"aku akan menobati ibumu. Karena, kau tahu kan, aku seorang dokter." Ucap Midorima sembari tersenyum pada Takao.
"ta-tapi, Shin-chan...aku tidak punya uang.." ucapnya tidak enak pada Midorima. Midorima kembali tersenyum padanya sambil menggenggam tangannya.
"aku akan menanggung semuanya. Kali ini yang terpenting adalah keadaan ibumu, Takao. Jadi, ayo pergi." Ujarnya pada Takao.
"Kagami, kau ikut kan?" tanyanya pada Kagami. Kagami mengangguk menjawabnya.
"Okaa-chan, Shinka. Kalian ikut?" tanya Midorima pada Ibu dan adiknya.
"maaf, Shin. Okaa-chan dan Shinka sedang menunggu Ayahmu kesini. Jadi kami tidak bisa ikut. Mungkin setelah ayahmu pulang, kami akan menyusul kesana." Ujar ibunya.
"baiklah kalau begitu, ayo berangkat!" Midorima pamit pada Ibunya dan Shinka. Begitu juga dengan Takao dan Kagami. Ibu Midorima menitipkan salamnya pada Ibu Takao, dan berharap semoga Ibunya cepat sembuh. Takao mengangguk tersenyum, dan berterimakasih pada Ibu Midorima.
Mereka bertiga pun segera berangkat meninggalkan villa menuju rumah Takao di tengah hutan pinus.
Berjalan sejauh 700 meter tidak membuat mereka lelah. Midorima, Takao dan Kagami semakin mempercepat langkahnya saat memasuki hutan. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan rumah Takao. Kedatangan mereka di sambut dengan Tetsuya dan anjingnya yang sedang berada di luar rumah. Tetsuya langsung menghampiri Takao, Midorima dan Kagami.
"Tetsuya, dimana Okaa-chan?" tanya Takao panik.
"okaa-chan ada di dalam.." jawabnya pada Takao. Mereka berempat pun segera masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka melangkah melewati ruangan kecil dan akhirnya sampai di tempat dimana ibu Takao sedang terbaring lemah.
"Okaa-chan! Daijoubu?!" Takao yang panik langsung menghampiri ibunya lalu memeluknya.
"ara ara...daijoubu desu ne, Taka-chan.. Okaa-chan baik baik saja. Jangan menangis, kau kan sudah dewasa." Ucapnya lemah. Takao terisak di pelukannya yang sedang terbaring di atas ranjang kayu miliknya.
Ibu Takao menoleh pada dua orang yang datang bersama Takao. Ia merasa terkejut dengan kedatangan seseorang yang dikenalnya.
"are, Shintarou-kun, ya? Ohisasshiburi, bagaimana kabarnya?" tanyanya berusaha tersenyum di depan Midorima. Midorima menjawab bahwa ia baik baik saja. Ibu Takao kemudian menoleh pada Kagami.
"dan kau, temannya Taka-chan, ya?" tanya Ibu Takao. Kagami mengangguk dan memperkenalkan diri.
"hai'. Kagami Taiga desu, yoroshiku onegaishimasu!" kagami membungkuk sopan dan dibalas oleh senyuman dari ibu Takao.
"tak ku sangka, Takao-kun punya banyak teman seperti ini. Bibi sangat bersyukur." Ucapnya tersenyum.
Tiba tiba, Midorima menghampiri ibu Takao dan mulai memeriksanya.
"Obaa-chan, bolehkah aku memeriksamu? Sekarang aku sudah menjadi dokter." Ujar Midorima tersenyum pada ibu Takao.
"shintarou-kun menjadi dokter? Hebat sekali. Tapi Obaa-san tidak mau merepotkanmu. Lagipula Obaa-san juga tidak punya biaya untuk membayarnya. Kau tahu kalau Obaa-san sedang sakit dari Taka-chan, ya?" ujar Ibu Takao pada Midorima.
"kau tidak boleh seperti itu, Taka-chan. Okaa-chan tidak mau merepotkan orang lain." Ucapnya pada Takao.
"tidak apa apa, Obaa-san. Obaa-san tidak merepotkanku. Ini semua demi kesembuhan Obaa-san sendiri. Obaa-san tentunya ingin sembuh, kan?" tanya Midorima pada ibu Takao.
"Obaa-chan memang ingin sembuh. Tapi Obaa-chan tidak punya biaya." Ucapnya dengan nada sedih.
"aku yang akan menanggung semuanya, jadi tolong terimalah, Obaa-chan." Ucap Midorima membungkuk pada Ibu Takao. Ibu Takao yang mendengar betapa tulusnya Midorima yang ingin membuatnya sembuh, hanya bisa meneteskan air mata dan berterimakasih padanya. Midorima membalas ucapan terimakasihnya, kemudian mulai memeriksa keadaan Ibu Takao.
Setelah beberapa menit, akhirnya pemeriksaan selesai. Takao langsung menanyakan apa yang terjadi pada Midorima.
"Shin-chan, bagaimana? Bagaimana keadaan Okaa-chan?" tanya Takao.
Midorima menghela nafasnya, kemudian menjelaskan semuanya pada Takao.
"ibumu terkena tumor otak, dan harus di operasi secepatnya." Ucapnya pada Takao. Tubuh Takao bergetar, air matanya mengalir seketika. Ia tak bisa menopang berat tubuhnya sendiri, dan akhirnya tubuhnya merosot ke tanah. Midorima langsung saja menangkapnya dan mendekapnya. Takao terisak dalam dekapannya, dan itu membuat Midorima memeluknya semakin erat. Pelukan yang sama ketika ia menenangkan Takao dulu.
"aku akan segera melakukan operasi untuk ibumu. Jika kau menyetujuinya.." ucapnya pada Takao.
"t-tapi..hiks..Shin-chan..a-aku..hiks" Ucapnya terisak.
"tidak apa, aku kan sudah bilang kalau aku yang menanggung semuanya.." ucapnya pada Takao.
"jadi, apa kau menyetujuinya?" lanjutnya. Takao mengangguk sambil memeluk erat Midorima.
"selamatkan Okaa-chan, Shin-chan..hiks..ku mohon...hiks.." Ucap Takao dalam dekapan Midorima.
"aku akan berusaha, Takao. Percayalah padaku.." Midorima mengelus surai hitam Takao sambil tetap memeluknya.
"kita akan membawa ibumu ke Tokyo besok," Ucapnya. Takao mengangguk dan berharap semoga ibunya bisa sembuh.
"aku mencintaimu, Takao.." Midorima mengecup kening Takao.
"aku juga, Shin-chan."
.
.
.
.
.
.
Tetsuya sempat mendengar percakapan antara Midorima dan Takao. Ia juga tak kuasa menahan tangisnya, ia hanya bisa bersandar di pohon pinus besar di belakang rumahnya sambil terus berharap semoga ibunya bisa sembuh.
Tanpa di sadari, seorang pemuda tengah berdiri di depannya. Pemuda itu menghampiri Tetsuya yang masih terisak di bawah pohon tersebut.
"K-kagami-san?!" sepertinya Tetsuya terkejut dengan kedatangan Kagami di depannya.
"Kenapa kau menangis disini? Apa yang terjadi?" tanya Kagami pada Tetsuya.
"ibuku...akan segera di operasi besok..hiks.." ucap Tetsuya pada Kagami.
"begitu, ya.." Kagami meletakkan tangannya di kepala Tetsuya kemudian mengelus surai biru langit miliknya. Tetsuya merasakan tangan besar Kagami, hangat dan lembut saat membelainya.
"teruslah berdoa, supaya ibumu cepat sembuh. Aku juga akan mendoakannya, Tetsuya." Kagami tersenyum pada Tetsuya. Tetsuya menghentikan tangisannya saat melihat senyum Kagami. Matanya terbelalak ketika tiba tiba Kagami memeluknya.
"aku tak tahu kenapa, saat pertama melihatmu, rasanya ada yang berbeda di dalam hatiku." Ujar Kagami sambil tetap memeluk Tetsuya.
"aku mencintaimu, saat pertama kali bertemu. Takao Tetsuya." Kagami mendekap Tetsuya semakin erat.
"maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Kagami. Tetsuya semakin terkejut dengan pernyataan Kagami padanya. Tentang cinta pada pandangan pertama yang ia utarakan pada Tetsuya. Tetsuya tak tahu harus berkata apa. Tetapi, mengingat tangan besarnya yang mengelus surai birunya, serta dekapan yang hangat ini, membuatnya merasa nyaman. Ia juga merasakan sesuatu yang sama seperti Kagami.
"aku mau...Kagami-san." Ucapnya membuat Kagami senang.
"tolong panggil namaku.." Kagami menyuruh Tetsuya untuk memanggil namanya.
"Taiga-kun?" tanya Tetsuya.
"iya, begitu." Ucap Kagami.
Tetsuya baru pertama kali dalam hidupnya, menemukan seseorang yang mengerti perasaannya sejauh ini dalam waktu yang sangat cepat. Ia bahagia, bisa memiliki dan dimiliki oleh seorang Kagami Taiga. Tetsuya membalas pelukan Kagami dengan erat.
"kalau kau ingin menangis, menangislah. Aku ada disini untukmu." Ujar Kagami. Tetsuya menumpahkan semua kesedihan dan kebahagiaanya sekaligus dalam air mata yang mengalir membasahi bahu Kagami.
.
.
.
.
.
Esok harinya, Midorima mempersiapkan diri untuk kembali ke Tokyo dan membawa ibu Takao untuk melakukan operasi di sana. Takao dan Tetsuya juga ikut ke Tokyo untuk menemani Ibu mereka. Keluaga Midorima menghubungi supir pribadi mereka untuk datang ke Kyoto menjemput Ibu Takao. Sementara Midorima, Takao dan Tetsuya, berangkat menggunakan mobil milik Kagami. Mereka pun akhirnya berangkat menuju Tokyo.
.
.
.
Setelah 5 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Tokyo. Mereka langsung saja membawa ibu Takao ke rumah sakit dimana Midorima bekerja. Midorima dengan sigap langsung saja mengambil tindakan, dan kebetulan hari ini tidak ada jadwal operasi. Jadi operasi akan di jalankan hari ini juga, walaupun harus menunggu beberapa jam untuk persiapan para dokter lain.
Operasi pun berlangsung. Takao dan Tetsuya yang menunggu di luar ruangan hanya bisa berdoa dan berharap semoga Ibu mereka bisa di selamatkan. Air mata kesedihan terus mengalir dari kakak beradik tersebut, mengingat mereka hanya punya seorang Ibu yang selalu menemani mereka.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Midorima keluar dari ruang operasi. Takao, Tetsuya, Kagami dan keluarga Midorima pun menghampirinya. Takao langsung saja menanyakan keadaan ibunya.
"Shin-chan, bagaimana keadaan Okaa-chan?!" Midorima langsung saja memeluknya erat. Takao terkejut dengan apa yang Midorima lakukan. Hingga akhirnya Midorima menjelaskan semuanya.
"Takao,..Ibumu, berhasil di selamatkan.." ucap Midorima. Takao membelalakkan matanya, ia mencengkram punggung Midorima dengan begitu erat. Ia menangis di pundak Midorima. Midorima mengelus surainya, berusaha untuk menenangkannya. Ia bersyukur pada Kami-sama, dan juga berterimakasih pada Midorima yang telah berusaha menyelamatkan nyawa sang Ibu. Tetsuya ikut menangis saat mendengar kabar bahagia tersebut. Kagami dan keluarga Midorima pun ikut bahagia.
"Okaa-chan...hiks...Yokatta.." Takao semakin menangis kencang dalam dekapan Midorima. Midorima tersenyum dan mempererat pelukannya. Kagami juga ikut memeluk Tetsuya yang menangis dari tadi.
"ibumu masih belum sadar, jadi tunggu saja." Ujar Midorima.
"baik. Shin-chan..bisakah kau mengantarku membelikan bunga untuk Okaa-chan?" tanya Takao. Midorima pun menyanggupinya. Mereka berdua segera pergi ke toko bunga terdekat.
Sesampainya di toko bunga, Takao kemudian memilih bunga yang ingin ia berikan pada ibunya. Ia memilih bunga Iris yang memiliki arti kabar gembira. Ia sangat bahagia ketika mendengar bahwa ibunya bisa di selamatkan. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Midorima, kata terima kasih saja sepertinya tidak cukup untuk membalas semua kerja kerasnya untuk menyelamatkan ibu Takao.
"Ano, Shin-chan.." ucapnya gugup pada Midorima yang tengah berdiri di sampingnya.
"kau kenapa, Takao? Sudahlah, jangan bersedih. Ibumu berhasil diselamatkan, bukan?" Midorima kembali mengelus surai hitam Takao.
"tapi karena itulah, aku tidak bisa membalas semua yang Shin-chan berikan padaku. Aku tidak punya apa-apa." Takao merundukkan wajahnya.
"kalau kau ingin memberikanku sesuatu, berikan aku seluruh cintamu. Itu saja sudah lebih dari cukup untukku." Ujar Midorima. Takao mendongak, menatap wajah Midorima yang terlihat sangat serius ketika mengucapkannya. Ia menatap Midorima yang tersenyum tulus kepadanya. Ia mengangguk, lalu mengatakan bahwa ia akan memberikan apapun yang Midorima inginkan.
"oh ya, Takao. Tunggu disini sebentar, ya. Aku mau keluar dulu." Tiba-tiba saja, Midorima meminta izin Takao untuk pergi keluar. Takao pun mengizinkannya.
Setelah membayar bunga yang di belinya, Takao pun keluar dari toko bunga tersebut. Ia duduk di kursi yang ada di depan toko bunga tersebut untuk menunggu Midorima kembali.
Beberapa menit kemudian, Midorima kembali dengan membawakan buah-buahan yang akan ia berikan untuk ibu Takao.
"Ini untuk Obaa-san, Takao." Ujar Midorima memberikan buah-buahan itu pada Takao.
"A-arigatou...maaf merepotkanmu, Shin-chan." Takao merasa tidak enak karena terus merepotkan Midorima. Tapi Midorima menggeleng, dan mengatakan bahwa itu hanya hadiah kecil untuk ibu Takao.
"ya sudah, ayo kembali ke rumah sakit. Ku rasa ibumu sebentar lagi sadar." Midorima mengajak Takao untuk kembali ke rumah sakit tempat ibunya di rawat.
.
.
.
Mereka akhirnya sampai kembali di depn ruangan tempat Ibu Takao di rawat. Dokter di sana mengatakan bahwa ibu Takao sudah sadar. Takao, Tetsuya, Kagami, dan keluarga Midorima pun di perbolehkan masuk untuk menjenguk Ibu Takao.
Saat Takao melangkah memasuki ruangan itu, matanya langsung tertuju pada sang ibu yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang berada di tangannya. Ibu Takao yang sudah sadar menoleh pada Takao yang masih berada di ambang pintu. Ia tersenyum pada Takao dan memanggil namanya dan Tetsuya.
"T-Taka-chan, Tetsu-chan.." Ujarnya terbata-bata. Takao dan Tetsuya yang mendengarnya segera menghampiri ibu mereka. Mereka pun menangis di samping ibu mereka sambil meminta maaf.
"hiks...Okaa-chan...hiks...maafkan aku..karena tidak punya waktu untuk ku habiskan bersamamu..hiks...maaf, Okaa-chan..hiks..." ucap Takao sambil terisak di sebelah ibunya.
"Tetsuya juga minta maaf...hiks..selama ini..hiks..Tetsuya selalu menjadi anak yang nakal...hiks...Tetsuya selalu merepotkan Okaa-chan..hiks.." Tetsuya juga meminta maaf kepada Ibunya.
"sudah-sudah...k-kalian anak yang baik..." Ucap ibu mereka. Dengan keadaan yang lemah itu, ibu mereka berusaha untuk tetap terlihat kuat di depan anak-anaknya.
"hiks..Okaa-chan..." mereka menangis bersamaan. Tangisan bahagia itu, membuat ibu mereka juga tersenyum lembut sambil mengelus surai mereka.
"oh ya, Shintarou-kun...terima kasih sudah menyelamatkan Obaa-san...Obaa-san tidak bisa membalas jasa-jasamu, Shintarou-kun. Maaf, ya.." Ucapnya sembari tersenyum lembut pada Midorima.
"tidak apa-apa, Obaa-san. Aku melakukannya demi kesehatan Obaa-chan." Midorima membalas senyuman yang di berikan ibu Takao padanya.
"sekali lagi terimakasih ya, Shintarou-kun. Terima kasih juga, Hiraki-chan, Shizuo-kun, dan siapa ini? Adiknya Shintarou-kun, ya? Cantik sekali ya, seperti ibunya. Terima kasih, kalian sudah mengantarku ke sini dan menemaniku sampai operasi selesai. Aku berhutang banyak pada kalian." Ibu Takao mengucapkan terima kasihnya pada keluarga Midorima.
"tidak masalah, Takami-chan. Ini semua demi keselamatanmu. Itu yang lebih penting." Ucap ibu Midorima sambil tersenyum tulus padanya.
Tiba-tiba, Midorima membungkuk di depan ibu Takao.
"ada apa, Shintarou-kun?" tanya Ibu Takao padanya.
"Obaa-san, bolehkah aku meminta satu hal darimu?" tanya Midorima dengan serius pada Ibu Takao.
"Obaa-san akan memberikan semua yang Obaa-san bisa berikan pada Shintarou-kun. Jadi, apa yang Shintarou-kun minta?" tanya Ibu Takao.
"aku.." Midorima kemudian menatap Takao sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"ingin meminta restumu untuk melamar Takao Kazunari, putramu.." Midorima mengeluarkan kotak cincin yang berisi cincin untuk Takao.
"tentu saja, Obaa-san akan merestui kalian. Tapi bagaimana dengan kedua orangtuamu, Shintarou-kun?" tanya Ibu Takao lagi.
"kami sudah merestuinya, Takami. Shintarou-kun sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari untuk ini.." Ucap ayah Midorima sambil menepuk bahu putranya.
"bagaimana denganmu, Takao-kun?" tanya ayah Midorima pada Takao.
"Aku...aku menerimanya." Ucap Takao di sambut dengan tawa bahagia dari semua orang di ruangan itu. Midorima berdiri di depan Takao, kemudian memakaikan cincin itu di jari manisnya. Ia kemudian memeluk Takao yang meneteskan air mata kebahagiaannya.
"siapkah kau untuk selalu berada di sampingku, Takao Kazunari?" Tanya Midorima.
"Aku siap, Shin-chan..aku siap" Ucapnya sambil terisak di pelukan Midorima.
Kagami pun memeluk Tetsuya yang berada di sampingnya, kemudian ia menghampiri ibu Tetsuya.
"ano, Obaa-chan..aku juga akan melamar Tetsuya tahun depan. Ku mohon tunggulah, dan restui kami berdua.." ujar Kagami memohon pada Ibu Tetsuya.
"baiklah, Kagami-kun. Akan Obaa-san tunggu janjimu tahun depan." Kagami tersenyum lalu menggenggam pelan tangan ibu Tetsuya sambil mengucapkan terima kasih.
"terima kasih banyak, Okaa-chan. Aku sayang Okaa-chan.." Tetsuya terisak sambil menggenggam tangan ibunya. Ibunya pun tersenyum padanya.
Hari ini, banyak hal yang mereka semua lewati dengan suka dan duka. Semuanya mereka mulai dengan cinta pada pandangan pertama yang berakhir bahagia, meskipun harus menanti bertahun-tahun lamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
~OWARI~
Yatta, akhirnya selesai juga fanfic pertama Author. (syukuran, bakar titan..)
Tunggu cerita-cerita selanjutnya ya,, jaa...
