Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Manga Goong disclaimer by Park So Hee
Based on Princess Hours series (Korean version)
Blue Bird in the Cage by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Drama, Family, Angst
Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fuji Syusuke)
Warning : AU, OOC, typos, etc. Gak nyontek banget, disesuaikan dengan kondisi karakter dan keinginan Author-sama. :^) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
#4 Accepting (Part 1)
Hari sudah siang ketika Fuji Syusuke sampai di depan gerbang mewah berbahan kayu setinggi kurang lebih tiga meter. Ia menatap takjub di balik kaca mobil karena jarang sekali bisa melihat rumah bergaya tradisional khas zaman edo kalau bukan saat dirinya ikut karyawisata. Tangannya gatal ingin memotret luar gerbang itu dengan kamera DSLR kesayangan, namun Fuji ingat bahwa ia datang ke sini dengan tangan kosong. Bahkan terkesan buru-buru karena alasan darurat.
Pemuda itu menghela napas. Benaknya memutar kejadian beberapa jam yang lalu ketika ia menjenguk sang kakek di rumah sakit. Dokter yang selama ini merawat kakeknya, Murakami-sensei mengatakan sesuatu.
"Keadaan Fuji Kousuke-san bisa memburuk jika dibiarkan begitu saja seperti ini. Secepatnya beliau harus operasi transpalantasi jantung."
Murakami-sensei juga memberitahu bahwa ada pendonor yang dirasa cocok dengan jantung sang kakek. Meski hal itu masih fifty : fifty karena cocok tidaknya jantung tersebut baru bisa diketahui setelah dilakukan operasi. Secepatnya keluarga Fuji melakukan mediasi dengan pihak keluarga pendonor dan setuju. Restu sudah di tangan, namun permasalahan yang paling fatal muncul.
Pihak rumah sakit tidak bisa melakukan operasi jika tidak dibayar minimal seperempat biayanya. Memang terdengar tidak manusiawi, tapi itu sudah tertulis dengan jelas dalam formulir pasien yang ditanda tangani oleh ayahnya tahun lalu. Mereka berusaha tidak menyalahi aturan walau nyawa menjadi taruhan.
Dan di sinilah Fuji berada. Di depan rumah kediaman calon suami dengan harapan keluarga Tezuka mau membantunya urusan finansial. Tentu ia sadar, harapannya tersebut juga berarti harus merelakan sesuatu sebagai balasannya.
Gerbang pun dibuka oleh satpam, memperlihatkan rumah elit milik keluarga Tezuka. Mobil yang ditumpangi Fuji memasuki pekarangan rumah, mengikuti jalur khusus mobil menuju depan rumah utama. Fuji menggigit bibir bawahnya pelan. Entah kenapa melihat rumah mewah namun kental akan budaya tradisional Jepang itu membuat keputusannya sedikit goyah. Dirinya tahu konsekuensi yang akan diterima jika menjadi menantu keluarga Tezuka sejak awal, makanya ia menolak keras (walau ada banyak alasan juga yang membuatnya bersikap demikian).
Ia menarik napas lalu membuangnya perlahan lewat mulut. Konsekuensi itu harus diambil demi keselamatan sang kakek. Fuji tidak mau kehilangan sosoknya tanpa ada usaha sama sekali.
Biarlah masa depannya menjadi fotografer profesional menjadi angan belaka asalkan orang terkasih terus ada di sisinya.
Pekerja yang beberapa hari lalu datang ke rumahnya, Inui Sadaharu, membuka pintu mobil. Dengan sungkan Fuji keluar dari mobil sambil merapikan kerah kemeja soft blue dan sweater polos berwarna biru tuanya. Begitu ia berdiri tegak, pemuda itu menunduk dan merapikan celana bahan yang senada dengan warna rambutnya, cokelat muda. Fuji berjongkok seraya mengambil beberapa lembar tisu dari kantung celana untuk membersihkan sepatu pantofel yang sempat ingin ia lemparkan ke calon suaminya dulu. Mengingatnya membuat Fuji tertawa masam.
Sepertinya aku sudah gila karena mau menikahi pemuda brengsek macam Tezuka Kunimitsu, pikirnya galau.
"Fuji Syusuke-sama, Anda tidak apa-apa?" tanya Inui khawatir.
Yang ditanya menggeleng pelan. "Tidak apa, aku hanya mengingat hal lucu."
Ekspresi Inui mengatakan ia tidak percaya tapi hanya bisa mengangguk. Pria yang sudah hampir berumur kepala tiga itu memimpin perjalanan. Tanpa pemberitahuan maupun salam, ia langsung membuka pintu utama lalu mempersilakan Fuji masuk. Beberapa pelayan yang berada di ruang tamu membungkuk hormat dan membuat sang tamu kikuk sendiri.
"Silakan duduk, Fuji-sama. Saya akan panggilkan Ayana-sama kemari."
Fuji menurut, sementara Inui pergi. Seorang pelayan menaruh teko dan dua cangkir serta alas berupa piring kecil ke atas meja. Sepiring dango dan sakura mochi menjadi teman minum tehnya. Pemuda itu berucap terima kasih sebelum sang pelayan pergi ke arah yang sama dengan Inui tadi.
Rasa gugup menyerang Fuji. Ia berusaha menenangkan diri dengan menarik napas lalu membuangnya secara teratur. Kedua bola mata birunya melirik ke seluruh penjuru ruangan. Decak kagum lolos dari bibir seraya bangkit dari sofa. Perlahan kakinya melangkah memutari ruangan dengan pandangan fokus pada benda-benda yang tergantung di dinding serta diletakkan begitu saja di atas maupun dalam lemari. Ia tersenyum geli ketika melihat foto-foto yang diyakini adalah Tezuka saat pemuda itu masih kecil, bahkan ada yang saat ia masih bayi dan digendong sang ibu.
Langkah kakinya terhenti tepat di depan sebuah guci keramik bergambar bunga sakura dan berukuran sekitar setengah meter. Guci itu dibiarkan berdiri tegak di atas meja setinggi satu meter. Tangan Fuji menyentuh guci dan merabanya. Ia kagum dengan warna sakura yang terlihat cantik serta menyatu dengan warna dasar langit berawan.
"Fuji-sama, Ayana-sama telah tiba."
Karena kaget, tangannya mendorong guci tersebut hingga oleng. Beruntung, kedua tangannya berhasil menangkap guci secara reflek. Fuji bergumam 'save' sambil menghela napas lega.
Inui dan Ayana memperhatikan sosok Fuji yang berdiri membelakangi mereka. Sang nyonya pemilik rumah terlihat penasaran dengan apa yang terjadi, namun di kepalanya mulai menduga-duga. Begitu tamunya berbalik, mata Ayana tak pernah lepas dari wajah Fuji yang tertawa canggung.
"Maaf, saya tak sengaja menyenggol guci Anda barusan," ucapnya jujur.
Ayana tersenyum. Untuk kesan pertama, ia sudah menyukai sikap calon menantunya yang jujur. "Tidak apa. Itu karena Inui-kun mengagetimu, kan?"
Begitu namanya disebut, Inui reflek membungkuk. "Maaf, saya tidak tahu."
"Ti-tidak apa-apa, Inui-san." Fuji berjalan pelan menuju sofa dimana ia duduk tadi.
Setelah Ayana duduk, sang tamu ikut duduk di sofa yang sama. Tanpa peringatan, tangan kanan wanita itu menyentuh pipi Fuji yang langsung ditatap bingung. "Ternyata wajahmu lebih cantik dibanding di foto," pujinya jujur.
"A-arigatou?" Fuji tidak tahu harus berterimakasih atau tersinggung.
"Jadi, apa kau mau menerimanya?" tanya Ayana to the point sambil meletakkan kedua tangan di atas lutut.
Sekarang atau tidak sama sekali, Syusuke, pikirnya.
Fuji menunduk sedikit seraya memejamkan mata. "Ya, saya menerimanya."
"Kudengar kau menolaknya di awal, kenapa sekarang berubah pikiran?"
Ini dia... Fuji melirik sebentar lalu menggigit bibir bawah. "Saya... menerimanya karena... saya berharap... Tezuka-sama bisa... membantu Jii-chan... yang harus secepatnya dioperasi... transpalantasi jantung."
Meski dengan terbata-bata dan suara yang semakin lama semakin mengecil, Ayana mengerti maksudnya. Secara singkat, pemuda di hadapannya ini rela menikahi anak semata wayangnya demi uang. Lebih tepatnya untuk membantu sang kakek yang harus dioperasi sementara kemampuan finansial keluarganya tidak memungkinkan.
Rasa prihatin dan empati muncul dalam hati wanita kepala empat itu. "Apa kau dipaksa melakukannya oleh orang tuamu?" tanyanya hati-hati.
Dengan cepat Fuji menggelengkan kepala. "Mereka tidak memaksa. Ini sungguh-sungguh inisiatif dari saya sendiri, Tezuka-sama."
Jawaban tegas tersebut kembali membuatnya kagum. Penampilan luarnya cantik dan terlihat lemah, namun kepribadian di dalamnya justru sangat kuat. Ayana bisa merasakan betapa sayangnya pemuda ini pada sang kakek. Mungkin jika anaknya berada dalam posisi yang sama, Kunimitsu juga akan melakukannya. Anak itu terlalu menyayangi sang kakek sejak dulu. Bahkan ia lebih patuh padanya dibanding kepada orang tuanya sendiri.
"Aku tidak akan mempermasalahkan alasanmu, Fuji-kun. Tapi tentu kau tahu hal apa yang menantimu dengan menikahi Kunimitsu," ucap sang nyonya memperingati.
Kedua bahu Fuji tampak menurun. "Ya, saya mengerti."
"Meski begitu, kau harus menerimanya, ya?" gumam Ayana dengan senyum sedih.
Fuji melihat reaksi tersebut dan tak bisa bicara apa-apa selain menunduk. Ia tahu ini terdengar salah. Wajar jika seorang ibu berusaha melindungi perasaan anaknya, tapi apa wanita di depannya ini tahu bahwa anaknya punya orang spesial dan sempat dilamarnya beberapa hari yang lalu? Dari gelagatnya, jelas sekali ia tidak tahu apa-apa.
Kalaupun mereka benar-benar jadi, mana mungkin Tezuka mau menerima perjodohan ini, kan?
Tunggu, apa Tezuka serius menerimanya?
"Ayo diminum tehnya," ajak Ayana seraya menyesap secangkir teh.
"Hai, arigatou gozaimasu." Otaknya terus memproses segala kemungkinan yang terjadi sementara tangan mengambil cangkir beserta piringnya sesuai etika yang berlaku. Ketika ia menyesap teh, pikirannya terhenti. "Umai," pekiknya pelan dan tersenyum relaks.
"Syukurlah, badanmu terlihat tegang sejak tadi," balas Ayana diikuti tawa anggun darinya.
Wajah Fuji merona. Masih berusaha menjaga etika, ia menaruh cangkir dan piringnya kembali ke atas meja. Kedua tangan bertautan, pemuda itu berucap, "Sejujurnya saya malu dengan tujuan saya datang kemari."
Tangan Ayana menggenggam tangan Fuji. "Tanpa menerima perjodohan ini, Kunikazu-sama pasti akan membantu karena beliau teman kakekmu." Melihat calon menantu ingin menyanggah, ia melanjutkan, "Tapi aku juga tahu bahwa pemuda sebaik dirimu tidak bisa menerima bantuan tanpa balasan. Kalau kau merasa tak sanggup, kau bisa menghentikannya, Fuji-kun."
Entah kenapa Fuji bisa bernapas lega sekarang. Calon mertuanya tidak segalak yang orang-orang bicarakan. Ia merasa seberuntung Yumiko karena akan memiliki mertua yang pengertian seperti Tezuka Ayana.
"Wah, apa ini cucu Kousuke, Ayana?"
Tubuh Fuji kembali menegang begitu mendengar suara berat namun terdengar ceria di sana. Tiba-tiba dirinya merasa familiar dengan suara ini. Sontak saja ia menengok ke arah sumber suara.
"Otousama sudah pulang, okaerinasai," ucap Ayana sambil berdiri dan membungkuk.
Pria tua yang Fuji yakini adalah sahabat kakeknya, Tezuka Kunikazu, itu tersenyum lebar ke arahnya. Ia berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat. Sekali lagi matanya mencermati sosok tersebut kemudian berusaha mengingat. Fuji merasa pernah bertemu dengannya jauh sebelum hari ini, tapi bukan dari televisi. Apalagi suaranya yang terdengar familiar di telinganya.
"Ayo duduk lagi," ajak Kunikazu seraya duduk di sofa single.
Kakek itu berucap terima kasih pada pelayan yang membawakan secangkir teh untuknya. Fuji menatap kagum karena bukan pada tamu saja ia bersikap ramah, namun pada pelayan di rumahnya juga. Ia tersenyum tipis.
Mungkin tidak buruk menjadi menantu di keluarga ini, pikirnya.
"Namamu Fuji Syusuke?" tanya Kunikazu pada sang tamu.
"Iya, saya Fuji Syusuke, Tezuka-sama." Dalam hati Fuji merasa tidak yakin dengan panggilannya.
Terdengar tawa kemudian. "Kau boleh memanggilku Ojiisan," ucap sang kakek mengizinkan.
"Hai, Ojiisama." Fuji tertawa canggung karena gugup.
Lagi-lagi Kunikazu tertawa sebentar sebelum berubah ekspresi menjadi serius. "Jadi, bagaimana keadaan Kousuke?" tanyanya dengan nada khawatir terselip di sana.
Gerak-gerik pemuda di sampingnya terlihat tidak nyaman. Ia menunduk dan menggigit bibir bawah. Ayana pun memilih bersuara mewakili Fuji, menceritakan apa yang sudah mereka bicarakan tadi secara singkat kepada mertuanya.
Begitu selesai menjelaskan, ekspresi Kunikazu tampak sedih. Sedikit banyak Ayana tahu bagaimana eratnya persahabatan di antara sang mertua dan kakek Fuji yang sudah terjalin sejak Perang Dunia II karena mereka sempat menjadi relawan militer di saat masih umur belia. Namun persahabatan mereka sempat merenggang beberapa tahun terakhir. Hal itu berawal dari Fuji Kousuke yang tiba-tiba hilang kontak dan ternyata setelah ditelusuri sedang sakit keras.
Tangan kiri Kunikazu menggapai ujung kepala calon cucu menantu dan mengelus rambut cokelatnya.
Fuji mendongak dengan ekspresi gusar.
"Besok aku akan menjenguk dan mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir dan fokuslah pada kuliahmu, Syusuke-kun."
Kedua mata sang pemuda langsung berkaca-kaca. "Arigatou gozaimasu, Ojiisama..."
Ayana memperhatikan mereka seraya menghapus genangan air mata di ujung mata kanannya. Diam-diam ia bisa tahu bahwa mertuanya sedang menahan tangis. Mungkin perasaan Fuji pada Kousuke yang membuatnya ingin menangis. Tak ingin larut dalam kesedihan, Ayana berusaha menaikkan mood mereka.
"Saa, tehnya sudah mulai dingin. Ayo diminum dan dicicip kue buatanku."
"O-oh! Kau membuat sakura mochi, Ayana?"
"Hai, aku langsung membuatnya setelah Inui-kun memberi kabar tentang kedatangan Fuji-kun."
"A-arigatou... gozaimasu."
~ Accept this little, sweet revenge from me ~
Mood Tezuka Kunimitsu benar-benar buruk hari ini. Efek sakit hati atas penolakan dari gadis yang ia sukai sejak awal masuk universitas masih bisa dirasakan. Bahkan seharian ini Tezuka berusaha menghindar, meski tahu sosok itu akan pergi ke luar negeri lusa besok.
Ia menghentikan laju mobil sedan berwarna biru tuanya tepat di depan rumah utama. Pelayan yang mengurus bagian garasi sudah berdiri di sana, bersiap untuk menyambut dan memarkirkan mobil untuknya. Tezuka mengangguk saat disambut lalu menyerahkan kunci mobil pada pelayan tersebut. Belum sempat kuncinya diambil, tangannya menarik lagi dengan kedua alis mengernyit.
"Kunimitsu-sama?" tanya si pelayan bingung.
"Ada tamu di dalam?" Tezuka bertanya balik setelah menangkap suara asing dari balik pintu utama.
"Iya, hari ini Fuji Syusuke-sama datang kemari."
"Fuji Syusuke?" Alis Tezuka semakin menekuk. Rasa gondok muncul begitu mengingat buruknya pertemuan terakhir mereka.
Tuan muda itu tak banyak bicara. Ia langsung menyerahkan kunci mobil lalu berjalan memasuki rumah utama yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak umur balita. Ketika Tezuka membuka pintu utama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Matanya bertemu pandang dengan sepasang bola mata biru. Tanpa berucap sepatah kata, sang tamu melewatinya begitu saja. Hal itu sukses membuatnya geram.
"Oi, Cinnamon!" panggil Tezuka dengan nada dingin sambil berhenti melangkah.
Sosok yang dipanggil itu ikut berhenti. "Bastard..."
Twitch. Baru kali ini ia mendapat julukan 'bastard' secara langsung. Tezuka berusaha menetralkan napasnya yang berderu. Dirinya tak boleh termakan emosi, mesti sabar menghadapi calon istri.
Setelah dirasa amarahnya surut, ia berbalik badan. "Jadi, kau tetap tidak menghapusnya?"
"Kalau iya, kau mau apa?" tanya Fuji balik tanpa menoleh sedikit pun.
"Hmm..." Tezuka mengambil tiga langkah mendekati sang tamu yang sebenarnya tidak diundang itu, sementara lawan bicara masih betah membelakanginya. "...kalau begitu, kau bisa jadi penghiburku di mansion ini," ucapnya seraya menyeringai.
Fuji mulai bereaksi. Pemuda itu berbalik menghadap calon suami. "Hah? Apa kau sudah gila?"
Lagi, Tezuka mengikis jarak. "Kau datang ke sini untuk menerimanya, kan?"
Pandangan menusuk dialamatkan padanya. Fuji ikut mengikis jarak dengan sedikit mencondongkan tubuh ke depan sambil memicingkan mata. "Aku terpaksa. Kalau bukan karena keadaan, aku takkan mau menikah dengan laki-laki brengsek sepertimu," desisnya.
Ctak! Urat emosi Tezuka rasanya sudah putus begitu mendengar julukan lain dari Fuji (yang sebenarnya tidak jauh beda dengan bastard). Tiba-tiba dua tangannya memenjara sang tamu yang membuat punggungnya menabrak satu pintu utama yang tertutup. Dari ekspresi wajah, Fuji jelas sekali tampak kaget. Ia menyipitkan mata hingga bola mata birunya tak terlihat dengan kepala menghadap lurus ke depan. Tezuka yang kesal karena Fuji menghindari tatapannya langsung mengangkat dagu lawan bicaranya.
"Jaga ucapanmu, Fuji Syusuke." Kali ini Tezuka yang mendesis tidak suka.
Tangan kiri Fuji menepis tangan calon suami. Entah karena kesal atau memang ingin kabur, kakinya menginjak kaki Tezuka dengan kencang yang sukses membuatnya meringis kesakitan. Sebelum pergi, Fuji menyempatkan diri untuk menjulurkan lidah pada sang tuan muda.
Persetan dengan personalitinya yang dikenal stoik. "FUJI!" teriaknya murka setengah mati.
Di belakang Tezuka yang sibuk berjongkok sambil mengusap kaki kirinya, sosok ibu dan kakeknya berdiri tanpa ekspresi. Beberapa detik kemudian, Kunikazu malah tertawa terbahak-bahak. Ayana malah menatapnya dengan ekspresi horor seolah baru saja melihat hantu.
"Ojiisama, berhenti tertawa!" pinta Tezuka sebelum meringis kesakitan lagi.
"Aku merasa rumah ini akan semakin ramai, ahaha!"
"Ojiisama! Atatata-!"
.
Sesuai janji, Tezuka Kunikazu pergi menjenguk sang sahabat di Rumah Sakit Pusat Distrik Kanagawa. Setelah pelayan pribadi sekaligus sekretarisnya bertanya di meja resepsionis, ia langsung berjalan menuju ruangan dimana Kousuke sedang dirawat. Sahabatnya itu sempat masuk ruang UGD kemarin akibat serangan jantung dan pihak rumah sakit berhasil menyelamatkannya.
Sebelum masuk, ia sempat melihat keadaan di dalam ruangan yang ternyata hanya ada Kousuke sedang menatap langit. Rasa sesak menyerang hatinya begitu melihat betapa kesepiannya sosok itu. Kunikazu berpikir apa saat dirinya lemah dan harus terbaring di rumah sakit, ia akan merasa kesepian juga?
"Kunikazu-sama?" Pelayan pribadinya memanggil dengan nada khawatir.
Sang majikan tersenyum menenangkan lalu memberinya kode untuk tetap di luar.
Pelayan tersebut mengangguk paham.
Tok, tok, tok.
Perhatian Kousuke teralih. Matanya terlihat menyipit dan membuat Kunikazu teringat salah satu cucunya yang datang ke rumahnya kemarin. Mereka mirip sekali ternyata, pikirnya.
Tanpa meminta izin, Kunikazu membuka pintu kemudian berjalan mendekati sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya. "Ohisashiburi, Kousuke. Apa kabarmu hari ini?" sapanya seraya menaruh keranjang buah ke atas lemari setinggi satu meter di sisi kanan kasur.
Kousuke tampak kaget, namun buru-buru ditutupi dengan senyuman. "Ohasashiburi, Kunikazu. Aku tak menyangka bisa kedatangan tamu kehormatan seperti dirimu."
"Terdengar sarkastik seperti biasanya," balas Kunikazu sambil duduk di kursi kosong.
Senyum itu memudar. "Siapa yang memberitahumu aku dirawat di sini?"
Kedua mata Kunikazu terlihat sakit hati. "Apa kau berniat merahasiakan ini dariku selamanya, Kousuke?"
"Bukan begitu—"
"—lalu apa? Aku ini sahabatmu, kan? Jika kau butuh bantuan, aku siap membantumu." Kunikazu mencengkeram seprai putih sambil menunduk. "Aku khawatir dengan keadaanmu karena tiba-tiba kau menghilang. Sekian tahun aku baru tahu kalau kau sakit dan harus dioperasi secepatnya. Bukan hanya aku, tapi keluarga, terutama anak dan cucumu sangat mencemaskanmu, Kousuke," lirihnya.
Terdengar hela napas kemudian. "Kau sudah bertemu Syu-chan?"
Kali ini Kunikazu mendongak. "Maksudmu Syusuke?"
Kepala Kousuke mengangguk. "Pasti cucu kesayanganku itu sudah bercerita banyak padamu, kan?"
"Dia hanya cerita kau dirawat di sini dan harus segera dioperasi." Kunikazu tersenyum ketika melihat sahabatnya memijat area di antara alis. "Hei, apa kau ingat janji kita dulu saat Shouta menikah?" tanyanya dengan nada ceria.
Berkat itu, atmosfer di sekitar mereka jadi lebih ringan.
"Maksudmu soal perjodohan cucu kita?" tanya Kousuke.
Kunikazu mengangguk semangat.
Ekspresi Kousuke tampak takjub. "Kau masih berniat melanjutkannya? Maksudku, menikahkan cucumu dengan Syusuke?"
"Ya. Aku sangat berharap Syusuke bisa menjadi pasangan Kunimitsu setelah bertemu langsung dengannya kemarin. Cucumu menerima perjodohan ini demi dirimu, tapi aku juga tidak bermaksud memaksa. Tanpa menerimanya pun aku akan senang hati membiayai operasimu, Kousuke," cerita Kunikazu jujur.
Tangan kanan Kousuke yang tidak ditancap jarum infus bergerak mengusap kedua ujung matanya. Ia menangis terharu. "Aku tahu kau dan Syusuke akan melakukannya. Siapa yang sangka, di masa tuaku ini, aku malah menyusahkan sahabat dan cucuku sendiri?"
"Syusuke sudah memutuskan. Aku akan mendukungnya, Kousuke. Apapun yang terjadi, aku akan melindunginya," ucap Kunikazu berjanji. "Meski banyak rintangan menghadang, aku tahu Syusuke adalah yang terbaik untuk Kunimitsu," lanjutnya.
"Aku takkan meragukan firasatmu, Kunikazu," balas Kousuke seraya tertawa lemah.
Tok, tok, tok.
Kedua pria tua itu menengok ke arah pintu. Kunikazu tersenyum begitu melihat cucunya membuka pintu. "Konnichiwa, Ojiisama, Fuji-sama," salam Kunimitsu sambil membungkuk.
"Are? Dia cucumu, Kunikazu?" tanya Kousuke.
Yang ditanya hanya mengangguk bangga.
Pemuda berkacamata dan tinggi semampai itu berjalan mendekat setelah disuruh oleh kakeknya. Ia menunjukkan senyum ramah seraya memperkenalkan diri. "Tezuka Kunimitsu desu."
"Kunimitsu, tidak lama lagi, Kousuke juga akan jadi kakekmu," ucap Kunikazu senang.
Sang cucu mengangguk kemudian membungkuk sedikit. "Yoroshiku onegaishimasu, Kousuke-jiisama."
"Tolong jaga Syusuke, ya. Anak itu..." Kousuke tersenyum pahit seolah mengingat kejadian menyedihkan, "Anak itu selalu mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri."
Ekspresi Tezuka tampak penuh empati. "Hai, aku akan berusaha menjaganya."
"Kalau denganmu, aku bisa percaya, Kunimitsu-kun," balas Kousuke.
~ How my life become a mess in one day? ~
Di hari yang sama, Fuji Syusuke menatap kosong ke arah koran yang sedang ia pegang. Baru saja kemarin ia datang ke rumah calon suami dan mertua untuk memberitahu bahwa dirinya bersedia menikah dengan Tezuka, keesokan harinya berita tentang pewaris sah Tezuka Corporation yang bergerak di bidang Hotel dan Pariwisata aka Tezuka Kunimitsu akan segera menikah menjadi headline news di koran pagi. Kalau itu sih, Fuji tidak peduli. Tapi masalahnya kenapa harus fotonya saat masih SMP ikut terpampang di sudut halaman!?
Siaaaaaaal! teriaknya dalam hati sambil melempar koran tersebut ke lantai.
Yuuta hanya menatap miris sang kakak karena nasibnya tidak terlalu mujur.
Ayah mereka, Fuji Shouta memungut korannya lalu duduk di kursi. Kedua alisnya mengernyit. "Dari mana mereka dapat foto kelulusanmu saat SMP ini, Syusuke?"
"Pasti mereka mencari tahu identitasku sampai ke akarnya, termasuk mendatangi Rokkakku Chuugakkou," jawab Fuji kesal.
"Daripada itu, sepertinya di luar rumah kita sudah dikerubungi para reporter," ucap Yoshiko sambil menaruh secangkir kopi hitam di hadapan sang suami dan dihadiahi kecupan di pipi.
Fuji membenturkan keningnya ke atas meja. Suara komat-kamit macam cenayang yang sedang mengusir roh jahat terdengar. "Aku tak bisa kuliah kalau begini!" serunya dengan menunjukkan ekspresi ingin menangis.
Terdengar suara orang sedang menahan tawa. Sumbernya berasal dari Yuuta. Adik kesayangannya itu berusaha tidak tertawa setelah melihat kening aniki-nya yang memerah. Tiba-tiba kepalanya dijitak oleh sang ibu yang kemudian heboh sendiri mencari es batu di kulkas untuk mengompres kening Fuji sebelum lukanya membengkak.
"Aw! Pelan-pelan, Okaasan!" ringis Fuji saat keningnya dikompres dengan es batu.
"Jangan protes! Keningmu jadi bengkak nanti!" balas Yoshiko.
"Pokoknya kau harus membantuku kabur, Yuuta!"
"HAH!? Kenapa aku yang kena lagi!?"
.
Setelah berkutat mencari cara untuk bisa keluar rumah tanpa harus dikejar wartawan, akhirnya Fuji bisa berangkat ke kampus dengan sepeda kesayangan. Big thanks for his cute brother karena rela seikhlas-ikhlasnya menyamar jadi dirinya. Lari berlawanan arah dengan jaket berhoodie favoritnya dan sukses membodohi para wartawan.
Tapi ternyata... ia juga tak bisa tenang di kampus. Orang-orang yang biasanya mengabaikan keberadaannya, kini sering mencuri pandang lalu berbisik-bisik membicarakannya. Fuji memijat area di antara alis dan meringis karena mengenai luka bengkak akibat tingkah konyolnya pagi ini.
"Fujikooooo!"
Oh, great. Eiji—
—bruk! Fuji memejamkan kedua mata dengan ekspresi lelah ketika sahabat teraktifnya menubruk kemudian memeluknya erat. Saat membuka mata, sahabat lainnya ikut menghampirinya, namun ia berjalan lebih santai.
"Yo, Fuji. Pagimu terlihat suram, ya." Saeki tersenyum berempati.
"Tsk! Aku tidak tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini," balas Fuji.
Eiji menatap sang sahabat tanpa melepas pelukannya di pinggang Fuji. "Kau tidak tahu betapa terkejutnya aku saat membaca koran pagi tadi, Fujiko! Bahkan aku tersedak sampai menyemburkan susu yang kuminum!" ceritanya histeris.
"Percayalah, aku sama terkejutnya denganmu," ucap Fuji seraya melepas pelukan beruang Eiji.
"Jadi, waktu itu kau sudah tahu akan dinikahkan dengan Tezuka?" tanya Saeki.
Wajah Fuji menggelap karena teringat pertemuan pertama mereka dan betapa arogannya sang tuan muda yang sukses membuat amarahnya mencapai ubun-ubun. "Kupikir Jii-chan bercanda, ternyata janji itu memang benar-benar ada! Bahkan aku sendiri yang menyimpan tanda perjanjian itu di kamarku! Oh God, apa karena dosaku terlalu banyak sampai harus menikahi orang brengsek seperti Tezuka Kunimitsu?" cerita Fuji dengan ekspresi dan bernada galau di akhir.
Tangan Eiji menepuk punggung sang sahabat dan membawanya ke dalam pelukannya. "Fujiko..."
Saeki ikut menepuk punggung Fuji, memberinya semangat. "Kau bisa menolaknya. Aku tahu ini bukan keinginanmu."
Kepala Fuji menggeleng pelan. "Aku harus menerimanya karena kondisi Jii-chan memburuk."
"Eh!?"
Perlahan pemuda bermbut cokelat itu membalas pelukan Eiji. Membiarkan kepalanya bersandar di bahu sang sahabat sambil menyembunyikan wajah yang mulai memerah karena menahan tangis. "Jii-chan harus dioperasi tapi kami tak punya banyak uang. Utang bank pun masih belum bisa kami lunasi, ditambah biaya kuliahku dan Yuuta yang sebentar lagi lulus SMA. Aku berpikir, keluarga Tezuka mau membantu kami setelah aku menikahi anaknya dan... ya, mereka akan membantu meski tanpa aku menerimanya," cerita Fuji lagi dengan nada serak dan terisak sedikit.
"Tapi kau tak mau punya utang budi, makanya kau rela menyerahkan masa depanmu," lanjut Saeki.
Kali ini kepala Fuji mengangguk lemah.
"Huaaa Fujikooooo! Maaf, aku tak bisa membantu apa-apa," sesal Eiji sambil ikut menangis.
"Kau mau mendengar ceritaku sudah cukup, Eiji. Arigatou," bisik Fuji.
"Jangan ragu untuk cerita pada kami, Fuji. Kami akan mendengarkan," balas Saeki seraya tersenyum.
Dengan air mata masih berkumpul di ujung mata, Fuji menatap sahabatnya sejak ia masih kecil itu tanpa melepas pelukannya pada Eiji. Senyum manis terlihat di wajahnya. "Arigatou, Saeki."
Tiba-tiba Eiji melepas pelukannya dan mencengkeram kedua bahu Fuji. "Hei! Kudengar—" suara orang menarik ingus terdengar, "—Taka-san membuat menu baru! Ayo makan siang di sana nanti!" ajaknya diikuti suara ingus ditarik lagi.
Saeki menatap horor pada pemuda lincah itu. "Cepat buang ingusmu, Eiji! Jorok!"
"Bawel!" Eiji pun pergi ke kamar mandi terdekat.
Fuji mengambil sapu tangan motif karakter Cinnamoroll dari saku celana lalu mengelap wajahnya yang basah karena air mata. Ia bisa bernapas lega karena sudah berbagi keluh-kesahnya pada mereka berdua. "Apapun yang terjadi, kau akan tetap di sampingku 'kan, Saeki?" tanyanya lirih.
Meski bersuara pelan, Saeki masih bisa mendengarnya. "Tentu, Baka. Memang sudah berapa lama kita bersahabat, huh?"
Fuji tertawa kencang dan tak lama sahabatnya ikut tertawa.
Eiji menatap mereka bingung. "Kenapa kalian tertawa?"
"Ingusmu masih menempel di pipi tuh, ahahaha!"
"Hah!? Di mana!?"
"Bercanda~"
"Fujikooooo!"
To Be Continued
Hohohoho~ karena libur Idul Fitri saya bisa update fic ini plus menyelesaikan Prolog fic Ao no Memorii. :') Bilangnya di LLS masih belum siap, tapi saya modal nekat upload chap yang udah dibuat kemarin-kemarin. Di fandom ini saya udah ngumpulin utang 3-4 fic yeah wwwwwww
Btw tadinya saya mau buat Ayana jadi ibu yang tegas, tapi susah karena gak pernah bisa kebayang sosok ibu tegas begitu. Dari kecil saya dirawat oleh Mama yang pengertian dan penyabar, jadi... TAT Fic ini benar-benar beda dari Princess Hours yang asli jadinya wwwwwww but I love it~
Soal Ao no Memorii, sorry ya, saya cuma buat versi Inggris. :') Itu akan jadi projek yang saya usahakan untuk dikelarin meski memakan waktu lama sampai bertahun-tahun. Efek pernah gagal di fandom sebelumnya, tapi saya optimis kalau di fandom ini saya bisa karena karakter seperti Fuji yang saya butuhkan sejak awal. :') Karakter misterius, kuat, jenius, pengertian, penyayang, walau di luarnya terlihat lemah dan feminim itulah yang saya cari-cari dari dulu. :3
Saya juga belum sempat balas review di LLS tapi saya tertarik kasih warning di sini. Saya tidak terima request kalau BUKAN OTP saya yang jadi main chara. So, gak mungkin saya buat Tezuka dipasangin dengan yang lain, apalagi Fuji. Seandainya buat pun, genrenya bakal angst dan saya tetap fokus ke TezuFuji. List OTP bisa dicek di bio saya kalau readers mau request fic (walau saya gak janji akan membuatnya karena kesibukan RL plus utang yang banyak).
Thank you for visiting, reading, and following this fic! :3 Especially Ai and August 19! Ohohoho, tema pernikahan karena jodoh rasanya gak mungkin kalau gak ada smut scene. :3 #slapped
Oke ja!
CHAU!
