Warn

Gore, banyak pembunuhan, darah, kata-kata kasar dan lain-lain.

Rated

T

Genre

Suspense, crime, friendship, tragedy, adventure, angst dan romance.

Disclaimer

Aku nggak punya vocaloid

Info

"Abc" = percakapan

'Abc' = pikiran tokoh

Abc = flashback

Don't like? Don't read! Tombol back selau tersedia.

.

.

.

A Knight and a Prince

.

.

.

"A-APA?! BENARKAH ITU?!" teriak seorang wanita berambut coklat pendek, tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan barusan.

"Ya! Si Butcher hitam diperkirakan berada di penginapan di pinggir kota!" seru seorang pengawal mengulang perkataannya tadi. Mendengar itu wanita berambut coklat yang bernama Meiko itu menjadi tegang. Tentu saja kemungkinan besar ia akan menghadapi orang yang lebih kuat darinya. Ia pernah merasakan perasaan 'itu' ketika menghadapi Kaito. Namun karena Kaito kini lebih lemah darinya ia tidak lagi merasakan perasaan 'itu'.

"Baiklah! Antar aku kesana!" seru Meiko sembari berjalan menuju pintu, meninggalkan Hatsune sendirian dan tentunya kebingungan. "Oh ya, Miku kau boleh pergi dan tolong panggil Kaito yang sedang membersihkan kandang kuda. Oke?" pinta Meiko sambil memberikan Hatsune sebuah kedipan mata.

Namun saat itu Hatsune yang masih kaget dan sedikit bingung dengan keadaan barusan hanya mengangguk, tidak menyadari arti kedipan mata yang diberikan Meiko. Jika Hatsune tahu arti dari kedipan mata itu, mungkin ia akan tersipu. Dan mukanya akan semerah tomat.

Tapi sepertinya Hatsune tidak berfikir lagi ketika mendengar pintu ditutup, ia langsung berdiri dan pergi ketempat Kaito dihukum. Namun ia masih bertanya-tanya hal apa yang membuat Kaito dihukum dengan hukuman yang cukup memalukan seperti itu?

Tapi yah itu bukan urusannya, yang terpenting saat ini adalah memanggilnya dan memberitahunya tentang si Butcher hitam. Beserta keberadaan si Butcher tentunya.

.

.

.

"Apa?!" teriak Gumi dan Len bersamaan mendengar perkataan raja Leon. Terutama Gumi, tentu saja sang penyelamat nyawanya mungkin dalam keadaan bahaya. Gumi tak ingin penyelamatnya, Rin ditangkap yah, setidaknya Gumi ingin membalas jasanya terlebih dahulu.

"Ada apa? Dan... Gumi? Kenapa kau datang terlambat?" tanya raja Leon menyadari keberadaan Gumi.

"Ah... i-itu"

"Yang terpenting sekarang dimana si Butcher hitam yah?" seru Len tak sabar.

"Ah kalau itu, kalau tidak salah dia ada di penginapan di pinggiran kota memang ad... hei! Len!" seru raja Leon kaget melihat anaknya beserta tunangannya berlari berpegangan tangan keluar ruangannya. Namun karena tugasnya lebih penting iapun tidak menghiraukan kepergian Len dan Gumi y ang tiba-tiba itu.

.

.

.

"L-len?! Kita mau kemana?" tanya Gumi kaget.

"Tentu saja ke si Butcher hitam!" jawab Len sembari berlari menuju kandang kuda, untuk apa? Tentunya untuk mengambil salah satu kuda dan menuju ke tempat si Butcher hitam. Dan ketika mereka sampai kebetulan ada seekor kuda yang sedang disiapkan oleh seseorang. Tanpa berfikir panjang lagi, Len langsung menaikkan Gumi kepunggung kuda dan Lenpun segera naik kebelakang Gumi.

Dan taklama setelah itu Len langsung memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Dengan Gumi didepannya. Namun sepertinya mereka telah membuat seseorang yang menyiapkan kuda itu jadi kebingungan karena kudanya sudah tidak ada. Selain itu ia pasti juga akan dimarahi karena terlambat datang kesuatu tempat.

"L-len! Kenapa terburu-buru?" seru Gumi yang terkena terpaan angin.

"Aku ingin tahu sehebat apa si Butcher hitam itu! Selain itu, mungkin dia tidak akan melawan jika melihatmu Gumi" jawab Len sedikit berseru. Karena angin juga menerpanya dengan kencang. "Bukakan pintunya!" seru Len ketika mereka mendekati pintu gerbang.

Dengan cepat para pengawal membukakan pintu, walau pintu itu hanya terbuka sedikit itu cukup untuk dilewati kuda yang ditunggangi mereka. Karena terburu-buru dan tidak siap, setelah mereka berdua lewat pintu gerbang itu langsung tertutup dengan keras.

Mungkin jika mereka terlambat beberapa detik mereka akan mati terjepit gerbang yang tingginya sekitar dua puluh lima meter dan lebarnya sekitar dua puluh meter serta tebalnya lima puluh senti. Tentunya beratnya hingga ratusan ton.

Namun kita kesampingkan itu dulu, dengan cepat Len memacu kuda hingga angin membuat salah satu sepatu Gumi terlepas dan tertinggal begitu saja.

"Ah! Sepatuku!" seru Gumi kaget ketika melihat sepatu sebelah kirinya terlepas begitu saja. Namun Len tidak memperhatikannya, ia justru memacu kudanya lebih cepat dan memeluk Gumi lebih erat. Ia takut Gumi akan loncat dan mengambil sepatunya yang tidak lebih beharga dari pada nyawanya.

"Sudahlah Gumi! Nanti aku belikan yang baru!" seru Len tanpa memperdulikan sepatu selop berhak, milik Gumi.

"I-iya..." jawab Gumi lemah melihat sepatunya tertinggal begitu saja.

.

.

.

Sementara itu...

"Kudaku!" seru Kaito panik melihat kuda miliknya dibawa pergi seseorang begitu saja.

"K-kaito! Kenapa?" tanya Hatsune sedikit panik, mendengar suara teriakan Kaito.

"Ah, hanya kudaku yang pergi begitu saja..." jawab Kaito lemas, "Sudah dulu ya Miku, aku akan mengejar kudaku" kata Kaito lagi sambil berlari kearah kudanya yang diambil seseorang.

"Ah! T-tunggu!" seru Hatsune, namun Kaito tak mendengarnya dan terus saja berlari mengejar kudanya. "Iakan bisa mengambil kuda yang lain... kenapa harus yang itu?" ucap Hatsune dengan keringat a'la anime dibelakang kepalanya. Namun, sang calon jenderal besar itu sama sekali tak memperhatikannya, ia terus berlari menuju kudanya yang dapat ia gantikan...

.

.

.

"Benarkah ada si Butcher hitam disini?!" tanya Meiko tidak percaya pada pemmilik penginapan itu, sementara suami-istri pemilik penginapan itu hanya bisa mengangguk saja, sang suami merasa sedikit tidak yakin namun sang istri sendiri merasa sangat yakin kalau itu adalah si Butcher hitam. Namun bagi Meiko itu adalah saat yang merepotkan, bagaimana tidak? Kalau salah ia harus meminta maaf pada pengembara itu dan menghukum pemilik penginapan itu, karena laporan palsu. Dan kalau itu benar maka seharusnya Meiko datang bersama Kaito untuk berjaga-jaga.

Apalagi baru saja ia benar-benar mengetahui kekuatan si Butcher hitam dari Len, makanya Meiko sedikit was-was dan cemas dengan apa yang ia dan para prajurit kelas menengahnya akan hadapi. Meiko hanya bisa berharap kalau Kaito akan segera datang, namun mengingat perjalanan menuju ke penginapan itu sekitar setengah jam, itu juga sudah dengan kuda.

Apalagi kalau berlari... jika kalian mengerti siapa yang dimaksud.

'Tapi apa salahnya untuk mencoba?' pikir Meiko akhirnya. "Baiklah, kamar berapa ia menginap?" tanya Meiko denga suara tegas.

"K-kamar no lima" jawab sang suami. Mendengar itu, Meiko langsung menoleh kebelakang dan mengangguk. Menandakan kalau para prajurit harus bersiap-siap. Setelah melihat para prajuritnya siap. Meiko dengan cepat namun diam-diam menuju kamar yang diberitahukan, bersama dengan para prajuritnya.

Tentunya dengan perasaan tegang, dalam beberapa detik lagi Meiko akan mendobrak pintu itu. Entah apa yang Meiko dan para prajuritnya hadapi, namun begaimanapun juga ia harus melakukannya bukan?

"Baiklah... yang berada diruangan ini harap segera keluar!" seru Meiko, namun setelah beberapa menit tak ada tanda-tanda kalau pemilik sementara ruangan itu akan membukan pintunya. Karena itu, Meiko menyuruh salah satu prajuritnya untuk mendobrak pintu.

"Baiklah, jika anda tidak mau keluar kami akan memaksa masuk!" seru Meiko. Dan dengan itu pintu kamar itu didobrak. Menampakan sesosok gadis berambut pirang berbaju zirah yang sedang tertidur dengan tangan kiri sebagai bantal untuk kepalanya dan badannya yang menghadap tembok kamar, namun karena suara pintu yang didobrak iapun terbangun dan melirik ke sumber suara itu.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/n : sedikit? Aku memang sengaja, jadi jangan marah. Ada kemungkinan besar kejadian berdarah di chapter selanjutnya dan sedikit flashback dari mimpi Rin jadi aku sengaja pisahin jadi sekali lagi jangan marah. :P