Chapter 4 : Replay

..

..

...


TOK TOK TOK

Lima detik berlalu.

TOK TOK TOK

Lima detik –lagi- berlalu.

'…Sunbaenim…," gumam Suzuya dalam hati.

Baru saja ia menginjakkan kakinya kembali di kota Seoul ini. Setelah sekian lama menempuh hari-hari di Kanada, tempat inilah yang menjadi incarannya pertama kali ketika kembali ke Korea. Angan-angannya terwujud untuk berada lagi di sana, di koridor apartemen itu. Namun kali ini, tidak ada sahutan dari balik pintu kamar, tidak ada yang membukakan pintu.

Sudah sekitar delapan menit ia berdiri di depan pintu kamar tersebut. Ia yakin bahwa ia tidak salah kamar. Ia juga yakin bahwa ini adalah apartemennya, yang dulu sering ia kunjungi untuk berkonsultasi soal karya fotografinya pada senior terhormat.

Dalam keheningan, seorang petugas keamanan melewati koridor tersebut. Seakan ada bantuan datang, Suzuya segera mengambil kesempatan untuk memperjelas situasi.

"Permisi. Aku hendak bertanya?"

Petugas keamanan itu menoleh kepadanya. "Ya?"

"Apa Kim Ji Hyun masih tinggal di sini? Di kamar ini? Aku terakhir kemari beberapa tahun yang lalu. Aku… hanya memastikan. Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban."

Lawan bicara Suzuya menoleh ke arah pintu sejenak lalu kembali menatap Suzuya.

"Sebentar, ya?" Orang itu mengeluarkan walkie talkie dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.

Siapapun yang ia hubungi saat itu tidak penting bagi Suzuya. Yang ia prioritaskan hanyalah jawaban yang akan diperolehnya sebentar lagi.

"Nona, aku baru saja menghubungi staf senior. Dia bilang benar bahwa kamar itu masih ditempati oleh seseorang bernama Kim Ji Hyun. "

'Apa sunbae benar-benar membenciku?'

Kedua tangan Suzuya memutar ponsel pintar yang dipegangnya, memperlihatkan layar lebar ponsel tersebut. Tidak ada notifikasi yang ia tunggu. Tatapannya sendu tertunduk mengingat kejadian hampir seminggu yang lalu.

Mengapa sunbaenim belum juga menghubunginya?

"Suzuya? Eonni?" suara lembut Haneul memanggil.

Yang dipanggil seakan tersadar. Ia kembali ke dunia nyata di mana ia dan Haneul kini duduk bersama. Dalam satu bangku di Seoul Grand Park, di tengah hamparan kolam bunga dan di bawah langit yang berawan. Hari itu adalah hari di mana ia mengajak Haneul menghabiskan waktu bersama. Seharusnya dia-lah yang paling 'sadar' di sini. "E-eh? …Ya?"

Haneul memandang seksama. "Apa kau tidak apa-apa?" Ada ekspresi khawatir di sana. "Kau terlihat murung."

"A-ah. Tidak. Bukan kenapa-napa. Aku… aku hanya sedang terpikir sesuatu."

Brunette yang duduk di samping Suzuya bingung hendak bicara apa. Jika ia bertanya, ia takut Suzuya akan berpikir bahwa ia berniat ikut campur.

"Ah, Haneul. Bisa tolong ceritakan padaku soal Rika?" Suzuya membuka topik.

Haneul di sana agak bingung. Pertama, apa yang harus ia ceritakan perihal Rika di mana dirinya masih terbilang baru di RFA? Kedua, ia tidak pernah tahu detail soal Rika. Bahkan tidak ada satu pun anggota RFA yang tahu di mana Rika berada, kecuali V. Ketiga, mengapa tidak Suzuya tanyakan saja pada Jumin selaku kekasihnya yang sekaligus sohib dari kekasih Rika sendiri, V?

"Uhm… Yang aku tahu, Rika adalah kordinator pesta di RFA sebelum aku. Semua pesta besar berhasil karena apa yang dia lakukan. Tapi… karena suatu kecelakaan, ia meninggal dua tahun yang lalu."

"Kecelakaan apa?"

"Tenggelam. Ah, itu pun aku tahu dari anggota RFA yang lain. Kupikir mereka lebih tahu, terlebih V. Hanya saja, V jarang ada di chatroom. Sepertinya ia masih berduka soal Rika. Pasti sedih sekali ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, ya?" Haneul berempati atas V di sana. Sebagian hatinya lagi mengingat bagaimana kakaknya di panti asuhan meninggalkan Lee Min Hyuk demi lelaki lain.

Suzuya pun menunjukkan ekspresi yang sama. "Hmm.. begitu. Tapi, kupikir pesta kemarin pun hebat. Haneul pun sudah berusaha untuk membujuk para tamu agar mereka datang, bukan? Aku merasa senang dapat hadir di pesta kemarin. Benar-benar pengalaman pertama yang menyenangkan!"

"Eh? Pertama? Bukannya eonni pun anggota RFA?" tanya Haneul kaget.

"Ah, iya, tapi sudah tidak. Soal itu…" Ekspresi Suzuya berubah bingung dan sedikit murung. Haneul yang ada di sana memperhatikan. Setelah dipikir-pikir, Haneul menangkap raut wajah murung Suzuya sejak awal mereka bersama hari ini.

"Hmm.. Haneul, aku ingin bicara sesuatu padamu. Tapi… tolong dengarkan aku dulu, ya?"

"Eh? Apa memangnya?"

Perempuan berambut pirang itu terdiam sejenak. "Jadi… ketika aku tiba di bandara minggu kemarin, aku segera mencari di mana mobil Jumin berada. Ia menyuruh supirnya untuk menjemputku. Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, aku melihat Rika berdiri agak jauh dariku."

Haneul mengernyitkan dahinya. "… Rika?"

Suzuya mengangguk, dengan ekspresi serius dan tatapan tertuju ke tanah. "Ya, Rika. Aku memperhatikannya terus selama beberapa detik. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bukanlah Rika. Dia pun tersenyum padaku. Aku yakin aku tidak salah lihat. Itu benar-benar Rika yang kutahu dari dua tahun lalu sebelum pindah ke Kanada."

Haneul antara harus 'menghargai' ucapan Suzuya atau tidak. Jika dilihat dari ekspresi Suzuya, ia terlihat sangat serius. Namun, bukankah V sendiri yang bilang bahwa Rika sudah tiada?

"Ehmmm.. Tapi, bukankah Yoosung dan yang lain cerita bahwa…"

"Haneul," potong Suzuya. Perempuan itu menatap Haneul dengan mantap. "Sebelumnya, aku sudah tahu soal kematian Rika. Jumin yang mengatakan padaku bahwa Rika sudah tiada. Tapi… melihat di bandara kemarin… aku jadi berpikir bahwa…."

Lawan bicara Suzuya masih ada di sana untuk mendengarkan. Jujur, ia merasa bingung saat ini. Mengapa tiba-tiba Suzuya bicara hal yang tidak mungkin?

"Haneul, aku akan menceritakan sesuatu kepadamu."


KRING KRING

"Halo?"

"Tolong ke ruanganku segera," ujar suara berat di jauh sana.

"Baik, Tuan Han."

Jaehee menutup teleponnya dan bergegas menuju ruangan di mana Jumin ada untuk menunggu. Sesampainya di tempat tujuan, ia melihat sang atasan tengah memperhatikan secara serius sebuah halaman majalah. Di satu tangannya, Jumin Han memegang anggun sebuah gelas berisikan wine merah.

"Tuan Han?" panggil Jaehee menyadarkan sang majikan.

Yang dipanggil menoleh. Jaehee dapat melihat jelas bahwa Jumin Han kini dalam kondisi –kurang- terbaiknya. Wine merah di pagi itu buktinya. "Kemari, Asisten Kang. Duduklah."

Kang Jaehee menuruti permintaan tuannya dan duduk di tempat yang Jumin perintahkan.

"Asisten Kang, kau suka kopi, bukan?"

"Ya, Tuan Han."

Jumin menaruh wine dan majalah itu di atas mejanya. "Katakan padaku, Asisten Kang. Kopi apa yang enak menurutmu?"

Jaehee terdiam heran mendapati pertanyaan atasannya tersebut. "Bisa mohon anda jelaskan lagi pertanyaan anda, Tuan Han?"

Jumin Han bicara setelah terdiam berapa lama. "Ayah. Dengan pacar barunya. Euhm… Saat sarapan tadi pagi, ayah memintaku untuk membuka bisnis baru : kedai kopi. Ia bicara soal bagaimana kopi disukai banyak orang, bisnis ini menjanjikan, kau juga tahu bahwa salah satu perusahaan di bawah naungan C & R melakukan produksi dan distribusi atas kopi. Tapi dari semua alasan yang ayah utarakan, aku paling yakin bahwa permintaannya tersebut berasal dari pacar barunya."

Jaehee mengangguk. Dalam hati ia berdoa semoga pembicaraan ini tidak menggiringnya pada tugas baru.

"Dua hari yang lalu, jika tidak salah. Aku membaca headline artikel di internet bahwa Glam Choi akan segera membuka bisnis kopi di Seoul. Hhhh~… aku pun tahu bahwa ayah tengah mengincarnya saat ini. Jadi, Asisten Kang..."

Nona Kang merasa sesuatu yang buruk akan terjadi ketika Jumin Han terdengar hendak membuat kesimpulan.

"Aku ingin kau mengurus semuanya. Proposal, riset, manajemen, anggaran, semuanya."

Mau tidak mau, Jaehee mengangguk atas itu. "Baik, Tuan Han."

"Ah, Asisten Kang. Untuk proyek ini aku ingin kau membuat dua proposal."

"Du-a proposal..?" Jaehee menatap Jumin tidak percaya. Ingin rasanya ia membentak Jumin jika mungkin.

"Ya. Satu proposal untuk kafe pacar ayahku dan satunya lagi untuk perusahaan ini. Untuk proposal kafe perusahaan, aku harap kau melakukannya dengan baik seperti biasa. Sedangkan yang satunya lagi, aku tidak menuntut kedetailanmu. Bahkan aku menyarankan untuk asal saja membuatnya. Soal kafe perusahaan, ayah tidak perlu tahu."

"Jadi… Anda meminta saya untuk kinerja yang tidak lebih baik di satu proposal?"

"Tepat sekali. Oh.. Untuk kafe perusahaan, aku ingin kau menjadikan ini sebagai rujukan." Jumin menggapai majalah yang terbuka dan memberikannya pada Jaehee.

"Suksesnya Oregano Latte Karena Banyak Memberi?" Jaehee membaca judul headline di majalah tersebut.

"Aku suka idenya, tidak biasa. Aku ingin konsep kafe kita juga luar biasa seperti ini. Kau selalu punya masukan bagus, Asisten Kang. Jika saja kau bisa memberiku ide soal kafe yang luar biasa, juga belum pernah ada sebelumnya."

Jaehee mengigit bibir bawah. Tugas ini berat. Namun, apa yang bisa orang seperti Jaehee lakukan selain menuruti perintah anak sulung keluarga Han tersebut.

"Baiklah, akan saya kerjakan. Permisi, Tuan Han." Jaehee berlalu dari tempatnya, meninggalkan Mr. Han sendirian di balik meja.

Setelah kesendiriannya hadir, kedua mata Jumin tertuju pada satu amplop coklat di antara tumpukan dokumen di ujung meja. Jumin tidak lama memandangi amplop tersebut.

Jari-jari lentiknya memijat lembut pelipis kanan yang terasa ngilu. Sakit kepalanya kambuh dan ia berharap banyak pada wine yang baru saja diteguk. Ia harap wine itu dapat merelaksasi pikiran dan sakit itu walau hanya sejenak. Namun yang terjadi, rasanya wine itu tidak memberikan efek apapun.

Detik selanjutnya ia meraih ponsel dan meratapi layar kosong tanpa notifikasi yang ia tunggu. Mendadak dirinya resah. "Di mana kau, V?"

Setelah beberapa saat mendinginkan dirinya, Jumin melakukan panggilan cepat pada tombol nomor 3. "Halo? Aku ingin kau melakukan sesuatu. Secepatnya."


10 : 32 (Jaehee Kang, Haneul, Yoosung)

Jaehee Kang : "Halo, Yoosung?"

Yoosung : "Hai, Jaehee."

Jaehee Kang : "Kau sudah sarapan?"

Yoosung : "Ya." /sent a photo of sandwich and frapuccino.

Yoosung : "TA-RAAAAAA~.."

Jaehee Kang : /T_T

Jaehee Kang : "Ya Tuhan."

Yoosung : /o_o?

Yoosung : "Kau kenapa, Jaehee?"

Jaehee Kang : "Tuan Han baru saja memberiku tugas."

Jaehee Kang : "Membuat persiapan membuka kedai kopi."

Yoosung : "Benarkah? Bagusss~…"

Jaehee Kang : "Ya aku tahu. Tapi, untuk tugas kali ini aku harus membuat dua proposal."

Jaehee Kang : "Pak Direktur meminta Tuan Han untuk membuat kedai kopi. Tuan Han curiga bahwa kedai kopi ini untuk diberikan kepada wanitanya Tuan Direktur. Tapi kurasa di sisi lain Tuan Han setuju bahwa bisnis ini patut dicoba. Karenanya, ia ingin aku membuat dua proposal. Satu untuk kafe yang akan diberikan kepada wanita Pak Direktur dan yang satunya lagi untuk perusahaan. Untuk proposal kafe milik wanita Pak Direktur, Tuan Han memintaku untuk tidak maksimal mengerjakannya."

Yoosung : "Hoo… Itu bagus, setidaknya kau tidak perlu bekerja terlalu keras untuk dua proposal, bukan?"

Jaehee Kang : "Ya, tentu. Hanya saja, aku merasa kurang bersemangat. Mengetahui bahwa apa yang aku kerjakan tidak perlu maksimal, aku merasa kurang termotivasi."

Haneul has entered the chatroom

Yoosung : "Yey, Haneul~."

Jaehee Kang : "Yo Haneul."

Jaehee Kang : "Maksudku halo."

Haneul : "Hai Yoosung, hai Jaehee."

Jaehee Kang : "Oh, ngomong-ngomong.."

Jaehee Kang : "Kalian berdua, apa tahu kedai kopi yang bagus? Untuk riset kedai kopi ini."

Yoosung : "Aku tahu beberapa tempat. Hmm.."

Yoosung : "Apa klub di kampusku boleh dihitung?^^"

Jaehee Kang : "Maaf Yoosung, tapi mungkin tidak sekarang."

Jaehee Kang : "Bagaimana denganmu, Haneul?"

Haneul : "Hmm.. Aku tidak sering mampir ke kedai kopi. Tapi.. aku punya dua teman di bisnis kedai kopi. Apa kau pernah dengar Olivio Cello dan Oregano Latte?"

Jaehee Kang : "Oregano Latte? Tunggu… "

Yoosung : /o_o?

Jaehee Kang : "Yang pemiliknya bernama Lee Min Hyuk?"

Haneul : "Yup, betul."

Yoosung : "Ah, iya! Oregano Latte juga tempat favoritku! Jaehee, kau tahu siapa pemiliknya?"

Jaehee Kang : "Tidak. Aku tahu namanya dari majalah yang Tuan Han berikan padaku. Haneul, kau kenal dengannya?"

Haneul : "Ya, aku kenal dia. Kita sudah saling kenal sejak lama."

Yoosung : "Tunggu. Haneul, kau bilang kau kenal dengan pemilik Oregano Latte?!"

Jaehee Kang : -_-

Yoosung : "Kereen…~" /blushing

Jaehee Kang : "Tuan Han sangat tertarik dengan kafe Oregano itu. Caranya menarik konsumen dengan membagikan kopi dan pastry secara gratis dianggap ampuh oleh penulis artikel majalah. Menurut pendapatmu bagaimana, Haneul?"

Haneul : "Kafe itu selalu ramai, jadi menurutku mungkin saja."

Yoosung : "Aku tidak menyangka Haneul kenal dengan Lee Min Hyuk. Setelah mampir ke sana tempo hari aku benar-benar merasa senang!"

Yoosung : "Kau tahu Jaehee? Oregano Latte selalu membagikan cake atau kopi terbarunya di hari perilisan! Oregano Latte juga tercatat sebagai kedai kopi yang perkembangannya cepat!"

Yoosung : "Banyak barista di klub kampusku belajar pada Lee Min Hyuk. Yang kudengar ia membuka kelas barista dan karenanya menjadi salah satu pembicara di seminar bulan lalu untuk jurusan ekonomi."

Yoosung : "Aku pertama kali ke kafe tersebut beberapa hari yang lalu untuk mencicipi produk gratisnya dan rasanya enak! Beberapa hari ini aku dan teman-temanku sering nongkrong di sana. Pastry dan cakenya benar-benar enak! Tektur kuenya lembut sekali!" /smile.

Jaehee Kang : "Segitunya, kah? Tidak heran media cetak mau menulis tentang kafe itu. Sampai-sampai Tuan Han pun merujukkannya padaku."

Yoosung : "Tidak salah, Jaehee. Rujukan Jumin benar-benar bagus."

Jaehee Kang : "Kalau begitu…"

Jaehee Kang : "Haneul, maukah kau menemaniku untuk pergi ke sana? Karena kau tahu siapa Lee Min Hyuk ini. Bisa dibilang aku sedikit berharap ditemani dirimu."

Yoosung : "Yey, tentu kan Haneul?"

Yoosung : "Jika kau berhasil dengan Oregano Latte, kau mau tidak membagi resepnya untukku~?"

Jaehee Kang : "Aku tidak berjanji padamu, Yoosung. Mengingat aku hanya akan melakukan riset, bukan kerja sama."

Yoosung : "T_T"

Haneul : "Tentu, Jaehee. Kapan kau mau aku menemanimu?"

Jaehee Kang : "Heum… biar nanti aku kabari lagi. Masih banyak hal yang harus aku urus."

Haneul : "Oke, Jaehee. Kabari saja aku kapanpun kau mau ^^."

Jaehee Kang : "Terima kasih, Haneul." /flower

Jaehee Kang : "Ah, aku harus pergi sekarang. Tuan Han dan aku harus menghadiri rapat."

Jaehee Kang : "Aku undur diri, permisi semuanya."

Jaehee Kang : "Semoga hari kalian menyenangkan."

Jaehee Kang has left the chatroom


Di luar Seoul Arts Center tengah berlalu-lalang banyak orang. Seven berdiri di salah satu bagian pintu masuk kawasan tersebut. Ia menunggu dengan menyandarkan dirinya ke tembok sembari memperhatikan mereka yang berlalu-lalang. Rencana sebelumnya berubah. Suzuya memutuskan untuk bertemu langsung di tempat tujuan, yakni kawasan seni di Seoul ini. Seven tidak keberatan.

Dalam penantiannya menunggu Suzuya, Seven tidak terlihat seperti apa yang selama ini ada di chatroom. Ia terlihat lebih dingin dan tenang. Bahkan anggota RFA pun belum pernah melihat sisi Seven yang ini sekali pun.

"Seven?" sapa Suzuya yang baru saja tiba di dekatnya.

Seven menoleh dan kedua matanya berbinar-binar. "Nunaaaa~!"

"Hehehe… Kau pasti sudah menunggu lama, ya?" Suzuya tertawa kecil dengan malu. Pagi tadi ia terlambat bertemu dengan Haneul, sekarang dengan Seven.

"Ah… lumayan sih. Tapi… nuna tidak tersesat, kan?!"

"Eng… sebenarnya, ya. Sudah lama aku tidak ke Korea. Aku lupa jalur-jalur transportasi, hehehe…"

"Sudah kubilang, kan? Lebih baik aku jemput saja."

"Tidak perlu. Aku takut merepotkanmu."

"Nuna ini… Ah, ayo masuk? Kita harus dapat tempat yang cozy!"

"Okie!"

Di bagian sayap Music Hall, Seven dan Suzuya mendapatkan jatah kursi. Dalam kesempatan ini, Suzuya tidak berhenti tersenyum sejak memasuki kawasan seni tersebut. Seven tahu usahanya tidak sia-sia. Ia pun tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum melihat keadaan Suzuya di sana.

CN Bleu masih mengudarakan acara mereka hingga beberapa jam berikutnya. Acara yang dimulai sejak sore tersebut masih berlangsung dengan tertib. Iringan para penonton di sana pun tidak surut di makan waktu. Semuanya bersemangat mengiringi bagaimana seorang idola di atas panggung menyanyikan banyak lagu untuk mereka.

Konser mini yang ditujukan untuk penggemar ini memang alasan tepat. Seven tidak merasa kurang saat itu. Ia kini ada di salah satu pertunjukan band favoritnya, duduk di tempat pilihannya, tidak ada coding, dan ia sedang bersama nuna kesayangan.

Oh

Tapi itu memang kenyataannya. Jika saja Suzuya tahu, beberapa kali Seven memperhatikan dirinya dengan tatapan lembut. Lelaki itu tersenyum melihat perempuan di sampingnya tertawa lepas bahagia dengan semangat cerah. Bagaimana Seven saat itu memandang Suzuya, bagaimana Seven saat itu tersenyum, bagaimana Seven saat itu bersyukur, bagaimana saat itu jantung Seven berdetak tidak senormal biasanya, Suzuya seharusnya tahu.

Juga…

Bagaimana Seven saat itu merasa sakit mengingat ia menjadi salah satu saksi pertunangan dirinya dengan Jumin, bagaimana Seven saat itu –yang- merindukannya mendadak harus menerima keputusan dirinya dimiliki oleh pria lain, bagaimana Seven yang pada jam itu -harusnya ikut bersorak bersama para fans yang lain- memikirkan rasa kehilangan yang akan ia hadapi begitu Suzuya bersama Jumin selamanya, dan bagaimana Seven merasa lelah pada hari itu untuk berpura-pura ceria –padahal di dalam dirinya ia merasa tersiksa-.

Cincin yang kini ada di jari manis Suzuya seperti barrier bagi Seven untuk membuatnya berhenti berharap. Atau sebagai alarm bahwa pemilik cincin tersebut sudah diklaim orang lain. Mustahil bagi Seven untuk menghancurkan barrier itu.

Suzuya seharusnya tahu, bahwa laki-laki yang ia anggap sebagai adik sendiri selama ini menyimpan rasa yang besar untuknya. Ia mencintai Suzuya dengan tulus.

"Seven?!" Panggil Suzuya menyadarkan Seven yang termenung di sana. "Terima kasih, ya?!" tambah perempuan itu dengan senyum senangnya.

Seven memandangi wajah bahagia itu. Priceless baginya.

"Terima kasih untuk tiket konser ini! Aku benar-benar senang!" seru Suzuya yang mencoba mengalahkan keramaian akibat sorak-sorai penonton di sana.

Oh… Seven menyaksikan momen yang sangat ia sukai. Ia suka nuna yang ini. Begitu cerah setiap kali ia merasa senang. Seven merasa penuh saat itu. Usahanya tidak sia-sia dan itu mengantarnya pada anggukan dan balasan pelan. "Sama-sama, nuna."

'Apapun itu, asal kau bahagia.'

'Asal nuna jangan lupakan aku.'

Suara intro musik pembuka untuk lagu selanjutnya mengudara. Intro lagu itu…

"Ah~.. Shiny~… Lagu kesukaanku~..," ujar Suzuya dengan sedikit fangirling.

707 mencoba mengingat intro lagu apa yang mengudara. Setelah agak lama, itu jelas intro dari lagu Shiny yang berjudul Replay (Noona You're So Pretty).

'Sial,' keluh Seven dalam hati. 'Timingnya pas…'

Di luar, Seven tersenyum geli. Lagi, ia melirik ke arah nuna di sampingnya. Nuna itu masih menikmati konser dengan tatapan berbinar-binar.

'Yeah, noona neomu yeppeo,' Seven tersenyum tipis.

Konser berakhir sekitar pukul sembilan malam. Kebetulan band favorit mereka berdua itu melakukan jumpa fans selama beberapa menit. Seven menemani Suzuya yang tidak mau melewatkan kesempatan ini. Karenanya, ia dan nuna itu kini berada di hall, mengantri bersama para fans yang lain untuk meminta foto bersama, tanda tangan, dan sebagainya.

Begitu giliran Suzuya dan Seven tiba…

"Seven, mau tidak kau mengambil gambarku dengan mereka?" pinta Suzuya sembari mengeluarkan ponselnya.

"Euhm. Tentu."

Suzuya segera menyerahkan ponselnya. "Tolong, ya?" Lalu ia berlari ke arah anggota band yang sudah berdiri, siap untuk foto bersama.

Selagi Seven melakukan penyesuaian terhadap kamera Suzuya, Suzuya bicara sejenak dengan para anggota band favoritnya. Tidak ada pembicaraan yang spesial saat itu. Hanya obrolan dari fans yang begitu senang bisa bertemu idolanya dan bicara bahwa konser malam itu benar-benar spesial.

"Siap?" Seven memberikan aba-aba.

"Ah, oke." Suzuya segera merapat ke para anggota band di sana. Sekitar lima foto diambil saat itu : foto Suzuya bersama masing-masing anggota band dan satu foto bersama seluruh anggota band.

"Oke, done," ujar Seven sembari menghampiri Suzuya.

"Hei, ayo foto bersama?" ujar vokalis grup band itu -Jung Yong Hwa- kepada Seven.

Seven dan Suzuya sempat terdiam sejenak yang diakhiri dengan mengiyakan. Well, mengapa tidak?

Begitu beberapa shoot telah diambil dan SuzuSeven merasa cukup, mereka mengucapkan terima kasih pada band itu karena sudah mau berfoto bersama.

"Oh ya, emh.. maaf sebelumnya, tapi apa boleh aku mengambil foto kalian berdua?" tawar Jong Hyun, gitaris band tersebut.

"Heum? Foto?" gumam Suzuya.

"Yeah. Kalian couple bukan? Kebetulan di video klip kami selanjutnya kami akan menampilkan apa yang ada di konser hari ini. Salah satunya adalah foto pasangan yang hadir di konser kami. Kalian… sangat serasi, hee. Jadi, bagaimana?"

Suasana canggung terjadi di antara Seven dan Suzuya. Setelah mereka saling melihat satu sama lain, Suzuya membaca bahwa Seven tidak keberatan. Kemudian, perempuan itu bicara.

"Ah, sebenarnya kami kakak-adik. Tapi jika kau mau, kami tidak keberatan."

DEG

Seven merasa hatinya remuk seketika saat mendengar Suzuya berkata demikian. Namun ia tidak bisa apa-apa selain tersenyum mengiyakan.

Sekarang, para anggota band itu yang terlihat awkward.

"Oh.. kakak-adik? Well, tidak apa-apa, hahaha. Tidak akan ada yang tahu kalian kakak-adik, bukan, hahahaha?" ujar vokalis mereka.

"Ya. Oh… maaf sebelumnya, aku pikir kalian couple…," ujar Jong Hyun.

"Kalian terlihat serasi sekali, jadi kami pikir kalian pasangan kekasih. Dan itu…," Jung Shin bicara sembari merujuk ke arah cincin di tangan Suzuya dengan sopan. Ia pun tersenyum kagok.

"Benar. Tidak disangka kalian bukan kekasih," terakhir, drummer mereka memberi pendapat.

"Yeah. Jadi… bagaimana?" vokalis mereka kembali bersuara.


Keluar dari Music Hall dan kini berada di ruang terbuka membuat Seven dan Suzuya merasa lega. Udara malam Seoul yang dingin dan berangin malam itu menghilangkan rasa penat dari ruangan tertutup selama beberapa jam terakhir.

"Hwaaa~! Konser yang tidak sia-sia!" seru Seven dengan gestur uniknya, masih menghibur diri perihal kakak-adik barusan.

Sembari dirinya dan Suzuya berjalan bersama, Suzuya terlihat sibuk dengan ponselnya. Kedua mata Seven yang menangkap itu membuatnya tidak bisa menahan diri. Cincin yang terpasang indah di jari Suzuya mengingatkan Seven –lagi-, bahwa perempuan yang kini berada di sampingnya sudah memiliki penjaga.

"Seven?" gumam Suzuya sembari terus menatap layar ponsel.

"Hmm?"

"Boleh tidak aku memperlihatkan foto-foto tadi pada teman-temanku?"

"Eh? Silahkan saja. Tapi… untuk apa?"

"Untuk aku pamerkan pada mereka kalau aku di sini bertemu dengan CN Bleu~..!" jawab Suzuya girang.

"Oh ya… Bukan masalah, sih." Seven baru saja ingat bahwa CN Bleu memang lebih dikenal di luar Korea, terutama Amerika.

"Yassshh!" dengan cepat jari-jemari Suzuya menekan tombol ponsel. Wajahnya terlihat senang dan senyum sumringah terpatri di sana.

Agen 707 membiarkannya. Ia dan nuna itu terus berjalan lurus dalam diam di antara mereka berdua. Lama sekali Suzuya beradu tatap dengan ponselnya. Hingga tidak lama kemudian…

"…. Eh?" Langkah Suzuya terhenti saat air mancur di dekat mereka meluncurkan aksinya. Di malam itu pemandangan air mancur terlihat sangat indah. Suzuya menatap takjub yang tidak kalah dari Seven. Mereka berdua terdiam memandangi air mancur tersebut bersama dengan beberapa orang di sana.

"Eh, nuna, kita belum makan. Nuna lapar tidak?"

"Hnn? Eh, iya! Ayo kita cari makan!"

"Nuna mau makan apa?"

Suzuya terlihat berpikir dan melihat ke arah jam tangannya. "Sudah jam segini. Aku makan makanan ringan saja. Tteokbokki atau odeng tidak masalah. Seven sendiri?"

"Aku pun tidak masalah. Ayo cari sekarang?"

Suzuya tersenyum mengangguk.


Selesai mencari makanan kaki lima di kawasan ramai, Seven dan Suzuya mencari tempat yang agak tenang di sebuah taman. Dalam pandangan mereka, sebuah sungai yang membentang luas memberikan kesan sendiri di malam itu.

Suzuya melahap tteokbokki dan odeng yang dibawa dalam kemasan cup. Seven sendiri menikmati dakjuk jumbo yang juga dalam kemasan cup dan bungeoppang isi kacang merah favoritnya. Makanan hangat itu menenangkan mereka berdua di tengah udara dingin ini. Sebenarnya suasana itu cukup romantis, hanya saja mereka bukan sepasang kekasih.

"Hhh~… Aku akan rindu sekali pada kota ini begitu kembali ke Kanada," gumam Suzuya setelah menghabiskan semua makanannya.

"Nuna kapan kembali ke sana?"

"Hhhh.. Sekitar sebulan lagi. Tapi… rasanya waktu sudah berlalu cepat sejak hari pertama aku kembali ke sini. Aku rasa, waktu untuk kembali ke sana pun akan datang dengan begitu cepat."

Seven mengaduk-aduk dakjuknya yang masih tersisa setengah cup. Ekspresinya setenang dan sedingin sungai di hadapan mereka.

Suzuya merasakan itu. Seven tidak seriang biasanya. "Hei, kau kenapa?"

Gelengan ringan dilakukan Seven untuk menjawab. "Hnn? Tidak ada apa-apa."

"Kau yakin?"

Kali ini anggukan.

Rasa bingung melanda Suzu. Ia berpikir apa mungkin ada kesalahan darinya yang ia tidak sadari. Dalam pikirnya, Suzuya mengambil kesimpulan bahwa Seven tidak ingin proses makannya diganggu. Sementara miliknya sudah habis, Suzuya tidak punya pilihan selain mengeluarkan ponselnya.

Beberapa menit berlalu dengan kesibukan Suzuya terhadap ponsel dan Seven dengan dakjuknya. Proses makan Seven semakin melambat. Perlahan ia merasa nafsu makannya hilang, namun bukan karena ia kenyang. Ia merasa perasaannya terganggu saat itu sehingga lapar yang ia rasakan seperti mati.

Namja berkacamata itu melirik ke sampingnya. Nuna di sana masih sibuk dengan ponsel, tersenyum sendiri dengan tatapan tertuju pada layar. Dalam benaknya, Seven berpikir bahwa perempuan itu pasti sedang 'bersama' Jumin Han.

"Jumin hyung, kah?"

Suzuya teralih sejenak. "Ah, bukan kok. Aku sedang main game."

"… Game?" Seven penasaran. Alhasil ia mendekatkan dirinya pada nuna dan mencari tahu game apa yang membuat perempuan di sana tersenyum sendiri. Dan setelah Seven mencerna apa yang terjadi… "Hnn? Otome game?"

"Bingo bingo~!" jawab Suzuya sembari terus bermain.

Kedua mata Seven mendapati karakter dari otome game tersebut. Berkacamata, tampan, rapi, formal, dan cool. Mengingatkannya pada Jumin dan Jaehee dalam satu tubuh.

"Nuna main routenya?"

Suzu mengangguk cepat.

"Nuna suka dengannya?"

"Ya. Ah, sebenarnya aku suka semua karakter di game ini. Ini karakter pertamaku. Setelah ini, aku akan main di route karakter yang lain. Ini otome game terbaik selama aku hidup!"

Seven kembali ke tempatnya semula. Tatapannya lurus ke arah sungai. "Pasti berat, ya?"

"Hmm?" tanggap Suzuya sembari terus bermain.

"… Jika aku yang jadi karakter di otome game itu, aku pasti akan sangat sedih dan sakit."

"Kenapa?"

"Karena setelah nuna selesai denganku, nuna akan berpaling ke karakter yang lain. Nuna akan bilang 'I love you' pada karakter lain, nuna akan mencium karakter lain, nuna akan bersama dengan karakter yang lain. Seakan nuna dan aku tidak pernah bersama sebelumnya."

Suzuya terdiam mendengarnya.

"Ah, aku pernah ikut proyek membuat game semacam ini, lho. Saat mengerjakannya aku selalu berpikir bagaimana kalau karakter dalam game seperti ini memiliki perasaan? MC bermain di routenya dan ia benar-benar mencintai MC tersebut. Namun, setelah routenya selesai, MC itu bermain di route karakter lain. Karakter pertama yang mencintai sang MC, pasti merasa sakit sekali melihat orang yang dicintainya memilih untuk pergi dan menghampiri karakter yang lain. Dan karakter itu tidak bisa apa-apa selain diam, membiarkan MC itu memilih yang lain. Saking cintanya, karakter itu merelakan MC pergi dengan anggapan bahwa dirinya tidak sebaik karakter lain. …. Hahahaha… aku sih, tidak mau mengalami hal itu. Membayangkannya saja sakit sekali."

Blondie terdiam, sekaligus memasang mimik bersalah. "… Ya, pasti sakit sekali. Ketika tahu bahwa yang kita cintai ternyata mencintai orang lain."

Seven tidak menanggapi. Ia diam sejenak, lalu kembali bicara.

"Nuna, apa nuna yakin? … Dengan Jumin hyung?"

"Eh? Memangnya kenapa?"

"Nuna tahu, kan? Rika. Terkadang ia masih suka menceritakannya." Melalui kedua matanya, Seven melihat bagaimana perubahan ekspresi Suzuya terjadi. Nona Kim itu merendahkan pandangannya ke tanah dan bicara dengan nada rendah.

"Ya, aku tahu. Soal Rika, aku yakin Jumin tidak semudah itu melupakannya. Mungkin Rika cinta pertamanya? Hahaha. Kau tahu soal ucapan 'cinta pertama tidak terlupakan?' Jika ya…." Suzuya tersenyum kecut. Pandangannya melesu, terlihat sedih di mata Seven. "…. Aku tidak bisa apa-apa."

"Jika aku boleh tahu, apa yang membuat nuna akhirnya memilih hyung?"

"Hnn?"

Ada jeda untuk jawaban. Ketika Choi memandangi Suzuya dengan ekspresi serius, Suzuya tahu bahwa Seven sungguh-sungguh. Dan tanpa kuasanya, semua jawaban keluar begitu saja.

"Jumin itu… seperti bagian yang hilang."

Seven menelan ludah.

"Bukan soal dia anak seorang konglomerat atau sebagai direktur eksekutif sebuah perusahaan besar. Jumin…. Benar-benar berbeda. Ia punya jiwa yang besar, hangat, perhatian, dan selalu berusaha untuk menjadi pahlawan bagi semua orang. Aku akui dia terlalu pragmatis dan dingin layaknya es. Namun itu semua karena ia tidak mengerti bagaimana caranya mengekspresikan diri, terutama karena masa lalunya yang 'kotak'. Dia pintar menahan emosinya dan selalu mampu berpikir dengan kepala dingin. Sangat bisa diandalkan."

Agen rahasia di sana terdiam.

"… Selain itu, hanya Jumin Han yang ada di saat aku butuh seseorang." Satu bulir air mata Suzuya turun. Kemudian, bulir-bulir air mata yang lain mengikuti dengan agak cepat. "Ia ada di sana saat aku tidak seimbang. Ia menenangkanku, membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri, membuatku merasa semangat, menghiburku dengan joke garingnya yang terkadang sedikit berbumbu sindiran. Haha.. Ia membuatku merasa sangat nyaman. Ia menerimaku apa-adanya, menjagaku, membuatku selalu merasa tenang. Ia membuatku yakin, bahwa tidak ada lagi laki-laki lain di dunia ini yang lebih mencintaiku daripada dia. Karenanya, aku yakin padanya. Walaupun yah.. tentu aja : Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Rika."

Melalui kedua bola matanya, Seven melihat bagaimana Suzuya secara tidak sadar menggerak-gerakkan jarinya dengan sedikit 'paksa'. Tanda bahwa perempuan itu sedang dalam keadaan gugup, menahan emosi, atau menyimpan sesuatu. Jika Suzuya cemburu pada Rika, Seven menganggap itu hal wajar.

"Kurasa hanya nuna yang memandang hyung seperti itu, heh? Jika Zen hyung ada di sini, ia akan sangat tidak setuju."

"Ahahaha, yeah… Uhm…" Suzuya meraih ponselnya. Benda kotak itu bergetar dengan layar menyala. Ada nama Jumin Han tertera di sana. "Jumin. Dia menelepon."

Seven mengangguk, sembari menggigit bibir bawahnya. "Angkatlah."

"Halo?" suara bergetar Suzu membuka percakapan.

"Ini aku. Kau di mana?" terdengar suara berat Han di seberang sana.

"Euhm.. Taman. Sungai Han."

"Sungai Han? Sedang apa?"

"Ehm, baru saja selesai nonton konser bersama Seven."

"Baiklah. Aku baru saja sampai di rumah. Pak Kim akan menemuimu sebentar lagi di sana. Aku harap ia datang secepatnya."

"Hnn? Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."

"Bukan ke rumahmu, tapi ke rumahku."

"Lho?"

"Aku belum sempat makan malam. Baru saja aku meminta chef untuk membuatkanku steak wagyu dengan Merlot sebagai pendampingnya. Akan terasa lengkap jika kau hadir di sini dan menemaniku makan malam. Lagipula, ada yang ingin kubicarakan." Di seberang sana -tepatnya di sebuah kebun kecil yang sangat terawat-, Jumin Han tengah mengkoordinir beberapa orang yang sedang melakukan dekor.

"Tapi… jam segini? Lagipula aku sudah makan tadi."

"Apa yang kau makan?"

"Tteokbokki dan odeng."

"Tsk. Itu bukan makanan. Aku tunggu kau di sini secepatnya. Sampai nanti."

BEEP

Jumin memutus percakapan dan menghembuskan nafas panjang. Sejenak ia seperti menenangkan diri. Setelah beberapa detik, ia kembali menengok ke layar ponselnya. Rasanya seperti tertusuk ketika ia memandangi layar. Pada layarnya, tertampil sebuah foto di mana Suzuya dan Seven tengah duduk bersama di depan sebuah sungai. Foto tersebut baru saja diambil sekitar delapan menit yang lalu.

...

...


audi : yah, begitulah.. ^^

..

...

Pas bikin chapter ini ga sengaja keingetan sama otome game True Love Sweet Lies yang saya mainin sekitar tahun kemarin. Setelah main banyaknya otome game dan sebelum Mystic Messenger ada, saya menganggap otome game ini yang paling ingin saya perjuangin sampai akhir. Karakternya tampan-tampan dan MCnya cantik warbyasah.. (/ u /)

Pas keingetan kemarin soal game ini, saya ngeliat beberapa hal yang mirip dengan MysMe. Kayak gimana samanya Ouran sama MysMe gitu. TLSL menceritakan MC yang terpaksa gabung sama agensi detektif karena tanpa sengaja MC memotret penjahat yang mereka incar. Ini kesamaannya TLSL sama MysMe menurutku :

1. Nozomu Fuse : pemilik agensi, punya peliharaan kambing bernama Yuriko, paling tua di antara karakter yang lain, suka duit, mantan anggota Interpol, punya trauma sama perempuan (pacarnya rela mati demi ngelindungin dia). Karakternya ngingetin sama Jumin, Seven, dan V. Jumin pemimpin perusahaan dan V leader di RFA. Fuse suka duit, terobsesi sama peliharaannya, pernah hidup di luar negeri, dan paling tua kayak Jumin. Dia pernah jadi secret agent kayak Seven. Dan punya masalah sama perempuan (susah move on) kayak V.

2. Rui Wakaba : aktor, tampan, rambut agak pirang, sweet talkers. Aku belum main routenya dia, tapi di route yang lain dia itu sejenis Zen yang kurang narsis dan concern ke MC kayak Yoosung.

3. Naomasa Sakura : berkacamata, CCC (cool, calm, collected), beda prinsip sama papi, loyal sama pimpinan, bisa diandalkan, cenderung dingin, formal. Karakternya perpaduan antara Jaehee dan Jumin. Berkacamata, CCC, loyal, formal, bisa diandalkan, layaknya Jaehee yang kita tahu. Di sisi lain, loyalnya Naomasa sama Fuse 11-12 sama loyalnya Jumin ke V. Beda prinsip sama papi, bisa diandalkan, cenderung dingin sama kayak sifatnya Jumin.

4. Kiyoharu Nanahoshi : kakak kembar, tampan dan pemberani, protektif ke adik kembar, doyan motor, gemini, teknisi, flirt. Perpaduan antara Seven dan Zen. Di mana sifat agak narsisnya, doyan motor, tampan dan pemberani sama ama Zen. Kakak kembar, gemini, protektif ke adik kembar, teknisi samaan dari Seven. Belum main route dia juga.

5. Sakuya Nanahoshi : adik kembar, tampan dan misterius, punya keinginan buat mandiri dari kakaknya, HACKER, gloomy, woman issue, tsundere, brother issue, kalau foto jepretannya blur, kalau ngomong agak dalem, terobsesi sama peliharaan bos (Yuriko). Gloomy, misterius, brother issue, adik kembar, punya keinginan buat mandiri dari kakaknya adalah bawaan Saeran. Sakuya benci sama kakaknya segimana Saeran benci sama Seven. Terobsesi sama peliharaan bos adalah sifat Seven. Tampan, hacker, tsundere itu sifat duo kembar dari MysMe. Jepretan ngeblur, woman issue, sama agak dalam kalau ngomong itu mirip sama Jumin.

6. Yuriko : kambing peliharaan bos, diobsesi sama salah satu anak kembar, peliharaan beruntung di dunia. Semua sifatnya mirip Elly the 3rd. Bedanya, Elly hidup mewah sementara Yuriko hidup biasa aja. Ditambah lagi, dia kambing jantan yang dipaksain betina sama Fuse :v

:: Di chapter 4 ini, Suzuya main otome game yang karakternya merujuk pada Naomasa Sakura ^^

Yah, itu saja diary dari saya. Saya harap di suatu saat nanti saat saya buka fic ini, saya juga inget TLSL. Mengingat otome game keluaran Voltage ini tidak sebooming Mysme, saya khawatir saya bakal ngelupain otome game yang sekarang jadi no 2 di hati saya ini. Terutama karena route Sakuya adalah yang paling berkesan buat saya selama main otome game yang pernah ada.