Jungkook in Luv
Casts: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook, and others..
Romance/Friendships/Schoolife AU
YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC
DONT LIKE DONT READ
Note: Skool Luv Affair era
.
.
.
Tell me, please tell me, what this plot is all about.. Exactly, who resides within me?
I'm broken, so broken - amidst this world. Yet you laugh, blind to everything.
Being as broken as I am, I hold my breath,
And it can't be unraveled, it can no longer be unraveled.. Not even the truth. (Freeze)
Breakable; unbreakable - psychotic; unable to go insane
I'll find you.
.
.
.
Chapter 4: Unravel
Sepasang sepatu Vans Authentic berwarna merah tua itu melangkah lambat di antara deretan loker sepatu yang dipenuhi banyak siswa.
Sang empunya menguap lebar sambil mengusak rambut gelapnya yang berantakan. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah kedua mata indahnya. Semalam penyakit insomnianya kambuh dan membuatnya harus melewatkan waktu sampai mengantuk dengan bermain game dan menonton anime semalaman suntuk. Dan baru saja ia sempat tertidur 3 jam, alarm teriakan sang ibu di luar pintu kamarnya sudah memaksanya bangun dari mimpi indah.
Jungkook membuka loker sepatu bernomor 17 dengan gerakan lambat. Matanya yang semula redup dan nyaris menutup kini melebar. Tubuhnya hanya dapat bergetar melihat sepatu putihnya penuh guratan-guratan kasar cat berwarna merah yang masih basah. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak. Di balik punggungnya Jungkook hampir bisa merasakan pandangan tajam seseorang yang terasa membakar dan melubangi tubuhnya. Jungkook ingin sekali berbalik untuk mengetahui darimana pandangan tajam itu datang, mungkin saja orang itu juga yang melakukan perbuatan ini pada sepatunya?
Jantungnya berdebar keras, keringat dingin mulai mengalir ke dahinya yang tertutupi poni lebat. Tubuhnya ingin bergerak sekaligus diam. Apa yang harus dilakukannya jika ia menemukan orang yang menjahili sepatunya ini? Melapor pada guru? Tidak, terlalu pengecut bisa-bisa ia dicap sebagai pengadu nanti. Melapor pada Yoongi? Apalagi. Mungkin akan lebih parah, Jungkook bahkan tak tahu apa yang dilakukan Yoongi pada anak-anak yang dihukumnya.
"Jungkook-ah!"
Jungkook refleks menutup cepat pintu lokernya begitu mendengar suara familiar itu dan segera membalikan tubuhnya menghadap si pemilik suara yang kini menatapnya bingung.
"A..Ah, Tae-hyung tumben datang pagi!" Jungkook menekankan punggungnya pada loker di belakangnya. Taehyung tidak boleh tahu insiden ini, atau semuanya malah akan bertambah rumit. Karena Jungkook tahu apa yang akan dilakukan Taehyung jika ia menemukan pelakunya: menghajarnya.
"Iya, ada tugas piket pagi ini. Tampangmu pucat sekali. Ada sesuatu yang terjadi?" Jungkook menelan ludahnya. Taehyung peka sekali hal-hal seperti ini.
"Tidak ada hyung, aku baik-baik saja." Ia menjawab tenang meski jantungnya sebenarnya berpacu cepat.
"Kau yakin?"
"Benar hyung, aku baik-baik saja." Jungkook berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin agar Taehyung tak dapat mencium ketidakberesan yang berasal dari dalam loker sepatu di belakangnya. Taehyung masih meliriknya curiga, namun betapa leganya Jungkook ketika Taehyung hanya mengedikkan bahunya masa bodoh dan memilih untuk menyibak poni cokelat yang jatuh ke matanya. Jungkook diam-diam bernafas lega. Ia tidak mau ambil resiko dengan membiarkan Taehyung berkelahi hanya karena dirinya, mengingat betapa brutalnya sikap Taehyung ketika tahu Jungkook dibebani setumpuk tugas seperti minggu lalu.
"Ngomong-ngomong tumben kau tidak ganti sepatu?"
DEG
Ya Tuhan.
"Eh.. sekali-kali saja hyung aku tidak ingin ganti. Sepatuku masih baru soalnya." Jungkook mengepalkan tangannya erat. Ia tahu suaranya sempat bergetar tadi, semoga saja Taehyung tidak..
"Oh ya? Aku juga tidak pernah mengganti sepatu luar dengan sepatu sekolah. Kupikir Cuma aku sendiri yang melanggar." Taehyung memasukkan santai kedua tangannya ke dalam saku celana.
Suara bel khas yang menandakan jam masuk berbunyi. Jungkook rasanya ingin bersujud terimakasih sekarang juga.
"Hyung aku ke kelas dulu!"'
"Hei, kita pergi bersama.."
"Tidak usah hyung, aku pergi sendiri!" Jungkook melesat pergi sebelum Taehyung sempat berkata-kata. Ia memang sebisa mungkin tidak ingin berlama-lama dulu dengan Taehyung. Tidak, atau soal insiden sepatunya akan ketahuan.
Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kemudian mengganti dengan posisi bertopang dagu. Beberapa detik kemudian berganti menjadi telungkup di atas meja. Gawat, tubuhnya sudah mulai tidak betah berada di tempat ini. Jungkook mengusap wajahnya berulangkali, berusaha menghilangkan rasa mual dan lemas yang mulai menyebar pada tubuhnya. Tangannya bergetar, meremas pelan secarik kertas yang dengan iseng digambarinya. Bahkan hobi yang biasanya menjadi kegiatan pengalihannya tak mampu membuat rasa mual itu hilang.
Kepalanya berdenyut sakit akan keributan berbagai macam suara yang mendominasi ruangan kelas 1-3. Perutnya melilit dengan rasa mual yang mendesak keluar. Nafasnya mulai berubah pendek-pendek. Pandangannya sudah mengabur ketika ia menatap lurus pada Yoon Seongsaenim yang menjelaskan begitu monoton dan terabaikan di depan kelas. Tidak. Jungkook benci ini. Seseorang tolong dia sekarang juga.
Keringat dingin mulai membasahi punggungnya yang terlapisi kemeja tipis. Rasa ngilu menghantam keras telinga dan kepalanya di tengah suara-suara obrolan dan teriakan yang memenuhi kelas 1-3. Ia ingin pergi. Ia ingin jauh dari keramaian ini. Jika saja Jungkook sudah tidak waras, ia yakin akan keluar melompati jendela yang berada tepat di sampingnya saat ini. Gawat. Ia sudah tak tahan lagi.
Suara pensil yang jatuh menghantam lantai terdengar saat Jungkook berdiri begitu mendadak dari kursinya.
"Ada masalah, Jeon Jungkook?" Yoon seongsaenim mengalihkan perhatian dari halaman buku Sastra yang terbuka di tangan keriputnya.
"Seongsaenim.. saya rasa.. saya kurang enak badan." Jungkook menjawab susah payah. Pandangan aneh dari seluruh penjuru kelas entah kenapa semakin membuat tenggorokannya terasa tercekat.
"Kalau begitu kau mau ke ruang kesehatan?"
"Ya, saya rasa perlu." Jungkook memasukkan semua peralatannya ke dalam ranselnya kembali lalu menyampirkan di satu bahunya. Semua pandangan dan berbagai bisikan dari para penghuni kelas 1-3 mengiringi sosok Jungkook keluar dari kelas.
Begitu pintu kelas terbanting menutup di belakangnya, Jungkook hampir tak bisa merasakan kakinya menapak di atas lantai. Air matanya sudah menggenang di kala nafasnya semakin sesak. Persetan ia mau pergi kemana sekarang, tapi dalam keadaan seperti ini..
BRUGH
Jungkook merasakan kesakitan luar biasa pada dahinya ketika ia menabrak sesuatu yang entah apa itu.
"Jungkook-ah?"
Gawat. Keseimbangan Jungkook jatuh pada lutut yang menghantam keras lantai keramik dingin dibawahnya. Pandangannya berubah mengabur, ia sempat melihat sekilas surai kecokelatan yang amat dikenalnya juga suara teriakan berat familiar sebelum nyeri menghantam keras kepalanya dan seluruh kesadarannya benar-benar menghilang.
Bias-bias cahaya menyilaukan menerobos lewat celah kedua matanya yang meredup . Aroma khas obat-obatan memenuhi indra penciumannya. Jungkook mendesis pelan, dengan kepalanya yang pening ia mulai bisa merasakan bahwa ia kini tengah terbaring di ranjang ruang kesehatan. Bagaimana ia bisa sampai kesini? Seingatnya terakhir kali tadi dia pingsan di luar kelas setelah sempat menabrak seseorang sebelumnya.
Jungkook membawa tubuhnya dalam posisi duduk begitu ia mendengar sepasang suara bercakap-cakap di dekatnya.
"Jungkook-ah!"
"Tae-hyung?" Jungkook refleks memundurkan tubuhnya ketika tahu-tahu Taehyung sudah berada di depannya.
"Bagaimana keadaanmu? Kau demam?" Taehyung dengan serabutan menempelkan punggung tangannya pada dahi Jungkook.
"A..Aku baik hyung." Dan Jungkook tidak berbohong. Semuanya kini terasa normal kecuali pada perutnya yang masih terasa melilit. Daripada itu Jungkook lebih heran akan ekspresi Taehyung yang saat ini tampak sangat kacau dan panik.
"Dia baik-baik saja, hanya terkena penyakit maag ringan." Seorang wanita sipit berambut pendek dalam balutan jas dokter berwarna putih yang Jungkook tebak sebagai petugas kesehatan muncul di balik punggung Taehyung. "Apa pagi ini kau sempat sarapan?" ia bertanya ramah pada Jungkook.
Benar juga, Jungkook baru ingat tadi pagi ia hanya sempat meminum seteguk susu padahal ibunya sudah memperingatkan dengan mengatakan kalau asam lambungnya tinggi. Pantas saja perutnya sakit sedari tadi.
"Jadi kau belum makan sama sekali?" Jungkook menggeleng.
"Jungkook-ah, tunggu sebentar!" Taehyung berseru begitu mendadak membuat tubuh Jungkook tersentak kaget.
"Mau kemana hyung?" Jungkook bertanya ketika Taehyung membuka pintu ruang kesehatan.
"Pergi sebentar. Aku segera kembali." Dan dengan seulas senyuman miring khas seorang bocah, sosok Taehyung menghilang di balik pintu ruang kesehatan yang tertutup.
Jungkook menghela nafas pelan. Melirik canggung pada si wanita berjas putih. Jungkook tidak terbiasa berinteraksi dengan seorang guru, jadi ia tak tahu apa yang harus di perbuatnya sekarang.
"Temanmu itu baik ya."
"Eh?" Jungkook mendongakkan kepalanya.
"Namaku Son Ga In, guru kesehatan baru yang mulai dua bulan yang lalu." Wanita itu tersenyum ramah hingga matanya yang sipit melengkung seperti bulan sabit."
"Ah, aku.."
"Jeon Jungkook kelas 1-3 kan?" Ga In memotong.
"Ke.. kenapa Anda bisa.." Jungkook menatap bingung guru kesehatannya itu.
"Aku sering melihatmu di perpustakaan saat jam istirahat." Ga In mengambil tempat duduk di kursi yang terletak di samping ranjang yang ditempati Jungkook. "Aku sempat khawatir melihatmu selalu sendirian, tapi kurasa dengan kejadian pagi ini kekhawatiranku sudah tak beralasan ya?"
Jungkook menautkan kedua alisnya bingung, dan Ga In yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Pagi ini waktu aku baru tiba di sekolah, temanmu yang namanya Tae.. Tae siapa tadi? Ah iya Taehyung hampir mendobrak pintu ruang kesehatan ketika ia masuk sambil menggendongmu." Mata Jungkook melebar.
"Jadi Tae-hyung yang membawaku ke sini?" Tentu saja Jungkook kaget. Jarak ruang kelasnya dengan ruang kesehatan cukup jauh karena terletak di gedung yang berbeda, belum lagi Jungkook juga tahu kalau badannya tidak ringan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Taehyung yang lebih kurus darinya bisa menggendongnya.
"Iya. Seandainya kau bisa melihatnya tadi, ia tampak sangat panik dan khawatir ketika berteriak-teriak memanggilku. Kukira kau sakit parah apa, tapi aku baru tahu kalau maag dapat membuatmu pingsan seperti itu. Apa kau mengidap penyakit lain? Atau ada hal yang sangat mengganggumu sehingga membuat tubuhmu menjadi sensitif?"
Bahu Jungkook menegang seketika. Bayangan akan loker yang berisi sepatu penuh torehan cat merah kembali berputar di benaknya. Namun ia lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak ada? Kupikir seperti itu karena di jam kuliahku pernah ada dosen yang membahas soal penyakit psikologis yang disebabkan oleh rasa panik atau tertekan yang jika sangat parah dapat membuatmu sulit bernafas atau jatuh pingsan." Jungkook menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua tangannya meremas kuat kain celananya dengan gemetar.
Sebelum bibir Ga In sempat mengucapkan sesuatu lagi, pintu ruang kesehatan menjeblak terbuka dengan Taehyung yang menerobos masuk.
"Nih."
Jungkook menangkap dengan bingung sebuah sandwich dan susu kotak rasa pisang yang dilemparkan begitu mendadak oleh Taehyung.
"Kau darimana?" Ga In bertanya heran melihat Taehyung terengah-engah sambil memegangi kedua lututnya.
"Kantin." Taehyung menjawab singkat dan Jungkook langsung berdiri.
"Hyung, kantin kan jauh dari ruang kesehatan!" ujarnya keras dengan penuh rasa bersalah. Ruang kesehatan terletak di gedung utama, sedangkan satu-satunya kantin sendiri hanya terdapat di gedung yang terletak di sayap Selatan bangunan sekolah. Tentu saja jarak yang kadang terlampau sangat jauh ini membuat sebagian siswa malas pergi ke kantin seperti Jungkook.
"Makanya aku lari. Sudahlah jangan permasalahkan itu, kau makan saja sekarang atau perutmu akan semakin sakit." Taehyung tersenyum dan ia mendorong Jungkook untuk kembali duduk di pinggir ranjang. "Seongsaenim, ada obat tidak?" ia beralih pada Ga In yang kini tersenyum kecil pada Jungkook.
"Ada, tunggu sebentar." Wanita muda itu bangkit dari kursi dan mulai mencari-cari di dalam laci meja kerjanya.
"Hei, ada apa? Cepat makan." Taehyung mengalihkan kembali perhatiannya pada Jungkook yang kini hanya terdiam menatap sandwich dan susu kotak di tangannya.
"Eh?"
Butir-butir air mata jatuh perlahan di atas kemasan susu kotak itu.
"Yak, kenapa menangis sih? Jungkook-ah?!" Taehyung mulai panik dan mendekati Jungkook, namun ia tertegun ketika justru mendapati senyum di wajah adik kelasnya yang penuh air mata itu.
"Terimakasih hyung." Jungkook tetap tersenyum, meski air mata tak bisa berhenti mengalir di pipinya.
Taehyung mulai paham, ia tersenyum tipis dan menyeka air mata yang jatuh di wajah sang dongsaeng. "Aish, hanya begini saja. Kau lucu sekali Kook!" ia mengacak gemas rambut gelap Jungkook, membuat rona samar muncul di wajah lelaki yang lebih muda darinya itu. "Sekarang kau makan, ne?"
Ketika Taehyung sudah memunggunginya untuk kembali bicara dengan Ga In seongsaenim, Jungkook ingin mengubur tubuhnya sedalam-dalamnya di lempeng terdalam bumi sekarang juga. Astaga bagaimana bisa ia sampai lupa diri dan menangis di depan Taehyung hanya karena merasa bahagia? Itu terdengar lemah dan seperti remaja perempuan yang terlalu manja dan membawa perasaan, Ya Tuhan. Ia mungkin harus menulis memo dan menempelkannya pada dinding kamarnya agar kejadian memalukan itu tak terulang lagi.
Jungkook tengah meminum tegukan terakhir dari susu kotak saat Taehyung berbalik dan menyerahkan satu strip obat padanya. Sandwichnya sudah habis sedari tadi.
"Kata seongsaenim ini obat lambung. Kau minum ini setelah selesai ya?"
Jungkook menurut. Ia memperhatikan Taehyung yang berbincang dengan Ga In ketika menelan kapsul tanpa rasa di mulutnya dengan bantuan air mineral yang diberikan oleh Ga In tadi.
"Jungkook-ah, kalau kau merasa sudah baikan kau bisa kembali ke kelas."
"Hyung mau kemana?" Jungkook bangkit dari posisi duduknya.
"Biasalah, bolos. Seperti kau tidak tahu saja." Taehyung nyengir. "Kalau begitu aku pergi du.."
Langkah Taehyung terhenti.
Jungkook tidak tahu apa yang membuatnya melakukan tindakan spontan dengan menarik ujung blazer putih Taehyung. Juga bagaimana dua kata yang meluncur lirih dari bibirnya.
"Aku ikut."
Taehyung hampir tak mempercayai pendengarannya. Namun ketika ia membalikkan tubuhnya dan melihat bias-bias ketakutan pada kedua obsidian hitam Jungkook serta jari-jarinya yang gemetar ketika menahan ujung blazernya membuat Taehyung perlahan mengerti.
"Kalau begitu ayo."
Jungkook mengangkat kepalanya yang semula ditundukkan dalam-dalam, menatap Taehyung dengan campuran antara bingung dan tidak percaya. Namun tak ada lagi yang sempat dilakukannya ketika Taehyung sudah menarik tangannya.
"Eh, hyung tunggu!" Jungkook menyambar cepat ranselnya di sudut ruangan dan menoleh pada Ga In yang masih berdiri di dekat meja kerjanya. "Seongsaenim terimakasih!"
Wanita itu hanya tersenyum sambil melambaikan ringan tangannya. "Jangan sungkan untuk datang lagi ke sini ya. Selamat bersenang-senang." Ia mengedipkan matanya menggoda.
Jungkook bingung sendiri dengan salam perpisahan yang diberikan Ga In tapi sebelum sempat merespon Taehyung sudah keburu menyeretnya keluar dari ruang kesehatan.
"Hyung, kita mau kemana?" Jungkook bertanya awas, sedikit terburu mengikuti langkah lebar Taehyung di depannya.
Taehyung memutar tubuhnya. "Tunggu saja." Ia tersenyum simpul dengan kedipan pada sebelah matanya. Jungkook sedikit terkesima akan parasnya yang terlihat menawan ketika deretan gigi putihnya tampak diantara kedua belah bibir tipisnya, namun akhirnya ia menggeleng kuat merasakan darah panas mulai naik ke wajahnya. Untung saja Taehyung sudah membalikkan tubuhnya ke depan lagi.
...
"Hyung kenapa kesini?" Jungkook menolehkan kepalanya ke kanan kiri dengan bingung.
Kini mereka telah berada di hall olahraga. Hall yang keberadaannya sempat diabaikan belakangan ini karena SOPA selalu menggunakan lapangan outdoor untuk berolahraga. Jungkook bahkan tak ingat kapan terakhir kali datang ke hall ini. Ia kira Taehyung akan membawanya keluar sekolah.
"Selain rooftop aku selalu ke sini kalau bolos." Taehyung berjalan ke bawah ring basket dan duduk di lantai kayu berpelitur itu begitu saja. Jungkook mengikuti duduk di sampingnya.
"Sepi kan? Tapi di sini enak sekali, kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Yah, walaupun paling maksimal adalah berolahraga sih." Taehyung merosotkan tubuhnya sampai dalam posisi tidur dengan kedua lengan yang disilangkan di belakang kepalanya sebagai bantal.
"Aku tidak bisa olahraga hyung. Tapi kurasa ini tempat yang bagus." Jungkook mengeluarkan buku sketnya dari ransel dan menyamankan posisi duduknya.
Tangannya mulai bekerja menggerakan pensil yang menari-nari di atas kertas. Tempat ini sungguh tenang, membuat Jungkook bebas mengeskpresikan imajinasinya. Tidak seperti biasanya ia harus mencuri-curi waktu di sela pelajaran untuk menggambar.
"Tapi kenapa hyung tak membawaku keluar sekolah? Bukankah waktu itu hyung mengajakku ke suatu tempat?"
"Ah, bagaimana ya. Awalnya aku memang ingin mengajakmu ke tempat itu." Taehyung bangkit dan ia mengambil bola basket dari keranjang, mendribblenya pelan sambil berlari kecil mendekati ring.
Dan shoot, bola berwarna oranye itu masuk dengan mulus melewati ring.
"Tapi kurasa keadaanmu sedang tidak fit, jadi kupikir lain kali saja." Taehyung melanjutkan, tersenyum.
"Memangnya tempat itu tempat seperti apa?" Jungkook merinding sendiri.
"Kau akan tahu nanti." Taehyung memungut bola dan kembali duduk di samping Jungkook.
"Aish, aku malah akan semakin penasaran hyung." Jungkook tersenyum di sela kegiatan menggambarnya.
"Hei, akhirnya kau tersenyum juga. Dari tadi kau kelihatan sedih dan mengerikan, apa ada yang tak beres? Sejak pagi tadi kita berpapasan di dekat loker pun aku sudah merasakan sesuatu yang aneh darimu." Pensil Jungkook berhenti menggurat di atas kertas.
Sepatu putih penuh torehan cat merah di dalam loker nomor 17 kembali mengambang di benaknya.
"Jungkook. Ada sesuatu kan?"
Jungkook mendongakkan kepalanya refleks. Kedua bola mata gelap Taehyung yang membara sudah cukup menginterogasinya tanpa tambahan kata-kata lain. Ia memutus kontak terlebih dahulu dan menelan ludahnya gugup. Bagaimana jika Taehyung tahu iniden itu? Haruskah Jungkook jujur kali ini?
Tidak. Itu takkan terjadi.
"Aku baik-baik saja hyung, tak ada masalah." Lagi-lagi kebohongan terucap dari mulutnya.
Berharap Taehyung tak menyadarinya, namun kini Taehyung memandangnya tajam dengan tatapan panasnya lagi. Jungkook mengigit bibirnya kuat.
"Kau bersungguh-sungguh Kook?" pertanyaan tak terduga itu membuat Jungkook mengangkat kepalanya lagi. "Aku.."
Dan sebelum Jungkook sempat menyadarinya, Taehyung sudah mencondongkan tubuh ke arahnya. Jemarinya yang panjang dan hangat mengusap perlahan pipi lelaki yang lebih muda darinya.
"Aku benar-benar takut terjadi sesuatu denganmu." Jungkook melebarkan matanya tak percaya. Belum pernah ada orang lain yang mengkhawatirkannya sejauh ini kecuali kedua orangtuanya. Terlebih jika orang itu adalah teman sekolahnya.
"Hyung, sungguh aku baik-baik saja." Jungkook menurunkan pelan tangan Taehyung dari pipinya. Jika saja ia tak ingat gendernya dan bersama siapa sekarang ia berada, mungkin Jungkook sudah menangis sedari tadi.
"Jungkook, aku serius. Aku akan membantu kapanpun kau membutuhkan pertolongan." Taehyung bersikeras. Sepertinya ia masih belum percaya.
Jungkook tersenyum. "Terimakasih hyung."
Taehyung menghela nafas menyerah dan kembali pada posisi duduknya. "Baiklah. Tapi apapun yang terjadi jika kau mengalami kesulitan kau harus memberitahuku Kook."
"Hyung, sebenarnya aku mengidap panic attack sejak Sekolah Dasar."
Taehyung langsung mengalihkan perhatian pada lelaki yang lebih muda darinya itu.
"Panic attack katamu?" Tanpa bertanya pun ia sudah tahu gangguan apa itu walaupun nilai rata-ratanya di sekolah hancur. Ia pernah membaca definisinya sekilas waktu sedang browsing di internet.
"Ya. Sampai sekarang penyakit itu belum sembuh juga. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya." Jungkook membuat coretan abstrak pada buku sketnya.
"Apa yang membuatmu bisa mengidap penyakit itu?"
Mata Jungkook langsung melebar bagaikan tersambar petir. Jantungnya kembali berdegup keras di kala kumpulan memori-memori kelam mulai terbayang kembali dalam pikirannya. Ia memejamkan kedua matanya erat dan mengepalkan tangan, berusaha menepis memori-memori gelap itu jauh-jauh dari kepalanya. Hingga ia menarik nafas dalam-dalam dan membuka lagi matanya hanya terucap lima kata dalam suaranya yang bergetar.
"Kejadian itu berlangsung empat tahun. Aku.." tenggorokannya tercekat, tak dapat mengatakan lebih banyak lagi meski semua yang ingin diucapkannya sudah tertahan di ujung kerongkongannya.
"Ah, tak apa Jungkook aku tak memaksamu menceritakannya!" Taehyung dengan gesit menyetop. Kini ia kembali merasa tak enak melihat Jungkook kembali terlihat muram.
"Hyung.."
"Jadi kau ingin aku membantu menyembuhkan panic attack-mu itu? Baiklah, akan kubantu dengan senang hati." Taehyung tersenyum.
"H-Hyung! A..aku tidak sejauh itu.." Jungkook menepis.
"Jungkook-ah, panic attack itu penyakit psikologis yang hanya bisa disembuhkan oleh penderitanya sendiri. Tapi juga tak mungkin kan jika dilakukan tanpa bantuan orang lain?" Taehyung memotong cepat.
"Tapi hyung, itu akan merepotkan dan butuh waktu lama.." Jungkook jadi merasa bersalah seolah ia menambah beban Taehyung.
"Tak masalah, walaupun butuh waktu lama aku pasti akan membantumu." Taehyung tersenyum lebar. Lagi-lagi senyuman hangat seperti bocah yang disukai Jungkook. "Karena kita akan berjalan bersama, Kook."
"Hyung.. kenapa kau melakukan semua ini?" Jungkook hampir tak bisa berkata-kata.
"Kenapa? Karena jelas kan, kita ini teman." Taehyung nyengir sambil menaikkan ibu jarinya.
Jungkook tak dapat lagi menahan senyum yang pecah bersamaan dengan tangisnya. Ia bangkit begitu mendadak membiarkan buku sket dan pensilnya terjatuh di lantai untuk memeluk erat Taehyung. Taehyung yang bingung akan situasi mendadak ini hanya bisa speechlessdan mengusap canggung punggung lelaki yang lebih muda darinya ini.
Jungkook tak peduli bagaimana ia kali ini terlihat menangis lagi di depan Taehyung. Kehadiran seseorang yang sangat peduli dan baik padanya sangat berarti baginya. Ia harap tak akan pernah berpisah lagi dengan seorang Kim Taehyung.
.
-In this shaken, twisted world, I gradually become transparent, unable to be seen.
Please don't bother looking for me; don't stare at me..
In a trap of solitude someone had set, before the future unravels,
Remember me; as vivid as I was-
.
Pagi berikutnya Taehyung benar-benar menepati janjinya untuk membantu Jungkook. Pada jam istirahat ia mengajak Jungkook pergi ke kantin bersama Jimin dan Suga.
Kantin, salah satu tempat selain ruang kelas yang sangat dihindari Jungkook. Ruangan luas itu adalah ruangan terpenuh di jam istirahat karena tentu saja semua siswa akan mendatanginya untuk membeli makanan. Jungkook sendiri baru sekali ke kantin, yaitu pada hari pertamanya masuk bersekolah di SOPA. Setelah hari itu dirinya terjebak sia-sia selama 30 menit dalam lautan manusia tanpa berhasil membeli makanan sampai jam istirahat usai Jungkook menyerah dan mulai membawa bekal dari rumah sendiri untuk dimakannya di ruang kelas atau perpustakaan.
Kepala Jungkook mulai berdenyut lagi di antara keramaian yang mendominasi tempat ini. Terlalu sering mengisolasi diri di halaman belakang sekolah dan perpustakaan membuatnya tak terbiasa berada di pusat keramaian. Semua ini mendatangkan rasa mual dan kesal, membuat kepalanya berputar. Sampai Jungkook merasakan tepukan ringan pada bahu kanannya. Ia menoleh.
"Santai saja. Aku bersamamu, Kook." Taehyung tersenyum tipis, membuat Jungkook mau tak mau tersenyum juga. Ia mengikuti Taehyung, Suga, dan Jimin yang berjalan ke bagian penjualan makanan.
Proses bagaimana Jungkook mengatasi kepanikannya mungkin cukup berhasil. Dari awal ia membeli makanan, membayarnya, lalu membawanya ke meja panjang tempat mereka bisa makan sukses. Ia dan Taehyung juga mengobrol seperti biasanya dengan Suga dan Jimin namun ia lega karena ternyata Taehyung tak membahas soal panic attack-nya.
"Hoseok hyung mana?" Jungkook bertanya pada Jimin yang seingatnya satu klub dengan Hoseok.
"Ah, ketua kami sedang sibuk mempersiapkan pertandingan basket dengan sekolah sebelah." Jimin menjawab dengan wajah puas.
"Kau sendiri tidak?" Taehyung menuding. "Jangan bilang kau mangkir dari tugas!"
"Hei hei, aku ini cuma wakil ketua. Memangnya apa wewenangku mengatur pertandingan? Aku hanya perlu tampil jika sudah waktunya." Jimin melahap ramyunnya dalam suapan besar.
"Bukankah seharusnya Ketua yang seperti itu?" Yoongi menepis asal-asalan di sela kunyahan rotinya.
"Aishh dasar! Ketua itu yang memimpin. Lagipula kenapa wajahmu begitu? Tidak suka hah melihatku?!" Jimin mulai sewot.
"Yak tenang, kau pikir ini di hutan?" Suara berat khas yang familiar membuat keempat lelaki yang duduk berjajar di meja menolehkan kepala bersamaan dengan kedatangan Namjoon dan Seokjin.
"Bukan hanya aku, semua yang ada di kantin juga ribut." Jimin merengut namun kemudian memilih untuk melanjutkan kembali makannya.
"Seokjin hyung, lama tak melihatmu." Jungkook menyapa ketika Seokjin mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Iya, ada proyek besar OSIS yang kukerjakan bersama Namjoon dan anggota lain belakangan ini." Seperti biasa Seokjin berkata dengan nada hangat dan keibuan meski tampangnya sendiri terlihat sangat kelelahan.
"Ya, mereka sibuk kencan." Taehyung yang sedari tadi sibuk makan menyeletuk tanpa dosa, menyebabkan Namjoon menyemburkan air yang baru saja masuk ke mulutnya dan Seokjin yang sengaja terbatuk keras-keras dengan wajah memerah sebelum keduanya akhirnya menghadiahi kepala Taehyung dengan jitakan. Jungkook meringis, lain halnya dengan Jimin dan Yoongi yang malah nyengir iblis tanpa belas kasihan.
"Aish, sakit hyung! Oke, aku serius proyek apa yang kalian kerjakan?" Taehyung mengusap kepalanya.
"Oh, ini akan jadi sangat menarik!" Seokjin berseru antusias. "Kalian tahu bulan apa sekarang?"
"Memangnya kenapa?"
"OSIS sedang membuat proyek pesta malam Halloween untuk sekolah." Kali ini Namjoon yang bicara.
"Pesta Halloween?!"
TBC
Lyrics: Tokyo Ghoul Opening OST S1 "Unravel"
Panic attack: Panic attack merupakan serangan kepanikan atau ketakutan yang luar biasa, terjadi tanpa alasan yang jelas, dan memicu reaksi fisik tertentu. Serangan kepanikan ini bisa sangat menakutkan. Penderitanya bisa merasa seperti kehilangan kontrol, sedang mengalami serangan jantung, atau bahkan sedang sekarat. Panic attack yang berlangsung berkali-kali disebut panic disorder. Penderitanya akan merasa ketakutan terhadap serangan kepanikan berikutnya. Panic attack merupakan sebuah kondisi medis yang serius. Tapi, dengan penanganan yang tepat kondisi ini bisa diatasi.
A.N::
Hai, ff ini update dan aku sangat tepar sekarang.
Chapter ini mulai aku bikin momentnya, masih kurang gregetkah? Mohon maaf jika agak ambigu, belakangan juga aku lagi kecanduan nonton anime xD
Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview follow fav pada chapter sebelumnya, juga silent reader yang hanya lewat tanpa meninggalkan jejak -_-
Well pokoknya gitulah, sampai jumpa di chapter selanjutnya! Jangan bosan-bosan mereview ff ini ya.
Annyeong readersdeul~^^
