Warning: Minim humor. Mungkin Typo. Padat merayap. Gaje.
Kebesaran Sang causa prima kembali nampak. Rangkaian usaha selalu membuihkan untaian hasil pada akhirnya. Sebuah hasil berwujudkan asa tujuan yang terealisasi. Kehendak berkuasa. Rantai takdir dapat diatur...
"Namikaze Minato! Akhirnya aku menemukanmu!"
DIAMOND IN THE ROUGH
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Humor
Pairing: MinaNaru
Rating: T
Story by: Viero Eclipse
-Chapter 4-
Pemilik mata cobalt terhenyak. Birunya terpancar segudang tanya. Sesuatu hal yang tak terduga menghantam penglihatannya. Tak percaya. Terkejut. Bingung. Semua melebur ke dalam benak seorang Minato.
Sang pemuda bergelar 'replikanya' itu sudah ada di hadapannya. Mengembangkan senyum tanda puas. Sesekali tertawa kecil. Mengepalkan tangan dan mengayunkannya. Ya. Mungkin, itulah ungkapan bahagia yang dapat diperlihatkan Naruto di masa itu.
Dan jangan lupakan respon eksistensi yang lain. Misal saja Obito yang memaparkan raut bingung karena tak paham akan situasi. Sasori yang terlihat masa bodoh dengan apa yang terjadi dan Iruka yang menyiratkan sedikit rasa terkejut.
'Naruto...'
"Namikaze-san, ja-jadi kau kenal dengan anak ini?" dengan ragu-ragu, terlayanglah pertanyaan dari mulut Iruka. Bawahan Tsunade itu masihlah kehabisan kata. Minato seakan tak sadar dengan pertanyaan Sang satpam. Ia hanya bisa mematung dan mengunci Naruto dengan tatapannya.
"Uhh... Kau Na-Namikaze Minato 'kan?" terlontarlah pertanyaan kedua yang juga diwarnai keraguan. Kali ini pertanyaan berasal dari Naruto. Ia mulai sedikit gentar saat pria yang ia cari-cari itu masihlah menatapnya dengan raut syok. Ada apa gerangan dengannya? Seheboh itukah kehadiran Naruto sampai-sampai membuat pria yang menyelamatkannya itu terpaku? Sadar atau tidak, semua pandangan kini tertuju ke arah pria berambut pirang itu.
"Shh... Senpai? Oii!" Obito menyikut lengan Minato. Usahanya untuk menyadarkan Minato ternyata membuahkan hasil. Pria bergelar yellow flash itu mulai mengedipkan kedua cobaltnya berulang kali. Sudah jelas bahwa hal itu menandakan kalau ia telah kembali ke alam realitas.
"Uhh... Maaf, aku tidak fokus tadi," Minato menggelengkan kepala sejenak. Ia pun lekas menatap ke arah Iruka. "Aku mengenalnya, Iruka. Kau tak perlu mengusirnya."
"Hah! Aku bilang juga apa? Namikaze-san ini mengenalku!" sahut Naruto tiba-tiba. Ia melayangkan tatapan sinis ke arah Iruka seraya melipat kedua tangannya dan tersenyum puas.
Raut setengah pucat tergambar di paras Iruka. Rasa malu terbentuk karena sebuah kesalahan. "Ma-Maafkan aku, Namikaze-san. Aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau-"
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Naruto." begitu regal. Pernyataan itu terucap dengan begitu tegasnya dari mulut Minato. Kedua cobaltnya berkilat serius. Naruto terperangah melihat itu. Iruka sedikit tergagap-gagap dan mulai menunduk di hadapan Naruto.
"Maafkan saya, Tuan Naruto. Sa-Saya sedikit salah paham akan hal tadi." Naruto tersenyum mendengar itu. Ia paham bahwa Iruka bukanlah orang yang jahat. Pria itu hanya menjalankan tugasnya sebagai kepala pengamanan gedung ini. Jadi, sungguh wajar jika beliau cukup ketat dalam menyeleksi orang yang hendak masuk ke dalam gedung Godaime Corporation. Dan hal itu justru mencerminkan dedikasi sejati dari Sang satpam itu. Naruto bisa mengerti hal itu.
"Ah, tak apa-apa, Pak. Maafkan aku juga karena terkesan memaksa dan keras kepala." Iruka mengangguk. Sepertinya ia mulai bisa percaya dengan pemuda jalanan itu. Tak membutuhkan jeda lama bagi Minato untuk kembali menatap ke arah Naruto.
"Uhh... Apa yang kau lakukan disini, Naruto? Apa ada yang bisa kubantu?" yang ditanya terlihat menggaruk-garukkan kepalanya. Ia mulai sedikit merasa tidak enak.
"Umm... Namikaze-san, bi-bisakah aku meminta waktumu sebentar? Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu."
Kedua alis Minato bertaut skeptis. Tapi pada akhirnya, ia menyanggupi permintaan itu. "Baiklah. Lagipula pekerjaanku sudah selesai. Aku juga hendak pulang sekarang. Sepertinya aku bisa meluangkan waktu untukmu."
"Terima kasih!" Naruto terlihat begitu senang. Sejauh ini, rentetan rencana yang ia buat berjalan dengan mulus. Mengetahui nama, menemukan targetnya dan terakhir, mengucapkan rasa terima kasihnya lalu selesai! Sungguh mudah 'kan? Tapi sepertinya, ia tak bisa terlalu lama berada di dalam keadaan itu. Karena tak lama kemudian, terdengar suara peringatan Kakashi dari kejauhan.
"Perhatian! Tsunami akan melanda dalam hitungan lima... empat... tiga... dua... sa-"
BRUUAAKK!
"MINATO-SAMA! KYAAAAAA!"
Mencekam! Puluhan hentakan kaki terdengar bergemuruh termuntahkan dari gedung. Kakashi yang sebelumnya menjadi sebuah benteng perlindungan sekaligus pemberi peringatan kini harus mengalami nasib naas karena tubuhnya telah terhantam puluhan karyawati dan terlihat jatuh ke bawah layaknya selembar keset welcome yang terinjak-injak. Tak ada waktu untuk memikirkan keselamatan orang lain. Mereka yakin bahwa Kakashi masihlah selamat. Dan yang menjadi prioritas saat ini adalah...
"Se-Senpai, sebaiknya kau segera pergi dari sini!" Obito panik. Sasori mulai membelakangi Minato untuk berjaga-jaga.
"Cepatlah lari, Minato! Tak ada waktu lagi!"
"Aku mengerti, Sasori!" Pria bermata cobalt itu lekas menatap ke arah Naruto. "Ayo, Naruto! Kita harus segera menyingkir dari sini!"
"Huh? A-Apa?" Naruto sungguh kebingungan. Belum sempat nalarnya mencerna apa yang telah terjadi sebenarnya, tiba-tiba Minato sudah menarik lengannya dan mulai berlari dengan kecepatan penuh. Pemuda jalanan itu melotot dan menjerit. Pemandangan disekelilingnya seakan kabur dan terlihat buram. Ia seakan digeret dengan begitu cepatnya oleh sebuah pesawat jet. Mengerikan!
"U-Uwaaaaaahhhhh!"
"Uhh... Naruto? A-Apa kau baik-baik saja?"
"Te-Tenanglah, aku tak apa-apa. Urghh... huekk!" Naruto terlihat pucat dan mual. Sesekali pemuda jalanan itu memuntahkan sesuatu seraya mengatur napasnya yang tengah memburu. Melihat hal itu, Minato merasa bersalah. Ia tak bermaksud membuat pemuda kembarannya itu menjadi tak enak badan seperti ini.
"Ah, minumlah dulu. Dan coba atur napasmu kembali." pria bermata cobalt itu lekas menyodorkan sebotol air mineral. Tanpa basa-basi, Naruto menenggukkannya begitu cepat.
"Gluk... Gluk... Fuaah! Uhhff..." Naruto menepuk-nepuk dadanya. Napasnya terlihat kembali normal. Kelegaan melebur diri Minato sepenuhnya.
"Maafkan aku soal tadi, Naruto. Sepulang dari kantor, gerombolan karyawati itu pasti akan mengejarku. Aku harus segera melarikan diri jika tak ingin nyawa ini melayang sia-sia." sebulir keringat mengalir di kening Naruto saat mendengar hal itu. Ia tak menyangka bahwa pria yang ada di hadapannya itu ternyata memiliki banyak sekali penggemar. Jelas saja, mengingat fisik yang dimiliki pegawai itu terlihat begitu sempurna. Anugerah wajah tampan itu seakan menjadi senjata pembius para wanita-wanita yang menatapnya. Entah, apakah hal itu harus disyukuri ataukah disesali. Naruto berusaha mengurangi rasa tercengangnya.
"Uhh... jadi inikah sebabnya, kenapa kau harus membiasakan diri berlari dengan cepat?" tanya Naruto menyimpulkan. Minato tertawa kecil.
"Ah, sebenarnya aku adalah mantan juara utama kontes lari maraton semenjak SMA. Berlari cepat adalah bakatku. Aku beruntung karena bakat ini ternyata bisa membuatku selamat dari kejaran mereka."
Ah... Pantas saja. Pantas saja waktu itu pria ini berhasil menangkap Naruto saat ia melarikan diri seusai mencuri tasnya. Naruto sungguh tak menyangka. Mencuri barang kepunyaan orang yang menjadi juara lari maraton adalah pilihan yang buruk. Tapi jangan salahkan dirinya. Ia sendiri juga tak tahu jika targetnya adalah mantan juara utama lari maraton. Retrospek ini membuat Naruto bertampang aneh untuk sesaat.
"Ah, jadi... Hal apa yang ingin kau sampaikan padaku? Kau bilang bahwa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, bukan?" pemuda bermata cobalt itu mencoba to the point. Naruto menggaruk belakang kepalanya untuk sesaat.
"Ah, iya. Pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena waktu itu Namikaze-san telah mau menyelamatkanku dari Orochimaru. Dan lagi, Anda juga telah membiayai seluruh pengobatanku di rumah sakit. Aku sungguh berterima kasih sekali. Aku harap, aku bisa membalas seluruh kebaikan Anda padaku," jelas Naruto bersungguh-sungguh. Minato hanya melayangkan senyum ramah dan menggelengkan kepalanya.
"Tak masalah buatku. Hal itu tak usah kau pikirkan. Sudah seharusnya kita membantu orang yang membutuhkan pertolongan."
"Ta-Tapi, Aku sudah mencuri tasmu waktu itu! Bagaimana bisa Namikaze-san masih mau menolongku? Setelah semua tindakan buruk yang kulakukan pada Anda?" Naruto terlihat tak percaya. Ia seakan tak percaya dengan alasan yang dikemukakan Minato. Ia tak habis pikir, kenapa ada saja orang yang berpikiran untuk membantu setelah ia sempat dirugikan? Ada apa dengan kinerja pemikiran Minato? Naruto sungguh tak paham dan melayangkan tatapan skeptis terhadap pria itu. Pemilik mata cobalt itu tetap saja terlihat tenang dan ramah.
"Aku yakin, kau mencuri karena tuntutan kehidupan yang kau jalani. Aku bisa memahami itu. Dan lagipula, kau mengembalikan tasku, bukan? Jadi... Tak masalah buatku. Kau bukanlah anak yang buruk. Aku yakin itu." penjelasan itu sukses membuat nalar Naruto terperangah. Pemuda jalanan itu lekas mengalihkan pandangannya ke samping. Berani juga pria ini menyimpulkan bahwa Naruto bukanlah anak yang buruk? Hanya dengan sekali pertemuan? Apa yang ia pikirkan? Persepsi orang ini padanya bagai labirin enigma saja di mata Naruto. Apakah ini sebuah tanda bahwa orang yang ada di hadapannya itu begitu naif? Apa orang ini tak pernah memandang sebuah sisi gelap kehidupan yang bergelar negatif?
"Anda adalah orang yang aneh..."
Minato tertawa pelan seraya berkata, "Beberapa orang mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang kau katakan. Aku tak keberatan dengan itu. Terkadang, aku sendiri sedikit kesulitan dalam memahami interpretasi nalarku," ia pun menghela napasnya sejenak. "Dan ya... beginilah aku. Mungkin dunia statis yang kujalani ini perlahan membuat alur persepsiku berbeda dari kebanyakan orang."
"Dunia... statis?" Naruto menautkan kedua alisnya. Minato mulai bersandar di sebuah dinding bangunan seraya menyilakan kedua tangannya tepat di dada.
"Benar. Dunia statis. Sebuah dunia... dimana semua rutinitas berjalan terlalu monoton. Tak ada perubahan yang berarti. Tak ada sebuah warna yang menghiasi. Tak ada yang berbeda. Semuanya berjalan mengalir dan terus mengalir. Semua kejadian yang sama terus terjadi secara klise. Berulang-ulang... seakan tak ada titik akhirnya." Naruto terdiam sesaat, berusaha menyelami makna dari pernyataan itu. Sesekali ia melayangkan pandangan aneh ke arah Minato. Seakan menatap bahwa Minato adalah semacam orang aneh yang sulit dimengerti. Minato terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Ah, lupakan kata-kataku tadi. Aku sering mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti. Umm... Ah, iya, mengenai kejadian kemarin, preman-preman itu..." Minato kembali serius. Naruto mengerjapkan kedua matanya sesaat.
Preman-preman?
Oh, soal itu...
"Maksudmu Orochimaru dan komplotannya?" Minato mengangguk. Seakan mengerti pertanyaan tersirat yang ada di kedua cobalt itu, Naruto mulai menjelaskan semuanya. "Mereka adalah preman-preman senior yang menguasai wilayah kami. Setiap hari, kami para anak-anak jalanan dituntut untuk mencuri sesuatu dan memberikan hasil curian kami kepada mereka. Atau dengan kata lain, kami sudah diperlakukan layaknya budak..."
"Bu-Budak?" Minato memaparkan raut miris. Naruto menunduk dengan tangan terkepal erat.
"Ya, inilah kehidupan keras anak-anak jalanan seperti kami. Tak memiliki apapun. Bertahan hidup dengan cara seperti ini dan ditindas oleh yang memegang kuasa." keduanya terdiam untuk sesaat. Terlarut dalam afeksi diri masing-masing. Sejenak jeda, Naruto kembali membuka suara.
"Itulah sebabnya kenapa waktu itu aku mencuri tas milik Anda, Namikaze-san. Aku sudah tak memiliki jalan lain lagi. Orochimaru memaksa beberapa anak-anak jalanan kecil untuk mencuri. Dan aku tak bisa membiarkan dia memperlakukan anak-anak itu dengan begitu kasar. Mereka tak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Sebagai gantinya, aku yang mencurikan sesuatu untuk mereka. Sejujurnya, aku benci dengan semua ini. Tapi mau tak mau, aku harus menjalaninya juga. Aku memiliki orang-orang berharga yang harus kulindungi. Dan mereka, para anak jalanan itu sudah seperti adik-adikku sendiri. Sudah seperti bagian dari keluarga. Akan kulakukan apa saja agar mereka selamat. Tak peduli apapun petaka yang menimpaku. Prioritasku hanyalah melindungi mereka. Karena hanya mereka yang kumiliki sekarang..."
Terperangah sesaat.
Itulah yang terjadi pada Minato. Benteng tekad yang dimiliki oleh pemuda jalanan itu sungguh kuat. Minato bisa melihat hal itu. Kesungguhan yang teriringi dengan ketulusan... Semua itu ada pada diri Naruto. Ia memiliki niat yang mulia. Yakni melindungi kumpulan anak-anak itu. Tak peduli dengan resiko dan konsekuensi yang akan ia tanggung. Lebih mementingkan kepentingan orang lain jauh di atas kepentingan diri sendiri.
Pribadi yang mengagumkan.
Sebuah pribadi yang sepertinya cukup langka mengingat paradigma kehidupan yang saat ini sudah mencapai lingkup supremasi individualis bertatakan liberalisme. Bebas dan lebih mementingkan diri sendiri. Semua berlomba-lomba meraih keuntungan. Tak peduli dengan cara apapun. Menindas yang lemah dan yang kuat akan berkuasa. Di dunia yang diwarnai distopia yang seperti itu, pribadi yang dimiliki Naruto seakan terkesan begitu langka dan jarang ada dalam pribadi kebanyakan orang. Apalagi dalam pribadi kebanyakan remaja. Dewasa ini, para remaja lebih memilih untuk terlarut dalam paham hedonis dan tak peduli pada tujuan hidup mereka. Bersenang-senang menghabiskan masa muda mereka. Tak peduli dengan kawan sebaya yang kesusahan. Bahkan tak jarang pula membangkang harapan orang tua. Persetan dengan jati diri masing-masing.
Apalagi para orang-orang penegak karir seperti Minato. Kebanyakan dari komunitas itu justru tak terlalu mementingkan orang lain dan berusaha untuk menggapai kesuksesannya sendiri-sendiri. Tak peduli meski yang lain tertindas ataupun sengsara. Hal itu bukan urusan mereka. Masa bodoh dengan itu. Sungguh egois memang, tapi justru itulah realitas miris yang terjadi dalam revolusi paradigma hidup sekarang ini.
Dan kembali dalam permasalahan pribadi Naruto yang terkesan menarik. Kepribadian yang ditampakkan Naruto mengingatkan Minato pada figur pahlawan super hero yang ada di dalam komik anak-anak. Sebuah pribadi pejuang. Pribadi yang menjunjung tinggi pillar keadilan dan tak mau membiarkan yang lemah selalu diperlakukan semena-mena. Sebuah pribadi yang bagaikan fantasi. Pribadi seperti itu seakan menjadi sebuah angan-angan bagi kebanyakan orang di masa ini. Sebuah pribadi yang didambakan para pemimpi. Menganggap hidup sebagai perang untuk meraih sebuah kebanggaan di akhir nanti. Sebuah pribadi yang tak gampang menyerah dan mundur. Memegang teguh rasa optimis dan percaya pada diri sendiri.
Sebuah pribadi yang mungkin mampu memberi warna pada dunia statis Minato.
Jangan salah. Minato sendiri juga termasuk pribadi yang berbeda dari pribadi kumpulan orang-orang penegak karir lainnya. Ia masih mempertahankan ketajaman empatinya pada orang lain. Ia berusaha bersikap bijak meski kebijakan itu tak bisa diukur dari penilaian subyektifnya sendiri. Ia bahkan menyadari bahwa kehidupannya terkesan monoton. Para penegak karir pasti akan terus menjalani kehidupan monoton mereka. Tak peduli seberapa jenuhnya kehidupan itu. Yang terpenting adalah sukses, sukses dan sukses.
Tapi Minato berbeda.
Dimatanya, hidup tak hanya sekedar mengejar sukses. Tapi hidup adalah sebuah pembelajaran untuknya bagaimana agar ia bisa menjadi sebuah eksistensi yang bermakna dan berguna di dunia ini. Hidup adalah sebuah medan pembuktian kerja kerasnya. Sebuah kerja keras untuk menjadi pribadi yang mendekati sempurna. Dan itulah standart kesuksesan hakiki bagi Minato. Tidak hanya sekedar sukses dalam karir saja. Namun sukses di hampir segalanya. Sukses dalam pemikiran, pencapaian orientasi hidup dan sebagainya.
Dan kedua cobalt miliknya kembali terarah ke arah Naruto. Pemuda replikanya itu terlihat menggarukkan kepalanya dan tak tahu harus berkata apalagi. Minato tetap mengunci mulutnya. Ya, tidak salah lagi. Mungkin Naruto adalah orang yang selama ini ditunggu oleh Minato. Semenjak pertama kali ia menatap kedua cobalt imitasi dari warna matanya itu, ia sudah memiliki sebuah firasat. Terlebih lagi saat ia mendengar nama 'Naruto'. Firasatnya semakin kuat bahwa anak itu kelak akan membawa perubahan pada hidupnya. Ia berani bertaruh bahwa firasatnya itu kelak akan menjadi kenyataan.
"Umm... Yosh, sepertinya urusanku sudah selesai sekarang. Sebaiknya aku segera pergi. Senang bisa mengenalmu, Namikaze-san dan sekali lagi, aku sangat berhutang budi kepada Anda. Terima kasih." Naruto membungkukkan badan dengan sopan dan melayangkan senyum tanda terima kasihnya. Pemuda berambut pirang itu lekas berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi menjauhi Minato. Tidak. Minato tak bisa membiarkan anak itu pergi begitu saja. Kesempatan untuk menemukan pribadi seperti Naruto bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sungguh sulit. Ini adalah satu-satunya cara baginya untuk menyematkan potensi perubahan dalam dunia statisnya. Melalui anak itu. Ia yakin, anak itu merupakan bagian dari takdirnya.
Dan ia tak ingin membiarkan anak penopang perubahan dalam hidupnya itu sirna begitu saja dari jangkauannya.
Tidak akan.
"Tunggu, Naruto."
"Eh?"
Kedua alis Naruto bertaut heran saat Minato berjalan menghampirinya. Pegawai itu lekas mengeluarkan selembar kartu dan memberikannya pada Naruto. Sebuah tanda tanya tersemat di kedua mata Naruto.
"Ini...?"
"Itu kartu namaku. Alamat apartemenku tertera di kartu itu."
"Huh?" kedua mata cobalt milik Naruto sedikit membelalak. Semakin banyak saja pertanyaan yang ada di benaknya. Raut heran dan bingung tergambar jelas di parasnya. Minato tak terkejut sedikitpun dengan respon yang ia terima itu. Ia sudah dapat menebaknya.
"Kau pasti bingung mengapa aku memberi kartu namaku padamu, bukan? Sebelumnya, aku mohon maaf jika permintaanku ini terkesan lancang. Aku tahu bahwa kita baru saja bertemu beberapa kali dan tidak terlalu dekat. Akan tetapi..." Minato menghela napasnya sejenak. Naruto terlihat semakin menatapnya dengan begitu intens, menandakan bahwa ia menunggu lanjutan penjelasan Minato. Dan menjelaskan maksudnya pada Naruto ternyata tak semudah yang Minato bayangkan. Ia harus mengatakannya dengan hati-hati.
Inilah dia...
"Naruto... Aku ingin menjadikanmu sebagai... housemateku."
"Hah?" kedua cobalt Naruto terbelalak. Mulutnya menganga lebar. Syok. Housemate? Ia bermaksud menjadikan Naruto sebagainya housematenya? Atau dengan kata lain, pria yang berprofesi sebagai pegawai itu meminta Naruto menjadi... pasangan rumahnya?
...
What the hell!
"A-Anda bercanda 'kan? A-Apa maksudnya ini? Le-Lelucon ini tidak lu-"
"Aku serius, Naruto. Aku tidak bercanda." Minato mencengkram bahu Naruto sebagai tanda keseriusannya. Pemuda jalanan itu masihlah tampak syok dengan pernyataannya. Dan benar saja dugaan Minato. Keraguan dan rasa skeptis semakin tampak dalam diri Naruto. Apa-apaan pria ini? Ia hanya berniat mengucapkan terima kasih dan sekarang pria ini memintanya untuk tinggal bersama di satu tempat?
Sungguh gila!
Ribuan persepsi negatif menghantam Naruto dalam sekejap. Ia teringat beberapa pernyataan Kiba. Tentang apa itu... Ah, iya! Tentang pedofil atau apalah itu istilahnya. Tipe pria yang gemar pada anak-anak remaja muda. Atau mungkin, jangan-jangan pria ini mengajaknya untuk tinggal bersama lalu kemungkinan terburuknya, Naruto dijadikan sebagai budak, diculik, dijual atau mungkin pria ini semacam pembunuh berdarah dingin yang mengincar anak-anak jalanan, memiliki hobi memutilasi orang dan...
Paras horor terlihat menguasai Naruto seutuhnya.
Sebulir keringat mengalir di kening Minato.
"Ah, aku... aku tahu, Naruto. Kau pasti mulai takut dan curiga padaku. Tapi percayalah, aku tak memiliki motif apapun selain hanya untuk membantumu. Aku sungguh miris melihat keadaan yang kau jalani. Bantuan yang kutawarkan kali ini sungguh sederhana. Aku ingin kau tinggal bersamaku. Aku bersedia membiayai seluruh kebutuhanmu. Aku bahkan akan berusaha memenuhi semua permintaanmu. Pemuda seusia dirimu masihlah cukup produktif dan berpotensi memiliki masa depan yang lebih cerah jika ada yang mengarahkan. Aku yakin, kau masihlah ingin meniti masa depanmu menjadi lebih baik lagi, bukan? Aku bersedia... memberikan kesempatan itu."
Hening.
Naruto masihlah tak dapat menemukan untaian kata. Beberapa kali sudah bibirnya terkatup-katup. Semua ini sulit dipercaya oleh nalarnya. Kedua cobalt itu terus menghantamnya dengan tatapan menunggu. Menunggu apa? Jawabannya? Respon yang akan ia berikan? Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa. Dan yang membuat Naruto tak habis pikir adalah...
Mengapa pria ini terlihat begitu peduli padanya?
Sekali lagi, ia hantam kedua cobalt itu dengan cobaltnya. Tak ada kepalsuan. Pria itu bersungguh-sungguh dengan niatnya. Ia benar-benar ingin membantu Naruto. Paras pria itu tak memaparkan ekspresi apapun. Sungguh bagaikan enigma tanpa jawaban. Naruto tak dapat menebak apa yang dipikirkan Minato. Tapi satu hal yang pasti, Minato terlihat begitu tulus dengan niatnya.
Ia pun lantas menatap selembar kartu nama yang kini sudah berada di tangannya. Kartu nama itu terlihat bergetar. Ah, tidak. Justru tangannya yang gemetaran. Semua ini terlalu tiba-tiba. Terlalu cepat. Sebuah perubahan akan terjadi tergantung dari keputusan yang Naruto ambil.
Secara tidak langsung, pria itu seakan mengadopsi dirinya.
Dan untuk menyanggupi permintaan pria yang ada di hadapannya itu, dibutuhkan rasa percaya. Sedangkan, menumbuhkan rasa percaya bukanlah hal yang mudah. Sungguh tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua membutuhkan proses. Apalagi ia belum cukup tahu bagaimana pribadi Minato yang sesungguhnya.
Aneh.
Ya, hanya kesan itu yang ada benak Naruto untuk Minato. Pria ini aneh. Masih saja mau menolongnya sampai seperti ini. Apa yang membuatnya tertarik pada pemuda jalanan biasa macam Naruto? Apa?
Naruto sungguh tak paham dengan semua itu.
Dan lagi, ia tak akan semudah itu bisa meninggalkan kehidupan jalanannya. Konflik sederhana, misal saja... Apa ia sanggup meninggalkan kawan dan adik-adiknya setelah sekian lama berjuang bersama mereka? Apa ia rela meninggalkan mereka semua?
Tidak.
Tidak akan semudah itu.
Ia tak akan mau hidup senang sendiri dan melupakan kenangan perjuangannya bersama mereka. Tidak akan. Naruto pun mulai menggigit bibir bawahnya.
Ia hendak menolak tawaran ini.
"Maaf sepertinya aku-"
"Shhh..."
Pernyataan terpotong. Jari telunjuk mengunci bibirnya. Kedua cobalt Naruto terbelalak. Minato menahan pernyataan penolakan yang hendak keluar dari mulutnya. Pegawai itu menatap lembut ke arahnya.
"Tolong, pikirkanlah lagi. Meskipun tak ada perubahan dalam jawabanmu, Tapi kumohon, pertimbangkanlah lagi tawaranku ini. Perlu kau tahu, Naruto. Aku tak pernah sembarangan dalam memilih seseorang untuk kuberi tawaran seperti ini. Hanya dirimu yang menjadi pilihanku." Minato mengalihkan jari telunjuknya dari bibir Naruto. Ia pun segera berbalik membelakangi pemuda jalanan itu.
"Jika kau sudah menyetujui tawaranku untuk menjadi housemateku, maka datanglah ke apartemenku. Aku akan selalu menunggu kehadiranmu dengan tangan terbuka. Tapi... jika kau menolak tawaran ini, buang saja kartu nama yang ada di tanganmu itu dan lupakan kejadian ini."
Pernyataan itu semakin tersemat begitu dalam pada benak Naruto. Pria itupun mulai melangkahkan kaki untuk berlalu. Naruto pun menunduk, menggenggam erat kartu nama yang ada di tangannya.
Mengapa?
"Mengapa Anda mau menolongku sampai seperti ini?" hanya pertanyaan itu yang selalu terngiang di otak Naruto. Ia butuh jawaban. Ia tak bisa membiarkan pertanyaan itu menjadi usang dan menggantung di nalarnya seperti ini. Tidak bisa.
Minato menghentikan langkahnya. Dengan tenangnya, pemuda bermata cobalt itu mengguratkan sebuah pengakuan mutlak.
"Kau bagaikan sebuah diamond di tengah-tengah kerasnya kehidupan ini. Dan aku tak ingin... membiarkan seseorang yang begitu berharga sepertimu... lenyap dan lepas begitu saja dari pandangan hidupku."
Dan berlalulah pria itu meninggalkan Naruto yang tenggelam dalam dimensi terperangah. Naruto seakan tercekat. Ia hanya bisa menatap Minato yang berlalu dengan tatapan tak percaya. Ia terdiam sejenak, mengatur kembali kinerja nalarnya.
Berharga?
Ia bilang bahwa Naruto... berharga?
Kedua cobalt milik Naruto seakan hampa akan retrospek itu. Baru kali ini ada orang yang menganggapnya begitu berharga. Menganggapnya begitu bernilai. Bagaikan sebuah... diamond.
Tertunduk, kembali ia tatap lekat selembar kartu nama yang ada di telapak tangannya. Pikirannya kembali kalut akan sebuah keraguan. Ia sudah bertekad untuk menolak tawaran ini, bukan?
Lalu...
Mengapa sekarang ia tak mampu membuang kartu nama itu?
Mengapa ia seakan tak memiliki daya?
Tinggal buang saja kartu namanya lalu lupakan semua ini.
Cukup mudah, bukan?
Tapi mengapa disaat yang sama seakan begitu sulit?
Naruto menggertakkan deretan giginya dalam diam. Kartu nama itu tergenggam semakin erat di tangannya. Ia menjadi lemah akan sebuah keraguan. Ia tak mampu membulatkan keputusannya saat ini. Ia masih tak mampu. Baru kali ini pemuda jalanan itu terombang-ambing dalam rasa gentar. Hanya pria itu yang mampu membuatnya ragu akan keyakinannya sendiri.
Namikaze Minato.
Hanya pria itu yang mampu meruntuhkan keyakinannya.
"Ck! Dasar pria aneh! Membuatku repot saja! Aaarrgghh!" Naruto merutuk kesal. Diacak-acaklah rambut emas miliknya. Pada akhirnya, ia masukkan kartu nama itu ke dalam saku celananya. Dengan pikiran kalut, ia langkahkan kedua kakinya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Ribuan tanya bergumul dalam rasionya. Sesungguhnya...
'Apa yang telah terjadi padaku?'
TBC
A/N: Terima kasih untuk semua yang mereview. Saya harap chapter ini tidak terlalu mengecewakan. Bagi yang login, cek PM Anda seperti biasa. Mungkin saja ada balasan dari saya. ^^
Wokeh, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Semakin banyak mereview, akan semakin menambah semangat saya dalam mengupdate.
Kritik dan saran membangun selalu diterima dengan senang hati. Ja Ne~ m(_ _)m
