Warning: Pervert!Sehun and Dangerous!Luhan, (M yang masih kecil tanggung resikonya wkwkw), Abusing, Kinky, Yaoi.

Main cast :

Luhan

Sehun

Qianren

Supporting cast:

Yifan

Suho

Tao ( 5 years old)

IT'S ONLY A FAN FICTION, EXO BELONG TO GOD AND THE STORYLINE IS MINE…

Sesuai perjanjian mereka berdua yang akan berbelanja besar untuk keperluan Qianren, Sehun mengakhiri sarapannya dengan memberikan beberapa kecupan gemas kepada bayi berumur tujuh bulan itu. Si bayi hanya tertawa lebar -sambil meremas-remas wajah Sehun dengan jemari mungilnya- setelah mendapatkan semburan kecupan dari Sehun. Luhan duduk manis disampingnya sambil membantu Qianren meminum susu paginya. Sehun yang memperhatikan Luhan tersenyum jahil, dengan diam-diam Sehun mencuri ciuman dari Luhan, melumatnya bibirnya sebentar lalu menjilatinya sebagai pelengkap.

"Hmmm.. Yak! Dasar mesum, kau tidak lihat Qianren memperhatikan kita?"

"Dia masih kecil, tidak akan mengerti.." ucapnya santai mengusap kasar rambut Luhan lalu beranjak pergi untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Luhan hanya bisa menatap Sehun dengan wajah kesal namun tarikan tangan Qianren pada bajunya menyadarkan Luhan untuk tidak mengalihkan perhatiannya. Qianren cemburu ternyata. Luhan kembali membantu Qianren untuk meminum susu botolannya. Sesekali tersenyum ringan melihat bayi mungil itu sangat antusias mengemut susu yang berasal dari botol tersebut. Untung saja Luhan masih ingat cara merawat bayi dari beberapa tv show yang pernah ia tonton. Huh, kau bilang dirimu manly, tapi tontonannya hampir sama dengan ibu-ibu rumah tangga.

"Minum yang banyak ne, tapi jangan sampai gemuk yaa—eh? Bau apa ini?" seperti merasakan bau yang menyengat, Luhan mencoba untuk mengendus-enduskan hidungnya seperti anjing pelacak professional, nah loh. Setelah meneliti dari atas hingga bawah, Luhan dapat menyimpulkan jika bau luar biasa itu berasal dari Qianren dan ternyata oh ternyata, Qianren sudah berhasil mengeluarkan senjata ampuhnya. Luhan menatap Qianren dengan tatapan horror, dahinya sudah berkeringat dingin, ia menggigit bibirnya untuk tidak berteriak namun sisi dirinya yang tidak manly akhirnya keluar dan lepas kendali.

"Kyaaaa Sehuuuun…Qainren pup, Qianren pup. Lakukan sesuatuuuuu.." teriak Luhan dengan sangat-sangat histeris dan tidak manly sama sekali, memanggil-manggil nama Sehun bagaikan seorang gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya. Suara melengking itu tentu saja tidak didengar oleh Oh Sehun, pasalnya namja berwajah pucat itu tengah bersenandung ria diatas closet –sedang buang air besar maksudnya- sambil membaca beberapa majalah porno.

Namun bencana kembali datang, Qianren yang terkejut karena teriakan Luhan dengan tak sengaja menjatuhkan botol susunya. Bayi itu sempat terlonjak kaget, menunjukan mata besarnya yang tengah melotot lalu sepersekian detik berubah menjadi mata yang berkaca-kaca. Bibir mungilnya kembali melengkung dan suara melengking lainnya keluar dari bibir mungil itu saling bersahut-sahutan di dalam apartemen. Suara teriakan Luhan dan tangisan lirih Qianren. Sungguh pagi yang penuh bencana.

"Huweeeeeee..Huweeeeee.."

Sehun yang mendengar suara-suara aneh itu berlari keluar, tanpa memikirkan apa-apa dia menghampiri Luhan yang sedang panik. Bergerak kesana kemari, celingak celinguk ke arah Qianren sambil memukul pelan pantat namja kecil itu agar berhenti menangis. Ditambah bau menyengat yang keluar dari sisi tempat Luhan dan Qianren duduk.

"Ada apa? Kenapa berteriak eoh?"

"Qianren pup, kita harus menggantinya tapi aku tidak tahu caranya.." jawab Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Qianren.

"Hei kau kira aku tahu heh?"

"Kita lakukan bersama saj-AAAHHHHHH PAKAI CELANA DALAMMU BODOOOH.."

"HUWEEEEEEEE"

Bughh

Sehun berakhir tragis di lantai dalam keadaan tanpa busana –di bagian bawahnya- karena hasil bogeman mentah dari Luhan sang rusa buas yang tengah mengamuk. See that? Benar-benar bencana. Qianren yang malang.

-bubu-

Setelah menyelesaikan tetek bengek yang membosankan, akhirnya Sehun dan Luhan membawa Qianren membeli baju di sebuah pasar tradisional, kata Luhan harga semua barang di pasar tersebut sangat murah dan kualitas barang yang dibeli bisa dikatakan sangat bagus. Selain murah, Luhan bisa melakukan tawar menawar dengan mudah. Huh, tipikal ibu-ibu rumah tangga.

"Kau terlihat seperti ibu-ibu rumah tangga saja.."

"Ya! Jangan mengataiku, jika beli di mall harganya sangat mahal. Kita cuma bisa beli satu, sedangkan disini bisa beli banyak untuk Qianren. Benarkan sayang?" tanya Luhan kepada namja kecil itu, Qianren menjawabnya dengan senyuman lebar seakan tahu pertanyaan Luhan sambil tepuk-tepuk tangan. Mengeluarkan suara bayi seperti 'tatata' dan 'buuubuu' yang 100% bisa membuat Luhan mati kejang karena overdosis keimutan Qianren. Sehun memutar bola matanya bosan, lagi-lagi dia merasa cemburu dengan anak kecil bau kencur macam Qianren. Bisa membuat Luhan tertawa senang seperti itu.

'Kau menyedihkan Oh Sehun, cemburu pada anak kecil'

"Ah lihat, baju itu sepertinya bagus untuk Qianren.." tunjuk Luhan pada sebuat etalase toko yang memajang baju anak kecil seumuran Qianren dengan gambar gummy bear berwarna pink dan warna dasar baju berwarna putih. Sehun menaikan alisnya, "Heh, itu baju untuk anak perempuan, warnanya pink seperti itu.."

"Ayo kita beli…" seakan menghiraukan kritikan Sehun, Luhan berlari-lari kecil kearah toko itu. Masuk ke dalam sambil menggendong Qianren yang terlihat senang ketika Luhan membawanya ke ruangan serba warna-warni itu. Baju-baju dengan ukuran kecil menggantung lucu di dinding toko tersebut seolah memperlihatkan baju apa saja yang mereka jual. Semuanya serba warna-warni dan sederhana, terlihat sangat cocok jika dipakai Qianren.

"Ren-ah, kau mau pilih yang mana um?"

"Tatata..tataaaaa…" jawabnya sambil menunjuk-nunjuk dengan jari mungilnya ke arah sebuah baju yang tadi dilihat oleh Luhan dari luar. Baju putih dengan gambar gummy bear pink. Ternyata mereka memiliki selera yang sama.

"Ah kau suka yang itu? Kita punya selera yang sama ternyata.."

"Ck, Dari tadi kau menunjuk itu, tentu saja dia meniru…"

"Aish, kau sirik saja Ohse.." cibir Luhan sambil membawa Qianren mendekat baju tersebut, memperlihatkannya lebih dekat sehingga terlihat lebih jelas oleh Qianren. Qianren yang tidak tahu apa-apa hanya berusaha menggapai baju itu seolah benar-benar menginginkannya. "Tatata…tatatta" ucapnya disertai gerakan meremas imut dari tangan mungilnya. Luhan tersenyum manis melihat tingkah sang bayi dan sukses membuat Sehun blushing sendiri saat melihat senyuman manis Luhan yang amat jarang terlihat.

"OK, Kita beli yang itu ya…" ucapnya senang lalu mengambil baju yang tergantung itu dan memasukannya ke dalam tas plastik belanjaannya. Luhan menelusuri setiap sudut toko tersebut, mencari pakaian lucu dan cocok untuk Qianren. Melupakan Sehun yang sudah bersungut tidak jelas karena diacuhkan oleh mereka berdua, lebih tidak enaknya lagi Luhan mengancam tidak akan memberikannya jatah jika dia tidak membantu membawa belanjaan yang super banyak itu. Menyedihkan sekali kau Oh Sehun.

Setelah belanja pakaian, Luhan melesat dengan lincahnya bagaikan seekor anak rusa ke toko mainan, Sehun yang mengekor di belakangnya dibuat kewalahan dengan lari anak rusa yang kecepatannya diatas rata-rata itu. Membelikan semua mainan lucu dan murah yang ditunjuk langsung oleh Qianren. Setelah puas belanja, akhirnya Luhan mengajak Sehun untuk makan di kedai ttoboki langganannya.

"Ahjummaaaa~ Lulu minta ttoboki, kimchi, odeng dan soju yaaaa~" panggilnya ceria sembari menyorakan pesanannya dengan suara yang lantang. Mengundang tawa dan tatapan aneh dari pelanggan lain. Sehun hanya bisa menghela napas kesal, pasalnya, pemuda manis itu melupakan sesuatu.

"Kau lupa memesan corndog untukku, Lu.."

"Ne? Ahh.. mianhae sayang..Ahjumma, tambahan corndognya dua ya!" teriak Luhan sambil memangku Qianren yang tengah asyik dengan dot-nya.

"Ne, Luhannie manis ahjumma.." jawab Ahjumma tersebut sembari tersenyum dengan tingkah manis Luhan yang terkadang berlebihan dan bisa membuat semua orang terkena diabetes mendadak.

"Aish Ahjumma, jangan panggil Lulu manis, Lulu itu manly.." bantah pemuda manis itu tak terima. Sehun mendelik kesal dan mencibir pemuda yang katanya manly itu, "Huh, mana ada namja manly bernama Lulu. Dasar sok manis.."

"Diam kau, albino…"

"Sudah, sudah…ini pesanannya.." ucap sang Ahjumma sambil meletakan pesanan Luhan diatas meja. Luhan yang manis menerimanya dengan manis pula, apa Luhan berencana membuat semua orang mati mendadak? Setelah berterima kasih, Luhan langsung melahap pesanannya dengan sangat rakus. Ttoboki setelah itu kimchi lalu soju hampir bersamaan. Sehun yang memperhatikan tingkah pemuda itu dari awal hanya bisa menatap geli dan bergumam "dasar rakus" berkali-kali.

"Ren-ah, kau mau odeng?" tanya Luhan menyodorkan odeng yang telah ia potong kecil-kecil ke depan bibir mungil Qianren. Sehun menghentikan gerakan tangan Luhan yang berniat memasukan benda lunak itu masuk ke dalam mulut Qianren.

"Yak! Dia belum bisa makan itu.."

"Kenapa?" tanya Luhan dengan tatapan polosnya. Mendadak Sehun menjadi geram dengan sifat pemuda manis ini. "Dia kan belum punya gigi untuk mengunyah Lu.."

"Jinjja? Tapi aku melihat dua gigi susunya tadi!"

"Yah dia belum bisa mengunyah dengan dua gigi susu yang hanya tumbuh di bawah itu. Bantu dia mengunyah kalau kau ingin dia makan sesuatu"

"Ah geure…" jawab Luhan masih dengan tampang polosnya, mengambil bagian odeng yang besar lalu mengunyahnya hingga sedikit halus. Sehun sempat bingung bagaimana cara pemuda bermata rusa itu memberikan odeng yang telah halus itu kepada Qianren. Dan benar saja, mata Sehun terbelalak lebar saat Luhan mencium bibir mungil Qianren dan memindahkan makanan itu lewat mulut dengan lidahnya. Sumpah, Sehun benar-benar shock saat itu.

"YAK! KAU BYUNTAE!" teriak Sehun dengan berusaha menjauhkan kepala Luhan dengan Qianren dengan kasar, tapi malah membuat Qianren menangis kencang karena terkena serangan jantung mendadak dari Sehun. Semua orang memandang mereka dengan tatapan aneh. Luhan yang tidak terima dibilang mesum menjitak kepala Sehun, "Ya! Aku menyuapinya karena tidak ada sendok khusus bayi. Kau mau bibirnya terluka karena sendok besi?"

Sehun terdiam dan mulai berpikir keras, "Iyayah benar juga!" dan setelah itu pemuda berkulit kelewat putih itu hanya terdiam saat Luhan lebih memilih memasang dot Qianren ketimbang menyuapi odeng kembali pada bocah tujuh bulan itu. Kelihatannya Luhan, si rusa manis sedang badmood.

Luhan bangkit dari kursinya, "Ayo pulang…" ajaknya dengan nada lesu. Luhan membayar makanan yang dipesannya lalu berjalan keluar kedai tapi sesuatu menghalagi jalannya, Ah lebih tepatnya seseorang menghalangi jalannya.

"Eh, Luhan?"

"Kris?"

-bubu-

Mereka berjalan berdampingan dengan Luhan yang menggendong Qianren, Sehun yang membawa tas belanjaan dan Kris yang menggandeng tangan mungil Tao –anak Kris dan Suho- menuju kawasan apartemen milik mereka. Kris tak lain adalah tetangga satu apartemen Sehun dan Luhan yang hanya berbeda satu lantai dengan mereka. Kebetulan bertemu di kedai saat Tao merengek ingin corndog, jadinya mereka bertemu di pintu masuk kedai.

"Bagaimana kabar Suho?" tanya Luhan sekedar basa-basi untuk memecah suasana sepi diantara mereka.

"Ah Suho baik-baik saja, dia agak sibuk akhir-akhir ini. Jadinya akulah yang merawat Tao.." jawabnya santai, mengabaikan tatapan sinis Sehun yang terasa menusuk saat Kris mencoba tersenyum untuk Luhan.

"Hm, ya aku lupa kalau Suho sedang di Shanghai sekarang.."

Setelah itu, suasana menjadi sepi kembali dan terkesan canggung, apalagi dengan Sehun yang terus menatap Kris dengan tatapan menyipitnya.

"Daddy, Tao ingin digendong" ucap Tao yang sedari tadi ingin digendong seperti Qiaren. Qianren yang berada di gendongan Luhan hanya menatap Tao yang berada di bawahnya dengan tatapan lugunya. Sesekali anak berumur tujuh bulan itu tertawa tanpa suara saat Tao menatapnya balik.

"Oke, Daddy gendong ya. Tapi jangan rewel!"

Tao mengangguk dan merentangkan tangannya pertanda ingin di gendong. Setelah berada di dekapan Kris, Tao memandang Qianren dengan tatapan yang sangat dalam seolah tengah melakukan komunikasi antar bayi dengan bocah tujuh bulan itu. Tao mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Qianren. Jika dilihat dekat, Tao dan Kris sama sekali tidak mirip apalagi dengan wajah Suho. Yah, tentu saja, Tao adalah anak angkat pasangan Kris dan Suho. Melihat kenyataan bahwa Suho tidak bisa melahirkan karena gendernya dan lagi Suho tidak diberkati karunia untuk menjadi salah satu pemuda yang dapat menjalani male pregnancy. Tao mereka adopsi sejak masih berumur satu bulan dari sebuah rumah sakit di Shanghai. Orang tua Tao yang tidak mampu, meninggalkan bayi mungil itu di rumah sakit sendirian. Hidup memang pelik tapi begitulah kenyataan yang selalu jauh dari ekspetasi manusia.

"Namanya siapa, Ahjumma?" tanya bocah berumur tiga tahun itu sambil mengusap sayang rambut Qianren. Qianren menikmati sentuhan itu dan mulai tertawa lucu.

"Ah-ahjumma? Siapa yang kau panggil Ahjumma, Tao-ya?"

"Tentu saja, Luhan ahjumma…" jika ini dalam anime yang biasa ditonton Sehun, persimpangan empat sudah muncul di kepala Luhan sambil berkedut-kedut tanda rusa ini kesal dengan panggilan baru yang diberikan oleh Tao. Gendernya merasa terlecehkan.

"Ppttttfff…Hahaha Kau dipanggil Ahjumma, Hahahaha…" Sehun yang tidak tahu situasi malah menertawakan rusa jadi-jadian itu.

Pletak…

Jangan tanya apa yang terjadi, pasti Sehun menjadi korban penganiayaan Sehun untuk entah keberapa kalinya. Luhan tersenyum kepada Tao sambil mengusap sayang rambut hitam legam anak berumur tiga tahun itu, "Tao-ya, panggil Luhan itu Ahjussi bukan Ahjumma, arraseo?"

Tao bingung, kenapa wanita ini –dalam pandangan Tao- mengaku-ngaku sebagai lelaki, jelas saja wajahnya tidak sesuai dengan panggilan yang diminta oleh Ahjumma itu. Tao memiringkan kepalanya lucu dan dengan polosnya menjawab, "Kenapa? Luhan Ahjumma kan perempuan. Kenapa harus dipanggil Ahjussi? Apa Luhan Ahjumma punya kelamin dua?"

Sungguh Sehun tak tahan untuk tidak tertawa, tapi namja sialan itu masih tahu tempat dan posisinya sebagai korban penganiayaan lagi jika Luhan kembali marah. Sehun berusaha menutup mulutnya dengan tangan sekuat mungkin. Tao benar-benar daebak, apa yang dia tahu tentang kelamin ganda, sepertinya Tao banyak menonton televisi yang belum sepantasnya untuk ditonton oleh bocah ingusan seumurannya. Salahkan Kris…silahkan salahkan Kris.

"A-a-aniyo, aku itu namja, Tao-ya. Ini buktinya.." jawab Luhan tak terima dengan memberi bukti jika dia benar-benar namja dengan meletakan dua telapak tangan mungil Tao di depan dadanya –lebih tepatnya di depan manboobs-nya hanya saja tertutup baju- yang datar. "Lihat, datar kan? Tidak ada tempat minum susu.." Luhan? Penjelasan macam apa itu? Seolah mengerti akhirnya Tao mengangguk cepat dan tersenyum lebar seolah mengerti apa maksud Luhan tadi. Luhan yang melihat reaksi Tao mulai sumringah, "Ahhh Tao tahu, Luhan Ahjumma itu berdada rata ne?"

Kris sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab dan memiliki pendidikan tinggi dibuat ternganga lebar atas pernyataan Tao yang asal ceplos itu. Betapa polosnya makhluk gumpalan daging menggemaskan ini hingga Sehun tidak tahan untuk benar-benar tertawa.

"HUAHAHAHAHAHAHAHAAH…" Tawanya benar-benar menggelegar, mengundang tatapan prihatin dari pengguna jalan dan pejalan kaki siang itu. Kris hanya bisa menghela napas, berpikir bagaimaa menyelesaikan kasus sepele ini. Sedangkan Luhan, hmm…namja bermata rusa itu sepertinya telah menyerah untuk memberikan penjelasan pada Tao yang mungkin tidak ada habisnya. Dengan kesal Luhan berjalan mendahului mereka, menggendong Qianren dengan gerakan rajukannya yang malah mengundang kegemasan tersendiri oleh Sehun.

Kris menyusul Luhan, "Maafkan Tao, Luhan. Dia masih kecil. Yah, belum mengertilah. He..he..hehe.."

"Hm..!"

"Sepertinya dia marah…" gumam Kris pelan.

"Sudah biarkan saja, nanti juga kembali seperti semula.." sahut Sehun santai telah selesai dengan acara tertawa terpingkal-pingkalnya dan menyusul Kris sambil membawa belanjaan yang banyaknya minta ampun itu. "Huh kau memang cocok menjadi perempuan, belajaan segini banyaknya sudah seperti window shopping para gadis-gadis labil. Menyebalkan.." dengus namja berkulit kelewat putih itu, meratapi nasibnya.

"Daddy, Tao salah ya?"

"No, No Baby.."

-bubu-

Sudah tiga jam Luhan merajuk. Sesampainya di apartemen, Luhan berusaha mengacuhkan kehadiran Kris dan Tao, ya mau bagaimana lagi, namja bertubuh mungil ini benar-benar kesal. Bukan hanya karena Tao tapi juga karena Sehun saat di kedai tadi. Semua orang memandangnya sinis saat Sehun meneriakinya 'byuntae' tadi. Tatapan orang-orang seperti itu membuat Luhan sedikit trauma dan merasakan flashback. Tatapan itu pernah ia dapati pada saat umurnya beranjak sepuluh tahun, teman sekelasnya yang menyindiri dimana keberadaan ayahnya. Luhan kecil yang tidak tahu apa-apa hanya mampu menerima tatapan itu dengan lapang dada. Ibunya dulu bagaikan seorang malaikat pelindung yang memberinya kekuatan agar ia tidak mendengarkan atau memperdulikan tatapan orang lain. Tidak terpengaruh oleh tatapan dan ucapan kasar mereka, namun sebenarnya berkat Sehun jugalah Luhan merasa terlindungi dari tatapan itu. Seperti tameng yang melindunginya dari serangan. Sehun adalah tamengnya.

"Haahhh…" ini sudah ke dua puluh tujuh kalinya Luhan mendesah pasrah, ikatan sesak dalam hatinya tak kunjung melonggar. Kejadiann itu benar-benar terasa kembali ke masa lalu dan otaknya tidak dapat diajak kompromi untuk tidak memikirkan hal tersebut.

Qianren telah tertidur nyenyak, sepertinya namja kecil ini kelelahan. Qianren tampak lucu dengan baju barunya, sehabis mandi tadi Luhan langsung saja mencobakan baju gummy bear itu yang syukurnya sangat muat oleh Qianren. Kini namja mungil itu terlelap dengan hisapan jempolnya yang tak pernah lepas dari bibir mungil itu. Bibir… benar juga sih Luhan agak gegabah tadi. Tidak berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Pabbo Luhan.

"Lebih baik aku memasak sesuatu untuk makan malam nanti.."

Luhan keluar kamar setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Celana boxer longgar hitam dan T-shirt kebesaran yang menenggelamkan tubuh mungilnya dalam t-shirt coklat itu. Matanya bergerak gelisah mencari keberadaan Sehun, "Apa dia sudah pergi bekerja ya?"

Luhan memeriksa ruang tengah, ruang tamu dan juga kamar Sehun, sepertinya namja itu sudah berangkat kerja. Luhan menghela napasnya kasar, setidaknya untuk saat ini dia tidak harus bertatap muka dulu dengan Sehun. Ia merasa sedikit bersalah dan malu secara bersamaan karena tindakannya tadi. Memang sih bukan masalah yang sepele, tapi Luhan selalu teringat dengan masalah itu.

"Lebih baik aku memasak untuk makan malam nanti.."

Berjalan ke kulkas untuk mencari beberapa potong daging segar, sosis dan bakso ikan, tak lupa sayuran lobak dan beberapa bumbu lainnya. Luhan hendak mengambil kecap dan cuka di lemari paling atas, namun gerakan itu terhenti saat sebuah tangan melingkari pinggang rampingnya.

"Lu…"

Luhan tersentak kaget, pasalnya suara berat itu tepat berada di telinganya. Terasa hangat dan mendebarkan. Luhan sudah tahu pasti siapa pemilik suara kesukaannya itu, tentu saja Sehun.

"Mianhae…"

"Hm, tidak apa. Aku juga salah tadi…uhm kau tahu maksudku kan?"

"Ne…Lu.."

"Waeyo?"

"I want you, sesuai perjanjian kita.."

Astaga Luhan hampir lupa dengan perjanjian itu dan sepertinya saat ini namja bermata rusa itu tidak dapat mengelak lagi. Dagu Sehun seakan menahannya untuk bergerak, lalu bibir kesukaannya itu sudah mendarat di telinganya. Meniupnya dengan napas hangat dan menggigitnya sensual lalu turun ke lehernya, mengecup, menjilat pelan hingga mengigit bagian sensitive itu berkali-kali yang sukses meninggalkan ruam merah yang terasa meletup panas di kulit Luhan. Luhan tidak bisa menahan untuk tidak mendesah, mendongakan kepalanya lebih tinggi memberi akses untuk Sehun menambah koleksi kissmark-nya.

Bersyukur baju yang Luhan kenakan sangat longgar, membantu Sehun untuk mengeksplorasi bahu putih itu tanpa membuka pakaian Luhan.

"Ahh, Sehun..ta-tapi jangan disini.."

"Hm kapan lagi kita melakukan sex di dapur, Lu.." jawab Sehun enteng sembari membawa Luhan dalam pelukannya dan memposisikan namja bertubuh kecil itu di atas meja makan. Luha terbaring pasrah diatas meja makan, tak dapat dipungkiri ia juga membutuhkan Sehun saat ini, seperti keseharian mereka yang hidup tiada hari tanpa having sex. Sehun melebarkan kaki Luhan hingga benar-benar mengangkak menampilkan bagian bawahnya yang masih tertutup boxer.

"Sepertinya ada yang sudah tegang.." ujar Sehun sembari mengelus paha dalam Luhan dan merambat ke penis-nya yang sudah setengah menegang. Meremasnya pelan dan menekan-nekan telapak tangannya pada penis Luhan yang terbilang unyu itu.

"Ahh, Sehunhh. Jangan main-main, cepat selesaikan sebelum Qianren bangun nghh"

"Hm, tidak sabaran sekali, baby-ku ini.."

"Nehh daddy, baby butuh belaian daddy sekarangghh.." Bagus, Luhan liar sudah mulai dengan dunia kinky-nya. Jika ini sudah terjadi Sehun akan merasa sangat senang memiliki baby seperti Luhan. "Da-daddy..hhhh~" desah namja rusa itu dengan menggerak-gerakan pinggulnya seperti meminta lebih pada tangan Sehun.

"Arraseo, daddy mengerti sayang…"

Dengan sekali gerakan, Sehun telah melepaskan celana boxer Luhan yang ternyata oh ternyata tidak memakai celana dalam. Sehun menyeringai, tangannya sudah mulai menjelajahi penis mungil Luhan.

"Uhmmhh…"

"Kau nakal ya, tidak pakai celana dalam.."

"Nghh mianhaee, da-daddy nghh.."

"Anak nakal harus dihukum.." ucap Sehun sembari menampar pelan penis Luhan dan bongkahan kenyal pantat Luhan yang terlihat menggiurkan itu menghasilkan desahan yang amat merdu dari bibir Luhan. Sehun merasa puas dengan pemandangan ini, tapi akan lebih puas lagi jika ia menikmatinya secara langsung. Namja kelewat putih itu sudah mengecup ujung penis Luhan, menjilatnya pelan seperti memancing Luhan untuk meminta lebih. Dirasa cukup untuk menggoda Luhan, Sehun sudah akan memasukan penis mungil itu ke dalam mulut hangatnya dan menikmatinya jika suara interupsi itu tidak menggangu kegiatan mereka berdua.

Ya benar…suara interups itu milik Qianren yang menagis kencang entah apa maunya. Sehun menjadi kesal saat Luhan dengan reflek turun dari meja makan tanpa boxer dan berlari ke kamar Qianren dengan hebohnya.

"Omo, Ren-ah!"

Tolong beri catatat untuk Sehun jika namja ini mulai membenci namja kecil itu.

"Qianren sialan, merusak suasana saja.."

Poor Sehun…masalahnya ia juga sudah tegang. Terpaksalah namja ini melakukan solo di kamar mandi.

-bubu-

AAHHHHH aku ga bisa banyak komen untuk hampir empat bulannya aku hiatus dan ga bilang-bilang hehe. Maaf pembaca aku melupakan pw akun ini dan lagi writer's block menyerang secara bergantian. Dan kinilah waktu yang tepat buat update lagi. Untuk semua reviewer makasih banyak masih setia ngasi komen dan pembaca yang masih setia nungguin author lebay ini. hiks maafkan dakuuuu…. Untuk He Wolf akan update hari Sabtu depan neeee….yang sabar yang sabar disayang author #bleh

Jangan lupa review ya.

Chapter depan ada yang mau request tambahan cast? Tadikan sudah KrisHoTao, chapter depan mau siapa hayoooo…jawab yaaa…

Selamat membaca dan enjoy….