Re-kun coming,
Ok, untuk kali ini saya kembali mengingatkan jika karakter Naruto yang saya pakai adalah IZANA WISTARIA, silahkan search di Gugel, Ok.
.
.
.
Terima kasih atas review pada chapter sebelumnya dan selamat membaca.
Warning : terlalu mainstream, typo dimana-mana, sangat OOC.
Re-Incarnation
Disclaimer: Not Me (Masashi Kishimoto)
Kurenai tengah berjalan-jalan setelah melaporkan misi yang ia dapat, misi kali ini tidak begitu sulit karena hanya menginterogasi seorang pebisnis korup di desa kecil perbatasan Konoha, dibantu dengan kemampuan Byakugan Hinata serta sedikit genjutsu miliknya membuat misi dapat diselesaikan dengan cepat.
Kedua mata merah milik Kurenai berhasil menangkap remaja berambut pirang yang berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri, Kurenai segera berlari menemui remaja pirang itu, "Naruto-kun!" Seru Kurenai berlari kecil mendekati Naruto.
Naruto menoleh melihat siapa yang memanggil namanya, setelah mendapati Kurenai yang berlari kecil ia tersenyum,"Konbanwa, Ku-chan." Sapa Naruto.
Kurenai mencoba untuk mengatakan sesuatu namun mulutnya hanya bisa mangap-mangap tak berdaya karena otaknya masih dalam keadaan buntu. Setelah beberapa kali percobaan yang tak membuahkan hasil, Kurenai membatalkan niat untuk mengekspresikan isi hatinya melalui kata-kata dan memilih untuk melakukan satu-satunya hal yang muncul di kepala.
Kurenai menarik dan memutar tubuh remaja pirang di depannya dengan paksa, sebelum suara 'plak' nyaring berbunyi untuk sepersekian detik ketika tangannya menampar pipi sang shinobi yang hanya bisa melongo karena tak mengerti kesalahan apa lagi yang sudah dia lakukan untuk menerima hukuman dari sahabatnya ini.
"Dasar kuning bodoh!"
"Apa yang kau lakukan, Yuhi-san."
Special Anbu
Hokage's Tower
Kushina masih tetap setia memeluk Minato keduanya masih terdiam tanpa kata, jalan pikiran mereka dikuasai oleh rasa penyesalan yang sangat dalam, berharap jika mereka dapat melakukan sesuatu hanya untuk mendapat satu kata maaf dari putra sulung mereka.
Akankah semudah itu memaafkan orang tua? Tidak hanya mengusir dari rumah, menjauhkan sang Kakak dari adik kecilnya serta menyetujui segala cara kotor tetua desa untuk menyingkirkan Naruto hanya karena sebuah nama Hokage. Setelah perlakuan keji yang meskipun itu terdapat unsur keterpaksaan bukankah wajar jika sang putra sulung membenci kedua orang tuanya.
Pada akhirnya Minato dan Khusina hanya mampu membenci dirinya sendiri.
Tok! Tok!
"Masuk." Ucap Minato mempersilahkan seseorang dibalik pintu.
Tsunade memicingkan kedua matanya saat mendapati pemandangan MinaKushi yang saling bermesraan, "Oh apakah tempat ini sekarang sudah berganti menjadi kamar pribadi."
Kushina yang memahami maksud Tsunade, mulai melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi melingkari punggung besar Minato,"Maaf Tsunade-sama, aku hanya mengunjungi Minato sebentar."
Tsunade melangkahkan kakinya menuju depan meja kerja Minato, setelah dari dekat dia mulai memijit pelan pelipisnya,"Hah~ lakukan sesukamu, lain kali persiapkan tissu untuk menghapus bekas air mata kalian, kalian adalah panutan serta pemimpin Desa ini, dan air mata seorang pemimpin bukan hal yang patut dilihat oleh orang sekitarnya."
Kushina segera membersihkan bekas air matanya,"Aku mengerti." Jawab Kushina serta Minato yang menyudahi kesibukan tidak penting mereka.
"Ada perlu apa anda sampai datang kesini sendiri?" Tanya Minato memulai pembicaraan, kejadian Tsunade datang langsung ke menara Hokage benar-benar sesuatu yang jarang dilakukannya, kalaupun dia berkepentingan pasti dia menyuruh salah satu perawat di rumah sakit untuk menemui Hokage.
Tsunade memberikan beberapa lampiran kertas kepada Minato,"Aku ingin mengambil hak-ku."
"Hak mana yang anda maksud?" Tanya heran Minato.
Hak istimewa. Di berikan oleh para seluruh dewan desa sebagai penghargaan karena Jasa besar yang dilakukan untuk kepentingan Desa, untuk beberapa orang seperti Shodaime Hokage dan ketiga legenda Sannin yang sudah tidak bisa dihitung berapa bayak jasa yang mereka berikan untuk membangun Konoha hingga menjadi Desa terkuat di Elemental Shinobi. Hingga saat ini masih ada beberapa orang yang masih mempunyai Hak istimewa tersebut salah satu diantaranya adalah Tsunade Senju.
Kegunaan Hak Istimewa ini adalah mengusulkan, mendapatkan dan menghilangkan beberapa struktur Konoha, selama hal itu tidak menimbulkan masalah untuk Konoha mereka bisa melakukan hal sesuka mereka, sebagai contoh Jiraiya yang keluar masuk Konoha dengan bebas tanpa terikat hukum yang berarti.
Namun Hak ini juga bisa dicabut jika salah satu dari pemiliknya terlibat dalam tindak Kriminal atau memutuskan untuk bergabung dengan desa lain dan ini bersifat mutlak.
"Untuk memilih sendiri Shinobi yang melindungiku." Jawab Tsunade mengatakan keinginannya.
Minato mengkerutkan dahinya, "Anda butuh Anbu?" Bagaimana mungkin salah satu dari ketiga legenda Shinobi terkuat di Konoha membutuhkan Anbu untuk melindunginya, bahkan jika seluruh Kage di Elemental dikumpulkan, mereka akan berpikir beberapa kali sebelum memastikan untuk menyerang Tsunade.
"Begitulah." Jawab singkat Tsunade.
Minato membuka laci disebelah kanan tempat duduknya, "Aku punya beberapa rekomendasi para Anbu elit yang berada dibawah kekuasaanku, jika memang anda tertarik." Mengeluarkan beberapa lembar daftar kesatuan Anbu dan meletak kan kertas itu di hadapan Tsunade.
Tsunade mengalihkan pandangannya kepada Minato, "Aku tidak butuh mereka."
Melihat sang Senju tidak tertarik, Minato berusaha untuk memaksakan usulnya, "Tapi mereka yang terbaik di Divisi kesatuan Anbu Konoha, sert untuk kinerja mereka aku bisa menjamin dengan pasti hasilnya." Mata biru milik Minato melihat Tsunade yang kini tengah menggeram kesal.
"Sepertinya kau sedang berada dalam masalah Minato, bisakah kau kembali fokus sebagai Hokage dan kesampingkan dulu urusan pribadimu." Ucap Tsunade meninggikan suaranya, berusaha membuat Minato sadar akan permintaannya.
Minato sedikit terkejut melihat sikap Tsunade seperti itu, setelah berpikir sebentar ia ingat jika sang Senju datang untuk memilih Anbunya sendiri, "Maaf, anda benar." Ucap Minato penuh penyesalan, "Jadi siapa yang anda inginkan menjadi Anbu untuk mengabdi kepada sang Senju terakhir?"
Setelah memahami sikap Minato kembali normal, Tsunade mulai mengatakan keinginannya, "Aku ingin Naruto Namikaze untuk menjadi Anbu pribadiku." Jawab Tsunade dengan nada tegas dan menuntut.
Kushina yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara saat sang putra sulungnya mulai disebut, "Aku tidak mengijinkan itu!"
"Ada apa denganmu Khusina?" Tanya Tsunade dengan pelan, sepertinya ia sudah menduga hal ini akan terjadi.
Kushina geram dengan tindakan Tsunade yang terkesan tidak peduli akan protesnya tadi,"Sejak kau kembali ke Konoha, putraku sudah tidak pernah kembali lagi ke rumahnya dan itu semua karena anda, Tsunade Senju-s.a.m.a." Ucap Kushina dengan menekankan kalimatnya pada bagian yang terhormat, seperti terdengar menyindir status Senju yang disandangnya.
"Putra mana yang kau maksud?" Tanya Tsunade dengan tenang sengaja membuat Kushina mengeluarkan semua emosinya.
"Siapa lagi jika bukan Naruto, jangan berpura-pura bodoh." Umpat Kushina yang sudah mencapai puncak tertinggi emosinya.
Tsunade menyeringai kecil, ia sengaja membiarkan Kushina meninggikan emosinya dan kini saatnya menjatuhkan mental orang yang mengaku 'ibu' tersebut,"Maksudmu anak kecil yang saat pertama kali kulihat dia sedang berlumuran darah akibat benda tajam yang entah berapa kali menggores kulit tipisnya, atau anak kecil yang kau halangi hanya karena ingin bertemu dengan adiknya, atau mungkin seorang anak kecil yang membela beberapa ninja Suna yang tidak diberi pilihan bahkan dengan kejamnya sang ayah menyebutnya pengkhianat dan ibunya dengan tega mengusir dia dari rumahnya sendiri, tidak hanya disitu bahkan tanpa pikir panjang 'orang tunya' menghapus namanya dari silsilah klan Namikze." Setelah mengatakan itu, mendadak situasi menjadi hening tak terdengar semua protes balik, baik dari Kushina maupun Minato mereka sepertinya lebih memilih menutup mulutnya seolah semua tuduhan yang dibeberkan oleh Tsunade memang benar adanya,"Apakah dia anak yang kau maksud?" Suara Tsunade kali ini sangat lirih namun mengandung kesan yang berbahaya.
"A-Aku.."
"Jawab!" Tuntut Tsunade dengan suara keras.
Melihat sang istri yang tersudut membuat Minato mencoba menenangkan sang Senju, "Tsunade-sama."
"Jawab Kushina!" Tsunade masih tetap memaksa Kushina bicara menghiraukan Minato yang kini sudah berdiri karena usahanya dihiraukan.
"Tsunade-sama, aku mohon hentikan." Pinta Minato dengan suara lebih keras, tak ingin melihat istrinya terus menerus dibawah tekanan emosi sang Senju terakhir.
Tsunade menghela nafasnya kasar, entah kenapa apapun yang berhubungan dengan Naruto selalu membuat emosinya semakin tinggi,"Hah~ Aku tidak mau tahu, cepat ganti status genin Naruto menjadi seperti yang aku minta."
"Tapi kenapa harus Naruto? Bukankah lebih banyak Shinobi yang lebih kuat darinya." Tanya Minato untuk meyakinkan dirinya sendiri akan keputusan yang ia buat.
"Lakukan seperti yang aku minta, jangan banyak bertanya." Elak Tsunade.
"Berikan satu alasan, hingga aku menyetujui hal ini." Tuntut Minato.
Tatapan mata biru milik Minato benar-benar mirip dengan Naruto, hingga mengingatkan Tsunade pada seseorang, "Dia mempunya mata yang sama seperti Madara-jiji." Jawab Tsunade lemah, tatapan matanya menerawang jauh kearah depan layaknya tatapan seseorang yang sangat rindu dengan orang yang kini tak bersamanya lagi, "Mata yang selalu hampa dan penuh akan kebencian, namun perbedaannya Naruto berhasil menutupi semua itu dengan senyuman bodohnya." Tsunade menarik sedikit ujung bibirnya menampilkan senyum getir.
"Madara/-jiji?" Beo Minato dan Khusina yang tengah memperhatikan raut wajah Tsunade.
Mengingat sedikit memori kecil yang tak mungkin ia lupakan, Tsunade melanjutkan ceritanya, "Aku lebih dekat dengan Madara-jiji daripada Ojii-sama (Baca: Hashirama), sebelum dia keluar dari Konoha dialah satu-satunya Uchiha yang sangat dekat denganku, dia mengajariku tekhnik kontrol chakra sejak aku masih dini, dia yang selalu mengasuhku saat kedua orang tua-ku serta Ojii-sama disibukkan dengan pembangunan desa Konoha. Memberikanku apa yang tidak kudapat dari kedua orang tuaku..." Tsunade berhenti sebentar, hingga membuat Minato dan Khusina merasa penasaran.
"Apa itu?"
Menghirup udara disekitarnya, Tsunade berusaha menormalkan kembali dadanya yang terasa sesak saat mengingat kembali kenangannya bersama Madara,"Kasih sayang." Jawab Tsunade disertai dengan senyuman penuh arti,"Untuk selanjutnya kau sudah tahu sendiri seperti apa Madara." Tutup Tsunade memberikan alasannya yang mungkin terdengar konyol memang, tapi itulah kenyataan nya.
Setelah mendengar semua alasan Tsunade, Minato berpikir sejenak akan keputusan yang akan ia pilih,"Aku mengerti." Memejamkan matanya, Minato mengambil sebuah buku besar berisi tentang daftar seluruh Shinobi Konoha disebelah kanan mejanya, "Dengan ini aku memberhentikan Naruto dari kesatuan Shinobi Konoha dan mengangkatnya menjadi Anbu Special Tsunade Senju." Keputusan Minato menyerahkan Naruto kepada Tsunade, dengan begini Naruto terbebas dari segala misi yang berhubungan dengan Konoha beralih menjadi Shinobi yang hanya menjalankan perintah dari Tsunade Senju.
Tsunade tersenyum puas, permintaannya disetujui oleh Minato,"Aku sangat menghargai itu." Membalikkan tubuhnya Tsunade segera beranjak pergi dari ruang kerja Hokage di iringi dengan tatapan berbeda oleh dua orang dibelakangnya.
Blaam
Setelah dirasa sang Senju sudah benar-benar pergi, Kushina mulai membuka suara protesnya akibat keputusan yang telah diambil oleh Minato,"Apa yang kau lakukan Minato-kun, harusnya kau sadar jika seperti ini Naruto akan semakin jauh dari kita."
Minato memandang raut wajah istrinya yang kini tengah memprotes keputusan yang telah ia ambil,"Kurasa hanya inilah satu-satunya cara untuk melindungi Naruto dari para tetua desa, Kushina." Ucap Minato memberikan alasannya menyetujui permintaan Tsunade dan hanya bisa dibalas wajah pasrah Kushina.
XXX
"Dasar kuning bodoh!"
"Apa yang kau lakukan, Yuhi-san." Teriak seseorang dari kejauhan.
Baik Naruto maupun Kurenai segera mengalihkan perhatian mereka menuju asal suara tersebut,"Tsunade/Hime-sama." Jawab mereka setelah mengetahui siapa pemilik suara itu.
Tsunade mendekati kedua orang yang kini tengah memandangnya,"Aku ulang pertanyaanku sekali lagi. Apa yang kau lakukan, Yuhi-san." Tanya Tsunade menatap tajam Kurenai yang kini mengalihkan pandanganya menghindari tatapan tajam dari Tsunade.
Beginikah rasa dari tatapan tajam seorang Sannin, hanya menggunakan tatapan matanya saja bisa membuat mental lawan menjadi berantakan, "Ah... etto-ano..aku" Kurenai mencoba mencari alasan yang tepat, sebab jika ia salah bicara bukan tidak mungkin Tsunade akan melarang Naruto untuk menemui dirinya lagi dan hei... itu sangat buruk untuk hati seorang Yuhi Kurenai.
"Meskipun kau teman nya, bukan berarti kau bisa menamparnya dengan sesuka hatimu." Lanjut Tsunade menekan mental Kurenai, meskipun dia sendiri tahu jika perempuan didepannya memiliki perasaan 'lebih' terhadap si kuning kesayangan nya ini.
"Bu-bukan itu maksudku." Kurenai mengelak, sebab tangannya sendiri tiba-tiba mendarat dipipi Naruto saat mulutnya tak sanggup berkata apapun akibat perbuatan Naruto yang selalu saja ceroboh menurutnya.
Naruto melihat Kurenai yang semakin tertekan, mencoba melerai keduanya, "Sudahlah Hime-sama, itu bukan hal yang patut dipermasalahkan kok."
Mendengar Naruto berbicara seperti itu, entah kenapa bukan meredakan suasana hati Tsunade, malah membuat satu-satunya wanita bergelar Sannin itu sedikit tercubit hatinya, "Diam, kau jangan membelanya." Bentak Tsunade tak suka dengan tindakan Naruto membela Kurenai.
"Hah, kenapa?" Beo 'bodoh' Naruto tak mengerti, bukan nya membela seorang wanita adalah hal yang wajar bagi seorang pria. Pikir otak Naruto yang memang sekecil 'biji-miliknya' itu.
"Karena yang boleh menamparmu itu cuma A.K.U." Tegas Tsunade penuh tekanan pada setiap ucapannya, bagi Tsunade seorang Naruto hanya milik Tsunade.
'Mulai lagi deh.' Kedua mata Naruto memutar bosan.
'cuma A.K.U'
'cuma A.K.U'
'cuma A.K.U'
Perkataan Tsunade terus berputar didalam kepala Kurenai, hingga membuatnya sangat muak terhadap sang Senju, "Cukup. Aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal itu kepada Naru-kun." Kurenai menatap tajam Tsunade, mulai saat ini dia tidak lagi menaruh hormat kepada sang Sannin. Baginya siapapun yang berusaha mengklaim Naruto tidak berhak mendapatkan rasa hormat dari Kurenai.
Tsunade memandang remeh Kurenai, "Sadari tempatmu Yuhi Kurenai, kau tidak mengerti sedang berhadapan dengan siapa." Ancam Tsunade mengingatkan.
"Bodoh, pokoknya aku tidak ingin Naru-kun menuruti semua kemauanmu, dasar nenek cabe-cabean." Balas sengit Kurenai.
"Siapa yang kau panggil Nenek cabe, Wanita Perban."
"W-wanita perban, ini fashion tahu. Dari pada mengurusi pakaianku lebih baik kau urus dua bola yang semakin membesar itu, Dasar Payudara pals-" Kurenai tidak dapat meneruskan kalimatnya karena sebuah telapak tangan kini tengah menutup mulutnya.
"Ok. Cukup sampai disitu." Ucap Naruto tetap menutup mulut Kurenai.
"Naruto apa yang kau lakukan." Protes Tsunade melihat jarak antara Naruto dengan Kurenai, dengan cepat ia segera melangkahkan kakinya menuju Naruto.
Naruto mengalihkan perhatiannya menuju Tsunade, "Anda juga ikut." Ucap Naruto sembari memegang tangan Tsunade.
Dalam hitungan kurang dari sepersekian detik mereka bertiga lenyap dari tempatnya.
.
Hokage's Rock
Monumen Hokage, Gunung Hokage atau Batu Hokage adalah landmark paling penting bagi Konohagakure. Tempat ini adalah gunung yang memiliki wajah semua Hokage yang dipahat pada gunung. Monumen yang dibayangkan oleh Hashirama Senju sebagai simbol bahwa Hokage akan selalu mengawasi desa.
Beberapa saat kemudian terdapat tiga orang yang muncul dari ketiadaan.
"Berhenti melakukan hal bodoh seperti itu di depan banyak orang, omongan vulgar semacam itu bukan hal yang layak untuk jadi bahan konsumsi publik." Ucap Naruto dengan memandang kedua wanita yang kini tengah memberikan tatapan tak percaya terhadapnya.
"K-Kau?!"
"B-Bagaimana bisa?!"
Ucap Tsunade serta Kurenai bersamaan, karena pemuda didepan mereka ini tidak mungkin bisa melakukan shunsin sebab kondisi tubuhnya yang hanya memiliki sedikit chakra.
Seakan mengerti dengan maksud pertanyaan mereka, Naruto mulai mencoba sedikit kemampuannya berakting, "Seperti yang kalian lihat, aku bukan lagi Naruto yang kalian kenal dulu." Ucap Naruto memulai penjelasannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Tsunade tidak mengerti.
"Saat kunjunganku ke Suna, salah satu Iryou-Nin disana menyadari ada hal yang tidak normal dengan seluruh titik tanketsu didalam tubuhku dan dia berhasil memperbaiki hal itu." Jawab bohong Naruto, bohong?! Tentu saja, mana mungkin saat ini dia berkata jujur seperti 'Aku adalah Naruto murid Uchiha Madara dan juga sang pahlawan gagal dari dimensi sebelumnya, aku datang untuk menyelamatkan Dunia Shinobi ini.. halah #-_-' itu akan membuat masalah menjadi rumit.
"Mungkinkah?" Tsunade mulai merasa penyebab Naruto tidak memiliki chakra adalah kesalahan nya.
Dengan berbekal beberapa pecahan ingatan Naruto yang berada disini, Naruto mulai mengumpulkan memori yang ia dapat hingga menjadi sebuah alasan masuk akal yang mungkin akan diterima oleh mereka berdua, "Seperti yang anda pikirkan Hime-sama, karena hanya akulah satu-satunya bayi yang terlahir dengan bantuan Jutsu Medis bersamaan dengan kendali chakra penuh untuk menekan chakra liar Kyuubi yang berada didalam perut ibuku, anda mempunyai beban yang besar saat itu, selain menyelamatkan nyawaku dan juga mencegah segel Kyuubi agar tidak terlepas, anda benar-benar nyaris sempurna saat melakukannya, namun saat itu chakra ku juga ikut terkunci, anda tidak menyadarinya dan itu adalah hal wajar, karena yang terpenting adalah nyawa ibu dan anak itu selamat serta kau dapat mencegah Kyuubi keluar." Jelas Naruto panjang lebar.
"A-Aku.." Rasa bersalah mulai menghantui Tsunade, selama ini dia merasa sudah melakukan hal benar mulai dari memberikan perlindungan terhadap Naruto hingga merubah status Shinobi pirang didepannya ini hanya untuk semata-mata untuk kebaikan Shinobi pirang tersebut agar tidak dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang disekitarnya.
"Sudahlah Hime-sama, aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu." Naruto mencoba menghibur Tsunade yang kini mulai tenggelam akan ego pribadinya.
"Tapi bagaimana mungkin kau belajar Shunsin sesingkat ini?" Tanya Kurenai setelah mendengar semua pernyataan Naruto.
Melirik Kurenai sebentar, Naruto menghembuskan nafasnya lemah, "Aku tidak menghabiskan waktuku hanya dengan menyapu halaman depan Kuil Daimyou, Ku-chan." Jelas Naruto yang hanya ditanggapi anggukan singkat Kurenai.
Naruto menatap ke arah depan, dari sini (Baca: Patung Batu Hokage) pemandangan Desa Konoha yang dilatar belakangi oleh suasana Senja benar-benar terlihat sangat memukau, "Yang terpenting saat ini aku mempunyai kekuatan untuk melindungi orang-orang terdekatku." Naruto mulai menarik kesimpulan terpenting dari semua penjelasannya, "Termasuk kalian." Lanjut Naruto disertai dengan senyum tipis menghiasi wajah tampan nya.
Tsunade menutup kedua matanya, perasaan bersalah saat ini benar-benar membuatnya tak mampu untuk menatap kedua bola sapphire milik Naruto, "Aku benar-benar menyesal, kenapa hal sekecil itu tidak terpikirkan olehku." Ungkap Tsunade lemah hingga tanpa ia sadari kedua mata coklat madunya mulai mengeluarkan air mata, sebab tak sanggup lagi menahan beban perasaan yang ditanggungnya.
Naruto mendekat ke arah Tsunade, meraih tangan sang Senju terakhir yang terlihat mencoba menyembunyikan air matanya, kini Naruto dapat melihat dengan jelas paras cantik orang yang sangat ia hormati itu, "Aku lebih memilih tidak mempunyai chakra daripada melihatmu menangis Hime-sama." Ungkap Naruto tulus penuh perasaan, kedua tangannya mengusap pelan air mata milik Tsunade.
Sebelum tangan itu menjauh, Tsunade dengan cepat memegangnya, ia usapkan sekali tangan itu menuju lesung pipi kirinya, mencoba mencari kehangatan dari satu-satunya orang yang sangat ia sayangi dalam waktu singkat air muka Tsunade perlahan mulai cerah kembali, hal itu ia tunjukkan melalui senyum dari bibir tipisnya.
Naruto tersenyum tipis melihat tingkah Tsunade.
"Ehem!"
Suara satu-satunya orang yang merasa diabaikan disitu, mencoba menyadarkan mereka jika ia tidak setuju dengan opera sabun yang baru saja diperankan oleh pasangan NaruTsuna.
"Oh maaf aku terbawa suasana." Naruto mengusap bagian belakang kepalanya, kebiasaan grogi yang tidak mudah ia hilangkan.
Kurenai bersidekap, "Berani sekali kau bermesraan didepanku Naru, tak kusangka seleramu yang tua-tua, huh!" Mengomentari tindakan Naruto yang menurutnya tidak normal.
Tsunade yang mendengar dirinya diejek, mulai kembali beradu mulut dengan Kurenai, "Berisik, perempuan berdada kecil sepertimu tak punya kesempatan untuk bersaing denganku." Ungkap kesal Tsunade.
Kurenai terpekik kecil, "K-Kecil?! Kau pikir dada besarmu itu menarik hah?"
Tsunade menyeringai, sang lawan kini mulai diketahui kelemahannya, mengedipkan sebelah matanya, Tsunade mulai melancarkan serangannya, "Hoo~ Kau ingin memegangnya?" Jahil Tsunade sambil memegang kedua 'benda mantap' miliknya.
"Aku tidak tertarik dengan Dada Silikon milikmu itu, cih." Acuh Kurenai, lebih tepatnya sok acuh, karena matanya sejak tadi tetap memandang iri kedua 'benda mantap' milik saingan nya tersebut.
"Kurang ajar!" Tsunade geram, karena dada asli miliknya disebut Dada Solikin. (Ah..typo sengaja)
"T-Tunggu, aku ini masih normal lho, tolong jangan bicara soal payudara kalian didepanku, itu benar-benar buruk untuk pencernaanku." Ungkap jujur Naruto yang dihiraukan oleh wanita dewasa di depannya.
"Jika memang seperti itu kurasa ada baiknya Naruto yang memutuskan." Usul Tunade berusaha mengakhiri keributan yang tidak berguna ini.
"Kau benar." Jawab Kurenai mengangguk setuju.
Naruto hanya bisa berkedip ria, menanggapi ke egoisan dua singa betina yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya, "Oi... oi... Jangan memutuskan seenak udel kalian dong."
"Naruto, tentukan pilihanmu sekarang!" Kurenai mulai berbicara seperti halnya MC Televisi acara Jomblo mencari 'bahan' di stasiun tv sebelah.
"Aku atau Kurenai." Lanjut Tsunade.
"Anuu..." Bola matasapphire Naruto mulai bergerak bebas searah, keringat dingin mulai bercucuran, dalam hati ia berteriak keras 'Kami-sama aku masih perjaka lho... tolong berikan petunjukmu untuk hambamu yang tampan ini agar tidak berakhir menjadi santapan dua singa betina di depan hamba ini. Amiin' semua itu Naruto akhiri dengan menelan air ludahnya sendiri.
"Naru.. Kau pasti memilihku, kan? Aku ini masih muda lho, kau tidak inginkan anakmu nanti memanggil ibunya nenek, kan?" Ucap Kurenai mencoba memberikan dukungan terhadap dirinya sendiri.
"Hei,kau curang!" Protes Tsunade terhadap asumsi Kurenai yang ia rasa merugikan dirinya.
"Apa masalahmu?" Balas Kurenai menatap sengit Tsunade.
Melihat kedua wanita di depannya akan mulai percekcokan kembali, Naruto berusaha mengambil jalan tengah, "Tolong hentikan!" Behenti sebentar, Naruto segera memberikan jawaban nya, "Aku benar-benar tidak ingin memilih siapapun diantara kalian berdua."
Keduanya melebarkan matanya tak percaya akan jawaban yang akan keluar dari mulut Naruto, "Apa kau sudah punya kekasih Naru/Naruto-kun?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Bisakah kalian berhenti sebentar membahas hal membosankan seperti itu?" Tanya Naruto yang hanya dibalas dengan tatapan tidak mengerti oleh mereka berdua.
"Maksudku, begini." Naruto mencoba menjelaskan maksudnya, "Kita sekarang hidup di dunia Shinobi bukan di Film India." Alasan konyol tersebut kembali di hadiahi tatapan bodoh oleh Kurenai dan Tsunade.
"Kau pikir kami main-main begitu?" Tanya Tsunade tak ingin perasaan yang kini tengah mencari titik terang hanya dianggap sebagai guyonan oleh si pirang yang tengah cengengesan didepannya.
Naruto mendesah pelan,"Bukan, aku menghargai perasaan kalian, hanya saja..." Naruto tak sanggup melanjutkan perkataan nya.
"Wanita tidak suka menunggu Naru/Naruto-kun." Seru mereka berdua kesal.
"Sejujurnya aku menyayangi kalian berdua, karena tanpa kalian aku mungkin akan berakhir seperti kedua sahabatku." Jelas Naruto singkat.
Ok, baik Tsunade maupun Kurenai sudah tahu pasti siapa yang disebut 'Sahabat' oleh Naruto mereka adalah Uchiha Itachi dan Uchiha Shisui dimana keduanya sekarang tidak diketahui keberadaanya setelah tragedi pembantaian Clan Uchiha, "Kumohon, jangan lakukan hal bodoh lagi." Jawab Kurenai yang tahu maksud 'berakhir' dari apa yang yang diucapkan Naruto, tentu saja berkorban demi melindungi kebaikan orang lain itulah yang dimaksud Naruto.
"Hal bodoh yang kau maksud bisa menyelamatkan nyawa seseorang, Kurenai-chan." Jawab Naruto.
Tsunade merasa geram dengan jalan pikir Naruto, "Kau tidak menghargai nyawamu sendiri hah! Tidak puas kau sekarang dibenci seluruh orang! Sebenarnya apa yang ada di kepala kuningmu itu!" Teriak Tsunade tepat didepan wajah Naruto, ingin sekali ia menjotos wajah tampan di depannya ini.
"Hime-sama kumohon tenanglah."
Mencekal kerah baju Naruto, Tsunade menatap nyalang Naruto,"Tenang ?! Setelah bertahun-tahun aku hidup di dunia Shinobi yang busuk ini, pertama Nawaki, kedua Dan, ketiga Jiraiya. Bahkan setelah bertahun-tahun aku mencoba melupakan semua luka itu kini satu-satunya orang yang kucintai menawarkan kehidupan nya pada kematian. Katakan! Bagaimana aku bisa tenang! Katakan!" Ungkap Tsunade membeberkan semua luka yang telah ia alami sejak ia menapakkan kakinya di Dunia Shinobi yang busuk ini, persahabatan, keluarga dan cinta semua hal indah yang harusnya ia dapat nikmati telah direnggut oleh kejamnya Dunia Shinobi ini hingga kini setelah bertemu satu-satunya orang yang mungkin akan menyembuhkan semua lukanya tapi dengan bodohnya dia malah menawarkan hidupnya untuk kematian.
"Pilihan apalagi yang aku punya, Hime-sama." Ucap lirih Naruto, "Memang dulu aku tidak memiliki kekuatan untuk melindungi seseorang, tapi sekarang setelah aku memiliki semua yang aku butuhkan akankah aku harus berdiam diri, membiarkan rantai kebencian melahirkan orang-orang seperti anda. Aku harus mengakhiri semua ini!" Setelah mengatakan semua alasan nya Tsunade hanya terdiam tak sanggup membantah.
"Tapi haruskah kau berkorban sejauh itu setelah semua yang dilakukan dunia ini terhadapmu." Usul Kurenai mencoba menghentikan tindakan Naruto.
Naruto menepuk pelan puncak mahkota hitam milik Jounin spesialis Genjutsu tersebut, "Kurenai-chan, aku bukanlah siapa-siapa di dunia ini, mereka benci maupun suka denganku, itu hak mereka. Sebagai manusia aku tak punya hak untuk memaksa mereka menyukai maupun membenci setiap tindakanku. Lagipula seluruh dunia tidak akan menangis hanya karena berkurangnya satu orang tampan di Elemental Shinobi." Ucap Naruto menjelaskan.
Kurenai mengusap ujung matanya yang mulai sedikit berair, sekarang ia hanya bisa mempercayai segala tindakan yang akan diambil oleh Naruto, "Bisakah kau kurangi sifat narsismu itu, sumpah itu benar-benar menjijikkan."
"Kau tahu, wajah inilah yang membuat kalian melupakan apa yang terpenting dalam sebuah hubungan." Naruto menunjuk wajannya sendiri.
"Ya... " Balas Tsunade menggantung.
"Lihat Hime saja setuju dengank-"
"Kau dan wajah gigolomu itu." Lanjut Tsunade dengan terkikik kecil, begitupun Kurenai yang kini menggetarkan bahunya terkikik setuju dengan perkataan Tsunade.
Melihat suasana kembali normal, Naruto mendekat kearah Tsunade dan Kurenai, memegang bahu kedua wanita yang sangat ia sayangi, "Tersenyumlah, kalian berdua terlihat cantik saat tersenyum." Ungkap jujur Naruto sembari menunjukkan senyum simpul miliknya.
Senyum simpul Naruto langsung memberikan efek drastis kepada kedua wanita yang kini tengah ber-blushing ria akibat melihat senyum memabukkan milik Naruto, "Terkadang aku benci saat kau mengatakan hal manis seperti itu." Ucap Tsunade mengalihkan wajahnya tak ingin wajah blushingnya dilihat Naruto.
Baik Kurenai ataupun Tsunade sudah cukup bahagia sampai saat ini, meskipun mereka berdua sama-sama tahu jika Naruto belum menerima cintanya, entah kenapa perasaan keduanya kini mulai menghangat seiring dengan nya matahari senja yang mulai tenggelam.
"Dengar Naruto-kun, Kau seharusnya sadar bahwa akan ada orang yang hatinya terluka ketika mereka melihatmu menyakiti diri sendiri." Ucap Tsunade mengakhiri senja hari ini.
Naruto hanya menatap kedepan dengan tatapan hampa yang luput dari pandangan kedua wanita disampingnya.
XXX
Hokage's Residence
"Tou-chan, daijobu?" Mito menghampiri sang ayah yang tengah duduk melamun di ruangan keluarga.
Melihat si kecil yang menghampirinya, Minato tersenyum, "Tidak apa-apa Mito-chan, aku hanya sedikit lelah, bisa minta tolong ambilkan bantal dikamar ayah?" Pinta Minato kepada Mito.
"Um." Mito mengangguk dan segera pergi dengan langkah kecilnya.
"Tou-chan, ajari aku menggunakan senjutsu seperti yang pernah Tou-chan janjikan." Seru Menma dari arah belakang Minato.
"Kenapa tiba-tiba Menma? Bukankah sebentar lagi ada ujian Chunnin." Minato memandang Menma terheran.
"Aku ingin jadi kuat!" Jawab singkat Menma penuh semangat.
Mendengar jawaban terkesan Arogan itu, Minato sudah mengerti jika Menma telah bertemu dengan Naruto, "Kau sudah bisa melakukan perubahan Rasengan dan kurasa itu sudah sangat kuat untuk anak seusiamu. Katakan pasti ada alasan lain, kan?" Tanya Minato menyelidiki.
Mengepalkan tangannya erat, Menma meninggikan nada suaranya, "Aku ingin memberi pelajaran kepada kakak lemahku itu."
Tepat seperti yang Minato pikirkan, ini adalah salah satu dampak dari tugas yang diberikan tetua desa, mau tidak mau Minato harus menghadapi kenyataan jika suatu saat nanti kedua putranya akan bertarung bukan sebagai saudara melainkan menjadi musuh yang diciptakan oleh Kebijakan Desa yang ditanggung oleh Minato, "Aku akan mengajarkannya, tapi tidak sekarang." Ucap Minato beralasan.
Menma mengkerutkan dahinya, biasanya jika ia ingin berlatih Ayahnya ini dengan cepat akan memenuhi segala keperluannya, tapi kali ini, "Kenapa?" Tanya Menma heran dengan sikap Ayahnya.
"Senjutsu terlalu berbahaya saat kau dalam kondisi emosional seperti ini." Jelas Minato singkat.
"Ck, aku tidak peduli." Sahut Menma acuh dengan resiko yang akan ia terima nanti, sebagai jinchuuriki Kyuubi sudah pasti kemampuan regenerasi tubuhnya akan menjadi solusi dari setiap resiko yang ia terima nanti, menurutnya.
Minato memijat pelipisnya pelan, untuk menghadapi sikap Menma memang selalu membutuhkan kesabaran yang besar, "Resiko Senjutsu adalah kematian Menma, karena pada dasarnya jutsu itu menyerap energi alam disekitar kita dan tidak menutup kemungkinan kau akan menjadi salah satu bagian dari alam tersebut."
"Maksudnya?" Tanya Menma tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Ayahnya.
"Para pengguna Senjutsu yang gagal akan berubah menjadi batu dan itu tidak ada penawarnya." Jelas Minato dengan nada datar dibalas dengan tegukan ludah oleh Menma ketika mengerti resiko 'Sebenarnya' dari Senjutsu.
"Sekarang cobalah untuk berlatih mengontrol emosi, setelah itu datanglah kembali kepadaku." Lanjut Minato menepuk pelan rambut Menma.
"Baiklah." Jawab Menma mengerti.
"Apa yang kalian ributkan –tebanee?" Ucap Kushina dari arah dapur.
Melihat sang istri yang muncul, tak ingin menjadikan rencana pelatihan ini menjadi bahan 'omelan' Kushina, otak cerdas Minato segera mencari alasan, "Hanya sedikit masalah pria, benarkan Menma?" Ucap Minato sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mengerti dengan maksud tatapan dari sang Ayah, Menma segera mengalihkan perhatian nya menuju Kushina, "Seperti yang Tou-chan katakan, Kaa-chan." Ujar Menma dengan menampilkan senyum lima jari miliknya.
Namun apa yang mereka harapkan kini harus pupus ditengah jalan, 'Celaka.' Batin Menma dan Minato bersamaan saat melihat aura merah hitam keluar dari balik tubuh sang bunda.
"Jangan bilang jika kalian..." Nada bicara Kushina benar benar seperti sayatan pisau yang siap menggorok leher Minato dan Menma, keduanya kini pucat pasi mencoba mencari celah untuk segera kabur, masing-masing dari keduanya sudah mengaktifkan chakra untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan akan terjadi nantinya-
"Kencing sembarangan." Lanjut Kushina membuat Minato dan Menma memutih pucat mendengar tuduhan absurd yang dilayangkan oleh Kushina.
"Uhm.. sepertinya aku sudah mulai mengantuk, kurasa Mito-chan tertidur dikamar lagi." Ujar Minato setelah tersadar dari cengoh-nya dan beranjak pergi.
"Hei!"
"Oh, aku akan membangunkan dia." Menma segera menyusul sang Ayah.
"Kalian berdua, siram dulu kencing kalian sebelum tidur dan jangan lupa cuci 'barang kalian'... Menma/Minato-kun kalian mendengarku, kan?!" Seru Kushina dengan megang sebuah panci?!What The...
XXX
Konoha Hospital (8.46 AM)
"Hime-sama!" Seru Naruto ketika memasuki satu-satunya ruangan khusus kepala rumah sakit Konoha.
Mendekat ke arah Tsunade, lantas Naruto menunjukkan beberapa lembar kertas yang diberikan oleh Anbu pagi tadi, "Apa maksudnya ini?"
"Hm... ada masalah dengan kertas itu?" Tanya tenang Tsunade sambil meminum sake kesukaannya.
Naruto mengangkat kertas yang terdapat foto dirinya tepat di hadapan wajah Tsunade, "Kenapa kau mengangkatku menjadi pengawalmu, Hei..! apa-apaan Anbu Special ini, sejak kapan angkatan Anbu memiliki nama aneh mirip 'mie-instan' ini." Ungkap kesal Naruto sambil menunjuk bagian 'Special' disitu.
Meletakkan gelas sake yang sudah kosong, Tsunade memandang kalem Shinobi pirang yang kini sedang menggerutu sebal akibat keputusan sepihak yang telah ia lakukan, "Kurasa itu lebih cocok untukmu daripada status genin yang kau sandang. Kau pikir apa tidak aneh seorang Genin memiliki bulu publik sepertimu."
Naruto mengusap kasar wajahnya, "Pokoknya aku tidak mau jadi pengawal perempuan gempal seperti anda dan jangan biasakan berbicara kotor seperti seolah terdengar sopan, itu tidak pantas untuk seorang Sannin seperti anda." Protes Naruto mengomentari mulut liar Tsunade.
"Hah~ kau terlalu serius, sayang."Tsunade mengambil semua lembaran kertas yang dipegang Naruto, mengumpulkannya menjadi satu bagian dan segera memasukkannya ke laci meja kerja pribadinya, "Abaikan soal statusmu, sekarang aku akan mengajarimu kontrol chakra." Ucap Tsunade mulai serius dengan perkataannya.
Naruto menggeleng pelan, "Tidak-tidak, sebenarnya aku bisa mengalahkan Hime-sama dalam sekejap." Naruto bersidekap menutup kedua matanya tak berminat dengan penawaran yang Tsunade berikan.
Melihat Naruto terlalu percaya diri membuat Tsunade menyeringai tipis, sepertinya hari ini Naruto harus tahu kenapa dirinya dijuluki salah satu dari Tiga Legenda Sannin, "Boleh kucoba?"
Srrt
Baru sekejap Tsunade berniat berdiri, sebuah bayangan tipis melesat cepat memotong beberapa helai rambut pirangnya, bahkan kedua mata Tsunade tak sanggup melihat benda apa itu tadi.
Trriik
"A-apa itu tadi?!" Mata Tsunade melebar tak percaya, baru saja ia merasa jika nyawanya hampir keluar percuma, hanya karena ingin unjuk kekuatan terhadap Naruto.
Naruto memjamkan matanya dan tersenyum lima jari saat melihat reaksi Tsunade, "Hanya sebagian kecil dari kemampuanku mengontrol chakra."
Tsunade menghembuskan nafasnya kasar, "Sejak kapan kau berlatih itu semua? kurasa mengontrol chakra bukanlah hal yang mudah dipelajari." Tanya Tsunade penuh selidik, merasa heran dengan perubahan drastis dari Naruto.
"Entah, aku hanya terbangun dari tiduku setelah itu aku bisa sehebat ini."
"Aku tidak menerima alasan konyol seperti itu, Naruto-kun!"
"Lupakan tentang kemampuanku, maksudku daripada anda mengajariku tentang kontrol chakra lebih baik anda tetap duduk disini dan menyembuhkan beberapa Shinobi yang terluka, kurasa itu lebih bermanfaat daripada menghabiskan waktu bersama orang tampan sepertiku." Ucap Naruto sambil mengusap pelan rambut pirangnya, hanya untuk menambah kesan keren.
Voila. Tsunade langsung blushing mendapati Naruto yang tengah tebar pesona di depannya, "Ck, kau benar." Ungkap kesal Tsunade membenarkan perkataan Naruto.
"Hm.. Naruto selalu benar dan tampan." Naruto mengangguk penuh percaya diri.
"Najis." Umpat Tsunade, "Sudahlah, aku punya tugas untukmu!" Lanjut Tsunade menatap serius Naruto.
Dengan ajaibnya, Naruto segera menunduk hormat dihadapan Tsunade, persis seperti seorang Ksatria menunduk hormat dihadapan sang Ratu, "Aku mendengarkan Hime-sama."
Tsunade menelan ludahnya cepat , tak sanggup untuk mengomentari setiap tindakan Naruto yang selalu saja berhasil membuat jantungnya berpacu cepat, "Bawa ini ke Kumogakure, katakan jika obat ini akan mematikan jutsu di dalam tubuh Shinobi mereka." Jelas Tsunade memberikan Naruto sebuah kotak berisi obat di dalamnya.
"Bukankah anda melarangku menjalani misi keluar Desa?" Tanya heran Naruto.
Tsunade memejamkan matanya mengingat seluruh alasan Naruto dibalik setiap tindakan yang selalu diambil Shinobi pirang tersebut, "Aku percaya padamu, dan ingat aku tidak memberikan kesempatan kedua! Jika kau gagal selamanya aku tidak akan membiarkanmu menjalani misi di luar Konoha." Puji sekaligus Ancam Tsunade.
Naruto tersenyum puas mendengar semua itu, "Baiklah, ada yang lain?"
"Aku bisa mengurus sisanya!" Jawab Tsunade menggelengkan kepalanya.
Naruto mendekat kearah Tsunade yang kembali duduk manis di kursi malas miliknya, "Tidak-tidak, aku yang akan mengurus kebutuhan anda." Tuntut Naruto.
"Kau yakin?" Tanya Tsunade.
"Tentu saja, mana ada seorang pengawal tidak menuruti perintah majikannya." Jawab cepat Naruto tak ingin kehilangan kesempatan memenuhi kebutuhan orang yang sangat dihormatinya.
"Kalau begitu belikan aku pembalut setelah kau kembali dari sini dan kau akan kuberi bonus saat memasangkannya juga." Ucap Tsunade dengan mengedipkan sebelah matanya, memberi kesan 'nakal' dalam sistem sosialisasi orang dewasa.
Ok. Kali ini Naruto menyerah, terlepas dari fakta berapa umur sebenarnya dari Tsunade, hal itu akan berlawanan dengan parasnya yang mampu membuat pria manapun meneguk ludah, "Sabar Naruto 'junior', aku tahu kau tersiksa." Ucap Naruto mengasihani dirinya sendiri.
Membalikkan badannya Naruto segera mennjalani misi pertama yang ia lakukan dalam karirnya sebagai Anbu Spesial, "Baiklah aku pergi dulu, jangan lupa untuk mencabut Pena dibelakang anda." Seru Naruto sebelum benar-benar menghilang dari ruangan Tsunade.
"Pena?" Tanya heran Tsunade, membalikkan tubuhnya ia mendapati benda hitam yang menempel di kaca belakang meja kerjanya, saat mendekat Tsunade benar-benar terkejut melihat sebuah Pena menancap tepat ditengah-tengah kaca ruang kerjanya tersebut.
Namun yang membuatnya aneh adalah tidak adanya retakan yang dihasilkan oleh Pena tersebut dengan kata lain Pena tersebut menancap sempurna tanpa merusak struktur bagian yang menjadi targetnya.
Ctik
Jresshh
Pada akhirnya Tsunade benar-benar tak sanggup untuk berkata, setelah melihat semua asumsinya hancur tak bersisa seperti kondisi kaca yang telah dilempar Pena oleh Naruto saat ini.
Alih-alih merusak lebih tepatnya ini bisa dibilang menghancurkan seluruh bagian kacanya dan hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang Monster Pengendali Chakra yang mampu mengkombinasikan Chakra secara efisien.
Jika normalnya Chakra Angin digunakan untuk mempertajam Kunai maupun pedang maka akan menghasilkan serangan yang mampu memotong apapun, dalam kasus Naruto kali ini dia tidak menggunakan Chakra Angin yang mempunyai efek memotong melainkan memakai Chakra Listrik yang mempunyai efek menghancurkan secara menyeluruh bagian yang menjadi targetnya, hal ini terbukti dari ujung Pena yang masih terlihat beberapa sengatan listrik kecil disana.
"Dia sungguh penuh mempesona." Ucap Tsunade memabasahi bagian bawah bibirnya.
XXX
Kumogakure (13.06 PM)
Kumogakure (Kumogakure no Sato; Secara harfiah berarti "Desa yang Tersembunyi oleh Awan)adalah desa tersembunyi dari Negara Petir dan didirikan oleh Raikage Pertama. Sebagai salah satu Lima Negara Besar Shinobi, Kumogakure memiliki Kage sebagai pemimpin yang dikenal sebagai Raikage. Sejauh ini ada empat Raikage, Raikage saat ini adalah A. Desa ini terletak di antara pegunungan tinggi, dan secara pandangan memang tersembunyi di dalam awan. Raikage bekerja di dalam bangunan biru besar yang dibangun di gunung tertinggi.
Sebagian besar shinobi dari desa ini tampaknya memiliki hubungan alamiah untuk transformasi alam Elemen Petir. Nin-taijutsu, dan kenjutsu juga dipromosikan sebagai gaya bertarung yang disukai di desa ini. Pakaian standar untuk shinobi dari desa ini umumnya panjang, warna abu-abu di atas sebatas pinggang untuk memberikan penampilan seperti selempang, agar cocok dengan warna celana. Selama ini mereka memakai seragam putih, satu rompi tanpa lengan serta pelindung tulang kering.
"Bertahanlah Shii, aku sudah meminta Tsunade untuk menyembuhkanmu." Ucap Raikage memandang lemah satu-satunya pengawal terbaik yang ia miliki.
"Terima kasih Raikage-sama, perhatian anda sudah lebih dari cukup untuk hamba. Jika memang ini waktuku yang terakhir hamba rasa ini sudah terlalu cukup." Jawab Lemah Shii dengan wajah pucat sangat.
Raikage mengepalkan kedua tangannya erat-erat, "Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati, jika kau mati aku akan membunuh Tsunade dengan kedua tangan ini."
"Kumohon jangan melakukan hal seperti itu, hubungan kita dengan Konoha sudah terlalu buruk, aku tidak ingin membuat keadaan semakin memburuk lagi." Pinta Shii memohon, ia sadar jika orang yang sangat ia hormati ini tidak akan pernah menganggap remeh ancaman nya.
"Kalau memang begitu hiduplah untuk ku, jangan biarkan penyakit ini membunuhmu." Raikage menggenggam tangan Shii dengan penuh harap pengawalnya tersebut hanya terkena jutsu biasa, namun saat ia mengalihkan perhatiannya ke dada pengawalnya harapan itu langsung sirna tak berbekas, seekor laba-laba dengan ukuran besar kini bersarang dibalik kulit Shii.
Saat pertama kali meminta bantuan kepada Tim Medis Kumogakure yang didapat oleh Raikage hanyalah wajah pasrah seluruh Tim Medis, wajah yang selalu ditunjukkan oleh para Dokter saat memberitahukan jika pasien yang mereka tangani tak ada harapan untuk hidup lebih lama lagi.
Pada akhirnya Raikage hanya mampu meminta pertolongan kepada satu-satunya Medic-Nin terbaik diseluruh Elemental Shinobi, Tsunade Senju.
"Hormat hamba Raikage-sama, utusan dari Konoha telah datang." Ucap penjaga gerbang Kumogakure.
Mata Raikage melebar, harapan untuk menyembuhkan Shii telah datang, "Cepat suruh dia masuk."
"Woah, aura penuh keputus asaan memenuhi ruangan ini." Ucap Naruto memandang langit-langit ruangan tempat Shii dirawat.
"Siapa kau?" Tanya Raikage melirikkan matanya.
Naruto mengangkat alisnya sebelah, "Oh... maaf, aku diutus Tsunade-hime untuk memberikan obat ini kepada anda." Mengetahui orang tua disana yang bertanya Naruto segera membungkuk hormat.
"Itu tidak menjawab pertanyaanku bocah!" Seru Raikage kesal.
Naruto menunjuk dirinya sendiri, "Aku?" lalu tersenyum lima jari, "Naruto pengawal pribadi Tsunade Senju."
"Naruto Namikaze, putra pertama Yondaime Hokage." Sahut pria berambut putih yang berdiri menyandar disamping ranjang Shii, Darui.
"Sepertinya kau tau banyak tentang diriku." Balas Naruto menatap malas Darui.
"Itu sudah tugasku." Jawab acuh Darui.
"Tugasmu benar-benar mengerikan, lain kali carilah pekerjaan yang lebih mudah daripada menjadi 'Penguntit' seperti itu." Ucap Naruto memberi saran.
"Jadi kau 'Si Pecundang' yang terkenal itu." Sahut Raikage tertarik.
"Pecundang?" Naruto menyeringai tipis, "Bukankah kau terlalu arogan untuk menyebut Shinobi yang baru kau temui, Orang tua" Naruto berhenti sbentar, " Orang tua tolol sepertimu tidak layak mendapat gelar Raikage." Tatapan meremehkan nampak jelas diraut wajah Naruto.
"Jaga sikapmu itu, sebelum orang tuamu mendengar berita kematian putranya." Darui menggenggam handle pedang dibalik punggungnya, sangat muak melihat tingkah Naruto.
"Darui hentikan!" Perintah Raikage cepat.
Menatap Naruto sebentar, Raikage menutup kedua mata mencoba mendinginkan emosinya sendiri, "Aku tidak banyak waktu untuk meladeni bocah sepertimu, cepat berikan obatnya." Pinta Raikage.
Naruto semakin memperlihatkan seringainya, "Bagaimana jika aku tidak memberikan obatnya?"
"Jika begitu aku sendiri yang akan mengambilnya." Setelah berucap, Raikage segera melesat menuju Naruto bersiap melayangkan tinju tyang telah ia aliri listrik.
Bzzzzt
Slaap
Naruto memegang tangan besar itu tanpa perlawanan yang berarti, "Jika kau tidak tau cara menghargai seseorang, biarkan 'Pecundang' ini yang mengajarimu."Membuka kedua matanya , Naruto menatap malas Raikage.
"Kurasa Hokage tidak akan keberatan jika aku membunuh satu putranya." Raikage tersenyum tipis, tertarik dengan Shinobi yang dengan mudahnya menangkap tinjunya dengan mata tertutup. Saat mengetahui jika dia memperkenalkan diri sebagai pengawal Tsunade, tidak menutup kemungkinan jika remaja pirang didepannya ini mempunyai pertahanan hebat seperti sang Senju, pikir Raikage tertarik dengan kemampuan Naruto.
"Hentikan ocehan tua mu itu, kita keluar. Kau tidak sadar disini ada orang sakit." Naruto melepaskan tangan besar Raikage dan segera berbalik keluar.
"Ck, dia benar." Merasa malu, Raikage mendecih kesal dan segera mengikuti Naruto.
.
Udara siang disini begitu panas, meskipun ini termasuk daaerah yang tinggi hal seperti cuaca dingin sepertinya sangat jarang terjadi di Kumogakure.
"Kurasa disini tempat yang cocok." Naruto menatap sekelilingnya, lapangan luas yang hanya ditumbuhi beberapa pohon dan dibatasi oleh bukit kecil disekitarnya, ia sengaja memilih tempat luas agar dapat mengatasi Raikage yang terkenal dengan kecepatannya.
Raikage menyipitkan pandangannya saat melihat Naruto, "Jangan mengulur waktu, sialan." Teriak Raikage dari kejauhan.
Melihat Raikage yang mendatanginya dengan kecepatan tinggi, Naruto mendesah pelan, "Seperti yang diharapkan dari Kage paling tempramental."
'Raigyaku Suihei Chopu ' Gumam Raikage saat mendekati Naruto dan segera memukul Naruto menggunakan lengan samping miliknya, namun sang lawan dengan cepat menjauh dari jarak serangan yang dilancarkannya.
"Bukan hanya kau yang bisa melakukan Shunsin, pak tua." Ejek Naruto.
'Doroppu Kikku' Lanjut Raikage sambil melompat diudara dan segera melesat kearah Naruto.
Blaaarr
Serangan kaki Raikage hanya menemui tanah kosong.
Naruto mengelus dadanya lega, "Fyuuh, hampir saj..-ohok" Kesalahan fatal dilakukan oleh Naruto tidak memperhatikan Raikage, jutsu yang Raikage gunakan merupakan salah satu andalannya yaitu dengan melancarkan dua serangan langsung menggunakan kakinya, dengan kata lain saat kau lolos dari serangan pertama kau harus segera menahan serangan lanjutan, namun naruto benar-benar lengah.
"Kena kau!" Raikage tersenyum puas, dengan melompat ke udara lagi ia segera melancarkan serangan berikutnya.
'Girochin Doroppu'Tumit Raikage dengan jelas mengenai kepala Naruto.
"Masih belum." Ucap Raikage, 'Raigyaku Suihei Chopu' Tulang wajah Naruto terasa remuk saat terkena serangan lengan besar Raikage yang pertama tadi sempat ia hindari.
'Aian Kuro' Raikage meremas wajah Naruto dan segera melakukan serangan terakhirnya,"Raiga Bomu" Ucap Raikage keras saat membanting tubuh Naruto, begitupun dengan efek jutsu yang telah ia lancarkan, jutsunya membuat tanah disekitarnya rusak parah menimbulkan keretakan dan lubang tepat dimana tubuh Naruto terhempaskan.
"Kuharap kau senang dengan pilihanmu menantangku." Ucap Raikage mengakhiri serangan beruntun miliknya.
"Hahaha... Benar-benar combo mematikan dari seorang Raikage." Naruto tertawa menahan sakit, wajahnya terlihat hancur saat ini.
"Aku membiarkanmu hidup hanya untuk memberi pelajaran agar kau tidak sembarangan melawan seorang Kage." Jelas Raikage.
"Benarkah?" Naruto mencoba berdiri dengan pelan.
Menatap Raikage dengan sebelah matanya yang belum terluka oleh serangan Raikage, Naruto berujar pelan, "Jangan hanya membual, aku tahu kau masih belum serius."
"Jika aku serius, aku bisa memastikan kau tidak akan bisa melihat matahari lagi." Sahut Raikage menatap heran Naruto.
"Buktikan kepadaku pak tua."
"Kau sendiri yang meminta, jangan menyesal." Raikage segera meningkatkan intens chakra yang dimilikinya.
"Raiton no Yoroi" Ucap Raikage mengaktifkan jutsu andalan miliknya untuk menambah kecepatan sekaligus kekuatan, selang beberapa detik seluruh tubuh Raikage telah dialiri oleh listrik.
"Ada permintaan terakhir?" Tanya Raikage dengan nada beratnya.
"Boleh aku kencing sebentar?" Sahut Naruto ngasal.
"Kuanggap tidak ada."
'Rariatto' Dengan kecepatan yang tak sanggup dilihat oleh mata normal, Raikage memukulkan kembali lengan besarnya tepat di dada Naruto.
Naruto tampak melebarkan matanya tak percaya dengan kecepatan yang dimiliki Raikage, 'dia benar-benar cepat seperti Shisui.' Batin terakhir Naruto saat melihat lengan besar itu mengenai dadanya dengan telak.
Splaassh
Blaaar
Tubuh Naruto terhempas dengan jauh menuju bukit dibelakang tempatnya beridiri, punggung Naruto menabrak keras bukit tersebut, saat ini organ tubuh dalam nya telah hancur dan tubuh bagian luarnya hampir tak berbentuk lagi.
Raikage mengembuskan nafasnya kasar, "Hah~ anak-anak jaman sekarang benar-benar tidak punya tata krama." Berjalan menuju tubuh Naruto yang ia sendiri yakin jika putra Hokage itu tak mungkin bergerak lagi.
Sepertinya sebentar lagi ia akan berurusan dengan Konoha.
Raikage mengambil kotak obat disaku celana ninja milik Naruto, "Kurasa aku harus segera kembali, kumohon bertahanlah Shii aku akan segera dat-" Perkataan Raikage terhenti, semua yang ia lihat perlahan menjadi seperti kaca, perlahan tapi pasti semua yang ia lihat mulai pecah seperti hancurnya cermin dengan cepat berubah menjadi kegelapan yang menelan tubuhnya.
"Kai" Seru seseorang yang masuk kedalam pendengaran Raikage, selanjutnya saat ia membuka mata hal yang pertama dilihat adalah Darui yang menatap khawatir kepadanya.
"Anda tidak apa-apa Raikage-sama?" Tanya Darui khawatir, wajah Raikage sekarang terlihat sangat pucat.
"Darui, apa yang terjadi?" Balas tanya Raikage menghiraukan pertanyaan Darui.
"Sepertinya anda terkena Genjutsu-nya." Jelas Darui, saat pertama kali datang yang ia lihat hanya Raikage yang sedang berdiri dengan pandangan kosongnya sedangkan Naruto-
"Hoh~ kau sudah sadar, pak tua?" Seru Naruto yang sedang mengupil diatas pohon.
"S-Sejak kapan?" Tanya Raikage terkejut, masalahnya dari tadi pandangannya tak pernah luput semenjak Naruto tiba ditempat ini.
"Sejak kau tiba disini." Jawab cepat Naruto dengan turun dari atas pohon.
"Bagaimana mungkin? Kau bukanlah seorang Uchiha yang dapat menggunakan Genjutsu kepada Shinobi sepertiku." Raikage benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya Naruto menjebak dirinya yang seorang Kage terperangkap dalam ilusi oleh Ninja yang bahkan tidak lulus ujian Genin sepertinya, pikir Raikage.
"Tidak perlu Sharinggan untuk menggunakan Genjutsu terhadap orang tua bodoh yang tidak bisa mengendalikan emosinya sepertimu." Naruto berdiri ditempat saat pertama kali Raikage datang disini, membuat sang Raikage melebarkan matanya.
Tempat Naruto berdiri saat ini mengingatkanya saat ia datang sebuah cahaya masuk dengan cepat mengganggu pengelihatannya, setidaknya itulah yang bisa disimpulkan oleh Raikage, tapi tunggu... cahaya? Bagaimana mungkin ada Shinobi yang memiliki perubahan chakra seperti itu, pikir Raikage tak mengerti.
Cukup. Darui sudah kehilangan kendali melihat pemimpinnya terus dihina oleh Naruto, "Kau, akan kubunuh sekarang juga." Teriak Darui penuh murka.
Menghunus pedangnya ia segera mengalirkan jutsu pamungkasnya, 'Raiton Kangekiha' petir hitam itu menari dengan liar menyelimuti pedang milik Darui, tanpa ba bi bu Darui segera berlari menuju Naruto.
Saat ia dekat dengan Naruto, Darui segera melompat untuk menambah daya serangnya, namun semuanya seakan langsung berhenti amarah, murka serta benci yang telah Darui rasakan kini perlahan menghilang, berganti dengan perasaan takut yang sangat luar biasa, entah jutsu apa yang dilancarkan oleh Naruto saat ini tubuh Darui benar-benar melayang di udara, tubuhnya terasa kaku hingga pegangan pedangnya mulai longgar membuat pedang miliknya jatuh dibawah tubuhnya.
Naruto berjalan menuju pedang milik Darui, setelah mengambil pedang milik lawannya Naruto menatap tajam Darui yang kini tengah melayang ketakutan di udara,"Aku tidak ada urusan denganmu." Ucap dingin Naruto bersiap menghunuskan pedang yang ia pegang menuju jantung Darui.
Raikage melebarkan matanya tak percaya melihat Shinobi terbaik Kumogakure menjadi seperti lalat dihadapan Naruto, udara panas yang bercampur dengan aura membunuh dari Naruto serta tatapan yang Raikage sendiri tahu jika apa yang akan dilakukan oleh Naruto bukanlah sebuah gertakan.
"Hentikan!" Teriak Raikage, chakra dalam tubuhnya saat ini sedang tidak stabil untuk menghentikan tindakan Naruto, dengan terseok-seok Raikage berusaha menghentikan usaha Naruto membunuh Darui, tubuhnya besarnya terjatuh tak sanggup berbuat banyak, dengan sedikit usaha Raikage bersujud, " mengaku kalah, maaf." Pinta Raikage memohon.
Naruto mengalihkan tatapan tajamnya dari Darui menuju Raikage yang tengah bersujud disana, dalam satu kali hembusan nafas, tubuh Darui langsung ambruk ketanah, Naruto melepaskan pedang milik Darui, "Bangunlah, seorang Kage tidak pantas menundukkan kepala pada situasi seperti ini." Ujar Naruto.
Menghembuska nafasnya lega, Raikage kembali duduk, "Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Raikage menatap lemah Naruto.
"Bukankah tadi sudah kukatakan? Aku akan mengajarimu cara menghargai seseorang." Jawab Naruto mengingatkan.
"Tapi bukankah para Shinobi bilang bahwa kau tidak memiliki chakra, bagaimana mungkin orang sepertimu bisa membuatku seperti ini?" Lanjut Raikage penasaran, sebab ia yakin Genjutsu yang ia terima serta menghentikan tubuh Darui dengan cara seperti itu bukanlah kemampuan dari seorang Genin.
"Itulah kelemahanmu, memandang Shinobi hanya dari statusnya saja, bukan dari kebenaran sejati."
Raikage tetap ngotot pada pendiriannya, "Beritahu aku, bagaimana kau melakukan ini semua?" Tuntut Raikage meminta penjelasan.
"Hanya Shinobi bodoh, yang akan membicarakan tentang kekuatannya." Ucap Naruto sambil melempar kotak obat yang harusnya dari tadi ia berikan tanpa melalui pertarungan konyol seperti ini.
"Sebelum aku pergi... Kau tahu warung didekat sini?" Tanya Naruto lebih lanjut.
"Hah?!"
.
Kumogakure (Dango Shop)
"Paman, boleh aku tambah lagi?" Pinta Naruto kepada orang tua didepannya.
"Silahkan, kau boleh makan sepuasmu tanpa membayar." Sahut bahagia pria penjual Dango itu.
Hari ini toko Dango terlihat lebih ramai dari biasanya dikarenakan dengan kehadiran (Kembang Desa Kumogakure)Samui ditambah dengan (Konoha no Gigolo) Naruto, membuat kedai Dango itu kebanjiran pelanggan baik dari kalangan pria maupun wanita.
"Hei, Shinobi Konoha... ada urusan apa kau kemari?" Tanya Samui menatap geram pria didepannya, "Hei! Aku bicara denganmu Kuning!" Seru Samui kesal karena merasa diabaikan.
"Maaf... bisa aku selesaikan makanku dulu?" Sahut Naruto acuh.
"Cih."
...
"Ah~ kenyangnya." Naruto mengelus perutnya dengan menampilkan wajah ceria.
"Sekarang jawab pertanyaanku!" Seru Samui menyadarkan.
Naruto mengedipkan matanya berkali-kali, "Oh, kau masih disini?" Tanya bodoh Naruto.
Samui menghirup udara cepat dan segera menghembuskannya kembali, berusaha menjaga imej agar tidak rusak hanya karena kesal dengan Naruto, "Ada urusan apa kau kemari?" Tanya Samui kembali.
Naruto menguap lebar-lebar, "Kenapa tiba-tiba aku mengantuk ya? Apa mungkin ini yang dinamakan cinta?" Ujar Naruto yang terlihat seperti sengaja mengacuhkan wanita didepannya ini.
"Jangan mengacuhkanku Kuning!" Geram Samui saat mengetahui dirinya diacuhkan, hei ini pertama kalinya ada pria yang mengacuhkan Samui.
Naruto mengernyitkan dahinya, pandanganya menyipit, "Berisik kau juga Kuning, kenapa dari tadi kau marah-marah? Kau hamil?"
"-Ah..." Samui kehilangan kata-katanya untuk membalas Naruto. Saat otaknya berputar mencari jawaban, tapi tetap tak menemukan hasil, satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membalas Naruto adalah...
"Peduli setan! Akan kuhajar kau!" Samui mengangkat tinjunya tinggi-tinggi dan Naruto hanya mampu menatap horor wanita didepannya ini, maksud hati ingin kabur tapi apa daya saat ini perutnya sedang penuh.
"Samui hentikan, kalian berdua dipanggil oleh Raikage-sama!" Seru Darui saat mendapati rekan kerjanya hampir mencelakai Naruto.
"Cih lain kali, kau tidak akan lolos dariku!" Ancam Samui segera pergi dengan berdecak kesal.
"Paman uangnya aku taruh di meja!"
"Ambil saja! Raikage bilang dia akan menanggung semua biayanya!"
Naruto menggelengkan kepalnya, "Tidak-tidak, anggap saja ini hadiah karena membuat perutku kenyang."
"Arigatou."
.
Raikage's Office
Ruangan berbentuk oval ini merupakan satu-satunya ruangan kerja milik Raikage, tak hanya tinggi, dengan desain dikelilingi oleh kaca yang menghadap keseluruh bagian desa siapapun akan bisa melihat hampir seluruh Desa Kumogakure dari sini.
Saat memasuki ruangan ini terlintas dipikiran kita adalah kantor kerja pemimpin desa yang dikelilingi oleh tumpukan buku serta lembaran kertas yang menumpuk, tapi hal itu sama sekali tidak berlaku untuk seorang Raikage. Maksudku lihat ruangan ini hanya terdiri dari bangunan oval, satu buah sofa serta... Hei! Itu samsak tinju bukan?!
Benar-benar cocok untuk makhluk coklat berotot seperti Raikage.
"Katakan padaku bocah, kenapa sampai saat ini Shii belum sadar, apa Konoha sengaja mengirimmu untuk membalaskan dendam klan Hyuuga!" Raikage langsung menyemprot kedatangan Naruto yang baru saja menampakkan batang hidungnya.
Melihat sambutan yang tidak semestinya itu, hanya satu yang terlintas dipikiran Naruto, "Boleh aku melihatnya?"
"Ikut aku!" Raikage berdiri dan memasuki ruangan tempat Shii baru saja dipindahkan.
.
Setelah mengetahui kondisi Shii yang semakin memucat? Tidak! Itu sudah bukan pucat lagi, wajah itu semakin membiru persis dengan orang keracunan jajanan sekolah...-ehm maaf.
"Sejak aku meminumkan obat itu, kau bisa lihat sendiri keadaannya semakin memburuk." Ucap Raikage menunduk lesu.
"Pak tua, boleh aku bertanya sesuatu?" Naruto mencoba untuk memastikan sendiri apakah, dugaannya benar atau hanya bualan otak semata.
"Katakan!" Seru Raikage.
Naruto menoleh kearah semua orang di lokasi, "Dari sekian orang diruangan ini, mana yang paling tahu tentang Medic-nin?" Tanya Naruto sambil memandang semua orang secar bergantian.
Raikage menatap Shinobinya secara bergilir:
'Darui dia ahli dalam bidang Nin-Taijutsu.'
'Mabui dia yang mengurus kertas bodoh itu.'
'Samui...'
Pikiran Raikage membuat kita tahu kemana perginya semua kertas disini.
"Kurasa hanya Shii yang paling mengetahui." Ucap Raikage menyimpulkan.
Naruto mendesah pelah, "Sudah aku duga, perempuan disampingku ini cuma besar dadanya."
"Hei!" Seru Samui menatap tajam pria disampingnya.
Naruto mengabaikan reaksi Samui, "Selain itu, bukankah kau bilang tadi meminumkan obatnya bukan?" Tanya Naruto menatap Raikage.
"Hm." Raikage mengangguk.
"Darimana kau tahu jika obat itu untuk diminum?" Tanya Naruto pelan, namun kini wajahnya menunduk hingga menyembunyikan emosi miliknya.
"Bukankah selama ini cara kerja obat seperti itu?" Sahut Raikage cepat.
"Dan kau tidak melihat tulisan di kemasan obat itu?" Naruto memjamkan matanya dan tersenyum palsu, karena dugaanya tepat. Jika pria didepannya ini selalu mengambil cara pintas untuk melakukan sesuatu tanpa memikirkan resikonya.
Raikage menaikkan alisnya heran dengan pertanyaan Naruto, "Untuk apa aku melakukan hal tidak penting seperti itu?"
Hening.
'Plak.'
'Plak.'
'Plak.'
'Plak.'
Semua orang selain Raikage disitu menepuk jidatnya masing-masing, tak tahu harus bersikap apa saat meladeni orang tua berotot seperti Raikage.
"Hei ada apa dengan kalian?" Tanya Raikage melihat semua orang disitu yang menurutnya berekspresi aneh.
Naruto menggertakkan giginya geram, "Satu-satunya yang ada apa disini itu kau, pak tua!" Semprot jengkel Naruto, karena obat yang ia bawa dari Konoha kini berganti menjadi racun hanya karena tindakan ceroboh Raikage, "Sekarang pegang ini dan baca, jangan katakan apapun sampai aku menyuruhmu. Kau mengerti?" Naruto memberikankemasan obat dari Tsunade kepada Raikage.
"Tunggu, untuk apa aku melakukan ini?" Raikage menatap bingung Naruto.
Menatap tajam Raikage, Naruto meninggikan nada suaranya, "Aku tidak menyuruhmu bicara!" Bentak Naruto yang berhasil membuat Raikage menggigil ketakutan.
'Dia menyeramkan.' Batin Raikage ketakutan dan segera melakukan apa yang Naruto katakan.
Naruto melihat masalah dengan Raikage sekarang sudah selesai, "Sekarang ambilkan air, kertas fuiin, dan lilin." Ucap Naruto ber-monolog diruangan tersebut.
Merasa tidak ada tanggapan, Naruto menoleh ke tiga Shinobi yang masih Shock melihat Raikage mereka dimarahi oleh Naruto, "Tunggu apalagi?" Tanya Naruto menyadarkan mereka bertiga.
"Kau menyuruh siapa?" Sahut Darui.
"Haruskah aku menyuruh Raikage untuk mengambilnya?" Naruto tersenyum, namun ekspresinya bertolak belakang dengan munculnya urat kesal didahi putih miliknya.
"Maaf." Darui menunduk hormat, segera melakukan shunsin untuk mengambil semua barang yang Naruto perlukan.
Naruto menunjuk Samui, "Dan kau ambilkan tissu."
"Sekarang?"
"Apakah kau akan menungguku bertelanjang bulat?"
"Jangan bodoh!" Umpat Samui kesal.
.
"Ini semua yang kau minta." Darui menghampiri Naruto yang sedang melihat tubuh Shii.
"Taruh disitu." Perintah Naruto tanpa menoleh.
"Oy baka mau kau apakan tissu ini...-hei! Kenapa kau telanjang?" Samui terpekik kecil, melihat tubuh topless Naruto.
Naruto melihat Samui sebentar lalu mengalihkan perhatiannya kembali ketubuh Shii, "Kemarilah, kau bersihkan keringatku."
"Cih, aku tidak sudi melakukan itu pada orang sepertimu." Balas Samui yang masih kesal dengan tingkah Naruto.
"Jangan membantah Samui, lakukan apa yang ia minta." Perintah Mabui dan ajaibnya langsung dilaksanakan oleh Samui tanpa protes sama sekali.
Setelah beberapa saat berpikir Naruto menemukan apa yang harus dilakukannya untuk menghilangkan laba-laba yang masih setia berada di dada Shii, "Aku akan memulainya, tolong kalian semua diam jangan ada yang bersuara, aku butuh konsentrasi penuh disini." Pinta Naruto dan ditanggapi anggukan oleh semua orang disitu kecuali-
"Untuk obat luar."
"Raikage-sama!" Seru Mabui serta Samui bersamaan memperingatkan Raikage.
"Apa?" Tanya lesu Raikage menatap lemah dua Kunoichi miliknya.
Mabui serta Samui menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk mereka masing-masing, "Ssssttt..!"
"Mbak yu tolong bersihkan keringatku." Ujar Naruto mengingatkan kembali perkatannya yang sempat terganggu oleh Raikage.
Merasa dirinya yang bertanggung jawab, Samui menoleh ke arah Naruto, "Siapa yang kau panggil Mbak yu, sialan!" Desis Samui jengkel dan segera mendekat kearah Naruto.
*glek
Samui meneguk ludahnya cepat. Ok, Samui bukanlah gadis buta yang tidak bisa melihat wajah rupawan putra sulung Namikaze Minato ini, meski dia tidak memiliki otot besar seperti Raikage entah kenapa tubuh penuh luka milik Naruto ini nampak lebih memanjakan matanya daripada melihat tubuh coklat legam milik Raikage, beberapa luka yang Samui sendiri yakin jika dia menanyakan hal itu mungkin terdengar tidak sopan namun luka tersebut seperti menambah nilai plus untuk tubuh proporsionalnya dan tambahkan wajah tampan yang Naruto miliki, wanita manapun pasti akan rela bermanja-manja dipelukannya.
Tak kuasa melihat tubuh Naruto terus menerus, Samui mencoba mengalihkan perhatiannya kebelakang melirik wanita selain dirinya disini dan yang didapatinya adalah wajah merah Mabui yang kini sedang menyemangati dirinya dari belakang, membuat Samui menggelengkan kepalanya cepat tak ingin pikirannya teracuni oleh tubuh Naruto.
"Kau bisa fuinjutsu?" Tanya Samui yang tengah melihat Naruto menulis beberapa segel rumit diatas kertas fuin yang ia minta tadi.
"Jika kau kenal siapa yang melahirkanku, haruskah aku jawab pertanyaanmu?" Jawab cepat Naruto tanpa mengalihkan fokusnya menulis segel.
"Bisakah kau berhenti sinis kepadaku?"
"Tidak." Jawab Naruto acuh.
"Katakan dimana letak kesalahanku!" Tuntut Samui tidak terima.
Naruto menunjukkan telapak tangannya ke hadapan Samui, "Bagaimana jika aku berkata, dadamu terlalu besar untuk ukuran tanganku? Apa kau bisa diam."
Samui terpekik, "K-Kau?!"
"Diamlah aku butuh konsentrasi disini, jika ini gagal akan ada seseorang yang meledak." Ujar Naruto kesal karena sedari tadi wanita disampingnya terlalu cerewet.
Samui langsung terdiam, ia sendiri tidak mengerti kenapa setiap berada didekat pemuda ini sifat aslinya menjadi sulit dikendalikan
Cklek.
Suara daun pintu menampilkan pria coklat berotot lainnya, "Yo... kenapa kalian semua disini yo~ Bakayaroo Kono-"
Duaaarr
"Yaro."
Dengan tidak sensitifnya sang pendatang langsung merusak kondisi yang hampir stabil disitu, kini ia hanya mampu menatap bodoh ledakan yang ia sendiri tidak tahu berasal darimana.
"Shii?!" Teriak seluruh orang terkejut, mengkhawatirkan satu-satunya orang yang berpotensi menjadi asal ledakan.
"Ohok." Suara seseorang terbatuk.
"D-Dia ?!" Kaget Mabui yang mengetahui kondisi Naruto yang memeluk Samui.
"Ja..ngan ada yang men..dekat!" Sembari menahan rasa sakit Naruto tetap memaksakan dirinya berbicara, takut jika ledakkan tersebut juga mengandung racun.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!" Samui mengerang protes saat mengetahui jika Naruto kini sedang memeluk untuk melindunginya.
"Samui tunggu!" Seru Darui menghentikan tindakan Samui yang akan memukul Naruto."Lihatlah, Shii baik-baik saja."
"Bagaimana mungkin?!" Samui mendelik tidak percaya, sebab ia sendiri melihat jika ledakan tersebut berada tepat didepan matanya, "Apakah?" Samui mengalihkan perhatiannya menuju Naruto dan apa yang dilihatnya benar-benar tidak pernah terlintas sedikitpun di otaknya.
"Biar aku selesaikan... kalian semua keluarlah!" Perintah Naruto kembali memaksakan dirinya untuk berdiri.
"T-Tapi kau berdarah, j-jangan bergerak dulu." Ucap khawatir Samui melihat Naruto yang terus menerus batuk darah.
"Sudahlah! Kita tidak ada waktu lagi, biar aku keluarkan racun pada tubuh temanmu dulu." Naruto berjalan mendekati Samui lalu menggores dada Shii.
"T-Tapi.."
"Aku tidak apa-apa." Balas Naruto tersenyum kecil, berusaha menenangkan Samui serta seluruh orang yang kini tengah menatapnya bingung serta khawatir, tidak mengerti sebenarnya apa yang baru saja terjadi.
'Suiton : Mini Suishoha'
Gumam Naruto menciptakan air dari ketiadaan dan mengalirkan air tersebut menuju dada Shii yang telah ia gores sebelumnnya, setelah dirasa selesai, Naruto mengambil lilin didekatnya dan meneteskan cairan lilin tersebut tepat diatas goresan dada Shii, "Dengan begini selesai." Ucap Naruto sambil menghembuskan nafas beratnya.
Brukkh
"Naruto!" Seru Samui terkejut mengetahui pria kuning itu ambruk di depan matanya.
"Darui, Bee... cepat bawa dia kerumah sakit!" Perintah Raikage cepat.
Kumogakure's Hospital
"Bagaimana keadaannya?" tanya Raikage menatap Dokter yang menangani Naruto.
"Organ dalam tubuhnya benar-benar terluka parah Raikage-sama, ini semua karena fuinjutsu yang ia gunakan."Jelas Dokter tersebut setelah mengetahui jenis luka yang didapat oleh Naruto.
Raikage mengkerutkan dahinya tak mengerti, "Apa maksudmu?"
"Fuinjutsu yang ia gunakan adalah tipe [Pengalihan] sebuah fuinjutsu medis kuno yang digunakan oleh para Uzumaki guna memindahkan penyebab rasa sakit dari orang lain menuju dirinya sendiri." Dokter tersebut membaca laporan yang berhasil ia kumpulkan sejak memeriksa tubuh Naruto dan saat mengetahui jika ia putra dari Uzumaki Khusina dia langsung yakin jika fuinjutsu itulah yang menjadi penyebab Naruto berbaring disini.
Nafas Raikage tercekat, matanya menatap tak percaya dengan segala tindakan yang telah dilakukan oleh Naruto, "Mungkinkah dia?" Ujar Raikage ragu.
Mengangguk pelan, Dokter tersebut menyetujui jalan pikir Raikage, "Seperti dugaan anda Raikage-sama, Naruto-sama memindahkan Kinjutsu yang ada dalam tubuh Shii kepada dirinya sendiri."
"Kenapa dia melakukan itu?" Tanya lemah Raikage.
"Untuk alasannya hamba benar-benar tidak tahu." Dokter tersebut menunduk hormat.
Fuinjutsu teknik yang dikembangkan oleh Rikudo Sannin untuk menyegel sesuatu di dalam makhluk hidup. Pengembangan fuinjutsu diteruskan oleh klan Uzumaki, percabangan dari klan Senju yang merupakan keturunan Rikudo Sannin. Salah satu hasil usaha mereka adalah penyegelan Bijuu ke dalam tubuh seseorang (jinchuriki). Penerapan jutsu ini biasanya melibatkan senjata penyegelan atau benda lainnya dalam suatu gulungan besar untuk membawanya dalam jumlah besar dengan lebih efisien, setidaknya itulah yang dapat Raikage simpulkan.
Tapi ada satu hal yang membuat Raikage tidak mengerti, fuinjutsu biasanya memiliki resiko sepadan dengan hasilnya.
"Katakan apa efek samping dari penggunaan fuinjutsu tersebut?" Tanya Raikage kembali sadar, namun pertanyaannya hanya ditanggapi oleh tundukkan kepala oleh sang Dokter, "Kenapa kau diam?" Tanya kembali Raikage saat mengetahui lawan bicaranya tutup mulut.
Mau tak mau, sang dokter mengatakan hal yang sedari tadi ia sembunyikan, "Penggunanya akan merasakan 150 kali lipat rasa sakit dari hasil [Pengalihan] itu."
Cukup. Samui tak dapat mendengar lebih lanjut, sejak pertama kali bertemu Naruto ia merasa ada yang tidak biasa dengan pemuda tersebut, bukan karena wajah atau hal lainnya namun yang dapat Samui rasakan dengan pasti adalah rasa nyaman yang tak pernah ia dapat selama ia hidup disini.
Semenjak ia menginjak remaja, tubuhnya mulai terbentuk dengan sempurna hal itu menyebabkan semua laki-laki di Desa Kumogakure menatapnya penuh nafsu, saat itu ia mulai beranggapan jika laki-laki adalah makhluk paling menjijikkan hingga membuatnya tumbuh dengan keyakinan membenci setiap laki-laki yang ditemuinya, namun saat bertemu Naruto tatapan pemuda itu kepadanya seakan berkata 'pergilah!' atau 'jangan dekati aku, jalang!'
Marah... tentu saja, tapi entah kenapa Samui merasa lebih tenang berada didekat pria pirang yang selalu membuatnya kesal ini.
Memegang tangan Naruto yang lebih besar dari tangannya itu, Samui segera mengusapkan telapak tangan itu menuju pipinya sendiri mencoba merasakan kehangatan yang mungkin tidak akan bisa ia dapatkan lagi dari laki-laki manapun, "Kenapa kau melakukan ini semua, Baka!" Ujar Samui penuh emosi.
Seluruh orang disitu menatap tak percaya akan tindakan yang dilakukan oleh Samui, selama ini wanita itu terkenal dingin dan hampir tidak memiliki emosi yang berarti.
"Apakah masih ada harapan untuk menyembuhkannya?" Raikage mulai membuka suara menghiraukan apa yang Samui lakukan.
Dokter tersebut menggelengkan kepalanya, "Saat ini kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Naruto-sama."
Hening.
Perasaan putus asa yang berasal dari ruangan itu begitu kental, saat semuanya berharap kembali akan kesembuhan pemuda pirang itu kenyataan tentang fakta Kinjutsu kembali menampar harapan mereka.
'Bagaimana mungkin ada orang yang bisa selamat setelah menerima 150 kali efek Kinjutsu?' Batin kalut semua orang disitu.
"Nggh..."
Semua orang tersentak dari lamunannya ketika mereka mendengar suara Naruto yang perlahan-lahan terbebas dari ketidaksadarannya.
"Ah..! Samui-chan jangan dibuka.. Ah..! jangan cairan itu tidak untuk ditelan!" Kata-kata itu meluncur dengan cepat dengan menampakkan reaksi Naruto yang masih terpejam seperti orang ketakutan saat melihat hewan buas, "Jangaaaan!" Teriak lanjut Naruto membuatnya terduduk, mengerjapkan matanya yang tidak terfokus berkali-kali sebagaimana orang yang baru habis pingsan dan berniat membeningkan pandangan,"-eh." Ucap bego Naruto melihat semua orang menatapnya dengan pandangan aneh.
Melihat Raikage yang masih membeku sambil melongo, membuat Naruto ingin menyadarkannya, "Y-yo... Pak tua kenapa kau diam dan... Samui." Saat Naruto mengetahui wanita disebelahnya, "H-Halo." Sapa Naruto dengan melambaikan tangannya didepan wajah Samui.
Seett
Menarik tanganya cepat, Samui segera mengarahkan kekuatan yang telah ia kumpulkan di telapak tangannya tersebut menuju pipi Naruto.
Plaaaakk
"Ittttteeeiii"
.
"Bisa kau jelaskan ini semua?" Tanya Raikage setelah merasa kondisi mulai normal kembali.
"Bagian mana lagi yang kau maksud kurang jelas, Pak tua?" Tanya Naruto memakai bajunya dibantu oleh Samui, yang awalnya Naruto tolak tapi Samui tetap bersikukuh ingin membantunya.
Raikage menggeram, sejak awal bertemu dengan Naruto, Shinobi yang dikenal lemah ini seperti menyembunyikan sesuatu yang besar darinya, "Semuanya. Kenapa tidak kau katakan kepada kami jika Shii dalam keadaan pengaruh Kinjutsu?"
"Jika aku mengatakan dia terkena Kinjutsu apakah itu akan membuat dia membiarkan seseorang menyembuhkan jutsu tersebut?" Lanjut Naruto membuat semua orang tersadar jika semua yang ia lakukan semata-mata hanya untuk kebaikan Shii.
Raikage tak akan tertipu lagi oleh perkataan Naruto yang menurutnya pribadi semua itu pasti tipu daya Naruto untuk memperoleh sesuatu dari dirinya, "Jika kau mengatakan sejak awal itu Kinjutsu, lalu apa kegunaan obat dari Tsunade yang kau bawa?" Tanya Hokage memancing Naruto agar pemuda itu mau menunjukkan maksud dari semua tindakan yang telah ia lakukan.
"Obat dari Hime memang tidak mungkin untuk menyembuhkannya secara langsung melainkan itu bisa membuat Kinjutsu menjadi tidak aktif, agar dia bisa dioperasi dengan mudah." Jelas Naruto.
Raikage mengepalkan tangannya kesal, "Harusnya jika memang ini semua salahku, kau membiarkanku untuk menyembuhkannya bukan malah menanggung semua rasa sakit yang harusnya tidak kau rasakan." Ungkap Raikage disertai wajahnya yang penuh emosi.
"Tidak, itu adalah keputusanku pribadi dan kupikir Shii juga akan setuju." Jawab enteng Naruto memejamkan matanya.
Melihat Naruto yang bertindak seakan itu bukan masalah baginya, kembali menaikkan emosi Raikage, "Berhenti mengatakan seolah kau yang memutuskan segalanya, aku Raikage disini semua masalah yang terjadi di Kumogakure adalah tanggung jawabku, jika memang aku mati untuk melindungi salah satu Shinobi Kumogakure itu sudah merupakan kewajiban bagi seorang Raikage." Berhenti sebentar, Raikage langsung menunjuk Naruto, "Dan kau yang bukan Shinobi Kumogakure tidak pantas untuk melakuan hal yang sudah menjadi kewajibanku." Ungkap jujur Raikage.
Naruto tersenyum puas, "Syukurlah, kau sudah banyak berubah sejak pertama kali kita bertemu."
"Apa maksudmu?" Tanya Raikage tidak mengerti perkataan Naruto.
Naruto memegang tangan Samui yang tengah memasang kancing baju Naruto, menatapnya dengan tersenyum Naruto melepaskan tangan putih milik Samui menjauh darinya, kemudian ia berdiri dari duduknya lalu membungkuk hormat dihadapan Raikage, "Saat ini, bagiku anda sudah layak menjadi Raikage." Nada tulus penuh hormat itu ia sampaikan.
Raikage membulatkan matanya tak percaya karena merasa tertipu oleh Naruto,"K-Kau ?!" Ucap terkejut Raikage saat tersadar jika semua tingkah Naruto hanyalah untuk menyadarkanya kembali akan sikapnya yang selalu terburu-buru dalam mengambil keputusan serta mengingatkannya untuk selalu menghargai setiap orang.
"Memang benar kata-kata biasa digunakan untuk menipu orang lain, tapi ada saatnya kata-kata adalah hal yang berasal dari lubuk hati paling dalam, bukankah begitu Raikage-sama?" Ucap Naruto disertai senyum tulusnya membuat semua orang memandangnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
'Dasar orang aneh.' Batin Darui sambil tersenyum penuh arti, sebab ia sendiri juga tertipu dengan tindakan Naruto yang menurutnya bukan [Tipuan yang ditunjukkan untuk memperoleh keuntungannya sendiri] melainkan [Tipuan untuk keuntungan orang lain] Sepertinya Darui telah salah menilai pemuda pirang di depannya ini.
"Sudahlah aku pergi dulu." Pamit Naruto beranjak pergi sebelum tangan putih bergerak cepat menahan bagian belakang bajunya, memaksa tubuhnya untuk berhenti.
"Tunggu!" Seru Samui sang pemilik tangan tersebut.
"Ada apa?"
"Beritahu aku, apa yang terjadi saat kau pingsan tadi!" Perintah Samui meminta penjelasan.
Naruto menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, "Sebenarnya aku tidak ingin menjelaskan semua ini. Apa kau yakin?" Tanya kembali Naruto meyakinkan Samui.
"Cepat katakan saja, Baka Naruto!" Pinta Samui mendelik tajam.
Naruto mendekat kearah Samui, "Aku tadi bermimpi kau..." Suara Naruto semakin lirih tapi masih dapat didengar jelas oleh Samui, "Mendekatiku.." Naruto mengarahkan mulutnya menuju telinga kiri Samui, "Lalu membuka-"
Semua bayangan aneh disertai cara Naruto menjelaskannya membuat wajah Samui langsung Blushing seketika saat menebak kemana arah penjelasan Naruto, "Cukup! berhenti disitu, jangan diteruskan!" Wajah Samui benar-benar seperti tomat rebus sekarang.
"Hah? Aku belum selesai." Ucap Naruto memandang heran Samui.
"Aku bilang cukup, dasar kuning mesum!" Tak ingin wajah merahnya dilihat oleh Naruto, Samui segera melakukan hal yang menurutnya bisa membuat Naruto menghentikan penjelasannya.
Plaak
"Ittai, kenapa kau memukulku lagi, sih?" Protes Naruto tidak terima.
Menatap tajam Naruto yang kembali menanyakan pertanyaan bodoh itu, Samui merasa kesal, "Itu karena kau bemimpi aku melakukan hal mesum kepadamu... –ah!" Tersadar akan sesuatu, Samui menghentikan ucapannya.
"Hah?"
"Pokoknya aku gak mau tahu kau harus bertanggung jawab!" Ucap Samui tiba-tiba.
"Mesum? Bertanggung jawab? Apa yang kau bicarakan?" Naruto benar-benar tidak mengerti.
"K-Kau sudah bermimpi aku melakukan se-suatu yang harusnya dilakukan saat orang sudah menikah, kan? Untuk itu aku ingin kau menikahiku sekarang! Aku gak mau tau." Ucap Samui bersikeras agar Naruto menikahinya.
Samui merasa jika menikah dengan Naruto mungkin tidak buruk juga, lagipula kita sama-sama mempunyai rambut Pirang. "Hm. Hm." Samui mengangguk setuju dengan pemikirannya sendiri.
"Jangan bodoh, aku tadi bermimpi kau mau meminum obat yang aku bawa dari Tsunade-hime."Ungkap kesal Naruto.
Pertama Samui memintanya untuk menjelaskan tentang apa yang ia lihat saat pingsan dan selanjutnya Samui memintanya untuk bertanggung jawab dan saat mengetahui maksud 'tanggung jawab' oleh Samui adalah menikah, tentu saja ia merasa kesal.
Tubuh Samui membeku, "A-Ah.. Aku ti-"
"Berhenti membantah, aku punya saran untukmu. Lebih baik bagian yang diperbesar dalam tubuhmu itu seharusnya otak, bukan kedua benda itu. Jaa ne" Ucap Naruto segera beranjak pergi.
Saat melewati Killer Bee, mata keduanya beradu pandang berlanjut dengan hilangnya Naruto yang seperti hantu.
Semua orang yang melihat bagaimana rupa Shunshin Naruto meneguk ludah masing-masing, sosok tubuh Naruto yang semula padat perlahan-lahan berubah menjadi tembus pandang sebelum benar-benar lenyap dari pengelihatan semua orang disitu.
"Hati-hati dengannya Bee!" Ucap suara dalam tubuh Killer Bee.
"Ada apa Hac-chan?" Tanya Bee saat memasuki Mindscape miliknya.
"Chakra bagian luar dari pemuda itu benar-benar terasa terang dan hangat, tapi..." Hachibi berhenti sebentar mencari kata-kata yang tepat untuk men deskripsikan chakra Naruto.
"Tapi?"
"Bagian dalam dirinya sangat gelap, saat aku mencoba merasakan chakranya, sebagian dari tubuhku terasa terhisap akan kegelapannya." Jelas Hachibi mengatakan apa yang dirasakannya saat mata Bee beradu pandang dengan Naruto.
"Yo... itu tadi lirik yang sangat ker-"
Pletaakk!
"Jangan bercanda, Bee!" Hachibi merasa kesal dengan tingkah Bee yang menurutnya tidak menganggap serius peringatan yang telah ia ucapkan.
Bee mengusap kepalanya yang terkena sentilan Hachibi, "Hehee... maaf tapi aku tidak ingin kau mengkhawatirkan hal itu." Ucap Bee menenangkan partnernya tersebut.
Hachibi mendesah pelan, "Hah~ terserah, aku hanya mengingatkan."
"Aku rasa kau hanya trauma tentang gelapnya chakra Kyuubi." Usul Bee.
"Bukan Bee... percayalah, ini lebih gelap daripada chakra Kyuubi." Ucap Hachibi kembali memberitahu rekannya untuk waspada.
"Maksudmu?" Bee tidak mengerti dengan ucapan partnernya, bukankah dulu ia pernah berkata jika dari kesembilan jenisnya hanya chakra Kyuubi lah yang paling gelap diantara mereka semua.
"Chakra milik Kyuubi merupakan symbol dari kebencian, sedangkan milik pemuda tadi penuh akan kehampaan." Hachibi mengingat kembali sensasi Chakra mengerikan milik Naruto.
"Hampa, kah?" Tanya lirih Bee yang ditanggapi dengan diamnya sang partner.
XXX
Konoha (Boundary Area)
Perbatasan Konoha dengan desa kecil yang berada disekelilingnya, tempat ini dikatakan merupakan daerah Netral dimana semua orang yang tinggal disini kebanyakan adalah dari berbagai desa besar, untuk menegakkan toleransi, tempat ini mempunyai aturan untuk tidak membunuh siapapun yang berada disini baik itu warga biasa, bandit serta Missing-Nin.
Naruto sedang melompat dari pohon ke pohon untuk menghindari segala kemungkinan masalah bodoh yang mungkin akan muncul jika ia memilih jalur utama.
Saat ia menginjakkan kakinya diranting pohon berikutnya, perhatianya teralihkan oleh sesuatu yang membuatnya tersenyum ringan.
Naruto berjalan menuju pohon yang berada diujung bukit didepannya, "Bukankah menggunakan burung gagak untuk memanggil sahabatmu itu tindakan yang tidak boleh ditiru dirumah?" Tanya Naruto pada seseorang yang tengah bersandar pada batang pohon serta memejamkan matanya menikmati udara disini.
"Tambahkan kata, kecuali seorang profesional." Jawab singkat orang tersebut tanpa membuka mata, "Bagaimana kabarmu?" Lanjutnya menanyakan kondisi Naruto.
Naruto mendudukkan dirinya disamping orang tersebut tanpa rasa sungkan sama sekali, "Seperti yang kau lihat, aku tetap tampan."
Melirikkan matanya sebentar, lalu kembali menutupnya, "Hm, kau memang yang paling tampan diantara kita bertiga."
"Nah, kan-"
"Dan yang paling bodoh." Lanjut orang tersebut menambahkan.
"Aku tidak bodoh, hanya sedikit nakal."Ralat Naruto.
"Terserah." Jawab lawan bicaranya tidak peduli.
Keduanya sama-sama terdiam, sekilas mereka berdua seperti menikmati udara sejuk yang terasa memanjakan tubuh mereka.
"Kau masih berada dalam organisasi bodoh itu?" Ucap Naruto membuka suara.
"Setelah kematian Jiraiya, hanya aku yang dapat memberikan informasi kepada Hokage." Ungkap orang tersebut beralasan.
"Tidak peduli semua orang berkata apa, bagiku kau tetap Konoha no Eiyuu." Sahut Naruto tersenyum tulus mengingat sepak terjang salah satu sahabatnya ini.
Orang tersebut membuka matanya tertarik dengan cara Naruto menyebutnya, "Kau menjuluki seorang yang membantai klan nya sendiri dengan sebutan pahlawan, kau gila?" Tanyanya menatap Naruto menampakkan kedua Sharingan miliknya, yah dialah Uchiha Itachi.
Naruto menatap Sharingan sahabatnya tanpa takut, "Sebuah kejahatan diperlukan untuk melindungi mereka yang tidak pantas dikorbankan hanya karena sebuah nama keadilan." Naruto diam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya, "Meskipun perasaan bersalah tidak akan pernah hilang." Lanjut Naruto tersenyum masam.
Itachi tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu, "Entah kenapa aku selalu merasa melakukan hal benar saat kau berada disampingku."
"Karena itulah gunanya sahabat." Naruto menyimpulkan, "Kau sudah temukan Shisui?" Tanya lanjut Naruto.
Itachi mengangguk, "Hm, saat ini dia masih belum sadar, mungkin karena efek dari Kotoamatsukami yang dia lakukan."
Naruto berdiri dari tempat duduknya, "Jagalah dia sebentar, setelah tiba saatnya nanti kita akan bertemu lagi."
"Aku tunggu sampai saat itu tiba." Itachi kembali tersenyum mendengar sahabatnya akan mengambil keputusan tersebut.
"Demi menciptakan dunia dimana tidak akan ada orang yang terluka."
"Demi menciptakan dunia dimana tidak akan ada orang yang terluka."
Ucap keduanya bersamaan lalu menghilang menggunakan Shunsin masing-masing.
.
.
.
To Be Continued
SPECIAL THANKS
(My Inspiration)
Galerians
Aizen L sousuke
Karasumaru.666
Daemonn
Untuk Chapter depan berhubung saya akan ulang tahun, tenang saja saya tidak akan meminta hadiah dari kalian, saya hanya ingin membuat sesi tanya jawab yang akan up bersama dengan Chapter 5, Sengaja saya pisahkan agar tidak mengganggu jumlah word di Chapter 5 nanti.
Untuk syarat pertanyaan yang akan saya jawab sebagai berikut:
-Pertanyaan yang boleh diajukan adalah tentang Chapter yang telah di update (No Spoiler)
-Selain itu kalian bebas bertanya apa saja baik tentang Naruto maupun Author...-uhuk.
-BUKAN Code Name : GUEST.
Untuk pertanyaan yang PASTI TIDAK AKAN saya jawab adalah:
-Lanjut
-lnjt
-Kntl
Sekian dari saya, oh iya dari pembaca yang kebetulan Author juga, silahkan review, saya juga akan mempromosikan Fic anda... hanya itu yang bisa saya lakukan.
Terima kasih telah membaca, jangan lupa reviewnya...
At last I Love you guys.
Re-kun Out Bye bye.
