Seoul, 24 Januari
"Misimu sukses Oh Sehun, walaupun hasilnya tidak begitu memuaskan," kata Presdir Oh—ayah Sehun—sambil berdiri memandangi keluar jendela kantornya, membelakangi Sehun "Kau membuat misi ini begitu mudah, oleh karena itu kau lalai. Kau hampir membuat media Jepang gempar. Bukankah dalam misi ini seharusny aksi yang kau lakukan tidak diketahui oleh publik? Untung Kai dapat dengan cepat membereskannya," omel Presdir Oh.
"Aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi appa," Sehun menundukkan kepalanya.
"Memang itu yang harus Kau lakukan," kata Presdir Oh membalikkan tubuhnya lalu memandangi Sehun "Sebagai seorang penerus pimpinan sebuah perusahaan besar, Kau harus melakukan tugasmu semaksimal mungkin!"
"Aku mengerti, appa,"
Presdir Oh menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Sehun, "Tapi Appa bangga padamu, Kau tidak terluka sedikitpun," Presdir Oh menepuk bahu Sehun "Dengan ini Appa bisa tenang menyerahkan tanggung jawab perusahaan padamu,"
.
.
.
Seoul, 24 Januari
Suara laptop yang sedang digunakan memenuhi apartemen Kai sejak dini hari tadi. Sejak sampai di apartemen, Kai tidak segera beristirahat, melainkan membuka laptopnya dan mengakses data.
Hal yang tak bisa ia lakukan ketika ada Sehun—ataupun orang lain—di sekitarnya. Kai sedang sibuk mengakses data pemerintah yang berhasil ia bobol, untuk mencari riwayat seorang gadis kecil. Gadis kecil pembawa boneka kelinci putih yang ia temukan saat menjalankan salah satu tugas—atau misi—di daerah Daegu beberapa hari lalu.
Rasa penasarannya akan gadis kecil itu lah yang membuatnya melakukan ini. Kai sudah mendapatkan data umum—seperti nama asli, riwayat pendidikan, tanggal dan tempat kelahiran—, dan sedikit data yang lebih bersifat rahasia—seperti riwayat anggota keluarga, dan kehidupan keseharian. Walaupun begitu, rasa penasarannya belum terpuaskan. Ia tahu, gadis kecil itu punya lebih dari ini.
'Sial! Data Tracking bukan keahlianku!' umpat Kai dalam hati. Dia meregangkan tubuhnya. Berjam-jam di depan laptop dengan posisi yang sama membuatnya pegal.
Kai jadi teringat, dia membongkar boneka kelinci putih milik gadis kecil itu saat pemiliknya tertidur. Dan benar saja, ia menemukan flashdisk yang tersembunyi. Flashdisk berharga yang berisi data-data penting yang telah ia serahkan pada Tuan Oh.
Kai tersenyum kecil, gadis kecil itu tidak bodoh. Kai yakin jika gadis kecil itu tahu jika oppanya—yang telah Kai bunuh—menyembunyikan flashdisk di dalam boneka pemberiannya. Kai yakin pasti oppanya telah mengatakan pada gadis kecil itu agar menjaga bonekanya baik-baik—atau kalimat semacam itu.
Jika gadis kecil itu tahu Kai sudah mengambilnya, Kai yakin gadis kecil itu akan membencinya. Pasti. Tapi menurut perkiraan Kai, sepertinya gadis kecil itu sudah tahu.
Tiba-tiba suara notifikasi dari laptopnya membuyarkan lamunan Kai. Dengan sedikit malas Kai membuka sebuah aplikasi yang diciptakan khusus untuk pembunuh bayaran sepertinya. Orang luar yang tidak tahu apapun, tidak bisa menemukan aplikasi ini.
Layar laptop Kai menjadi hitam sesaat sebelum berubah menampilkan layar dengan background seekor puppy berwarna coklat dengan mata khasnya.
Sedikit informasi, aplikasi ini bentuknya hampir sama seperti aplikasi untuk social media, hanya saja ini lebih khusus dan agak lebih rumit. Aplikasi ini juga bebas membuat para pemakainya—para pembunuh bayaran—mendesign sendiri backgroundnya tanpa perlu dilihat oleh pemakai yang lain.
Kai membuka kolom mission. Sederet misi yang seakan tak pernah habis segera memenuhi layar laptopnya. Ada sekitar empat puluh misi yang ditawarkan padanya. Kai lalu memindai dan mempelajari misi-misi itu, memilah-milah mana yang akan ia terima.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia memutuskan mengambil lima misi dari keseluruhan tersebut. Baiklah, ia akan kembali mempelajarinya lagi nanti setelah sarapan. Perutnya belum terisi sedari tadi.
Kai baru saja akan membuka pintu apartemennya saat suara notifikasi laptopnya kembali berbunyi. Tidak, kali ini deringnya lebih panjang. Sepertinya telfon. Ohya, aplikasi ini juga dapat seperti Skype.
Dengan malas Kai kembali berjalan menuju laptopnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Agen 88, kau disana?" tanya seseorang, wajahnya tidak begitu terlihat.
"Ne," jawab Kai singkat.
"Tuan Oh menyuruhmu segera kesini sekarang juga, ada misi penting yang harus segera kau selesaikan," katanya "dan waktumu dua puluh menit."
PIP.
Panggilan dimatikan. Kai mengerang kesal. Bagus, ia sudah harus menjalankan misi sebelum ia sempat untuk sarapan atau tidur. Kai segera menyambar laptop dan kunci mobil lalu melesat menuju basement.
.
.
.
"Agen 88, misimu kali ini adalah membereskan beberapa anggota mafia di Kanada," kata Presdir Oh pada Kai, "Data lengkapnya akan dikirimkan padamu."
Kai jadi heran, jika begini kenapa ia harus jauh-jauh datang ke kantor-garis-miring-markas?
"Kali ini kau sendirian," lanjut Presdir Oh.
Oke, itu tak masalah.
"Tapi—"
Kai menyimak, menunggu kelanjutannya.
"Ada seseorang yang harus kau waspadai dalam misi kali ini." Presdir Oh lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di ruangannya.
Kai menyimak dalam diam. Tak berniat menyela.
"Mafia-mafia yang akan kau bunuh kali ini, adalah beberapa anak buah dari pemilik perusahaan saingan," kata Presdir Oh sambil berdiri menatap keluar jendela. "Tapi, kau tenang saja. Mereka bukanlah mafia besar. Hanya mafia menyedihkan namun dimanfaatkan habis-habisan,"
Jongin masih setia menyimak.
"Walaupun begitu kau harus waspada, bukan tidak mungkin ada tangan kanan dari pemilik perusahaan saingan, Wu Crop."
"Saya mengerti." jawab Kai. Tidak usah dibilang lagi, Kai juga sudah tahu. Sebagai pembunuh bayaran, sikap waspada sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Baiklah, kau akan berangkat nanti sore."
"Baik. Kalau begitu, saya permisi." pamit Kai.
"Kai." panggil Presdir Oh.
Kai menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Tuan Oh.
"Ini adalah misi terakhir dariku. Karena sebentar lagi aku tidak lagi menjabat sebagai Presdir," Presdir Oh membalikkan sedikit tubuhnya menghadap Kai, "Jadi kuharap misimu kali ini berhasil. Karena aku punya sedikit kejutan untukmu."
Kai sedikit heran, tapi akhirnya, ia tetap mengangguk saja lalu segera pergi dari ruangan itu.
Saat ini tujuannya adalah ruangan dimana tempat Chen bekerja. Dia sedikit memerlukan sesuatu dari pemuda itu. Chen adalah ahli senjata dan dia di tugasi untuk menjaga tempat penyimpanan senjata.
Namun, dalam perjalanannya, ia berpapasan dengan Sehun di koridor.
Sejujurnya, Kai heran. Kenapa Sehun suka sekali mondar-mandir daripada duduk tenang di ruangannya? Tapi, toh itu bukan urusannya. Dan dia tidak mempunyai hak untuk tahu.
"Selamat pagi, Sehun-ssi," sapa Kai datar. Bagaimanapun juga, sedingin apapun ia, harus hormat pada atasannya.
"Pagi." jawab Sehun tak kalah datar dan lebih dingin dari Kai.
Atmosfer kecanggungan mulai menyelimuti. Tapi, sebelum atmosfer tersebut mendominasi, Kai sudah melangkahkan satu kakinya untuk melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
"Kemana?" tanya Sehun datar.
Kai menghentikan langkahnya, lalu sedikit membalikkan tubuhnya, "Ke tempat Chen,"
"Untuk apa?"
"Kepentingan misi,"
"Misi?"
"Ne,"
Sehun mengernyit heran, "Memang masih ada misi?"
Kali ini Kai yang mengernyit heran, tidak faham dengan maksud Sehun, "Maksud Anda?"
"Kau tidak tahu?"
Kai tidak suka pembicaraan berputar seperti ini, perutnya sedang kosong dan ia sedang tidak ingin befikir rumit, "Apa yang tidak Saya ketahui, Sehun-ssi?"
"Akan diadakan acara pergantian Presdir besok. Dan semua karyawan—beserta pembunuh bayaran—harus hadir. Oleh karena itu juga, semua pekerjaan dan misi diundur pada hari itu,"
Apa ini? Kenapa Kai tidak tahu tentang hal sebesar ini? Kemana saja dia?
"Kenapa kau masih menjalankan misi? Bukankah semua misi diundur?" tanya Sehun.
"Saya juga tak mengerti." Kai menghela nafas.
"Undur misi itu. Sekarang." ucap Sehun datar yang terdengar seperti perintah.
"Tapi…" Kai berfikir sejenank, "Misi Saya dari Presdir Oh,"
Sehun mengernyit.
"Maaf, tapi sepertinya Saya tidak bisa mengundur misi penting ini,"
"Jadi kau tidak akan hadir?"
"Entahlah, tapi sepertinya… tidak,"
Sehun heran. Sepenting apakah misi Kai ini? Kenapa ia tidak tahu? Dan kenapa Appanya tidak memberitahu apa-apa? Bukankah besok dia akan diangkat menjadi Presdir pengganti Appanya?
Terlalu banyak pertanyaan. Sehun tidak akan mendapatkan jawaban jika tidak segera menemui Appanya.
"Baiklah, Saya permisi dulu," pamit Kai lalu berbalik pergi, namun sialnya, perut Kai menyanyikan haknya yang belum diberikan pagi ini—sarapan.
Sehun tersenyum tipis dan samar saat mendengar suara perut Kai, "Belum sarapan, eoh?"
Kai merutuk dalam hati. Kenapa perutnya meminta hak disaat tidak tepat. Menodai harga dirinya saja.
Kai menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Ingin sarapan bersama?" tawar Sehun.
Kai sedikit tersentak, tidak menyangka Sehun akan loyal kepadanya.
'Mungkin hanya basa-basi,' fikir Kai.
"Eum.. maaf, tapi… Saya harus segera ke tempat Chen,"
Sehun mengangguk faham, "Baiklah."
Setelah pamit, Kai segera melangkahkan kakinya cepat ke tempat Chen berada dan segera menerobos masuk.
"Kau bisa lebih santai lagi jika ingin masuk," tegur Chen pada Kai.
"Tak ada waktu," jawab Kai singkat, "Aku membutuhkan beberapa peralatan,"
"Tidak usah terburu-buru, kau tinggal menyebutkan senjata seperti apa yang kau butuhkan,"
"Tunjukkan saja padaku gudang senjatanya," ucap Kai.
"Kau tahu, itu melanggar peraturan," tegur Chen lagi sambil memutar bola mata. "Sebutkan saja yang kau butuhkan. Aku akan menyediakannya,"
Kai menatap datar Chen. Sejujurnya, dia belum tahu misi seperti apa yang akan ia jalani, karena datanya belum dikirimkan padanya. Jadi, ia juga tidak tahu peralatan apa yang akan di butuhkannya.
Laptop Chen tiba-tiba mengeluarkan suara notifikasi, "Tunggu disini," kata Chen sebelum berjalan menuju laptopnya berada.
"Aku akan kembali," kata Kai sesaat sebelum menghilang keluar ruangan.
.
.
.
"Kenapa Appa tidak memberitahuku jika Agen 88 menjalankan misi?" tanya Sehun ketika berada di ruangan Presdir Oh.
"Ini misi penting dan mendesak. Appa hanya tak ingin menimbulkan masalah jika tikus-tikus itu tidak segera di bereskan," kata Presdir Oh.
"Kenapa harus dia?"
"Appa lebih mempercayainya daripada yang lain," kata Presdir Oh mengangkat bahu, "Lagipula kenapa kau peduli padanya?" Presdir Oh menatap Sehun dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
Sehun juga tak tahu kenapa dia merasa tidak suka saat tahu Kai tidak dapat datang pada acara peresmiannya menjadi Presdir besok karena menjalankan misi.
"Boleh aku tahu dia menjalankan misi seperti apa?" tanya Sehun, tidak menghiraukan pertanyaan ayahnya barusan.
"Membereskan beberapa mafia rendahan di Kanada,"
"Jika hanya begitu, Taemin atau Baekhyun mungkin bisa. Kenapa harus dia? Bukankah ini sedikit berlebihan?"
Presdir Oh menatap Sehun tajam, "Walaupun mereka rendahan, tapi mereka bekerja— ah, lebih tepatnya dimanfaatkan oleh musuh besar kita, Wu Crop. Dan menurut data, mereka akan mengadakan transaksi di Kanada," jelas Presdir Oh.
Sehun sudah akan membuka mulutnya tapi Presdir Oh sudah melanjutkan kalimatnya, "Menurut data, Code 61, tangan kanan sang Presdir Wu Crop— Kris – ada di sana,"
Mata sipit Sehun sedikit membulat.
"Dia berbahaya, dan misi ini sulit. Appa fikir, hanya Agen 88 yang paling dapat di percaya menangani misi ini. Dia Profesional,"
Sehun faham tapi tetap saja dia merasa sedikit tidak suka akan hal ini. Disamping ayahnya yang tidak memberitahunya, juga karena.. Kai belum pernah berhadapan langsung dengan Code 61 menjadikan Sehun sedikit khawatir. Eh?
Selain itu dia juga sedikit kecewa saat tahu Kai tidak bisa datang besok.
.
.
.
Vancouver, 25 Januari
Kai tampak sedang menikmati minumannya dengan santai di sebuah bar di dalam club. Ia seperti tak peduli pada kesesakan yang memenuhi club. Walaupun begitu, matanya terfokus pada seorang pemuda yang duduk diatas sofa, di kelilingi wanita-wanita dengan pakaian yang kekurangan bahan, dan sebuah botol minuman keras dalam genggamannya, kemeja yang dipakai pemuda itu tak terkancingi dengan benar sehingga memperlihatkan sebagian tubuh atasnya dan perut absnya.
Kai menatap datar ketika pemuda itu bercumbu panas dengan salah satu dari wanita-wanita yang mengelilinginya. Kai memahat senyum miring di wajahnya. Dengan sekali teguk, ia menghabiskan sisa minuman di gelasnya lalu berjalan menghampiri pemuda yang menjadi targetnya itu.
Tapi, saat langkah kakinya belum sampai pada tujuannya, seseorang telah memeluknya dari belakang dan mulai mengendus lehernya penuh nafsu.
"Hi baby, wanna play with me tonight?" seorang pria berambut blonde membisikkan hal itu ke telinga Kai, disertai hembusan nafasnya pada leher Kai.
"Get Lost! I'm straight!" jawab Kai datar lalu dengan sekali hentak, pelukan pria itu lepas dari pinganggnya.
"Oh, c'mon.. I know you're not,"
"I warn you, get lost!"
"You'll regret it, baby ~" pria itu masih berupaya menggoda Kai, "I'll take you to heaven!"
Kai terdiam sejenak. Memikirkan suatu kemungkinan yang akan sangat menguntungkan dirinya. Melihat Kai tampak berfikir, pria itu semakin berani menggoda Kai. Dia menarik Kai kembali dalam pelukannya.
Kali ini Kai tidak melawan, "I know you want me," kata Kai dengan nada menggoda.
"So bad," tambah pria tidak tahu malu itu.
"Okay, I'll give what you want. But first…" Kai sengaja menggantungkan kalimatnya.
"What's that? I'll give anything what you want just if you gratified me tonight."
Kai tersenyum samar, "Anything?"
"Anything. I'm rich!" kata pria tidak tahu malu itu dengan percaya diri.
Kai menyeringai licik, ia akan memanfaatkan ini sebaik mungkin untuk keuntungan pribadinya—misinya.
.
.
Kai tersenyum puas. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kai memanfaatkan pria-mesum-tak-tahu-malu-itu dalam misinya untuk menghabiskan beberapa targetnya.
Yah, tidak sulit. Pria mesum tidak berguna itu dapat menjadi pion tak berharga tapi sangat menguntungkan di tangan Kai. Pria mesum-bodoh-tak-tahu-malu itu ternyata pemilik club, dia biseksual dan begitu tertarik dengan tubuh Kai. Jadi, Kai tinggal memanfaatkan hal itu untuk mempermudah misinya.
Sekarang, tinggal bagaimana menyingkirkan pria mesum-bodoh ini dari hadapannya. Kai memang memanfaatkannya, tapi ia tidak akan memberikan timbal balik. Dia bukan orang bodoh dan murahan yang dengan mudahnya menyerahkan tubuhnya begitu saja pada orang asing—apalagi pada pria mesum di hadapannya. Katakanlah dia licik. Toh, memang itu julukannya.
"Now, let's play," kata pria itu lalu mulai mendekatkan bibirnya pada bibir plum Kai.
"Wait," Kai sedikit memundurkan kepalanya ke belakang.
"What are you waiting for?" kata pria itu tak sabaran, lalu mulai mengelus pinggang Kai dari samping dengan tangan kanan dan tangan kirinya mengusap pipi tembam Kai.
"Berbalik," perintah Kai datar.
"What do—"
"Berbalik," potong Kai dengan nada perintah yang tidak dapat di tolak. Akhirnya pria itu membalikkan tubuhnya membelakangi Kai.
Setelah pria itu berbalik, Kai mengambil pistolnya yang ia selipkan di betisnya. Lalu mengarahkannya pada pria itu.
"What are you doing?" tanya pria itu.
"Aku? Sesuai janjiku, aku akan membawamu ke surga," kata Kai lalu menarik pelatuk.
Suara tembakan itu tidak terdengar karena adanya peredam yang di pasang di pistol tersebut. Lalu pria itu ambruk, dengan tubuh topless dan peluru yang bersarang pada bagian dada belakangnya. Darah menggenangi lantai kamar yang sedikit kumuh yang berada di atas club.
"Tapi, aku tidak yakin kau akan sampai di surga." Kata Kai sebelum pergi dari kamar tersebut melalui jendela. Masih ada beberapa target yang harus segera ia tuntaskan.
.
.
.
Bangunan gelap tempat Kai menyelinap sangat sepi. Sedikit lebih sepi daripada seharusnya. Kai melirik jam di pergelangan tangannya lalu senyum miring terpahat di wajah mulusnya. Memanfaatkan pria mesum di club tadi menghemat waktunya. Berkat itu, Kai jadi lebih bisa bergerak lebih cepat daripada yang ia rencanakan sebelumnya.
Sekarang, tinggal permainan kecil yang akan segera ia tuntaskan.
Setelah memenuhi revolvernya dengan amunisi, Kai mulai mengendap menuju tangga. Bangunan tempatnya berada sekarang terlampau gelap, mengharuskannya menggunakan kacamata night vision—kacamata yang dapat melihat dalam kegelapan.
Sebenarnya gedung kumuh dan gelap ini merupakan tempat berkumpulnya para mafia yang akan mengadakan transaksi. Dan sebentar lagi transaksi tersebut akan di langsungkan di salah satu bagian gedung. Kai memanfaatkan sikon ini untuk menghabisi mereka.
Setelah mencapai pada salah satu lantai, cahaya remang-remang sedikit menyinari tempat ia berpijak. Kai segera menyelinap di balik salah satu pilar dan mengintip lewat matanya yang sudah tidak menggunkan kacamata night vision.
Terdapat beberapa bawahan yang sedang berkumpul mengelilingi salah satu orang. Sudah dipastikan, orang yang di kelilingi tersebut adalah bos mafia dan merupakan salah satu target dari seorang Kai. Setelah berbincang sebentar, si bos mafia lalu masuk ke dalam salah satu ruangan, diikutin oleh dua orang bawahannya. Sedangkan sisa bawahannya, menunggu di luar.
Kai yakin, transaksi akan di langsungkan di dalam ruangan tersebut. Setelah menunggu timing yang tepat, Kai mulai memainkan perannya, "Showtime," lirihnya sebelum mengadakan kekacauan.
Semuanya terjadi begitu cepat dan terkendali. Para bawahan yang menjaga di depan pintu telah ambruk dan Kai sudah siap membantai para mafia yang berada di ruangan tersebut.
"Who are you?" tanya salah satu bos mafia yang tampak terkejut ketika melihat Kai menerobos masuk dan mengacungkan pistolnya.
"Malaikat kematianmu," jawab Kai dingin dan datar. Seolah tak peduli adanya beberapa mulut pistol mengarah padanya.
Salah satu bos mafia yang memakai topi memandang Kai dari atas sampai bawah, sedikit heran bagaimana pemuda manis seperti Kai, dengan beraninya mengacaukan acara pentingnya.
Wajah Kai tampak datar dan dingin, namun terkesan manis. Apalagi bibir plumnya. Sedangkan tubuhnya.. ugh, terlihat menggoda walaupun tubuh itu terbalut kostum dan pakaian musim dingin. Dia mulai berfikiran aneh, seperti bagaimana menikmati tubuh itu di bawah sentuhannya dan mendengar alunan desahan yang keluar dari bibir plumnya. Bagaimana membuat tubuh menggoda itu menggeliat saat ia menggerayanginya.
"Are you an Asian?" tanya salah seorang bos mafia yang menghisap cerutu.
"Aku penghuni neraka, dan akan segera menyeret kalian kesana," jawab Kai.
Lalu setelah itu dia memuntahkan pelurunya dengan gerakan cepat ke arah targetnya, dan bersalto menghindari timah panas yang mengarah padanya.
Pertempuran yang mengandung senjata api dan ilmu beladiri tingkat tinggi berlangsung cukup sengit dan lama.
Walaupun Kai sedikit babak belur, tapi semua yang berada di ruangan tersebut telah ia jadikan mayat. Dan lantai ruangan tersebut telah ia penuhi dengan genangan darah.
Kai tersenyum sinis, permainan kecil telah ia menangkan—… atau belum.
Bunyi 'klik' terdengar dari arah belakang Kai. Kai merasakan suatu benda di arahkan padanya, tepat di kepala.
"Menikmati permainanmu, eh?" suara berat tersebut terdengar mengejek.
Kai sedikit menegang dalam beberapa detik, lalu setelah itu, dengan santai ia membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan seorang pemuda bertubuh lebih tinggi darinya, dengan bahu lebar dan mata bulat, serta telinga yang sedikit besar sedang mengarahkan mulut pistol padanya.
Kai tidak tahu apakah orang di depannya ini memakai penyamaran atau wajah asli.
"Kau ingin ikut?" tanya Kai tidak kalah mengejek, "Tapi sayang sekali, permainan berakhir,"
Pemuda tersebut tersenyum sinis, "Bagaimana jika kita mainkan permainan baru? Hanya kau dan aku,"
Kai tersenyum mengejek, "Coba kita lihat, sepayah apa dirimu,"
Lalu setelah itu, Kai melakukan tendangan memutar dengan gerakan cepat. Tapi pemuda itu dapat menghindarinya lalu segera melepaskan peluru. Kai bersalto di udara menghindari peluru itu, tapi saat ia bersalto, tak lupa ia juga melepaskan peluru ke arah pemuda itu.
Permainan mereka lebih sengit daripada sebelumnya. Semakin lama semakin panas.
Lawan Kai kali ini jauh lebih hebat dari kelihatannya. Kemampuannya sepertinya sama dengan dirinya, tapi sayangnya, tenaga Kai sudah terkuras dalam permainan sengit sebelumnya. Oleh karena itu, ia sedikit kewalahan menghadapi pemuda tinggi ini.
Hingga tiba saat Kai dalam keadaan terjepit. Jika saja Kai dalam kondisi fit, dia mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk menang.
"Kau salah meremehkanku," pemuda itu tersenyum sinis di hadapan Kai. Kondisinya sama babak belurnya dengan Kai sebenarnya, tapi tidak separah Kai.
Kai akan menembakkan peluru dengan tangan kirinya, namun sebuah pisau lipat melayang ke arahnya dan menikam lengan kirinya. Hingga membuat pegangannya pada pistol itu terlepas. Darah mengucur deras dari tempat menancapnya pisau lipat itu. Sedankan tangan kananya sedang mati rasa gara-gara perkelahiannya beberapa saat lalu.
Pemuda tinggi itu berdiri di hadapan Kai, senyuman sinis tak pernah hilang dari wajahnya.
"Aku tak tahu jika Agen 88 yang tersohor itu punya wajah semanis ini," pemuda itu mengusap pipi Kai. Tangan pemuda itu terdapat noda darah, sehingga noda darah itu juga mengotori wajah mulus Kai yang kini terdapat lebam di beberapa bagian.
Kai meringis dalam hati saat tangan pemuda itu menyentuh lebam dan lukanya, "Jauhkan tangan kotormu dariku,"
Pemuda itu malah semakin melebarkan senyum sinisnya, "Apa kau tahu berapa banyak laki-laki dan perempuan di luar sana ingin disentuh olehku dan ingin mendapatkan kehangatanku?"
Kai tersenyum mengejek, pemuda di hadapannya ini percaya diri sekali, "Sayang sekali, aku bukan jalang murahan seperti mereka,"
Pemuda itu tertawa keras, "Ternyata kabar mengenai dirimu di dunia hitam ini, benar adanya. Aku cukup terkesan dapat bertemu denganmu. Walaupun kondisinya tidak mendukung sama sekali,"
Kai sudah hampir mati bosan mendengar kalimat seperti itu.
"Dan.. aku tidak yakin, apakah wajah manismu ini merupakan penyamaran atau bukan. Wajahmu tergolong manis untuk ukuran seorang Killer Machine yang tersohor, " pemuda tinggi itu tekekeh.
Kai nyaris meludah ke wajah orang itu, muak dengan senyum dan tawanya, tapi niatnya terhenti saat pemuda itu membuka mulutnya lagi.
"Kau tahu siapa aku?" pemuda itu mendekatkan wajahnya ke Kai.
Kai meneliti baik-baik wajah pemuda di hadapannya itu, mencoba mengingat. Matanya sedikit terbelalak saat sudah menyadari siapa pemuda di hadapannya ini.
Pemuda di hadapannya ini adalah tangan kanan dari Kris, musuh besar perusahaan Oh. Orang yang sangat berbahaya, yang sudah diwanti-wanti oleh Presdir Oh sebelumnya. Kai merutuki dirinya dalam hati mengapa ia bisa begitu lengah.
"Dari sorot matamu sepertinya kau sudah tahu," Pemuda itu tersenyum sinis, "Yah, untuk lebih formalnya. Aku akan memperkenalkan diriku,"
Keinginan Kai untuk meludah semakin besar saat melihat senyum mengejek itu lagi.
"Aku Code 61, Chanyeol. Orang yang memegang kendali disini, dan kau pasti Agen 88, Kai,"
Kai membelalak kaget. Heran bagaimana bisa pemuda itu tahu namanya. Selama ini, orang-orang yang aktif di dunia hitam hanya tahu Agen 88, bukan Kai. Kai meningkatkan kewaspadaannya pada orang ini dan memasukkannya pada daftar musuh besarnya.
Ia berniat akan menghabisi orang ini. Tapi tidak sekarang. Tidak saat dia sedang dalam kondisi seperti ini. Kai memutar otak, mencari celah agar pergi dari sini. Sebuah ide terlintas di benaknya. Ide bagaimana membuat Chanyeol ini lengah.
Tapi, ide ini memalukan dan tidak manly. Tidak pantas di lakukan oleh seorang Kai. Jika ia benar-benar melakukannya, maka nama baiknya akan tercemar.
"Aku bukanlah orang bodoh, Agen 88. Kau fikir hanya pihakmu yang dapat melakukan data tracking? Tapi harus kuakui, data tentangmu sulit dicari dan nyaris tidak ada,"
Semakin lama aura Chanyeol semakin menekan auranya. Dia harus melakukan sesuatu jika tidak ingin mati konyol. Kai kembali mempertimbangkan ide itu sebelum ia memutuskannya. Ide gila dan memalukan—menendang selangkangan Chanyeol—itu terasa benar-benar memalukan.
Kai benar-benar akan melakukan ide gila dan memalukan itu sebelum sudut matanya melirik revolvernya yang tergeletak di bawah.
Dengan sisa tenaganya, ia meraih cepat revolver itu dengan tangan kirinya yang bergetar dan menembakkan peluru terakhirnya pada pinggang Chanyeol.
"Kita akan menyelesaikan ini suatu hari," kata Kai lalu segera meninggalkan tempat itu.
Kai tahu Chanyeol memakai jas anti peluru seperti dirinya. Tapi menembak dengan jarak yang dekat, cukup membuat Chanyeol lumpuh untuk mengejarnya.
"Kita pasti akan bertemu lagi, Kai.." bisik Chanyeol sambil melihat kepergian Kai dengan memegangi salah satu pinggangnya yang tertanam peluru.
.
.
.
Pemuda dengan tinggi di atas rata-rata itu berjalan sedikit terseok. Salah satu tangannya memegangi bagian pinggangnya yang mengeluarkan darah.
Sedang tangan satunya lagi menggenggam pistol.
"Bos, apa yang terjadi?" tanya salah seorang berambut merah mengahampiri pemuda yang terseok tersebut.
"Tutup mulutmu dan cepat bawa aku ke tempat pengobatan biasa,"
"Baik," kata salah seorang tersebut lalu dengan sigap memapah Chanyeol tapi segera di tepis oleh Chanyeol, "Aku bisa sendiri."
Setelah Chanyeol masuk ke dalam mobil, dengan sigap ia menjalankan mobilnya.
Selama mobil yang dinaikinya berjalan, Chanyeol menatap ke luar jendela dengan senyum miring yang terlihat menyeramkan. "Gotcha!"
Walaupun Chanyeol sedikit geram karena luka tembak di pinggangnya tapi dia berhasil mendapatkan satu potongan kecil dari sekian banyak bagian yang hilang.
Chanyeol mengeluarkan rokok dan pemantik. Lalu menyelipakannya diantara bibirnya.
Tak ia pedulikan asap rokok yang ia hembuskan memenuhi mobil. Otak jeniusnya sedang sibuk merangkai rencana.
"Kita pasti bertemu lagi. Hanya masalah waktu.."
.
.
.
Seoul, 26 Januari
Sehun sedang sibuk mempelajari data di layar komputernya. Sibuk mempelajari data Agen 88 sebenarnya. Sehun ingin mengetahui tentang pemuda itu lebih jauh sebenarnya. Saat pertama kali melihat mata Kai, ada sebuah perasaan seolah dia pernah mengenal pemuda itu sebelumnya.
Sehun ingin sekali memuaskan rasa penasarannya, tapi data yang di kirimkan Agen 99 tidak memuaskan rasa penasarannya.
Sehun mengirimkan pesan ke Xiumin untuk meminta data yang lebih dari ini. Tapi Xiumin berkata data Kai susah di temukan. Walaupun begitu, Xiumin berjanji akan berupaya lebih keras lagi.
Saat Sehun membaca data Kai untuk kesekian kalinya, sebuah dering telfon dari Sekretaris Jung mengacaukan konsentrasinya.
Suara ketukan pintu terdengar setelah Sehun meletakkan telfonnya kembali. Setelah memberikan izin, pintu tersebut terbuka dan munculah sesosok pemuda bertubuh kecil, dengan mata seperti kucing dan pipi yang tembam.
"Duduk," kata Sehun dengan nada datar.
"Saya kemari karena merasa bicara langsung seperti ini lebih terasa nyaman daripada berkomunikasi lewat pesan," kata pemuda itu setelah duduk di hadapan Sehun.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Sehun datar.
"Eum.. ini tentang Agen 88.." kata pemuda itu pelan.
Sehun segera menajamkan telinganya saat mendengar nama tersebut.
"Saya sudah mengeceknya lebih jauh, ternyata hanya sampai segini yang Saya dapat," kata pemuda itu sambil menyerahkan sebuah map.
Sehun segera membuka map tersebut dan mata elangnya mulai memindai. "Kau tidak bisa mendapatkan lebih dari ini?" kata Sehun dengan nada dingin.
"Maaf, tapi—"
"Bukankah Agen 99 seorang Pelacak data yang handal? Kenapa melacak data sesama anggota saja tidak bisa? Menyedihkan." Cibir Sehun kesal yang sukses menohok hati sang Agen 99.
"Oleh karena itu saya kemari. Ada sesuatu yang harus saya jelaskan,"
"Langsung saja ke intinya. Jangan berputar-putar,"
"Sebenarnya Agen 88 itu Agen spesial sejak awal. Ia diangkat sendiri oleh Ayahanda Anda, Tuan Oh. Data Kai tidak selengkap data pembunuh bayaran lain. Keterangan tentang dirinya juga minimal sekali. Tapi, Agen 88 begitu di percaya oleh Ayahanda Anda. Mungkin anak emas, lebih tepatnya,"
Agen 99 menghela nafas sejenak sebelum melanjuti, "Menurut beberapa informasi yang saya dapatkan, Agen 88 segera menjalankan misi sejak kedatangannya pertama kali. Tapi, bukankah ini aneh? Seorang Killer Machine tidak akan segera mendapat misi saat baru pertama kali datang. Kecuali ia memang telah membunuh sebelumnya dan apalagi saat itu Agen 88 tergolong muda,"
"Berapa umur Kai saat pertama kali ia datang ke sini?"
"16 tahun," jawab agen 99, "Maaf sebelumnya, ini hanya dugaan saya. Hubungan Ayahanda Anda dengan Agen 88 sepertinya sangat dekat. Dan lagipula…." Agen 99 tidak mengucapkan kalimat berikutnya. Ia merasa ragu.
"Lagipula apa?" desak Sehun.
"Ini hanya perkiraan saya saja. Mohon jangan di masukkan ke hati,"
"Iya, cepat katakan," perintah Sehun.
Agen 99 berdoa dalam hati, semoga setelah ini ia tak berakhir di tiang pancung, "Lagipula sepertinya Ayahanda Anda menyimpan sesuatu tentang Kai. Menurut saya, alangkah baiknya jika Anda bertanya pada Ayahanda Anda saja," kata Agen 99 takut-takut.
"Kuharap kerjamu ke depannya lebih baik lagi, Agen 99. Kau boleh keluar," kata Sehun dingin.
"Baik, saya permisi," kata Agen 99 lalu segera berjalan cepat menuju pintu keluar.
Sehun berjalan menuju kaca jendela besar ruangannya. Dari kaca jendela besar itu, terlihat pemandangan kota Seoul serta kendaraan-kendaraan yang terlihat mini berlalu-lalang di jalan.
Sehun menerka, 'Jika dilihat lagi, perkataan Xiumin memang benar. Appa dan Kai terlihat sangat dekat. Dan untuk ukuran orang dengan gengsi yang tinggi seperti Kai, agak aneh jika terlalu menurut pada atasan. Kai bukan tipe orang yang suka menerima perintah bulat-bulat. Aku tahu itu. Tapi, melihat Kai yang selalu menjalankan misi dari Appa tanpa banyak protes, membuatku sedikit curiga. Apa hubungan Appa dengan Kai sebenarnya? Kenapa aku tidak pernah tahu?'
Sehun menghela nafas. Sepertinya sesuatu tentang Kai lebih rumit daripada kelihatannya. Sehun mulai terfikir untuk mencari tahu lewat Appanya.
Tapi, sepertinya dia akan melewati hal yang sulit. Mengingat appanya bukan tipe orang yang mudah terbuka dalam hal seperti ini. Tapi, Sehun sudah membukatkan tekadnya untuk segera mencari tahu.
.
.
.
.
.
(TBC)
[A/N] Annyeong~ mungkin ada yang lupa sama sama Shizu dan fic ini
Kangen apdet hehe, kalo ada yang nungguin sih syukur dan maaf kalo apdetannya lama hehe
akhirnya si dobi muncul nih tapi sayang sekali, suasananya tidak bagus xD
Makasih banyak yang udah ripiu, nge fav sama alert ^^
Gimana menurut kalian chapta ini?
Ngebosenin pasti -_- maaf deh T.T
Maaf juga kalo ada typo, kalimat yang gak pas dan lain-lainnya,
Soalnya males ngedit
Let me know what's on your mind! ^^
