Meeting the Clan

Chapter 4

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warning : OOC (maybe)

Words count : 3,212


Sebuah pagi hari yang normal di desa Konoha. Tampak jalanan yang mulai ramai dipadati penduduk desa yang mulai melakukan aktivitas paginya. Sekilas, semuanya tampak biasa-biasa saja dan tak ada hal yang istimewa. Akan tetapi, sesungguhnya hari ini adalah hari yang amat istimewa bagi desa Konoha. Sebab, hari ini adalah hari pernikahan sang calon Nanadaime Hokage dengan Hinata. Ya, hanya Hinata. Bukan lagi Hyuuga Hinata.

Tanpa disadari, satu bulan telah berlalu sejak peristiwa pengusiran Hinata dari klan Hyuuga oleh ayahnya sendiri. Kini, Hinata tak lagi berhak menyandang nama klannya. Ia kini dikenal hanya dengan nama Hinata. Tentunya, hal itu akan berubah mulai hari ini, sebab, sebentar lagi Hinata akan resmi menjadi anggota klan Uzumaki dan menyandang nama Uzumaki Hinata.

Peristiwa pengusiran Hinata dari klan Hyuuga mendapat reaksi yang berbeda-beda. Bagi golongan Bunke, peristiwa tersebut adalah hal yang menyedihkan. Banyak anggota klan golongan Bunke yang begitu menyayangkan pengusiran Hinata. Selama bergenerasi, hanya Hinatalah anggota golongan Souke yang telah memperlakukan mereka sebagai sesama Hyuuga dan bukannya sebagai bawahan yang harus dikendalikan dengan segel terkutuk. Selain itu, dengan diusirnya Hinata, satu-satunya anggota klan Hyuuga yang berniat menghapus kasta di klan Hyuuga, golongan Bunke merasa kehilangan harapan untuk bisa melepaskan diri dari belenggu segel terkutuk yang telah mengikat kebebasan mereka selama berpuluh tahun.

Di sisi lain, anggota Souke garis keras tentu merasa berbahagia. Mereka telah kehilangan seseorang yang dianggap ancaman bagi kelangsungan tradisi yang berlangsung selama berpuluh tahun. Tampaknya golongan Souke memang terlalu keras kepala untuk mengubah pemikiran mereka.

Mengenai Hiashi. Sebagai seorang ayah, keputusannya malam itu sebenarnya merupakan salah satu keputusan paling berat yang pernah diambilnya. Akan tetapi, setelah melalui perdebatan singkat dengan dirinya sendiri, Hiashi sadar, tindakan yang diambilnya tersebut merupakan satu-satunya jalan bagi kebahagiaan Hinata. Ketika Hinata sudah resmi bukan lagi anggota klan Hyuuga, tak akan ada lagi yang bisa menghalangi pernikahannya dengan Naruto. Selain itu, dengan kedudukan putrinya sebagai istri dari Hokage, Hinata akan tetap bisa menjalankan impiannya dan impian Neji sejak lama; menghapuskan kedua golongan yang ada pada klan Hyuuga. Hinata akan lebih leluasa bergerak karena kini ia bukanlah anggota klan lagi. Dan di detik Hiashi menyadari hal ini, Hiashi tahu keputusan mana yang harus diambilnya.

Namun, meskipun Hinata bukan lagi anggota klan Hyuuga, hubungan darah yang dimiliki Hinata dan Hiashi tak akan pernah putus. Untuk sekarang, dan selamanya, Hiashi tetaplah ayah dari Hinata. Dan karena alasan itu pula, saat ini kita dapat melihat Hiashi sedang berada di lokasi pernikahan Hinata dan Naruto, tepatnya di sebuah area terbuka yang dikelilingi pepohonan.


Lokasi yang terbuka memang sengaja dipilih oleh Naruto dan Hinata dengan 2 alasan. Alasan pertama adalah karena pernikahan ini akan dilaksanakan pada musim semi yang penuh dengan bunga sakura yang bermekaran. Pernikahan di bawah mekarnya bunga-bunga sakura sendiri merupakan impian setiap wanita karena keromantisannya, dan Naruto (dengan nasihat Sakura, tentunya) telah memilih tempat ini karena alasan itu pula. Dan ketika Naruto melihat wajah bahagia Hinata ketika ia menyampaikan alasannya, Naruto benar-benar berterima kasih karena Sakura untuk pertama kalinya telah memberikan sebuah nasihat yang berharga baginya.

Alasan kedua adalah masalah undangan pernikahan ini. Jika diserahkan kepada Hinata dan Naruto sendiri, mereka hanya menginginkan sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri oleh teman-teman mereka sendiri. Namun sayangnya, dengan posisi Naruto sebagai calon Hokage ditambah reputasi Naruto sebagai pahlawan perang tak memungkinkan untuk pesta pernikahan sederhana. Tsunade sendiri sudah memperingatkan Naruto untuk mengundang keempat Kage lainnya dan juga petinggi-petinggi klan dari desa Konoha sendiri jika Naruto masih berniat menjadi Hokage. Selain itu, ketika berita pernikahan Hinata dan Naruto tersebar, begitu banyak orang-orang yang ingin menyaksikan secara langsung pernikahan 'pasangan paling kuat' di desa Konoha itu, dan otomatis jumlah undangan yang harus disebar pun bertambah. Oleh sebab itu, pernikahan yang diadakan outdoor tentunya akan mengurangi permasalahan 'peletakan' tamu-tamu pernikahan mereka.


Hiashi sedang mengawasi para pekerja yang masih berseliweran di lokasi pernikahan. Ada yang sedang memasang dekorasi, ada yang sedang merias panggung kecil yang disewa untuk pengucapan janji kedua mempelai, dan beberapa ada yang sedang menggotong meja-meja panjang untuk meletakkan berbagai menu makanan untuk acara nanti.

"Hei, kau yang disana, menurutku dekorasi yang kau letakkan itu terlalu miring ke kanan 5 cm. Cepat perbaiki itu!" Hardik Hiashi kepada salah seorang dekorator. Mendengar protes Hiashi, decorator tersebut lalu dengan malas menggesernya sedikit ke kiri.

"Mengapa panggungnya menjadi begitu norak? Kurangi beberapa warna jingganya!"

"Taplak ini memiliki noda hitam di bagian bawahnya, cepat diganti!"

Demikianlah beberapa omelan Hiashi terhadap decorator yang bertugas di area pernikahan tersebut. Tampak beberapa orang yang mulai mendesah malas mendengar Hiashi yang terlalu cerewet mengomentari hasil pekerjaan mereka. Melihat desahan-desahan panjang disana-sini, Hiashi hendak membuka mulutnya lagi untuk mengomeli mereka ketika tiba-tiba ia merasakan ada sebuah tangan di pundaknya.

"Otou-san ternyata berada disini!" Ucap orang tersebut yang tak lain adalah sang mempelai laki-laki, Uzumaki Naruto.

"Aku bukan Otou-san mu.." Geram Hiashi mendengar panggilan sayang Naruto untuknya.

"Hehehe, tapi kan sebentar lagi aku akan menjadi suami Hinata-ttebayo.. Itu artinya Hiashi-sama akan menjadi ayahku juga." Balas Naruto dengan cengiran lebarnya.

"Terserahmulah, Uzumaki." Hiashi enggan berargumen dengan calon menantunya ini di pagi hari. "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah harusnya kau bersiap-siap? Hanya tinggal 6 jam lagi sebelum pernikahanmu, kau tahu."

"Err, masih begitu lama, Hiashi-sama. Jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat dulu lokasi pernikahanku nanti. Lagipula, aku bosan-ttebayo! Tenten dan Ino tak mengizinkanku bertemu dengan Hinata sejak kemarin." Rengek Naruto pada Hiashi.

"Uzumaki, itu memang tradisi. Kau tak boleh bertemu dengan Hinata dua hari sebelum pernikahan kalian." Balas Hiashi datar.

"Hahh.. Aku tahu itu tradisi, tapi aku kan rindu Hinata-chan.." ujar Naruto tak bersemangat seperti tadi. "Oh ya, Hiashi-sama, aku rasa sebaiknya kau bersiap-siap. Tak perlu mengawasi para pekerja ini, aku yakin mereka akan melakukan semuanya dengan baik!"

"Naruto, kau lihat sendiri daritadi mereka melakukan beberapa kesalahan kecil. Harus ada seseorang disini untuk mengawasi mereka, Naruto."

"Biar aku saja, Hiashi-sama. Haah, mendokusai.." Terdengar sebuah suara familiar berada di belakang Naruto dan Hiashi. Tampak dua orang shinobi, yang seorang pria dengan tampang malas dan yang seorang lagi seorang kunoichi Sunagakure dengan rambut blonde yang diikat dua.

"Shikamaru! Hei, kau benar-benar baik-ttebayo! Mau membantu Hiashi-sama mengawasi para decorator ini."

"Bukannya aku mau, Naruto, tapi gadis merepotkan ini yang memaksaku." Balas Shikamaru sambil menunjuk ke arah Temari.

"Terserah apa katamu, Nara. Hiashi-sama, sebagai ayah dari mempelai perempuan, sebaiknya Anda segera mempersiapkan diri. Dan kau, Naruto, kau adalah mempelai laki-lakinya! Cepat persiapkan dirimu! Jangan bersantai karena kau mengira masih ada banyak waktu." Ucap Temari mengusir baik Hiashi maupun Naruto untuk segera mempersiapkan diri mereka.

"Terima kasih, Nara-san dan uhm.." putus Hiashi karena ia tak mengetahui nama keluarga Temari.

"Panggil saja aku Temari, Hiashi-sama. Kami tak memiliki nama keluarga."

"Terima kasih, Temari-san." Ujar Hiashi sambil sedikit membungkuk. "Ayo, Naruto, kita harus segera bersiap-siap." Hiashi segera menyeret Naruto menuju kediaman Hyuuga.

"Eeeh? Kenapa aku ikut ke kediaman Hyuuga, Hiashi-sama?" tanya Naruto bingung. Sejak kejadian di klan Hyuuga sebulan yang lalu, Naruto memang tak pernah lagi mengunjungi kediaman klan terbesar di Konoha itu lagi. Dan kini, tiba-tiba saja Hiashi mengajak Naruto ke kediaman Hyuuga?

"Persiapanmu akan lebih mudah dilakukan di kediaman Hyuuga yang luas, Uzumaki. Aku juga sudah memanggil temanmu. Dan kau tak perlu takut soal tetua; aku sudah mengirim mereka ke Kiri dengan alasan pertemuan diplomatis. Hanya ada aku, Hanabi, dan anggota Bunke klan Hyuuga sekarang."

Mendengar alasan Hiashi, Naruto hanya bisa pasrah sambil menggerutu kecil 'dasar sombong'.

"Apa katamu, Uzumaki?"

"E-eeh, tak apa-apa, Hiashi-sama!"


Di salah satu kamar yang ada di kediaman Hyuuga (klan Hyuuga memiliki puluhan kamar yang tersebar di berbagai gedung kediaman mereka) tampak tiga orang kunoichi. Dua diantaranya sedang sibuk membongkar beberapa peralatan make-up, sementara satunya lagi tampak sedang mengamati kimono pernikahannya nanti.

"Aduh, Tenten kemana sih! Padahal dia yang tinggal bersama Hinata, tapi kenapa malah dia yang terlambat." Gerutu Ino. Ya, memang sejak peristiwa diusirnya Hinata dari klan Hyuuga, Hinata tinggal bersama Tenten. Meskipun Naruto menawari Hinata untuk tinggal bersamanya, Hinata menolak, sebab ia tak ingin kehormatan Naruto tercemar karena tinggal bersama seorang gadis yang belum menjadi istrinya. Akhirnya, Hinata meminta bantuan kepada Tenten yang kebetulan memang tinggal sendirian di apartemennya. Telah sebulan Hinata tinggal bersama Tenten.

"Mungkin dia masih ada urusan, sabarlah Ino-pig." Balas Sakura sembari menyelipkan ejekan dalam kata-katanya.

"Apa katamu!? Dasar jidat lebar!" balas Ino tak kalah sengit.

"Sudah, sudah, Ino-chan, Sakura-chan, jangan bertengkar. Mari kita segera melihat gaun ini, indah bukan?" Ujar Hinata melerai pertengkaran yang akan segera terjadi antara Ino dan Sakura.

"Ehh, gomenne, Hinata-chan. Padahal seharusnya kami membantu meriasmu, tapi kami malah bertengkar, hehehe." Ino sedikit merasa bersalah karena tadi malah terpancing oleh ejekan Sakura.

"Gomenne, Hinata-chan, aku malah mengejek Ino-chan." Ucap Sakura meminta maaf dengan tulus terhadap Hinata.

"Sudahlah, tak apa-apa, Ino-chan, Sakura-chan." Balas Hinata lembut.

BRAKK!

"Maaf aku terlambaatt!" Muncul seorang gadis muda dengan rambut dicepol dua yang sedikit terengah-engah karena sudah berlari hingga ke kediaman Hyuuga.

"Tenten-chan, kau kemana saja sih. Lama sekali kau mengambil h- UMPHH!" Sebelum perkataan Ino selesai, Tenten buru-buru sudah membungkam mulut Ino.

"Mengambil apa, Tenten-chan?" Tanya Hinata penasaran.

"Eee, bukan apa-apa, Hinata-chan, hehehe." Jawab Tenten ambigu yang malah membuat Hinata semakin penasaran. "Nanti juga kau akan tahu kok, Hinata-chan."

Melihat Hinata yang masih tetap penasaran dan masih mau menanyakan pertanyaan lain, Sakura segera mengalihkan topik pembicaraan. "Hinata-chan, kemarilah. Menurutmu, lebih bagus lipstick yang merah tebal ini atau yang merah muda?"

Dan demikianlah, selama beberapa jam kemudian para kunoichi tangguh Konoha ini disibukkan dengan kegiatan merias diri mereka untuk acara penting malam nanti.


Pihak Naruto

Naruto kini berada di salah satu kamar luas yang ada di kediaman Hyuuga bersama Kiba dan Shino. Sebenarnya Naruto sendiri bingung, sebab, sebagai seorang lelaki tentunya hal-hal yang harus diurusnya juga semakin sedikit. Naruto tak perlu repot-repot berdandan seperti seorang wanita. Cukup memakai sebuah jas dan voila ! Naruto sudah siap untuk menghadiri pernikahannya sendiri.

"Eh, Kiba, Shino, mengapa baru jam 11 pagi kita sudah harus bersiap-siap? Bukankah pernikahan baru diadakan jam 3 nanti?" Tanya Naruto menyuarakan keheranannya tersebut.

"Naruto, meskipun pernikahanmu diadakan jam 3 nanti, kau harus sudah bersiap-siap sekarang. Mengapa? Karena yang harus dipersiapkan untuk pernikahanmu nanti bukan hanya pakaianmu, melainkan kau juga harus sudah menghafal sumpah pernikahanmu nanti." Shino menjelaskan alasannya kepada Naruto dengan formal.

Naruto sweatdropped mendengar penjelasan Shino. 'Seperti biasanya, Shino belum juga berubah-ttebayo..'

"Nah, Naruto! Kami berdua ada disini untuk memastikan kau benar-benar 'siap' untuk pernikahanmu dengan Hinata!" Ujar Kiba sambil mengedipkan matanya.

"Apa maksudnya, Kiba?" Tanya Naruto yang heran dengan kedipan mata Kiba.

"Hee, jangan pura-pura bodoh, Naruto, tentu saja aku ada disini untuk mengedukasimu tentang apa saja yang harus dilakukan pada 'malam pertama', baka Naruto! Bwahaha." Kiba tertawa keras sambil merangkul pundak Naruto.

'Kau tak perlu menjelaskan apa-apa padaku-ttebayo… Aku bahkan sudah melakukan malam pertamaku dengan Hinata sebelumnya, Kiba…' Gerutu Naruto dalam hati. Tentu saja, Naruto tak akan memberi tahu hal ini pada Kiba dan ia hanya memberikan seulas senyum palsu pada niat Kiba tersebut. 'Bisa gawat kalau Kiba dan Shino tahu-ttebayo.."

"Kiba, menurutku kau tak perlu mengedukasi Naruto tentang hal seperti itu. Mengapa? Karena sebagai murid dari Jiraiya-sama dan Rokudaime-sama, aku yakin Naruto telah memiliki pengetahuan tentang hal seperti itu."

"Shino!" Teriak Naruto malu mendengar penuturan frontal Shino. Memang apa yang dikatakan Shino tidaklah salah. Naruto memang sudah sering mendengar cerita-cerita mesum dari kedua gurunya itu. Tapi kenapa Shino harus mengatakannya di depan Kiba?

"Naruto… Aku harap kau belum melakukan apa-apa pada Hinata…" Geram Kiba mendengar penjelasan Shino.

"E-eeh, tenang saja, Kiba, aku pastikan Hinata baik-baik saja-ttebayo! Tak perlu curiga seperti itu." Bohong Naruto pada Kiba.

"Hmph! Aku pegang kata-katamu itu, Naruto. Awas saja kalau nanti aku mendapat kabar yang berbeda, Naruto!" ancam Kiba pada Naruto.

"Iyaa, Kiba, sekarang bisakah kita fokus pada persiapan pernikahanku?" Tanya Naruto yang frustasi karena sejak tadi mereka malah membicarakan kehidupan pribadi Naruto dan Hinata.

"Baiklah, baiklah."


Pukul 2.55

Tanpa terasa, dengan segala kesibukan persiapan pernikahan, waktu kini telah menunjukkan pukul 2.55 sore. Tinggal 5 menit lagi sebelum pernikahan Uzumaki Naruto dengan Hinata berlangsung. Tampak tamu-tamu mulai memadati area pernikahan tersebut. Orang-orang dari berbagai kelas masyarakat menghadiri pernikahan tersebut. Mulai dari rakyat biasa, shinobi dari berbagai desa, hingga petinggi-petinggi Negara seperti para Kage dan daimyo dapat dilihat bertebaran di area pernikahan. Pernikahan antara calon Hokage sekaligus pahlawan perang dunia shinobi dengan sang mantan putri Hyuuga memang acara besar yang dihadiri banyak orang.

Di tengah-tengah kerumunan tersebut, tampak beberapa anggota Bunke klan Hyuuga yang menghadiri pernikahan ini. Mereka menghadiri pernikahan ini sebagai penghormatan bagi Hinata yang telah melakukan begitu banyak perjuangan demi membebaskan mereka dari segel kutukan, bahkan setelah diusir dari klan Hyuuga pun Hinata masih tetap memperjuangkan kebebasan mereka.

Sementara itu, Naruto dengan Iruka sebagai walinya, kini berdiri di depan sebuah panggung kecil tempat nantinya kedua mempelai akan saling mengucap sumpah. Iruka kini sedang sibuk menenangkan Naruto yang begitu gugup sejak ia berdiri di depan panggung ini 5 menit yang lalu.

"S-Sensei, aku gugup-ttebayo…" Bisik Naruto pelan pada Iruka. "Bagaimana kalau Hinata tidak datang, bagaimana kalau dia tiba-tiba berubah pikiran dan tak ingin menikahiku lagi.." Pertanyaan yang berakar dari ketidakpercayaan diri Naruto. Naruto masih tak percaya, bahwa wanita secantik dan sehebat Hinata bisa mencintai dirinya, yang bukan siapa-siapa ini. Dan rasa takut itu kembali menyeruak kini di depan altar tempat mereka akan mengucap janji nantinya.

"Hei, Naruto, pertanyaan macam apa itu. Kau tahu Hinata mencintaimu sudah sejak lama, tak mungkin dia berubah pikiran. Sekarang, hilangkan pikiran anehmu itu dan fokuslah. Hinata sudah datang bersama ayahnya." Ujar Iruka berusaha menenangkan Naruto yang sangat gugup.

Mendengar ucapan Iruka, Naruto segera memalingkan kepalanya dengan sangat cepat ke arah Hinata yang kini sedang menggamit lengan ayahnya. Melihat acara yang akan segera dimulai, semua undangan terdiam dan mengamati upacara antara dua orang ini.

Sementara itu, Naruto benar-benar terpana melihat kecantikan alami Hinatanya. Make-up yang dipakai Hinata tidaklah terlalu tebal; hanya bedak putih tebal dan lipstik merah ala mempelai wanita pada umumnya, dengan kimono pernikahan yang tampak begitu anggun melekat pada tubuhnya. Namun, di atas semua itu adalah wajah Hinata yang tampak begitu bahagia. Senyuman tipis ala Hinata ditampilkan pada Naruto yang menatap ke arahnya berhasil menenangkan hati Naruto yang bergemuruh keras.

Terlalu larut dalam tatapannya ke arah sang mempelai wanita, Naruto sempat kaget ketika menyadari wajah Hinata yang kini berada tepat di hadapannya, bersama sang ayah. Naruto lalu kembali memberikan senyuman tipis, namun kali ini ditujukan pada sang ayah mertua, Hyuuga Hiashi, lalu Naruto berbisik pelan, "Aku akan menjaga Hinata dengan nyawaku, ayah."

Hiashi hanya mendengus kecil sambil membalas perkataan Naruto, "Sudah kukatakan, aku bukan ayahmu, Uzumaki. Dan.. aku percaya padamu."

Hiashi menyerahkan Hinata pada sang Uzumaki, lalu duduk bersama dengan Iruka di baris terdepan. Melihat mata Hiashi yang berkaca-kaca, Iruka lalu menyodorkan sebuah tisu pada Hiashi. Hiashi heran melihat gestur Iruka itu. Namun, ketika ia menatap wajah Iruka, ia melihat Iruka yang sedang menangis terharu melihat pernikahan murid yang paling dibanggakannya itu.

"Apa-apaan guru akademi ini, memberikanku tisu. Apa ia mengira aku akan menangis?" pikir Hiashi dengan sombong. "Tunggu, kenapa mataku kabur? Ah, tampaknya mataku kemasukan debu." Batin Hiashi sambil menyeka air mata yang mengalir bebas dari kedua matanya.


Naruto kini berdiri bersama mempelainya di hadapan Godaime Hokage yang akan memberkati pernikahan mereka. Ya, acara pernikahan di kelima Negara besar shinobi memang menggunakan Kage sebagai orang yang akan mengesahkan pernikahan mereka. Dan meskipun Hokage saat ini adalah Kakashi, Kakashi sendiri merasa tidak cocok untuk mengesahkan suatu pernikahan. Akhirnya, Tsunade selaku Godaime Hokage yang didaulat untuk mengesahkan pernikahan Naruto dan Hinata.

Tsunade memberikan cincin kepada Naruto. Naruto menerimanya dengan senyum lebar, lalu memberikan senyuman paling indah pada Hinata.

"Hinata, kau telah ada bagiku, bahkan saat aku belum menyadari kehadiranmu. Kau selalu ada, di saat aku masih seorang bocah 12 tahun yang menyebalkan kau juga telah ada di sampingku. Aku yang dulu terlalu buta untuk menyadari kehadiranmu. Hingga aku pergi bersama Jiraiya-sensei selama 3 tahun, kau juga masih setia menungguku untuk menyadari kehadiranmu. Bahkan, setelah pengakuan cintamu itu, aku masih belum menyadarimu. Aku mulai menyadari cintamu, Hinata, setelah segala kekacauan dunia shinobi berakhir. Dan saat aku sudah menyadari cintaku terhadapmu pula, Hinata, kau memutuskan untuk pergi bersama Toneri. Di saat itu, seluruh duniaku terasa hancur. Aku sempat merasa tak ingin hidup lagi, tak ingin melanjutkan kehidupan ini tanpa cintamu. Namun kini, kau telah kembali bersamaku. Bahkan, satat ini kau akan menjadi istriku. Dan Hinata, hanya kaulah wanita yang kucintai, satu-satunya wanita yang akan menemaniku hingga akhir hayatku. Aku berjanji, Hinata, untuk selalu mencintaimu, dalam kondisi kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit, muda ataupun tua, aku akan tetap mencintaimu, hingga kematian memisahkan kita."

Naruto lalu menyelipkan cincin pernikahannya ke dalam jari manis Hinata, lalu memberikan anggukan mendorong Hinata untuk mengucapkan sumpahnya pula.

"Naruto-kun, aku telah mengagumi keteguhanmu sejak dulu. Aku yang dulu, adalah Hinata yang pengecut. Selalu takut mengambil jalan yang salah. Selalu menangis akan setiap kegagalan yang kuperoleh, selalu ingin melarikan diri dari masalah yang kumiliki. Namun, ketika aku melihatmu, sang bocah yang selalu dijauhi penduduk desa dan tak berbakat dalam hal ninjutsu, namun tetap berlatih sekuat tenaga dan sama sekali tidak membenci orang-orang yang membencimu, aku bagaikan memperoleh cahaya mentari dalam duniaku yang gelap. Tanpa kusadari, Naruto-kun, rasa kagum itu telah berubah menjadi rasa cinta. Aku menunggu dengan sabar, hari dimana akhirnya kau akan menyadari kehadiranku, hari dimana aku bisa berhenti mengejarmu dan berjalan berdampingan denganmu. Dan kini, hari itu telah tiba, hari dimana aku akan menjadi istrimu. Naruto-kun, hanya kaulah pria yang kucintai. Satu-satunya pria yang akan menjadi ayah dari anak-anakku, satu-satunya pria yang akan menemaniku hingga akhir hayatku. Aku berjanji, Naruto, untuk selalu mencintaimu, dalam kondisi kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit, muda ataupun tua, aku akan tetap mencintaimu, hingga kematian memisahkan kita."

Hinata lalu menyelipkan cincin pernikahannya ke dalam jari manis Naruto. Tanpa bisa ditahan lagi, air mata kebahagiaan meleleh keluar dari kedua manik Hinata.

"Kalian kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Bagi mempelai pria, silahkan memberikan kecupan pertama bagi istrimu."

Tanpa menunggu lagi, Naruto segera memberikan sebuah ciuman penuh cinta bagi Hinata. Ciuman yang menyegel pernikahan mereka. Ciuman pertama mereka sebagai suami istri. Ciuman yang menjadi awal dari lembaran baru kehidupan mereka.


END

Yaahhh, akhirnya, cerita ini mencapai akhirnya jugaa! Maafkan saya yang telah gagal memenuhi janji update kilat di hari Jumat. Ternyata membuat chap pernikahan tak semudah yang saya bayangkan T.T Saya sungguh berharap, chapter ini dapat menjadi penutup yang baik bagi ketiga cerita yang telah saya persembahkan. Silahkan tinggalkan komentar kalian di kolom review. Oh ya, saya juga hendak membuat sekumpulan one-shots tentang cerita NaruHina setelah pernikahan. Silahkan berikan ide kalian mengenai one-shots tersebut di kolom review ya :D

Sebagai hadiah bagi para reader, ada sedikit omake setelah pernikahan NaruHina ^.^


OMAKE

Resepsi pernikahan Naruto dan Hinata telah selesai. Kini Naruto dan Hinata sedang berada di dalam apartemen kecil milik Naruto. Tentu saja, Naruto tak berniat menjadikan apartemen kecil ini sebagai tempat tinggal istri dan calon bayinya. Naruto hendak membelikan sebuah rumah, dengan taman yang luas agar kelak anak-anaknya dapat bermain disana. Namun, kini Naruto masih merahasiakan hal itu dari istrinya.

Naruto yang baru selesai mandi, menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas meja makannya dengan ekspresi bingung sambil memegang sebuah kado pernikahan berwarna hijau.

"Ne, ada apa, Hinata-chan? Kau tampak bingung." Tanya Naruto.

"Um, aku hanya penasaran, Naruto-kun. Kado yang ini sangat berat, berbeda dari kado-kado yang lain. Kira-kira isinya apa ya?" Tanya Hinata dengan wajah polosnya.

"Hehe, kalau penasaran, kita buka saja kado ini, Hinata!" Naruto langsung membuka kado itu dengan beringas, meninggalkan sisa-sisa kertas kado itu berserakan di lantai.

Kini yang tampak hanyalah sebuah kotak putih. Tanpa ragu lagi, pastilah isi dari kotak hijau itu berada di dalam kotak ini. Naruto lalu segera membukanya, dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat benda di dalam kotak tersebut.

"Naruto-kun, apa itu? Mengapa tampaknya kau begitu terkejut?" Tanya Hinata menyadari ekspresi aneh pada wajah suaminya.

"Bwahahaha… Kado ini, kado ini lucu sekali-ttebayo!" Ujar Naruto sambil tertawa keras.

"Memang isinya apa, Naruto-kun?" tanya Hinata penasaran, lalu mengintip ke arah kado itu.

"Oh, ya ampun…" Hinata mulai terkikik saat menyadari isi dari kotak kado itu.

Ya, itu adalah kado dari Rock Lee, yang berisi dumbbells.

END

Kali ini, benar-benar END :D

*omake terinspirasi dari Konoha Hiden chapter Rock Lee*