Ia selalu mendengar cerita dari bangsanya, bahwa jika salah satu bagian dari bangsa mereka ditangkap, maka berikutnya bisa terjadi perburuan besar-besaran. Bangsa mereka dijadikan sebagai bahan perdagangan dengan harga yang tinggi karena kelangkaan mereka. Cara mereka menangkap bangsanya bermacam-macam. Ada yang dengan cara yang kejam dan ada pula baik. Atau lebih tepatnya pura-pura baik.
Itu kenapa mereka dilarang untuk menampakkan diri di saat ada keberadaan manusia. Sehingga ia mengandalkan ketajaman pendengarannya untuk mengetahui kondisi di luar laut.
Namun semuanya berubah ketika ia tak sengaja muncul ke permukaan laut tanpa melihat keadaan terlebih dahulu. Selang beberapa hari, perburuan pun terjadi. Termasuk dirinya, yang sekarang telah ditangkap dan dijual kepada salah satu pengusaha terkaya.
Awal-awal ia berada di rumah barunya itu, ia merasa tidak nyaman. Tempat yang ia tempati itu tidak bisa membuatnya leluasa bergerak. Dan lama-kelamaan, ia betah berada di sana. Ia selalu diberi perhatian dari Tuan yang membelinya. Selain itu, apapun yang ia pinta, Tuannya selalu memberikannya.
Sayangnya akhir-akhir ini Tuannya itu sudah jarang memberikannya perhatian secara langsung. Ia hanya mendapatkan apa yang ia butuhkan lewat asisten rumah tangganya. Itupun hanya sebatas sampai jam 9 malam.
Sungguh, ia merasa bosan. Tidak ada teman mengobrol seperti biasa. Jangankan itu, ucapan pagi, siang, malam itu pun sudah tak ia dengar lagi. Tuannya pun jarang datang ke ruangan khususnya.
Ia pernah bertanya kepada asisten rumah tangga Tuannya, dimana keberadaannya. Ia pun mendapat jawaban bahwa Tuannya itu sedang sibuk mengurus pekerjaan di kantor. Tuannya terbiasa pulang pagi dan pergi pagi lagi. Makan pun jarang di rumah. Ia jadi penasaran bagaimana kondisinya. Ia merasa cukup khawatir.
"Aku kangen," gumamnya sambil menepuk-nepuk kuat air yang ada di kolam buatan miliknya.
Cklek
Tak lama orang yang ia rindukan datang. Biasanya ia akan tersenyum sumringah, atau antusias menyebut namanya berulang kali, kali ini ia memanyunkan bibirnya. Mungkin merasa kesal.
"Kenapa?" tanya Tuannya itu dengan datar. Tuannya itu memang selalu bernada datar jika bicara.
"Aku kesal denganmu!" ucapnya sambil menunjuk Tuan nya.
Yang ditunjuk itu pun datang, lalu duduk di pinggiran kolam buatan milik si Merman. Ia mencubit dan menekan kedua pipinya sampai bibirnya semakin mirip ikan.
"Aku tahu kalau kau sebenarnya merindukanku, makanya aku terpanggil buat ke sini."
"Tawu warimala (Tahu darimana)?"
"Rahasia." Ia pun melepas tangannya dari pipi Merman.
"Aku mau ke kamar dulu."
Ia yang mendengar apa kata Tuannya itu seketika langsung kesal. Ia pun menyipratkan air kolamnya dengan brutal. Namun Tuannya tak peduli dan terus berjalan keluar dari ruangannya.
"YA! MINO SIALAN! WAKTU UNTUKKU KAPAN HAH?"
Ia mengacak rambutnya kesal. "Aish! Terserah!" Ia pun menenggelamkan seluruh tubuhnya. Ia terus-terusun merutuk di dalam hati.
Kriet
Suara pintu terdengar lagi. Ia yakin bahwa itu adalah Mino, Tuannya. Ia pun semakin menenggelamkan dirinya keseluruhan. Ia memilih untuk pura-pura tidur ketika Mino memanggil namanya berulang kali.
"Sudah tidur ya? Kalau gitu aku balik lagi ke kam..."
BYURRR
Air kolam pun terguncang, dan muncullah Merman. "NOOO!" teriaknya.
"Kenapa?"
"Please, kali ini aja temani aku malam ini. Ne ne ?" mohonnya. Tatapan memohon itu membuatnya tak tega. Selalu.
"Ya."
Mino pun masuk dengan membawa laptop ditangannya dan handuk yang tersampir di pundaknya. Lebih dari itu, jangan lupakan tubuh Mino yang terekspos jelas karena hanya menggunakan bawahan selutut saja. Ia sendiri baru menyadarinya saat Tuannya semakin berjalan mendekatinya.
"Kau sakit?" tanyanya. Ia menyadari wajah Mermannya yang memerah.
"Tidak," jawabnya. Ia menggelengkan kepalanya kuat. Rambutnya yang basah membuat Mino terciprat air.
"Ya, ya. Lebih baik kau diam saja."
"Oke." Ia menurutinya.
Mino pun duduk menyender pada batuan imitasi yang ada di pinggir kolam. Ia mengerjakan pekerjaannya lagi. Si putra duyung sesekali hanya mengintip. Namun ia juga bosan hanya diam saja dan mendengar suara ketikan pada benda berbentuk persegi panjang itu.
"Kau kan sudah bekerja di kantor. Kenapa masih kerja juga disini? Terus waktu untuk akunya kapan, eoh?"
"Nanti."
"Jahat!"
"Aku ini Tuanmu"
"Bodo!"
Mino menghentikan ketikannya. Ia memutar badannya jadi menghadap Mermannya yang sedang bersedekap sambil memejamkan matanya. Merman itu terus-terusan mengoceh tanpa sadar dengan keberadaan Mino yang sudah berpindah tempat tepat di belakangnya.
"Aku menyukaimu, Jinu" bisik Mino tepat dibelakang telinganya. Biasanya Jinu akan merasa merinding. Namun kali ini ia mengabaikan Tuannya.
"Ya ya, aku tahu. Kau selalu bilang menyukaiku kalau aku sedang begini."
"Bagaimana kalau aku bilang aku mencintaimu?"
"Ya ya ya, aku tak akan terpe...APA?" Jinu sampai memutar tubuhnya menghadap Mino.
"Tidak ada pengulangan."
"Aish, bilang lagi coba. Aku mau dengar dengan jelas," rengeknya sambil menarik-narik tangan Mino.
"Gak!"
"Oh ayo lah."
"No!"
"Jebal..." Jinu mengelus-elus lengan kekar Mino.
Mino tidak tahan jika sudah begini. Menurutnya apa yang dilakukan Jinu adalah godaan terbesar untuknya. Ia pun menurutinya.
"Aku mencintaimu," ucapnya cepat.
Jinu tersenyum lebar. Ia memeluk tangan Tuannya. "Nado Saranghae, My Master!" ujarnya senang dengan bahasa lain.
Terdengar aneh mungkin balasannya. Tapi itu tak menjadi masalah untuknya. Karena yang terpenting artinya adalah mereka memiliki perasaan yang sama.
"Master," panggil Jinu. Mino pun sedikit menunduk, menatap Mermannya itu.
Chup
Jinu memberi hadiah berupa kecupan manis dari bibirnya. Mino blank seketika. Dan Jinu pun tertawa kecil melihatnya. Menurutnya, Mino jauh terlihat lebih polos daripada wajahnya yang kelihatan mesum.
"Sejak kapan kau bisa menjadi nakal?"
"Bukannya aku memang nakal ya? Kan umurku sudah ratusan tahun lebih tua darimu, kkkk."
"Masa sih?"
Jinu merinding. Memang ia pernah melihat smirk setiap orang yang berbeda-beda. Tapi hanya milik Mino yang membuatnya merinding.
"Enyah kau!" Jinu mundur dan menyipratkan airnya.
"Aku mau mandi di sini makanya aku bawa handuk." Mino sudah memasuki kolam buatan itu.
Dan berikutnya yang terjadi adalah teriakan dari Jinu karena Mino yang nekat membuka seluruh pakaiannya di depannya. Keadaan ruangan pun jadi brutal oleh aksi si Merman yang terus menghindari Tuannya yang ingin mendekatinya di dalam kolam buatan itu.
THE END
