Author : Melody-Cinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance (Pas nggak ya? =.=a)

Pairing : Tenten x Neji H.

A/N : Mungkin bakal ada slight..

--

Beautiful Tenten

Chapter 3 : In School

--

"Belajar yang tekun ya, nak." Ibu Tenten menasihati Tenten. Tenten hanya mengangguk dan keluar dari mobilnya. Dia mulai berjalan ala perempuan. Diujung sana, kedua temannya—Sakura dan Ino—sudah menunggu.

"Selamat pagi!" sapa Tenten. Keliatannya dia sudah banyak belajar di rumah. Buktinya dia sudah tidak berteriak lagi sekarang.

"Wah, gayamu sekarang feminim sekali Tenten! Aku tidak menyangka kalau dalam dua hari saja kau bisa se-feminim ini~" Sakura berdecak kagum.

"Terima kasih atas pujianmu, Sakura. Tapi barangku masih tomboy semua. Aku juga sama sekali belum suka memakai baju perempuan. Mungkin beberapa hari lagi untuk pembiasaan menjadi lebih feminim." Tenten menerangkan kepada Sakura. Dia tersenyum kepada Ino. "Terima kasih atas pelajaran yang kau berikan, Ino-senpai!" Tenten menghormat.

"Jangan begitu, kita kan teman. Sudah kewajibanku membantumu!" Ino menepuk pundak Tenten. Tenten tersenyum senang. "Nah, ayo kita masuk! Aku ingin lihat ada berapa laki-laki yang terpesona olehmu." ajak Ino. Tenten pun masuk kedalam sekolahnya.

"Woow!"//"Waah!"//"Cantiknya~"

Kata-kata pujian seperti diatas berkali-kali dilontarkan oleh laki-laki yang mereka lewati. Tenten hanya bisa tersipu mendengarnya. Ya, ampun, rasanya baru kali ini dia dilirik oleh laki-laki sebagai perempuan. Biasanya dia dilirik sebagai laki-laki juga..

"Banyak sekali!!" Sakura berdecak kagum. Dia memegang tangan Tenten. "Kalau begitu, sekarang kita ke Neji, yuk! Aku ingin lihat bagaimana reaksinya~" Sakura mulai menarik tangan Tenten. Tenten hanya menurut dengan muka yang sudah merah.

"Neji-kun!" panggil Sakura dengan kekanak-kanakannya. Neji lalu menoleh.

"Kenapa, Sakura?" tanya Neji dengan raut muka penasaran. "Eh, Tenten? Ada apa kalian kesini?" tanya-nya lagi.

"Eh? Kau sudah tau kalau dia Tenten?" tanya Sakura bingung. "Sejak kapan kau sadar?" tanya Sakura lagi.

"Ah, aku telah menemuinya di salon waktu itu. Jadi aku sudah tau." jawab Neji sambil tersenyum ramah. Muka Tenten jadi memerah melihat Neji tersenyum seperti itu. "Jadi, maksud kedatangan kalian itu apa?" tanya Neji lagi.

"Ah, tidak. Aku pergi dulu ya! Dah!" dan Sakura kembali menarik tangan Tenten menuju tempat duduk mereka. "Neji sudah tau rupanya.." ujar Sakura lemas.

"Ya, memang aku sudah beritahu kok!" ujar Tenten tersenyum ramah. Tapi dia membuatku penasaran. Maksud perkataannya itu lho~ Apa maksudnya?, pikir Tenten penasaran. "Ah, jangan pikirkan hal itu. Sekarang kau ingin memberiku pelajaran apa Ino? Aku siap dengan pelajaran menjadi feminim!" ujar Tenten bersemangat.

"Hm, biasanya perempuan itu lemah. Dan mereka hanya melakukan pekerjaan yang ringan saja. Jadi kalau guru menyuruhmu mengangkat sesuatu seperti sebelumnya, kau harus menolaknya! Lalu waktu istirahat kau tidak boleh main sama anak cowok!" terang Ino memperingati.

"Eh? Tapi aku tidak bisa membantah guru! Lagipula aku sudah janji akan main basket dengan yang lain—anak cowok—hari ini.." Tenten membantah.

"Gak boleh! Kau harus batalkan! Lebih baik kau makan sama kami! Oke?" tanya Sakura meminta persetujuan dari Tenten. Dia mengedipkan sebelah matanya, genit.

"Ah, baiklah~ Aku akan mencobanya.." Tenten menjawab dengan lemas. Dia pun mengambil buku dari tasnya. Buku novel misteri-horor. Tapi tiba-tiba Ino mengambil bukunya. "Hei! Apa-apaan sih kau, Ino? Aku sedang membaca tau!!" Tenten semakin kesal pada Ino.

"Perempuan feminim tidak membaca novel misteri! Mereka membaca novel romantis dan drama!!" Ino memberitahu. Dia menaruh buku itu di meja Tenten dan mulai mengambil sebuah novel dari tasnya. "Ini! Coba kau baca novel ini. Novel percintaan." Ino menyodorkan novel itu pada Tenten.

Tenten tidak mengambil novel itu. "Aku tidak suka novel romantis! Lebih baik aku membaca novel…" baru saja Tenten ingin kembali membuka novel misterinya, novelnya sudah diambil oleh Sakura.

"Kau harus baca itu! Atau novel ini akan aku sita! Bagaimana?" tanya Sakura dengan nada mengancam. Tenten dengan pasrah mengambil novel romantis itu dan menaruh novelnya di tas. Dia pun mulai membaca novel itu dengan ogah-ogahan.

Ah, susah sekali jika ingin jadi feminim!, pikir Tenten kesal.

***

Krriiiing! Krriiing!

Bel istirahat mulai berbunyi. Semua anak-anak mulai keluar dari kelas. Anak cowok pun keluar menuju ke lapangan. Sasuke yang sadar Tenten tidak ikut ke lapangan menghampiri Tenten.

"Tenten, lo nggak ke lapangan? Katanya lo mau main basket ama kita!" ujar Sasuke mengingatkan.

Tenten menggeleng, "Sorry, gue gak bisa main sama kalian. Tolong bilangin sama yang lain kalau gue gak jadi ikut. Oke?" tanya Tenten sambil tersenyum.

Muka Sasuke perlahan-lahan berubah menjadi merah. "O-Oke." dan dia pun mulai berjalan jaim kearah lapangan.

"Wah! Bahkan Sasuke-kun menjadi merah! Kau hebat, Tenten!" Sakura menjadi bangga punya teman seperti Tenten.

"Biasa saja kali! Ayo, katanya mau ke kantin? Jadi nggak?" tanya Tenten mengingatkan. Ino dan Sakura pun mengangguk dan mereka pergi ke kantin.

***

Tenten dan teman-teman pun memesan makanan mereka masing-masing.

"Ah, istirahat yang membosankan! Harusnya aku ada di lapangan sekarang!" Tenten menggerutu kesal saat makanannya sudah hampir habis.

"Yah, biarin saja. Kan kau sedang tahap mem-feminimkan diri!" Sakura memberi semangat. Disambut anggukan antusias Ino.

"Iya deh." Tenten menghela nafas panjang dan menghabiskan menunya. Tak sengaja, Neji juga pergi ke kantin. Tenten melirik Neji yang masih biasa-biasa saja. "Sakura, Ino, apakah benar Neji menyukai perempuan feminim? Lalu, kenapa dia rasanya tetap biasa saja terhadapku? Padahal aku sudah berubah.." Tenten memberitahu kedua temannya dengan kecewa.

Sakura—yang duduk disamping Tenten—mulai menepuk pundak Tenten. "Sabar. Kau juga harus berjuang lebih keras! Semangat!" Sakura memberi Tenten semangat. Tenten hanya tersenyum pasrah. Lagi-lagi hanya pasrah.

Dan tidak disengaja—lagi—ternyata Neji dan Naruto duduk dibelakang mereka! Tenten mulai kembali memasang telinganya. Diikuti kedua temannya.

"Hei, kau lagi-lagi menolak seorang wanita maskulin. Kali ini kenapa dengan Kin Tsuci?" tanya Naruto penasaran.

"Naruto, sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka wanita maskulin!" ujar Neji dengan nada sangat kesal pada Naruto. Andai saja Naruto bukan calon saudaranya, mungkin Neji sudah menghajarnya sekarang.

"Iya, aku tahu. Memang apa sih salahnya wanita maskulin?" tanya Naruto makin penasaran. Tenten makin menajamkan pendengarannya.

"Itu karena aku…"

"Ini minumnya." seorang pelayan kantin menaruh minuman Tenten tepat di depannya. Membuat semua perhatian Tenten dan teman-temannya teralih kepada minuman itu.

"Ah, makasih." Tenten berterima kasih dengan lembut walaupun hatinya sudah mengutuk orang itu. Dia, Ino dan Sakura pun kembali menajamkan pendengarannya setelah tersenyum grogi.

"Oh, begitu masalahnya. Baiklah, aku mengerti.." Naruto mengangguk-angguk mengerti.

"Haah.. Sial! Dia sudah selesai bicara!" Ino mulai menggerutu sendiri.

"Ah, iya! Bikin penasaran!" Sakura membalas dengan raut muka yang sangat kesal. Aku hanya mengangguk dan tersenyum memaklumi. Padahal aku sendiri juga penasaran. Tak terasa bel masuk sudah berbunyi. Kami pun kembali ke kelas.

Bersambung..

Yeiy! Sudah sampai chapter ke-empat. Awalnya Mel berencana akan menamatkan fic ini di chapter ke-tujuh. Secara waktu Tenten untuk jadi feminim seminggu alias tujuh hari. Penasaran gak sama ceritanya? Kalau iya, review dulu, baru aku lanjutin :P *digetok* hehe. Review ya!