Disclaimer: Tite Kubo

Pairing: IchiRuki

Rate: T

Genre: Adventure, Hurt/Comfort, Supernatural, Romance dan lain-lain.

Warning: OOC, AU, Typo(s), gaje, bahasa ancur, EYD berantakan, dll. Disini Ichigo dkk sudah pada remaja dan dewasa ^^

;;

"Love in Heart defeat of evil"

Story by : Wakamiya Hikaru

Don't like don't read

;;

;;

;;

Rukia POV

Mataku tak mampu berkedip saat melihat tubuh tingginya yang berdiri tidak jauh dariku. Aku tak ingin berkedip, aku takut… aku takut saat aku berkedip orang itu akan menghilang dari pandanganku.

Orang itu, dia adalah pria yang sudah sejak lama kutunggu dan kurindukan, orang yang kucintai… Kurosaki Ichigo.

"Ichi… go…" tanpa adar aku menggumamkan namanya.

"Kurosaki-kun?... apakah kau, Kurosaki-kun?" tanya Inoue dengan suara bergetar menahan tangis,

"…" tanpa menghiraukan Inoue Ichigo terus melangkah, menatap atau menyapa Inoue, Rangiku dan Ashido-senpai pun tidak. Dia terus melangkah berlajan ke arahku, mungkin. Aku berusaha bersikap tenang saat dia sudah dekat denganku,

"A…" Niat untuk menyapanya terlebih dahulu lenyap seketika saat melihatnya berjalan melewatiku dengan pandangan dingin yang ia lemparkan padaku.

DEG!

Perasaan apa ini? Kenapa dadaku terasa sakit?

"Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia bersikap cuek dan mengacuhkan kita? Apa benar dia Ichigo?!" omel Rangiku terhadap sikap Ichigo pada kami beberapa detik yang lalu.

Kulihat Ichigo terus melangkah menjauhi kami, 'Kenapa? Apa yang terjadi padamu Ichigo, kenapa kau mengacuhkanku? Kenapa kau menatapku seperti itu?' tanyaku pada diri sendiri.

Tidak! aku tak mau ichigo mengacuhkanku, aku tak ingin kejadian 11 tahun yang lalu terulang kembali! Dengan cepat aku berlari ke arah Ichigo, meninggalkan Ashido-senpai yang berteriak memanggilku.

;;

;;

"Ichigo!" teriakku, namun bukannya berhenti dia malah terus melangkah meninggalkanku. Tidak menyerah aku pun mencoba mempercepat lariku.

"Tunggu!" aku berhasil manarik hakama yang ia gunakan. Ichigo menoleh ke arahku, aku berharapa saat ia menoleh dia akan tersenyum lembut padaku. Namun harapanku sirna seketika saat dengan kasar Ichigo menepis tanganku.

"Jangan menyentuhku!" ucapnya dengan nada dingin yang sukses membuatku terdiam. Setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu ia segera berbalik dan kembali melangkah. Dengan suara bergetar aku mencoba memanggilnya, "Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Apa yang terjadi padamu Ichigo?!"

Dia berhenti namun tidak berbalik menatapku, ia hanya diam membisu. Beberapa detik kemudian dia kembali melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hatiku kembali sakit, "Tunggu! Sebelum kau mengacuhkanku lebih jauh lagi, ada yang ingin aku tanyakan padamu!"

"…"

"Apa kau… membenciku? Apa kau menyalahkanku? Apa kau marah? Apa perubahan sikapmu kepadaku ini ada kaitannya dengan ke…" aku tak dapat melanjutkan perkataanku saat dengan cepat Ichigo berteriak marah kepadaku

"Ya! Aku marah kepadamu, bahkan aku benci padamu!" ucapnya tegas dengan pandangan benci ke arahku. Seketika hatiku hancur mendengar penuturannya, pria yang selama ini aku tunggu kepulangannya kini datang dengan membawa kebencian di hatinya terlebih lagi rasa benci itu untukku.

"Mulai sekarang pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu, karena itu jangan pernah lagi kau muncul dihadapanku!"

Serasa ada ribuan jarum yang menusukku saat kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari bibirnya. Tanpa sadar air mataku mengalir, "ka,kau mengusirku?"

"… Ya! Dan kuharap, mulai malam ini kau sudah tidak tinggal lagi di rumahku," setelah dengan mudah dia mengucapnya, ia berbalik meninggalkanku yang sudah berurai air mata.

Sebelas tahun yang lalu aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi, sebelas tahun yang lalu aku juga ditinggalkan oleh orang yang dengan baiknya mau menampungku dan menganggapku sebagai anak, bahkan sebelas tahun yang lalu kau juga meninggalkanku sorang diri, sekarang kau kembali setelah sebelas tahun berlalu dan kau berniat mencampakkanku?

"Aku tidak akan membiarkan Rukia diambil oleh orang lain, jika itu sampai terjadi aku pasti akan merebutnya kembali karena aku, pasti akan melindungi Rukia! Itulah janjiku!" ucapku mengulang kalimat yang pernah diucapkannya 11 tahun yang lalu. "Bagaiamana dengan janjimu itu?" tanyaku padanya yang kini mulai memandangku dengan ekspresi terkejut.

Kulihat ia hanya diam tapi kemudian dia kembali menatapku dengan datar, "Itu hanya ucapan omong kosong dari seorang bocah yang belum mengenal apa-apa, jadi itu sama sekali bukan janji… melainkan hanya bualan!"

Aku hanya tersenyum getir mendengar pengakuannya, "Begitukah jadi itu hanya bualan?" kulihat ia memalingkan wajahnya dariku, kenapa? Kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa kau tidak tega melihat wajah sedihku? "bisakah kau biarkan aku tetap tinggal bersamamu? Biarkan aku tinggal di rumahmu Ichi,"

"Cih, jangan bercanda! Untuk apa aku tetap membiarkanmu tinggal bersamaku?"

Aku menatap wajahnya dengan sendu, "sebagai permintaan terakhir dari Tou-san untukmu…" sekejap langsung kurasakan sebuah benda yang dingin menyentuh permukaan leherku. "apa maksudmu hah?! Kau pikir aku akan termakan oleh ucapan omong kosong darimu? Jangan bicara bodoh seperti itu sementara kau lah penyebab kaa-san dan tou-sanku pergi meninggalkanku!" Ya. Aku tau itu Ichi, aku menyadari hal itu sejak dulu, sejak kau tidak berani menatapku lagi, tak kusangka kau akan mengungkapnya dengan keadaan dirimu yang sudah dikuasai kebencian terhadapku.

Dengan mata yang sudah bercucuran air mata aku menatap wajahnya yang memandang marah ke arahku. "Aku tau, aku menyadari itu, tapi biarkanlah aku tinggal bersamamu untuk memenuhi janjimu kepada kaa-san disaat hari terakhirnya."

"Kau…"

"Aku yakin kau pasti marah kepadaku, bahkan mungkin membenciku, aku sudah memperkiraan hal ini akan datang, karena itu aku bertekad jika hari dimana kau memgungkapkan kebencianmu kepadaku atas kematian kaa-san dan tou-san, saat itu juga aku bersedia mati ditanganmu ichi," ungkapku tulus.

Dengan pasrah aku menutup mataku saat kurasakan pedang yang bersarang di leherku semakin ditekan, namun beberapa detik kemudian aku tidak lagi merasakan keberadaan pedang di leherku. Dengan pelan kubuka mataku, dapat kulihat Ichigo sedang membelakangiku.

"Kau memang akan mati ditanganku, tapi tidak sekarang. Masih terlalu mudah untukmu merasakan kematian di tanganku." Aku tersenyum mendengar perkataannya. Meski ucapannya kasar, aku yakin bahwa hati lembut Ichigo 11 tahun yang lalu masih bersemayang di hatinya yang saat ini dipenuhi oleh kebencian.

;;

;;

Normal POV

Seireitei tempat terdalam di Soul Society yang merupakan tempat berkumpulnya para Shinigami. Di tempat inilah sokolah shinigami berada, sekolah yang disediakan untuk anak-anak yang berminat menajadi shinigami. Di sekolah ini anak-anak di didik untuk menjadi seorang Shinigami yang dapat menjaga ketentraman kota Soul Society.

Di seireitei sekolah Shinigami terbagi menjadi beberapa macam yaitu, sekolah yang disediakan untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa yang sudah menyandang status sebagai kapten. Mereka yang sudah menyandang status kapten ditempatkan di tempat yang khusus dan mereka juga mendapatkan ruangan masing-masing dengan ditemani oleh para wakilnya.

Di sebuah ruangan yang bertuliskan 'divisi 1' merupakan tempat yang dipakai untuk ruang rapat yang digunakan untuk mendiskusikan sesuatu yang sangat penting. Dan saat ini di tempat tersebut sedang diadakan rapat, bukan untuk mendiskusikan sesuatu yang genting tetapi untuk mengetahui sesuatu hal, yaitu tentang kembalinya seseorang yang menghilang sejak 11 tahun yang lalu.

"Kurosaki Ichigo 11 tahun yang lalu kau menghilang tepat sehari dimana kau dan keluargamu diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dan itu mengakibatkan terbunuhnya kedua orang tuamu. Sekarang kau kembali setelah 11 tahun berlalu. Menghilang dan kembalinya generasi terakhir dari keluarga Kurosaki membuat tanda tanya besar bagi mereka yang hadir di sini." kata seorang kakek-kakek dengan jenggot putihnya yang panjang kepada seorang yang duduk di tengah-tengah ruang tersebut.

Lelaki itu – Kurosaki Ichigo hanya diam mendengar penuturan dari sang Soutaichou a.k.a Yamamoto Genryusai Shigekuni, pemimpin tertinggi angkatan shinigami di soul Society. "Menurut laporan yang di terima kau terjatuh ke sunyai sehingga kau terbawa arus. Kau ditemukan oleh seorang pria yang bernama Ukitake dan kau di selamatkan oleh pria itu, kau tidak sadarkan diri Selama 3 hari. Benarkah laporan itu?"

"Ya!" jawab Ichigo dengan tegas. "Lalu? Apa yang kau lakukan setelah sadar? Kenapa kau tidak segera kembali ke Soul Society?" tanya Yamanoto dengan nada penuh selidik. Ichigo hanya menatap bosan orang yang ada di hadapannya itu, matanya menatap datar seorang pria yang duduk di barisan depan, dapat dilihatnya orang itu sedang tersenyum misterius ke arahnya. Dengan malas Ichigo menjawab, "Alasanku tidak kembali ke sini adalah untuk menenangkan diri, aku tinggal dengan Ukitake yang dengan baiknya merawatku sampai sekarang, selama 11 tahun itu jugalah aku berlatih pedang yang diajari olehnya, tapi beberapa minggu yang lalu ia meninggal dunia," Ichigo menunduk bertingkah seolah-olah sedih atas kepergian orang yang bernama Ukitake.

"Karena orang yang sudah merawatku sudah tiada untuk ke dua kalinya, aku pun memutuskan untuk kembali ke sini." ucap Ichigo mengakhiri cerita bohongnya. Yamamoto mengerutkan keningnya saat mendengar alasan sedikit tidak logis dari Ichigo.

"Hm… begitukah? Apakah kami dapat mempercayai semua yang kau katakana beberapa menit yang lalu itu?"

"Ya!"

"Hm… baiklah, selamat datang kembali Kurosaki Ichigo," dan dengan itu rapat pun berakhir.

;;

;;

"Ah, Ichigo kau sudah pulang?" tanya Rukia dengan senyum lembutnya, namun senyumnya hilang seketika saat melihat ichigo melewatinya begitu saja, 'ini sudah hari ketiga kau mengacuhkanku Ichi,' ucap Rukia sedih.

"Tidak Rukia! Kau harus tetap semangat! Kau pasti bisa membuat Ichigo menoleh ke arahmu!" Rukia bersorak menyemangati dirinya sendiri, sedangkan Ichigo yang mendengar ucapan Rukia yang menyemangati dirinya sendiri melalui kamarnya hanya diam. Ekspresi wajahnya tidak terbaca, ada sedih, kecewa, rindu dan frustasi bercampur menjadi satu.

"Cih, dasar bodoh!" gumam Ichigo sambil menggenggam erat kertas yang ada di genggamannya, kertas yang berisi kebenaran 11 tahun yang lalu.

Hari sudah beranjak malam, meskipun begitu Ichigo masih belum keluar dari kamarnya. Ia masih termenung di jendela kamarnya, "Hha…" entah sudah berapa helaan nafas yang ia keluarkan hari ini. Dengan pelan Ichigo beranjak dari tempatnya, sebelum beranjak dari kamarnya ia menoleh untuk melihat jam berapa sekarang.

Setelah mengetahui bahwa saat ini adalah jam makan malam ia pun keluar dari kamarnya. Matanya menatap heran dengan ruang tamu yang tiba-tiba berubah menjadi tempat yang penuh dengan balon-balon dan hiasan lainnya. Dengan pelan ia menghampiri seseorang yang duduk membelakanginya.

Gadis itu berdiri dari duduknya setelah menata makanan yang ia buat sendiri, ketika ingin berbalik ia dikejutnya dengan seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya, "Eh? Ichigo? Se, sejak kapan kau di sini?" bukannya menjawab Ichigo malah mengacuhkan Rukia. Melihat itu Rukia hanya diam hatinya memang sakit namun ia sudah terbiasa dengan sifat Ichigo yang mengacuhkannya, mencoba untuk tertawa Rukia pun menyapa Ichigo, "Ah, selamat ulang tahun Ichigo, gomen padahal aku ingin memberikn kejutan untukmu, namun ternyata kau keluar sebeum kupanggil haha…"

Melihat suasana semakin janggung Rukia pun meminta Izin untuk pergi ke dapur, "Ng, aku mau mengambil kuenya dulu…" merasa tidak ada jawabn Rukia pun meninggalkan Ichigo.

"kenapa?! Kenapa kau bersikap baik padaku? Kenpa kau selalu tersenyum padaku? Kau bahkan rela bersikap berlawanan dengan sifat aslimu? Kenapa kau berbuat seperti ini? Apa yang kau inginkan dariku?!" kata Ichigo dengan tiba-tiba. Rukia menunduk mendengar kata-kata Ichigo, Ichigo mengetahuinya, mengetahui bahwa senyum yang selama ini ia keluarkan adalah senyum palsu.

"Aku, aku akan terus tersenyum kepadamu, meski kau tidak melihatku, aku akn terus tersenyum karena aku yakin kau akan kembali lagi menjadi Ichigo yang dulu!" kata-kata Rukia yang penuh keyakinan itu mampu membuat Ichigo tertegun namun dengan cepat pula ia merubah ekspresi terkejutnya menjadi ekspresi datar, "Bukankahkah sudah kukatakan, bahwa aku bukan lagi Ichigo yang dulu, diriku yang dulu tidak akan pernah kembali hanya dengan kau tersenyum ke arahku… dan satu hal yang perlu kau ingat, aku mengizinkan kau tinggal bersamaku hanyalah semata-mata untuk memenuhi permintaan terakhir ayahku…"

Tidak terima dengan penuturan Ichigo, denga cepat Rukia memotong perkataan Ichigo, "Memangnya kenapa? Apa salahnya aku mencoba hal yang kuyakini pasti terjadi?!" Rukia menatap tegas Ichigo, sifat keras kepala yang ia sembunyikan dari Ichigo akhirnya keluar, "Aku akan berusaha! Aku percaya bahwa aku dapat membuat Ichigo yang sekarang kembali menjadi Ichigo yang dulu!" ucap Rukia tegas.

Ichigo memandang dingin ke arah Rukia, tangannya mengepal kuat, "Cih, apa kau tau, keingannanmu itu tidak akan pernah terjadi jika aku membunuhmu sekarang!"

"Aku tau itu, tapi aku percaya kau tidak akan membunuhku sekarang."

"Heh! Kau percaya diri sekali? Tapi kau memang benar. Aku tidak akan membunuhmu sekarang, tapi apa kau tidak berpikir? Aku juga laki-laki, aku bisa saja berbuat hal-hal yang tidak kau inginkan," ucap Ichigo sambil menyeringai jahat. Rukia yang mendengar ancaman Ichigo menjadi diam, tubuhnya mendadak kaku, ia tau maksud dari ucapan Ichigo, tapi kemudian ia tersenyum lembut sambil berkata, "Aku percaya kalau kau tidak akan melakukan itu padaku! Aku mempercayaimu Ichi…"

Sret! Gerakannya begitu cepat bahkan sangat cepat, sampai-sampai membuat Rukia tidak dapat melanjutkan perkataannya, gerakannya yang cepat membuat Rukia yang berada 5 meter darinya sekarang berada di dalam kurungannya dengan bibir yang saling menempel.

;;

;;

Ichigo kurosaki, seorang bocah yang di tinggal mati kedua orang tuanya saat ia berumur 6 tahun, dengan umur yang masih tergolong bocah ia dengan mudahnya dihasut oleh orang yang bernama sousuke Aizen, setelah berhasil menghasut Ichigo untuk membenci Kuchiki Rukia, gadis yang diangkat menjadi anak oleh Kurosaki Isshin dan istrinya Kurosaki Masaki, ia pun mengajak Ichigo untuk ikut bersamanya. Keberhasilanya menghasut Ichigo membuatnya dengan mudah menjalankan rencana jahat yang ia susun sejak dulu.

11 tahun berlalu, Ichigo yang dulu bocah kini telah menjadi lelaki dewasa yang ahli dalam hal pedang, dengan pelatihan yang diberikan oleh Aizen dan oleh anggota Espada. Dengan hati yang diselimuti dendam kepada para Shinigami dan Kuchiki Rukia, ia pun memutuskan untuk kembli ke kampung halamannya untuk menjalankan keinginannya, yaitu membunuh Kuchiki Rukia dan membawa mayatnya kepada Aizen.

Ichigo telah kembali, di dalam perjalanannya menuju rumah ia bertemu dengan orang yang tidak ingin ia lihat saat ini, orang yang ia rindukan sekaligus ia benci, orang itu Kuchiki Rukia. Gadis itu menjadi gadis yang manis sekarang, ichigo mengakui itu, tapi karena rasa dendam yang sudah di tanamkan Aizen lebih besar dari pada perasaannya sendiri maka ia pun mengacuhkan dan bersikap dingin kepada Rukia.

Meski sudah diacuhkan dan diancam sekali pun Rukia tidak pernah gentar menghadapi sifat cuek Ichigo. Ichigo yang melihat keteguhan Rukia sedikit demi sedikit mulai memperhatikan Rukia, terlebih lagi setelah ia mendapat surat terakhir dari ayanya yang di titipkan kepada Kisuke Urahara. Surat yang berisi kebenaran tentang 11 tahun yang lalu, namun ia terlambat untuk menyudahi semua yang ia rencanakan selama ini karena sekali lagi ia dikalahkan oleh rasa yang bernama dendam.

Perasaan Ichigo menjadi campur aduk jika berada di dekat Rukia, terlebih lagi gadis itu selalu tersenyum kearahnya, membuat perasaannya menjadi hangat saat melihat senyum tulus yang Rukia keluarkan. Ichigo berusaha untuk tidak memperhatikannya namun ia tidak bisa, trlebih lagi ketika ia melihat senyum palsu yang Rukia keluarkan, ia marah dan merasa tida suka dengan sifat rukia yang berlawanan dengan sifat asli Rukia, 'hei Ichigo! Bukankah kau pernah blang kau tidak akan peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh Rukia? Lalu kenapa kau harus marah jika Rukia tidak bersifat seperti dirinya sendiri?' itulah yang Ichigo katakana kepada dirinya sendiri saat tanpa sadar ia mulai memikirkan Rukia.

Keteguhan yang Rukia keluarkan membuatnya tak mampu menahan diri, kepercayaan Rukia terhadapnya membuatnya kehilangan kendali, ia menarik Rukia ke dalam pelukanya dan mencium gadis itu. Ia tak tahan melihat wajah cantik Rukia yang mengatakan bahwa ia percaya padanya. Ichigo yang hatinya sedikt demi sedkit mulai mencair oleh kehangatan yang Rukia berikan serta keyakinan hati Rukia yang mengatakan bahwa Ichigo akan kembali sepert dulu. Apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka selanjutnya?

;;

;;

;;

TBC

Yaappp akhinya fic ini apdet ~,~" gomen telat, akhir-akhir ini saia jadi susah buat ngelanjutin fic-fic yang lain dikarenakan banyak tugas yang diberikan, jadi buat yang nunggu fic saia gomen yaa saia gak bisa apdet kilat *memangnya ada yang nunggu? ==a. Yak karena saia gak tau harus ngomong apa lagi selain minta maaf jadi segini az yaa Author Notenya ^^ *bletak

Balasan review:

Ika cha : makasih udah review ^^ ini udah apdet review lagi yaa XD

ChappyBerry Lover : ini udah apdet meski gak cepat, gomen (_ _)" chap depan diusahain deh apdet cepat XD

Nenk Rukiakate : waa itu salah ketik Nenk-senpai hehe maklum karena ngeeditnya di warnet jadi mesti cepat-cepat XD gomen yaa kalau fic sebelumnya ancur ~,~" minta pendapatnya lagi tentang chap ini yaa ^^

hedrik widyawati : ini udah apdet, makasih udah review ^^, review lagi yaa XD

Nakamura Chiaki : eh? Rukia perang sama Ichigo? Mm… nanti di pikirkan dulu deh, makasih reviewnya ya

Grey'Sweet'Blue : betul banget! Ichigo memang bodoh karena mudah banget di hasut oleh Azen *kan loe yang bikin -"*

Suzuhara yamami : iyaa salam kenal juga ^^, 'Rukia itu siapa dan mengapa aizen menginginkan Rukia?', itu akan terjawab di chap depan XD ini udah panjang belum? o.O

Rukaga Nay : hehe ini udah apdet :D gomen telat ~,~"

Yosh makasih buat yang udah review yaa, sampai jumpa di chap brikutnya ^^ jangan lupa…

REVIEW PLEASE