Pages of My Letters

Chapter 4

"Oh! Aku sudah mengerti." Sehun tidak dapat menahan senyumnya, ia terlihat antusias sehingga orang-orang di sekitarnya pun ikut memberikan perhatian padanya. Sudah lama mereka tidak melihat Sehun tersenyum seperti ini. "Kim Kai itu Tuhan-mu?"

Mendengar nama 'Kim Kai' yang sudah Sehun bicarakan berulang kali di hari ini membuat teman-teman Sehun yang tadinya ikut antusias pun jadi merasa tidak bersemangat. Semenjak Sehun sering bergaul dengan Kai, ia jadi terlihat seperti orang gila. Sehun akan membahas hal-hal yang absurd sambil menyebut-nyebut nama Kim Kai dan atau Oh Shixun. Buku fiksi apa lagi yang Sehun obsesikan kali ini? Tapi nama karakter itu serupa dengan ... wait, apa kini Sehun membuat karya fiksi mengenai dirinya dan Kai?!

"Berhenti membahasnya!"

"Ouch!" Sehun memijat bagian keningnya yang terkena ketukan sendok alumunium oleh Baekhyun. Hal ini menyadarkan Sehun bahwa sedari tadi sendok yang digenggamnya tidak menyentuh makan siangnya sama sekali. "Berhenti menyiksaku, hyung!"

Tidak ada respon dari Baekhyun untuk beberapa saat, hanya keheningan yang menanggapinya. Hampir seluruh teman yang ada di sekitar Sehun itu menatapnya sedikit terkejut.

"Oh Sehun ...," Sehun yang tadinya hendak mulai menyantap makan siang, malah membeku setelah mendengar Baekhyun memanggilnya seperti itu. Ia menoleh pada senior sekaligus teman bergaulnya tersebut. Baekhyun terlihat akan menangis.

Huh? Did I do something wrong?

"Sehun, kau—sudah lama aku tidak merasakan kau menyebalkan seperti ini. Thank God, you're back!"

Kemudian yang terjadi selajutnya adalah Baekhyun yang segera memeluk tubuh Sehun erat disusul tawa teman-temannya yang lain. Pemandangan Baekhyun yang bersikap drama dan atau berlebihan selalu saja lucu bagi siapa pun.

"Kai! Apa saja yang kaulakukan pada Sehun, huh?" Baekhyun terdengar seperti akan murka pada Kai, namun senyum kecil di wajahnya tidak dapat disembunyikan. Ia senang Sehun menjadi pribadinya yang dulu lagi setelah sekian lama terkubur dalam kenangan bersama Jongin yang telah tiada.

"Meskipun kau membuatnya jadi seperti orang gila, tapi kau membuat Sehun merasa lebih baik." Yixing yang sedari tadi hanya duduk diam akhirnya ikut berkomentar.

Kai menatap seluruh teman-temannya termasuk Sehun, tidak tahu harus membalas perkataan mereka dengan apa jadi ia pun hanya terkekeh canggung kemudian menundukkan kepalanya. Merasa malu karena dirinya diperlakukan seolah sebagai seorang pahlawan untuk Sehun. "Kupikir Sehun memang menyebalkan seperti ini."

"Hey!" Sehun menepuk lengan Kai keras. "Aku tidak menyebalkan."

"Hmm, tentu saja kau tidak menyebalkan, Sehun." Kata Chanyeol dengan sarkasme dalam nada bicaranya. Ia tersenyum jahil, tipikal Chanyeol ketika suasana hatinya sedang baik. "Aku heran kenapa kau memiliki banyak penggemar, andai saja Jongin masih di sini dan ia tahu betapa menyebalkannya kau kalau—ow!" Chanyeol seketika berhenti berucap saat seseorang menyikut perutnya. Ia pun menoleh ke samping, mendapati Baekhyun sedang memelototinya tajam. Baekhyun memberi sinyal kepada temannya yang sering bertingkah idiot itu untuk tidak membahas topik pembicaraan yang sensitif bagi Sehun, seperti mengenai Kim Jongin.

Suasana pun jadi canggung karena tidak ada salah satu di antara mereka yang membuka mulut.

Setelah paham apa yang dimaksud, Chanyeol buru-buru menyambung kalimatnya meski agak tergagap. "M-maksudku, uh, andai saja—andai saja—ehm, penggemarmu,"

"Mungkin aku menyebalkan karena Kai menularkan sifatnya padaku." Sehun memotong ucapan Chanyeol untuk menghilangkan kecanggungan. Bibir Sehun mengukir sebuah senyum ketika berbicara seperti itu. Ia terlihat sangat santai bahkan setelah mendengar nama mantan kekasihnya yang pernah terasa sangat sakral untuk diucap. Semuanya jadi terasa aneh tiba-tiba.

Mereka semua, termasuk Kai, hanya tertawa canggung menanggapi gurauan Sehun. Kai tidak mengira bahwa Sehun akan mengubah sikapnya secara drastis dalam waktu singkat seperti ini. Sehun jadi seolah tidak memusingkan lagi hal mengenai Jongin. Sehun juga seolah tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal mengenai Kim Kai dan lebih memilih untuk membicarakannya seolah Kim Kai adalah seorang selebriti baru yang diobsesikannya—seperti hal normal. Sehun menganggap semuanya enteng, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Apakah ini karena insiden percakapan Sehun dengan Shixun di dalam kamar mandi?

"Uh, aku harus pergi ke perpustakaan." Kata Kai tiba-tiba, ia pun segera berlalu tanpa menunggu reaksi dari teman-temannya. Kai akhir-akhir ini tidak suka melihat senyum Sehun yang membuatnya merasa gugup dan aneh.

"Kai, wait!" Seru Sehun panik sembari membawa alat tulisnya yang sempat berserakan di meja kafetaria secara terburu-buru, seperti tidak ingin ditinggalkan oleh Kai. Sehun meninggalkan makanannya yang belum disentuh sama sekali, serta meninggalkan teman-temannya yang kini terlihat sangat terkejut. Baekhyun, Chanyeol, dan Jongdae membuka mulut mereka lebar-lebar secara bersamaan tepat setelah Sehun berlalu untuk mengikuti Kai.

"Holy shit." Jongdae masih tidak dapat berkata apa-apa. Masih tidak mengerti kenapa Sehun tiba-tiba begitu lekat dengan Kai. Meski Jongdae tahu bahwa Sehun dan Kai itu kini sudah dapat berkomunikasi dengan baik, tapi ia tidak mengira bahwa hubungan mereka akan jadi seperti ini.

"You saw that?!" Chanyeol berteriak histeris, ia memukul bahu Yixing bertubi-tubi. "Sehun benar-benar clingy dan ini hal yang baru!"

"Bahkan ketika ia bersama Jongin, ia tidak pernah manja seperti itu padanya ..." Baekhyun bergumam dengan tatapan memicing. Masih tidak terbiasa dengan sikap Sehun yang aneh, yang terlalu bahagia secara tiba-tiba. "Sihir apa yang digunakan Kai?"

.

Love? Maybe.

.

"Kai, apa kau sudah bertemu Kim Kai?" tanya Sehun sambil mencoba mengikuti kecepatan berjalannya dengan Kai. Tanpa sadar, mereka sedang berjalan menuju pintu keluar ke taman. "Hey, apa Shixun itu ada hubungannya dengan Kim Kai? Apa mereka ada hubungannya denganmu? Lalu apa hubungannya denganku? Apa yang mereka—"

Bibir mungil Sehun segera Kai bekap menggunakan tangannya. Kai merangkul tubuh Sehun agar mereka dapat berdekatan, sehingga Kai pun membisikkan, "Kau ..." sangat pelan, namun kemudian ia berteriak tepat di telinga Sehun sekeras mungkin, "dasar cerewet!"

"Hmmhmpph!" Sehun berusaha berbicara sembari menggeliat untuk melepaskan dirinya dari rangkulan Kai, Sehun kemudian menggigit jemari Kai yang menghalangi mulutnya.

"Uh, menjijikan!" Kai mengusapkan telapak tangannya yang basah karena air liur pada pakaian yang Sehun kenakan.

"Itu yang kaudapat dariku kalau kau tidak menjawab pertanyaanku."

"Kau sudah menanyakan hal yang sama dari tadi pagi, dan jawabannya tetap sama; aku tidak akan memberitahumu dulu."

"Kenapa?!"

"Karena ...," Kai kemudian berdecak kesal ketika ia baru menyadari bahwa mereka berdiri di tengah-tengah koridor dan menghalangi sebagian jalan keluar. "Lupakan saja mengenai semuanya, 'kay? Jalani hidupmu dengan tenang."

"Bagaimana aku bisa tenang kalau Kim Kai terus menunjukkan sihir-sihirnya atau ilmu hitamnya atau entah-apa-itu padaku?!"

Kai tahu bahwa Sehun saat ini sedang serius dan separuh merasa kesal padanya, karena kedua pipi halus Sehun itu kini mulai memerah. Nada bicara Sehun yang terdengar frustasi sebenarnya terdengar menggemaskan, dan Kai seharusnya tidak memikirkan hal ini, tapi ia tidak dapat menghentikan dirinya. Sehingga Kai tiba-tiba bertanya pada Sehun, "Apa kau menyukaiku?"

Tidak menjawab langsung, Sehun terlihat terkejut setelah ditanyai seperti itu. Ia diam dahulu untuk mencerna sekali lagi apa yang baru saja Kai tanyakan padanya. "What...?"

"Apa kau menyukaiku?" Kai kembali menanyakan hal yang sama, ia terdengar sangat lantang. Pertanyaan yang aneh itu diucapkan olehnya seolah bukan apa-apa. Kai malah terdengar panik juga ketakutan, ia sedikit mendesak Sehun untuk menjawab pertanyaannya.

Kedua mata Kai sempat dipertemukan dengan pemandangan seekor kucing yang sedang mengarah pada mereka. Kucing itu tersenyum lebar.

Tapi kucing tidak bisa tersenyum, bukan?

Tidak terlalu ingin menghiraukan keagungan Kim Kai, Kai pun kembali memberikan fokus pada Sehun.

Merasa ditatapi dalam-dalam oleh Kai membuat Sehun tidak berani melihat wajah Kai, maka ia pun mengalihkan pandangannya ke jendela, kemudian bergumam, "No, I don't like you."

Ada jeda pada detak jantung Sehun. Ia berbohong.

"Good," Kai terdengar begitu lega, Sehun berusaha untuk tidak kecewa. "Sehun, kalau aku boleh jujur dan menyakitimu, aku sebenarnya selalu berharap agar kau terus ..." Kai menarik napasnya dalam-dalam, seolah berat untuk melanjutkan kalimatnya, "terus teringat akan Jongin. I hope you'll always be hurt."

.

He wants me to be always hurt

.

Sesungguhnya Sehun sudah pernah beberapa kali disumpah serapahi oleh orang-orang yang biasanya iri padanya karena memiliki banyak penggemar, dan Sehun adalah Sehun, biasanya pula ia tidak akan terlalu memusingkan orang-orang beserta sumpah serapah mereka.

Tetapi kali ini Kai. Salah satu manusia favoritnya setelah anggota keluarganya dan Jongin.

Semua ini membuat Sehun berpikir, apakah Kai bahkan ingin menjadi temannya. Lalu kenapa Kai mendekatinya pada awal waktu di mana mereka hanya sepasang orang yang saling tidak mengenal? Sehun tidak mengerti. Banyak pertanyaan di pikirannya mengenai kehidupan yang hampir membuatnya gila—dan biasanya Kai akan datang padanya untuk membuatnya tetap merasa waras.

Namun kali ini berbeda. Setelah insiden Shixun yang berbicara pada Sehun melalui bayangan di cermin itu, meski Kai akan bertingkah biasa pada Sehun di hadapan teman-temannya, Kai seperti mulai menjauh dari Sehun. Seperti tidak ingin melakukan interaksi apa pun lagi. Seperti tidak ingin memiliki kisah hidup bersama Sehun.

"So, what if I liked you?" Sehun berbicara cukup keras agar dapat didengar oleh Kai yang sudah berjalan jauh darinya. Punggung itu semakin menjauh. Kai tidak memberikan respon apa pun pada pertanyaan yang ditujukan padanya.

Pemandangan figur Kai menghilang dari balik pintu keluar itu tergantikan oleh kehadiran seekor kucing yang tersenyum pada Sehun, kucingnya melayang melewati orang-orang. Sepertinya selain Sehun, tidak ada lagi yang menyadari kehadiran sang kucing karena orang-orang tetap bertingkah biasa dan tidak ketakutan melihat seekor kucing bisa tersenyum yang melayang.

Sehun ingat kucing yang dapat tersenyum pernah disebutkan di buku cerita berjudul 'Alice in the Wonderland'. Kucing tersebut persis seperti apa yang pernah diimajinasikan Sehun ketika membaca ceritanya.

Meski mengerikan membayangkan kucing dapat tersenyum dan terbang, namun Sehun tidak merasa takut bahkan setelah kucing tersebut menghampirinya lalu memberikan sepucuk surat. Kertas yang digunakan sama seperti kertas-kertas daur ulang berisi surat misterius yang sebelumnya pernah ia terima.

Isi surat misterius yang baru itu bertuliskan,

Shixun, my love, bayangkan bila Sehun dan Kai adalah aku.

Apa kau kini mengerti?

.

Sehun hanya berdiri di sana, di koridor yang sama, sembari menggenggam sepucuk surat yang baru diterimanya. Air mata mengalir ke pipinya. Hidupnya terasa dipermainkan, ia merasa dikhianati. Ia terlahir seperti hanya untuk dipermainkan.

Sehun kemudian tertawa sarkastis pada dirinya sendiri dengan bulir air mata yang terus mengalir ke wajah.

.

Dan hidup Sehun berjalan begitu seterusnya. Dipermainkan oleh seseorang yang tidak diketahuinya, terbayang oleh hal-hal aneh yang tidak dimengerti. Namun Sehun berusaha untuk tidak memikirkan semua itu dengan menyibukkan dirinya pada pendidikan. Sehun jadi lebih rajin untuk menghadiri kelas-kelasnya, ia bahkan tidak lagi menolak bila ada yang mengajaknya untuk pergi menonton bioskop, berbelanja, atau sekadar makan di luar.

Namun rasanya aneh tanpa Kai. Kai menghindari Sehun begitu saja, ia juga menghindari pertanyaan-pertanyaan mengenai Kim Kai dan sejenisnya. Mereka kini jarang berkomunikasi melalui ponsel, saling bertatap muka pun rasanya tidak lagi pernah. Kai hanya akan berbicara pada Sehun itu pun bila mengenai pelajaran.

Setelah Sehun bercerita mengenai percakapannya dengan Shixun secara rinci, Kai seperti enggan untuk bertemu dengan Sehun. Meski kini Kai selalu menghindari Sehun, namun sering kali Sehun mendapati Kai sedang menatapnya. Ketika pandangan mereka bertemu, Kai hanya akan memalingkan wajahnya dan bertingkah seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa.

Hilangnya Kai dalam kehidupan Sehun, membuat Sehun merasa ia mulai rindu akan kehadiran Kai yang dapat menghiburnya, mengajarinya banyak hal, membicarakan hal-hal aneh. Seperti mengenai Kim Kai. Bahkan sebenarnya bila tidak mengenai Kim Kai pun tidak apa, asalkan Sehun masih dapat berinteraksi dengan Kai.

Sehun mulai memiliki pikiran, apakah Kim Kai yang memerintahkan Kai untuk tidak berhubungan lagi dengan Sehun? Atau Kai sendiri yang memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Sehun?

"Ugh, apa hubungannya semua ini denganku?!" Sehun tanpa sadar menyuarakan pertanyaan besar di pikirannya. Ia memijati pelipisnya. Sebuah pena masih terimpit di antara jemarinya, tugas yang sedang diselesaikannya jadi diabaikan. "Lagi pula aku benar-benar tidak menyukai Kai, bukan ...?"

Ketika kemudian teringat akan memorinya bersama Kai, jantung Sehun berdegup kencang, pipinya merona. Sehun kemudian merengek kesal, ia menendang-nendang kakinya tidak keruan. "Ah, screw it! Aku menyukainya!" Sehun kemudian bersandar di kursi yang didudukinya dengan nyaman, ia menengadah, menatap langit-langit kamarnya. "Memangnya kenapa kalau menyukaimu? Apa begitu buruk bila aku menyukaimu?" kata Sehun tanpa sadar berbicara pada diri sendiri, ia menatap langit kamarnya kesal. "Apa Kim Kai tidak memperbolehkan aku untuk menyukaimu? Begitu?"

Sebuah helaan napas yang berat keluar dari mulut Sehun. Ia kemudian memukul keningnya berkali-kali sambil mengumpat karena ia merasa seperti sudah benar-benar mendekati gila. Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri. Karena tidak ada yang dapat disalahkan, Sehun pun menyalahkan Kai yang mulai menghilang dari hidupnya. Karenamu aku jadi berbicara pada diri sendiri!

Oh, sepertinya Sehun benar-benar mulai merindukan Kai dan kekonyolannya ketika menggoda Sehun.

Sehun kemudian mendudukkan tubuhnya tegak. Ia buang jauh-jauh pikiran mengenai Kai dan mulai kembali mengerjakan tugasnya yang sempat terabaikan. Sesungguhnya tugas ini sangatlah sederhana, hanya membuat esai mengenai perasaannya akan kehidupan di dunia ini dengan rinci. Filsafat memang mata kuliah yang paling aneh menurutnya.

Sehun sudah menulis sekitar tiga paragraf. Setelah dipikir kembali, ia merasa bahwa esainya mulai seperti sebuah diary. Namun ia tidak ingin menulis ulang tugasnya dan tetap lanjut menulis sampai pada kalimat,

... hidupku semakin aneh dengan adanya Kim Kai dan Kai. Aneh, bukan? Nama mereka serupa tetapi Kai berkata padaku bahwa dia berbeda dari Kim Kai. Jadi aku mulai berpikir kalau Kim Kai itu mungkin ketua dari aliran yang dianut Kai? Entahlah. Kai bisa saja seorang pengikut ilmu hitam yang ingin mengajakku untuk bergabung dengan mereka. Tetapi sejak kehadiran Kim Kai dan Kai, dunia jadi terasa berbeda. Kesannya hidupku ini seperti fiksi fiksi fiksi fiksi fiksi fiksi fiksi fik—

Sehun secara refleks melempar jauh pena dari genggamannya dengan tangan gemetar karena terkejut ketika mendengar nada dering dari ponselnya yang kini tersimpan tak jauh dari kertas esainya. Ia segera mengambil ponselnya tersebut, nama Junmyeon tertera di layar. Sehun tanpa basa-basi mengangkat panggilan tersebut, "Junmyeon-hyung?"

"K-kau harus cepat kemari!" Junmyeon terdengar panik, banyak bising jalan raya dan sirene yang terdengar dari kejauhan.

"Uh?" Sehun menjauhkan ponselnya dari telinga untuk sesaat, merasa kebingungan. Mungkin Junmyeon salah memanggil orang. "Hyung ..., kemari ke mana maksudmu? Kau tidak apa-apa?"

"Sehun, aku—aku t-tidak tahu nomor orang tua Kai. Apa kau tahu rumahnya di mana? Apa dia memiliki s-saudara?" Nama Kai disebutnya.

"What?" Sehun pun jadi ikut panik mendengar Junmyeon kepanikan seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sehun sadar bahwa rasanya Kai tidak pernah menceritakan kehidupannya pada Sehun, atau bahkan pada siapa pun. Karena dari seluruh pertanyaan yang Junmyeon lontarkan padanya mengenai Kai, Sehun tidak mengetahui jawabannya satu pun. Jadi Sehun pun malah bertanya balik pada Junmyeon, "Hyung, apa yang terjadi?"

"Oh, God, Sehun! Ada darah di mana-mana, aku—aku tidak—ugh, aku tidak tahu harus melakukan apa."

"Hyung!"

"Kai mencoba membunuh dirinya sendiri!"

.

Rasa takut, terpukul, cemas, sedih, semuanya bercampur aduk. Sehun sepertinya mengalami déjà vu, perasaan ini pernah dialami sebelumnya. Ketakutan akan kehilangan seseorang ini sama seperti ketika Sehun merasa begitu takut kehilangan Jongin, yang kemudian ketakutan tersebut menjadi sebuah kenyataan. Dan Sehun menangis hebat karena ia tidak ingin ketakutannya kali ini menjadi kenyataan.

Tangannya yang bergetar mencoba membuka knop pintu ruangan rumah sakit di mana Kai mungkin kini sedang terbaring lemah, melawan kematiannya. Setelah dua hari berlalu, orang-orang akhirnya diizinkan untuk menjenguk Kai. Hingga saat ini pihak keluarga Kai masih tidak diketahui, maka dari itu teman-temannya pun bergantian menjaganya. Dan hari ini adalah giliran Sehun. Hari yang ditunggu-tunggu, akhirnya mereka bertemu lagi.

Masih dengan ketakutan, Sehun pun akhirnya membuka pintu ruangan itu, memperlihatkan Kai yang sedang tertidur di sana dengan beberapa peralatan medis melekat pada tubuhnya. Kai terlihat benar-benar menyedihkan. Padahal tidak banyak luka yang dimilikinya, it was a car crash, namun rona wajah Kai terlihat sangat berbeda. Bibir pucat kesinya serta cekungan pada kantung mata. Kai terlihat lelah, bagai sedang melawan maut yang kapan saja dapat datang padanya.

Sehun tidak ingin kehilangan Kai. Sehun memohon untuk jangan renggut Kai dari hidupnya.

Pandangan Sehun teralihkan pada sebuah keranjang berisi buah-buahan yang terlihat masih segar. Di sana ada sebuah catatan kecil yang melekat pada keranjangnya, bertuliskan,

Shixun, andai kau mengkhawatirkanku ketika aku sakit seperti sekarang. Cuacanya benar-benar buruk akhir-akhir ini, aku sudah jatuh sakit berkali-kali. Maukah kau menjengukku?

- Kim Kai

Sehun mengambil catatan tersebut, meremasnya, kemudian membuangnya ke lantai begitu saja. Bahkan dalam keadaan seperti ini, Kim Kai masih saja muncul seenaknya di kehidupan Sehun. Setelah itu, Sehun kembali mengalihkan perhatiannya pada ranjang di sampingnya lalu pada Kai yang sangat membuat Sehun terkejut karena kini Kai terjaga dan sedang menatapnya.

"K-kai," Sehun mengelus dadanya, jantungnya agak terpacu karena terkejut mendapati Kai yang tiba-tiba sudah sadarkan diri. "you're awake."

Iris Kai yang seingat Sehun adalah coklat mahogani kini malah terlihat seperti abu, tatapannya pada Sehun begitu penuh kasih sayang. Tangan Kai yang terhubung dengan selang infus berusaha susah payah untuk menggenggam tangan Sehun di dekatnya.

Kai tiba-tiba saja berkata, "Shixun, kembali padaku, hm? Maaf telah meninggalkanmu, kumohon ... jangan pergi bersamanya."

"K-kai ...?"

Tanpa menghiraukan keheranan Sehun, Kai terus melanjutkan ucapannya dengan gaya bicara yang berbeda. Seperti bukan Kai. "I love you, I love you so much."

"Kai!"

Kai sempat memejam matanya beberapa saat untuk kemudian terbuka kembali, dan iris coklat mahogani milik Kai pun menyambut pengelihatan Sehun. Kai mengeratkan genggaman tangannya pada Sehun, ketakutan terpancar jelas pada tatapan Kai. "Sehun, maafkan aku, aku mencoba menghindari Kim Kai tapi—kau masih menjadi hadiah untuk Shixun, jangan dengarkan Kai. He's a liar, a betrayer!"

"Menjauh dariku dan Kai!" Sehun berteriak begitu murka, ia menangis kembali. Merasa gusar karena figur Kai di hadapannya memberi impresi yang berbeda. Sehun tahu kali ini ia bukan sedang berhadapan dengan Kai, melainkan Kim Kai yang selalu disebut-sebut oleh Kai.

Sang Kim Kai.

"Be nicer to me, will you? I'm The God here."

"Stop this! Quit playing with my life!"

"Semua orang telah membohongimu, Sehun," kata Kai dengan nada bicara yang pelan, senyum tenangnya terlihat mengerikan. "Jongin, Baekhyun, Yixing, bahkan kakak dan orang tuamu, lalu Kai, semuanya telah membohongimu." Semua benda di sekitar mereka bergetar, namun tanah yang mereka pijak baik-baik saja, ini bukan fenomena alam seperti gempa bumi atau sejenisnya. Sehun juga mulai merasa ketakutan.

Sehun masih tidak berkata apa-apa, meski ia sangat tidak menyukai Kim Kai, namun ada perasaan di mana ia benar-benar takut pada-Nya. Jadi Sehun membiarkan Kim Kai untuk melanjutkan ucapannya, "Kai kubuat untuk muncul di kehidupanmu. Sudah kurencanakan untuk Kai serupa dengan Jongin agar kau dapat merasa tersakiti—semakin teringat dengan masa lalu, kemudian kau seharusnya melupakan Jongin dan jatuh hati pada Kai. Setelah kalian saling begitu menyayangi, aku dapat melenyapkan Kai. Melenyapkan orang terkasihmu, lagi. Agar aku bisa menggambarkan rasa sakitku ketika kehilangan Shixun, menggambarkan rinduku pada Shixun, seperti ketika kau merindukan Jongin saat ia meninggalkanmu."

Kim Kai dalam raga Kai itu berhenti sejenak, ia menatap Sehun baik-baik, menghipnotisnya agar mereka terus bertatapan. "Perasaan kita sama, Sehun. Aku merasa seperti ditinggal mati oleh seorang kekasih karena Shixun tak pernah kembali padaku."

Sehun tidak berkata apa-apa, ia menggigit bibirnya keras-keras. Tiba-tiba merasa ketakutan dan gugup. Sehun melihat ke sekelilingnya, merasa disudutkan. Ruangan itu jadi terlihat sempit di matanya.

"Aku harap setelah Shixun sampai pada bagian cerita ini, ia dapat memahami rasa kehilanganku melalui kisah yang kubuat mengenai dirmu yang kehilangan Jongin dan Kai." Iris abu itu tidak berpindah arah, terus menatap wajah Sehun.

"Aku ... hanya," kalimat tersebut keluar dari mulutnya tanpa bersuara, "ini tidak mungkin."

"Maaf karena kau harus mengetahui ini, Sehun. Akhir kisah ini sudah kurencanakan, Kai akan menghilang darimu."

"Tapi ..., kenapa ...?" Sehun berbisik, "kami bahkan belum saling membuat memori mengenai bagaimana kami saling jatuh cinta, mengenai romanku dan Kai, kami belum memiliki kisah saling menyayangi yang panjang."

"Karena itu adalah poinnya, Sehun. Shixun hanya perlu mengetahui bagaimana tersiksanya aku selama ini kehilangannya meski kisah kasih kami tidak begitu panjang, cerita ini akan berakhir di sini."

"No."

Getaran dari benda-benda di sekitarnya semakin membesar, tiba-tiba saja ada seorang peri yang mengelilingi mereka untuk menyerbakan serbuk-serbuk berkilauan. Sehun melirik sekilas peri itu sebelum kemudian pergi melalui jendela yang terbuka. Sehun mengenal wujud peri tersebut, peri yang dikenalnya dari sebuah cerita, nama perinya Tinker Bell, bukan?

Oh. Kini Sehun berada di dunia yang sama dengan para tokoh dari kisah fiktif.

"Setelah Kai pergi dari kehidupanmu, aku akan mengakhiri kisah ini dengan akhir yang menyedihkan."

"No!"

"Satu," genggaman tangan Kai mulai melemas, namun wajah itu, wujud Kim Kai itu masih tersenyum pada Sehun, "Dua,"

"Kau tidak nyata! Ini semua hanya mimpi!"

"Kalian memang tidak nyata. Semua yang kaubicarakan, aku yang mengatur, semua yang kaupikirkan, memorimu mengenai masa lalu hanyalah tumpukan kalimat yang kutulis. Memori indahmu mengenai Jongin dan Kai tidak pernah ada, kau tidak pernah ada sebelumnya, Sehun. Aku membuat seolah semuanya ada. Aku Tuhanmu di dunia ini."

Sehun mulai melangkah mundur untuk menjauh, seluruh barang di sekitarnya masih bergetar, menunjukkan bagaimana Kim Kai dapat berkuasa di dunia yang diciptakannya—di dunia yang ditulis olehnya. Tubuh Sehun bergetar, ia tidak suka semua hal ini. Tangisan Sehun yang kencang dapat terdengar menggema di ruangan itu.

Aku nyata, aku adalah hal yang nyata, isi hatiku tidak dapat dibaca oleh orang lain, kehidupanku bukan sekadar tumpukan kalimat murahan. Mohon yakinkan aku bahwa tidak ada yang dapat mengetahui kata hatiku ini!

"Sehun, maafkan aku," iris abu menghilang, tergantikan oleh hitam pekat, gaya bicaranya pun berubah. Kim Jongin. "Aku tidak pernah ada di kehidupanmu."

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak ingin menerima kenyataan. Tidak ingin mempercayai Sang Kim Kai, pengarang dari kisah hidupnya.

"You can't do this to me." Sehun berbicara dengan bibir yang bergetar, ia merasa ketakutan dan sangat terpukul. Sehun sebenarnya berusaha untuk tidak menangis dan bereaksi karena ia berpikir bahwa bila apa yang dikatakan Kim Kai benar, maka semua hal mengenai apa yang dirasakannya atau apa pun yang terjadi padanya hanyalah sebuah tulisan. Bukan kehidupan nyata.

"Sehun," warna iris itu kembali menjadi coklat mahogani, kedua kelopat matanya terlihat berat, meminta untuk ditutup dan mengakhiri usia. Mengakhiri kisah ini. "Maafkan aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku ... jatuh hati padamu," Kai berucap susah payah, ia terdengar lelah, "aku ingin ... ingin membuat kisah kasih yang panjang denganmu. Aku menayangimu, maaf, sesungguhnya ... k-kita ini hanyalah tokoh fiktif. Kita tidak nyata ..., tidak pernah ada." Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan bergumam, "Aku menyayangimu, aku menyayangimu, aku ingin hidup denganmu—" Kai membuat sebuah senyum pedih sebelum benar-benar memejam matanya dan membisikkan,

"The end."

.

.

.

"You look great."

Shixun hanya tersenyum kecil mendengar komentar itu, ia masih menatapi bayangan penampilan dirinya sekarang di cermin. Pakaiannya terlihat sangat mewah, ia merasa terlalu merasa seperti seorang bangsawan. "Aku harap ini yang terbaik."

"Oh, ayolah," Kris memainkan tatanan rambut Shixun, tertawa jahil. Mengganggu adiknya memang menyenangkan. "kau terdengar begitu yakin kemarin."

Dentingan piano menggema, menembus dinding-dinding tebal, masuk ke dalam ruangan di mana Shixun kini berada. Aroma bunga-bunga segar yang tersebar di mana-mana membuat Shixun merasa mual, dekor yang dibuat oleh orang tuanya untuk pesta pernikahan ini seolah mengingatkan Shixun bahwa ia mungkin bisa saja menyesali keputusannya.

Keputusannya untuk merelakan Kim Kai pergi darinya dan mencoba berpindah hati pada orang lain.

Kim Kai dengan nama asli Kim Jongin, atau yang biasa Shixun sebut saja dengan Kai itu memutuskan Shixun dengan alasan bodoh. "Aku tidak ingin menghancurkan kehidupanmu, Shixun. Kita lebih baik tidak bersama." Kata Kim Kai.

Kim Kai adalah sebuah nama pena untuk seorang penulis ternama, ia terkenal akan karya romannya yang klise namun tetap memiliki penggambaran yang unik. Orang-orang menyukai seluruh karyanya.

Meski Kim Kai memiliki banyak orang yang menyukainya, namun tetap saja ia tergolong sebagai orang biasa karena Shixun memilikit tempat yang berada jauh tinggi dari Kai. Shixun sangat disukai oleh orang-orang serta dihormati di negaranya, ia adalah salah satu anggota keluarga dari pemerintahan kerajaan di negaranya. Seorang bangsawan.

Ditarik garis kesimpulannya, dua orang yang berbeda ini awalnya bertemu di sebuah festival tahunan, kemudian tertarik pada satu sama lain sehingga frekuensi pertemuan mereka semakin sering, lalu saling jatuh cinta.

Mereka menjalin kasih, tidak cukup lama, namun cukup lama untuk mereka begitu saling dimabuk asmara bahkan hingga mereka lupa akan status sosial yang dimiliki masing-masing.

Di dunia mereka, status sosial adalah salah satu hal yang harus dijaga baik-baik.

Mereka terlalu berbeda. Berdarah biru haruslah dipasangkan dengan yang berdarah biru, sehingga Shixun tidak bisa menjadi pasangan Kai. Dan Kai yang lebih dahulu menyadari situasi ini, memilih untuk menyerah, meninggalkan Shixun agar Shixun dapat hidup dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan status sosial dan kehidupannya.

Tentu saja Shixun merasa terkhianati dan disakiti karena selama ini ia sudah berusaha untuk memperjuangkan hubungan mereka tanpa memedulikan apa pun, dan hubungan mereka baik-baik saja selama tidak ada yang tahu.

Mungkin memang benar, Shixun tidak harus lagi khawatir akan ketahuan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak sebanding dengannya, ia bisa hidup tenang tanpa harus merasa cemas. Tapi Shixun begitu menyukai Kai, pria romantis nan sederhana yang sangat baik padanya. Jadi Shixun sangat merasa kecewa ketika Kai memutuskan hubungan mereka dengan alasan untuk kebaikan masing-masing.

Sedangkan dalam pandangan Kai, rupanya setelah dipikir kembali, ia merasa keputusan yang diambilnya itu justru sebuah kesalahan besar. Kai yang meninggalkan Shixun, Kai pula yang merasa bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Shixun. Maka dari itu, Kai pun mencoba kembali untuk merajut kasih dengan Shixun meski sulit. Shixun sudah terlanjur tersakiti ditinggalkan oleh Kai yang pernah menyerah dengan hubungan mereka.

Penolakan Shixun pada Kai sesungguhnya sungguhlah munafik. Shixun tidak benar-benar ingin menolak Kai, ia hanya masih merasa terkhianati oleh Kai dan mencoba untuk menghukum pria yang menjadi mantan kekasihnya itu.

Shixun juga sebenarnya masih menginginkan Kai, masih ingin kembali bersama dengan Kai tanpa harus memedulikan status sosial dan kehidupannya.

"Kai has been sick, you know."

"Jam berapa keluarga Park akan sampai?"

"Aku kemarin menemuinya Kai,"

"Apa Chanlie akan bermalam di sini?"

"Shixun," Kris menarik bahu sang adik agar mereka dapat saling berhadapan, ia kemudian menyodorkan sesuatu pada Shixun. Benda itu menyentuh kain pakaian yang dikenakannya. Pakaian yang menurut Shixun seperti kostum badut di zaman sekarang. "Kai memberikan ini untukmu, sebagai hadiah ulang tahun."

Shixun menatap benda yang dikatakan sebagai hadiah itu untuk beberapa saat, mengetahui Kai masih peduli padanya membuat hatinya bergetar.

Sebagai Shixun yang sangat munafik, ia pun menyodorkan kembali hadiah ulang tahun dari Kai kepada Kris untuk menolak. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada sebuah cermin besar di sana. "Katakan padanya untuk tidak mengurusiku lagi dan terus saja menulis roman picisan."

"Shixun, setidaknya kau bisa menjadikan Kai teman, hm?" Teman. Rasanya sulit untuk menganggap Kai hanya sebagai seorang teman baik. Karena perasaan Shixun untuk Kai lebih dari sekadar teman baik. Shixun begitu mengasihinya, bahkan mendengar Kai jatuh sakit, sesungguhnya membuat Shixun merasa cemas dalam hati.

Shixun diam untuk waktu yang cukup lama, berpura-pura untuk berpikir haruskah ia menerima hadiah itu atau tidak meski ia tahu bahwa pada akhirnya akan berkata, "Okay," dan menerima hadiah itu, membawanya ke genggamannya, "thanks, Kris."

"Jangan berterima kasih padaku, tapi padanya." Kris tersenyum pada Shixun sebelum kemudian meninggalkan sang adik sendirian di ruangannya, pintu itu ditutup rapat tanpa terdengar dentuman.

Shixun menatap benda di genggamannya baik-baik. Sebuah buku dari kumpulan kertas daur ulang tanpa sampul khusus kini ada di pandangannya. Satu halaman paling pertama tertulis sebuah kalimat,

Pages of My Letters: Sehun mendapatkan surat dari kekasihnya yang telah tiada.

Masih merasa kebingungan dengan hadiah ulang tahun yang tidak biasa ini, Shixun membuka lagi halaman selanjutnya, ia dipertemukan dengan halaman berisi tulisan tangan yang dikenalinya milik Kai,


Pages of My Letters

Chapter 1

Sehun menghentikan kendaraannya di sebuah tepi jurang...


"Shixun, pestanya akan dimulai!"

Spontan Shixun menutup kembali halaman buku tanpa sampul tersebut, ia kemudian menatap buku tersebut untuk beberapa saat. Sudah biasa bagi Shixun untuk Kai yang membuat roman dalam bentuk buku, namun sebelumnya Kai tidak pernah membuat roman yang didedikasikan untuk Shixun. Ini hadiah ulang tahun yang baru baginya. Mungkin Shixun akan lanjut membacanya nanti, nampaknya cerita yang dibuat oleh Kim Kai cukup panjang.

Shixun pun meletakkan bukunya di atas ranjang, ia memeriksa tampilannya melalui bayangan di cermin sekali lagi.

This is the day, aku akan berpindah hati pada Park Chanlie dan meninggalkan Kim Kai.

Shixun menarik napas dalam-dalam untuk mencari ketenangan, jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar merasa gugup. Setelah itu, Shixun akhirnya merespon seruan kakaknya, "Yeah, coming!"

.

to be continued