Hallo minna-san! Saya kembali lagi!

Saya agak galau gegara chapter 3 yang ancur lebur. Saya usahain chapter ini tidak seberantakan dan seancur chapter sebelumnya. Oh iya, sekedar pemberitahuan, ini adalah chapter terakhir. Oh ya, Naruto disini umurnya sama kayak umur dia pas lagi di Naruto the last.

Disclaimere : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort

Main Chara : Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga

Warning : OOC, typo(s), gaje, ancur, membingungkan, semi-canon, dll

Oke, tanpa bertele-tele lagi, saya persembahkan,

SAYONARA, NARUTO-KUN

"Jadi, kau adalah—" ucapku sambil menunjuk ke arahnya.

"Ya, aku adalah orang pemilik genjutsu masa lalu itu," ucapnya. Seketika itu juga aku teringat akan ucapan Shizune.

Flashback(normal POV)

"La-lalu ca-cara yang kedua, ba-bagaimana?" tanya Hinata penuh rasa ingin tahu.

"Cara yang kedua adalah—"

Shizune menghela napas.

"—kau harus mencari seseorang pengguna genjutsu masa lalu. Yang kutau dia adalah keturunan dari Kaguya Otsusuki. Markasnya berada di bulan," jelas Shizune.

"Apa kau mengetahui namanya?" tanya Hinata.

"Kalau tidak salah namanya adalah Toneri Otsusuki. Dia berambut putih dan tidak memiliki mata," jelas Shizune lagi.

"Bagaimana cara aku menemuinya?" tanya Hinata. Shizune mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.

"Entahlah, tapi jika kau mau meminta sesuatu padanya, kau harus rela melakukan apa yang dia minta," ujar Shizune.

End of Flashback(back to Hinata POV)

"A-apa kau adalah To-toneri Otsusuki?" tanyaku.

"Ya," jawabnya singkat.

"A-apa aku bo-boleh meminta sesuatu padamu?" tanyaku.

"Katakan saja," jawab Toneri.

"To-tolong ke-kembalikan ingatan Na-naruto-kun!" pintaku.

"Boleh saja. Tapi ada 1 syarat," ucapnya.

"A-apa itu?" tanyaku.

"Syaratnya adalah—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—kau harus menikah denganku."

Deg.

Aku diam terpaku.

'Apa? Menikah dengannya?'

Akupun bimbang, harus menerima syaratnya atau tidak.

Setelah berpikir-pikir, akhirnya aku menemukan jawaban terbaik.

"Ba-baiklah, a-aku menerima persyaratanmu," ucapku sambil menunduk. Toneri tersenyum.

"Baiklah, ayo kita pergi ke istanaku," ucap Toneri sambil mengulurkan tangannya. Aku pun menjabat tangannya.

"Kita pergi,"

Tiba-tiba cahaya putih mengelilingi kami dan membawa kami ke tempat tujuan kami.

.

Naruto POV

"Kenapa aku merasa gelisah, ya?" gumamku.

Perasaanku mendadak tidak enak.

Aku duduk di tempat tidurku.

"Hah, mungkin hanya perasaanku saja."

Aku merebahkan tubuhku di kasur.

"Huh, tenggorokanku kering," ucapku kemudian mengambil sebuah gelas berisi air yang berada di meja dekat tempat tidurku.

Sebelum telapak tanganku menyentuh gelas tersebut, tiba-tiba saja gelas tersebut retak.

'Kenapa gelasnya retak? Aku juga makin merasakan firasat buruk,' batinku.

Aku memutuskan untuk mengabaikan perasaanku yang tidak enak dan bergegas tidur.

.

.

.

Hinata POV

"Kapan kau mau aku mengembalikan ingatan orang itu?" tanya Toneri.

"Secepatnya," jawabku.

"Bagaimana kalau nanti malam?" tanya Toneri. "Baiklah," jawabku.

Aku menghela napasku. Aku ingin Naruto cepat kembali mengingatku. Walau dengan cara yang seperti ini. Aku rela, asalkan Naruto kembali mengingatku. Semua yang kulakukan selalu gagal. Jadi, kupikir inilah cara yang terbaik.

"Kupikir sekarang saja," ucap Toneri.

"Eh?"

.

Naruto POV

Aku terbangun dari tidurku.

"Duh, perasaan ini menggangguku tidur!" gerutuku.

Aku melihat ke arah jam dinding.

23.58

"Sudah hampir tengah malam. Mungkin aku akan mencari angin segar untuk menghilangkan kegelisahanku ini."

Aku memutuskan untuk pergi melewati jendela kemudian melompati rumah-rumah penduduk.

"Kurasa taman adalah tempat yang cocok."

Aku segera pergi menuju taman.

Sesampainya di taman, aku segera duduk di bangku yang berada di taman tersebut.

Aku melihat kesekitar.

Tatapanku terhenti pada sebuah siluet hitam.

Siluet tersebut makin mendekat. Sampai akhirnya siluet tersebut tampak diterangi sinar bulan.

"Hinata?" gumamku.

Dia berhenti tepat di depanku sejauh kira-kira 3 meter.

Tiba-tiba muncul seseorang di samping Hinata.

Dia memiliki rambut berwarna putih dan memejamkan matanya.

"Hinata!" pekikku. Hinata menundukkan kepalanya. Aku mengerutkan keningku.

Ketika aku ingin menghampirinya, tiba-tiba saja aku terjebak di sebuah gelembung berwarna kehijauhan.

Rasa kantuk menyerangku. Sampai akhirnya aku kehilangan kesadaranku.

.

'Dimana ini?' batinku.

Sekarang aku berada di sebuah tempat yang memiliki banyak pohon Sakura.

"Sudah musim salju kah?" tanyaku saat melihat banyak salju di jalan dan bertengger di Pohon Sakura.

"Eh, bukannya itu aku?" tanyaku ketika melihat seorang anak kecil berambut kuning.

"Itu kan aku ketika berumur sekitar 5 tahun," terkaku. Tiba-tiba seorang gadis kecil berambut indigo menghampiri Naruto kecil.

"Bukankah itu Hinata? Sepertinya dia juga berumur 5 tahun."

"Naruto-kun," panggil Hinata kecil kepada Naruto kecil.

"Hinata-chan!" panggil Naruto kecil.

"A-aku ingin me-memberikan se-sesuatu padamu," ucap Hinata kecil sambil menyerahkan sebuah syal hijau kepada Naruto kecil. Ada sedikit rona merah di pipinya.

"Arigatou!" ucap Naruto kecil. Hinata kecil tersenyum tipis.

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

.

Cahaya perlahan-lahan muncul, menampakan pemandangan yang indah, yaitu sebuah tebing penuh bunga.

'Indahnya,' batinku.

'Itu bukannya aku saat berumur 13 tahun, ya?' batinku bertanya.

(Yang dipanggil Naruto, berarti itu yang umurnya 13 tahun)

"Lapar," ucap Naruto sambil mengelus-elus perutnya. Dia sedang duduk di puncak tebing penuh bunga tersebut. Di sampingnya adalah Hinata yang berumur sekitar 13 tahun.

"A-apa kau mau, Na-naruto-kun?" tanya Hinata sambil membuka tutup kotak makannya lalu menyodorkannya ke arah Naruto.

"Itu apa?" tanya Naruto.

"I-ini onogiri," jawab Hinata.

Naruto mengambil 1 buah onigiri dari kotak makan Hinata.

"Wah! Rupanya sama seperti wajahku!" pekik Naruto dengan mata yang berbinar-binar.

"Tapi tetap saja rasanya agak aneh bila memakan wajah sendiri," ucap Naruto dengan wajah lesu.

'Seperti onigiri yang dibuat Hinata,' batinku.

Naruto menggigit onigiri tersebut.

"Wah! Enak sekali!" ucap Naruto dengan wajah berseri. Hinata menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Kau pasti akan menjadi istri yang baik!" puji Naruto sambil memamerkan cengiran khasnya.

"I-istri yang baik?" gumam Hinata. Seketika itu juga wajah Hinata tambah merah seperti kepiting rebus.

Semuanya menjadi gelap lagi.

.

Cahaya kembali muncul.

(latar saat Naruto vs Pein)

"Bukankah itu, Pein?" tanyaku.

"Naruto-kun!" panggil Hinata yang sedang memanggil Naruto, tapi bukan aku.

Saat Pein ingin menyerangku, Hinata menolongku.

Hinata terlihat terluka parah karena serangan dari Pein.

"Naruto-kun! Aku mencintaimu!"

Semuanya menjadi gelap dan hitam.

.

Hinata.

Jadi aku sudah mengenalnya?

Kenapa aku tidak ingat?

Tunggu sebentar, aku mengingat sesuatu!

.

Aku membuka mataku. Aku telah kembali ke taman. Gelembung yang menjebakku tadi sudah menghilang.

"Hinata!" pekikku.

"Aku ingat! Aku ingat bahwa sebenarnya aku sudah mengenalmu dari dulu! Aku ingat semua kenangan kita! Aku juga ingat! Aku juga ingat bahwa kau mencintaiku! Dan aku ingat bahwa aku juga mencintaimu!" pekikku kemudian menghampiri Hinata.

Balum sempat menghampiri Hinata, seseorang yang berada di samping Hinata menggerakan tangannya sebagai isyarat yang menandakan bahwa aku tak boleh mendekat. Aku pun menghentikan langkahku.

"Sudah ingat, eh?" tanya orang tersebut.

"Sebenarnya kau ini siapa, hah?!" tanyaku agak membentak.

"Aku? Aku adalah calon suami Hinata," jawab orang tersebut. Aku tersentak. Tenggorokanku tercekat.

Aku menatap ke arah Hinata.

"Hinata! Kau mau menjadi istri dari orang ini?" tanyaku. Hinata menundukkan kepalanya.

"Gomen, Na-naruto-kun," ucap Hinata.

"I-itu agar kau kembali mengingatku, Na-naruto-kun," lanjut Hinata.

"Kenapa Hinata? Aku lebih memilih lupa ingatan daripada harus kehilanganmu! Kau membuatku nyaman jika kau ada disisiku! Kau membuatku senang jika kau bersamaku! Aku mencintaimu, Hinata!" pekikku.

"Terlambat. Itu semua salahmu. Kau tau? Hinata rela membuang-buang waktunya untuk mengembalikan ingatan bocah bodoh sepertimu. Tapi kau sama sekali tidak mengingatnya. Sampai akhirnya dia menggunakan cara seperti ini agar ingatanmu kembali," jelas Toneri.

Aku menyesali kebodohanku karena tidak mengingat Hinata saat Hinata berusaha mengembalikan ingatannya.

"Sekarang mau bagaimana lagi? Menyesal juga tidak ada gunanya," ucap Toneri.

"Berikan salam perpisahan padanya, Hinata," ucap Toneri. Wajah Hinata berubah sendu.

"Sayonara, Naruto-kun."

Cahaya putih mengelilingi tubuh Hinata dan Toneri. Aku menyipitkan mataku.

Saat cahaya tersebut hilang, mereka(Hinata dan Toneri) sudah tidak ada ditempatnya tadi berada.

"Aku menyesal sudah melupakannya," ucapku. Aku pun tak sadarkan diri.

OWARI

Akhirnya selesai juga! Saya harap chapter ini tidak berantakan! Kemungkinan saya akan membuat sekuel dari cerita ini!

Akhir kata, saya ucakan terimakasih dan mind to review?