Smile As White Paper © Soulless-Fariz
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Mystery, Tragedy, Romance
Rated : T+
Warning : AU, OOC, Typo(s), DLL. :P
"Love to faults is always blind, always is to joy inclined.
Lawless, winged, and unconfined, and breaks all chains from every mind."
William Shakespeare
Sore itu juga, setelah apa yang Hinata selidiki masih menemukan titik buntu, ia kembali lagi ke taman. Kali ini dia membawa buku yang berbeda dari apa yang ia bawa kemarin. Buku dengan sampul berwarna abu-abu, tidak terlalu besar, bahkan cukup standar untuk ukuran sebuah novel terkenal, novel itu buatan William Shakespeare yang berjudul Hamlet. Kisah tentang sebuah tragedi, sebuah kisah cinta dan sebuah balas dendam oleh seorang anak bernama Hamlet untuk ayahnya yang meninggal karena diracuni, banyak konflik yang terjadi di cerita sehingga membuat novel itu begitu terkenal hingga sekarang.
Hinata tidak begitu rapi saat akan pergi ke taman. Ia hanya membawa sebuah tas kecil berisi novel, dompet dan handphone. Ia berjalan keluar rumah, mengenakan sebuah kaos putih tipis yang ditutupi oleh blazer berwarna indigo, sama seperti warna matanya. Sebuah rok se-lutut berwarna indigo juga ia pakai untuk menutup kesan berantakan menjadi feminim.
Ia mengambil rute jalan seperti biasanya saat ke taman, tapi entah kenapa, ia merasakan ada 'sesuatu' yang mengikutinya hari itu, ia kira hari itu bukan hari yang tepat untuk keluar, terlebih lagi karena ia juga sendiri. Ia memang seperti itu. Mungkin untuk saat ini dan seterusnya ia harus lebih berhati-hati. Atau mungkin Hinata sekarang membutuhkan seorang bodyguard untuk menjaganya saat ia pergi? Mungkin jika pilihan itu adalah Naruto akan terasa cukup masuk akal, terlebih lagi dia adalah pacarnya, sebuah kebetulan yang tepat.
Jalanan sore itu memang terkesan lebih sepi dari kemarin, penghujung musim sudah terasa, panas tak lagi terik, tiupan angin juga sudah terasa lebih kencang daripada hari-hari sebelumnya, mungkin itulah tanda penghujung musim telat tiba. Walaupun terlihat samar-samar, Hinata bisa merasakan ada seseorang yang mengikutinya.
Hinata mempercepat laju langkahnya, sedikit menyeret karena intonasi yang dinaikan. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan juga menghiasi langkahnya sore itu. Hanya ada satu dua orang yang berpapasan dengannya. Tiupan angin juga menghempaskan surai rambutnya kesana kemari, akhir-akhir ini ia lupa tidak memakai sebuah jepit rambut. Atau memang ia sengaja tidak memakai jepit rambut agar terlihat berbeda dari biasanya? Siapa tahu apa yang ada dipikirannya.
Perasaan Hinata kini semakin tidak enak. Fakta bahwa ia merasa diikuti sudah terbukti, ketika ia menoleh ia bisa melihat jelas seseorang yang mengikutinya, menggunakan sebuah jas hitam seperti yang ada di kebanyakan film-film aksi yang ia tonton. Oh memang benar, selera Hinata sudah berubah sejak dua tahun lalu, berasamaan dengan sifatnya yang juga berubah, ia lebih memilih menonton film yang terkait dengan pembunuhan. Begitu juga dengan hobi membaca novel.
Kini ia sudah semakin dekat dengan taman, hanya tinggal beberapa ratus meter lagi. Hinata terus melangkah, langkah kakinya semakin dipercepat dari waktu ke waktu. Suara langkah kakinya sendiri bisa ia dengar dengan sangat jelas, namun memudar seiring terdengarnya suara-suara mesin mobil yang berada di jalan. Ia bisa sedikit tenang sekarang.
Setelah berada di jalan terbuka, ia bisa lebih tenang lagi, kini seseorang yang mengikutinya tadi sudah tidak terlihat seperti tadi. Ia melewati toko-toko dan perumahan yang semakin memadat seiring jalannya menuju taman. Oh, rupanya hanya jalan yang ia lewati saja yang terasa berbeda, atau mungkin di sekitar sini ada sebuah pertunjukkan yang membuat para masyarakat berkumpul? Hinata tidak tahu juga, ia hanya dapat menebak-nebak saat ini.
Dan dua menit lain berlalu, hingga ia sekarang berada di seberang jalan taman, yang perlu Hinata lakukan sekarang hanyalah menyebrang dan membaca novelnya disana. Traffic Light yang semula berwarna merah yang sempat menghentikan langkah Hinata kini sudah berubah warna menjadi hijau, ia dengan hati yang cukup tenang melangkah berjalan menyebrang.
Kini gerbang taman yang tampak berwarna hitam ia lihat di depannya dengan jelas, memasukinya lalu berjalan ke arah sebuah kursi taman yang biasa ia tempati, tempat yang sama setiap ia datang kemari, tempat dimana ia bisa merasa nyaman untuk beberapa saat.
Ia duduk dan terdiam sebentar, mungkin berpikir. Apakah dugaannya selama ini memang benar? Batinnya bergulat tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kemudian, dia kembali membuka buku yang tadinya berada di tas kecil yang ia bawa, buku berwarna abu-abu berjudul Hamlet.
"It is not in the stars to hold our destiny but ourselves"
William Shakespeare
"Semoga beruntung, Naruto!" Sakura berteriak dan melambaikan tangannya sambil melihat mobil sport yang dikendarai Naruto menjauh dari depan rumahnya. Ya, saat itu juga Naruto memang berencana menemui Hinata setelah diberitahu oleh Sakura kalau Hinata ada di taman, bukan waktu yang cukup banyak untuk Naruto, namun ia bisa membuat waktu itu cukup baginya.
Jalan menuju taman tidak terlalu jauh dari rumah tempat Sakura tinggal, hanya sekitar sepuluh menit jika menggunakan kendaraan. Naruto sangat bersemangat kali ini.
Naruto bisa melihat daun-daun yang mulai berguguran di setiap sudut-sudut jalan, daun-daun itu mulai menguning seperti kanvas yang diberi warna oleh seorang pelukis, warnanya benar-benar warna musim gugur. Dan tentu, jalanan kini mulai kotor karena daun-daun yang berguguran itu.
Ia parkir mobilnya di tempat ia biasa memarkirkan mobilnya, tepat di parkiran taman yang terletak di belakang. Keluar dari mobil. Banyak orang yang mengalihkan pandang kepadanya, entah mengapa. Ia berjalan, mencari-cari sesosok makhluk indah yang akan dia temui saat itu.
Tak begitu lama mencari, ia menemukan sosok itu dari kejauhan, seperti biasa, ia sedang membaca buku, namun buku yang ia baca kini berbeda dari buku yang ia baca kemarin saat ia kemari. Naruto berjalan pelan, ia ingin membuat kejutan untuk Hinata dengan kedatangannya itu. Mungkin Naruto merasa rindu? Itu sudah pasti.
Naruto menghampiri tempat dimana Hinata sedang duduk dari arah belakang, lima meter, dan terus mendekat secara perlahan. Hinata tidak menyadari bahwa ada seseorang di belakangnya, mungkin karena dia terlalu fokus membaca bukunya, mungkin?
"Sedang membaca buku, nona cantik?" suara yang Hinata kenal –walaupun masih ia kenal sebentar. Hinata tidak menjawab.
Naruto kemudian duduk di kursi sebelah Hinata duduk. Hening untuk beberapa saat, Hinata masih tidak beranjak dari aktivitas membaca bukunya, sedangkan Naruto hanya duduk diam disana, mungkin sedang merangkai kata-kata untuk Hinata, jarang sekali untuk seorang Naruto kalau dia kebingungan untuk urusan tentang 'perempuan'.
"Kamu masih cuek seperti kemarin." Naruto angkat bicara, kini Hinata menghentikan sebentar kegiatan membacanya.
"Sakura sudah menceritakannya, 'kan?" Hinata memang benar-benar to the point kalau berbicara, dia jarang berbasa-basi, cocok untuk sifatnya yang cuek itu.
Naruto mengubah ekspresi wajahnya dan menoleh ke arah Hinata, "Ya... Dia menceritakan setiap detail tentang dirimu padaku, yah, walaupun tidak semua."
"Begitu...," Hinata menggantung kalimatnya kemudian kembali membaca novel yang ia pegang, "Naruto."
"Hmm? Tidak biasanya kamu memanggil namaku." ekspresi wajah Naruto berubah lagi, kini ia bisa sedikit lega –Hinata mau memanggil namanya.
"Aku ingin kamu bersikap tenang..." sudut mata Hinata memang masih terlihat membaca, namun sebenarnya tidak terfokus dengan bacaannya tersebut, "...aku mau meminta bantuanmu."
"Eh?" Naruto bingung dengan apa yang Hinata barusan katakan.
"Aku sedang diikuti oleh seseorang, mungkin orang itu sedang memperhatikan kita dari kejauhan." ekspresi Hinata sangat tenang, walaupun sebenarnya dia sedang ketakutan.
"Si-siapa yang mengikutimu?" Naruto mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Sakura itu memang ada benarnya, cerita tentang Hinata menganggap bahwa kecelakaan itu bukan kecelakaan murni melainkan kecelakaan yang sudah direncanakan.
"Aku juga tidak tahu, tapi akan ku cari tahu nanti," Hinata membalik halaman buku yang ia baca, "Aku memintamu untuk membawaku ke rumahmu, sekarang juga."
"E-eh? Kenapa harus di rumahku? Aku 'kan baru pindah, jadi rumahku masih be-"
"-aku tidak peduli!" Hinata memotong penjelasan Naruto, nadanya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya, "Aku takut, Naruto."
"Baiklah kalau begitu." Naruto mengerti apa yang sedang Hinata rasakan, Naruto tidak tahu kalau ia harus percaya terhadap Hinata atau tidak, namun kali ini Naruto mempercayai Hinata, entah dengan alasan apa Naruto bisa percaya terhadap apa yang dikatakan Hinata.
"Bawa aku pergi dari sini."
"Ikuti petunjukku," Naruto berbisik di telinga Hinata, "Tutup bukumu, masukkan tas dan pegang tanganku dan kita pergi dari sini."
Hinata mengangguk pelan, ekspresi wajahnya sedikit lebih tenang daripada tadi, ia menutup bukunya, memasukkannya dalam tas kecil yang ia bawa, lalu Naruto memegang tangan kiri Hinata, mencium kilat pipi Hinata kemudian beranjak dari tempat ia duduk menuju tempat dimana Naruto memarkir mobilnya.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, Naruto mulai menyalakan mesin mobilnya, memacu mobilnya dengan cepat keluar dari taman menuju apartemen yang terletak di kaki gunung yang memang disitulah kawasan elit dibangun.
Saat perjalanan, Naruto hanya bisa memandang raut wajah Hinata yang nampak khawatir, tak sepatah kata pun terlontar dari kedua mulut itu, hanya terdengar suara mesin mobil yang Naruto kendarai.
"This is the very ecstasy of love."
Hamlet – William Shakespeare
Dua puluh menit waktu yang diperlukan Naruto untuk sampai ke apartemennya, itu pun karena dia sudah memacu kendaraannya dengan kecepatan yang bisa dikatakan cukup cepat, dan terlebih karena kondisi jalan yang bisa dikatakan sepi karena kebanyakan warga-warga Tokyo jika jam sore begini mungkin sebagian ada yang masih bekerja dan sebagian lagi sedang minum di kafe favorit mereka.
Mereka berdua turun dari mobil, berjalan menuju sebuah lift kosong yang berada di lobby , lalu menekan tombol untuk menuju dimana apartemen Naruto berada, di lantai enam.
Pintu berwarna putih itu di buka, hawa dingin karena AC yang ada di dalam ruangan itu keluar sedikit demi sedikit seiring dengan ambang pintu yang mulai terbuka, cahaya dari luar ruangan pun juga masuk dari sela-sela pintu.
Naruto menyalakan lampu di ruangan, dengan sekejap ruangan yang tadinya gelap kini sudah menjadi sangat terang, "Biar aku buatkan minuman dulu." kemudian ia beranjak ke arah dapur yang berada di ruangan berbeda, tepatnya di belakang.
Hinata mengedarkan pandang ke seluruh ruangan yang sedang ia pijak ini, nuansa desain Jepang tahun 60-an yang di kombinasi dengan desain Jepang modern bisa ia rasakan begitu pekat di ruangan itu. Ia bisa melihat kardus-kardus yang berserakan di setiap sudut ruangan itu belum di tata dalam apartemen ini, debu yang mulai terbentuk diatas kardus masih samar-samar terlihat.
Hinata berjalan menuju sebuah sofa besar yang disertai dengan meja transparan, ia duduk disitu, menaruh tas kecil yang daritadi ia bawa di meja transparan itu, sebuah televisi berukuran kira-kira 51 inci bisa ia lihat empat meter di depannya.
Lima menit kemudian, Naruto kembali dengan segelas susu coklat hangat dan segelas teh hijau. Tema yang Naruto buat memang terlihat lebih hangat, karena disini udaranya memang sudah mulai mendingin akibat pergantian musim.
Setelah menaruh susu coklat dan teh yang ia bawa, Naruto duduk tepat di sebelah Hinata.
"Minumlah agar kamu merasa tenang." ucap Naruto yang mengambil segelas teh berwarna hijau dari meja. Oh, teh hijau adalah minuman favorit Naruto disini, karena bisa membuatnya terlihat awet muda.
Hinata mengambil segelas susu coklat yang dibuatkan oleh Naruto dan meneguknya.
"Jadi?" Naruto terlihat meminta sebuah penjelasan dari ketakutan yang dibuat oleh Hinata di taman, meminta alasan yang jelas terhadap seseorang yang mengikuti Hinata.
"Tentang orang yang mengikutiku tadi..." Hinata menaruh gelas yang isinya tinggal separuh itu, menatap Naruto dengan wajah yang sedikit khawatir, "...dia mungkin adalah salah seorang suruhan dari keluarga Uchiha."
"Tapi untuk apa?"
"Keluarga Uchiha adalah bawahan di perusahaan ayahku, tapi aku mengetahui bahwa hubungan antara ayahku dan keluarga Uchiha itu tidak baik." jelas Hinata singkat.
"Tunggu-" Naruto mencoba mengolah kata-kata yang di ucapkan oleh Hinata, "-jadi, kamu mengatakan padaku, kalau keluarga Uchiha adalah otak di balik semua kecelakaan yang terjadi dua tahun lalu? Lalu karena mereka mengetahui bahwa kamu tidak ada dalam pesawat itu, mereka berniat untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai dari kecelakaan itu?" Bingo, tebakan Naruto memang masuk akal, namun itu terlalu mudah di tebak.
"Itu memang benar, kasus itu ditutup bahkan sebelum polisi menindak lanjuti, jadi aku curiga, kalau itu memang murni kecelakaan, pasti tidak ada yang akan ditutupi. Bahkan pihak kepolisian pun langsung men-judge kalau itu adalah kecelakaan, tanpa ada penyelidikan lebih lanjut." jelas Hinata panjang lebar.
"Itu terlalu mudah untuk di tebak."
"Awalnya memang ku pikir terlalu mudah, tapi itu semua adalah yang paling masuk akal. Terlebih..." Hinata menjelaskan lebih lanjut.
Sore itu berubah menjadi malam seiring Hinata menjelaskan semua yang ia ketahui untuk meyakinkan Naruto bahwa dugaannya selama ini memang benar. Jadi bisa dikatakan bahwa Hinata adalah seseorang yang mencari sebuah kebenaran di balik kebohongan nyata.
"Sudah lama semenjak aku berbicara panjang lebar seperti ini." ucap Hinata menutup cerita panjangnya terhadap Naruto yang sedari tadi menyimak dengan seksama.
"Well, itu bagus buatmu kalau kamu sudah mau membuka dirimu kepada orang lain."
"Kamu adalah orang kedua yang mau mempercayaiku, setelah Sakura tentunya."
"Kalau begini aku tidak menyesal saat aku pindah ke Tokyo." ucap Naruto lega, menyederkan bahunya di sofa empuknya itu. Senyum simpul bisa dilihat dari sudut bibirnya.
"Oh," Hinata sendiri entah mengapa ikut tersenyum, walau tidak begitu terlihat karena wajah datarnya itu, "Jadi, bisa kamu antar aku pulang?"
"Apa kamu tidak khawatir dengan orang yang mengikutimu tadi?" tanya Naruto meminta kepastian yang diikuti oleh anggukan kecil dari Hinata, "Kalau begitu tunggu di depan, aku akan ganti baju sebentar."
"Baiklah." kemudian Hinata beranjak setelah mengambil tas kecil yang berada di meja, begitu pun juga Naruto yang menuju ke sebuah ruangan yang mungkin itu adalah kamarnya.
Tak lama, Naruto kembali, membawa sebuah jaket yang cukup tebal.
"Pakailah ini, hari ini adalah pergantian musim, dan mungkin malam ini akan menjadi malam yang dingin." ucap Naruto yang memakaikan jaket yang ia bawa itu kepada Hinata, jaket berwarna orange itu terlihat cocok dipakai oleh Hinata.
"Te-terima kasih."
"Baiklah, ayo kita berangkat."
Mereka kembali ke lift, turun dari lantai enam dimana mereka berada menuju lantai dasar.
Selama perjalanan yang terkesan lebih lama daripada tadi itu, mereka berdua tidak banyak bicara, hanya Naruto yang berbicara sedangkan Hinata hanya terlihat mendengarkan apa yang dibicarakan Naruto, Hinata sepertinya menjadi cuek seperti sebelumnya, ia hanya melihat lampu-lampu di pinggir jalan melalui jendela kaca mobil.
Hingga mereka sampai, Hinata masih diam.
"Hinata." panggil Naruto, namun tak ada jawaban.
"Hinata." untuk kedua kalinya Naruto memanggil Hinata.
"Oh!" Hinata tersadar dari lamunannya, ia sedikit terkejut.
"Sudah sampai."
"Oh, aku tidak sadar."
"Mungkin kamu sedang tidak enak badan? Aku bisa menemanimu malam ini." tawar Naruto kepada Hinata, tawaran itu terdengar seperti sebuah tawaran lain bagi Hinata.
"Ti-tidak! Aku baik-baik saja." wajahnya merah, walaupun tidak bisa dilihat oleh Naruto karena cahaya yang gelap. Setelah itu ia langsung keluar dari mobil, menghampiri sisi lain mobil.
"Apa kamu tidak takut dengan rumahmu? Terlihat menakutkan." ucap Naruto dengan nada yang sedikit berat daripada tadi. Melihat Hinata yang seperti itu memang membuatnya khawatir, namun Hinata sendiri menolak tawaran Naruto tadi.
Hinata menggeleng dengan pertanyaan Naruto tadi.
"Ini sedikit aneh," ucap Naruto lagi, "Aku merasa mengenalmu sebelumnya." namun Hinata menggeleng pelan. Hinata mendekat kepada Naruto, menyentuh pipi sebelah kiri Naruto dengan tangan kanannya, dan mencium pipi kanan Naruto dengan cukup singkat, setelah itu ia beranjak memasuki rumahnya.
Hanya senyum kecil yang bisa dibuat oleh Naruto.
"Bolehkah lain kali aku mencium bibirmu lagi?" teriak Naruto yang tersadar dari lamunan sekejapnya dan melihat Hinata yang menjauh dari pandangannya.
Hinata membalikkan badannya, ia berjalan mundur, senyum indahnya bisa dilihat oleh Naruto walaupun dari jauh, "Aku akan memberitahumu lain kali!" balas Hinata yang lalu berlalu menuju rumahnya, memasukinya dan lalu benar-benar menghilang dari pandangan Naruto.
"Senyum terindah yang pernah aku lihat dari seorang gadis." Naruto tersenyum, menyalakan mobil lalu memacu mobilnya.
"For you and I are past our dancing days."
Romeo and Juliet - William Shakespeare
To Be Continued ~
A/N: Maaf kalau agak lama, sang author lagi galau karena beberapa kejadian yang menimpa author sehabis liburan kemarin u,u jadi author niatnya abis liburan mau nulis, tapi karena kepentok kejadian yang nggak seharusnya terjadi, author jadi gak ada semangat buat nulis, dan baru dapet semangat. maaf nih kok jadi curhat ya .-.
Balasan review:
tika: aha! mau ekstrim yang kea gimana nih? XD
Algojo: maap kalau agak kecewa di chap 3, seperti yg author bilang kalau lagi nggak dapet feel ny , mungkin di chapter ini jawaban dari chap sebelumnya XD
Ayzhar: kalau pertengkaran sakura sama hinata sih itu... rahasia! XD mungkin di chap ini Ayzhar-chan bisa memprediksi tentang gimana perjuangan naruto kepada hinata XD
Manguni: betul-betul, kan emang niat ny author bikin reader ny penasaran nebak sana-sini ,
bluerose: yosh! memang disini saya ceritakan full NaruHina XD
hanazonorin444: kalau soal sakura sih kelihatannya bakal saya bikin sedikit "complicated" hehe XD
saint samael: kalau soal ending saya gak bisa ngasih bocoran XD
yogiblueside: aha! panggilan apa aja boleh lah XD
Neko Unyuu: iya kok ini fict NaruHina XD kalau berani memelet author, kamu saya cium loh :*
Terminator: lanjut!
Hanamiru: iya emang benar ada kok itu :3
Akhir kata, jangan sungkan tinggalkan jejak, dan juga terima kasih kepada semua yang membaca dan meninggalkan jejak di fict ini :) Yosh! Happy reading!
