Yeey! Akhirnya bisa update~
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, Irresistible ® Venusa Rays dan Lyonia Avilura.
.
.
Irresistible
CHAPTER 4 - Secret (1)
by Lyonia Avilura and Venusa Rays
Romance/Drama
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Alternate Timeline, maybe out of character
.
.
.
Suasana koridor depan perpustakaan Fakultas Kedokteran tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa mahasiswa dan dokter muda yang melintas. Saat siang hari, kondisi kampus sudah tidak terlalu ramai. Para penghuninya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan.
Sakura Woods salah satu yang memutuskan untuk duduk di tempat duduk di koridor depan perpustakaan. Bangunan yang cukup tua dengan langit-langit tinggi. Bangunan jurusannya memang terkenal tua dan lama. Lorong-lorong tinggi yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya sekilas tampak seperti bangunan rumah sakit. Bagi pecinta cerita horor mereka senang menyebutnya sebagai bekas rumah sakit, namun tidak sedikit sumber yang menyebutkan jurusannya memang dirancang seperti rumah sakit agar mahasiswanya terbiasa.
Apapun alasannya, Sakura tidak peduli. Di koridor yang tersambung dengan perpustakaan, terdapat tembok yang dimanfaatkan sebagai pusat informasi, seperti poster lomba, beasiswa, bisnis mahasiswa, hingga informasi kehilangan. Sejak beberapa menit yang lalu Sakura membaca semua informasi yang disana berulang-ulang. Sakura berani bertaruh ia hafal satu persatu isi yang ada disana.
Sakura yang sejak pukul satu sudah berada disana mulai dihinggapi rasa bosan. Saat ini sudah hampir setengah dua dan bayangan di cerminnya masih tidak berubah. Sakura mematut dirinya di depan cermin kecil berulang kali. Gadis itu terlihat panik saat memandang pantulan cermin yang memperlihatkan kantung matanya yang gelap. Sakura memutar otaknya dengan sangat keras. Bagaimana bisa ia bertemu Gaara dengan penampilannya yang seperti zombie.
Tanpa ia sadari kurang lima menit lagi waktu janjian yang ditentukan, ia memutar otaknya dengan keras tetapi ia tidak bisa menemukan solusi apapun untuk dirinya, bahkan tak ada concealer yang bisa menutup mata pandanya. Coba saja saat ini ada Ino, pasti ia tidak akan merasa sebingung ini. Sakura memasukan cermin kecilnya dengan cepat ke dalam tasnya saat ia melihat Gaara dari kejauhan. Gadis itu berdeham berulang kali dan mencoba memastikan suaranya terdengar manis di telinga Gaara. Sakura merasa seperti anak sekolahan yang baru pertama kali jatuh cinta. Well, tidak ada orang pintar dalam urusan cinta.
Dari jauh Gaara melambaikan tangannya ke Sakura. Sakura hanya membalas lambaian tangan Gaara dengan seulas senyum dan semburat kemerahan di pipinya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," kata Gaara sambil membuka resleting tas ranselnya dan mengeluarkan fotocopy latihan soal untuk Sakura.
"Ah tidak. Aku juga baru saja sampai."
"Ini. Semoga membantu. Good luck untuk ujianmu ya."
"Terima kasih banyak. Maaf merepotkanmu."
Gaara mengenakan ranselnya kembali sambil tersenyum. "Tidak masalah. Lain kali kalau ada yang kau butuhkan katakan saja. Aku akan membantumu."
"Thank you." Sakura tak bisa menahan senyumnya yang menguar terlalu banyak.
Sepeninggal Gaara, Sakura hanya bisa terpaku menatap punggung Gaara yang berjalan semakin jauh. Senyum Gaara siang itu sukses membuat hati Sakura meledak-ledak gembira.
.
.
.
Seminggu sejak ujian tengah semester, hari-hari Sakura tak kunjung membaik. Hatinya masih cemas dan waswas, bahkan lebih buruk. Ia tak akan bisa tenang bila belum tahu hasil ujiannya.
Hari ini Sakura cepat-cepat pulang ke apartemen. Beredar kabar bahwa nilai ujian akan segera keluar. Sejak beberapa hari yang lalu Sakura membuka webiste kampusnya dengan memasukkan kata sandi dan akunnya, namun ternyata masih belum ada. Sakura duduk manis di depan laptopnya sejak sore hari. Beberapa temannya mengatakan malam ini akan keluar beberapa nilai dari mata kuliah yang sudah diujikan. Sakura memegang mousenya dengan tegang lalu me-reload website kampusnya yang sudah dibukanya puluhan kali.
Sakura menekan history nilai dan sedetik kemudian senyum lebar mengembang di wajahnya. Dari 3 mata kuliah yang sudah keluar nilainya, ketiganya mendapatkan A.
Sakura mengambil ponselnya dan mulai mencari nomer Ino secepat kilat. Ia tidak sabar berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya itu.
"Hm?" Terdengar suara malas dari seberang telepon.
Sakura berteriak antusias. "Ino, kau sudah melihat nilaimu belum?"
"Belum—nanti nanti saja. Aku tidak yakin nilaiku memuaskan," jawab Ino dengan malas.
"Kalau begitu aku mau pamer sesuatu. Kau harus tahu, nilai Histologiku dapat A." Senyum Sakura mengembang, suaranya terdengar sangat bersemangat.
"Aku tidak kaget." Ino menyahut datar.
Sakura terdiam dan tidak bergerak. "Tumben sekali responmu tidak heboh."
"Aku akan kaget kalau seluruh nilaimu itu C." Ino memutar bola matanya.
"Kau selalu saja berkata seperti itu," bibir Sakura mengerucut. "By the way, kau ini kenapa? Sepertinya kau sedang tidak mood? Kutemani kau jalan-jalan saja bagaimana?"
"Aku patah hati. Hatiku sedang hancur berkeping-keping, forehead."
Sakura mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban dari Ino. "Kau putus dengan Sai?"
"Tidak."
"Lalu kau patah hati kenapa?"
"Naruto-senpai ternyata sudah punya pacar," jawab Ino dengan pelan.
Sakura mendengus kesal. "Astaga Yamanaka Ino. Kau sudah punya Sai. Kenapa masih saja melirik lelaki lain," tegur Sakura.
"Kau enak sekali masih single, Sakura. Aku rasanya ingin jadi sepertimu juga."
"Baiklah kalau kau ingin single sepertiku. Aku akan menelepon Sai setelah ini, akan kukatakan kalau kau sudah bosan dengannya."
Nada suara Ino tiba-tiba berubah naik menjadi 3 oktaf. "Hey kau gila ya! I will kill you if you do that."
Sakura tertawa terbahak-bahak dari ujung telepon. "Nah kalau begini baru Ino yang kukenal."
"Kau ini memang tidak asyik diajak bercanda."
"Tapi kau tetap sayang padaku 'kan."
"In your dream, forehead. By the way bukankah bank soal dari Gaara sangat membantumu?"
"Ya begitulah. Soal yang keluar mirip-mirip dengan bank soal yang diberikan Gaara."
"Kau tidak mau membalas budi atas kebaikannya?"
"Maksudmu?"
"Ya.. kau bisa mentraktir dia makan karena kau berterimakasih telah dipinjamkan bank soal.." Ino terkekeh, "Dan sekaligus kau bisa melanjutkan pendekatan padanya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui."
"Ide macam apa ini. Kau gila."
"Oh ayolah. Kau pasti akan senang sekali kalau bisa jalan dengannya." Ino memprovokasi, "Aku pasti akan sangat bahagia kalau bisa berduaan dengan Naruto-senpai."
Jantung Sakura berdebar-debar dengan keras. Bayangan dirinya sedang berjalan berdua dengan Gaara membuat pipinya tiba-tiba bersemu merah.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Kau gila, Ino. Kau gila sekali—apa-apaan kau ini! Seorang wanita pantang mengajak jalan laki-laki duluan."
"Kau ini kuno sekali. Hampir seumur hidup tinggal di Los Angeles masih saja berpikir tradisional begitu," cibir Ino.
"Ini prinsip, barbie."
"Ah ya sudahlah—terserah kau saja. But remember, aku tidak ingin beberapa bulan ke depan melihatmu menangis tersedu-sedu saat melihat Gaara dengan wanita lain. Bye forehead." Ino kemudian menekan tombol merah di layar ponsel-nya meninggalkan Sakura yang masih terbengong-bengong.
From : Ino
Kau ini memang polos sekali. Kalau aku jadi kau, mungkin dalam hitungan minggu aku sudah berpacaran dengan Gaara. Just do it, princess.
.
Sakura memandang layar ponselnya dengan bingung. Setelah menutup telepon, Ino mengiriminya chat. Ide Ino memang kedengarannya gila tapi menyenangkan. Namun sejujurnya ia sama sekali tidak ada keberanian untuk mengajak Gaara jalan lebih dahulu. Sakura menghela nafas. Seandainya ia bisa bersikap tidak tahu malu seperti Ino.
Mana mungkin aku mengajak Gaara jalan duluan. Mau ditaruh dimana wajahku nanti.
.
.
.
Setelah semalam berpikir ide gila Ino yang sangat tidak masuk akal. Hari ini Sakura harus pergi ke kampus dengan beragam tugas yang menantinya.
Aktivitas di kampus terasa begitu sepi sore hari ini. Sakura mengemasi barang-barangnya dan segera beranjak meninggalkan perpustakaan. Gadis itu memanggul tas ransel jansport ungu dan mendekap map biru tebal. Hari itu barang bawaannya terasa berat sekali. Dua textbook fisiologi setebal lima ratus halaman sedang duduk manis di dalam tasnya. Tugas fisiologi minggu ini hampir saja membuatnya gila. Untung saja weekend sudah berada di depan mata. Kalau tidak bisa-bisa ia kembali menjadi zombie lagi.
Sakura berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara perpustakaan dan pintu keluar utama. Hari ini hari Jumat dan inilah kesempatan terakhirnya jika memang ingin mencoba ide Ino. Ia berjalan sambil memikirkan pembicaraannya dengan Ino kemarin. Ide Ino memang tidak ada salahnya untuk dicoba. Tetapi ia ragu. Sakura tidak siap bila ajakannya ditolak oleh Gaara.
Sakura membuka pintu keluar utama dan secara tak sengaja ia menyenggol seseorang yang hendak membuka pintu masuk.
"Ah maaf. Aku tidak sengaja," kata Sakura sambil membungkukkan badannya.
"It's okay, Sakura."
Sakura mendongakkan kepalanya saat ia mendengar namanya keluar dari mulut lelaki yang tidak sengaja ia senggol.
"Eh? Gaara?"
"Hai. Bagaimana ujianmu?" tanya Gaara sambil menyunggingkan senyum khasnya.
Sakura mengerjapkan matanya dengan takjub. Disaat ia memikirkan lelaki itu, tiba-tiba saja ia muncul tepat di depannya. Sepertinya Tuhan sedang memberikannya satu kesempatan untuk lebih dekat dengan Gaara.
"Sukses. Berkat bank soal darimu aku bisa mendapat nilai A. Terima kasih."
"Baguslah kalau begitu. Senang bisa membantumu, Sakura."
Gaara menggaruk kepalanya dengan bingung. Lelaki itu memegang jantungnya yang berdegup dengan keras. Baru kali ini ia merasa salah tingkah dan tak tahu harus bersikap apa di depan seorang gadis. Sebenarnya ia ingin mengobrol lebih lama dengan Sakura tapi ia ingat dua temannya sudah menunggunya di perpustakaan. "Kalau begitu aku duluan ya. Kau hati-hati di jalan." Gaara kemudian berjalan meninggalkan Sakura.
Sakura masih diam mengamati punggung Gaara yang semakin menjauh.
"Gaara, tunggu!"
Belum ada satu menit Gaara berjalan ke dalam, terdengar suara Sakura yang memanggilnya. Kali ini Sakura yang berjalan menghampiri Gaara yang kebingungan. "Ada apa?"
"Besok Minggu ada waktu?" Sakura berbicara ragu-ragu, "Aku ingin menraktirmu makan—itupun kalau kau tidak sibuk. Terima kasih untuk bank soalnya kemarin." Sakura lega luar biasa, akhirnya kalimat yang sejak semalam tersimpan akhirnya bisa keluar. Ia hanya berharap jika Gaara menolaknya, ia bisa menolaknya dengan halus dan bersikap seperti tidak terjadi sesuatu. Oh My God.. kumohon semoga dia bisa.
Sabaku Gaara tidak tahu harus bagaimana ketika ada seorang gadis yang mengajaknya keluar. Sebelum-sebelum ini beberapa gadis melakukannya dan ia hanya bisa membalasnya dengan mengatakan tidak secara halus. Tapi kali ini tak sama. "Okay."
Sakura terbengong-bengong. Sepertinya tadi ia mendengar ada yang mengatakan 'ok' tapi apa itu dari mulut Gaara. Sakura tak yakin. "Bagaimana?"
Gaara tersenyum renyah. Gadis di depannya ini lucu sekali. "Iya, aku bisa besok Minggu." Gaara menegaskan.
"Ah, baiklah." Sakura tersenyum lega. Ia bersyukur luar biasa. "Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa lusa ya." Gadis itu terus menyunggingkan senyumnya.
Gaara terkekeh geli dalam hati. "Tidak ingin menentukan kita akan kemana?" Gaara bertanya jahil.
"Shibuya!" Sakura Woods sudah sangat amat lama tidak jalan-jalan, dan Shibuya adalah tempat kencan paling menyenangkan yang bisa ia ingat.
"Mau kujemput dulu?"
Gadis itu mematung. Oh My God! Ia tak pernah membayangkan sebelumnya akan dijemput Sabaku Gaara. Tapi tidak mungkin Gaara menjemputnya. "Hm, tidak usah. Kita bertemu di depan Stasiun Shibuya saja ya."
"Okay, see you."
"Bye."
Dan Sakura Woods tidak bisa berhenti tersenyum selama seharian penuh.
.
.
.
From: Niisan 04.00
Saske-chan, besok siang sekitar jam 11 jemput aku di bandara. Aku pulang! Aku rindu padamu, Sayang!
.
'Cause you had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
.
Lagu Daniel Powter versi Chipmunk terlantun dengan sangat keras di kediaman Uchiha. Beberapa kali lagu itu terdengar kemudian mati di tengah-tengah, kemudian terdengar lagi dan begitu seterusnya hingga empat sampai enam kali.
Mata Sasuke terbuka lebar di Sabtu pagi yang indah—dan sekarang tidak lagi. Itachi brengsek!
Bad Day versi Chipmunk adalah lagu yang sengaja dipasang di ponselnya untuk menandai kemunculan kakaknya yang brengsek. Itu bukan alarm, tapi ringtone khusus untuk Itachi. Anehnya Itachi yang tahu kenyataan ini tak keberatan dengan 'signal darurat yang menjijikkan' di ponsel adiknya.
Sasuke selalu merasa dia akan mendapat hari-hari yang buruk ketika Itachi 'bangkit' lagi di hidupnya.
Panggilan dari Itachi yang sedari tadi tak terjawab akhirnya benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Sasuke Uchiha yang ingin bangun lebih siang weekend ini. Itachi tahu fakta bahwa adiknya akan bangun lebih siang di hari libur atau kenyataan fakta adiknya tidak mau menjawab teleponnya. Sasuke membuka pesan singkat yang ada di ponselnya. Itu pasti dari Itachi. Siapa lagi manusia di jaman seperti sekarang yang masih suka mengirim SMS kalau bukan kakaknya yang norak tidak tahu cara chatting.
"Aku tidak akan menjemputmu!" Sasuke terpaksa terbangun dari kasur empuknya hanya untuk memaki ponselnya.
Ada yang tidak beres. Kakaknya tidak mungkin tiba-tiba terbang dari London hanya untuk menemuinya. Kedua tangannya masih terdiam dan melihat ke arah ponselnya, anehnya tak ada gairah untuk membalas pesan itu.
Kedua mata obsidiannya masih berkedip di pukul empat pagi hari Sabtu. Sebuah pop-up pesan muncul di layar ponselnya.
.
From: Niisan 04.02
Jangan marah-marah begitu dong nanti cepat tua loh! Kau sudah bangun 'kan? Wahh suara Chipmunk pasti indah sekali ya!
From: Niisan 04.03
Beberapa menit lagi pesawatku berangkat. Aku bosan nih, temani aku telepon. Kau sudah bangun 'kan Saske-chan?
.
Sekali lagi Sasuke dibuat serasa meledak. Belum ada beberapa menit, Itachi sudah mengirim dua pesan lagi yang isinya sangat menjijikkan. Bagaimana mungkin laki-laki yang sangat dingin di depan umum bisa berubah menjadi amat genit padanya.
Sasuke masih tidak berkutik. Bahkan membalas pesannya pun Sasuke tak sudi. Setelah kakaknya pindah ke Inggris untuk kuliah Bisnis dan Manajemen di Oxford, hubungan mereka yang sempat memburuk perlahan-lahan membaik. Tampaknya dipisahkan ribuan kilometer justru membuat keduanya lebih dekat.
From: Niisan 04.05
Kenapa daritadi diam saja sih? Setelah ini aku pesawatku berangkat. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana?
.
Belum habis Sasuke memikirkan 'pesan norak Itachi', ternyata masih ada lagi pesan-pesannya yang lain. Sasuke memutar bola matanya. Seperti baru pertama kali naik pesawat saja!
Bagaimana mungkin orang ini tahu kalau daritadi Sasuke diam saja tak membalas pesannya? Sasuke tidak ingin hari liburnya hancur gara-gara Itachi. Sasuke harus menghentikan teror dari Itachi agar ia bisa tidur lagi.
To : Niisan 04.06
Iya besok aku jemput. Sampai jumpa kak.
.
Sasuke mengetikkan pesan balasan untuk Itachi dengan nada yang damai. Itachi akan menyukai itu dan tidak akan mengganggunya lagi.
Sasuke mematikan ponselnya lalu mencoba kembali masuk ke mimpinya yang tertunda.
.
.
.
Sakura membongkar isi lemarinya dengan bingung. Baru kali ini ia merasa kebingungan harus memakai baju apa. Ia mengambil flare skirt-nya yang berwarna peach. Ia mengenakannya sambil memandang pantulan tubuhnya dari cermin. Sakura tersenyum saat melihat kakinya terlihat lebih jenjang. Tanpa pikir panjang gadis itu memutuskan rok itu yang akan ia kenakan hari ini.
Sakura kembali membongkar isi lemarinya lagi. Kali ini gadis itu kebingungan memilih atasan yang tepat. Ia mengambil long sleeve v-neck berwarna merah maroon dan off shoulder-nya yang berwarna hitam.
Ia mencoba kedua atasan tersebut berulang kali dan merasa keduanya sama-sama terlihat cocok dengan peach flare skirt-nya. Sepertinya ia membutuhkan masukan dari orang lain.
.
Sasori mengambil sekaleng jus apel di dapur kemudian ia berjalan kembali ke kamarnya. Lelaki itu terlonjak kaget saat melihat adiknya duduk manis diatas tempat tidurnya.
"Sedang apa kau?"
Sakura tersenyum lebar lalu mengangkat kedua baju yang ia bawa dari kamarnya.
"Bagus mana? Yang ini atau yang ini?" tanya Sakura sambil kedua baju yang sedari tadi membuatnya bingung.
Sasori mengerutkan dahinya tak mengerti. "Tumben sekali kau tanya pendapatku. Memangnya kau mau pergi kemana sampai bingung memilih harus pakai baju apa?" tanya Sasori dengan curiga.
"Aku mau ke mall dengan Ino."
"Benar? Kau mau pergi kencan ya?"
"Tidak."
"Tapi juga tidak dengan Ino 'kan?"
"Hm."
Sasori mulai mengerti. "Artinya kau akan kencan."
Sakura tertawa dengan gugup. "Ha..ha..ha.. Yang benar saja. Aku sedang tidak ada pikiran untuk berkencan."
Sasori mengernyitkan dahinya. Lelaki itu menatap adiknya dengan penuh kecurigaan.
"Santai, Sasori. Kalau aku berkencan aku pasti akan cerita padamu. Tenang saja."
Sasori tertawa terbahak-bahak. "Mana mungkin—dasar bohong! Kau bukan tipikal orang seperti itu. Kau lebih senang menyimpan rahasiamu sendiri daripada berbagi cerita denganku."
Sakura menggaruk kepalanya dengan bingung. Gadis itu harus segera mengganti topik pembicaraan.
"Well, jadi kau lebih suka aku memakai yang mana?" tanya Sakura lagi.
"Kau memakai bawahan apa?"
"Taraaa..." Sakura menunjukkan flare skirt berwarna peach yang sedang ia kenakan.
"Kau mau memakai rok mini ini lalu memakai atasan terbuka seperti itu?" tanya Sasori sambil menunjuk off shoulder berwarna hitam.
Sakura menjawab dengan anggukan bersemangat.
"Tidak boleh." Sasori berucap agak keras hingga membuat Sakura kaget. "Apa kau mau pulang-pulang nanti kau masuk angin gara-gara pakaian seperti itu? Pakai ini saja. Juga pakai jeans saja jangan rok mini begitu!" Sasori menunjuk long sleeve v-neck berwarna merah maroon.
"Hei, rok ini selutut—tidak sependek yang kau bayangkan!" Sakura menggerutu sebal. "Kau ini tidak modis atau bagaimana sih. Konservatif sekali," cibir Sakura.
"Baiklah, pakai rok itu dan kuantar. Lalu pakai yang warna merah maroon atau kau tidak boleh kemana-mana."
"Hei, sejak kapan kau bertingkah seperti Ayah?"
"Tentu saja, aku kan kakakmu."
Sakura memutar bola matanya. Sejak kapan Sasori dengan senang hati mendeklarasikan bahwa lelaki itu adalah kakaknya. Tapi dari nadanya, Sasori sedang tidak bercanda. Bisa gawat kalau tidak boleh keluar. "Aku berangkat sendiri dan aku akan bawa jaket—dan long sleeve v-neck merah maroon. Aku tidak akan kenapa-napa—aku janji!"
"Deal!" Sasori melihat jam tangannya, "Sekarang jam sepuluh, artinya kau harus kembali sebelum pukul tujuh malam., paham?"
Sakura merasa Sasori berubah menjadi protektif. Yang harus ia lakukan hanya berkata 'ya'. "Deal!" Dan Sakura pergi meninggalkan Sasori.
Satu lagi kemajuan pesat bagi hubungan keduanya. Untuk pertama kalinya Sakura menanyakan pendapat Sasori dan untuk pertama kalinya Sasori khawatir pada adiknya. Tanpa mereka sadari, hal kecil seperti inilah yang mendekatkan keduanya.
.
.
.
To be continued
Author's note:
Halo readers, maafkan kami yang lama tidak update-update T_T
Sebenarnya draft ini sudah jadi sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan sudah menginjak chapter 5. Tapi karena kami berdua sama-sama sibuk, draft ini nggak tersentuh sama sekali. Tetapi untungnya beberapa minggu terakhir kami sedang melakukan finishing untuk draft draft kami, meskipun kegiatan kami berdua sedang sama-sama sibuknya. Untuk Lyonia, 2 bulan lagi akan sidang akhir. Sedangkan Venusa sedang sibuk dengan serangan dunia koass yang tiada henti.
Terimakasih yang sebelumnya sudah mereview, follow dan favorite.
Kami tunggu review kalian untuk selanjutnya. Don't be a silent reader
Akhir kata, selamat berpuasa untuk kalian semua ^^
