Hate You But Love You – 3

Author : Clou3elf

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Do Jihan and others

Genre : Drama, Hurt & Comfort

Rate : T-M

Warning : BoysLove, M-Preg, Typo(s), Gaje, Alur lambat, .el

A/N : Hasil obrolan absurd di grup line antar para Vottom yang dengan kurang ajarnya bikin plot dan ngga ada yang mau bikin. Plot-nya terlalu sayang buat diabaikan. Tapi karena saya ngga ahli bikin garem"an….jadi maafkan kalo ini jadinya ancur pake banget.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

Previous Chapter

.

.

"Prof, kenapa kita kemari?"

"Aku lapar. Dan kau jug lapar kan? Kita makan dulu sebelum pulang"

Taehyung tak memiliki alasan kuat untuk menolak. Makan bersama tak apa kan?

Makan bersama memang tidak salah. Jika saja tidak ada seseorang yang mengintai mereka dan membidikkan kamera berkali-kali.

.

Jungkook menggeleng tegas, "Aku tak mungkin setega itu membiarkanmu pulang sendirian. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena bisa tidur nyenyak dengan berbantalkan pahamu"

Wajah Taehyung mulai memanas. Dan Taehyung sedikit merutuki itu. Jungkook menggenggam tangannya kemudian membawa Taehyung masuk ke dalam mobil.

Sekali lagi mengabaikan eksistensi seseorang yang memandang mereka prihatin.

.

.

.

Chapter Three

.

.

.

Sadar atau tidak. Mau tidak mau. Dan suka tidak suka, Taehyung harus mengakui satu hal. Dia, Kim Taehyung yang notabene mahasiswa akhir yang sedang memperjuangkan pengajuan proposal penelitian, merasa nyaman dengan dosen pembimbingnya. Merasa klop dengan dosen pembimbingnya.

Taehyung tidak membicarakan ini dengan siapapun, termasuk Jimin. Dia hanya mengatakan jika semuanya berjalan lancar. Jeon Jungkook, pembimbingnya, banyak memberikan masukan terkait penelitian yang dia ajukan. Jungkook juga sesekali membantu Taehyung dengan memberi saran yang sekiranya menambah nilai dari proposal penelitian Taehyung nanti.

Jimin hanya berseru heboh tentang betapa beruntungnya Taehyung karena mendapat dosen pembimbing yang begitu baik. Jungkook itu paket lengkap, menurut Jimin, dan tentu saja Taehyung setuju dengan pernyataan itu.

Taehyung tidak mengatakan apapun terkait Jungkook yang sering mengajaknya makan bersama. Mengajaknya jalan tiap akhir minggu. Dan membelikannya berbagai macam barang. Beruntung Jimin tak curiga apapun setiap dia membawa barang pemberian Jungkook.

"Tae, apa kau ada jadwal kuliah hari ini?" tanya Jimin sembari merapikan rambutnya di depan kaca.

"Tidak. Seharusnya aku konsultasi hari ini tapi kepalaku sakit sekali" ucap Taehyung dengan suara serak dan sesekali bersin.

Sudah tiga hari ini Taehyung sakit. Faktor kehujanan sepulang dia dari perpustakaan guna mencari bahan. Salahnya juga dia nekat menerobos hujan lebat padahal Jungkook sudah menawarkan diri untuk menjemput. Well, Taehyung hanya tak ingin merepotkan dosennya itu. Pasalnya Jungkook sudah sampai rumahnya saat itu, tentu saja Taehyung menolak.

"Sebenarnya aku ingin merawatmu, tapi jadwal kuliah Mr. Park sudah menungguku"

"Aku tau. Pergilah. Aku baik-baik sa-hatchi!" Taehyung merutuk hidungnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening yang dibencinya.

"Astaga, kau yakin baik-baik saja? Atau aku bolos kelas Mr. Park saja?" Jimin menyentuh kening Taehyung yang berkeringat. "Badanmu masih panas"

"Nanti saja. Sepulang kuliah kau bisa mengantarku ke dokter. Itupun kalau a-hatchi, masih parah" Taehyung dan flu adalah musuh besar.

Jimin menghembuskan nafasnya, "Baiklah nanti sore aku akan mengantarmu ke dokter. Ah, tadi aku sempat memasak bubur untukmu. Obatmu juga sudah kusiapkan. Termasuk minum jika kau haus"

Taehyung hanya mengangguk. Tak mampu mengeluarkan suara lagi karena tenggorokannya sangat sakit. Jimin memandangnya cemas. Namja asal Busan itu sedikit enggan meninggalkan Taehyung yang sedang sakit.

"Pergilah, Jim. Kau -hatchi- uhuk-uhuk, tidak boleh terlambat"

"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Dan apa aku perlu memberimu plester penurun panas?"

"Kau kira aku umur 5 tahun?" rutuk Taehyung kesal.

Jimin tertawa kemudian mengusak rambut Taehyung penuh sayang, "Baiklah aku pergi dulu. Ingat pesanku, Tae"

"Cepat pergi~ kau membuatku semakin sakit" omel Taehyung.

Jimin kembali tertawa sebelum akhirnya benar-benar pergi. Taehyung menghela nafas panjang sebelum berakhir terbatuk-batuk dan bersin-bersin. Kepalanya pusing, tenggorokannya sakit, hidungnya mampet tapi tidak berhenti bersin, sungguh lengkap derita Taehyung pagi ini.

"Eomma~ dingin~"

.

.

Sementara di sebuah rumah bertingkat dua dengan cat berwarna pastel, Jeon Jungkook sedang sibuk dengan sarapannya sembari memainkan ponselnya. Raut wajahnya tampak khawatir karena sejak tadi pesannya belum juga mendapat balasan. Siapa lagi jika bukan Kim Taehyung.

"Jungkook-ah, letakkan ponselmu" tegur sang istri.

Jungkook hanya bergumam. Setelah menanti selama lima menit dan tak kunjung mendapat balasan, dia menyimpan ponselnya di saku jasnya. Kemudian menghela nafas dan kembali berkutat dengan makanannya.

Perilakunya itu tak luput dari perhatian sang istri. Wanita cantik yang berstatus istri Jeon Jungkook itu menatap lekat ke wajah sang suami yang terlihat kusut. Sesekali dia menjawab pertanyaan sang anak.

"Ada apa Kookie? Kenapa kau tampak kesal?" tanya istrinya.

"Hanya sedikit penat" jawab Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang disantapnya.

"Daddy~ nanti kita jalan-jalan ne~" ucap sang anak.

"Maafkan daddy jagoan. Daddy, ada rapat yang tidak bisa ditinggal" Jungkook menatap penuh penyesalan ke arah sang putra.

Yoogeun hanya mengerucutkan bibirnya sebal, "Tapi daddy jarlang sekali main denganku" rengeknya.

"Eum~" Jungkook memasang pose berpikir yang lucu. Membuat istrinya tersenyum tipis. "Bagaimana kalau minggu ini? Kita akan pergi piknik" tawar Jungkook akhirnya.

Well, Jungkook juga menyadari jika waktu bersama putranya sangat kurang. Dia berangkat kerja tepat pukul 7 pagi dan sampai di rumah tepat pukul 11 atau 12 malam. Saat Yoogeun sudah tidur. Bahkan saat akhir minggu pun Jungkook selalu memiliki alasan untuk tidak berada di rumah.

Sebenarnya Jungkook merasa bersalah karena selalu mengecewakan anaknya, namun dia tak memiliki pilihan lain. Kim Taehyung menyita semua perhatiannya. Satu bulan mengenal namja manis itu membuat Jungkook semakin betah di luar. Namja itu membuatnya nyaman.

Maka dari itu Jungkook merahasiakan statusnya. Dia takut Taehyung tak mau lagi menemaninya bahkan parahnya meminta pergantian dosen pembimbing. Jungkook sudah terlalu nyaman dengan namja yang usianya terpaut 8 tahun darinya itu.

"Piknik? Kemana?" tanya anaknya antusias.

Jungkook tersenyum. Biarlah dia menyenangkan anaknya kali ini. "Terserah Yoogeun-ie. Daddy akan menuruti keinginan Yoogeun kali ini"

"Benarlkah benarlkah?" pekik bocah itu.

Jungkook mengangguk kemudian tersenyum dan mengacak rambut anaknya. Sekali lagi interaksi itu terlihat sangat manis di mata sang istri. Andai saja Jungkook bisa bersikap semanis itu padanya.

"Aku pergi" ucap Jungkook kembali dingin. Namja itu mencium kening Yoogeun kemudian menyambar tas kerjanya dan berjalan keluar.

Tanpa mengatakan apapun lagi pada istrinya.

Di mobil Jungkook berulang kali mengirim pesan lewat kakao talk pada mahasiswa paling spesial-nya. Keningnya berkerut saat lagi-lagi tak mendapat balasan dari yang bersangkutan.

"Kemana dia? Kenapa lama sekali membalas pesanku?" gumam Jungkook.

Akhirnya Jungkook memutuskan untuk menelepon nomor Kim Taehyung. Nada sambung yang terdengar di telinga semakin membuatnya khawatir. Jungkook kembali mencobanya. Namun masih sama. Masih suara operator yang menjawabnya. Dan di percobaan ketiga akhirnya telepon itu diangkat.

"Halo" Jungkook mengernyitkan keningnya saat mendengar suara serak itu. Kemudian disusul dengan bersitan hidung dan batuk.

"Taehyungie? Kau oke?"

"Oh, professor Jeon -hatchi-. Maafkan aku, kurasa aku tak bisa konsultasi dengan professor hari ini. Mungkin juga untuk 2-3 hari berikutnya. Sungguh maafkan a-hatchi-ku professor"

Jika tadi dia sedikit kesal, maka sekarang Jungkook jadi khawatir dengan keadaan mahasiswa bimbingannya itu. Sepertinya Taehyung sakit sejak tiga hari lalu karena selama itu Jungkook tak melihat Taehyung berkeliaran di kampus.

"Apartemenmu nomer berapa?" tanya Jungkook langsung.

Jungkook tau dimana letak gedung apartemen Taehyung namun dia tak tau Taehyung tinggal di apartemen nomer berapa. Namja manis itu tak pernah memberitahunya.

Jungkook semakin cemas saat mendengar suara batuk dan bersin yang beruntun di seberang teleponnya. Sungguh sepertinya kondisi Taehyung cukup parah.

"Tae?"

"Lantai 5 nomer 301" akhirnya Taehyung menjawab. Jungkook langsung mematikan sambungn teleponnya kemudian menghubungi rekannya yang mengajar satu mata kuliah yang sama.

"Yoboseyo Profesor Hwang, ah maaf merepotkan tapi bisakah professor menggantikan semua jadwal mengajarku hari ini? Aku…ada urusan mendesak" ucap Jungkook cepat. "Hanya 2 kelas professor" Jungkook benar-benar berharap orang yang dipanggilnya professor Hwang itu bersedia.

"Ah baiklah. Kebetulan aku hanya ada satu kelas siang nanti. Tapi nanti kau harus datang rapat nanti Profesor Jeon"

Jungkook lupa dia ada rapat dengan semua dosen sore ini,"Ne Profesor. Jeongmal kamshahamnida professor Hwang" ucapnya sopan.

Jungkook segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul menuju kompleks apartemen Taehyung yang cukup jauh dari rumahnya. Normalnya, Jungkook memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke apartemen Taehyung.

Sebelum sampai ke gedung apartemen Taehyung, Jungkook terlebih dahulu mampir ke supermarket untuk membeli berbagai macam bahan makanan dan bahan-bahan membuat bubur. Entah kenapa dia sangat ingin merawat Taehyung.

Setelah berbelanja, Jungkook kembali menelepon Taehyung. Dia ingin memastikan namja itu masih berada di kamar apartemennya. Jika memungkinkan juga Jungkook akan menanyakan password apartemen Taehyung nanti.

"Taehyungie, kau di apartemen?" tanya Jungkook begitu Taehyung mengangkat teleponnya.

"Ne" Jungkook sungguh tak bisa mendengar suara serak menyakitkan itu.

"Apa password apartemenmu?" tanya Jungkook lagi.

"Kenapa kau menanyakan password apartemenku?" Taehyung menggerutu sebal. "Kepalaku pusing prof, jadi biarkan aku tidur" rengeknya.

Kalau saja Taehyung tidak dalam kondisi sakit, mungkin Jungkook akan mati gemas menghadapi tingkah namja 22 tahun itu. Sayangnya semua perasaan gemas itu berganti dengan perasaan khawatir. Yeah, Jeon Jungkook khawatir dengan kondisi mahasiswanya.

Terkadang, kebersamaannya dengan Taehyung membuat Jungkook melupakan statusnya sebagai dosen dan status Taehyung sebagai mahasiswa bimbingannya. Juga statusnya yang sudah memiliki istri dan seorang anak berusia 3 tahun.

"-hatchi- kau bisa meneleponku lagi nanti jika professor sudah di depan apartemenku. Annyeong" dengan tidak sopannya Taehyung memutus sambungan teleponnya.

Bukannya marah tapi Jungkook justru semakin cemas. Walau masih satu bulan saling mengenal, tapi Jungkook tau Kim Taehyung bukan orang selancang itu. Dia masih tau sopan santun bahkan menjunjung tinggi tata kramanya. Satu poin yang membuat Jungkook tertarik padanya.

"Separah apa sakitnya anak itu" gumamnya kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen Taehyung.

.

.

Taehyung menggerutu setelah menerima telpon dari dosen pembimbingnya. Dia heran kenapa pria itu jadi sangat cerewet. Kepalanya jadi semakin pusing.

Taehyung teringat bubur yang sudah disiapkan Jimin. Dia ingin memakan bubur buatan sahabatnya itu namun tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Bergerak sedikit saja kepalanya luar biasa pening. Belum lagi hidungnya yang mampet namun gatal. Tubuhnya yang kedinginan padahal suhu tubuhnya tinggi.

Rasanya dia tak pernah sakit separah ini. Ingatkan Taehyung untuk lebih menghindari hujan.

"Aaa~ eomma~~" rengeknya sebal.

Namja manis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal lapis tiga. Dia benci seperti ini. Dia lapar tapi tak sanggup bangkit.

Air mata Taehyung menetes. Matanya terasa sangat panas jadinya cairan bening itu meluncur begitu saja. Tubuhnya menggigil dengan intensitas bersin yang tidak main-main.

"Apa orang itu akan datang?" gumam Taehyung. "Apa aku perlu meminta bantuannya? Aaa tidak-tidak. Lebih baik menunggu Jimin saja" gerutunya.

.

.

Jungkook datang tujuh menit lebih cepat dari yang seharusnya. Namja itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan kekalutan luar biasa. Jas hitamnya dia tinggal di mobil. Jadi dia naik ke apartemen Taehyung hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, celana kain hitam dan sepatu pantofel hitam mengkilat.

Di kedua tangan kekarnya ada bungkusan belanjaan bahan makanan dan juga obat-obatan untuk Taehyung. Jungkook sudah memutuskan tidak akan mengajar hari ini. Dia akan mengurusi Taehyung kemudian rapat dan kembali mengurus namja itu setelah selesai rapat.

Mengingat ucapan Taehyung tadi, Jungkook segera menelepon namja manis itu. Tentu saja agar namja itu membuka pintunya.

"Yoboseyo" suara Taehyung terdengar.

"Aku di depan apartemenmu. Beri tau aku password apartemenmu" Jungkook masih memaksa. Dia tak ingin membuat Taehyung kesusahan hanya untuk membuka pintu apartemennya.

"Cepat sekali. Tunggu sebentar" ucap Taehyung.

Jungkook masih menempelkan ponselnya di telinga karena Taehyung belum memutus sambungan telepon mereka. Jungkook jadi mendengar suara gemerasak disana. Sesekali terdengar Taehyung mendesis kesakitan.

"Ugh!"

DUK!

"Tae? Ada apa ?" Jungkook panik.

"Tidak apa-apa prof"

Jungkook menanti dengan cemas. Apa membuka pintu ini membutuhkan waktu lama? Apa jarak kamar dan pintu utama ini selebar lapangan sepak bola? Jungkook terus menggerutu dalam hati.

Kemudian terdengar suara kunci pintu terbuka setelah tiga menit, Jungkook menghitungnya. Dan saat pintu terbuka, pemandangan yang dilihat Jungkook pertama kali adalah kondisi mengenaskan Kim Taehyung.

Rambutnya acak-acakan. Wajahnya sangat pucat. Mata dan hidungnya juga merah. Sesekali Taehyung menyedot ingusnya kuat-kuat kemudian terbatuk.

"Kenapa professor disini?" tanya Taehyung pelan.

Jungkook langsung masuk. Meletakkan semua barang bawaannya di lantai. Mengunci pintu apartemen. Dan…

Sret~

"Uwooo"

…menggendong Taehyung.

"Kau harus istirahat"

Taehyung diam saja. Alasannya karena tubuhnya terlalu lemah untuk mendebat Jungkook. Dan juga jantungnya yang mendadak berdegup kencang.

Jungkook meletakkan tubuh Taehyung dengan perlahan di atas ranjang empuk milik namja manis itu. Tangannya menempel di dahi Taehyung yang berkeringat. Matanya membola saat merasakan suhu tubuh Taehyung sangat panas.

"Astaga panas sekali"

Taehyung kembali bergelung dengan selimutnya, "Eomma~ sakit~" rengeknya lagi.

Tanpa pikir panjang, Jungkook menyusup ke dalam selimut Taehyung. Mendekap tubuh kurus itu dengan lembut. Mengelus punggung mahasiswanya dengan pelan. Mencoba menyamankan Taehyung.

"Pantas saja selama tiga hari ini aku tidak melihatmu di kampus. Ternyata kau sakit" gumam Jungkook.

"Profesor Jeon" panggil Taehyung.

"Ne? Apa kau perlu sesuatu? Atau ada yang sakit?" Jungkook memandang Taehyung dengan cemas. Tangannya menyingkirkan poni Taehyung yang menempel manis di dahinya.

Taehyung menggeleng dengan bibir manyun. Jika dikondisi normal, Jungkook pasti akan mencapit dan menarik bibir itu seperti biasanya. Sayangnya saat ini Taehyung sedang sakit.

"Aku lapar tapi kepalaku sakit sekali" Taehyung kembali merengek. Dia memang cenderung manja jika sedang sakit.

Jungkook tersenyum, "Tunggu sebentar ne. Aku akan memasakkan bubur untukmu"

Taehyung menggeleng imut. Jungkook mengerutkan keningnya.

"Jimin sudah memasak bubur untukku"

Jungkook diam. Ada sesuatu yang membuatnya tak menyukai ucapan Taehyung barusan. Jimin mendahuluinya.

"Tunggu disini. Akan kuambilkan" Jungkook mengacak rambut Taehyung sebelum melesat ke dapur.

Di dapur, Jungkook melihat ada semangkok bubur yang masih mengepulkan asap. Jungkook sedikit mencicipi masakan teman Taehyung itu. Kemudian dia membawanya ke kamar bersamaan dengan segelas air.

Taehyung sedang merapatkan selimutnya saat Jungkook masuk ke kamar. Namja berusia 30 tahun itu hanya memandang khawatir ke gundukan selimut.

"Tae, ayo makan"

Mendengar kata makan, kepala Taehyung menyembul. Dengan perlahan dia berusaha duduk. Jungkook segera meletakkan nampan yang dibawanya dan membantu Taehyung bangkit. Membiarkan Taehyung bersandar padanya.

Dengan telaten Jungkook menyuapi Taehyung dengan posisi Taehyung yang bersandar pada dadanya. Itu membuat Jungkook harus menunduk dalam agar sendok itu pas masuk ke dalam mulut Taehyung. Walau sedikit sulit, tapi Jungkook berhasil membuat Taehyung memakan setengah lebih dari porsi bubur itu.

"Minum obatmu. Lalu nanti kita ke dokter" ucap Jungkook lembut.

Taehyung menggeleng, "Aku sudah janji dengan Jimin untuk pergi ke dokter bersamanya, prof"

"Apa bedanya pergi ke dokter dengan Jimin atau denganku?!" Jungkook tanpa sadar meninggikan suaranya.

"Aku tidak mau merepotkan professor Jeon" cicit Taehyung, takut.

Jungkook menghela nafas kemudian menyodorkan obat yang dibawanya ke hadapan Taehyung. Dengan wajah merengut lucu, Taehyung meminum obatnya. Kemudian namja manis itu kembali berbaring saat merasakan kepalanya kembali pusing.

Jungkook menyelimuti Taehyung dengan selimut tebal. Tangan kekarnya mengelus dahi pemuda itu. Membuat Taehyung memejamkan matanya dan bergelung manis. Jungkook tersenyum tipis.

Dia bangkit menuju dapur untuk meletakkan sisa makanan Taehyung sekaligus mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompres Taehyung. Jungkook beruntung karena Taehyung meletakkan barang-barang di rumahnya dalam posisi yang mudah dijangkau mata.

"Tae, apa kau punya thermometer?"

"Laci meja prof" gumam Taehyung.

Jungkook mengambil thermometer di tempat yang ditunjuk Taehyung. Kemudian dia mengompres dahi Taehyung dengan telaten. Jungkook tidak langsung mengukur suhu tubuh Taehyung karena namja itu baru saja selesai makan. Dia akan menunggu sekitar 30 menit untuk melakukannya.

Selama menunggu, Jungkook memperhatikan sosok namja manis yang terkulai lemah di atas ranjang. Rasanya sedikit aneh melihat Kim Taehyung yang selalu penuh energy kini malah terkapar lemah.

Tangan Jungkook terulur untuk mengusap rambut Taehyung. Sesekali mengganti kompresan dengan air yang baru. Setelah tiga puluh menit berlalu, Jungkook memasukkan ujung thermometer ke dalam mulut Taehyung. Menunggu sekitar lima belas menit sebelum mengambil benda pengukur suhu itu.

Tigapuluh Sembilan koma lima derajat celcius.

"Astaga tinggi sekali" gumamnya gusar.

Taehyung menggerung sebal sebelum akhirnya berpindah posisi menjadi menyamping. Jungkook masih mengelus rambut halus Taehyung. Matanya memancarkan kekhawatiran.

"Cepat sembuh Tae"

.

.

14.00 KST

Sudah sekitar lebih dari 6 jam Jungkook ada di apartemen Taehyung. Dengan setia dan telaten, Jungkook mengompres Taehyung. Memastikan namja manis itu merasa nyaman. Memeluknya saat Taehyung mulai merengek kedinginan.

"Profesor Jeon tidak mengajar?" tanya Taehyung.

Saat ini mereka sedang dalam posisi berpelukan dan berhadapan. Jungkook sesekali mengusap peluh yang mengalir di dahi Taehyung.

"Tidak ada kelas"

Taehyung mencibir, "Kau kira aku tak tau jadwal mengajar professor? Aku bahkan hafal kapan professor mengajar, kapan professor hanya akan berdiam diri di ruangan seperti anak ayam"

Jungkook tertawa mendengar perumpamaan yang dipakai Taehyung. "Kenapa anak ayam?"

"Entah. Hanya itu yang terpikirkan olehku"

Jungkook mencubit hidung mancung mahasiswanya. Membuat Taehyung mengerang protes. Jungkook terkekeh kemudian kembali mendekap Taehyung.

"Istirahatlah"

"Kau sudah mengatakan itu ratusan kali dan sudah kulakukan, professor. Aku lelah istirahat terus" gumam Taehyung.

"Makanya jangan sakit"

Taehyung mengerucutkan bibirnya, "Profesor tidak ada kegiatan atau jadwal apapun? Kenapa sedari tadi berada disini?"

"Kau tidak suka aku disini?"

"Aku hanya bertanya. Lagipula aku akan merasa bersalah jika professor terus menerus disini sedangkan kau masih ada kelas"

"Kalau aku pergi, siapa yang akan menemanimu?"

"Ada Jimin professor. Sebentar lagi dia pasti pulang" gumam Taehyung kemudian merapatkan dirinya ke dalam pelukan Jungkook.

Jungkook terkekeh. Taehyung tadi terkesan mengusirnya, tapi lihat sekarang, namja manis itu malah seolah enggan melepas pelukannya.

"Baiklah. Aku akan pergi setelah Jimin pulang. Tapi berjanjilah kau akan ke dokter"

"Astaga sejak kapan professor jadi secerewet ini?" suara Taehyung meninggi kemudian terbatuk tiba-tiba.

Jungkook menepuk-nepuk punggung namja manis itu dengan lembut. Berusaha meredakan gelombang batuk Taehyung yang tak main-main. Taehyung jadi sedikit sesak nafas karena batuk.

Jimin datang tepat pukul 14.15. Matanya sempat menangkap Jungkook yang mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang Taehyung. Dia juga melihat tangan Jungkook yang mengusap rambut Taehyung dengan lembut.

"Oh professor Jeon?" sapa Jimin basa-basi.

Jungkook mengangguk dan tersenyum tipis pada Jimin.

"A-apa professor Jeon sudah lama disini?" tanya Jimin.

"Lumayan. Tadinya hanya menjenguk Taehyung karena sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya. Lalu saat kulihat dia sendirian, jadi kuputuskan menemaninya sampai kau datang"

Jimin tersenyum lega mendengar ucapan Jungkook. Dia lega ada yang membantunya menjaga Taehyung. Jujur saja, sejak tadi dia sangat tidak konsentrasi di kelas karena memikirkan Taehyung.

"Jeongmal kamshahamnida professor" ucap Jimin.

Jungkook tersenyum, "Tak masalah. Ah! Karena kau sudah pulang, jadi aku pamit. Ada rapat yang tak bisa kutinggalkan"

Jimin mengangguk. Kemudian dia berdiri untuk mengantar Jungkook keluar. Sebelum keluar dari kamar Taehyung, Jungkook sempat melihat ke arah mahasiswanya yang masih bergelung memprihatinkan.

"Jimin-sshi, tolong jaga Taehyung. Demamnya cukup tinggi. Antar dia ke dokter. Dia menunggumu sedari tadi" jika Jimin jeli, dia pasti mendengar nada ketus yang samar saat Jungkook mengucapkan kalimat terakhirnya tadi.

Sayangnya Park Jimin kurang peka untuk menangkap nada tidak suka yang keluar dari mulut Jeon Jungkook itu. Namja asal Busan itu hanya mengangguk mengiyakan perkataan Jungkook. Hell, memangnya apa lagi yang bisa dia katakan?

Setelah memastikan Jungkook hilang dari jangkauan pandangnya, Jimin kembali ke kamar Taehyung. Melihat sahabatnya terkapar lemas begitu membuat Jimin meringis sedih. Taehyung tak pernah sakit separah ini.

"Tae, kajja kita ke dokter" Jimin menepuk pipi lembut Taehyung dengan pelan.

Taehyung melenguh, "Sebentar lagi, Chim. Kepalaku masih pusing"

"Baiklah. Istirahat sebentar. Kalau kau masih belum bisa bangkit, aku akan menelpon dokter kemari" Jimin mengusap kening Taehyung.

"Tidak tidak. Aku bisa berdiri, hanya saja tunggu sebentar"

"Tidak apa-apa, Tae. Jangan memaksakan diri"

.

.

Hate You Love You

.

.

Dan pada kenyataannya, Jeon Jungkook tak bisa fokus pada rapat yang dihadirinya. Raganya mungkin ada di rapat. Mungkin juga dia bisa sesekali memberi masukan dan tanggapan. Namun percayalah, sebagian besar diri Jungkook berkata untuk segera mengakhiri rapat ini.

Tapi Jungkook tak bisa meninggalkan rapat ini begitu saja. Rapat kali ini membahas tentang mahasiswa yang sedang menjalani tugas akhirnya. Tentu saja Taehyung termasuk. Dan ini yang membuat Jungkook tak bisa lari dari rapat.

"Usahakan, paling tidak akhir tahun ini, mahasiswa angkatan akhir bisa wisuda. Banyak perusahaan yang sudah menghubungiku untuk segera menyiapkan lulusan-lulusan terbaik dari sini" ucap sang rektor.

"Tapi, apa tidak terburu-buru? Sedangkan banyak mahasiswa tingkat akhir yang baru memulai penyusunan tugas akhir mereka"

"Tentu saja tidak. Aku-blablabla-"

Jungkook sudah tidak bisa lagi menangkap isi pembicaraan mereka. Kepalanya pusing karena kekhawatirannya pada Taehyung. Dia ingin segera kembali ke apartemen Taehyung dan mengecek sendiri keadaan namja manis itu.

Jangan tanyakan Jungkook kenapa. Dia juga tak tau kenapa dia merasa amat sangat khawatir pada keadaan namja itu. Jungkook merasa dia terkadang bertindak luar biasa irasional jika menyangkut Taehyung.

"Profesor Jeon?"

Jungkook tersentak saat mendengar rekannya menepuk pundaknya sambil memanggilnya. Dan seketika dia merutuk saat melihat seluruh peserta rapat melihat ke arahnya.

"Ya?"

"Kau baik-baik saja? Kulihat kau gelisah sekali"

Jungkook tersenyum kecil kemudian mengangguk, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja"

.

.

Rapat selesai tepat pukul 8 malam. Sebenarnya hanya sampai pukul 6.30, namun pimpinan mereka ingin makan malam bersama. Jungkook tak bisa menolak walau dia sangat ingin segera pergi ke apartemen Taehyung. Taehyung tidak membalas pesannya, maka dari itu Jungkook jadi khawatir.

Begitu dia sampai disana, Taehyung dan Jimin baru saja memasuki lift. Jungkook berlari menahan pintu lift itu. Sepenuhnya mengabaikan tatapan terkejut Jimin dan Taehyung. Beruntung hanya mereka bertiga disana jadi Jungkook tak akan menimbulkan kehebohan karena dia memeluk Taehyung erat.

"Pro-profesor Jeon?" ucap Taehyung gugup.

"Lega rasanya melihatmu" gumam Jungkook pelan.

"Profesor jangan dekat-dekat denganku. Nanti bisa tertular" ucap Taehyung.

Jungkook melepas pelukannya. Tapi sebagai gantinya dia merangkul pinggang ramping Taehyung. Matanya menatap Jimin yang masih menatap mereka berdua dengan tatapan bingung.

"Nah Jimin-sshi, apa Taehyung sudah ke dokter?"

"Hah? Oh, ne professor. Kami baru saja datang dari dokter. Dokter mengatakan Taehyung terserang vertigo. Dan, dia harus istirahat dalam beberapa hari sampai kondisinya benar-benar fit. Tapi…" Jimin menjeda kalimatnya.

"Tapi?"

"Taehyung masih memiliki beberapa mata kuliah untuk perbaikan, professor"

"Biar aku yang mengurus perijinannya"

Ting!

Begitu pintu lift terbuka, Jungkook langsung menggendong Taehyung. Mengabaikan pekikan terkejut namja manis yang sedang sakit dan tatapan kagum dari Jimin. Jimin melihat Jungkook benar-benar mengabaikan protesan lemah Taehyung.

"Istirahat. Jangan pikirkan proposalmu. Aku akan membantumu saat kau sudah benar-benar sembuh" ucap Jungkook saat menyelimuti Taehyung. "Aku tidak menerima penolakan Kim Taehyung" ucapnya saat melihat Taehyung membuka mulut.

"Aish, jangan bercanda professor" omel Taehyung. "Bagaimana bisa aku tidak memikirkan proposalku, sedangkan masih banyak yang harus kukerjakan"

"Sampai mana proses pengerjaannya?"

"Bab 4"

"Demi Tuhan hanya 2 bab lagi. Jadi istirahatlah. Aku janji akan membantumu mengerjakan itu semua. Bulan depan aku pastikan kau sudah mulai penelitianmu"

"MWO?!"

.

.

Hate You Love You

.

.

Beruntunglah tiga hari kemudian Taehyung sudah pulih sepenuhnya. Dengan paksaan dan rengekan serta bukti dengan lompat-lompat, Taehyung akhirnya bisa meyakinkan Jimin jika dia sudah sembuh. Jimin bersikeras menyuruhnya istirahat satu hari lagi.

"Aku benar-benar sudah sembuh" ini sudah kesekian kalinya Taehyung berkata begitu.

"Kau yakin? Kepalamu tidak pusing? Tidak ada yang sakit?"

Taehyung menangkupkan kedua pipi Jimin dan memandangnya lekat-lekat, "Lihat aku. Apa wajahku pucat? Apa aku masih terlihat kesakitan?"

Jimin memandangi Taehyung lekat-lekat. Well, jujur saja, Taehyung jadi sedikit gugup dibuatnya. Tatapan Jimin begitu intens.

"Ternyata kau memang sangat cantik, Tae"

"YA!" Taehyung melepas tangannya dari pipi Jimin. Mengumpati namja itu. Dia berdebar sedari tadi dan Jimin malah berkata yang jauh melenceng dari topik perdebatan mereka.

Jimin tertawa melihat Taehyung mengumpatinya. Taehyung memang sudah sembuh sejak kemarin. Dan Jimin hanya ingin memastikan lagi sekaligus menggoda namja yang sudah dianggapnya adik itu.

Mereka seumuran –hanya selisih beberapa bulan-. Tapi Jimin merasa seolah usia Taehyung jauh dibawahnya. Rasa gemas dan rasa ingin melindungi Taehyung begitu besar dirasakan Jimin. Jimin bersumpah akan menjaga senyuman Taehyung agar tetap terlihat begitu manis.

"Kajja kita berangkat" ucap Jimin.

"Kau akan mengantarku?" mata Taehyung berbinar-binar lucu.

"Tentu saja. Lagipula aku juga akan melakukan sedikit konsultasi dengan Profesor Jung. Kau tau Tae, minggu depan aku akan presentasi usulan penelitianku"

"Whoaaa~ chukkae" Taehyung memeluk erat tubuh sahabatnya. "Aku akan datang mendukungmu"

"Harus. Kau harus datang mendukungku" Jimin mengacak rambut sang sahabat. "Kajja kita berangkat"

.

.

Sesampainya di kampus, Taehyung langsung memasuki kelas yang akan diikutinya pagi ini. Bersyukurlah ini bukan kelas Jeon Jungkook. Ngomong-ngomong soal dosen pembimbingnya itu, Taehyung belum mengabarkan jika dia sudah masuk kampus.

"Toh kami pasti akan bertemu di kampus kan" gumamnya.

Dua jam kemudian Taehyung keluar kelas. Sebagai ganti absennya minggu lalu, dosennya memberikan tugas. Tak masalah karena Taehyung memang sudah memperkirakannya.

"Masih pukul 10. Kurasa lebih baik aku ke ruangan professor Jeon. Pasti pekerjaannya sedikit menumpuk"

Dan benar saja. Begitu Taehyung tiba di ruangan itu, keadaannya jauh berbeda dengan terakhir kali Taehyung masuk. Berkas milik Jungkook sedikit terhambur. Bahkan mejanya sedikit berdebu.

Tanpa mengatakan apapun, Taehyung mengambil kain lap yang selalu dia simpan di bawah meja kerja Jungkook. Membersihkan sedikit ruangan itu dan merapikannya. Sesekali dia akan bersenandung kecil.

Cklek~

"Oh, kau baru datang professor?"

Jungkook, orang yang baru saja datang, melongo di depan pintu. Taehyung mengerutkan keningnya bingung. Dia sempat berpikir jika Jungkook kerasukan setan pintu.

Taehyung melonjak saat tiba-tiba Jungkook menutup pintunya dengan keras dan mengunci dari dalam. Dan belum sempat Taehyung bertanya, Jungkook sudah memeluknya erat.

"Aku mencarimu daritadi. Kau tau, aku bahkan tidak bisa berpikir tenang saat mengajar"

"Ma-maafkan aku" Taehyung tak tau kenapa dia harus mengatakan maaf.

"Harusnya kau mengabariku jika kau masuk kuliah" ucap Jungkook sambil menangkupkan pipi Taehyung.

Taehyung mengerjapkan matanya bingung. Dia tak tau jika kabar darinya sangat penting bagi Jungkook. Dia hanya berpikir mungkin lebih baik jika dia langsung masuk kuliah saja.

"Kajja duduk. Dan, apa kau yang membersihkan ruanganku?" tanya Jungkook setelah mendorong Taehyung untuk duduk di sofa.

"Eum, ne. Aku tak bisa bekerja jika ruangannya kotor" ucap Taehyung polos.

Jungkook memandang Taehyung lekat, "Kau asistenku, bukan pembantuku. Kau juga mahasiswaku jadi jangan lakukan pekerjaan seperti ini lagi. Bukankah aku sudah mengatakan jika tugasmu hanya membantuku mengoreksi nilai dan menemaniku?"

Taehyung diam. Jungkook memang pernah mengatakan hal itu. Sang namja manis menunduk dalam, takut menatap Jungkook. Lebih tepatnya takut jantungnya akan bergemuruh karena tatapan Jungkook ini.

"Kau sudah makan?" tanya Jungkook tiba-tiba.

"Hah? Oh, sudah. Apa professor Jeon belum makan?"

Jungkook menggeleng. "Tadinya aku ingin makan bersamamu dan Jimin di apartemen. Tapi apartemen kalian kosong"

"Astaga! Professor gila. Demi Tuhan ini sudah jam 10.15 dan kau belum makan pagi?!" Taehyung memelototkan matanya.

Jungkook terkekeh, "Apa kau ada kelas setelah ini?"

"Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan"

"Aku bertanya Kim Taehyung. Apa kau ada kelas setelah ini?" Jungkook mengulangi pertanyaannya.

"Tidak ada. Aku hanya perlu mengerjakan tugasku sebagai pengganti absenku minggu lalu" Taehyung menjawab ketus. "Jadi—"

"Temani aku makan"

"Mw-mwo?" Taehyung tak sempat berkata apa-apa lagi karena Jungkook sudah menarik tangannya.

Memangnya Taehyung bisa apa jika Jungkook sudah menarik tangannya seperti ini?

Dan sekali lagi mereka tidak melihat seseorang memotret mereka dari belakang. Memotret dari awal mereka berjalan di parkiran sampai ke dalam mobil. Bahkan orang itu juga mengikuti mereka dengan menggunakan mobil yang terparkir di depan kampus.

.

.

Jungkook memesan tempat yang lebih privat. Sebuah ruangan khusus yang hanya untuk mereka berdua. Taehyung sudah bertanya kenapa dan Jungkook hanya berkata jika dia hanya ingin makan di tempat yang lebih privat.

"Sudah sejauh mana usulan penelitianmu?"

"Eum? Aku sudah mulai mengerjakannya prof. Hanya saja ada kendala di tempat penelitianku nanti. Sejujurnya aku masih belum menemukan tempat yang cocok"

"Tae, dengarkan. Tahun ini adalah tahun terakhirmu disini. Dan pihak kampus menargetkan semua mahasiswa tingkat akhir harus lulus tahun ini, kau sanggup?"

Taehyung tersenyum, "Memang harus tahun ini kan ? Sejujurnya targetku juga begitu prof. Tahun ini aku akan lulus dan kembali ke Daegu kemudian mengabdi disana"

"Kau tidak mau menetap disini? Maksudku mencari pekerjaan disini?"

"Tidak"

Dan jawaban itu cukup membuat Jeon Jungkook tertegun.

.

.

Hate You Love You

.

.

Seorang wanita manis menggenggam erat ponselnya. Matanya menyorot tajam. Raut wajahnya mengeras.

"Siapa orang itu? Bagaimana mungkin Jungkook lebih suka menghabiskan waktunya dengan namja?"

"Aku harus menyelidikinya lagi"

.

.

.

TBC

.

.

Ngga jelas? Sengaja xD
Alurnya mungkin lambaaaat banget. Maafkan diriku kalo ini makin ngga jelas. Aku cuman rada stuck gimana caranya biar konflik mereka secara perlahan muncul ke permukaan /uasek

Intinya chapter awal awal ini cuman pembuka (?)

Mungkin kalian bisa kasih masukan mau diapain hubungan jeka sama taetae /eaaa

Jangan ragu protes atau apapun selama itu masih pake bahasa yang baik ^^

Aku ngga gigit kok xD

Paipai

Big love, clou3elf