Disclamer: Naruto x Kuroko no Basuke.

Naruto&Kuroko no Basuke: Romance and Basketball.

Raiting: T

Pairing: [Naruto x Hinata]

Genre: Adventure, Sport, Romance, Friendship.

Warning: Gaje, Abal, Typo.

.

Summary: Sebuah rumor tentang pemain Kiseki no Sedai yang beredebar, anggota bayangan Six Player, tapi dibalik itu tidak ada yang pernah tau selain pemain Kiseki no Sedai sendiri, Seven Player Kiseki no Sedai. Pemain yang menghilang dari SMP Teikou selama 1 Tahun, setelah memenangkan pertandingan kejuaraan SMP. Dan sekarang dia kembali, kembali untuk menghancur-kan Kiseki no Sedai.

.

Chapter 4: Pertemuan dengan teman lama

.

"Aku tidak akan pernah kalah..." Dengan kuat Kise menghepas-kan tangan-nya kedalam Ring Seirin, dengan bola basket yang menjadi bagian utama dalam pertandingan ini ditangan-nya.

Blush!

Bola yang dihempas-kan Kise masuk dengan sempurna kedalam Ring Seirin. Mata biru saffir Naruto yang melihat hal itu dengan jelas, hanya menatap tanpa ekpresi apa-pun. Membalik badan-nya, Naruto berlari kecil ke Ring Kaijo, yang mengikuti Kagami, sedang mendribble dibagian pinggir lapangan.

"Menma..." Kagami melempar-kan bola-nya, kearah Naruto, tapi pemain Kaijo tidak akan membiarkan-nya begitu saja bola itu diambil oleh Naruto.

Buakh!

Pemain Kaijo terkejut, ketika bola yang dilempar-kan Kagami, dengan Chest Pass, secara ajaib, bola itu menjadi Overhead Pass, tapi dengan target yang sama.

Tap!

Naruto menangkap bola itu dengan sempurna. Mencoba melakukan Three Point dari jarak-nya sekarang, tapi itu terlihat mustahil, karena ada Kasamatsu, dan Kise yang sedang berlari kearah-nya. Tetap melakukan style Three Point, Naruto memejam-kan mata-nya.

"Aku tidak akan memberikan mu, Menma..." teriak Kise yang mencoba menghentikan Naruto dari belakang, dan Kasamatsu dari arah sebalik-nya.

"Heh.." Naruto menyeringai. "Benar-kah?" ujar Naruto, membuka mata-nya, dengan pandangan yang menjadi tajam, singkat-nya, Naruto mengguna-kan salah satu skill istimewa-nya, Hawk Eye.

Dug!

Kise, dan Kasamatsu sungguh terkejut, ketika mereka berdua sudah berhasil mengunci pergerakan Naruto, tapi Naruto mengoper bola itu, kepada Hyuuga berada dibelakang-nya, dengan Bonce Pass.

"Aku serah-kan pada mu Hyuuga-Senpai." Ujar Naruto. Beruntung Naruto mempunyai Hawk Eye, jadi dia bisa melihat seluruh penjuru lapangan sekaligus, jika tidak mungkin bola yang tadi berada ditangan-nya sudah diambil alih, oleh Team Kaijo.

"Ya." Balas Hyuuga yakin. Sedikit menggeser tubuh-nya ke kanan, tanpa membuang banyak waktu, Hyuuga menembakan bola-nya dengan Three Point, dan...

Blush!

...bola itu masuk dengan sempurna ke dalam Ring Kaijo.

"Kuroko, Hyuuga-Senpai, bisa beri-kan bola-nya pada ku." Pinta Naruto, yang mendapat balasan, dari Hyuuga, dan Kuroko, dengan ekresi tanda tanya. "Aku akan menunjukan, permainan kelas dunia pada Kise." Ujar Naruto. Permaian yang saat ini Kise guna-kan bukan-lah hal yang menakjub-kan bagi Naruto. Walau-pun tingkatan-nya sudah sangat berbeda dari tingkatan anak SMA pada umum-nya, tapi belum dapat dijajar-kan dengan pemain sekelas Naruto, pemain yang sudah diakui hingga tingkat dunia.

"Apa maksud mu, Menma?" tanya Hyuuga bingung. Jujur saja, Hyuuga tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Naruto. Permainan kelas dunia? Apa Naruto pernah bermain ditingkatan dunia? Entah Hyuuga sama sekali tidak tau. Tapi yang Hyuuga yakin, adalah Naruto akan 1 on 1 dengan Kise.

"Kau lihat saja nanti. Yang penting serah-kan bola-nya pada ku." Balas Naruto, yang berlari mudur ke daerah-nya.

"Baiklah, kami mengerti." Balas Kuroko datar. Walau-pun Kuroko tidak tau apa maksud Naruto, tapi yang Kuroko yakin, Naruto akan menang melawan Kise, karena melihat permainan Naruto yang sebanar-nya, sama seperti melihat laut tanpa dasar.

.

"Menma tangkap ini." Hyuuga mengoper bola-nya kepada Naruto, dengan Chest Pass, yang berdiri tidak jauh dari-nya.

Tap!

Naruto menangkap bola itu dengan sempurna. Menjatuh-kan bola-nya yang ditangan-nya, Naruto menatap Kise dengan seringai-nya. "Akan aku tunjukan, style permainan ku, Kise." Naruto mengakhiri kalimat-nya dengan mendribble bola menuju Kise.

"Aku tidak akan memberiakan mu..." Kise mencoba menghentikan Naruto. Tapi dengan gerakan yang sangat lembut, Naruto memutar tubuh-nya, dari sisi kiri, kekanan, dan memindah-kan bola-nya menggunakan telapak tangan, yang menyuntuh sisi bola, yang membuat-nya berputar, 180 derajat.

"Masih belum..." seperti dugaan Naruto, Kise masih belum menyerah, dan masih mencoba menghentikan Naruto, yang menurut pandangan Kise, Naruto sudah tidak mampu bergerak, karena gerakan-nya yang terkunci, sehabis memutar tubuh-nya 180 derajat.

"Benarkah begitu?" Naruto menyeringai. "Kau tidak lihat bola-nya menghilang." Ujar Naruto yang memperlihat-kan kedua tangan-nya pada Kise, kalau dia memang tidak sedang membawa bola-nya.

"Kemana bola-nya?" batin Kise bingung.

"Tapi sekarang bola-nya kembali ketangan ku." Kise terkejut, melihat Naruto yang sudah ada dibelakang-nya, dengan mendribble bola yang tadi tidak ada ditangan-nya. "Apa kah, kau masih bisa menghentikan ku?" ujar Naruto dengan menembakan bola-nya ke Ring Kaijo.

Blush!

Bola tersebut masuk dengan sempurna tanpa hambatan sedikit-pun.

.

Mata coklat Riko, dengan jelas melihat stle yang digunakan Naruto. Riko sangat terkejut melihat style yang digunakan Naruto, yang Riko yakini adalah style tingkat dunia, karena Riko sangat yakin, dia pernah melihat gaya itu, dari salah satu pemain basket wanita di Amerika.

Mendribble bola, memain-kan lawan, lalu memantul-kan bola melalui sela kaki lawan, tanpa disadari lawan, karena sedang terprovokasi, lalu membuat lawan bingung, karena bola sudah menghilang, dan mencari-nya, setelah itu lari menuju bola yang telah melewati lawan dari sela kaki lawan, dan memasukan bola kedalam Ring. Riko sangat yakin, teknik itu pernah dia lihat sebelum-nya, dan teknik itu, bukan-lah teknik sembaran, karena dibutuh-kan kontrol yang sangat bagus dalam mendribble bola, dan ekpresi yang sesuai.

"Aku tidak percaya dia dapat melakukan, teknik dalam tingkatan yang berbeda." Batin Riko yang masih takjub dengan yang dia lihat.

Tidak jauh beda dengan gadis disamping-nya, Hinata menatap Naruto tidak percaya, yang bercampur dengan pandangan takjub, karena gerakan yang sangat lembut. "Gerakan yang sangat lembut, dan teknik yang mengagum-kan. Aku tidak percaya, Naruto-san seorang anak SMA." Batin Hinata.

.

"Teknik itu, sungguh menakjub-kan. Aku pernah melihat-nya sekali di Amerika, tapi tidak aku sangka aku akan melihat-nya lagi disini." Guman Kagami menatap Naruto takjub. Kagami masih tidak bisa mempercayai, dia sangat yakin, tingkatan level yang dia punya, berbeda dari tingkatan level yang Naruto punya. "Mungkin sewaktu-waktu, aku bisa minta dilatih salah satu teknik-nya." Batin Kagami.

Phantim Sixthman Kiseki no Sedai, menatap Naruto dengan senyum. Kuroko yakin, Naruto sudah berkembang sangat pesat dibanding-kan dengan 1 ½ tahun yang lalu. "Permainan mu menakjub-kan seperti biasa-nya." ujar Kuroko, yang mengapal-kan tangan-nya, didepan Naruto.

"Tentu saja."

Tap!

Naruto membalas tinju Kuroko dengan Tinju-nya. "Tapi pertandingan ini belum berakhir. Kita masih mempunyai 3 menit yang tersisa." Ujar Naruto, yang melihat jalan waktu-nya pertandingan.

.

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Kise mendribble bola, ke Ring Seirin, dengan melakukan pass kepada pemain Kaijo lain-nya. Sebuah senyum terukir dibibir Naruto, menurut-nya pertandingan ini telah berakhir, karena bagi-nya, pertandingan ini, hanya untuk menyadar-kan Kise, kalau cara bermain seorang diri itu salah.

"Satu orang telah kembali." Batin Naruto tersenyum. Mengalih-kan pandangan-nya, Naruto melihat Kagami yang sedang dihadang oleh Kasamatsu. "Kagami, berikan pada ku." Teriak Naruto cukup keras.

Tap!

Kagami menangkap bola yang dibawa. Dengan tenaga yang cukup kuat, Kagami melakukan Overhead Pass kedepan, dengan, Naruto berlari mengikuti arah lemaparan bola-nya. "Aku serah-kan pada mu, Menma." teriak Kagami keras.

Tap!

Naruto mengkap bola yang dilempar-kan, yang hampir keluar arena, dengan melompat diudara. Memutar tubuh-nya, yang masih berada diudara, Naruto melakukan Spon Shoot, ke Ring Kaijo.

Blush!

Bola tersebut masuk dengan sempurna, yang membuat Skor Seirin menjadi 100, dan Kaijo, yang masih 96.

"Pertandingan ini belum berakhir." Kasamatsu, dengan kuat melempar-kan bola basket, yang baru saja dimasukan oleh Naruto, dengan Basball Pass, kepada Kise yang sudah melewati tengah lapangan.

"Shimata." Batin Naruto, yang baru saja menapakan kaki-nya di lantai. Membalik badan-nya, dia berusaha untuk mengejar Kise, tapi percuma, karena Kise sudah berada dibawah Ring.

"Aku tidak akan pernah menyerah, bukan demi ku, tapi demi Club Basket Kaijo." Teriak Kise keras., dan...

Blush!

...Kise, memasukan bola ke Ring Seirin, dengan Dunk yang kuat. Tidak seperti pemain Seirin yang lain-nya, Naruto malah tersenyum melihat Kise memasukan bola. "Aku sungguh tidak percaya, dalam sekali pertandingan kau sudah berubah Kise." Batin Naruto senang, karena teman lama-nya akhirnya mengerti, arti dari kerja sama team.

"Prrrrttttttttttt."

Waktu perantandingan berakhir, dengan kemenangan Seirin, yang tentu saja, membuat Anggota Club Basket Seirin, berteriak senang.

"Yossssha." Kagami bertriak dengan keras, dengan meninju udara diatas-nya.

"Aku sungguh tidak mempercayai ini, kita dapat mengalah-kan Kaijo." Ujar Hyuga pelan, dengan mengelap air mata dibalik kacamat-nya.

Naruto, Kuroko, dan Izuki, yang masih berada dilapangan, tersenyum senang, melihat anggota yang lain-nya senang. "Aku tidak bisa memberi-kan koementar apa-pun." Ujar Izuki angkat tangan.

"Menma-san, kita menang."

Hangat

Naruto terkejut, tiba-tiba, Hinata memeluk-nya dari belakang, dan menangis senang dipunggung-nya. "Ya Hinata-san, kita menang, dan simpan air mata mu, karena air mata itu, hanya akan kau tunjukan nanti, di kejuaran Interhigh, dan Winter Cup, ketika kita menjadi juara." Balas Naruto, dengan memandang langit-langit. "Interhigh, Winter Cup, aku yakin, kita berlima akan bertemu disana, Kiseki no Sedai." Batin Naruto.

"Dalam pertama kali-nya di hidup ku, aku kalah." Kise menatap tidak percaya, dan meneteskan air mata.

"Kenapa Kise mnengis? Ini-kan hanya latih tanding."

"Iya, lagi-pula, masih ada kesempatan berikut-nya kan."

"Kise-kun, kekalahan, bukan akhir dari segala-nya." Kuroko yang berada didepan Kise, mengulur-kan tangan-nya pada Kise. "Kita akan bertemu lagi nanti di Interhigh, dan nanti bukan hanya pertandingan mu melawan Seirin, tapi Kaijo, team sepenuh-nya, dengan kerja sama team, aku menantikan bisa melawan Kaijo yang sesungguh-nya, Kise-kun." lanjut Kuroko.

"Kurokocchi." Kise menatap sendu Kuroko. Sebuah senyum, seketika terukit diwajah tampan Kise. "Aku akan berusaha, tidak, kami semua akan berusaha menjadi Team yang sesungguh-nya, dan kembali melawan Seirin, dengan kemampuan maksimal, karena aku tau, pemain yang bernama Menma itu, belum sepenuh-nya serius." ujar Kise, dengan menatap Naruto, yang masih dipeluk oleh Hinata.

"Akan aku sampai-kan pesan mu, Kise-kun." balas Kuroko tersenyum kecil.

"Semua-nya berbaris!" Sesuai yang diperintah-kan wasit, seluruh pemain kembali berbaris ditengah lapangan, seperti saat sebelum melakukan pertandingan.

"Dengan 100 melawan 98, SMA Seirin menang."

"Arigato Gozaimasu."

OoOoOoO

"Karena SMA kita berbeda distrik, selanjut-nya jika kita bertemu, di Interhigh." Ujar Kasamatsu dengan senyum bersahabat, dan menjabat tangan Hyuuga.

"Kita pasti lolos. Dan kita tidak akan mau menembak cewek sambil telanjang." Balas Hyuuga, yang masih berjabat tangan dengan Kasamatsu. "Yosh, ayo pergi!" ujar Hyuuga keras pada anggota Club yang lain-nya.

"Ha'i" balas seluruh-nya, kecuali, Hinata, yang melihat sekeliling, karena sama sekali tidak melihat salah satu dari Ace mereka, yang memiliki rambut light-blonde.

"Tunggu dulu, Naru- Menma-san, tidak ada disini." Ujar Hinata yang sedikit bingung, tentu saja membuat anggota Club Basket Seirin menjadi terkejut, karena pemuda itu seperti jalangkung, datang tidak dijemput, pulang tidak diantar.

"Kita cari dulu, pirang bodoh itu, lalu kalau ketemu, akan aku cekik dia sampai kehabisan nafas." Ujar Riko kesal, yang membuat anggota Club Basket Seirin, termasuk Kaijo, menjadi merinding, mendengar kalimat yang dilontar-kan, pelatih Seirin tersebut.

"Pelatih, kau mencoba membunuh Uzumaki." Batin Kagami sweadrop.

"Beruntung kami tidak memiliki pelatih macam itu." Batin Kasamatsu, bernafas lega, karena pelatih-nya tidak pernah bermain fisik, walau-pun terkadang kata-kata yang dikeluar-kan pelatih mereka cukup pedas.

OoOoOoO

Kisa membasuh wajah-nya yang berkeringat dengan air keran. Walau-pun dia sudah mendengar seluruh kalimat semangat dari Phantom Sixth Kiseki no Sedai, tapi tetap saja, rasa sedih dari kekalahan, tidak akan hilang begitu saja.

"Menurut horoskon, bintang Gemini mu, hari ini memang hari sial mu. Tapi tidak aku sangka, kau akan benar-benar kalah."

Kise mengalih-kan pandangan-nya, dan melihat teman lama-nya, yang memiliki rambut hijau, dan memakai kacamata, Shintaro Midorima, salah satu pemain Kiseki no Sedai, yang mempunyai bakat shoot, dan tidak pernah melesat ketika melakukan shoot dari jarak sejauh apa-pun. "Tidak aku sangka, kau menonton, Midorimacchi." Balas Kise, menatap sendu, Midorima.

"Yah, siapa-pun yang menang, pertandingan yang tadi sama sekali tidak menyenang-kan. Monyet-pun juga bisa melakukan Dunk seperti kau tadu di waktu terakhir. Jelas saja, jika takdir tidak memihak pada mu." Ujar Midorima datar, dengan membetul-kan posisi kacamata-nya, yang sedikit turun.

"Ini pertama kali-nya kita bertemu sejak SMP ya? Lama tak bertemu." Kise manatap Midorima dengan senyum khas-nya. "Seperti biasa kau selalu melakukan Tepping pada jari-jari mu ya. Lagi pula mau Dunk atau apa-pun, kalau bola-nya masuk, tidak masalah-kan?" lanjut Kise.

"Karena itu kau kalah. Tentu saja masuk bola-nya, kalau jarak-nya sedekat itu. Shoot memiliki point tersendiri kalau dari jauh. 'bila manusia berusaha, Kami-sana pasti akan mengabulkan-nya.' apakah kau pernah mendengar pepatah itu?" balas Midorima datar. "Lagi pula, hal itu tidak penting dibicara-kan dengan otak udang seperti mu." Lanjut Midorima.

"Seterah apa mau mu, Midorimacchi." Balas Kise tidak peduli, dengan nasihat Midorima, yang tidak membuat Kise tertarik.

"Yang lebih penting, aku tidak menyangka, ada pemain yang dapat meniru gaya permainan Uzumaki." Ujar Midorima datar, tapi dengan kesan tidak percaya. "Style, teknik, gerakan, semua-nya 100% sama dengan Uzumaki, terlebih lagi, setiap gerakan yang lembut dan halus, membuat ku semakin yakin, kalau itu memang Uzumaki." Lanjut Midorima.

"Maksud Menma? Aku pikir tidak begitu, Uzumakicchi, akan melakukan Eagle no Shooting, dalam pertandingan-nya, tapi dia sama sekali tidak melakukan-nya tadi. Itu yang membuat ku yakin, kalau dia bukan Uzumakicchi, walaupun hampir keseluruhan 100% sama dengan yang dipunya Uzumakicchi." Balas Kise yang tidak setuju dengan pendapat Midorima, karena setiap pertandingan saat di Teiko, Naruto selalu melakukan Eagle no Shooting, sebagai ciri khas-nya.

"Terlebih lagi, Uzumakicchi telah dikabar-kan meninggal saat usai-nya pertandingan waktu itu, bahkan kita sampai membuat kuburan-nya, walaupun tanpa mayat-nya. apa kau lupa itu?" ujar Kise dengan menatap datar Midorima.

"Mungkin kau benar. Aku terlalu berlebihan menganggap dia sebagai Uzumaki. Ya aku akui, aku memang takut jika melawan Uzumaki, terlebih lagi, dia adalah wujud monster yang sesungguh-nya di Kiseki no Sedai. Pemain paling berbakat, yang bahkan mempunyai bakat Shooting, sama seperti ku, walaupun Shoot-nya tidak sejauh diri-ku. Tapi mungkin itu dulu, ketika aku belum berkembang seperti sekarang." Ujar Midorima datar. Bukan hanya Midorima, mungkin seluruh pemain Kiseki no Sedai, seperti menatap laut tanpa dasar kalau melihat permainan Naruto yang sesungguh ketika SMP, tapi sekarang mungkin tidak, karena mereka semua telah berkembang dengan pesat.

"Apa kalian membicara-kan Onii-ssn."

Kise beserta Midorima mengalih-kan pandangan mereka, dan melihat sosok yang mereka kenal sebagai Menma, berdiri dibelakang mereka, dengan pakain jas, dengan dalaman berupa kemja putih.

"Onii-san?"beo Kise.

"Ya, Naruto Uzumaki, adalah kakak ku, nama lengkap ku adalah Menma Uzumaki, dan aku paling tidak suka dipanggil Uzumaki, itu sama saja seperti kalian berbicara dengan orang tua ku." Ujar Naruto tenang. "Jadi apa yang kalian bicara-kan? Apa kah ada sesuatu yang menarik tentang Onii-san? Seperti mantan pacar-nya? atau siapa saja gadis yang sudah ditiduri oleh-nya?" tanya Naruto tenang. "Ini sama saja aku menghina diri ku sendiri." Batin Naruto sweadrop, dengan akting-nya yang kelewat batas.

"Jangan seenak saja kau bicara. Walau-pun kau adik dari Uzumakicchi, tidak sepantas-nya kau bicara begitu tentang Uzumakicchi. Walau-pun banyak gadis yang mengidolakan dia saat SMP, tapi dia tidak akan pernah melakukan itu, karena Uzumakicchi, hanya cinta pada Momocchi." Kesal Kise, karena teman lama-nya, tidak lebih tepat-nya, orang yang sangat dia hormati, selain Ace Kiseki no Sedai, dihina begitu saja didepan-nya.

"Satsuki kah? Sudah lama aku tidak melihat-nya. dari kabar yang aku dengar dia sekarang suka dengan Tetsuya." Batin Naruto. "Souka. Aku tidak tau, kalau begitu aku pergi dulu, jaa ne." Ujar Naruto melangkah-kan kaki—nya pergi. "Cinta? Jangan bercanda. Tapi mungkin ada benar-nya, apa aku masih mencintai, Satsuki ya? Entah-lah" batin Naruto bertanya-tanya, dan menghilang dari pandangan Kise, dan Midorima.

"Hey, Kise, bukan-nya, Momoi, suka dengan Kuroko? Aku tau Uzumaki, dan Momoi, permnah menjalani hubungan sampai 1 Tahun, tapi setelah Naruto dikabar-kan meninggal, apa Momoi masih mencintai-nya?" ujar Midorima bingung.

"Huh..." Kise menghela nafas pelan. "Aku juga tidak tau, apa Momocchi masih mencintai Uzumakicchi atau tidak, tapi kalau menurut ku, Kurokocchi hanya sebagai tempat pelarian Momocchi. Apa kau lupa saat Uzumakicchi dikabar-kan meninggal, apa reaksi Momocchi saat itu?" balas Kise, mengingat-ingat kenangan, saat Manager Team Teiko-nya, menangis histeris saat orang yang dihormati oleh seluruh pemain Kiseki no Sedai dikabar-kan meninggal.

OoOoOoO

"Kalian sedang mencari apa?" tanya Naruto, pada, Kuroko, dan Kagami, yang Naruto lihat sedang mencari sesuatu, atau seseorang mungkin, entah-lah Naruto tidak tau.

"Dari mana saja kau?" ujar Kagami kesal, pada Naruto yang baru saja muncul. "Kau tau, semua-nya, sedang mencari mu? Ayo kita ketempat yang lain." Ujar Kagami, yang menyeret Naruto, sedang-kan Naruto hanya pasrah saja, dan Kuroko mengintili mereka dari belakang.

.

"Pelatih, aku menemukan-nya." teriak Kagami, pada Riko, yang menunggu didepan gerbang SMA Kaijo. Tanpa ragu, Kagami menyerah-kan orang yang telah dia temu-kan pada Riko, yang menatap Naruto penuh dengan amarah.

"Dimana kau menemukan-nya, Kagami?" tanya Izuki, karena Izuki sudah mencari keseluruh penjuru SMA Kaijo, tapi tidak menemu-kan Naruto dimana-pun.

"Dia datang sendiri. Dan apa Senpai lupa, kalau Naruto mempunyai hawa kehadiran yang tidak jauh beda dengan Kuroko, jadi jelas saja, Senpai tidak menemukan-nya." balas Kagami, yang membuat-nya para Senpai-nya menatap tidak percaya pada Naruto, kalau Naruto mempunyai hawa kehadiran yang tidak jauh beda dengan Kuroko, karena menurut mereka tidak mungkin pemain sehebat Naruto mempunyai hawa kehadiran yang lemah.

"Naruto-kun, bukan-nya mempunyai kehawadiran yang sama dengan ku, tapi Naruto-kun bisa menyembunyi-kan hawa kehadiran-nya, entah apa yang dia lakukan, aku sendiri tidak tau." ujar Kuroko, menjelas-kan kalau penjelasan yang diberi-kan Kagami, salah.

"Dari mana saja kau, pirang bodoh!" Tanpa ragu, Riko mencekik Naruto, yang tentu membuat Naruto kesulitan bernafas.

"Tetsuya, tolong aku..." perkataan Naruto, diabai-kan oleh Kuroko, karena Kuroko juga tidak mau kena cekikan dari Pelatih-nya, yang sungguh mengerikan.

"Kagami, seperti-nya, kau salah memberi-kan Uzumaki, pada Riko." Ujar Hyuuga, yang menatap sweadrop Naruto, yang sudah hampir benar-benar kehabisan nafas karena cekikan Riko. "Karena sudah berkumpul semua. Ayo kita pulang!" teriak Hyuuga.

"Ya."

OoOoOoO

"Tidak ada masalah." Ujar Riko dengan mengacuh-kan jempol-nya, pada anggota Club Basket, yang memberitahu hasil pemeriksaan Kuroko, kalau Kuroko sama sekali tidak terkena akibat fatal dari benturan tangan Kise, yang mengenai dahi-nya.

"Huh..." Naruto bernafas lega. "Kau membuat ku kawatir Tetsuya." Ujar Naruto. sebagai teman, tentu saja, Naruto kawatir, keadaan Kuroko. Walau-pun menurut itu hanya luka kecil, tapi tetap saja, membuat Naruto kawatir, kalau Kuroko akan berhenti bermain basket.

"Bagus-lah..." Hyuuga juga bernafas lega, mendengar Kondisi Kuroko, begitu juga dengan yang lain-nya.

"Maaf sudah membuat kalian kawatir." Ujar Kuroko datar, tapi tetap merasa tidak enak, dengan yang lain-nya, karena membuat mereka semua kawatir.

"Saat kau jatuh, aku tidak tau harus bagaimana."

"Ya bagus-lah, kalau kau tidak apa."

"Tapi itu tidak masalah-kan sekarang." Kagami tersenyum, lalu mengangkat, tangan-nya tinggi-tinggi. "Kita menang!" teriak Kagami, begitu juga dengan yang lain-nya, kecuali Naruto dan Kuroko, yang hanya tersenyum.

.

Club Basket Seirin, kini berjalan ditrotoar, untuk pulang, mengingat hari sudah mulai sore, dan besok mereka juga harus ke sekolah pagi-pagi, walau-pun hari minggu, karena besok ada latihan dan informasi tentang kejuaran Interhigh. "Sebelum pulang, bagaimana kalau kita mencari tempat makan?" tanya Izuki, yang berjalan paling depan.

"Memang mau amakan apa?" tanya Hyuuga, yang berjalan dibelakang Izuki.

"Yang murah saja, aku tidak punya uang." Balas Koganei, yang berjalan dibelakang, Hyuuga.

"Aku juga."

"Aku juga."

"Begitu-pun aku."

"Tunggu sebentar." Riko memberhentikan langkah, orang yang berjalan didepan-nya. "Berapa banyak uang yang kalian punya saat ini?" tanya Riko kepada yang lain-nya. Semua-nya menyerah-kan uang mereka kepada Riko, dan tentu saja, membuat Riko, beserta yang lain-nya sweadrop, karena total-nya hanya 21 Yen.

"Ah iya." Hyuuga ingat sesuatu. "Uzumaki, kau belum menyerah-kan uang mu kan?" tanya Hyuuga, dengan menatap Naruto penuh harap.

"Eh..." Naruto kaget. Mengaruk-garuk kepala-nya yang tidak gatal, Naruto tersenyum kecil. "Gomen, aku tidak punya uang sama sekali." Ujar Naruto jujur, karena Naruto memang tidak membawa uang, tapi membawa dompet yang dipenuhi oleh karti ATM.

"Kalau begitu jual saja pakaian mu, Uzumaki." Balas Hyuuga.

"Tidak, tidak. Ini pakaian berharga ku." Merogoh kantung belakang celana-nya, Naruto mengerluar-kan dompet-nya. "Kalau begitu kalian guna-kan ini saja," ujar Naruto, dengan memberi-kan salah satu kartu ATM-nya.

"Kau punya kartu ATM sendiri? Aku tidak percaya." Hyuuga menatap tidak percaya Naruto, begitu-pun yang lain-nya, karena anak-anak SMA di Jepang, jarang yang mempunyai kartu ATM sendiri, selain untuk membuat kartu ATM yang begitu mahal, mereka juga harus dikena-kan bungga perhari-nya.

"Sudah-lah jangan banyak bicara." Balas Naruto. "Sekarang kita makan dimana, biar aku yang bayar." Ujar Naruto tenang, dan kembali memasukan dompet-nya kedalam saku belakang celana-nya.

"Kau yakin?" tanya Hyuuga memandang tidak percaya.

"Sudah aku kata-kan jangan bayak bicara. Jadi dimana? Biar aku yang bayar, dan kalian boleh memesan apa-pun." Balas Naruto, yang tentu membuat pelatih team basket-nya berbinar-binar dengan penawaran Naruto.

"Kalau begitu ayo!" dengan senang, Riko berjalan duluan, dan meninggal yang lain-nya, yang hanya diam mematung, denga sikap, Riko.

OoOoOoO

"Ah kenyang-nya." Kagami mengelus-elus perut-nya yang membuncit. "Aku tidak menyangka, Uzumaki punya uang sebanyak itu." ujar Kagami, dengan menatap langit-langit restauran.

Kuroko yang telah selesai memakan makanan yang dia pesan, menggambil Vanila Shake-nya, yang terletak dimeja. "Aku sebagai teman lama-nya saja, tidak percaya, Naruto-kun, mempunyai uang sebanyak itu." balas Kuroko.

"Ngomong-ngomong, kemana Uzumaki?" tanya Hyuuga, yang baru menyadari kalau, Naruto tidak bersama mereka.

Riko, yang tengah meminum, jus stobery-nya, harus berhenti, mendengar kalimat pertanyaan, yang dilontar-kan oleh Hyuuga. "Pergi sebentar dengan Hinata, aku tidak tau kemana. Mungkin saja kencan." Ujar Riko.

"Apa Uzumaki bisa mendekati Hinata-san? Kalau iya, aku sungguh tidak percaya." Ujar Izuki, yang juga telah selesai makan.

"Ya, karena kau pernah ditolak-kan dengan Hinata-san, Izuki." Tutur Koganei, yang memberhentikan kegiatan makan-nya, karena memang makanan yang dia pesan belum habis.

"Jangan ungkit-ungkit hal menyedih-kan itu." balas Izuki tajam, dengan menatap tajam Koganei, yang sama sekali tidak peduli, dan lebih memilih melanjut-kan makan-nya.

"Jadi Izuki-Senpai, pernah ditolak Hinata-san? Hahaha aku tidak percaya Izuki-Senpai suka dengan perempuan, aku kira suka dengan sesama jenis, makan-nya aku selalu menghindar jika dekat dengan mu, Hahaha. " Ujar Kagami, yang tidak bisa memberhentikan tawa-nya.

"Apa kau bilang?" balas Izuki menatap tajam Kagami.

"Kalau di ulangi terlalu panjang, Senpai. Singkat-nya yang dikata-kan Kagami-kun, kau itu seorang Maho." Balas Kuroko datar, yang membuat Kagami menambahkan volume tawa-nya.

"Sialan kalian."

OoOoOoO

"Naruto-san, kenapa kau mengajak ku kemari?" tanya Hinata bingung, karena diajak ketempat pembelajaan, singkat-nya Mall. Hinata tidak mengerti, dan Hinata yakin perempuan manu-pun tidak akan mengerti, secara tiba-tiba diajak ke sebuah Mall, ya walau-pun tidak sebesar Mall yang pernah dia kunjungi dengan Riko.

Naruto tersenyum kecil. "Aku akan membalas uang yang kau keluar-kan untuk membali seragam, dan jaket basket ku." Balas Naruto. mengalih-kan pandangan-nya, Naruto melihat kesetiap toko. "Jadi kau mau apa? Akan aku beli-kan, berapa-pun harga-nya." ujar Naruto.

"Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak menggap itu hutang Naruto-san. Aku dengan suka rela membeli-kan mu, tanpa imbalan." Balas Hinata yang menolak dengan halus. Hinata tidak suka dibeli-kan sesuatu benda, kalau untuk membalas uang yang dia beri-kan, Hinata orang yang dengan suka rela, memberikan uang, asal uang itu digunakan untuk hal yang berguna.

"Souka, kalau begitu anggap saja ini hadiah, karena kita berhasil menang dari Kaijo. Dan jika kau menolak, kali ini, aku benar-benar mencium mu, tidak ditempat sepi, tapi disini." Balas Naruto tersenyum kecil.

"Huh..." Hinata menghela nafas pelan. "Baiklah. Yang aku ingin-kan hanya ponsel. Aku sangat sulit menghubungi Riko-chan, tanpa ponsel, atau yang lain-nya. tidak apa-kan?" balas Hinata menatap Naruto tenang.

"Aku mengerti." Naruto mengangguk kecil. "Kalau begitu ikut aku." Ujar Naruto, yang berjalan, dan Hinata membuntuti-nya dari belakang. Tiba-tiba Naruto berhenti, padahal mereka baru berjalan lima langkah. "Aku tidak bilang untuk membuntuti ku, tapi ikut aku." Tutur Naruto.

"Lalu bagaimana?"

"Jalan disamping ku. Aku tidak suka orang mengikuti ku dari belakang." Balas Naruto tenang. Dengan ragu-ragu, Hinata berdiri disamping Naruto, dan segera berjalan, tapi berbeda dengan Naruto yang tenang, Hinata sangat gugup, berjalan berdampingan dengan pemuda light-blonde, yang meruapakan salah satu Ace dari Seirin.

.

"Naruto-san aku tidak bilang Smartphone, aku bilang ponsel. Dan ini juga terlalu mahal." Ujar Hinata, yang menolak dibelikan Samrtphone berwarna putih, dengan harga 66.467 yen.

"Hinata-san, ponsel, dan Smartphone hampir sama, jadi terima saja." Balas Naruto tenang, yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Hinata, karena orang biasa-nya akan senang dibelikan Smartphone dibandingan dengan ponsel.

"Tidak bisa ini terlalu mahal." Tolak Hinata. "Yang biasa saja, Naruto-san." Ujar Hinata.

"Hinata-san, sebenar-nya aku tidak suka penolakan, terima ini, atau aku akan melakukan yang tadi aku bilang." Balas Naruto dengan nada tajam. "Gadis ini sungguh keras kepala. Tapi aku suka gadis sederhana seperti-nya." batin Naruto, yang mulai mengerti dengan jalan pikiran Hinata.

"Ta-tapi..."

"Sudah aku kata-kan, aku tidak suka penolkan, terima, atau aku cium kau." Ancam Naruto dengan nada tajam.

"Ba-baiklah." Ujar Hinata gugup, dan menyerah-kan kembali Smartphone yang dia pegang pada Naruto, untuk diserah-kan pada kasir. "Naruto-san." Panggil Hinata, pada Naruto yang berdiri didepan-nya.

"Hm?" balas Naruto, tanpa mengalih-kan pandangan-nya dari kasir.

"Tadi kenapa kau tidak serius saat bermain? Aku yakin kalau serius dan bermain seorang diri, Kise pasti akan kalah telak." Ujar Hinata bingung dengan Naruto, yang tidak serius ketika melawan Kise, Hinata yakin itu, dari setiap teknik yang dintujukan Naruto, Hinata yakin, Naruto masih lebih hebat dari itu.

"Aku bukan orang yang menganggap menang adalah segala-nya. karena bagi ku menang atau kalah sama saja, karena yang aku ingin-kan permainan yang mengasikan dengan suma-nya, atau bisa dibilang, pertandingan yang sesungguh, Team melawan Team, bukan Team melawan Pemain, seperti tadi kau lihat. Bukan Kaijo melawan Seirin, melainkan, Ryota melawan Seirin. Apa kau paham?" tanya Naruto, dan hanya dibalas anggukan saja oleh Hinata. "Kita pergi." Ujar Naruto, yang telah menerima barang yang dia beli.

OoOoOoO

"Kalian lama sekali, dari mana saja?" tanya Riko, menatap Naruto, dan Hinata yang baru saja datang. "Kau tidak melakukan yang macam-macam pada Hinata kan, Uzumaki-kun?" tanya Riko menatap tajam Naruto.

"Tadi aku hanya mencium-nya." balas Naruto tenang.

"Eh..."

Seluruh anggota Club Basket terkejut, termasuk Hinata yang berdiri disamping-nya. Hinata tidak mengerti kenapa Naruto berkata seperti itu? itu adalah hal yang paling memalukan bagi Hinata, jika dia berciuman dengan seseorang, dan orang lain mengetahui-nya.

"Apa benar itu Hinata?" tanya Riko menatap Hinata tidak percaya. Jujur saja, Riko masih tidak percaya dengan omongan Naruto, yang menurut Riko hanya bualan saja. Dapat mencium Hinata, tidak bergandengan tangan dengan Hinata saja, sesuatu hal paling beruntung bagi Riko, karena Hinata adalah wanita tercantik di SMA Seirin.

"Tidak, tidak." Hinata menggeleng cepat. "Naruto-san, hanya membeli-kan ku Smarphone." Ujar Hinata, dengan menunjukan Smartphone yang dibeli-kan Naruto. "Shimata. Kenapa aku bilang ke Riko-chan." Batin Hinata panik.

"Sugoi." Riko menatap Smarphone Hinata dengan berbinar-binar. Memang bukan pertama kali-nya Riko melihat Smartphone, tapi ini pertama kali-nya, Riko melihat Smartphone, yang begitu bagus menurut-nya. "Berapa harga-nya Hinata-chan?" tanya Riko menatap Hinata.

"Hmm, kalau tidak salah, 66.467 yen." Jawab Hinata, dengan memegang dagu-nya, mengingat-ingat harga Smartphone yang dibeli-kan Naruto, yang tadi sempat dia lihat sebentar.

"Ha?" Seluruh cwowok menatap tidak percaya Naruto, termasuk Kuroko yang biasa-nya berwajah datar. Uang segitu bukan-lah uang yang seharus-nya dimiliki seorang peajar SMA, terlebih lagi, dia masih kelas 1 SMA.

"Sebenar-nya berapa banyak uang yang kau punya?" tanya Hyuuga yang masih tidak percaya. Bukan hanya membeli-kan mereka makanan, yang harga-nya, mencapai ratusan yen, tapi membli-kan Hinata Smartphone yang harga-nya, puluhan ribu yen.

"Entah-lah aku tidak tau." balas Naruto tenang. "Dari pada membahas itu, lebih baik kita pulang." Ajak Naruto, karena dia yakin, pasti akan banyak lontaran pertanyaan dari yang lain-nya. berkas-berkas dikantor-nya sudah pasti menepuk saat ini, dan dia harus menyiap-kan tenaga untuk kerja nanti malam.

"Ya. Itu benar. Berlama-lama disini, seperti-nya kurang baik, karena hari juga sudah mulai gelap." Balas Kuroko datar.

"Hm."

.

To Be Continued

.

Autthor Note: Gomen lama update, mengingat tugas sekolah saya yang menumpuk, dan kegiatan eskul saya yang cukup padat karena lomba, jadi lama. Walau-pun begitu, saya akan tetap berusaha untuk melanjut-kan fic ini, karena fic ini memang tidak terlalu panjang, mungkin hanya 20-an Chapter.

Bayak yang bertanya, Apa-kah Naruto bisa masuk Zone? Jawaban bisa, tepi tidak seperti Aomine, atau Kagami, Zone Naruto itu istimewa, bahkan sangat istimewa, tapi syrat yang dipnuhi, harus tercapai, maka Naruto akan mengeluar-kan Zone-nya. lalu alasan Naruto menghancur-kan Kiseki no Sedai, karena Naruto memang ingin melawan Kiseki no Sedai, tapi tidak seorang diri melaikan dengan Team, seperti yang sudah dikata-kan, Team melawan Team, bukan Pemain melawan Team.

.

Info Techique:

Chest Pass: Operang bola yna dilakukan didepan dada, dan dilempar lurus dengan telapak tangan..

Overhead Pass: Operan yang melewati pemain lawan, dengan operang diatas kepala.

Bonce Pass: Operang dengan memantulkan bola ke lantai.

Spon Shoot: Menembal-kan bola, dengan melambungkan-nya, menggunakan ujung-ujung jari.

Basball Pass: Lemaparan jarak jauh, dengan melebihi setengah lapangan, yang bola berada di belakang kepala.

Dunk: Memasukan bola, dengan menghempaskan tangan ke Ring.

.