Cast : Lee HyukJae, Lee Donghae, other member SuJu and member f(x)

Pairing : HaeHyuk

Genre : Drama/ Romance

Rate : T

Disclaimer : HaeHyuk saling memiliki XD

Warning: Genderswitch, gaje, abal, miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD

Point of View disini seluruhnya aku berikan pada Lee Hyukjae aka Lee Monkey *dilempar*

Don't Like Don't Read

.

.

.

-/-

Suasana musim kemarau ini memang berbeda, rasanya hari ini benar-benar panas.

"Pagi Hyukkie!"

"Pagi!"

Kubalas sapaan setiap orang yang kutemui sepanjang jalan menuju sekolah, senyuman kuyakini sudah terpasang cantik dibibirku.

Tersenyum.

Ya. Aku lebih senang tersenyum sekarang. Bohong juga sih, karena saat aku sendiri, saat tak ada orang adalah waktu dimana aku menangis. Meratapi sesuatu yang tak bisa berubah, bukankah aku sudah mengantongi jawaban pastinya?

Tepat hari ini adalah 6 bulan lamanya kejadian itu berlalu. Jika ditanya apa aku baik-baik saja? Apa aku masih bisa makan dengan benar? Ataukah aku tak lupa cara berjalan? Tentu aku masih menjalani hidup normal seperti orang lain. Aku masih bisa tertawa dan menangis sembunyi-sembunyi menjadi salah satu keahlianku. Sedikit banyak hidupku tak berubah, tapi aku merasakan suatu kekosongan dijiwaku, entah apa itu.

"Hyukkie!" Kubalikkan badan saat merasa namaku dipanggil, Ryeowook sedikit berlari kearahku dan mulai menjejeri langkahku. Tak punya namjachingu tak masalah bagiku, aku sudah cukup senang memiliki sahabat.

Kulirik Ryeowook yang masih mengatur nafas disampingku. "Huh.. Kuakui kau sekarang selalu tepat waktu ke sekolah."

"Haha.. Benarkah? Aku bosan kalau harus terlambat terus," kujawab dengan tawa datar.

Aku sedikit terhenyak melihat hal jauh di depan sana. Segerombolan namja tengah berkumpul dan salah satunya, hanya dengan melihat matanya aku sudah tahu dia. Kubuang wajahku ke arah lain, tak sedikitpun aku berniat meliriknya lagi. Dadaku bergemuruh sepanjang lewat didepannya, hanya perasaanku atau harapanku yang jelas aku merasa ia terus memandangku.

Kusimpulkan ini adalah hari buruk. Sudah beberapa bulan aku berhasil tak melihatnya lagi, dan sekarang dipagi buta ini aku harus menjumpainya.

"Tadi Donghae terus melihatmu," bisik Ryeowook pelan ditelingaku.

Benarkah? Tidak! Aku sudah melupakannya.

Tidak! Kenapa hatiku jadi berdebar begini? Kutarik nafas panjang, menyingkirkan hal yang harusnya tak boleh kufikirkan lagi. "Aku tak peduli dengannya, sudah tak peduli lagi!" jawabku, mata ini tiba-tiba jadi nanar, bukan waktu yang tepat. Kenapa setiap habis melihatnya aku jadi seperti ini. Payah.

Kualihkan pandanganku dan kuusap air di pipiku, aku tak ingin Ryeowook melihatku. Harusnya aku jadi orang yang sama tegarnya dengannya. Bahkan saat Ryeowook bercerita tentang Minho yang mengenalkannya pada yeojachingu barunya Ryeowook berkata dengan riang, tak sekalipun ia menangis. Kenapa aku sensitif sekali jika membahas tentang namja itu. "Aku benci padanya Wokie. Setiap melihatnya dadaku terasa sakit. Aku benci padanya!" Kukatakan hal itu dengan tegas lalu berjalan masuk kelas, aku tak bisa mengontrol emosiku, tiba-tiba saja bayangan 6 bulan lalu berputar kembali dikepalaku. Untungnya aku berangkat lebih pagi, selain alasan untuk menghindarinya juga aku bisa mengamankan keadaan jika suatu saat dalam posisi seperti ini.

Ryeowook berulang kali bilang maaf, ini bukan salahnya! Aku kenapa jadi egois begini. Aku hanya bisa menggeleng sambil menunduk, air mataku semakin deras jika dikasihani. Makannya aku lebih senang mencari tempat yang sepi untuk menangis. Biasanya aku melakukannya dengan menangkupkan kepalaku pada bantal, pura-pura tidur dengan isakan kecil. Setelahnya aku akan tidur tenang karena kelelahan menangis. Kuakui aku memang konyol. Kelas sudah mulai ramai at kudongakkan kepalaku, rasanya pening dan ngantuk.

Perlahan aku menoleh ke belakang, kulihat Amber sedang mencoba mengeriting rambut Luna dengan melilitkannya pada bulpen bekas, lagi-lagi Luna menjerit dengan hasil yang membuat rambut panjangnya mencuat kemana-mana.

Seperdetik segera kualihan pandangan ke depan arah papan tulis. Masihkah aku menganggap gadis itu sebagai sainganku. Sebenarnya aku tak ingin seperti ini, tapi tetap saja suatu kenyataan yang sulit jika aku harus memaksakan diri bersikap ramah pada orang yang sudah melukai perasaanku.

Sekarang aku sudah kelas 3 SMU, harusnya aku bisa sedikit dewasa, setidaknya aku bisa berpura-pura baik dan menutupi semuanya. Itu tak masalah. Aku sudah biasa untuk menekan perasaanku.

Dipikir lagi aku juga sedikit berubah. Aku bukan lagi gadis yang setiap hari berangkat sekolah dengan waktu mepet dan aku tak butuh lagi jam silver kupu-kupu pemberian namja itu.

Sejak 6 bulan lalu aku tak pernah lagi menggunakan benda itu, aku mengabaikannya seperti aku mengabaikan Lee Donghae. Aku juga tak pernah bicara dengan namja itu lagi.

Tak ada lagi panggilan 'unyuk' atau 'si nenek sihir!'

Tak ada lagi yang menertawakanku jika aku melakukan hal bodoh. Sudah tak ada lagi!

Dan mungkin itu lebih baik!

Dan,, Aku tak percaya lagi dengan yang namanya cinta!

Ketulusan cinta yang dulu aku jaga hanya sia-sia, aku tak bisa percaya lagi semuanya.

Aku membencinya! Sangat-sangat membencinya!

.

-()()()()()-

.

Aku mendengus jengkel saat satu pakaian terlempar diranjang lagi. Salah satu celana jeans favoritku juga ada ditumpukkan pakaian yang tak terpilih "Wookie, siapa yang akan membereskan semua ini?" protesku kala ia melempar sarung, mungkin ia fikir itu gaun bentuk batik.

"Tentu saja kau yang membereskannya, ini kan pakaianmu." Nyaris aku tersedak jus strowberry yang tengah kuminum, seenaknya saja ia bilang seperti itu! Memang yang membuat ini semua berantakan siapa?

Ryeowook masih tak menggubris rentetan protesku, ia masih saja mengacak isi lemariku. Dari lemari gantung sampai yang lipatan. Sekalian saja buang semua bajuku, loakkan kalau perlu. Huh.

Ini semua berawal dari tujuanku ingin belanja ke sepermarket gang sebelah, aku terkejut saat membuka pintu rumah sahabatku ini sudah nampang didepanku. Tanpa aba-aba ia mengomentari penampilanku yang berantakan waktu itu. Ya jelaskah berantakan, aku kan habis bangun tidur, dan kalau bukan suruhan dari umma untuk membeli gula, aku mungkin masih berlayar di alam mimpi saat ini. Setelah cukup mengomentari penampilanku yang menurutnya seperti namja dengan celana jeans bolong-bolong pada lutut, aku kan cuma mengikuti tren tahun lalu.

Dan disinilah aku berada, duduk tenang diatas ranjang, menjadi saksi hidup penghancuran isi lemariku. Aku hanya bisa berdecak sebal saat umma setuju saja kala Ryeowook minta ijin untuk mengobrak-abrik pakaianku. Dia tak waras atau apa sih? Bukannya ijin padaku malah pada ummaku.

Ryeowook menghentikan gerakannya seraya tersenyum lebar, ia mengambil satu pakaian dari gantungan. Gaun warna biru itu sudah lama tak kugunakan. Jujur aku lebih suka memakai kaos oblong daripada memakai gaun yang akan membuatku masuk angin malamnya.

"Cobalah Hyukkie, ini cantik. Pas sekali untukmu!" ingin kuajukan protes lagi tapi Ryeowook sudah mendorong punggungku dan menyerahkan gaun selutut itu.

"Sebenarnya kita mau kemana sih, aku tak harus memakai gaun ini kan?" pertanyaanku membuat Ryeowook mendelik. Saat aku mulai melepas baju ekspresinya berubah senang. "Kita akan kopi darat!"

"MWO?"

.

-()()()()()-

.

"Jadi dimana?"

"Molla, dimana ya?" Ryeowook terus celingukan, kita seperti 2 orang anak nyasar disini. Telingaku hampir berasap karena jengkel, sudah 3 kali aku dan Ryeowook berjalan memutar di mall besar ini.

"Kalian janjiannya dimana?" tanyaku jutek, bisa-bisanya temanku itu menjawab dengan nada santai. "Dikafe lantai 2, tapi yang mana aku juga tak tahu."

Rasanya ingin kujambak rambutku sekarang. Tapi tidak! Ini akan merusak tatanan buatan Ryeowook yang memakan waktu satu jam. Aku sekarang mengenakan gaun itu. Iya gaun yang ia pilihkan tadi. Beruntung aku bisa mentah-mentah menolak saat ia menyuruhku pakai high heels. Tidak akan. Apalagi aku berpenampilan se 'wah' ini untung orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Gila!

Kulongokkan kepalaku pada sebuah kafe chocholate cake, banya yeoja seumuranku di dalam sana, kutarik tangan Ryeowook. "Apa itu mereka?" bisikku. Aku ingin pulang sekarang jika ia mengedikkan bahu lagi. Kutunjuk meja yang terdapat 2 orang yeoja berpakaian biru sama dengan pakaian yang aku dan Ryeowook kenakan.

Ryeowook mengangguk semangat, "Mungkin juga, aku lupa kita janjian di kafe roti coklat." ia menepuk jidat kecilnya lalu nyengir didepanku.

Lagi-lagi karena aku sedang baik hati atau apa aku hanya bisa diam, dan mengikutinya masuk ke kafe. Kita berdua sama-sama punya sifat pikun, tapi kurasa sifat pikunnya lebih parah. 2 yeoja itu menatap kami dengan alis terangkat, saat melihat gaunku dan Ryeowook dengan warna yang sama keduanya mengembangkan senyum. Kedua gadis ini cantik dan manis, ya! Segitu tak lakunya kah mereka sampai ikut acara kopi darat ini? Memalukan jika saja Ryeowook tak memaksaku untuk ikut, aku juga termasuk deretan gadis yang tak laku sekarang.

"Kalian Sungmin dan Kibum?" tanya Ryeowook dibalas anggukan mantab keduanya. Mereka bangkit berdiri dan mengulurkan tangan.

"Maaf ya sudah menunggu lama, tiba-tiba jalanan macet!" Ryeowook tersenyum basa-basi menjabat tangan Sungmin dan Kibum begitu juga aku mulai memperkenalkan diri.

Macet? Yah setidaknya itu alasan yang lebih keren dibanding bilang 'kita nyasar tadi'.

"Gwaenchana, para namja juga belum datang. Kita duduk saja dulu." Yeoja bergigi kelinci angkat bicara, ia dan Kibum kembali duduk dan memanggil waitrees untuk memesan minuman.

Sofa dengan bentuk memanjang ini mungkin masih bisa untuk menampung 4 orang lagi, jangan sampai kita pangku-pangkuan karena kekurangan tempat duduk.

Aku tahu, dari perjalanan berangkat Ryeowook sudah bercerita panjang lebar tentang teman dunia 'maya'nya. Karena mereka akan ketemuan dan para namja ternyata berjumlah 4 orang jadilah ia ikut mengumpankanku. Terima kasih,kau teman yang baik Wookie ah, sungutku dalam hati.

Setidaknya aku sedikit lega saat Ryeowook bilang aku bisa memilih manapun namja yang membuatku tertarik nanti, karena mereka memang belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya. Seperti pertama kali aku bertemu dengan Sungmin dan Kibum saat ini. Sungmin, ia yeoja ramah dan periang. Sedari tadi mengobrol ia terus membuat candaan yang sedikit garing menurutku dan aku ikut tertawa saja. Sedangkan Kibum, ia jauh lebih tenang. Ia baru akan tersenyum, jika Sungmin sudah menyenggol lengannya. Padahal saat tersenyum ia terlihat begitu cantik. Ryeowook tak kalah cerewet dari tadi, ia terus membicarakan bagaimana ia chatingan dengan beberapa namja. Jujur aku tak mengerti. Aku tak pernah berkomunikasi lewat dunia maya seperti internet begitu. Saat aku membuka internet palingan aku hanya akan men search hasil pertandingan kesebelasan Seoul saat malamnya aku menonton tapi ketiduran. Dan aku disini hanya ikut nimbrung dan tertawa sumbang.

"Ah, itu mereka!" Aku mendongak menatap Kibum, kuikuti pandangan matanya mengarah pada pintu kafe. Disana ada pemandangan aneh! Kuulangi lagi, bukan aneh karena ada acara dangdutan dan semacamnya, tapi aneh karena disana berdiri 4 orang namja. Itukah namja-namja yang kita tunggu sejak sejam tadi? Yang aneh adalah penampilan mereka. Kalau kita para yeoja sudah berdandan cantik dan kompak mengenakan gaun biru. Mereka adalah namja yang terlihat sedikit meragukan, kompak memakai jaket kulit hitam dan kaca mata hitam pula. Seperti para mafia di tipi-tipi.

"Aku jadi ingin pulang Hyukkie," bisik Ryeowook disampingku. Tuh kan apa kubilang. Dari awal aku sudah menduga ini tak beres, yang mencari jodoh di dunia maya itu pasti orang yang aneh kecuali aku tentunya. Tapi mau bagaimana lagi keempat namja itu sudah berjalan kemari, mereka sama-sama tersenyum. Aku menyadari ada yang berbeda, apalagi ada salah seorang namja yang mempunyai 2 dekik dipipinya mengusir kesan aneh dimataku.

Sudah kubilang aku bukan orang yang beruntung, namja berlesung pipit itu lebih memilih menjejeri Kibum padahal aku berharap ia melirikku, satu namja lagi yang juga tinggi dan berambut coklat ikal mendekati Sungmin, gadis itu terlihat malu-malu.

Ryeowook semakin merapatkan tubuhnya padaku saat satu namja dengan kepala yang besar melepas kacamatanya, ia tersenyum aneh pada Ryeowook. Aku mengerti sahabatku ini takut apalagi rambut hitam namja itu yang gondrong hingga menutupi matanya. Bahkan aku yakin ia lebih baik menggunakan kacamata saja "Kenalkan namaku Yesung!" Ryeowook diam, tak membalas uluran tangan namja itu. Kalau aku jadi Ryeowook aku sudah lari sekarang *bayangin Yesung pra debut XD*

Aku menoleh saat pundakku ditepuk pelan, karena keasyikkan melihat ekspresi melas Yesung yang diacuhkan aku jadi lupa masih ada seorang namja yang tersisa. Argghh, aku mendapat sisa, kuharap namja ini bukan secara terpaksa memilihku. Aku terkagum sejenak saat ia melepas kacamata hitamya. Tampan. Kucabut kata-kata menyesalku tadi. "Namaku Hangeng. Bisakah geser tempat duduk sedikit!"

.

-()()()()()-

.

Suasana hari ini penuh sesak. Bazar buku besar-besaran yang digelar 1 tahun sekali di sekolahku ini sepertinya sangat dinanti-nanti. Aku yang sedang melihat bazar novel pun sulit meski hanya untuk mengintip sampul depan nobel-novel itu. Sesak! Hampir saja leherku tercekik saat Shindong tiba-tiba mendesak, menyelempit dengan ukuran badannya yang besar, ingin rasanya kujitak saat ia menghimpit kepalaku di ketiaknya.

Sepertinya banyak murid yang lebih tertarik pada novel ketimbang buku pelajaran, termasuk aku. Tak patut dicontoh. Tapi difikir-fikir lagi jika membaca novel aku bisa tertawa dan menangis sendiri tapi siapa sih yang bisa membaca buku pelajaran sambil tertawa. Kalau ada otak mereka mungkin sudah konslet karena kelelahan. Buku pelajaran itu hanya akan membuat kepalamu pusing, apalagi jika matematika. Itu adalah musuh terbesarku sepanjang sejarah, apalagi guru menyebalkan yang mengulang pelajaran itu.

Perlahan-lahan aku mundur dengan terseok-seok, didorong dari kanan kiri.

Panas sekali rasanya, hal yang paling kuinginkan saat ini adalah keluar dari kerumunan manusia ganas ini dan mencari udara segar.

BRUK!

Kurasakan sikutku tadi menyampar sesuatu yang empuk saat aku berhasil menerobos keluar. Saat aku menoleh kebelakang, aku sadar tadi aku menabrak seseorang hingga ia terduduk di tanah.

Apa yang harus kulakukan? Jantungku berdegub kencang, setengah tak percaya bahwa orang yang kutabrak adalah Donghae. Apa aku harus membantunya berdiri? Haruskah minta maaf padanya? Tak mungkin aku melakukannya, lebih baik aku ditelan bumi saja saat ini.

Donghae akhirnya berdiri sendiri sambil meringis kesakitan dan mengelus pinggangnya seperti orang kesleo. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa.

Kami saling berhadapan. Dia diam. Aku juga diam, kepalaku menunduk kearah tanah berpasir tempat aku berdiri. Aku tak berani menatapnya. Aku sadar aku yang salah tadi, aku sudah menabraknya dan aku sama sekali tak menolongnya dan juga tak minta maaf padanya.

Satu fikiran yang sejak tadi melintas diotakku akhirnya kulakukan, aku beranjak pergi meninggalkannya yang sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu terlihat dari mulutnya yang membuka tadi.

Aku tak peduli dan tetap berjalan tanpa menoleh. Dadaku rasanya sesak sekali. Debaran jantung ini, masih saja sama seperti dulu. Aku menyesal kenapa tabrakan tadi harus terjadi. Hmm

Aku berjalan menuju tempat dudukku setelah masuk kelas. Setelah duduk aku mulai mencoba mengatur debaran jantungku yang tadi mau meledak agar normal kembali. Ryeowook yang kulihat sedang mengobrol segera menghampiriku. Tak kusadari dari tadi aku mengomel membuat beberapa temanku melirik dengan tatapan aneh.

"Kau kenapa?" tanya Ryeowook sambil tertawa, keringatku yang bercucuran ini mungkin memang lucu baginya. Aku menggeleng, "Hmm, gwaenchana!"

Kalau aku menceritakan kejadian tadi pada Ryeowook bisa-bisa ia menyeretku ke kelas Donghae dan memintaku minta maaf pada namja itu.

Ryeowook mengacak buku dimeja kami, ia menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana bazar novelnya tadi? Kau tak membeli satu pun?"

Kuangkat kedua bahuku "Jangankan membeli, memegang 1 novel saja rasanya sulit," ucapku putus asa. "Yah seperti tahun-tahun sebelumnya," tambahku.

.

-()()()()()-

.

Aku mendongak menatap langit, kupicingkan mataku dan kutahan terik matahari dengan telapak tangan. Kurasa matahari tepat berada di ubun-ubun sekarang.

Aku merogoh ponsel yang bergetar dalam tas ranselku, getarannya memang keras jadi bisa kurasakan.

Pesan dari namja itu. Iya dia. Yang aku kenal lewat kopi darat itu.

Sudah 2 hari kita saling mengirim pesan berbagi cerita. Kurasa ia orang yang menyenangkan dan baik mengingat setelah acara yang tak jelas itu selesai, ia mau dengan senang hati mengantarku pulang karena sudah terlalu malam.

Yang aku tahu ia lebih tua 3 tahun dariku, seorang mahasiswa yang kini semester 5. Yah mungkin untuk jadi teman tak ada salahnya. Tapi hari ini beda, dia akan menjemputku. Aku bukan memaksanya, aku tak pernah memintanya, bahkan ia yang memohon supaya aku mengijinkannya untuk menjemputku. Jujur baru kali ini aku merasa diberi perhatian lebih oleh seorang namja. Tapi entahlah, belum ada perasaan lebih sejauh ini.

Kulihat mobil hitam metalik berhenti dihadapanku, aku tersenyum saat kaca bagian pengemudi terbuka, menampakkan sosok yang kutunggu dari tadi.

Hangeng oppa turun dari mobilnya, penampilannya kali ini keren dengan kemeja panjang yang ditekuk sampai siku. Banyak orang yang melirik ke arah kami sambil berbisik. Baru kali ini aku merasa jadi pusat perhatian, menyenangkan juga! Hehe.

"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Hangeng oppa melongok ke dalam sekolahku, aku merasa ia jauh lebih tinggi dari saat kita bertemu pertama kali.

"Baik oppa!" jawabku halus, untuk saat ini aku mungkin akan menjaga image, tak mungkin aku memeperlihatkan sifat anehku.

Aku tersentak saat Hangeng oppa melambaikan tangan di depan wajahku, bukan! Bukan padaku. Tapi pada orang dibelakangku sepertinya.

"Hae, ayo kita pulang sama-sama!"

Mataku sukses membulat. Salah lihatkah aku?

"Apa kalian sudah saling mengenal? Hyukkie ini adikku Donghae!"

.

.

.

TBC

.

A/N

Annyeong

Bagaimana dengan chapter ini? Makin aneh pastinya.

ForWidyaflys24, anchofishy, ressijewelll, Anonymouss, Jaylyn Rui, myfishychovy, harumisujatmiko, nyukkunyuk and another Guest

Chingudeul yang ga punya akun pas riview tinggalin nama dulu ya, biar aku bisa ngucapin makasihh ^^

Terimakasih sedah riview chapter sebelumnya.

At least RIVIEW PLEASE