I'm Here
.
.
.
"—dan kau Park Jimin, apa salahnya menjadi gay? Aku merasa tersinggung disini karna aku juga gay!"
Jimin sudah berada dimobil kesayangannya, berencana untuk pulang. Ia terlalu lelah dan merasa tidak enak badan. Ia menyimpulkan penyebab bahwa ini terjadi karna terlalu lama tidur diatap. Ya, setelah meninggalkan Yoongi pagi ini iya langsung melesat keatap untuk melanjutkan tidurnya tadi malam.
Kepalanya berdenyut tidak nyaman, bersandar pada setir mobil. Tidak ingin akan mengalami kecelakaan saat mengendara disaat seperti ini, Jimin berencana menghubungi supir bayaran seperti biasanya, namun bedanya kali ini ia tidak dalam kondisi mabuk.
Jimin kesal karna ponselnya tidak ada disaku celana, padahal ia sendiri yang meletakkan benda pipih itu didalam tas tanpa perlengkapan sekolah miliknya. Dengan gusar dan terkesan tergesa-gesa Jimin raih tas yang ada dibangku penumpang. Ia mengkerutkan dahi saat membuka tas yang tadinya kosong.
Iya, kosong Jimin masih mengingat bahwa tas itu kosong, namun kini sebuah amplop coklat yang lumayan besar memenuhinya. Setau Jimin, ia tidak pernah memakai atau membelinya. Untuk menghilangkan rasa penasaran, Jimin buka dan mengambil isi dalamnya dengan terbalik.
Menyebabkan isi amplop tadi berjatuhan. Akan baik jika yang berjatuhan itu adalah beberapa kertas yang sama besar dengan tempat. Namun ini, adalah potongan-potongan kecil kertas yang membuat matanya melebar kesal. Kertas itu berhambur didalam mobil, Jimin memerhatikan lebih jelas kertas apa itu.
Kepalanya semakin sakit saat menyadari bahwa kertas tadi adalah uang. Shit, manusia mana yang membuang-buang uang dimasa sulit seperi ini, batinnya. Jimin yakin ada kertas lain atau apalah sebagai petunjuk untuknya. Setelah memasukkan tangan dan mengucap dapat setelahnya, Jimin mengambil hal yang sama namun ukuran yang berbeda. Lebih besar.
Jimin membuka lipatan kertas itu, matanya disuguhkan tulisan hangul yang sangat rapi. Namun, kau tau? –
"Hey, mungkin kau sudah tau siapa aku walau aku tidak mengatakan hal itu. Aku akan mengucap Hai, untukmu Park Jimin-ssi. Aku mengingatkan jangan membaca ini dengan cepat atau kau akan menyesal diakhir, tolong turuti aku. Beritahu aku jika ada orang yang sialannya melebihi sialan milikmu. YA! Kau kira luka bisa diobati dengan uang? Tubuhmu bahkan tidak terlalu tinggi, namun tingkahmu sangat brengsek. Ckh, sorry aku bukan manusia yang dapat luluh karna uangmu. Aku memang gila uang, toh memang tidak ada orang yang tidak menyukainya. Tapi aku tidak suka jika menerimanya dari dompet jelekmu. Nikmati CHAGI-aa, untung sayang kalau tidak aku bisa saja memotong kecil milikmu seperti uang mu itu. "
Tolong ingatkan Jimin untuk bernafas, dan berhenti berpikir untuk membunuh Yoongi. Kalian pasti penasaran apa sebenarnya uang itu, mari kita kembali saat pagi tadi.
Pagi itu:
"Apa kau terluka?"
"HEH?" Yoongi tertawa, mendengar pertanyaan itu. "Dan kau masih bertanya?
Jimin berdiri merogoh saku blazer miliknya, mengeluarkan uang dari isi dompetnya. Lalu dengan tidak sopan melemparnya didepan Yoongi. Jangan Tanya bagaimana ekspresi yang dilempar uang, ia menganga dengan mata melotot.
"Cukup? Atau—" Jimin kembali mengambil beberapa lembar, "Ini pasti lebih dari cukup." Setelah selesai dengan uangnya tidak membuang waktu, Jimin sudah berjalan meninggalkan Yoongi tanpa sepatah kata pun.
Yoongi bersandar dibangkunya, sambil memainkan rambut. Ia sudah berhayal tentang Jimin yang memperhatikannya atau mendoakan kesembuhannya atau mungkin juga mengusap lukanya dengan sayang, bukan? Namun kalian tau sendiri apa yang ia dapat, membuat kepala sakit.
"Oh tuhan apa aku harus menyukai orang seperti itu? Dia gila, dan aku terlanjur menyukainya!"
Jam istirahat datang, Yoongi duduk dicloset sekolah dengan gunting, uang Jimin, amplop dan sebuah kertas yang berisi kekesalan Yoongi. Ia dengan telaten memotong-motong kecil uang Jimin yang lumayan banyak itu.
Yoongi tersenyum diakhir kerjaannya, lalu dengan cepat menggunakan waktu istirahat yang tersisa untuk menaruh benda ini pada orang yang dituju. Yoongi patut bersyukur karna istirahat belum selesai, dan kelas Jimin masih kosong. Saat ia masuk Yoongi bawa perasaan nih.
Ia masih ingat dengan tas Jimin, dan aroma yang melekat pada tasnya. Yoongi duduk dikursi itu sambil main flashback-flashback-an. Terkekeh sendiri mengingatnya, oh ayolah mana siceria Yoongi biasanya. Masa cuman gara-gara cinta jadi berubah kek gini? Jangan kaget manusia bahkan dapat berubah total karna manusia yang ia sukai, bukan?
Jika saja Jimin adalah sosok yang mudah didekati, atau Yoongi adalah sosok yeoja montok mungkin ia bisa mengejar makhluk seperti Jimin itu. Oke, berhenti memikirkan itu atau Yoongi benar-benar operasi menjadi seorang yeoja sekarang.
Meletakkan dengan santai benda yang dibawanya tadi, dan keluar dengan cepat takut seseorang mempergokinya.
.
.
.
Hari minggu ini, Jimin harus menemani ayahnya untuk Check up rutin. Ini pertama kali dan dengan paksaan kuat sang ayah. Jimin sering menolak karna ia memang tidak dekat dengan sosok itu. Menurut untuk pertama dan terakhir, katanya.
Ruang itu berada dilantai dua, memaksanya untuk naik. Lorong sedang sepi karna masih pagi dan hanya Jimin dan ayahnya. Setelah mendengar panggilan hanya ayah yang masuk tanpa Jimin.
Jimin bosan berlama-lama duduk dilorong sepi ini, ia mulai berjalan mendekati jendela besar disisi lorong itu. Matanya menatap kebawah, seseorang mengalihkan perhatiannya. Jimin meletakkan tangan disaku celana dan memiringkan kepala manatap sosok itu.
Manusia pucat yang tidak terlalu tinggi, menggunakan kaos putih besar dan celana hitam selutut. Sedang meletakan kain putih ditiang jemuran. Sedikit kesusahan karna kain besar yang dipastikan Jimin adalah kain sprei rumah sakit. Dan itu tidak sedikit.
Jimin tertawa, dan itu hal yang jarang ia lakukan. Melihat manusia itu kesusahan dengan perkerjaannya membuat Jimin tertarik untuk membantu. Ia bahkan berguman tidak jelas karna keanehan yang muncul dari dalam dirinya. Membantu? Itu bukan Jimin yang sesungguhnya.
Jimin turun dengan cepat menggunakan tangga karna malas dan akan lama jika memakai lift yang sudah ramai dengan pasien. Entah dari mana ia memiliki semangat ini. Berlari kebelakang rumah sakit yang banyak pohon hijau disekitarnya.
Akhirnya ia menemukan itu sosok mungil yang membuat ia bersemangat tadi. Ada dibalik kain putih itu, sebenarnya Jimin hanya melihat kaki mulus kecil miliknya. Jimin perlahan menghampiri dan membantu menarik kain kesisi ujung.
"Oh!" sosok tadi tengah kaget melihat seseorang membantunya.
Karna penasaran ia muncul lewat bawah kain yang tengah menggantung, dan Jimin sedang menggantung kedua tangan ditali jemuran tadi. Kalian harus tau apa yang terjadi selanjutnya. Kedua anak adam itu membelalakkan mata bersama. Yoongi, sosok yang mengalihkan perhatian Jimin tadi adalah, Yoongi.
Mungkin Jimin tertarik karna Yoongi yang memakai pakaian berbeda dengan pakaiannya disekolah, batin Jimin sibuk berkutat dengan pemikirannya. Mengakulah Jimin karna Yoongi yang terkesan manis serta imut dengan pakaian biasa itu.
Karna tatapan kagum keduanya lupa bagaimana posisi mereka sekarang. Jimin memenjarakan Yoongi yang tangannya berada disisi makhluk pucat itu. Wajah semangat tadi memudar, tergantikan dengan raut dingin. Jimin menurunkan tangannya, dan mundur dua langkah.
"Aku kira kau siapa, ternyata makhluk gila uang ini sedang berkerja."
"Huh? Apa kau bilang. Ooh benar saking tergila-gilanya aku dengan uang, aku rela berkerja tanpa dibayar!" jawab Yoongi sambil menyilang tangan didepan dada. Jimin hanya menaikkan sebelah alis dan duduk dibangku yang berada didekat Yoongi.
"Mungkin rumah sakit ini milikmu sehingga tidak dibayar untuk menggantung kain-kain itu sendiri." Yoongi mendekat dan duduk disamping Jimin dengan bak besar yang menghalangi mereka berdua.
"Tidak, eomma bergabung dalam yayasan rumah sakit ini. Dan aku tidak sendiri seorang pekerja dan dua orang penjaga menemaniku tadi." Jimin mengangguk,
"Selalu melakukan ini? Paksaan?"
"Aku melakukannya setiap libur. Dan ini bukan paksaan. Dilantai empat adalah ruang khusus orang kangker yang biayanya dibebaskan. Dan aku hanya ingin membantu. Dan kau untuk apa disini?"
"Menemani lelaki tua check up." Yoongi mengangguk, dan hening. Tidak ada hal yang ingin dibicarakan.
Jimin maupun Yoongi hanya menatap kain yang bergerak karna angin. Seharusnya mereka dekat karna seminggu berdua diruang yang sama waktu itu. Namun, kalian tau sendiri bagaimana Jimin dan Yoongi yang takut mendekat.
Jimin kembali teringat dengan uang, dan menatap tak senang kearah sampingnya,
"Ya, kenapa kau memotong uang itu? Jika ingin memotong milikku, maka lakukanlah, lagi pula aku sudah pernah memakainya pada seseorang. Dan tidak perlu membuang-buang uang itu! Kau mengerti?" Awalnya Yoongi ingin tertawa mendengar itu, namun rasa gelinya hilang karna ucapan Jimin selanjutnya.
"Jika kau melakukan kesalahan dan menyelesaikan dengan uang, mungkin itu akan selesai. Tapi kau tidak tau perasaan, dan sakit yang diderita orang yang menjadi korban kesalahanmu. Simpan milikmu itu untuk pendampingmu dimasa depan, aku tidak ingin masa depanku dituntut wanitamu karna memotong milik kekasihnya."
"Nak, Yoongi. Kau sudah selesaikah? Bisa membantu ahjumma mengaduk bubur?!"
"Nde, ahjumma." Yoongi berdiri dan membenarkan pakaiannya.
Lalu mengucap "Selamat tinggal!" dan berlalu begitu saja.
.
.
.
Kehidupan berlanjut, bahkan setelah ucapan Yoongi kala itu. Sampai saat ini dimana murid sudah naik kelas. Yoongi bukan lagi murid tingkat awal, ia sudah naik kekelas dua dengan peringkat yang memuaskan. Sedikit sedih karna harus meninggalkan kelas yang menjadi tanggung jawabnya selama setahun ini.
Mereka bahkan merayakannya malam kemarin, pesta perpisahan yang tidak pernah dilupakan Yoongi. Mengingat banyak teman-teman yang menangis karna akan terpisah atau terkumpul lagi dikelas yang baru.
Namjoon sangat berdoa agar dapat sekelas lagi dengan Yoongi, dan hari inilah penentuannnya.
Mungkin ada yang penasaran bagaimana hubungan Jimin dan Yoongi sekarang. Setelah Yoongi meninggalkan Jimin dibelakang rumah sakit itu, keduanya seakan tidak lagi saling mengenal. Yoongi hanya diam dan hanya berlalu jika berpapasan dengan Jimin. Begitu juga dengan Jimin.
Jika dipikirkan akan bingung memilih siapa yang salah. Sehingga mereka menutup diri yang seharusnya lebih dekat. Tapi jangan lupakan Yoongi, ia masih memiliki perasaan itu. Sesekali mengintip atau memandang Jimin dari kejauhan. Dan Jimin, tidak ada yang tau jika ia selalu ikut ayah kerumah sakit dan memandang Yoongi dari lantai dua rumah sakit.
Tapi jangan berpikiran apa-apa dulu, Jimin bukan melakukannya karna jatuh cinta atau apalah pada Yoongi. Hanya rasa bersalah. Ya, rasa bersalah. Karna Jimin tetaplah Jimin, manusia yang juga bingung kenapa ia berperilaku seperti itu pada Yoongi?
Guru menempelkan kertas yang berisi daftar kelas dan orang yang akan menghuni kelas itu dimading. Dan Yoongi kembali sekelas dengan Namjoon dan sekitar 7 orang yang sangat ia kenal ada didalamnya. Atau tidak? Mungkin 8 karna ada nama 'Park Jimin' terpampang dikertas itu.
.
.
.
Yoongi, Namjoon dan kedelapan teman lain berjalan bersama kekelas baru mereka, kelas 2-2. Ingin Yoongi memeluk Namjoon kemudian kudelapan teman tadi saat melihat ricuhnya kelas baru itu. Mereka teringat, pada kelas yang dulu yang tidak seribut ini.
Untung saja wali kelas datang, dan kelas seketika hening. Yoongi cs duduk dikursi yang kosong, 'Park Chanyeol' tidak galak namun sangat dihormati satu sekolah. Sosok berkaca mata yang lumayan dekat dengan Yoongi.
Ia menyerukan untuk duduk secara acak menggunakan nomor yang akan dipilih serta memilih seorang ketua kelas. Dan terpilihlah Min Yoongi. Lagi? Guru itu beralasan karna Yoongi sudah berpengalaman menjadi ketua kelas baik dikelas sebelumnya, ujarnya. Dan Yoongi terpaksa menurutinya.
Setelah duduk dengan acak, Yoongi merasa sial karna duduk dipojok paling belakang. Dan sendiri, Yoongi tidak suka sendiri. Guru tadi melanjutkan dengan mengajar, karna memang giliran pelajarannya lah yang harus diajarkan dikelas ini.
Saat hening dan fokusnya murid dikelas suara keras dari pintu mengagetkan seisi kelas. Jimin datang terlambat, dan tengah bingung dengan keadaan heningnya kelas.
"Park Jimin-ssi, datang terlambat dan membuat keributan bukanlah hal baik. Duduk disamping Yoongi, hari ini kau kumaafkan!" seru Park ssaem yang terdengar sangat dingin.
Jimin menurut dan duduk disamping Yoongi, pandangannya beralih kesamping. Yoongi tengah memandang tak rela kearah Jimin. Kenapa harus dia, pikirnya.
"Berhentilah memandangku seperti itu. Seakan kau ingin membunuhku!" Yoongi menumpu kepala diatas meja.
Mungkin hari melupakan Jimin akan lenyap hari ini, batinnya. Selama pelajaran berlangsung Yoongi memilih diam. Rasa canggung kembali menyapanya. Setelah beberapa bulan belakangan, Yoongi kembali menyesal menyukai Jimin. Ia ingin Jimin tidak dingin padanya, namun mengingat ia juga melakukan hal yang sama membuat Yoongi mengubur keinginan itu.
Ada kala dimana Jimin tertidur dan betapa senangnya Yoongi saat memandang sosok yang ia sukai itu. Senangnya akan hilang dimana, yeoja kelas mendekat, belum lagi yang akhirnya mereka akan pulang bersama Jimin.
.
.
.
Sudah dua minggu lebih Jimin menjadi teman sebangku Yoongi, namun tidak ada sedikitpun kata dekat diantara keduanya. Jimin menganggap seolah-olah tidak ada Yoongi didekatnya. Sampai hari ini dimana mereka dipertemukan berdua dikantor wali kelas.
"Yoongi, kau akan menjadi tutor untuk Jimin. Tak apa kan?"
"Nde?/Hah?" sahut keduanya.
"YA! Park Chanyeol, apa hakmu untuk itu. Aku tidak membutuhkan tutor." Dan ucapan Jimin itu sukses membuat dua orang lain menatapnya bingung dan keheran.
"Kau ingin mati? Seluruh guru sudah tau kau adalah sepupuku. Aku tidak ingin mereka mengeluh padaku karna kau sering membolos dan karna nilaimu yang jauh dari standar." Pandangan guru itu beralih pada Yoongi yang masih dengan tatapan bingungnya, "Kau bisa kan Yoongi, hanya kau yang dapat kuandalkan."
"TIDAK AKAN." Hanya Yoongi yang diam diruang ini. "Ya! Min Yoongi, aku tau selama ini kau dekat dengan guru yang satu ini. Tapi segeralah menjauh, dia gay. Kau bisa saja diajak kencan olehnya!" seolah itu hal biasa Yoongi hanya diam mendengarkan penuturan Jimin.
Guru muda itu bersandar pada kursinya sambil melipat tangan didepan dada, "Benar, jika saja aku seusia kalian aku akan mengajak Yoongi berkencan. Liat dia manis, menurutku tidak ada seme disekolah ini yang tidak tertarik padanya."
"Kau, melihatnya. Dia menyeramkan Min Yoongi. Dia gay, kau tidak jijik melihatnya?" Jimin mengalihkan pandangannya pada sepupunya itu. "Aku akan mengatakan pada Baekhyun-hyung tentang ini."
"Katakan, lagi pula kami akan menikah sebentar lagi."
"Aku—" Ucapan Jimin terpotong, karna suara cempreng yang keluar dari sebelahnya.
"YAK! Biarkan aku bicara bisa tidak. Ssaem, aku akan menuruti maumu, aku akan menjadi tutor manusia ini, dan jangan lupa mengundangku dipernikahanmu, jika kau belum memilih jas ajak aku, okay. DAN KAU PARK JIMIN APA SALAHNYA MENJADI GAY? AKU MERASA TERSINGGUNG DISINI, KARNA AKU JUGA GAY!"
Dan Jimin maupun Park-seonsangnim itu, terdiam karna Yoongi. Guru itu tersenyum penuh kemenangan ia dan Yoongi berkompak ria serta tertawa bersama, tanpa Jimin. Hanya Jimin yang masih terdiam dan menganga disini.
.
.
.
Bersambung.
Daku yang nulis, daku juga yang kesian nistain Yungi disini. Yungi terlalu cinta sama nchim syedih daku. Adakah kisah cintanya seperti mereka? Pastinya ada lah.
Karna updatenya kelamaan, jadi daku banyakin dichap ini, selamat membaca yak~~~
See you…
©jimyoo/BornSinger/mr
