Halo Minna-san! (^_^)
Ogenki desuka?
Gomen bgt Ryn uda telet bgt updatenya *bungkuk2*
Fanfic ini jadi terlantar gara2 Ryn ga update2
Ryn usahakan untuk kedepannya Ryn bakal percepat update'an'nya n ga telantarin fanficnya gito aja
Sekali lgi hontou ni gomenasai buad para readers
N sankyu buad readers yang uda sabar nungguin update'an Ryn *plak! ngarep!*
Ok sekedar cuap2 dari Ryn

Happy Reading Minna-san, Enjoy It!

Change You : 4. Beginning

Hinata's POV

Aku membuka mataku perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya. 'Dimana aku?' Pikirku dan merasa kepalaku berat saat mencoba bangun agar posisiku terduduk.

"Kau sudah sadar hime?" Katanya sambil membantuku bangun dan posisiku sekarang sudah terduduk di atas kasur.

Aku baru menyadari kalau Naruto ada disampingku sejak tadi. "Eh? Na-naruto?" Tanyaku dengan wajah bingung seolah-olah bertanya kenapa aku bisa disini.

"Kau tadi tiba-tiba pingsan, jadi aku menggendongmu ke ruang kesehatan."

Aku terdiam dan berpikir sejenak mencoba mencerna semua yang terjadi. Blush! 'A-apa? Jadi tadi aku pingsan? Ukh! Memalukan sekali.' Wajahku merona karena malu. 'Dan lagi aku pingsan hanya gara-gara perkataannya tadi? Eh? Tu-tunggu.. Dia menggendongku ke ruang kesehatan?!' Wajahku semakin memerah saat membayangkannya.

Tanpa kusadari Naruto meletakkan telapak tangannya dikeningku "Kau sakit hime? Wajahmu merah sekali." Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya yang semakin lama semakin dekat.

Mataku membulat. "E-eh? A-ano i-i-itu ti-ti-dak a-a-a-AKU BAIK BAIK SAJA!" Teriakku panik karena jarak wajahnya hanya tinggal beberapa centi saja dari wajahku.

Suasana langsung menjadi hening.

"Hmppfftthh.. Bwaha..ha..ha.." Tawanya geli sambil memegang perutnya memecah keheningan. "Ha..ha..ha.. Aduh.. Perutku sakit, kau sangat lucu hime. Ha..ha..ha.." Ledeknya masih terus tertawa memegangi perutnya.

Aku menggembungkan pipiku karena malu dan sedikit kesal. Menyadari aku yang tampak sedikit kesal dia mulai sedikit berhenti tertawa dan meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun kepalaku. "Tidak perlu berteriak sekuat itu hime, aku masih bisa mendengarmu kok." Ujarnya tetap terkekeh sambil mulai mengelus kepalaku. "Lebih baik kau istirahat dulu, aku mau kembali ke kelas. Sore nanti aku akan kesini lagi menjemputmu dan mengantarmu pulang." Ujarnya dengan tangannya yang masih memegangi kepalaku.

Belum sempat aku meresponnya, perlahan dia mendorong kepalaku kearahnya, tangan satunya lagi ia gunakan untuk menyibak poniku ke samping hingga membuat celah yang menampakkan dahiku.

CUP!

Naruto mencium pelan keningku. Aku tertegun sejenak, baru kali ini aku dicium oleh pria walaupun hanya di kening. Kecupannya terasa begitu hangat dan lembut.

Dia melepas kecupan di keningku, iris sapphirenya yang indah menatapku lembut dan tersenyum. "Sampai nanti Hinata-chan." Ujarnya sebelum melangkah pergi.

Aku terdiam dengan wajahku yang daritadi masih memerah, jantungku terus berdebar-debar namun entah kenapa hatiku merasa sangat nyaman. Tanpa sadar aku tersenyum sangat lembut dan manis.

"Naruto-kun..."

Hinata's POV End

Normal POV

Bel pertanda pulang telah berbunyi. Seorang laki-laki berambut coklat panjang berjalan terburu-buru menuju ke ruang kesehatan.

BRAK!

Cowok beriris lavender itu membuka pintunya dengan kasar, dan dengan penuh emosi berjalan menuju ke arah dua orang yang tengah menatapnya.

"Apa yang kau lakukan pada Hinata, brengsek!" Teriaknya sambil mencengkram kerah baju pria berambut pirang itu.

Naruto hanya diam menatapnya tanpa melawan dan menjawab sepatah kata.

"Tu-tunggu Neji nii-san, to-tolong lepaskan Na-naruto-kun." Pinta gadis lavender pada kakak sepupunya.

"Tidak akan! Aku dengar si brengsek ini membuatmu pingsan! Apa yang dia lakukan padamu Hinata?"

"Na-naruto-kun tidak melakukan apapun, ini tidak seperti yang Neji nii-san bayangkan."

Neji mengeryitkan dahinya. "Maksudmu apa Hinata? Jadi kenapa kau bisa pingsan seperti ini kalau bukan si brengsek ini melakukan hal yang macam-macam padamu."

"Aku tidak apa-apa Neji nii-san, dan aku pingsan bukan karena Naruto-kun. Aku hanya tegang dan sedikit lelah, kumohon percayalah padaku." Pintanya berusaha membujuk Neji.

Neji tidak langsung percaya begitu saja, tapi karena Hinata terus menatapnya dengan tatapan memelas akhirnya dia melepaskan cengkramannya. "Baiklah, kali ini kau kulepaskan. Jika bukan karena Hinata yang meminta, kau pasti sudah kuhajar. Dan kuperingatkan sekali lagi, jika kau berani macam-macam pada Hinata, kupastikan kau akan menyesal." Ancamnya sambil menatap tajam ke arah Naruto.

"Ayo kita pulang." Ajak Neji sambil menarik tangan Hinata.

Belum sempat beranjak, tangan Hinata yang satunya lagi ditahan oleh Naruto. "Aku yang akan mengantar Hinata pulang."

Neji kembali menatap tajam Naruto. "Lepaskan tanganmu."

Neji berusaha menarik tangan Hinata untuk menjauh, tapi Naruto semakin mempererat menahan tangan Hinata. Hinata sedikit meringis kesakitan karena kedua tangannya dicengkram erat oleh mereka.

"Kubilang lepaskan tanganmu brengsek! Kau menyakiti Hinata."

"Tidak, sudah kubilang aku yang akan mengantar Hinata pulang. Jadi kau yang harus melepas tanganmu."

"Cih! Memangnya kau pikir siapa dirimu? Hinata belum tentu mau pulang bersamamu."

"Aku pacarnya Hinata, dan mulai sekarang suka atau tidak aku yang akan menjemput dan mengantarnya pulang."

Neji menatap Naruto tidak percaya. "Heh, mana mungkin Hinata mau berpacaran dengan cowok brengsek sepertimu." Lalu menatap Hinata. "Katakan kau tidak berpacaran dengannya kan Hinata?"

"Eh.. A-ano.. I-itu.. A-aku.." Hinata hanya menunduk dan gugup tidak berani menjawab pertanyaan Neji.

"Hinata?" Neji kembali bertanya heran melihat tingkah Hinata.

"E-eto.."

"Katakan saja Hinata-chan, kau tidak perlu takut seperti itu." Ujar Naruto.

Hinata langsung menatap ke arah Naruto, kemudian mengalihkan tatapannya ke Neji yang tengah menatapnya dengan tatapan mengintrogasi. Hinata kembali tertunduk. "Ma-maaf Neji nii-san.. Ya-yang dikatakan Na-naruto-kun benar, a-aku be-berpacaran dengannya." Hinata semakin tertunduk dan wajahnya sedikit memerah.

Sontak Neji langsung mebelalakkan matanya, terkejut mendengar pengujaran Hinata. "Apa?! Bagaimana bisa kau berpacaran dengan si brengsek ini? Dia pasti memaksa dan mengancammu kan." Neji kembali menatap Naruto dengan tatapan yang lebih tajam.

"Ti-tidak! Naruto-kun tidak memaksa dan mengancamku." Bantah Hinata cepat, membuat Neji kembali menatapnya heran. "A-aku sendiri yang mau dan menerima Na-naruto-kun."

"Lebih baik kau tidak berhubungan dengan orang sepertinya, dia itu playboy brengsek. Dia hanya ingin mempermainkanmu dan akan menyakitimu."

"Ku-kurasa Na-naruto-kun bukan orang seperti itu, a-aku percaya padanya."

"Hinata.." Gumam Naruto sangat pelan.

"Bagaimana bisa kau percaya begitu saja padanya? Kau bahkan belum mengenal dan tau seperti apa dia. Seluruh orang di sekolah ini saja tau kalau dia anak yang bermasalah, playboy, dan senang mempermainkan perempuan. Apalagi gadis polos sepertimu, baginya kau bisa dijadikan mainan yang menyenangkan untuknya. Aku hanya tidak ingin kau dipermainkan dan disakiti." Ujar Neji panjang.

"A-aku mengerti kalau Neji nii-san khawatir padaku. Na-naruto-kun dulu mungkin seperti itu, tapi sekarang dia pasti sudah berubah."

"Tapi Hinata, dia itu ti-"

Perkataan Neji terpotong dikarenakan seorang gadis berambut coklat bercepol dua masuk dan menyampaikan sesuatu. "Ah.. Ternyata kau disini Neji, gomen kalau aku mengganggu. Hari ini ada rapat OSIS mendadak, jadi lebih baik sekarang kita ke ruangan OSIS untuk segera memulainya." Ujar Tenten-nama gadis itu yang merupakan wakil ketua OSIS di sekolahnya.

Neji yang juga menjabat sebagai ketua OSIS mau tidak mau harus mengikuti rapat tersebut. "Baiklah, aku segera menyusul kesana, terima kasih telah memberitahuku." Katanya pada Tenten.

"Baiklah, aku duluan." Ujar Tenten dan langsung melangkah pergi.

"Maaf Hinata, sepertinya kita akan pulang terlambat hari ini. Terpaksa kau harus menungguku sampai selesai rapat, setelah itu kita baru pulang bersama."

"Hinata tidak perlu menunggumu, sudah kukatakan bahwa aku yang akan mengantarnya pulang."

"Tidak, aku tidak akan membiarkan Hinata pulang dengan laki-laki berbahaya sepertimu."

"A-ano neji nii-san, maafkan aku. Kurasa tidak apa kalau aku pu-pulang bersama Naruto-kun."

"Tapi Hinata-"

"La-lagi pula ayah akan khawatir jika aku pulang terlambat. Dan Na-naruto-kun hanya ingin mengantarku pulang, kurasa dia tidak akan berbuat jahat dan macam-macam padaku."

"Kau dengarkan apa kata Hinata? Dia ingin pulang bersamaku, jadi kau bisa lepaskan tanganmu sekarang."

"A-aku akan baik-baik saja Neji nii-san, percayalah."

Setelah sedikit berpikir, ditambah lagi Hinata yang terus menatapnya dengan tatapan memohon, mau tak mau Neji terpaksa melepaskan tangan Hinata. "Baiklah, tapi kau harus berhati-hati. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai si brengsek ini."

"Tenang saja, kupastikan adik kesayanganmu ini akan pulang dengan aman dan selamat. Aku tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya."

Neji tetap menatap tajam Naruto, dan sebelum dia pergi dia mendekat ke Naruto. "Awas jika kau sampai berani macam-macam dan menyakitinya. Aku akan selalu mengawasimu, ingat itu!" Ujarnya memperingatkan Naruto, lalu mengalihkan tatapannya ke Hinata. "Aku duluan Hinata, sampaikan pada paman aku akan pulang terlambat hari ini. Jaga dirimu baik-baik, jangan biarkan si brengsek ini macam-macam padamu."

"Ha'i.. Terima kasih Neji nii-san."

Neji pergi meninggalkan ruang kesehatan menuju ke ruang osis. Dibelakangnya sepasang kekasih baru ini juga ikut menyusulnya meninggalkan ruang tersebut menuju ke parkiran.

Sambil menuju ke parkiran Naruto terus merangkul pundak Hinata. Hinata yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam tertunduk malu.

"Hinata-chan.."

"I-iya, a-ada apa Na-naruto-kun?"

"Terima kasih telah membelaku tadi."

Hinata mengangkat kepalanya berusaha melihat ke arah Naruto. Hinata terpukau melihat Naruto yang tengah tersenyum lembut padanya, sontak Hinata kembali menunduk malu dengan wajah yang semakin merona.

"Ha-ha'i, sama-sama Na-naruto-kun."

Sesampainya di tempat Naruto memarkirkan motornya. Naruto segera naik ke atas motornya disusul Hinata yang duduk dengan posisi menyamping.

Sebelum melajukan motornya, Naruto menarik kedua tangan Hinata dan dilingkarkan pada pinggangnya. "Kau harus berpegangan seperti ini kalau tidak mau jatuh." Ujarnya sambil memandang Hinata.

"Ha-ha'i." Jawab Hinata malu sambil menunduk karena sekarang dia tengah memeluk Naruto.

"Yosh! Kita jalan sekarang, pegang yang erat hime." Ujar Naruto yang kemudian mulai menjalankan motornya.

Hinata hanya mengangguk dengan wajahnya yang semakin merona dan sempat dilihat oleh Naruto sesaat sebelum dia memfokuskan pandangannya kedepan melajukan motornya.

Hinata semakin mempererat pegangannya dengan kata lain semakin memeluk erat kekasihnya, dikarenakan Naruto yang memang sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Alhasil tanpa sadar Hinata terus memeluk erat pada Naruto karena takut jatuh. Naruto hanya menyeringai puas saat merasa keinginannya terpenuhi.

Tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Hinata. Tampak sebuah kediaman yang tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga, dengan model yang masih kelihatan tradisional. Ya, rumah tradisional khas keluarga Hyuuga.

Hinata yang tersadar segera melepaskan pegangan eratnya dari Naruto. "Ah-Ma-maaf aku ti-tidak sengaja." Ujarnya panik dan segera turun dari motor.

"Ah.. Tidak apa Hinata-chan, aku malah merasa senang saat kau memelukku seerat itu." Goda Naruto.

"Bu-bukan, a-aku tidak bermaksud seperti itu, a-aku hanya takut jatuh."

Naruto terkekeh melihat tingkah Hinata yang tampak malu dan panik. "Iya, iya, aku tau hime, lain kali jangan malu memelukku lebih erat lagi."

Hinata hanya bisa menunduk dengan wajahnya yang daritadi sudah memerah.

"Baiklah kalau begitu, besok pagi aku akan menjemputmu lagi. Jaa nee Hinata-chan."

"Ha-ha'i, Jaa Na-naruto-kun, hati-hati di jalan."

Naruto melajukan motornya, Hinata terus berdiri menatapnya hingga tak tampak lagi kemudian baru masuk ke dalam rumahnya.


Setelah selesai mandi dan makan malam, Hinata menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke single bednya yang tidak terlalu besar namun tetap nyaman. Baru saja dia hendak berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya.

"Permisi Hinata, boleh aku masuk?"

Hinata segera bangun dari tempat tidurnya, mengubah posisi yang sedang berbaring tadi menjadi duduk di pinggir kasur. "Si-silahkan Neji nii-san."

Lelaki berambut panjang itu yang juga sudah berada di rumah tak lama setelah Hinata pulang, baru melangkah masuk ketika sudah mendapat izin dari si pemilik kamarnya.

"A-ano, ada apa Neji nii-san?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin sedikit berbincang denganmu. Dengar Hinata, bukannya aku ingin ikut campur dalam urusan pribadimu, tapi melihatmu berpacaran dengan si playboy itu aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa kau mau berpacaran dengannya? Apalagi menjadikannya pacar pertamamu. Si bodoh itu cuma ingin main-main denganmu. Aku takut kau akan tersakiti nantinya, dan aku tidak ingin hal itu terjadi."

Hinata tersenyum tulus melihat kakak sepupunya yang dari dulu memang sangat protektif terhadap dirinya dan Hanabi. "Aku mengerti Neji nii-san khawatir padaku. Aku sangat senang dan berterima kasih karena Neji nii-san selama ini selalu dan sangat memperhatikanku. Tapi aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menentukan mana yang baik dan tidak untukku. Walaupun awalnya aku agak sedikit ragu, tapi aku percaya Naruto-kun bukanlah orang yang jahat. Jujur saat pertama melihatnya jantungku terasa berdebar-debar dan saat bersamanya aku merasa sangat nyaman. Aku memang masih belum yakin dengan apa yang kurasakan saat ini, tapi aku sudah memutuskan akan menjalaninya. Aku harap Neji nii-san bisa menerima keputusanku untuk berpacaran dengan Naruto-kun."

Neji hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya kali ini dia harus mengalah, berusaha mengerti dan menerima keputusan Hinata. Karena jarang sekali sepupunya yang satu ini berbicara panjang lebar seperti ini. Mungkin memang ini yang sangat diinginkan Hinata pikirnya.

"Hah.. Baiklah kalau begitu, aku menyetujui hubunganmu dengan Naruto, walaupun dengan sedikit terpaksa."

Senyum manis Hinata langsung mengambang seketika. "Terima kasih Neji nii-san."

"Ya, tapi ingat aku tidak akan segan-segan menghabisi pacar 'tercintamu' itu jika dia sampai berani menyakiti adikku yang manis ini." Ujar Neji yang dengan sengaja menekan kata tercintamu yang sontak membuat Hinata merona malu dan salah tingkah mendengarnya.

"Oh ya, apa dia akan menjemputmu besok pagi?"

"I-iya, dia mengatakan akan menjemputku besok."

"Oh.. Apa kau sudah memberitahu ayahmu tentang hubunganmu dengan Naruto?"

"Be-belum nii-san, nanti aku akan mengatakannya."

"Begitu ya, aku penasaran bagaimana reaksi paman nanti saat melihat putrinya yang satu ini sudah mulai pandai berpacaran. Apalagi saat besok pagi, dia pasti akan menemanimu menunggu si pirang itu datang menjemputmu. Aku yakin bocah Namikaze itu pasti akan ketakutan setelah melihat paman nanti." Ujar Neji dengan sedikit menahan tawanya karena dilihat dari reaksi Hinata, sepertinya dia berhasil mengerjainya.

Hinata sedikit menegang membayangkan bagaimana reaksi Naruto nanti saat ayahnya menatapnya dengan dingin. Yang di katakan Neji ada benarnya, Naruto pasti akan ketakutan setelah melihat ayahnya. Mungkin saja Naruto akan memutuskannya karena takut berhubungan dan berurusan dengan ayahnya. Ayahnya memang cenderung diam dan dingin, walau sebenarnya ayahnya sangat baik, hangat, perhatian dan menyayangi keluarganya. Tapi bagaimanapun juga orang yang belum pernah mengenal sosok ayahnya pasti akan merasa segan dan takut saat melihat ayahnya yang seperti itu.

"Tenang saja Hinata, aku akan membantumu berbicara dengan ayahmu saat dia bertanya nanti. Untuk kali ini aku akan membantumu berurusan dengan si playboy itu, tapi lain kali aku tidak janji bisa membantumu."

"Ya, terima kasih Neji nii-san atas bantuannya."

"Ya, lebih baik sekarang kau tidur dan jangan terlalu memikirkan si pirang itu. Oyasumi Hinata."

"Oyasumi Neji nii-san." Neji tersenyum mendengar balasan Hinata sebelum akhirnya dia melangkah pergi dari kamar Hinata.

Hinata kembali membaringkan tubuhnya. Perkataan Neji sepertinya tidak dihiraukan, karena sekarang dia telah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, memikirkan dirinya dengan kekasihnya tersebut, bagaimana semua yang tak terduga terjadi hari ini.

Hinata yang sama sekali belum pernah berurusan dan berpacaran dengan lelaki manapun tak akan menyangka dihari ini, hari pertama memasuki sekolah barunya, lalu bertemu tatap dengan lelaki tampan yang mampu membuatnya berdebar-debar, yang ternyata menjadi teman sekelas serta teman sebangkunya, bahkan lelaki tersebut mengajaknya untuk berpacaran dan yang paling tak diduga dia sendiri pun tak bisa menolak hingga akhirnya menerima untuk berpacaran dengan lelaki itu.

Hinata terus membayangkan wajah tampan Naruto, bagaimana saat Naruto menatapnya, mengecup keningnya, saat dia tersenyum tulus. Iris birunya yang sebiru lautan samudra benar-benar membuat Hinata hanyut tenggelam di dalam dirinya dan tak mampu mengjangkau kembali ke permukaannya, karena sekarang Hinata tak kuasa berhenti untuk terus memikirkan Naruto.

Sepertinya kali ini dirimu benar-benar telah jatuh cinta padanya Hinata, hingga membuatmu kasmaran seperti ini.

'Semoga saja keputusanku ini tidak salah.' Batinnya, Hinata terus memikirkannya hingga terasa sulit untuk tidur, walau pada akhirnya dia terlelap juga, dan membawa dirinya jauh ke alam mimpi.


Naruto tengah makan malam bersama ibunya di ruang makan. Sang ibu daritadi memperhatikan tingkah anaknya yang terus tersenyum-senyum sendiri saat makan. Melihat tingkah anaknya yang kelihatan aneh, dia pun bertanya padanya.

"Kau kenapa Naruto? Apa hari ini ada hal yang menarik?"

"Hah? Tidak ada apa-apa kok Kaa-san?"

"Benarkah? Kalau tidak ada kenapa dari tadi kau terus cengar cengir seperti itu, kau terlihat sangat senang."

"Memangnya kelihatan seperti itu ya?"

"Tentu saja, jika tidak mana mungkin ibu bertanya seperti itu. Jadi apa yang membuatmu senang seperti ini? Ayo ceritakan pada ibu."

"Ya, baiklah akan kuceritakan. Hari ini ada murid baru yang pindah ke sekolah kami dan sekelas denganku, dia seorang gadis yang pemalu tapi sangat manis dan cantik. Selain itu dia juga baik dan masakkannya sangat enak."

"Lalu?"

"Dan sekarang dia sudah menjadi pacarku."

Kushina sedikit tersedak mendengar penuturan anaknya. "Eh? Kau serius?"

"Tentu saja Kaa-san, untuk apa aku berbohong."

"Iya iya, ibu percaya. Hanya saja ibu heran kenapa dia bisa langsung menjadi pacarmu? Kaliankan baru saja saling kenal."

"Itu karena anak Kaa-san yang satu ini sangat ganteng."

"Kau memang ganteng Naruto, tapi masih tidak seganteng ayahmu itu." Ledek Kushina yang berhasil membuat Naruto cemberut memanyunkan bibirnya.

"Jangan cemberut seperti itu, kau jadi tidak ganteng lagi nanti.""

"Enak saja, mau gimana pun aku tetap ganteng."

"Oh ya, siapa nama gadis itu?"

"Namanya Hinata, Hyuuga Hinata."

"Oh, Hinata ya. Kapan-kapan kau harus mengajaknya kemari saat ibu dan ayah ada disini."

"Baik Kaa-san, aku pasti mengajaknya kemari. Aku yakin Kaa-san dan Tou-san pasti menyukainya."

"Benarkah? Berarti dia benar-benar gadis yang manis ya. Eh? Tunggu dulu, bukannya terakhir kau bilang kau berpacaran dengan Shion? Apa kalian sudah putus?"

"Eh, e-eto, a-aku." Naruto menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Jangan bilang kau berpacaran dengan Hinata sedangkan kau masih berhubungan dengan Shion." Terkanya sambil menatap tajam Naruto.

"Ti-tidak, bu-bukan begitu, maksud aku, aku hanya, eh..." Bantah Naruto gugup karena tau ibunya tidak suka dengan lelaki yang suka main-main dengan wanita.

"Haah.. Naruto, ibu tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang playboy. Contohlah seperti ayahmu, biarpun banyak gadis yang berusaha mengerjarnya, dia tetap setia pada ibu."

"Iya Kaa-san, maaf. Tapi kenapa Kaa-san yakin sekali kalau Tou-san sangat setia pada Kaa-san, bisa jadi sekarang Tou-san sedang bersama wanita lain saat tidak ada Kaa-san."

"Tidak mungkin, ayahmu tidak akan berani macam-macam. Nah, jadi secepatnya kau harus memilih salah satu diantara mereka, jangan sampai menyesal nantinya."

"Siap Kaa-san!" Jawab Naruto sambil memposisikan tangannya ke kepala seperti saat memberi hormat.

Makan malam mereka yang diselingi dengan obrolan ringan pun terus berlanjut sampai mereka telah selesai makan. Tak lama setelah makan malam Naruto menuju ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

"Haaaaahhhh..." Terdengar helaan nafas berat Naruto.

'Untung saja Kaa-san tidak tau, selain Shion dan Hinata aku juga berpacaran dengan Sara dan Amaru. Bisa-bisa aku di marah habis-habis kalau sampai Kaa-san tau.'

Naruto melentangkan badannya dan memposisikan kedua tangannya sebagai bantalan untuk kepalanya. 'Menyesal ya?' Batin Naruto memikirkan kembali perkataan ibunya.

'Aah! Sudahlah tidak usah kupikirkan, lagi pula aku hanya sekedar berpacaran saja, tidak ada perasaan yang khusus untuk mereka. Seandainya ketahuan dan memutuskanku juga tidak masalah, mudah bagiku untuk mencari pacar baru lagi, jadi tidak mungkin aku akan menyesal.'

"Hooaamm.. Lebih baik aku tidur saja." Tak lama kemudian Naruto sudah tertidur dengan pulas.

Naruto yang kini terlelap tak akan pernah tau bahwa mulai hari ini, esok dan seterusnya akan ada cinta yang sanggup mengubah dirinya.

To Be Continue...

Sampai juga di TBC nya, hehehe
Chap kali nie memang Ryn agak panjangkan ceritanya *plak! pdhl cuma berkutat disitu2 aja*
Sebagai ganti kesalahan Ryn yg ud telantarin fic nie sebelumnya, walau Ryn ga bermaksud telantarin *alasan*
Jgn lupa riview, kritik, dan sarannya ya Minna-san
Smpe ktmu di chap selanjutnya
Arigatō Gozaimasu