The Broken Hero
CHAPTER 3
Disclaimer: Alice Academy selamanya milik Higuchi Tachibana!
Rated: T
Genre: Romance, Adventure
Pairing: Mikan-Natsume of course! But Sumire-Kokoro, Ruka-Hotaru, Tsubasa-Misaki is also there.
Warning: OOC, Typo, dan lain-lain
Selamat datang reader tercinta! #plak Ini chapter ketiga lho! Baru ketiga! #dilempar ke laut sama reader
Maksudnya, udah males ngelanjutin nulis gitu, duh. Yah, mana lagi pengen bikin fanfic baru. Semoga bisa tetep update dan readernya tambah banyak (#april's wish) Kemudian jangan lupa review ya! Please no flame, saran sangat boleh. Keep reading! :D
Sumire memandangi gadis bermata abu-abu itu dengan tatapan ingin tahu. Gadis itu masih tergeletak di tempat tidurnya dalam keadaan pingsan dan tentunya sudah diobati. Sumire hanya heran, mengapa gadis itu dapat ada disana dan dikepung oleh orang-orang itu? Mungkinkah dia telah melakukan suatu hal yang jahat sehingga ia diincar? Namun Sumire berpikir ulang. Seharusnya kalau ia jahat, gadis itu akan ikut membunuhnya pula, namun kenyataannya tidak.
Kalau Sumire menatap baik-baik wajahnya, ia seperti gadis yang tidak punya dosa sedikit pun. Wajahnya terlihat innocent. Saat ia tidur, kedamaian terpancar jelas di wajahnya. Nafasnya pun mengalir teratur dengan pelannya, menandakan ia telah kembali dalam keadaan normal. Tapi hal yang menarik perhatian Sumire adalah rambutnya yang berwarna brunette. Sumire ingat, ibunya selalu memberitahunya untuk menjauhi orang-orang dengan warna rambut itu. Katanya, warna rambut brunette adalah hal yang tersial dalam hidupmu jika kau memilikinya. Warna itu adalah warna yang menunjukkan kegelapan, kehancuran. Semula, Sumire kecil tidak mengerti apa maksud ibunya. Namun, semakin ia bertambah dewasa, Sumire akhirnya tahu bahwa orang-orang berambut brunette adalah orang yang terkutuk karena mereka memiliki kelebihan yang tidak wajar dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Atau orang itu nantinya akan membawa perubahan besar pada dunia.
Dan salah satu dari orang-orang itu kini ada di hadapan dirinya.
Sumire hanya menatap gadis itu kebingungan. Ia pernah mendengar, entah dari siapa, bahwa keturunan orang-orang berambut brunette telah musnah sejak tahun 2000. Ia tidak mengerti apakah rumor itu memang benar, ataukah gadis ini yang benar-benar ada? Sumire menyerngitkan keningnya. Ia tahu sejak dulu ada yang tidak beres dengan kehidupannya. Dunianya. Banyak hal yang masih menjadi misteri baginya dan rasa ingin tahunya tiba-tiba meluap begitu saja. Ia ingin tahu, mengapa gadis dengan paras yang jauh dari kata jelek itu, dapat menguasai berbagai senjata dengan mahirnya. Ia juga ingin tahu, mengapa gadis itu memiliki aura yang asing di antara orang-orang yang pernah ia dekati. Dan ia ingin tahu siapa gadis ini sebenarnya.
Tiba-tiba sebuah pantulan cahaya mengenai bola matanya dan membuatnya refleks menyipit. Ia baru sadar kalau hari telah sore dan matahari tepat menghadap ke arah kamarnya. Sumire kemudian mencari-cari benda yang memantulkan cahaya tersebut. Benda itu ternyata ada pada tangan kanan gadis itu. Sebuah kalung dengan mata kalung yang mengingatkannya pada sebuah lambang keluarga bangsawan. Bentuknya sangat familiar baginya. Matanya terbelalak saat sebuah kata menghampiri pikirannya. Hyuuga. Ia ingat akan keluarga itu. Siapa pula yang tidak mengetahui keluarga bangsawan yang menguasai keluruhan Russia itu? Keluarga itu pun telah memberikan banyak bantuan kepada keluarga Shouda. Ia ingat betul akan lambang keluarga bangsawan yang sama persis dengan mata kalung gadis itu. Jangan-jangan gadis ini adalah salah satu anggota keluarga Hyuuga? pikirnya dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengenyahkan pikirannya barusan. Ia tahu bahwa keturunan terakhir keluarga Hyuuga hanya terdiri dari satu perempuan, dan dia bukanlah orang itu. Mungkin… ia harus memberikan benda itu pada keluarga Hyuuga. Ya, ia harus memberikannya, karena mungkin saja benda itu adalah benda terpenting yang dimiliki Hyuuga. Namun ketika ia beranjak, sebuah tangan mencengkeram tangannya dengan erat.
"Kalau kau berani menyerahkan barang itu, aku tidak akan segan untuk membunuhmu."
Sumire menghentikan langkahnya seketika di samping itu ia juga merasakan ancaman gadis itu saja sudah dapat membuatnya mati rasa. Ia mencoba memberanikan untuk menatap mata gadis itu. Yang tidak lagi berwarna abu-abu, namun hazel.
Ia tidak mengerti mengapa warna mata gadis itu bisa berubah, tapi yang ia tahu, ia kini merasa takut. Hal yang tidak pernah ia rasakan sejak dulu. Kemudian, suara tawa gadis itu memecahkan keheningan di antara mereka. Sumire mengerjapkan matanya kebingungan sampai akhirnya gadis itu berkata,
"Keluarga Shouda. Kaki tangan keluarga Hyuuga, dan keluarga yang tidak pernah padam apinya. Benar kan?" Gadis itu tersenyum lebar dan kemudian melepas cengkraman tangannya perlahan. Namun hal itu tidak membuat Sumire sedikit pun beranjak. Ia terdiam di tempatnya dengan menatap gadis itu tidak percaya. Tidak ada yang tahu bahwa keluarga Shouda memiliki julukan seperti itu sebelumnya. Julukan yang sudah ada sejak keluarganya lahir karena kekuatan mereka yang terus berkembang dan berada dalam kondisi stagnan dan terkoordinir.
"Dan poin yang paling utama adalah musuh utama keluarga Yukihira," ujar gadis itu lagi dengan pandangan serius. Sumire menyerngitkan alisnya, merasa tidak familiar dengan nama keluarga itu. Tapi ia merasa keluarga itu adalah keluarga yang memiliki sejarah di mata dunia. Namun kemudian ia merasa bahwa kalung dalam genggamannya telah hilang, dan matanya membelalak seketika saat menyadari itu.
"K..Kau... Bagaimana bisa?" Sumire bertanya dengan raut tidak percaya.
"Perkenalkan, namaku Mikan Yukihira. Keturunan terakhir dari dewa pertarungan."
-The Broken Hero-
Ruka menekan tombol call saat handphonenya menunjukkan nomor Mikan. Dan hasilnya adalah dering sibuk memenuhi telinganya. Ia tahu sejak awal percuma saja ia menelepon Mikan, tapi ia hanya ingin tahu kondisi sahabatnya. Sahabatnya yang ia sayangi seumur hidupnya. Ia sangat khawatir pada Mikan. Ia tidak ingin Mikan kembali dengan kekalahan ataupun hanya jasadnya saja. Dan ia tidak ingin Mikan bertemu dengan Natsume. Musuh terbesarnya.
Ruka Nogi―atau dengan nama asli Ruka Hyuuga, adalah salah satu keturunan terakhir Hyuuga yang kini berusaha untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Hyuuga. Ia adalah anggota pertama keluarga Hyuuga yang bertemu dengan Mikan, dan dalam seketika mereka dapat bersahabat. Sejak itu, mereka berdua mempunyai janji yang tidak akan pernah Ruka lupakan. Janji untuk selalu bersama. Sebuah janji yang Ruka berani untuk ia utamakan.
Ruka adalah orang yang tidak pernah main-main dengan segala janji yang pernah ia buat. Ia selalu menepati janjinya, seberapa besar pun resikonya. Dan hal inilah yang menyebabkan ia membenci Natsume. Ruka tahu bahwa Natsume pernah berjanji pada Mikan untuk melindungi dan mencintainya selamanya, tapi hanya dengan sebuah kesalahpahaman sedikit saja ia dengan mudah melupakan apa yang pernah ia ucapkan. Dan kekecewaan Mikan terhadap Natsume membuat Ruka merasa kesal. Semula ia berpikir untuk mengikhlaskan sahabatnya untuk Natsume, sepupunya sendiri. Namun kini, ia bersedia mempertaruhkan apapun agar Natsume tidak dapat mendekati Mikan. Ruka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sehingga ia sangat menginginkan segala yang terbaik untuk sahabatnya. Namun, ia menganggap itu semua adalah hal yang harus dilakukan. Kewajibannya.
"Apa kau yakin kau tidak akan pernah berterus terang pada Mikan?" tanya Tsubasa dengan raut wajah yang mencurigakan. Ruka dapat melihat itu dengan jelas. Namun ia jujur saja tidak mengerti apa yang dimaksud Tsubasa sehingga ia hanya menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti. (Author: Ruka begoooo! , Ruka: Apa kau bilang, author kurang ajar! ) Tsubasa menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian tersenyum-senyum sendiri saat mengingat setiap kejadian dimana Ruka selalu mengkhawatirkan Mikan.
"Hei, jangan menunjukkan tampang gilamu disini, Tsubasa," ujar Ruka dingin dan dengan santai Tsubasa hanya menjulurkan lidahnya. Ruka hampir saja ingin menarik lidah itu dan memotongnya, namun tiba-tiba bayangan-bayangan akan Mikan teringat kembali di benaknya. Setiap saat gadis itu selalu memberinya semangat. Selalu memberinya pertolongan. Setiap senyuman yang ia berikan tidak pernah tak berhasil membuatnya luluh. Ia seperti matahari. Bagi Ruka, ia adalah dewa pertarungan yang sesungguhnya. Ruka ingat, Mikan tidak pernah pilih kasih terhadap korbannya. Sekali korbannya melakukan kesalahan yang tidak termaafkan, ia akan segera mencabut nyawanya. Ia sebenarnya juga adalah orang yang sensitif. Hanya saja, segala sikapnya menutupi apa yang sesungguhnya ada pada dirinya. Dan Ruka sangat merindukan itu semua. Ia ingin agar Mikan kembali. Dan ia ingin Mikan tahu, segalanya yang ia rasakan.
Tapi Ruka tahu, tidak semudah itu ia akan berbicara pada Mikan nantinya. Salah-salah ia menyampaikan maksudnya, persahabatan mereka akan hancur. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi Ruka sekarang ini, persahabatan mereka adalah satu-satunya hubungan yang sudah dapat membuat dirinya bahagia. Setiap Ruka ada di sampingnya, ia selalu dapat membuat Mikan tersenyum dan ia sangat mensyukuri itu.
"Kau tahu Ruka-pyon," ujar Tsubasa, "Mikan lebih senang jika kita berterus terang. Masalah apapun itu. Namun apapun jawabannya, kau juga tidak bisa menyalahkannya. Dia adalah orang terbaik yang pernah kukenal. Jadi aku tahu, dia tidak akan mungkin menyakiti perasaanmu, sahabat terbaiknya. Apapun keputusannya, itu adalah jawaban yang terbaik untukmu."
"Jangan terlalu banyak bicara Tsubasa. Kau tidak mengerti."
"Aku tidak sebodoh dirimu, Ruka. Aku tahu, kau mempunyai perasaan yang tidak dapat ditunda untuk sahabatmu itu. Perasaan yang selalu meluap-luap saat ia berada di dekatmu. Perasaan yang tidak rela melepas akan kehilangannya. Perasaan yang menjadi kodrat dari setiap manusia. Perasaan yang kita sebut dengan nama cinta."
-The Broken Hero-
"Janji untuk tutup mulut?" tanya Mikan dengan nada suara yang lebih menyenangkan.
"Yeah, aku janji atas nama Shouda." Sumire menjawab dengan tersenyum lebar seraya menunjukkan gigi-gigi putihnya. Mikan menatap Sumire sekilas, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit. Ia merasa bebas. Berjalan bersama Sumire, ternyata tidak terlalu menarik perhatian. Hal yang dulu selalu terjadi setiap kali ia berjalan sendirian. Kini ia bagai telah lepas dari penjara yang selama ini mengurungnya.
"Aku selalu bermimpi untuk bisa menjadi anak normal," ujar Mikan, menarik seketika perhatian Sumire. Sumire memainkan jemarinya, gugup. Perkataan Mikan mengingatkannya pada cerita masa lalu Mikan yang penuh dengan peperangan. Dimana Sumire kecil bahkan tidak pernah mengenal apa itu kesakitan, kepedihan, dan perjuangan. Sumire mengerti bahwa apa yang dialami Mikan bukanlah hal biasa dan patut untuk diremehkan. Bukan hal yang tidak pantas untuk disepelekan. Dalam acara jalan-jalan sore mereka, Sumire langsung merasa bahwa ada banyak kebaikan yang tersembunyi di balik sikap dingin Mikan dan ia ingin memahami itu.
"Kau ingin tahu mengapa keluarga kita adalah musuh?" tanya Mikan tiba-tiba, membuyarkan lamunan Sumire. Sumire menatap mata hazelnya, kemudian mengangkat bahunya dan berkata,
"Aku tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Tapi kalau itu dapat membuatmu lebih baik, katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku selalu bersedia mendengarkanmu."
"Terkadang masa lalu membawa dampak yang besar bagi masa kini, maupun masa depan. Masa lalu memang bisa dihapus dari memori otak manusia, namun ia tidak bisa hancur dan terlupakan begitu saja. Kau tahu, keluarga Shouda adalah keluarga baru disini. Aku mengenal keluarga itu sejak aku kecil. Jika dibandingkan dengan kedekatannya pada keluarga Hyuuga, keluarga Yukihira tentu menempati peringkat atas namun jika berbicara masalah kesetiaan, keluargamulah yang paling mengambil andil. Keluargamu selalu hadir dan menempati barisan terdepan bila ada satu masalah saja yang mengancam keluarga Hyuuga. Di mataku, keluarga kalian adalah keluarga yang hebat. Aku tahu, keluarga Yukihira, memiliki julukan sebagai dewa-dewa pertarungan. Tapi itu semua tidak berarti apa-apa bagiku, karena kau tahu Sumire, kami tidak punya kebebasan. Hidup kami selalu dihabiskan di ruangan tertutup, berlatih dan berlatih. Peperangan adalah hidup kami. Aku sudah tahu itu sejak dulu sehingga aku tidak pernah merasa terbebani akan itu. Tapi saat aku tahu bagaimana sulitnya mempercayai seseorang, aku merasa bahwa aku mulai rapuh. Saat orang itu meninggalkanku, aku bisa saja bagaikan anjing kecil yang terbuang di jalanan. Aku merasa segalanya dalam diriku menjadi beku. Aku tahu ini salah. Tapi pandangan mataku, setiap kata yang keluar dari bibirku, segalanya mengalir dengan singkat tanpa penuh perasaan. Kepercayaan itu adalah tantangan besar yang paling aku takuti. Dan itulah yang terjadi pada keluarga Yukihira. Kepercayaan kami pada keluarga Shouda terlalu besar sehingga mereka memanfaatkannya. Dan itu semua tidak akan berubah sampai kapanpun. Keluarga kita adalah musuh apapun yang terjadi."
"Aku tidak menganggapmu musuh, Mi-chan," ujar Sumire lembut. "Dan aku dengan senang hati mempertemukanmu dengan tuan muda Natsume."
"Untuk apa? Kami sudah tidak pernah berinteraksi selama bertahun-tahun. Dia juga pasti telah melupakanku dan keluargaku. Dan Luna adalah pendamping hidupnya yang paling tepat. Perempuan itu pasti akan membahagiakannya." Sumire menatap Mikan dengan pandangan sedih. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Mikan adalah kebohongan. Jika ia menjadi Mikan, ia tidak akan pernah melepaskan orang yang ia cintai, seberat apapun tantangannya. Dan pandangan Mikan saat berbicara, dengan jelas mengatakan bahwa ia sangat mencintai laki-laki itu.
"Kau masih mencintai tuan muda Natsume, Mi-chan," ujar Sumire tanpa sadar. Namun Mikan sendiri tidak marah. Ia hanya menatap Sumire dengan tatapan penuh pengertian, yang Sumire sendiri tidak paham maksudnya. Dan tanpa memberikan kesempatan Mikan untuk berkomentar, Sumire berkata lagi, "kalung dengan mata lambang keluarga Hyuuga itulah buktinya. Kalung itu hanya diberikan oleh pemimpin Hyuuga kepada orang yang benar-benar dipilihnya. Bagi keluarga Hyuuga, jika aku tidak salah, kalung itu adalah benda mereka yang paling berharga. Dan aku yakin kau menyimpannya bukan karena kau takut akan keluarga Hyuuga, mengingat kau berani pada siapapun. Tapi karena kau memang ingin menyimpannya. Menyimpan pemberian terakhir dari tuan muda Natsume."
"Sumire, sekalipun aku masih mencintainya, apakah dia masih mengingat ini? Apakah dia masih mengingat setiap janji yang dia ucapkan?"
\\\\\\\\\\\\\
TBC.
Oke. Akhirnya selesai chapter 3.
Lebih dikit ya? Sengaja sih, soalnya biar pas buat lanjutan ceritanya nanti.
Review! Review! Review!
Arigatou des.
