Warning: Don't like? Don't read!
Disclaimer: MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
-Help!-
.
.
Hinata masih duduk di dekat bak sampah sambil menangis. Menangisnya beda. Bukan seperti seseorang yang benar-benar menangis atau meraung-raung.
Ia hanya mengeluarkan air mata dan menunduk diantara kedua lututnya, dengan posisi sekarang ia sedang duduk di atas batu besar dekat sampah. Sedikit suara pun tidak terdengar dari mulutnya.
Untung hidungnya sekarang mampet karena reaksi dari menangis. Kalau tidak, bau sampah sudah bikin Hinata mual.
Tidak peduli sekarang sekolah sudah sepi. Dia akan tetap di sini sampai hatinya puas. Berusaha membuang jauh-jauh perasaan sedih yang berkecambuk itu, menghapusnya dengan tetesan air mata dan goresan sesegukkan pilu. Dia akan duduk sambil membuang sedikit demi sedikit ke dalam bak sampah di sampingnya itu!
Tiba-tiba dirasakannya sebuah tangan mendarat ke atas kepalanya. Tangan itu dengan lembut menyentuh rambut indigonya. Hinata belum berani mendongak melihat siapa itu. Ia tidak mau dan paling anti memperlihatkan wajah imutnya saat menangis.
Lalu dirasakannya pula seseorang itu seperti duduk di sampingnya—dengan tangan tadi yang masih belum terlepas.
Tangan yang lembut.
Seperti belaian ayahnya yang dulu menyentuh kepala mungil Hinata sebelum ia tidur. Seperti ketika Hinata dibelai oleh ibunya…
"Hinata, kenapa kau menangis? Gara-gara siapa?" tanya orang itu lembut.
Seketika sesegukkan Hinata lenyap. Dia tahu siapa dan suara siapa itu.
"A-aku tidak menangis, Gaara-kun." Hinata berusaha menormalkan suaranya yang sebenarnya terdengar parau sebelumnya.
"Lalu kenapa kau di sini?"
Hinata menggeleng dalam gelutan hatinya yang terdampar sekarang, "A-aku baik-baik saja."
Gaara tersenyum sendiri, ia sudah berniat akan berada di sini terus sampai gadis itu selesai menangis. Biarlah dia tidak bicara atau cerita, setidaknya ia dapat menjaga dan mengawasinya dari dekat walau Hinata tidak memintanya.
Alhasil, setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, Hinata akhirnya mengangkat kepalanya, gadis indigo itu lalu melempar senyum terima kasih kearah Gaara.
"Aku tidak apa-apa, Gaara-kun." Hanya itu yang bisa Hinata ucapkan kepada Gaara. Tidak ada apa-apa. Maksudnya banyak. Tidak apa-apa karena sedih mendapat masalah, tidak apa-apa karena menderita sudah biasa. Atau, tidak apa-apa karena keinginan hati? Ah, Gaara jadi bingung.
"Ayo kita pulang." Ajak Gaara akhirnya.
Hinata mau tak mau menerima ajakkan kebaikkan si merah ganteng ini. Dia masih ogah-ogahan diajak Gaara.
Namun ketika mereka melihat sosok Neji di depan gerbang sekolah, Hinata langsung menyuruh Gaara pulang sendiri.
Bisa-bisa Gaara akan diintrogasi Neji kalau dia dekat dengan Gaara. Kasihan kan Gaara-kun.
"Maaf ya, Gaara-kun."
"Tidak masalah." Jawab Gaara.
Hinata langsung berlari kecil menghampiri kakaknya, sedangkan Gaara hanya memandangnya dari kejauhan saja.
Sekali lagi pria merah itu tersenyum lembut kearahnya, semoga suatu hari nanti Hinata mau membalas senyumnya dari dasar lubuk hatinya.
.
.
"Sasuke!" panggil Sakura dari luar rumah Sasuke. Sakura memutuskan siang ini akan berkunjung kerumah Sasuke dan bertemu dengan anjingnya.
Bertemu dengan anjingnya, itu alasan saja. Atau mau bertemu Sasuke? Ah, sayangnya sekarang benih-benih cinta masih terkubur dalam tanah. Mungkin sedikit sinar matahari benih itu akan muncul.
Tidak lama kemudian mama Sasuke membukakan pintu rumah itu, "Wah Saku-chan, selamat sore." Sapa mama Sasuke. Kebetulan sekali ada Mikoto siang itu, jadi Sakura tidak perlu mengendap-endap masuk rumah orang lagi untuk melihat ada orang tidak di dalamnya. Biasanya kalau Sakura berkunjung ke rumah Sasuke dan di dalam tidak ada mamanya, pasti tidak ada yang membukakan pintu. Jelas saja, Sasuke kan malas membuka pintu kalau ternyata tamunya Sakura. Dipikirnya Sakura kan bisa membuka pintu itu sendiri, dia kan sudah biasa seperti itu.
"Sore, Bi. Sasuke ada?" balas Sakura sopan.
"Ada, silahkan masuk." Setelah Mikoto mempersilahkan, Sakura pun masuk ke dalam rumah.
"Sasuke!" Sakura masih memanggil-manggil nama Sasuke walau ia sudah masuk kerumahnya. Ini memang sudah kebiasaan Sakura juga kalau sudah masuk rumah si emo. Ia malah memanggil Sasuke tidak berhenti-hentinya sampai batang hidungnya terlihat.
Mikoto sudah terbiasa dengan sikap Sakura. Ia juga sudah menganggap itu hal biasa.
Sakura langsung menaikki tangga yang menghubungkan ke lantai dua tepat ke Kamar Sasuke.
Setelah si pink sampai ke depan pintu kamar Sasuke, dia langsung mengetuknya pelan.
Masih belum ada jawaban dari dalam. Sakura mengernyit heran. Lantas ia membuka sendiri pintu itu.
Setelah sebagian badannya masuk ke dalam, mata emeraldnya menyapu ke seluruh ruangan. Sepi.
Kemana Sasuke sekarang?
Namun sebelum badannya benar-benar masuk ke dalam tiba-tiba ia mendengar suara Sasuke.
"Hei!" sapaan Sasuke ini lebih cendrung marah. Sakura merasakan asal suara itu dari belakangnya.
Sakura mengurungkan niatnya yang akan masuk kamar tadi, ia menarik badannya keluar dan melihat Sasuke yang sedang berada di depannya ini.
Sakura nyengir bentar, lalu pandangannya menatap anjing Sasuke yang berada di samping kakinya.
"Hai." Sapa Sakura pada anjing itu.
Sasuke hanya menghela napas panjang, "Sebaiknya kau jangan ganggu Pakkun." Maksud Sasuke tertuju pada anjing kesayangannya itu yang namanya Pakkun. Anjing penurut yang penampilannya aneh. Namun Sakura suka.
"Memangnya kenapa?"
Sasuke diam sebentar, dia masih terpikir apa yang telah terjadi hari ini, benar-benar membuat hatinya risih. Suer, Sasuke benci sekali dengan sikap Sakura sekarang ini.
"Kami akan tidur." Akhirnya Sasuke menjawab.
Whoa… Sakura merasa tersinggung dengan perkataan Sasuke, dia merasa si emo mengusirnya walau tanpa perkataan langsung. Kalau ada kata Pakkun saja oke-lah. Ini Sasuke malah bilang 'KAMI', berarti dia juga termasuk kan?
Sebenarnya memang iya sih, saat ini Sasuke sedang tidak ingin bertemu Sakura. Dia capek. Dia lagi ingin sendiri. dia ingin merenung dulu dan menyadari apa yang sudah terjadi dan mencari jalan keluar dari semua pemikirannya yang konyol itu.
"Baiklah." Ujar Sakura akhirnya dengan nada tidak enak. Jadi begini ya rasanya dikasari oleh Sasuke. Bagaimana dengan perasaan fansnya yang setiap hari dikasari pria ini?
Memang Sakura jarang dikasari, namun kali ini dia harus merasakannya juga.
"Aku pulang ya." Setelah itu Sakura undur diri dari sana. Sebelumnya ia sempat dadah-dadah sama Pakkun. Dan kemudian gadis itu jalan sendiri keluar rumah Sasuke.
Sedangkan Sasuke, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia bingung apa yang akan ia lakukan sekarang. Mungkin gadis itu sudah tersinggung dengan sikapnya.
Sasuke langsung melemparkan badannya ke atas kasur, mata onyx-nya menerawang menatap langit-langit putih kamarnya.
Sesaat pikiran kosong merajainya, gelutan hati dalam lingkaran kebingungan terjadi, namun ia teringat akan sesuatu. Besok kan ada kunjungan ke kuil. Mungkin ini akan dimanfaatkannya untuk mengungkapkan perasaannya.
Mungkin.
.
.
.
Hari ini seluruh anak kelas tiga akan berkunjung ke kuil di sebelah utara Konoha setelah jam istirahat pertama. Tempatnya tidak terlalu jauh hanya memakan beberapa menit saja. Ini adalah yang kesekian kalinya mereka semua pergi kesana.
Katanya kunjungan itu untuk materi tugas Bahasa Indonesia, makanya waktu kunjungannya diambil pas jam pelajaran Bahasa selama empat jam. Mereka akan membuat sebuah resensi mengenai tempat tersebut. Ini juga merupakan tugas individu yang isinya tidak boleh sama alias tidak boleh mencontoh, jiplak, copy-paste, etc!
Bus sekolah sudah siap di depan kantor. Sebagian anak yang sudah selesai istirahat sudah masuk ke dalam bus masing-masing kelas.
Sebenarnya Sakura akan segera masuk ke sana. Namun karena ada hambatan pipis sebentar dia jadi mengulur waktu. Sedangkan teman Sakura sudah duluan masuk dan kelasnya sudah sepi sekarang.
Anko-sensei sebagai wali kelas Sakura tahun ini adalah orang yang paling disiplin. Dia paling benci ada murid didiknya yang telat walau lima detik. Sebenarnya dia juga seorang ibu yang baik dalam keluarganya. Yah, terkadang sifatnya sulit ditebak.
Sebagai ketua kelas, Gaara juga bertanggung jawab membantu Anko untuk memarahi temannya yang telat. Hitung-hitung latihan buat merduin suara, bagi Gaara yang jarang ngomong ini.
"Gaara, sebentar lagi bus akan berangkat, jadi kalau bel masuk sudah bunyi, jangan biarkan siapa saja yang masuk dalam bus." Anko-sensei berkata dengan nada mantap. Memang semua perkataannya mantap sekali. Dari sorot matanya selalu penuh ketegasan. Gaara sebenarnya paling malas menatap mata gurunya yang satu ini.
Gaara hanya menggangguk sekali, "Tenang aja, sensei." Jawab Gaara tidak kalah mantapnya namun nada suaranya terdengar nyantai.
Anko senyum sekilas, "Beri kelonggaran sepuluh detik aja, ok?" Setelah itu Anko pergi dari sana. Dia langsung duduk di kursinya dipaling depan dekat supir. Tidak lupa juga dia mengangkat Tonton ke pangkuannya yang sedari tadi ngikuti jejak langkahnya, babi pink ini memang tidak pernah pisah darinya.
Gaara hanya merasa aneh saja. Kenapa babi dibawa-bawa terus seperti itu, saat mengajar, ulangan, semesteran dan sisanya Gaara tidak tahu lagi kemana saja Tonton dibawanya. Dimana ada Anko pasti ada Tonton. Itulah pribahasa yang tepat buat mereka.
.
Sakura langsung berlari dari WC, ketika ia sudah selesai pipis. Bersamaan pula dengan bel masuk istirahat saat itu, dan itu artinya…
Busnya akan segera berangkat!
Sakura berlari melewati koridor sekolah yang saat itu masih dilalui anak-anak.
10
Gaara mulai menghitung mundur sendiri.
9
"Oh, gawat aku belum ambil buku catatan." Sakura masih berlari, ia sudah dapat melihat Gaara yang lagi berdiri di tengah pintu bus-nya. Ini pasti detik-detik terakhir saat masuk bus, karena pandangan mata Gaara seperti itu.
8
"Ayo kaki, cepat sedikit!"
7
"Ah, mampus!"
6
Sakura masih melihat temannya yang lain masuk ke dalam bus khusus kelasnya itu.
5
"Gaara ngelirik kearahku lagi! Kakiku jadi lemah nih."
4
"Oh, Hell no!"
3
Sakura masih berusaha berlari dengan melangkah jauh-jauh. "Ayo Sakura beberapa meter lagi!"
2
Hanya tinggal dua meter saja dari pintu bus, kaki Sakura tekilir dan terjatuh. "Siaaal!" umpatnya sendiri bersamaan dengan lututnya yang mencium tanah.
1
Gaara langsung menutup pintu itu dengan ekspresi datar. Dia malah tidak sedikitpun tertawa melihat adegan yang berada di hadapannya ini. Mungkin urat ketawa Gaara memang sudah putus kali sewaktu dia lahir.
Si pink langsung bangkit dan menggedor pintu bus dengan 'agak' pelan, "Anko-sensei tolong bukakan! Aku mau ikut! Gomen, aku telat." Bukannya Sakura lagi jadi Hinata. Jadi kalau lelet itu kebanggaannya. Bedanya telat Hinata bukan dari segi waktu sih.
Kepala Gaara tiba-tiba nongol dari kaca jendela bus. Dia ngelirik Sakura sambil menyeringai, "Kau telat Sakura, dan itu sudah jadi hukumanmu." ujar Gaara setelah dia membuka sedikit jendela busnya.
Sakura sedikit menjauh dari pintu bus untuk melirik Gaara, "Oh, ayolah. Aku kan hanya telat beberapa detik." Sakura memelas ala Hinata yang bagi Gaara itu sangat tidak lazim.
"Sepertinya kau harus belajar sendiri di kelas."
"Heh?" Sakura sebenarnya ingin nangis karena dia lagi membayangkan tinggal di kelas sendirian. Padahal baru kali ini Sakura telat soal ini. Kalau soal telat datang ke sekolah, jangan ditanya.
"Yah sudah. Jaa." Kemudian si merah menutup kembali kaca jendela bus. Dengan diiringi muka cengo Sakura.
"Ah, sial!" umpat Sakura.
Tak lama kemudian suara mesin bus itu sudah dihidupkan bersamaan dengan ekspresi kesal Sakura.
Namun, tiba-tiba pintu bus terbuka dan di dalam muncul sesosok manusia yang suka disebut Sakura dengan panggilan Ratu Pocong.
Sakura langsung merubah ekspresi cemberut ke tahapan nyengir ala kuda kepada sensei termanis di sekolahnya ini.
"Masuk!" perintah Anko mantap. Anko memang mantap sekali jadi orang. Makanya kalu ada seratus Anko di sekolah ini bisa-bisa hancur deh sekolah.
Anko bukannya kasihan dengan Sakura, sebenarnya dia akan kembali ke kantor sebentar dan mengambil sesuatu yang tertinggal. Berhubung Sakura masih berdiri di dekat bus, mau tak mau dia jadi menyuruh si pink masuk.
Sakura langsung masuk ke dalam dan langsung mencari tempat duduk. Di mana lagi kalau tidak di sebelah Tenten tercinta. Dan setelah itu Anko langsung meninggalkan bus sebentar untuk kembali ke kantor dulu.
Kali ini keberuntungan lagi melirik ke Sakura.
.
.
.
Suasana di kuil memang beda dengan di sekolah.
Kuil tempat yang damai dan sejuk. Sedangkan sekolah banyak polusi dan panas. Untungnya hari ini kuilnya sepi. Jadi sekarang semua orang yang ada di sana hanya anak KHS kelas tiga saja. Biasanya di sini ramai kalau ada resepsi pernikahan dan acara lainnya. Di sini juga ramai kalau ada orang yang datang hanya untuk meminta dan memanjatkan doa.
Bus sekolah sudah rapi berjejer di lapangan parkir khusus dekat dari wilayah kuil. Isi bus sudah tumpah bercecer di lapangan.
"Jangan sampai tersasar ya. Jam sebelas tepat kalian kembali lagi ke sini. Kita hanya punya waktu sejam." Ujar Anko-sensei di depan semua murid-murid kelas tiga. Mereka semua berdiri di dekat lonceng besar yang suka dibunyikan kalau waktunya tiba tepat di bawah anak tangga kuil.
"Baik sensei." Ujar murid-murid serempak kayak anak TK baru keluar rumah.
"Tcih, kayak wisata playgroup aja." Umpat Gaara dalam hati dari tempatnya berdiri.
"Hn." Umpat Sasuke yang berdiri jauh dari Gaara. Kalau dekat mungkin akan terjadi kesalah-pahaman.
"Ya ampun, di sini indah sekali." Sakura mulai berkhayal sendiri dari tempat berdirinya pula yang lumayan dekat Gaara.
"Hm, no comment." Nah inner Hinata memang paling kalem setelah inner Sasuke.
Di depan, Anko masih ngoceh dengan menggendong Tonton di tangannya. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang Anko bicarakan. Murid-murid bukannya merhatiin perkataan Anko, mereka malah memperhatikan Tonton yang lagi memandang mereka pula. Ya ampun! Tonton memang ngegemesin!
Setelah dirasakan mereka bahwa Anko sudah berdiam diri alias sudah menyelesaikan perkataannya, murid-murid langsung bubar dan mencari-cari objek yang akan mereka bahas dalam waktu beberapa menit itu.
Sedangkan si pink mulai menaikki tangga panjang ke atas bukit tempat kuil itu berdiri. Dari bawah rasanya kuil di atas itu kecil sekali. Untungnya Sakura lagi semangat, makanya dia harus ke atas.
.
.
.
Sakura mendekati patung berbentuk singa yang terdapat di depan pintu kuil. Ia terus memperhatikan dengan seksama dan malah difoto dengan HP-nya. Setiap ukiran dan sentuhannya sangat bagus walau sebenarnya Sakura tidak mengerti sama sekali. Mereka seakan hidup dan benar-benar ada. Namun sayangnya ini versi batunya. Kalau hidup Sakura pasti sudah masuk ke dalam perutnya.
Tidak jauh dari Sakura berdiri ada sebuah dupa yang baunya menyebar di udara sekitar, yang mengakibatkan baunya terangsang masuk ke dalam paru-paru dan mengalir sampai ke otak. Sakura tidak terlalu menyukai bau-bau seperti ini. Tapi ini sudah jadi tradisi agamanya dan harus ia nikmati.
Di bawah dupa itu ada sebuah kotak yang biasanya dilempari orang uang receh. Dan biasanya setelah mereka menyumbang uang mereka berdoa pada patung yang ada di depan dupa itu. Di sana juga ada sesaji makanan yang entah kapan itu sudah berada di sana. Sepertinya itu sudah agak lama ada di sana dan tidak tersentuh sama sekali.
Selagi Sakura masih mengamati di sekitar kuil dari sudut terpencil ini ada yang bicara padanya.
"Kau tidak bawa buku, tapi malah menyendiri." Ujar seseorang tiba-tiba di belakang si pink.
Sakura menghentikan acara memandangi patung itu. lantas ia berbalik, mengalihkan pandangannya ke belakang, bisa dilihat ternyata suara itu memang suara si emo, "Kalau begitu, Sasuke mau mencatatkannya untukku?" bagi Sasuke jawaban Sakura benar-benar membingungkan. Maksudnya itu loh, mau nanya atau nawari?
"Tidak." Jawab Sasuke singkat yang merupakan jawaban yang paling cocok dengan maksud pertanyaan Sakura.
Sakura menurunkan senyumnya, "Kau akhir-akhir ini agak kasar terhadapku, kenapa?"
"Seharusnya aku yang tanya kau kenapa?" Sasuke medekat kearah Sakura hingga gadis itu agak mundur merapat ke patung. Gara-gara Sasuke, punggung Sakura harus menyentuh patung singa berdebu itu.
Tangan kanan Sasuke diletakkannya tepat di samping kepala pink itu untuk menyangga berat tubuhnya yang agak condong ke Sakura, seolah ia mengunci jalan keluar bagi gadis malang itu.
Sakura mengernyit heran dengan tangan yang menutupi bagian depan badannya yang dibentuknya seperti tanda silang. Seolah ia akan menangkis serangan dan pukulan dari Sasuke. Padahal sebenarnya Sasuke tidak akan berbuat apa-apa, seperti apa yang ada dipikirannya sekarang, "Maksudmu?" ujar Sakura akhirnya.
Sasuke agak menunduk menatap mata Sakura yang agak rendah darinya, "Kau berubah!"
Sedangkan Sakura tentu saja menatap ke atas membalas tatapan Sasuke, "Oh ya?"
Untung saat ini di sekitar tempat mereka berdua berdiri tidak ada murid satupun. Mereka mungkin masih berpencar mencari tempat yang banyak objek bagus dan masih mengerjakan tugas dengan tertib, tidak seperti dua manusia ini.
"Sasu, kau bisa menjauh sedikit." Sakura masih bersuara mendesah-desah, mengalun-ngalun, seperti Hinata Hyuuga bin Hiashi Hyuuga.
"Tidak. Aku akan seperti ini sampai kau tidak berbicara dengan nada seperti itu!"
Sakura mengangkat alis sebelah, "Bu-bukan begitu, kalau ada yang lihat kan tidak enak."
Sakura benar, posisi mereka sekarang memang tidak elit. Kalau dilihat orang memang tidak enak. Mungkin akan menimbulkan gossip dan fitnah.
"Kalau tidak ada yang lihat berarti?" Sasuke bertanya namun terdengar sedikit menggantungnya.
Belum sempat Sakura menjawab, Sasuke malah menyela duluan, "Tidak masalah kan?"
"Hehehehe." Sakura malah tertawa garing untuk mencairkan suasana, kalau suasananya sudah seperti ini rasanya asing sekali. Makanya dia malas dekat-dekat dengan Sasuke-kun.
"Kau berubah Sakura." Sekali lagi Sasuke mengulangi perkataanya tadi.
"Maksudmu?" pertanyaan yang sama lagi dari mulut Sakura.
"Ini bukan dirimu." Sasuke berbisik dengan deruan napas panas dari dalam tubuhnya, yang membuat Sakura menjadi tidak enak sesaat. Seandainya fans Sasuke liat, wah tidak bisa saya deskripsikan mungkin kelebaian mereka.
"Sasuke, to-tolong jangan bicara sedekat itu." Entah mengapa debaran jantung Sakura tidak normal sekarang gara-gara tingkah Sasuke.
"Tolong jadilah dirimu sendiri, ini bukan dirimu." Lagi-lagi si emo berbisik.
"Sasuke jangan berbisik aku mohon, aneh saja rasanya." Sekali lagi rasanya Sakura ingin menangis. Dia sudah memasang ekspresi dengan alis mengkerut akan menangis.
"Sakura." Sasuke memaksa Sakura mendongak menatapnya lebih lekat-lekat lagi, "Kau tidak keberatankan?"
Pertanyaan Sasuke hanya direspon sebelah alis bingung Sakura. Dia bingung dengan sikap Sasuke akhir-akhir ini, bukannya Sasuke kamarin cuek dengannya dan sekarang tiba-tiba begini. Apa mungkin si emo kerasukkan set(an).
Dari balik semak-semak ternyata ada kehidupan. Maksudnya ada seorang yang sedang mengintai mereka alias memergokki Sasuke lagi menyergap Sakura. Itu sih jalan pemikiran mereka. Tempat ini sebenarnya memang wilayah mereka sih. Ok-lah!
Mereka adalah…
Binggo!
Sekelompok preman miskin, memble, kere, hancuran deh. Tapi mereka cool diantara gembel-gembel yang lain.
"Hei, ada sasaran nih." celetuk seorang laki-laki dengan jubah hitam dengan motif awan merah di sekitarnya.
"Wah Nagato, kau jenius, Kayaknya mereka berdua lagi pacaran." Ujar temannya yang juga memakai baju sama sepertinya, yah semuanya pakai baju sama. Entahlah mereka bikin dimana.
"Ya iya lah Pain, duit kita lagi habis nih, mana lagi laper lagi." Balas Nagato.
"Ah, kamu laper terus. Ngomong-ngomong di sini agak bau ya." Pain menajamkan penciuman di sekitar semak-semak itu.
Nagato ikut menajamkan penciumannya juga, "Gak ah, dasar hidungmu aja yang banyak tindikkan."
Pain menyipitkan mata kesal pada ucapan Nagato. Kalau Nagato bukan kapten mereka, mungkin Pain sudah mendaratkan satu jitakkan ke kepalanya yang kurus itu.
Nagato menoleh kearah Kakuzu yang masih diam saja di antara mereka bertiga. "Kenapa dari tadi kau diam saja?"
Merasa ada yang bicara padanya ia pun menoleh, "Siapa yang diam aku lagi ngitung berapa harga mereka." Balas Kakuzu sambil memperlihatkan sempoa asli dari negri Cina yang seingat Nagato dicurinya minggu lalu dari musafir kaya. Oh, ternyata Kakuzu lagi menimbang harga.
"Yep anak-anak tunggu apa lagi, kita let's go!" ajak Nagato semangat.
Kemudian dengan siaga mereka bertiga menyibakkan jubah mereka yang kepanjangan itu untuk lebih leluasa lagi melompat keluar—menunjukkan sosok mereka kearah Sakura dan Sasuke.
Merasa ada yang datang Sasuke menoleh. Mau tak mau Sakura pun melirik mereka.
"Hei kalian! Kenapa malah pacaran di sini!" ujar Pain berbasa-basi.
Sakura masih memasang tampang bengong. Sedangkan Sasuke masih berdiri di depan Sakura dengan gaya cool.
"Hahahah, kelihatannya mereka memang anak orang kaya." Nagato menimpali sengit.
Kakuzu menyeringai di balik masker hitamnya yang sudah pasti tidak kelihatan, "Hei kalian anak nakal, ayo ikut kami."
"Oi dodol, caramu menculik mereka kayak menculik anak kecil!" Nagato nyerocos marah sama Kakuzu yang melempar tawaran murahan kepada kedua bocah di depannya ini. Biasanya kalau mereka menculik anak kecil, pasti pertanyaan itu mereka lemparkan. Ini masalahnya yang mereka culik sekarang sudah dewasa.
Kakuzu sudah terbiasa seperti itu. Maklumi lah.
Sasuke memandang dengan pendangan meremehkan. Orang tua yang berada di depannya ini sungguh menyedihkan, pikir Sasuke,
"Ka-kalian siapa?" Sakura angkat bicara.
"Kami? Huh! Kalian tidak perlu tahu."
Melihat tatapan Sasuke membuat Kakuzu muak, "Kau meremehkan kami." Timpal Kakuzu yang disertai anggukkan Pain.
"Kalau begitu kita main kasar aja." Nagato mulai mengeluarkan kayu besar dari balik jubahnya. Kalau mau dilihat di balik jubahnya ada kantung besar yang dapat diisi apa saja. Beras sekarung juga masuk ke sana. Biasanya kantung itu digunakannya untuk tempat barang yang biasanya mereka curi.
"Hei, mau main kasar sepertinya." Keringat dingin mulai melucur dari pelipis Sakura.
"Sakura, keluarkan jurusmu saja." Kata Sasuke.
"Hah? Di tempat seperti ini? Badanku lagi kaku."
"Ah, sudahlah jangan banyak bicara lagi." Nagato maju duluan dengan membawa batang kayu di tangannya. Sebenarnya kayu itu hanya untuk menaklukkan mereka berdua saja. Nagato juga tidak terlalu berani benar-benar memukuli mereka. Yang adanya mereka akan mati dan tebusan uang melayang. Dan sayangnya mereka malah bersiap-siap dengan kedatangan Nagato.
Sakura sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk menjotos Nagato. Namun dilihatnya Sasuke yang maju dan langsung menghadapi Nagato, dia memilih untuk mundur saja. Lagipula dia tidak siap bertarung dalam keadaan begini.
Dengan sekali tendangan Sasuke mampu menjatuhkan batang kayu di tangan Nagato dan dia menyeringai.
"Ah bos!" ujar dua temannya dari belakang dengan nada kecewa. Baru saja maju bosnya sudah kehilangan senjata.
"Diam!" Nagato berteriak sengit. Mereka terkesiap sesaat, lalu nyengir pelan tanpa dosa.
Sasuke hanya menghela napas heran. Dia heran dengan preman yang sok berada di depannya ini. Kemudian Nagato melayangkan sebuah bogeman kearah Sasuke. Namun dengan sigap Sasuke menangkisnya dan memegang pergelangan tangannya lalu membantingnya ke tanah.
Ini kesempatan buat mengeluarkan amarah. Mumpung sekarang Sasuke lagi sensi, ini kesempatan yang bagus. Selagi Nagato meringis kesakitan, Sasuke malah memukulinya lagi. Lumayanlah melampiaskan kekesalannya terhadap sikap Sakura tadi. Sasuke memang awesome!
Selagi Sakura masih melihat Sasuke saling jotos dengan Nagato. Tiba-tiba seseorang sudah berada di belakangnya dan mengunci tubuhnya dengan cara memgangi kedua tangan putihnya ke belakang.
"Hei lepaskan!" umpat Sakura berusaha melepaskan diri dari orang tersebut.
"Sakura!" teriak Sasuke ketika ia melihat Sakura tertangkap. Namun kelengahan Sasuke dimanfaatkan Pain yang lagi nganggur sekarang untuk mengunci gerakkannya pula.
"Fufufuu." Pain menyeringai. Tindikkan di sekitar bibirnya ikut bergerak juga, gak risih tuh?
Kakuzu yang berada di belakang Sakura hanya bisa diam-diam terkekeh geli, ia mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya.
Sebelum gadis itu keburu berteriak dan melepaskan diri, Kakuzu langsung membekapnya dan seketika Sakura lemas tak sadarkan diri. Tubuhnya merosot jatuh ke tanah.
"Hahahah." Ketawa nista dari Nagato membuat Sasuke tambah marah. Sasuke masih berusaha melepaskan diri dari Pain. Namun ternyata Pain begitu kuat tenaganya. Tentu saja Pain kuat, dia preman paling keren di sini. Oh joy!
Nagato bangkit dari guling-gulingnya dengan gontai. Pria kurus itu memegangi bekas jotosan Sasuke yang bertengger di pipi kurus itu. Lalu ia menghadap Sasuke dan menyeringai.
'Buagh'
Satu pukulan mendarat di perut Sasuke yang membuat dirinya meringis menahan sakit. Ia ingin teriak agar semua temannya menolongnya, namun saat ini ia tidak bisa melakukan itu. Entah mengapa kekuatannya melemah, dan dia tak tahu mengapa itu semua terjadi.
"Aduh sakiiit!" ujar Nagato pelan. Ia tidak menyangka ternyata perut Sasuke penuh dengan otot keras. Saat dilihat tangannya ternyata memerah. Jelas saja, badan Sasuke kan six pack.
Sasuke melihat Sakura yang masih tergolek lemah di tanah, ia masih berusaha melepaskan diri, namun kekuatan Pain sangat kuat. Dan ia sangat lemah sekarang. TIDAK!
Kakuzu mendekat kearah Sasuke, tangannya mencengkram dagu Sasuke—memaksanya untuk mendongak menatapnya. Lagi-lagi Kakuzu terkekeh geli di balik masker hitam kumel itu.
Sapu tangan bius bekas Sakura tadi sekarang Kakuzu bekapkan ke mulut Sasuke. Pria emo itu meronta tak mau dibius. Namun obat bius terlalu kuat. Hanya sekali hisap saja Sasuke sudah kehilangan kesadarannya dan dia jatuh tersungkur ke tanah
"Oh yeh! Uang datang!" teriak mereka.
.
.
.
"Hei kau lihat Sakura?" Tenten terlihat panik saat ia selesai mengerjakan tugasnya di atas kursi bus itu. Sekarang bus itu sudah melaju meninggalkan kuil tadi. Dan sekarang mereka malah sudah berada di pertengahan jalan menuju sekolah kembali. Yang sialnya Tenten baru menyadari kalau Sakura tidak ada di sana. Dipikirnya tadi Sakura mungkin lagi duduk di salah satu kursi bus yang lainnya, namun setelah Tenten melempar pandangan ke sekeliling bus, ternyata Sakura memang benar-benar tidak ada.
Sedangkan yang ditanya tadi hanya menggeleng saja, "Coba kau bilang pada Anko-sensei saja." Balas Karin datar dari tempat duduknya.
Tenten mengangguk lalu ia berjalan pelan menghampiri tempat duduk Anko, "Sensei lihat Sakura tidak?"
Anko mengalihkan pandangannya ke salah satu muridnya itu, "Memangnya ada apa?" Anko terlihat bingung.
"Sakura tidak ada di sini sekarang."
"Hah? Benarkah? Coba kau hubungi telponnya."
"Tidak aktif, sensei."
Anko diam sebentar, dia diam bukan berarti dia melamun, dia hanya mikir saja kalau sekarang mungkin saja Sakura lagi di suatu tempat yang dia juga tidak tahu. Sakura kan sering terlambat. Mungkin saja sewaktu bus akan berangkat Sakura ketinggalan dan dia sekarang mungkin masih di sana.
Setelah Anko menduga-duga dimana Sakura, dengan tenang dia menjawab, "Dia sudah besar, dia bisa pulang sendiri kalau dia ketinggalan."
Tenten mengangguk mengerti, benar apa yang dikatakan gurunya. Sakura pasti tahu dengan arah jalan, "Baiklah kalau begitu." Tenten kembali ke tempat duduknya dan mulai berfikir semoga pendapat Sensei-nya itu benar.
Entah mengapa sampai sekarang perasaannya tidak enak. Tenten benci itu!
.
.
.
"Sasuke? Lihat Sasuke tidak?" bus yang tadinya sepi mulai ribut dengan suara khas Naruto yang keras ini. Ia bertanya dengan siapa saja yang ada di dalam bus itu. Dan mereka semua malah tidak ada yang menjawabnya.
"Tidak tahu!" jawab Kiba masih sibuk dengan tugasnya, padahal sedikit lagi karya tulisnya selesai. Dan Naruto malah mengganggunya dengan bertanya tentang Sasuke. Mana tahu-lah Kiba tentang Sasuke, toh dia tak pernah dekat sama Sasuke.
Setelah Naruto mengelilingi bus kelasnya tidak ada tanda-tanda Sasuke rupanya. Padahal sudah dari tadi Sasuke memang tidak ada di sana. Sayangnya otak lemot bin lelet Naruto baru menyadarinya sekarang,
"Yah bagaimana aku mengerjakan tugasku kalau Sasuke tidak ada sekarang. Kemana ya anak itu?" ujar Naruto sendiri.
Oh Naruto, kau akan babak belur oleh Sasuke kalau dia tahu kau membutuhkannya hanya untuk minta bantuan mengerjakan tugas.
Memang sih setiap ada tugas pasti Naruto dibantu Sasuke. Naruto adalah teman dekat Sasuke. Walaupun Sasuke merasa Naruto adalah orang yang berisik, namun ia mengakuinya sebagai teman. Naruto beda, dia lucu dan terkadang hanya bisa membuat kesal. Namun itulah Naruto si pria jabrik pirang ini.
Tidak ada yang menyadari semuanya saat itu bahwa Sasuke tidak ada di dalam bus. Mereka semua terlalu sibuk membuat tugas. Sampai-sampai Naruto pun tidak menyadarinya.
.
.
.
-T B C-
.
.
lol. Rifyu?
