Chapter 3

Untuk pertama kalinya Sasuke menyesal menjadi malaikat pencatat, padahal dulu―sebelum bertemu Hinata, Sasuke sangat bangga menjadi seorang malaikat. Alasan utama mengapa Sasuke tidak menyukai profesi yang telah digelutinya selama ratusan tahun ini karena gadis Hyuuga itu. Hinata tidak bisa melihat dirinya. Dirinya yang selalu setia berada di samping Hinata.

Hingga saat ini, Sasuke masih berdiri di dalam gedung aula. Kakinya belum bergerak barang se-inchi. Mata onyx-nya masih menatap pintu. Pintu dimana Hinata dan bocah jabrik itu pergi meninggalkannya sendiri.

"Hah, apa boleh buat," desah Sasuke.

Kemudian, secepat kilat ia terbang menuju kelas X B. Kelas Hinata yang baru.

Sesampainya disana, Sasuke melihat Hinata duduk paling pojok ruangan, di baris kedua dari belakang. Gadis bersurai indigo itu sedang asik menatap pemandangan di luar jendela.

Pemandangan musim semi dengan guguran bunga sakura serta pancaran dari sinar matahari―yang dengan malu-malu mengenai rambut dan wajah Hinata― membuat Hinata seperti dewi aphrodite bagi Sasuke. Pemandangan itu membuat Sasuke tanpa sadar menahan napas selama beberapa detik.

'Mengapa ini semua terjadi padamu, Sasuke?' batinnya dalam hati.


Naruto belongs to Masashi Kishimoto, Mbik cuman pinjem chara-nya aja

..

Keeper belongs to Mbik Si Kambing

(Murni dari imajinasi liar saya, jika ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulan semata ;))

..

Pairing SasuHina

..

Warning: Typos (bertebaran), AU, Gaje, Abal, OOC (Super duper deh..), dan masih banyak kejelekan lainnya

.

Don't Like? Don't Read!


Kembali Sasuke menghampiri Hinata yang sedang duduk dan asik melihat pemandangan di luar jendela. Mata onyxnya memandang kelas baru Hinata.

'Bersih dan rapi' batinnya dalam hati.

Siswa kelas XB berjumlah 30 orang dengan 12 siswa laki-laki dan sisanya siswa perempuan. Ternyata murid perempuanlah yang mendominasi kelas ini. Dari tempatnya berdiri, Sasuke bisa melihat musuh bebuyutannya itu. Si bocah Uzumaki duduk di deretan dua dari depan, agak jauh dari tempat Hinata duduk.

'Untung, saja.'

Bocah Uzumaki itu sedang tertawa terbahak-bahak dengan kedua temannya. Seorang murid gendut yang sedang memakan kripik kentang dan murid berambut mangkuk dengan alis super tebal dan berbulu mata lentik.

'Sebuah perpaduan yang sempurna,' ejek Sasuke dalam hati.

Hinata yang sedang melamun dan menikmati kelopak sakura yang berguguran tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan dua gadis. Gadis berambut merah muda dan gadis berambut pirang. Kedua gadis itu mengajak Hinata berkenalan.

"Hai, perkenalkan namaku Haruno Sakura," sapa gadis bersurai pink. "dan ini Ino, Yamanaka Ino," lanjutnya sambil memperkenalkan gadis yang berdiri di sampingnya.

"Hinata. Hyuuga Hinata. Salam kenal Haruno-san, Yamanaka-san," jawab Hinata sambil menjabat tangan kedua gadis yang ada dihadapannya itu.

"Jangan panggil kami dengan nama marga, panggil aku Sakura," kata Sakura.

"Benar, panggil aku Ino, ya," ucap temannya yang lain.

"Ba-baik, Ino-san, Sakura-san," kata Hinata sambil tersenyum.

'Benar-benar hari pertama yang indah,' batin Hinata.

Hinata senang karena mendapat teman baru. Hinata membayangkan ketika ia dan kedua temannya jalan-jalan bareng, mampir di sebuah cafe untuk mencicipi cake sepulang sekolah, berbelanja bareng, dan lain-lain. Hinata pasti bisa menjalani hari-hari SMA-nya dengan gembira bersama kedua teman barunya itu.

"Apa kami boleh memanggilmu Hinata?" tanya Sakura.

''Tentu saja boleh," jawab Hinata.

"Apa kalian satu sekolah? sepertinya kalian akrab sekali?" tanya Hinata lagi.

"Wah sepertinya dugaanmu tepat, Hinata," kata Ino sambil menarik kursi dan duduk di samping Hinata.

"Benar kami satu SMP. Tidak hanya kami, bocah jabrik itu juga satu sekolah dengan kami," kata Sakura yang sudah duduk di depan Hinata.

"Siapa?" tanya Hinata penasaran.

"Yang sedang tertawa menjijikan itu, yang rambutnya kuning norak itu," kata gadis bermanik emerald menunjuk-nunjuk.

"Na-naruto-kun?" tanya Hinata. Hinata tidak menyangka Naruto, Sakura, dan Ino adalah teman satu sekolah.

"Kau kenal dia, Hinata?" tanya Sakura tidak percaya.

"Em. Tadi kami berkenalan di aula," jelas Hinata memandang Ino dan Sakura bergantian.

"Ceritakan pada kami!" seru Ino. Matanya berkilat-kilat ingin tahu. Hinata yang didesak Ino mau tak mau menceritakan kembali pertemuannya dengan Naruto.

"Emm, tadi aku tidak sengaja bertabrakan dengan Naruto dan terjatuh ketika ingin melihat kelas. Naruto baik padaku, ia mau berdesak-desakan untuk mencari namaku," jelas Hinata sambil mengingat-ingat kejadian tersebut. Semburat merah muncul di pipi putihnya.

"Apa-apaan wajahnya itu, Sakura?" tanya Ino sambil berbisik ke telinga Sakura. Sakura yang melihat perubahan warna wajah Hinata mengangguk setuju.

"Hem, benar Ino. Wajahnya memerah. Apa jangan-jangan..." bisik Sakura.

"Kita tidak boleh membiarkan Hinata tertipu olehnya, Sakura."

Sakura yang mendengar penuturan Ino mengangguk setuju.

"Ne...Hinata, Apa kamu suka sama Naruto?" tanya Sakura sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

"Ap-apa?! tentu saja tidak!"

"Tapi terlihat jelas dari wajahmu yang memerah, Hinata," kata Ino yang tidak mau kalah. Wajahnya juga mendekat ke arah Hinata. Hinata yang wajahnya dipandangi hanya bisa mengkerut di kursinya. Tidak bisa berkata apa-apa.

"Lebih baik kau cari cowok lain yang lebih baik, Hinata. Aku dengar kamu sepupunya Neji?" tanya Ino

"Iya."

"Apa benar kamu tinggal serumah dengan Neji?" sekarang giliran Sakura yang bertanya.

"Benar, memang kenapa?" tanya Hinata. Sepertinya kedua temannya sangat tertarik dengan sepupunya itu.

"Kyaa~~ Kamu sangat beruntung, Hinata. Bisa tinggal satu atap dengan Neji." Ino berteriak histeris.

"Benar, dia kan ganteng, baik dan juga pintar. Beda sekali dengan Naruto itu," kata Sakura menimpali.

"Naruto baik juga, kok" ucap Hinata membela pemuda yang baru dikenalnya itu.

"APA? KAU BILANG BAIK?!" tanya Ino dan Sakura berbarengan. Suara mereka berdua yang cukup keras membuat anak-anak lain menoleh ke arah mereka.

"Dia itu jorok, suka kentut sembarangan, setiap hari hanya makan ramen saja, mandi hanya kalau dia ingat, apa lagi Ino?",tanya Sakura kepada Ino setelah menjelek-jelekkan Naruto.

"Emm, apa ya..." sambil mengusap dagu, Ino melanjutkan "Dia itu bodoh, Nilai ulangan untuk semua pelajaran paling tinggi hanya dapat 6 kecuali olah raga, dan yang paling parah Naruto itu…"Ino merapatkan diri dan dengan nada pelan ia melanjutkan, "...mesum."

"MESUM?!" teriak Hinata dan membuat kepala-kepala menoleh ke arahnya.

"Pssst, jangan keras-keras, Hinata. Nanti dia dengar," bisik Sakura.

"Sepertinya, teman baru kita tidak percaya, Sakura."

Ino melihat raut ketidakpercayaan dari wajah Hinata. Tentu Hinata tidak percaya tuduhan yang diucapkan teman barunya itu. Tidak mungkin Naruto bersikap serendah itu.

"Benar, sepertinya kita harus membuka rahasia kelam dari bocah mesum itu," ucap Sakura.

"Apa kau mau mengetahuinya, Hinata?" tanya Ino. Hinata mengangguk ingin tahu. Dilihatnya Ino dan Sakura bertatapan beberapa saat, kemudian dua pasang mata itu menatap Hinata tajam.

"Begini..." ucap Ino mulai bercerita,

"Waktu itu, kami murid-murid perempuan habis selesai pelajaran olahraga. Kami yang masih lugu dan polos itu langsung menuju kamar ganti khusus perempuan. Ingat! KHUSUS PEREMPUAN," kata Ino dengan penekanan di dua kata terakhir,

"Mulailah kami melepas baju, tapi dari balik lemari yang letaknya di pojok ruang, terdengar suara 'klik klik' berkali-kali. Teman kami―sebut saja bunga― membuka lemari itu dengan berani."ucapnya sambil memperagakan tangannya seperti membuka pintu.

"Kamu tahu apa yang ada di dalam lemari itu, Hinata?" tanya Ino.

Hinata menggeleng tidak tahu.

"Naruto. Bocah yang kau kagumi itu mengintip kami berganti pakaian," jawabnya sambil mengangguk mantap. Kedua tangannya terkait di dadanya.

"Itu bohong 'kan?" tanya Hinata tidak percaya.

Sakura dan Ino menggeleng.

"Itu benar Hinata," ucap Ino.

"Kamu tahu apa yang dikatakannya setelah kami pergoki mengintip kami?" Sakura berbisik dan Hinata sekali lagi menggeleng.

"Maaf teman-teman, sepertinya aku salah masuk ruangan," lanjut Sakura sambil menatap punggung Naruto dengan tatapan membunuh.

"Kemudian kami pukul ia sampai babak belur. Salah sendiri mengintip kami yang sedang ganti baju. Untung waktu itu aku belum buka baju," timpal Ino kesal sambil meninju-ninju udara kosong.

"Benar-benar pengalaman yang mengerikan," kata Sakura seraya memeluk dirinya sendiri.

"Kamu jangan berdekatan lagi dengan bocah mesum itu, Hinata," Ino memberikan saran sambil menepuk pundak Hinata.

"Benar Hinata, jauh-jauh dari Naruto. Mungkin saja di kamarnya ia menyimpan video-video Echi," ucap Sakura sambil membayangi kamar Naruto yang dindingnya dipenuhi gambar-gambar porno.

"Hiiiii….Mengerikan!" seru Sakura dan Ino bersamaan.

TET. TET.

Bel tanda mulai pelajaran berbunyi, membuat kedua gadis itu kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sedangkan Hinata yang sejak tadi sudah duduk di bangkunya menatap punggung pemuda yang tadi menolongnya. Otaknya masih mencerna semua fakta yang baru saja ia ketahui. Hinata masih tidak percaya dengan ucapan kedua sahabat barunya itu.

Tidak percaya bahwa Naruto itu….mesum (?)

.

.

.

Sasuke yang dari tadi mendengar penuturan dari Sakura dan Ino tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Sepertinya ia harus berterimakasih pada kedua gadis itu, karena berhasil membuka mata Hinata akan keburukan Naruto. Ternyata benar dugaannya, kalau bocah jabrik itu bukan pemuda baik-baik. Dari tampangnya, sudah kelihatan kalau bocah Uzumaki itu suka menggoda wanita.

Dilihatnya raut wajah Hinata yang saat ini sedang menatap Naruto dari jauh. Perpauduan antara jijik, takut dan tidak percaya.

Sedikit perasaan lega menghampiri Sasuke karena Hinata akan menghindari Bocah berkulit tan itu. Setidaknya untuk saat ini tidak ada laki-laki yang akan mendekati Hinata.

Seulas senyum muncul dari sudut bibirnya, akhirnya Sasuke bisa menekuni buku catatannya dengan tenang.


.

.

.


Di suatu tempat― di mana manusia tidak bisa hidup, tempat yang hanya dipenuhi oleh jiwa-jiwa orang mati―duduklah sosok mengerikan. Sosok yang tangan dan mata kanannya dipenuhi oleh balutan perban. Dari jauh bisa terlihat bahwa sosok itu memiliki aura kematian yang sangat kental. Mata kirinya menatap pemandangan di depannya dengan tatapan bosan. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan dan membuat manusia yang melihatnya bergidik ngeri. Entah puluhan atau ratusan sosok-sosok manusia sedang disiksa di depan matanya. Ada yang dicambuk, dirajam, dibakar di dalam api, dan ada pula yang direbus hingga kulit dan dagingnya terkelupas. Terdengar dari seluruh penjuru tempat jeritan-jeritan roh yang minta tolong akibat siksaan yang menyakitkan dan tiada akhir itu.

Sesekali helaan nafas lolos dari bibir sosok tersebut. Terlihat sekali bahwa sosok itu bosan.

Tiba-tiba, dari kejauhan sebuah portal hitam terbuka. Dari dalam portal muncullah sesosok yang tidak kalah mengerikan. Sosok itu diselimuti jubah hitam, sedangkan wajahnya tertutupi dengan tudung kepala. Tangan kanannya membawa tongkat sabit. Sebuah sabit kematian, yang saking tajamnya mampu membelah jiwa manusia.

Perlahan, sosok hitam itu menghampiri sosok lainnya yang sedang duduk di sebuah kursi yang dibuat dari tulang tengkorak manusia.

"Ah, ternyata kau rupanya," sapa Danzo―sosok berbalut perban itu.

"Hm," jawabnya singkat sambil melepas tudung yang menutupi wajahnya.

"Apa kamu tugasmu sudah selesai?" tanya Danzo lagi. Mata kelamnya menatap tajam lawan bicaranya.

"Hm," jawabnya lagi tanpa merasa terintimidasi.

"Hah! Tipikal Uchiha," dengusnya kesal karena semua pertanyaannya hanya dijawab singkat oleh lawan bicaranya itu.

"Mau apa kau kesini? Mau memperbaharui kontrak kerja?" tanya Danzo lagi.

"Ya," jawabnya mantap.

"Kemarilah,"panggil Danzo sambil melambaikan tangannya, " kita harus membuat kotrak baru," ucapnya lagi sambil menjentikkan jari

Tiba-tiba sebuah asap hitam muncul dari tangan Danzo. Asap itu perlahan membentuk sebuah gulungan hitam. Dibukanya gulungan tersebut. Kertas yang tadinya polos, perlahan berisi huruf-huruf aneh. Huruf yang tidak bisa dibaca oleh manusia manapun.

Tanpa perlu membaca gulungan itu, sosok hitam itu menggigit jarinya dan menyebabkan luka. Tetes-tetes darah berwarna hitam menodai gulungan itu. Dengan cepat darah itu terserap dan tiba-tiba cahaya kegelapan muncul dari gulungan itu, tanda bahwa perjanjian baru telah dibuat.

"Dengan begini sudah selesai," ucap Danzo sambil menggulung kertas perjanjian tersebut. Ia merogoh kantung bagian dalam hakamanya, mencari sesuatu.

"Ini daftar 'korban' mu yang baru," ucapnya sambil melemparkan buku kecil pada sosok berjubah hitam itu.

Sosok itu menangkap buku 'baru-nya'. Buku seukuran saku dengan sampul berwarna hitam. Ujung jarinya membuka halaman per halaman buku kecil tersebut. Sambil menyeringai, ia membaca baris demi baris nama-nama calon korbannya.

Ya. Tepat sekali. Sosok berjubah hitam itu adalah malaikat pencabut nyawa. Sudah lebih dari 300 tahun ia menjadi malaikat pencabut nyawa―profesi yang sangat ia sukai ini. Senang rasanya ketika ia mengayunkan sabitnya pada tubuh manusia dan membuat jiwa tersebut dengan terpaksa keluar dari raga fana-nya itu.

Telinganya yang tajam sangat menyukai melodi yang ada di tempatnya berada saat ini. Tempat berkumpulnya jiwa-jiwa kotor yang ketika hidup banyak melakukan perbuatan dosa. Di tempat ini ia bisa mendengar jeritan dan tangisan pilu dari jiwa-jiwa yang tersiksa itu.

"Sepertinya tugasmu kali ini akan sedikit menarik, Itachi."

Ucapan Danzo berhasil membuat tangannya terhenti, sosok itu―Itachi mendongak dan menatap Danzo ingin tahu.

"Apa maksudmu?" tanya Itachi.

Bukannya menjawab Danzo malah menyuruh Itachi segera pergi dan melaksanakan misi.

Sambil mengendikan bahu, Itachi melangkah pergi. Jubah hitamnya melambai-lambai ketika kakinya melangkah.

Setelah tubuh Itachi menghilang di balik portal, Danzo menyeringai sambil berkata, "Kau akan tahu sendiri nanti, Itachi."

.

.

.

.

.

.TBC.


Pojok balasan:

Riz Riz 21: Hemm, iya Sasu disini cemburu :). Iya ketemu lagi sama Mbik, Riz-san. Moga ga' bosen. Makasih udah memberikan Mbik semangat. Ni, uda di Update. Makasih uda nge-review yaa….:D

Kertas Biru:wah terimakasih infonya :D, akhirnya Mbik tahu apa itu SHDL. Awalnya Mbik bingung apa itu DnA, ternyata Devil and Angel. Mbik uda gabung sama grup itu, seneng deh…

Bluerose:makasih uda ngereview karya Mbik, jadi terharu ;( ni Uda lanjut. Jangan bosen baca karya Mbik ya…

Yukori Kazaqi: iya, emang bener Sasu klo cemburu emang imut, pingin deh peluk Sasu *dikeroyok Sasu FC*. Makasih banget uda ngereview, Yukori-san :D

Imaechu: Iya, Mbik kuliah :) tapi jangan panggil Mbik senpai dong, jadi ngerasa tua nich. Thanks reviewnya ya….:)

Hirano Lawliet: OOC ya? Maaf klo Sasu jadi OOC, tapi gapapa kan? *kedip-kedip* ini uda lanjut. Makasih ya uda nge-review :)

Guest (1): Iya ini uda di Update, thank uda review ya…:)

Chericchan: wah ternyata Chericchan suka Sasu yang OOC, ya? Huhuhu…. Mbik juga suka. Iyaa… ni uda lanjut.

Sagara Ai :Khu…khu..khu.., makasih uda ngereview :)

Shinigami Teru-chan: iya, ini uda Mbik update. Terimakasih uda ngereview :)

Guest (2): wah makasih uda dibilang bagus, Mbik jadi tersipu malu :). Ni uda di update, thank bwat reviewnya :)

lightning chrome: Iya, ni uda lanjuttttt…. Interaksi waktu Sasu and Hinata jdi manusia? Emmm… mungkin di chapter-chapter depan ya…:). Hontouni Arigatou bwat reviewnya.

just reader:Thanks reviewnya, ni uda di lanjut.


Wah terimakasih pada teman-teman yang uda ngereview, nge-fav and nge-follow fic pertama Mbik ini. m(_ _)m

setelah Naruto, Itachi akhirnya datang juga. Selamat datang Ita-pyon #nebar bunga#

Disini Itachi punya peran penting loo…..

Mungkin di chapter depan akan di jelaskan semua.

Ehem buat fansnya Naruto, Mbik minta maaf sebesar-besarnya telah merusak image si karakter utama *Masashi datang bawa golok siap-siap nyate Mbik*

Ampun deh, kalo Mbik di sate siapa yang mo lanjuti ni cerita? *ditimpuk bata*Kayak ada yang mo baca cerita lu aja,Mbik!*

Yo, minna chapter 3 uda selesai, dimohon feed backnya ya….

Caranya gampang kok, tinggal isi kolom di bawah ini.

Akhir kata REVIEW PLEASEE… :)