku mengatakan ini hanya karena ingin melindungimu. Aku tahu sekarang dia mengincarmu, makanya aku tak suka padanya," sambung Temari disela-sela keterkejutan Sakura.
"Terima kasih sudah mengingatkanku... " balas Sakura dengan bingung harus bereaksi seperti apa.
TBC
Stop Plagiarism, And Do not copy-paste without my permission
Also
Thank you for
R
E
V
I
E
W
