PSILOCIN

by: roxanne


Hold on Me


Aku mendongak pada langit siang yang berwana kelabu, ya karena saat ini sedang turun hujan dan tampaknya cuaca buruk ini akan bertahan sampai esok hari. Seseorang mengetuk pintu, yang mana aku tahu dia adalah sekertarisku, Charlotte, wanita berdarah campuran Austria dan Korea. Dia sangat cantik bahkan sempurna dengan rambut panjang sebahu dengan mata agak sipit berwarna kebiruan. Dia antik, artristik dan memilik garis wajah aristokrat. Setidaknya banyak yang diuntungkan dengan memiliki sekertaris cantik, klien dan rekanku sering berkata 'ya' saat kami mengajukan tender-tender hanya demi makan siang dengan Charlotte. Aku tidak munafik bahwa aku tertarik padanya, dan bahkan kami pernah melakukan seks. Selebihnya dia cantik dan menajubkan, semua wanita masa laluku selalu berkaca pinggang dan memaksaku untuk memecatnya. Charlotte membuka pintu dengan seorang gadis mungil basah kuyup disampingnya, Baekhyun.

"Masuklah Baekhyun. Ah kau mengotori lantaiku. Ganti baju dikamar mandi segera, ada beberapa baju santai yang aku simpan disana." Baekhyun mendengus kesal sambil berjalan menuju kamar mandi dan mengutukku dengan julukan si tukang ngomel. Charlotte tersenyum padaku dan izin undur diri.

"Serius tadi sekertarismu? Wow dia menyia-nyiakan hidupnya disini" Baekhyun datang dengan menggunakan kaos polo miliku yang entah mengapa terlihat sangat seksi ketika ia menggunakannya dan celana pendek jeans yang juga milikku yang ia gulung hingga sekitar 5 jari diatas lutut, dia menggunakan tali sepatu sebagai pengganti ikat pinggang pada celanaku yang super duper kebesaran, aku serius dia sungguh terlihat seksi. Jika Charlotte dewi kecantikan dengan segala keanggunannya, maka Baekhyun adalah wanita dengan sejuta sex appeal dalam dirinya, apapun yang ia lakukan terlihat indah dan menggairahkan bahkan ketika ia bernafas atau memanjat tembok.

"Ya, sirik nona Byun?" aku mendudukan diriku disamping Baekhyun.

"Hmm ya bahkan rasanya ingin menangis. Oh tubuh langsingnya!" Baekhyun menirukan wajah anak anjing menangis yang begitu menyebalkan.

"Terserah Baek" aku mendengus. "Sudah siap? Mau berangkat sekarang?"

"Terserah Yeol. Aku sudah siap dari tadi ngomong-ngomong" Baekhyun menjawab sambil berlalu meninggalkan ruangan. Aku menyusul Baekhyun setelah merapikan mejaku dan berganti pakaian yang lebih santai. Aku mendapati Baekhyun tengah kepayahan memindahkan kopernya dari bagasi miliknya ke bagasiku, tapi seperti biasanya dia melakukan segalanya dengan baik.

"Ada yang perlu aku bantu?"

"Semua beres, lagipula aku tidak mau kau mengacaukan barangku" aku menghela nafas sebelum menarik rambutnya gemas yang dibalas geraman Baekhyun dan pukulan bertub-tubi darinya.

"Hahaha cukup Baekhyun, ayo berangkat" dia memberikanku pukulan terakhirnya sebelum ia menutup bagasi mobil miliknya.

"Chanyeol oppa" itu suara suara Baekhyun? Jelas bukan, mimpi saja aku dia memanggilku dengan tambahan oppa. Itu suara manis Charlotte yang memanggilku. Aku menoleh padanya dan tersenyum, Charlotte mendekatiku.

"Oppa, bisakah kau membantuku? Kunci mobilku jatuh ke bawah mobilku."

"Baekhyun tunggu sebentar ya" Tidak butuh lama aku membantunya, aku kembali ke mobilku setelah beberapa menit. Baekhyun telah duduk tenang di kursi penumpang dengan ponsel ditangannya. Perjalanan kami terbilang cukup tenang, tidak tenang sebenarnya tapi sunyi, senyap, hening dan membosankan. Aku tidak tau bagaimana memulai percakapan dengannya, dan Baekhyun seperti biasa tidak peduli dan nyaman dengan dunianya.

Puk

Sesuatu jatuh menimpa telapak kakiku. Itu ponsel Baekhyun. Aku tersentak ketika sesuatu yang lain, menggesek lututku, dan itu terasa kenyal. Baekhyun sedan menduduk berusaha mengambil ponselnya dan tampak sengaja dadanya menggesek lututku beberapa kali.

"Ya! bisakah kau hanya meminta tolonng padaku untuk mengambil ponselmu?" aku menarik bahunya dan mengambil ponselnya.

"Aku bukan nona cantik yang akan meminta tolong hal-hal kecil seperti ini! Kau pikir aku mau berpura-pura untuk menarik perhatianmu!?"

"Itu gunanya 'orang lain' Baekhyun."

"Sekali lagi aku bukan nona cantik yang akan meminta tolong hanya untuk sekedar membungkuk untuk mengambil barang jatuh!" Baekhyun menarik ponselnya dari tanganku dan menggeram kesal.

"Kau cemburu? Aku benarkan?" aku menyeringai karenanya. Baekhyun hanya melirikku dan tidak menanggapi. "Ya aku benar kau cemburu."

"Diam Chanyeol!" ucapan Baekhyun memulai kembali keheningan didalam mobil.

"Ngomong-ngomong kau tidak penasaran kita akan pergi kemana?" Aku bertanya padanya padany untuk memecah keheningan.

"Hmm tidak, dimanapun pasti ujung-ujungnya hotel kan? Kenapa mereka menyuruh kita melakukan ini? Arghhhh" Baekhyun yang mengeluh dengan hidupnya seperti ini tampak menggemaskan bagiku.

"Karena kita belum honey moon, dan mereka ingin kita segera memiliki a…nak" Aku tersenyum jahilnya padanya yang dibalas dengusan geli darinya.

"Aku tidak ingin memiliki anak" lirihnya.

"Kenapa? Kau tidak ingin memiliki anak dariku!?"

"Tidak juga, walaupun aku akan mengandung anak dari Kim So Hyun pun aku tidak mau." Baekhyun menggedikkan bahunya dan tertawa kecil. Apa ada yang salah dengan memiliki anak? Apa artinya tidak ada sex selama pernikahan ini? Artinya tidak ada kesempatan menggerarayangi tubuhnya? Seseorang tolong katakan padaku ini tidak benar.

"Tidak anak, tidak ada sex?" tanyaku hati-hati yang direspon dengan pukulan dikepalaku.

"Ya! Emang kau punya penis hah!? Berhenti membayangkanku!"

"Aw! Aku cuma bertanya kerdil" aku menarik rambutnya gemas, mungkin hal ini akan menjadi kegemeranku karena aku sangat suka wajah memberengut dari Baekhyun ketika aku melakukannya. "Kata siapa aku tidak memiliki penis hah?"

"Mana mau penis menempel pada laki-laki idiot." Dan membalasku dengan pukulan brutal.

"Terserah Baek! Baiklah anggap saja ini liburan. Sekarang ayo kita jual vocher ini"

"Ya! Apa maksudmu?" Baekhyun berheti memukuliku dan memandangku heran.

"Aku pikir jika kita liburan di hotel tidak seru, jadi ayo kita jual dan bersenang-senang ditempat lain." Baekhyun hanya memberengut kesal dan teratawa ketika aku mengusak rambutnya.

"Hahaha terserah"

.

.

.

TBC

Next?

Udah beres sih chap selanjutnya cuma aku potong sampai disini biar satu chap satu konflik ^^ biar rapih aja. Chap berikutnya pov orang ketiga hoho. Bukan gak mau ngikutin kemauan reader yang pengen panjang perchapter, Cuma aku kurang bisa nulis panjang dan nulis adegan-adegan yang seharusnya bisa diilangin, malahkesannya jad tambah gak rapih maaf. Hapus jangan sih fanfic ini? karena aku ngerasa fanfict ini terlalu cheesy -_-

Thank for reviewer, fav dan followers. Aye! Followers udah 100+ terimaksih