Tsukuyo mengamati penampilan dirinya di depan cermin bundar besar di depannya.Dress hitam yang mencetak jelas lekuk indah tubuhnya yang ia pakai membuat dirinya terlihat sangat menawan dan seksi, kontras dengan kulit putihnya dan terlihat menantang. Tubuhnya yang memang idaman setiap wanita semakin membuatnya sangat mempesona.

Ia mendengus pelan, seandainya Gintoki tau ia menggunakan dress seterbuka ini dia pasti marah besar, apalagi bagian dadanya yang rendah dan terlihat menonjol. Tsukuyo mengedikkan bahunya tidak peduli, dia mulai kesal dengan tingkah pria itu di sekolah.

Malam ini ia ada janji dengan Mutsu di club malam miliknya. Lebih tepatnya memang Tsukuyo yang membuat janji dengannya. Setelah merasa selesai dengan tetek bengeknya ia meraih kunci mobilnya dan pergi.

--

Wanita cantik itu memasuki club besar yang sebagian besar pengunjungnya adalah orang-orang dari kalangan atas baik dari kalangan selebriti, para direktur muda, anak pejabat dan pebisnis lainnya baik tua maupun muda, Tsukuyo dengan mudah masuk karena ia sudah memang dikenal sebagai sahabat pemilik club itu.

Ia celingukan mencari keberadaan Mutsu tapi ia tidak menemukannya, ia mencari ponselnya untuk menghubungi teman dekat Sakamoto itu tapi membatalkannya karena percuma tempat itu sangat bising dan terlalu keras dengan musik yang hingar bingar memekakkan telinga, wanita pirang itu memutuskan untuk mendekati meja bartender.

"Tsukuyo-san? Sudah lama kau tidak kemari?" tanya bartender pria itu setelah mengenali sosok Tsukuyo dan meneguk air liurnya melihat penampilan wanita seksi didepannya.

Wanita yang disapa hanya tersenyum menanggapi.

"dimana Mutsu?"

"oh boss masih melayani rekan kerjanya disana" tunjuk pria itu menggunakan dagunya ke arah Mutsu yang terlihat serius dengan tamunya, pria itu tidak berani menatap Tsukuyo karena sulit baginya untuk mengendalikan arah pandangnya.

Tsukuyo manggut-manggut.

"oh ya aku pesan yang seperti biasa" pintanya.

"sepertinya kau ada masalah?" tanyanya mendengar pesanan red wine beralkohol tinggi favorit Tsukuyo.

Tsukuyo menatap tajam pria itu agar segera cepat membawakan pesanannya, ia sengaja memesan minuman beralkohol tinggi, ia ingin menumpahkan kekesalannya mengingat semua peristiwa akhir-akhir ini yang menguras hati dan pikirannya. Mungkin dengan mabuk bisa membuatnya mengurangi beban dan menghilangkan sesuatu yang menyesakkan di dadanya.

Tidak berapa lama pria itu sudah membawakan satu botol pesanannya dan sebuah sloki.

Tsukuyo menuang cairan berwarna merah itu dan langsung meneguknya.

Dalam diamnya Tsukuyo teringat kembali dirinya dengan Gintoki yang membuat hatinya berdenyut, saat pertama wanita bermarga Ketsuno itu datang dan berubahnya perlakuan Gintoki padanya, apalagi Gintoki terlihat membandingkan dirinya dengan Ketsuno. Tsukuyo tersenyum kecut, ia menuang kembali red wine didepannya dan langsung menenggaknya.

Pipinya mulai memerah, ia tertawa sendiri menertawakan kebodohannya.

"aku cemburu???? Hahahaha... " racaunya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menepis kenyataanya yang baru ia ucapkan.

"hahaha Gintoki pria pemalas, idiot yang bodoh itu! Kenapa aku harus cemburu hahaha"

Ia melanjutkan menenggak minumannya dengan sekali tegukan, ia menopang wajahnya dan memejamkan mata mencoba menghilangkan kegalauan dan kegelisahannya, tapi cairan itu membuatnya sedikit hilang kendali. Ia melirik seorang pria sendiri disampingnya yang terlihat tenang.

"heii tuan boleh aku minta sebatang rokokmu??" pintanya tersenyum ke arah pria itu yang menghisap rokok dibibirnya.

Pria itu menyerahkan kotak rokoknya.

Tsukuyo meraih satu rokok dan meletakkan diantara bibirnya. Ia meminta sesuatu lagi ke pria itu.

"aah!!" gumam pria itu menyerahkan pemantiknya.

Berulang kali ia mencoba supaya pemantik itu bisa membakar rokoknya tapi selalu gagal.

Pria itu meraih rokok Tsukuyo dan menyalakannya lewat rokoknya.

"aaahh thank you!!"

Pertama menghisap rokok Tsukuyo langsung batuk-batuk karena sudah tidak terbiasa menghisap tembakau itu.

"merokok tidak baik untuk kesehatanmu nona" tegur pria itu dengan suara dinginnya.

Tsukuyo melirik "kau sendiri merokok!?"

Pria itu menyunggingkan senyum.

Kebiasaan buruk Tsukuyo merokok mulai kembali lagi tanpa ia sadari.

"aku dulu memang perokok tapi sudah berhenti karena pacarku melarang" dengus wanita itu pelan.

Pria itu mengangkat sebelah alisnya kagum "good girl!!" pujinya sarcasm.

"terus sekarang dimana pacarmu?" netra hitamnya mengamati wajah Tsukuyo dengan menopang wajahnya menghadap Tsukuyo.

Wanita bermata amethyst itu menghembuskan asap ke depan "entahlah hahaha" tawanya hambar.

"lagipula kalaupun sesuatu terjadi padaku dia juga bakalan tidak peduli" lanjutnya pelan tapi masih bisa ditangkap jelas oleh pria itu karena mereka sekarang duduk berdampingan.

"oh ya..jadi sekarang kau bertengkar dengannya?" tanya pria misterius itu menghisap rokoknya.

Tsukuyo mendelik dan baru menyadari dia sekarang berbicara dengan orang asing yang tidak dikenalnya "bukan urusanmu..!"

pria itu menyeringai "sayang sekali kau sudah punya pacar padahal aku suka tipe wanita sepertimu"

"ohh yaa??"

Pria itu mengangguk.

"sayang sekali... Sepertinya kau tidak sebrengsek idiot itu hahahaha uhuk..uhuk..." Tsukuyo tersedak karena rokoknya lagi.

Tiba-tiba wanita berambut coklat muda datang menghampiri mereka berdua.

"TSUKUYO!!!" jeritnya kaget ia langsung merebut rokok di sela jari wanita yang terlihat sudah mabuk itu.

"apa yang kau lakukan!!!" tegurnya gusar dengan kebiasaan buruk sahabatnya itu yang mulai kumat lagi.

"aaaah Mutsu..." ia langsung bangkit dari duduknya dan memeluk erat Mutsu.

"heii aku sudah selesai dengan ayahmu! Kau bisa pergi sekarang!" tegurnya ke pria itu.

Pria itu mengangkat tangannya "baiklah, tolong kasih salamku padanya kalau dia sudah sadar" lanjutnya menyeringai lagi dan pergi bersama ayahnya.

Mutsu mengusap-ngusap punggung Tsukuyo menenangkannya dan menyuruhnya duduk kembali.

"ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini!!?" tanyanya khawatir dengan keadaan Tsukuyo.

"haha tidak apa-apa hic aku hanya merindukanmu hic " balasnya.

Mutsu mengamati wajah temannya itu dan merasakan ada yang tidak beres apalagi dengan kambuhnya wanita itu dengan merokok.

"kau bisa sakit dengan dress terbuka seperti ini!! Bukannya Gintoki melarangmu memakai gaun semacam itu"

Air mata bergulir di pipi Tsukuyo dengan cepat ia menghapusnya dan langsung menenggak minuman didepannya.

"heii ceritakan padaku, jangan membuatku khawatir" tanya Mutsu mulai resah.

Baru saja Mutsu meraih ponselnya untuk menghubungi Gintoki, Tsukuyo langsung merebutnya.

Wanita itu menggeleng pelan "jangan hubungi idiot itu hic"

Mutsu menghembuskan nafas "kalian berantem?"

Tsukuyo meraih slokinya lagi sebelum wanita berkulit pucat itu melarangnya tapi ia tidak berhasil karena Tsukuyo bersikeras meminumnya. Dan sekarang cegukannya semakin menjadi.

" hic aku hic membencinya Mutsu hahaha" racaunya memegang kepalanya yang mulai pusing.

Mutsu menghela nafas jengah, ia mengambil kesimpulan kalau mereka bertengkar, Mutsu mau mengorek informasi lagi tapi melihat keadaan Tsukuyo sekarang sepertinya mustahil.

Mendadak Tsukuyo berdiri dari duduknya dan mencoba mengendalikan dirinya yang terlihat sempoyongan.

Mutsu meraih ponselnya lagi ingin menghubungi Gintoki, tapi sialnya nomor pria itu sedang sibuk.

"ternyata dia memang benar idiot!!" gumam Mutsu geram.

Mutsu mendekati Tsukuyo yang berjalan tertatih yang tengah di goda pria-pria yang ada disana. Tentu saja Mutsu langsung menjauhkan mereka untuk menggoda Tsukuyo.

"kau pulang saja ya? Biar ku panggil salah seorang karyawanku untuk mengantarmu pulang" saran Mutsu dan menyuruh seorang wanita suruhannya untuk mengambil sweater untuk menutupi tubuh Tsukuyo yang terbuka agar dia tidak terkena angin malam.

"aku hic bisa pulang sendiri hic!" sahutnya menepis sweater yang dipakaikan Mutsu.

"jangan keras kepala!!" tegurnya dan menuntun Tsukuyo ke mobilnya.

Mutsu menyerahkan alamat ke karyawannya dan membawa Tsukuyo pergi.

Wanita itu lega sekaligus khawatir dengan keadaan temannya itu.

"apa Sakamoto tahu apa yang terjadi?" gumamnya penasaran.

Sementara itu.

"hic heii kau antarkan aku kesini!!" perintah Tsukuyo menyerahkan ponselnya ke karyawan Mutsu.

"eh tapi boss menyuruhku langsung mengantarmu pulang" sahutnya sedikit gemetar dengan tatapan tajam Tsukuyo melalui kaca mobilnya.

"kau mau aku menyuruh Mutsu untuk memecatmu, huh!!? Hic" ancamnya di sela cegukannya.

"ba..baiklah aku akan mengantarmu" balasnya takut-takut.

--

Dengan langkah lunglai dan kepala pusing Tsukuyo memasuki lift dan memencet angka 3, sepertinya alkohol sudah benar-benar mempengaruhi dirinya, ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya sempoyongan.

Ting

--

Gintoki gelisah diatas tempat tidurnya sembari menutup telinganya dengan bantal.

"sheessshhh... Siapa orang bodoh yang datang tengah malam begini" omelnya bangkit dari tidurnya mendengar bunyi intercom apartemennya yang berulang kali berbunyi tanpa henti.

Dengan penampilan yang berantakan serta masih dengan boxer stroberinya, ia mengumpulkan tenaganya berjalan ke depan dengan mendengus kasar mendengar orang itu memencet password apartemennya beberapa kali dan tentu saja gagal, ia terlalu malas untuk melihat di intercome siapa tamu dibalik pintu.

Ia menggaruk-garuk kepala ikalnya sambil berusaha membuka pintu.

Sosok itu menerobos begitu saja tanpa mempedulikan keterkejutan Gintoki di belakangnya, mata crimsonnya yang mengantuk terbelalak lebar dan mulutnya terbuka.

Dalam keadaan mabuk, setengah mati ia mencoba melepas high heel yang masih menempel di kakinya.

"oi woman!!! Apa yang kau lakukan!!? Kau kan tau password apartemen ku kenapa harus memencet belnya aarrgghh..!! Kau ..." Gintoki mengernyitkan hidungnya mencium aroma alkohol di tubuh wanita itu.

"KAU MABUK!!!" jeritnya memegang kedua pundak Tsukuyo menahan tubuhnya yang hilang kendali.

Tsukuyo berusaha mengenali pria di depannya.

"ah kau rupanya! Hic kenapa kau ada di apartemenku Gintoki, kau mau ti~dur denganku...??" racaunya, pengaruh alkohol masih mempengaruhinya.

"ini apartemenku, terminator!"

Gintoki terlihat gusar, ia menatap Tsukuyo dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

"apa kau sudah gila Tsukuyo!!!" bentaknya menarik wanita itu ke ruang tamunya yang masih bingung dengan high heelnya.

Tsukuyo tidak bergeming dengan tarikan tangan pria itu.

"tch!! sudah berapa kali aku bilang padamu jangan memakai pakaian terbuka seperti ini!!!" omelnya, Gintoki tidak ingin melihat orang lain menikmati kekasihnya dengan pakaian minim seperti yang barusan ia pakai, tidak ada pria normal yang tidak tergiur melihat lekuk indah tubuh Tsukuyo, dress ketat yang ia pakai mencetak jelas tubuh rampingnya, saking ketatnya bahkan dadanya terlihat semakin membesar, paha mulusnya terekspos dengan jelas, Gintoki ingin wanitanya hanya untuk miliknya seorang, tidak boleh seorang pun yang ikut menikmati tubuh kekasihnya meski hanya dengan menatapnya.

Tsukuyo menyeringai "tapi kau suka kaa~~n hic..??" godanya menelusuri rahang tegas milik Gintoki.

Merasakan sentuhan Tsukuyo membuat sesuatu dalam diri Gintoki berdesir tapi ia berusaha mengabaikannya, pikirannya terhenti saat wanita seksi itu membelakanginya dan memberi isyarat menepuk belakangnya agar Gintoki melakukan sesuatu.

Gintoki memiringkan wajahnya tidak mengerti.

"buka bajuku kau idiot!! Hic"

Detak jantung Gintoki seakan terhenti mendengar perintah darinya.

"kau mau strip tease didepanku, huh!!!?"

Tsukuyo berbalik sudut bibirnya terangkat keatas.

"kau tidak mau melihatku telanjang Gintoki!!!??? Hic" Tsukuyo mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Gintoki yang mulai memerah.

"oii aku tidak bernafsu dengan wanita yang sedang mabuk" Gintoki memalingkan wajah merahnya menahan godaan yang ada didepannya.

Raut wajah Tsukuyo berubah menjadi sedih, ia terlihat seperti anak kecil yang merajuk.

"mendokusai na.." keluhnya dan ia menjongkokkan tubuhnya ke arah Tsukuyo.

"naiklah aku akan membawamu ke kamar.." suruhnya berharap wanita itu paham.

Tsukuyo langsung meloncat ke punggung Gintoki.

"geez...pelan-pelan bodoh!!" teriaknya sambil memegang kedua kaki Tsukuyo yang ada disamping tubuhnya dan mengangkatnya.

Seharusnya aku mengangkatnya dengan bridal style, gumam Gintoki dalam hati, ia merasakan darah mengucur di kedua hidungnya.

"Kesalahan besar!!!!!" teriaknya dibatinnya, ia menelan air liurnya gugup, keputusan yang fatal ia merasakan dada wanita itu menempel di punggungnya yang telanjang. Gintoki membersihkan hidungnya yang mimisan. Saat itu juga Gin-chan junior ikut menegak karena wanita diatas punggungnya bergerak-gerak sehingga otomatis Gintoki merasakan dua benda kenyal itu selalu menyentuh belakangnya.

"oii diamlah!!" Gintoki mencoba konsentrasi menuju kamarnya dan mengeratkan pegangannya di kedua belah kaki jenjang Tsukuyo, berharap his cock mau bekerja sama dengannya.

Gintoki mengernyitkan keningnya, ia mencium aroma yang berbeda saat wanita itu bernafas di dekat wajahnya saat jemarinya bermain-main dengan rambut ikalnya.

"kau merokok!!!!?" tuduhnya, ada nada marah yang terdengar di suaranya.

Tsukuyo bergumam tidak jelas di leher pria itu.

Gintoki mengurungkan niatnya membawa Tsukuyo ke kamar, ia kembali ke ruang tengah dan menghempaskan pelan tubuh wanita itu ke atas sofa.

"apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, huh!!!!" bentaknya menatap tajam mata Tsukuyo yang sayu terkulai di atas sofa.

Gintoki mengacak rambutnya kesal.

"aku tidak menyangka kau sudah melewati batasmu, kau sudah gila Tsukuyo!!!"

Gintoki mencoba menahan emosinya yang mulai tidak terkontrol, ia tidak suka sisi lain dari Tsukuyo yang mulai kembali ke kehidupannya sekarang.

"berhentilah bertingkah seperti anak kecil!! Aku tidak mengerti dengan dirimu akhir-akhir ini!!!"

Pria itu mendengus kesal percuma mengomeli seseorang yang bahkan tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.

Ia meninggalkan wanita itu di sofa menuju kamarnya, tapi Tsukuyo menahan tangannya, ia menatap tangan wanita itu dan menepisnya.

Gintoki menutup pintunya kasar membiarkan Tsukuyo berada di luar, ia tahu ini membuatnya terlihat tidak gentleman tapi melihat kebiasaan buruk Tsukuyo emosi menguasai dirinya. Ia menghempaskan dirinya diatas ranjang king sizenya dan menutup matanya.

Beberapa jam kemudian.

Hawa dingin menyelimuti malam sepi itu, jam dinding berdentang menunjukkan pukul sudah melewati tengah malam tepat jam 02.00 pagi. Pria berambut perak itu mengeratkan selimut tebalnya ke seluruh tubuhnya. Matanya memang terpejam tapi ia mulai gelisah dan pikirannya terus melayang. Sesuatu mengganggu dirinya ia berdiri dan membuka pintu perlahan-lahan menengok wanita itu apakah ia sudah pergi atau masih tergolek di ruang tamunya.

Mata crimsonnya terbuka sempurna, ia merasa bersalah melihat wanita itu meringkuk dengan mendekap lututnya kedinginan.

Ia menggoyang-goyang pundak wanita itu.

"hei Tsukuyo.!!" panggilnya.

Merasa tidak ada gerakan, Gintoki meletakkan tangan di lekuk kaki dan di belakang punggung wanita itu dan mengangkatnya membawa ke kamarnya.

Gintoki meletakkannya ke sisi kanan ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.

"tidurlah.." suruhnya sambil mengecup keningnya dan mengusap dahi wanita itu lembut dengan jempolnya.

Gintoki tersenyum menatap wajah Tsukuyo yang mulai tidur lelap di sampingnya, ia merapikan helaian rambut pirangnya dan kembali ke posisinya.

Tidak lama wanita itu mulai gelisah terkadang ia merintih dan bergerak-gerak tidak tenang, tangannya menggapai punggungnya ingin melakukan sesuatu.

Gintoki mengerang dan bangkit dari duduknya dan mengernyit heran.

"kau mau apa oi!!?"

Tsukuyo yang masih setengah sadar ia melorotkan dressnya perlahan dari atas.

Gintoki terbelalak "kagurraaaaaaaa tolong akuuuuu!! Kenapa kau harus ikut liburan bersama ayah botakmu itu!!" teriaknya dalam hatinya panik.

Tsukuyo masih berusaha membuka retseleting dress di punggungnya, ia gelisah tidak nyaman dengan pakaian ketat masih menempel dalam tidurnya.

Berulang kali ia mencoba tapi selalu gagal, Gintoki bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sebelum menghembuskan nafasnya pelan.

Dengan hati-hati ia menarik penutup baju itu di punggung Tsukuyo.

"shit!" kalau dia masih berbaring bagaimana bisa dia mencopot dress hitam itu.

Gintoki meraih tubuh wanita itu dan mendudukkannya diantara dua kakinya. Ia masih bertanya-tanya kenapa sampai sekarang wanita itu belum sadar juga dari mabuknya berapa botol yang ia habiskan dalam beberapa jam.

Pria yang masih panik itu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Tsukuyo agar ia tidak melihat sesuatu yang seharusnya belum berhak ia lihat. Entah kenapa ia merasakan hawa panas di tubuhnya disaat jarak tubuh mereka yang sangat dekat seperti ini. Tangannya bergetar menurunkan dress dari bagian atas sampai ke bawah dengan susah payah. Ia bangkit dari duduknya dan mencari t-shirt miliknya, dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa mencari pakaian Tsukuyo di lemarinya, wanita itu dulu sempat meninggalkan pakaian di tempatnya kalau ada terjadi sesuatu.

Sementara ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasakan darah mengucur lagi di kedua lubang hidungnya, wajahnya memerah. Detak jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Tsukuyo dengan santainya melepas pengait branya setelah selimut itu melorot dari badannya.

"aku tidak melihat apapun..aku tidak melihat apapun...aku tidak melihat apapun.." ucapnya berulang kali.

Gintoki panik ia langsung melempar kaosnya ke tubuh Tsukuyo. Sambil menyapu darah di hidungnya ia menutup matanya dengan sebelah tangannya, sebagai pria, Gintoki tidak ingin mengambil kesempatan ketika wanita itu mabuk, ia menghormati wanita itu sebagai kekasihnya ia tidak ingin memanfaatkan hanya karena kondisinya sedang mabuk.

"tch! Troublesome woman!!" ia memicingkan matanya dan memakaikan kaosnya ke tubuh Tsukuyo dan langsung membaringkan tubuhnya ke sampingnya.

--

Tsukuyo melenguh pelan, memperbaiki posisi tidurnya yang terlalu lama berbaring ke sebelah kiri. Ia memegang kepalanya yang berat dan pusing dan baru menyadari beberapa jam yang lalu ia begitu banyak meminum alkohol malam itu, ia ingin bangun dari tempatnya tapi merasakan tubuhnya sedang berada di dalam pelukan seseorang, tangan kekar erat berada di pinggangnya, Tsukuyo mendengar ritme nafas beratnya di sekitar telinganya.

Tsukuyo membeku di tempatnya mencoba menggali lagi apa yang terjadi dengannya, memorinya tidak bisa mengingat kejadian apa setelah ia diantar oleh karyawan Mutsu itu, perlahan ia mendongakkan kepalanya menatap pria perak yang sedang tertidur di depannya, ada sedikit kelegaan karena sosok itu bukan pria yang tidak di kenalnya.

Wanita itu merasakan keanehan pada dirinya ia menengok ke dalam selimut. Matanya terpaku karena ia mengenakan kaos Gintoki yang sedikit kebesaran bukan dress yang ia pakai sebelumnya.

Tsukuyo menggigit bibir bawahnya pelan, gugup. ia juga tidak mengenakan branya lagi, ia melirik tajam Gintoki yang tidur mendengkur.

"pria ini mengambil kesempatan saat aku mabuk rupanya" geramnya dalam hati seraya menengok dalam kaosnya apakah ada sesuatu yang biasa seorang pria tinggalkan di tubuh seorang wanita.

Berapa kali pun Tsukuyo melihat dadanya ia tidak melihat bekas tanda apapun. Senyuman pahit terukir di bibirnya, entah kenapa ia merasa kecewa Gintoki tidak menandai dirinya sebagai miliknya. Perasaan terluka dan kesal kembali menjalari dirinya. Ia mendorong tubuh berat pria itu, melepaskan diri dari pelukannya, menjaga jarak dengannya, Tsukuyo berbalik dan membelakangi Gintoki dan memejamkan matanya menahan air matanya lagi. Ia mencengkram sisi ranjang menumpahkan kebencian kepada dirinya sendiri yang terlalu sering mengeluarkan air mata akhir-akhir ini.

--

Aroma masakan terendus dari indera penciuman wanita berambut kurang lebih sebahu itu dan mengucek-ngucek matanya ketika matahari sudah mulai menembus jendela kamar di tempat ia berbaring. Ia menata rambutnya yang berantakan sebelum melangkah keluar.

Iris matanya menangkap punggung kekar telanjang pria perambut perak itu dibalik dapurnya. Perlahan ia duduk di meja makan kecil yang sudah tertata beberapa makanan.

Tsukuyo menelan salivanya gugup antara melihat pemandangan indah yang berada di depannya, makanan lezat yang terhidang atau respon pria itu saat ia tahu masuk ke apartemennya dengan keadaan mabuk.

"kau sudah bangun" ucapnya dingin memecah keheningan, ia melirik Tsukuyo di balik bahunya.

Degg!!

Tiba-tiba saja ia merasa kram di perutnya mendengar suara berat dingin pria itu seolah-olah ada sesuatu yang mengikat perutnya. Tsukuyo tahu dia marah, ia merasakan aura tidak enak dari Gintoki.

Gintoki duduk di depannya, wanita itu menggigit pelan bibir bawahnya dan menghindari mata ikan pria itu.

Ia hanya mengangguk pelan.

Pandangan Gintoki menusuknya seolah menelanjanginya, ia tahu pria itu ingin kejelasan darinya, ia tahu pria itu sedang marah terlihat dari cara dia berbicara dan aura menekan darinya.

"aku bisa menolerir kalau kau mabuk" ucapnya masih dengan nada datar.

"tapi kenapa kau merokok Tsukki!!" lanjutnya sedikit mengeraskan suaranya.

Kediaman Tsukuyo semakin membuatnya geram.

Wanita itu menunduk gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.

"a..aku juga tidak tau..." sahutnya pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. Tsukuyo bahkan tidak begitu ingat kalau ia merokok.

Gintoki mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari mulut mungilnya.

"lihat aku Tsukuyo!" perintahnya menuntut.

Tsukuyo mengangkat mukanya ragu ia menghindari mata crimson pria itu.

"lihat aku!!" bentaknya.

Mendengar bentakan Gintoki, membuat Tsukuyo terperangah, ia jadi merasa kesal, ia begini juga karena pria itu.

"kau jangan membentakku!!! Apa yang salah kalau aku merokok!!" bentaknya balik.

Gintoki menghembuskan nafasnya kasar "kau jangan terlalu kekanakan Tsukuyo... Kau tau merokok tidak baik untuk kesehatanmu kau bahkan tau lebih dari itu" sahutnya sedikit melunak.

Tsukuyo diam, seandainya saja pria itu mengatakan kalau dia mengkhawatirkannya mungkin Tsukuyo akan merasa lebih tenang tapi ia sadar mustahil Gintoki mengatakan hal itu.

"bersikaplah seperti wanita ak..."

"iya Sakata-san aku pastikan akan bersikap seperti Ketsuno Ana, pujaanmu itu!" dengusnya bangun dari kursinya memotong apa yang akan diucapkan Gintoki.

Tsukuyo menghentakkan kakinya kesal menuju kamar.

Gintoki mengusap wajahnya frustasi.

"tch, woman!"

To be continued.