I CARE FOR YOU
Hunkai or Hunhan?
Drama Hurt/Comfort
T -to- M
WARNING : : Yaoi,Typo,Shounen ai,Boy X Boy, Boys Love fic.
DONT LIKE SO DONT READ IT, SIDERS GO AWAY/? , HATERS I DONT CARE squint emotikon")/
I dont Own the Cast of EXO or another..
Kris menutup pintu hotelnya, dia berbalik tapi tidak mendapati Jongin di sofa. Pria tinggi itu tidak terkejut lagi saat Jongin tiba-tiba menemuinya di malam hari, sudah semacam kebiasaan kecil dari pemuda tan yang amat disayang nya ini. Dia berjalan hendak mendekati kamarnya, saat mendengar gemericik air dari dalam. Mungkin Jongin sedang membersihkan diri di kamar mandinya.
Drrt Drrt
"Aa, Hyung."
'Apa Jongin disana?'
Kris mendapat deringan ponsel dari kakak tirinya, ayah Jongin. Pria itu mengurungkan niatnya memasuki kamar, memilih untuk bersandar pada dinding. Di seberang sana, pastilah kakaknya sangat khawatir pada Jongin. Ya tak heran, anak itu memang seenaknya. Tapi lumayan genius untuk strategi perencaan di beberapa hal.
Kris tersenyum samar mengingat sesuatu.
"Ya, dia disini. Baru saja, kenapa?" Kris melirik pintu kamarnya lagi lalu membuka kancing satu dan dua kemeja yang dipakainya, membuang ikatan simpul dasi yang melilit lehernya.
'Ah, tidak. Aku hanya khawatir. Bisa suruh anak itu pulang?'
Nada suara kakaknya membuat Kris ingin tertawa, jarang menemukan orang licik macam kakak tirinya bisa merasakan kekhawatiran, itu adalah hal luarbiasa mengingat bagaimana sifat dan tata krama bicara nya yang berantakan dulu.
Ah, itu hanya masa lalu. Tapi..
"Jangan repot, Kim Hankyung. Kembalilah menatap setumpuk berkas-berkasmu. Jongin baik-baik saja."
'Yah, awas jika kau melakukan sesuatu pada anakku, Yif—'
Kris mematikan sambungan itu sepihak, tepat saat pintu kamar terbuka dengan Jongin berbalut singlet hitam miliknya. Menggeram kecil, menyadari kelancangan keponakannya. Jongin berjalan kearahnya tanpa merasa bersalah, merebut ponsel di tangan kirinya.
"Apa ayah menelfon?"
"Ya."
Kris meraih handuk di bahu Jongin, mendorong pemuda itu duduk di lantai dan dirinya yang duduk di sofa. Dia menggosok handuk putih yang dipegangnya ke kepala Jongin, ingin mengeringkan rambut basah keponakannya.
Jongin terdiam memainkan ponsel pamannya, dia bergidik geli setiap Kris mengusap kedua telinganya. Dengan gusar dia memukul paha dibelakangnya, membuahkan kekehan dari orang yang lebih tinggi darinya.
"Kris? Paman Wu?"
Kris yang disebut namanya bergumam menyahuti Jongin. Pria itu sudah selesai mengeringkan rambut Jongin, kini beralih mengelus tengkuk dan area bahu keponakannya agar lebih rileks. Ah, Jongin menyukai pamannya dari segala sisi dan kenyamanannya. Tapi nyaman yang ditawarkan Sehun jauh lebih baik dari ini.
'Sehun..' mengingat nama itu, dia terdiam cukup lama, membuat pamannya merendahkan tubuhnya memeluk leher Jongin. Kris menumpu dagu runcingnya di atas bahu sempit itu lalu beralih memperhatikan ekspresi pemuda yang dipeluknya.
"Aku sudah menemukannya, orang yang kau cari. " bisiknya pelan, Jongin menoleh kesamping melihat pamannya antusias lalu mendatar menyadari dia sedang dipeluk. Tapi, tidak. Jongin tidak menolak dipeluk. Anggap saja, pelukan ini sama dengan pelukan Sehun.
Tapi.. Tetap saja, berbeda.
Kris tersenyum, mengusak rambut Jongin seakan tau apa yang tengah di pikirkan Jongin. Dia berdiri melepas dengan enggan pelukannya, kemudian mengambil laptop dan menaruh tepat di depan Jongin. Sedangkan namja manis itu merangsek maju mendekati layar laptop di meja. Kris sudah duduk disampingnya, di lantai.
"Maaf soal tadi pagi, Jongin." Kris mengucapkannya dengan nada penuh sesal tapi ekspresinya itu seolah tidak terlalu me-yakinkan. Jongin hanya mendengus, merasa lucu saat pamannya berucap seperti itu. Terdengar seperti lawakan era 80-an yang garing uar biasa.
"Aku menolak maaf busuk mu. Kau hampir memperkosa ku, mr."
"Berkacalah, keponakanku. Lihat tu—"
"Ash, paman!"
Kris terkekeh, mengusap poni pendeknya yang berantakan setelah Jongin berteriak memotong perkataannya. Dia lalu menggerakkan mouse, menunjuk sebuah artikel di layar laptop. Jongin berdecih memalingkan wajahnya menatap layar laptop.
"Baca saja artikel-artikel ini, ada sekitar 10 lebih yang membahas hal yang sama. Ada dibookmark dan jangan coba-coba membuka folder lain." dan Jongin hanya bergumam, dengan setengah malas dia membaca tiap baris kalimat panjang disana.
Kris beranjak menjauhi Jongin, merogoh ponsel nya. Diam-diam. Dia mengetik sebuah pesan singkat lalu mengirimnya kepada seseorang. Tiba-tiba Jongin memekik heboh tanpa sadar, Kris hanya mendengus tertawa lalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Jongin.
"Astaga, Kris Wu! Kau yang terbaik. Ini jauh lebih banyak dari yang kuminta. Tapi jangan terlalu senang, aku masih belum memaafkanmu heh."
"Ya, ya..terserah lah."
Ditempat lain tak jauh dari hotel, di dalam salah satu kamar apartemen tampak sedikit tenang. Sehun berkeliaran mengelilingi apartemennya, dengan Luhan di belakangnya. Dia mencari sesuatu, sebuah buku paket bahasa. Tapi sial, buku itu seperti sengaja bersembunyi sekarang.
Luhan tertawa pelan memperhatikan wajah Sehun yang hopeless. Dia pun menepuk bahu bidang Sehun dengan lembut, membuat pemuda pale itu tersentak.
"Jika tidak ada, aku akan meminjam Ravi besok." Sehun menggeleng, dia tidak mau kehilangan moment belajar bersama dengan Luhan. Pemuda itu tadi sekiranya datang kesini, mengejutkannya dengan beberapa buku di tangan nya. Meminta nya mengajari beberapa rumus dan mata pelajaran, setelah makan malam tadi. Oh rasanya sangat menyenangkan.
"Tidak, pasti ada di sini. T-tunggu sebentar saja, aku akan kembali."
Sehun berlari cepat menuju kamarnya, sedangkan Luhan memudarkan senyumnya. Dia berjalan mendekati sebuah lemari kaca kecil si sudut ruangan, isinya hanya benda-benda yang disebut mainan dan di bagian atas dan tingkat dua penuh dengan bingkai foto kecil. Ditebaknya itu adalah Jongin yang mengenakan baju biru laut dengan topi beruang.
Dia berdecih, itu seperti bukan Jongin. Luhan beralih memperhatikan tingkat keempat, terdapat beberapa piala dan sertifikat yang dibingkai. Jadi, apa namja berkacamata itu pintar menari? Seorang juara?
"Luhan?"
Sehun datang membawa tas juga buku paket yang dicarinya. Ternyata hanya terselip di tumpukan komiknya. Dia mendekati Luhan, ikut memperhatikan apa yang Luhan pandangi. Sehun tersenyum cerah, membuka lemari dan menunjuk semua piala disana.
"Itu punya Jo— ah maksudku Kai. Banyak sekali kan? Dia sudah pandai menari sedari dulu, guru kami selalu mengikutkannya banyak perlombaan tari."
Luhan diam-diam memutar bola matanya, tapi dia tersenyum lalu mengangguk. Menyahutinya dengan terpaksa.
"Ya, tubuhnya tidak berbohong. Dia berbakat."
"Kau harus melihatnya menari, tubuhnya sangat lentur dan menyatu dengan irama musik yang diputar."
Luhan menggeleng, dia tertawa kecil tapi tanpa sadar mengepalkan tangannya. Sehun menatap piala-piala itu dengan binar yang sama, tapi bedanya binar itu bukan untuk parasnya
"Aku tidak terlalu suka menonton orang yang meliukkan tubuhnya."
"Semua orang punya kesukaannya masing-masing, aku mengerti."
Luhan melirik Sehun, menyeringai mengetahui Sehun telah berkata hal yang ambigu. Namja di sampingnya ini terlalu naif jika terlalu banyak mengikuti logika bukan perasaan. Oh dia jadi merasa kasian dengan Jongin yang pasrah dengan keadaan. Luhan mengetahui jika Jongin tidak menahan perasaannya untuk menyukai Sehun. Tapi disayangkan, justru Sehun malah menyukai nya.
"Kalau begitu, kita mulai saja belajarnya."
Sehun mengangguk, menaruh buku di atas meja dan tas di sofa. Dia duduk di lantai berkapet bulu coklat, kesukaan Jongin. Luhan duduk di samping Sehun tanpa menghiraukan kegugupan namja pale itu.
"A-anu, Luhan.."
"Sehun, bisa jelaskan bab yang tadi siang? Aku belum mengerti secara detailnya, karena sibuk mengamati kelas tadi."
Luhan memotong ucapan Sehun dengan sengaja, dia bahkan lebih mendekatkan bahu mereka hingga bersentuhan. Sehun menjauhkan tubuhnya gelisah, terlalu gugup jika seperti ini. Dia meraih buku paket bahasa, menjelaskan dengan sedikit tergagap di beberapa kata. Luhan tertawa mendengarnya tapi mengangguk mengerti.
"Aku mengambil minuman dulu."
Sehun bercepat-cepat berdiri menggerakkan kakinya ke dapur membuat sebuah teh atau jus. Luhan hanya meliriknya sekilas tanpa lagi menyahut.
.
.
.
Sehun membenarkan letak kacamatanya, dia membuka laci atas mengambil sebuah pisau. Dia juga membuka kulkas, mencuri beberapa buah kiwi favorit Jongin dari sana. Sehun tau, Jongin tidak akan suka jika Kiwi nya di sentuh orang lain tapi Luhan tadi bercerita beberapa hal yang disukainya dan mungkin sebuah kebetulan semua itu sama dengan Jongin. Lupakan Jongin, sahabatnya mungkin sekarang sudah pulang dan tidur dirumahnya. Nanti kiwi-kiwi ini akan digantinya besok.
Dia hendak menuang cairan jus itu ke dalam gelas saat ponselnya bergetar. Sehun mengambil ponselnya, lalu mengernyit.
Untuk apa tuan kim menghubunginya?
"Ah, paman kim?"
'Sehun, apa Jongin disana?'
Sehun menyimpan pisau dan gelasnya, kini mulai memfokuskan diri untuk memastikan sesuatu. Tolong katakan, jika Jongin sudah pulang dan langsung tertidur di kamarnya. Jangan bilang..
'..dia tidak disana? Nak, bisa kau bantu aku?'
Sehun melirik bayangan Luhan yang jauh dibelakangnya ragu.
"Jongin sudah pulang tadi, paman. Bantu?"
Terdengar umpatan diseberang sana, sejenak Sehun menatap horror layar ponsel. Benar-benar diluar dugaan, tuan Kim ayah Jongin yang dilihatnya selalu tenang dan berwibawa ternyata.. Bisa mengucap kata yang err..
'Aku tadi menelpon pamannya. Dia ada bersamanya, tolong jemput putra ku itu. Hotelnya ada disekitar gedung apartemenmu.'
"Tap—"
Sehun mendesah lesu saat sambungan diputus dari pihak sebrang. Dia jadi tau dari siapa Jongin mendapat sifat seenaknya, buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Bukannya tidak mau, tapi yah.. Disini lebih tepatnya apartemennya ada Luhan. Namja paling manis yang membuatnya suka dalam pandangan pertama. Jadi, dia harus jemput Jongin.. Atau menemani Luhan?
"Ha-ah, aku juga harus meminta maaf pada anak itu."
Sehun berjalan dengan Luhan disampingnya, namja pale itu memutuskan untuk mengantar namja mungil ini untuk pulang kekamarnya. Dia tersenyum canggung meminta maaf, tapi dibalas kekehan ringan dari depannya.
"Maafkan aku Luhan, m-mungkin lain kali. Karena sungguh aku sedang terburu saat ini d-dan.."
Luhan hanya tertawa, mimik muka Sehun terlihat lucu dimatanya. Dia tidak bodoh soal bahasa tubuh seseorang. Dan melihat Sehun mengingatkannya pada sesuatu di masa lalu. Tapi itu sudah berlalu.. Ah sayang sekali karena dia cukup merindukan saat-saat dirinya ditatap dengan binar yang sama oleh seorang anak kecil. Tidak.. Lupakan. Apa yang kau pikirkan Luhan?
"Baiklah, aa-aku pergi dulu."
Luhan mengangguk lalu masuk ke kamarnya, dia disambut sebuah lukisan abstrak berukuran sedang di dinding pintu masuk. Dia tersenyum menemukan sebuah noda cat berbentuk tangan mungil di sudut lukisan. Dia benar-benar ingin kembali ke masa lalu.. Dimana semua kekonyolan ini belum terjadi.
Luhan berjalan mendekati bingkai foto yang tadinya dia pecahkan, mengambil lembar foto yang memperlihatkan sepasang senyum yang membuatnya gila di beberapa tahun lalu.
"..kau tau? Kau tumbuh semakin jauh dan melupakanku."
Dengan tetap menatap foto itu, Luhan menyeringai samar.
'Jangan cemas, karena aku akan mengingatkanmu..'
Kembali ke hotel tempat Jongin berada, Kris sedang berdiri di balkonnya. Menatap jalanan dibawahnya dengan tatapan terhibur, dia terkekeh menemukan sosok berkaca mata ada diantara orang-orang yang berlalu lalang. Itu Sehun, terlihat linglung mencari sesuatu. Dia tau, mungkin si Hankyung kakaknya terlalu berlebihan khawatir pada Jongin hingga menyuruh Sehun menjemputnya, hanya karena anaknya ada di hotel bersama nya. Tak heran mengingat, beberapa memori buruk tentang Jongin padanya atau sebaliknya. Mereka berdua sering berkelahi, tapi terkadang akur sekali. Hubungan aneh diantara paman dan keponakan yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh ayah Jongin.
Pria bermarga Wu itu mengeluarkan ponselnya, mengirim lagi sebuah pesan yang sama pada seseorang. Dia menatap kebawah, bertepatan dengan Sehun yang mendongakkan kepalanya terkejut. Kris melambaikan tangannya kebawah seolah mengejeknya, Sehun melihatnya dengan tatapan datar seperti biasa. Sehun sedari awal memang kurang menyukainya. Tsk, apa pedulinya?
Sehun menatap secara bergantian ponsel dan Kris yang ada diatas. Dia mendapat dua pesan dan itu dari guru BK nya. Tanpa berpikir panjang dia berlari ke dalam hotel denga langkah lebar. Kris melihatnya dari atas hanya tersenyum miring menyimpan kembali ponselnya.
'..Naif tetaplah naif. Dasar bocah..'
.
.
"Jongin?"
Kris memgernyit tidak mendengar sahutan dari Jongin. Dia tidak menemukannya di lantai tempat nya duduk tadi. Laptop masih menyala di meja, lalu kemana anak itu. Dia mengelilingi dapur tetap tidak menemukan apapun, jadi pilihan terakhir adalah kamar tidur.
"Jonginna?"
Dan benar saja, setelah memasuki kamar, dia menemukan gundukan selimut di ranjangnya. Kris menghela nafas lega, sedikit merasa berlebihan kali ini. Dia mendekati Jongin, memperhatikan wajah tidur keponakannya. Lalu menepuk-nepuk kepala namja tan itu.
'…kau berusaha terlalu keras hanya untuk orang sepertinya?'
Tok tok
BRAKK.
"Yah, Saem!"
Sehun dengan tidak sabar mengetuk pintu didepannya, dia benar-benar akan menjemput Jongin. Bagaimana kalau Jongin terluka lagi? Sehun tidak yakin, tapi luka-luka tadi pagi jelas perbuatan gurunya.
Pintu terbuka, menampilkan gurunya dengan wajah dingin. Sehun menatap jengah padanya, disambut sebuah dengusan pelan.
"Jongin mana?"
"Tidur."
Kris melirik kamar tidurnya datar, lalu menyeringai pada Sehun. Sehun mengabaikannya dan langsung berjalan ke arah lirikan mata Kris tadi. Sehun membuka pintu, menghampiri Jongin yang damai tidur seolah tidak terganggu. Tangan pale itu hendak mengguncang bahu Sahabatnya tapi segera di tampik kasar seseorang. Sehun menatap tidak suka pada Kris, Sedangkan pria itu sendiri menatapi Jongin.
"Tuan Kim—"
"Aku tau."
Kris beralih menatap datar Sehun, dilihatnya namja berkacamata itu dengan tatapan menilai. Tak ada yang istimewa, lalu kenapa keponakannya terlalu 'gila' hanya karena namja cupu ini. Dia berbalik berniat keluar dari kamar tapi sebelum itu dia mengelus surai Jongin lembut.
"Menginaplah, atau kau pergi. Karena Jongin tetap disini." ucap Kris mutlak lalu keluar.
'Sialan.'
Sehun mendengus setengah tidak rela, dia pada akhirnya setuju. Tidak mungkin juga membawa Jongin jika namja itu tertidur dengan nyenyak seperti ini. Dia merendahkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya pada Jongin. Menatap kedua mata yang terlelap tenang, Sehun tersenyum menggerakkan tangannya mengelus kedua kelopak mata Jongin.
"Maaf ya, Jongin?" gumam Sehun pelan.
Pagi datang, sinar mentari tanpa malu menelusup celah gorden di jendela. Jongin menggosok kedua matanya pelan, lalu menguap lebar. Dia mengerjap menyesuaikan fokus matanya, lalu terkejut mendapati pamannya tertidur di kursi kayu dengan posisi duduk. Jongin jadi merasa tidak enak, pasti tidur pamannya tidak nyenyak.
"Pagi, Jongin."
Jongin mengernyit, suara itu? Sehun? Heh? Tunggu, tidak mungkin Sahabatnya ada disini. Mungkin dia sedang berkhayal sekarang, jadi Jongin menghiraukannya dan berusah kembali tidur. Beruntung, hari ini adalah hari libur nasional dia tidak perlu repot bangun atau terlambat sekolah. Aahh surga..
"Hey? Jangan mengabaikanku Kim."
Mata Jongin kembali terbuka, dia melirik ke belakang. Berhasil menebak bahwa ini bukan ilusi, Sehun memang disini bahkan dia merasakan pelukan yang mengerat di perutnya. Jongin mengeluh dalam hati saat tau itu memang benar Sehun. Dia tak mau bertemu Sehun..
"Ck, Kai?"
"Hm?"
"Ayo pergi, sebelum dia bangun."
Jongin tidak menjawab, malah melepaskan pelukan Sehun dan beranjak mendekati pamannya. Kedua tangan Jongin mengguncang bahu Kris pelan, tapi pamannya ini memang dasarnya sulit dibangunkan jadi beginilah. Sehun melihatnya dengan datar, dia diacuhkan Jongin pertanda Sahabatnya masih marah.
"Ya, Paman Wu. Bangun kau—Khah! Kris!"
Sehun menatap tidak suka saat Kris menarik Jongin hingga Sahabatnya jatuh dipangku oleh guru satu itu. Dia tau jika Kris adalah paman Jongin, tapi itu tidak wajar jika skinship mereka berlebihan. bagaimana pun juga itu mencurigakan, pikir Sehun.
Jongin memberontak, tapi pinggangnya tertahan. Matanya tanpa sengaja bertemu dengan Sehun, hingga tanpa sadar menuduk. Dia kesal dan ingin membunuh pamannya. Tidak suka jika begini caranya, Ini masih pagi dan ya tuhan Sehun ada didepannya. Tak adakah yang tidak mengejutkannya hari ini? Sehun yang tiba-tiba disini, dan sekarang kemesuman paman tiri nya yang kambuh di pagi hari benar akan merusak mood nya.
"P-paman!"
Jongin kesusahan melepas pelukan Kris dipinggangnya, sekali lagi melirik Sehun. Jongin jadi merasa kesal sendiri, ditambah ini.
DUAK
"Kh, Jongin. Kau memukul pamanmu lagi.."
Kris memegangi pipinya, tapi dia terkekeh melepaskan tubuh Jongin.
Jongin berdiri, wajahnya sangat datar. Dia menyambar seragam dan tasnya, lalu menendang kecil telapak kaki Sehun.
"Bangun Sehun, kita pulang."
Sehun menurut, dia tau Jongin mempunyai mood swing aneh. Sekarang mungkin sedang mood buruk. Dia melirik Kris yang sedang memegangi pipinya yang hampir lebam. Dia tertawa didalam imaginer nya sendiri melihat kesakitan gurunya.
"Hm, kita pulang."
Jongin membuka pintu dan keluar tapi sebelum itu, dia mendengar suara serak Kris membuatnya berhenti sejenak lalu pergi dengan cepat. Dia tak menyukai beberapa sisi Kris dan salah satunya ini. Orang itu tidak pernah percaya jika dirinya bukan anak kecil lagi.
"Jongin?"
"..Coba lah untuk menjaga diri."
"Jongin?"
"Kai."
Sehun menghembuskan nafas nya kesal untuk kesekian kalinya, dia berjalan dibelakang Sahabatnya karena Jongin terlalu lebar melangkahkan kakinya. Dia menyentuh bahu Jongin, membalikkan tubuh itu paksa.
"Se—"
"Aku minta maaf." ujar Sehun sebelum Jongin, dia berucap dengan menatap kedua mata milik Jongin.
Jongin balik menatap Sehun datar tapi tak lama dia mengalihkan pandangannya, menghindari sorot tajam itu menatapnya sesal. Rasanya dia semakin merasa sulit menyembunyikan perasaannya, Sehun sudah menjadi candu. Semacam opium yang terlalu menjerat, Jongin juga sudah lama terjebak dalam perasaannya. Tapi semakin lama, semakin menyiksa..
"Hm."
"Jongin.."
Sehun tak pernah sefrustasi ini, dia cukup tau sekarang Jongin mempermainkannya. Dia menghela nafasnya, menunduk sejenak. Ditatapnya lagi Jongin, membuat beberapa aegyeo gagal lewat matanya. Jongin melihatnya, dan tertawa pelan.
"Wajahmu jelek sekali."
"Kau memaafkanku?"
Jongin mengangguk, meninju pelan bahu lebar didepannya. Sehun tidak keberatan dipukul seperti itu oleh Jongin.
"Itu hanya hal sepele, kenapa aku marah padamu. Bodoh."
"Gah! Jongin."
Jongin membalikkan tubuh Sehun, lalu menarik kerah belakang namja itu seraya melangkahkan kedua tungkainya. Sehun terlihat kewalahan berjalan mundur mengikuti Jongin.
Jongin tertawa saat beberapa orang menatapnya aneh, dia semakin mempercepat langkahnya tanpa sedikitpun peduli protes an Sehun yang setengah tercekik. Selama itu Sehun.. Apapun hal konyol akan dilakukannya. Dan hanya Sehun.
'.. Akan kubuat kau menyukai ku. Tidak pada Luhan tapi aku.'
Jongin melirik Sehun di belakangnya, dia tersenyum miring dengan manis.
TBC
Astagaaaa, aku suka kriskai disini jadi maafkan author yang khilap banyakin moment Kriskai. :'" sebelumnya ini benar Hunkai. Slight yg saya sbmbunyikan adalah kriskai.
Aku uda berusaha bnyakin tapi tetep ajaaaa.. Kagak bisa T^T duh maapin saya kapan-kapan saya janji buat chapter yg panjang.
Ada beberapa reader yg buat aku terharu, krn bisa nebak beberapa alur. Huwa
Chanyeol? Kyknya enggak, karena aku gk mau nambah beban baba Shi xun/? '-')v
Thanks for reading^^
