IDENTITY
exonoir
CHANYEOL X BAEKHYUN
ROMANCE, SMUT, FANTASY, GS
Warning YAOI area. Don't like, Don't read
.
.
Chapter 3. Auction (part 2)
.
.
Flashback ON
"Yup. ID oshxigen1204 itu memang benar-benar Oh Sehun." ia membaca sebuah artikel yang mengatakan jika anak kedua dari Kepala Polisi Oh mengalami insiden tabrak lari ketika hendak berangkat ke sekolah. Dia mengalami patah tulang pada bagian kaki; dan pelaku penabrakan itu sampai saat ini masih menjadi misteri.
Ia kemudian menggerakkan kursor komputernya menuju pencarian gambar. "Uhh... jadi itu wajahmu, Oh Sehun?" gadis itu bergumam ketika melihat disalah satu layar komputernya menampilkan wajah seorang lelaki berperawakan serius dengan senyum tipis yang tersungging dibibirnya yang tipis. "aku tidak mengira akan bertemu denganmu, putra Kepala Polisi Oh."
Puas dengan apa yang ia lihat, Baekhyun akhirnya mengeluarkan halaman pencarian google. Kemudian gadis itu kembali menyelam ke dalam deep web untuk membobol CCTV keamanan di dalam hotel. Ia sudah terlanjur penasaran dengan kasus pembunuhan itu. Mau tidak mau dia harus mencari bukti.
"Ah sial," gadis itu tidak berhenti memaki ketika ia nyaris berhasil membobol masuk, seseorang yang tidak bertanggung jawab telah mengganggu aksinya dengan cara mengetuk pintu. Cepat-cepat ia mengganti tampilan keenam layar komputernya dengan televisi dari berbagai negara. "TUNGGU SEBENTAR!" geramnya emosi.
Baekhyun berlari kecil seusai menyembunyikan kejahatannya. Ia benar-benar tidak suka jika diganggu saat melakukan pekerjaan. Sial sekali. Ketika ia membuka pintu kamarnya yang terkunci dari dalam, ia melihat seorang wanita dengan rambut pirang berdiri di ambang pintu dengan berwibawa. Wajah wanita itu tidak terlihat senang karena Baekhyun telah membuatnya menunggu.
"I-Ibu...?" Baekhyun kehilangan kata-katanya.
Tatapan wanita itu seperti merendahkan, "Harus berapa lama aku menunggumu?" ia kemudian mendorong pintu kamar anak gadisnya hingga terbuka lebar. "bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu untuk tidak mengunci kamarmu?" wanita itu berdiri di tengah-tengah ruangan sambil melipat kedua tangannya di bawah dada. "kepala pelayan Jung! Singkirkan kunci pintu di kamar Baekhyun malam ini! Aku tidak suka ada pintu yang terkunci di rumahku!" ia sengaja menekan kata rumahku di hadapan Baekhyun.
Kepala pelayan Jung—Ayah dari pelayan Jung Jaehyun dan pengawal Jung Taekwoon—yang sendari tadi mengikuti sang majikan hanya bisa membungkukkan kepala mengiyakan. "Baik, Nyonya." balasnya dengan suara selembut sutra.
Ibunya Baekhyun menoleh ke sekeliling kamar anak gadisnya sambil menghela napas dalam-dalam. "Kau benar-benar seperti Ayahmu! Tidak bisa menjaga tempat kerjanya tetap rapih." makinya tajam. "kepala pelayan Jung! Singkirkan juga semua barang yang tidak di butuhkan! Tidak akan ada yang mau tinggal di tumpukan sampah seperti ini. Aku mau semuanya harus bersih besok pagi."
Baekhyun menundukkan kepala dalam-dalam ketika mendengar seluruh sindiran dari Ibunya. "Baik, Nyonya." pria paruh baya itu tanpa sengaja melirik Baekhyun. Ia merasa iba dengan gadis itu. Di sepanjang hidupnya dia tidak pernah terlihat bahagia.
"Ah benar! Ini acara empat hari lagi." wanita itu memberikan dua buah undangan pelelangan amal. "hari itu aku harus menghadiri London Modest Fashion Week, jadi aku akan pergi ke England secepatnya.Lalu Ayahmu... anggap saja dia sibuk. Dan itu adalah tugasmu untuk menggantikan kami ke sana." setelah selesai bicara, wanita itu keluar dari kamar anak gadisnya. "aku sudah menyiapkan pakaianmu. Jadi lakukan saja pekerjaanmu dengan baik. Aku tidak ingin kau mempermalukan namaku sebagai designer mode."
Baekhyun membaca undangan itu sebentar, "T-tapi Bu, di sini tertulis acara off-air. Aku juga tidak pernah menghadiri pelelangan amal sebelumnya... bagaimana jika aku berbuat salah?" katanya takut-takut.
Langkah wanita itu berhenti. Ia memelototi Baekhyun dengan matanya yang berwarna cokelat gelap, "Justru itu intinya! Karena itu acara off-air, kau yang akan pergi!" katanya. "dan lagi... jaga sikapmu! Jangan terlihat kampungan di depan media dan mempermalukan nama kami! Yang harus kau lakukan hanya memperlihatkan wajah, itu saja." begitu selesai bicara, ia benar-benar keluar dari kamar Baekhyun.
Sebelum pergi mengikuti sang majikan, kepala pelayan Jung membungkukkan bada kepada Baekhyun. Tidak lupa ia tersenyum kecil untuk menghibur gadis berkuncir kuda itu.
"Permisi, Nona."
Baekhyun tidak dapat membantu selain membalas senyuman itu. Meskipun kepala pelayan Jung terlihat baik kepadanya, tetapi Baekhyun tidak dapat mempercayai siapapun di rumah ini selain sahabat kecilnya dan sekaligus pelayan pribadinya, Jung Jaehyun.
Begitu Ibunya keluar dari kamar, Baekhyun akhirnya dapat bernapas lega. Rasanya udara di dalam kamarnya menipis ketika ada Ibunya.
Gadis itu menap undangan yang ada di tangahnya dengan tatapan malas, "Merepotkan sekali,"
. . . .
Jemari Baekhyun bermain di keyboard komputernya dengan cekatan. Matanya terpaku kepada keenam layar komputer sambil menggigit bibirnya yang ranum. Kurang sedikit lagi keamanan hotel itu akan jatuh ke tangan Baekhyun. Dia sengaja untuk memilih jalan yang sulit agar tidak terdeteksi.
"And..." ia mempercepat ketikan tangannya, "done!" ia mengetik tombol enter sebagai tanda berakhir. Keenam layar komputernya yang hanya memperlihatkan background hitam dengan berbagai angka dan tulisan aneh seperti kode yang rumit, kini tertulis correct di setiap akhir kalimat.
Baekhyun akhirnya dapat bernapas lega. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi gaming miliknya. "Sial, punggungku jadi sakit," ia merenggangkan otot-otot ditubuhnya. "alright! Back to bussiness!" tangan gadis itu kembali bermain di atas keyboard lagi. Tapi kali ini, ia akan memutar rekaman dari kamera CCTV di seluruh layar komputer miliknya.
"Mungkin aku harus mengulang semuanya dari sehari sebelum kejadian..." gumamnya sambil menatap ke enam layar komputernya satu persatu, kemudian ia mengulang rekaman itu sehari sebelum kejadian pembunuhan.
"Kenapa DJ Chanyeol menginap di hotel yang ada di Seoul? Mungkinkah jika dia tinggal di luar Seoul?" dahi Baekhyun berkerut. "kenapa tidak ada berita tentang dimana dia tinggal, sialan!" ia mengeram. "ah! Mungkin dia tahu kalau sedang di buntuti... karena itu dia menginap di hotel agar tidak ada yang tahu tempat tinggalnya!" kali ini Baekhyun yakin dengan kata-katanya.
Tangannya mengetuk mouse untuk menghentikan pemutaran ulang rekaman video CCTV; tepatnya pada pukul 06:16PM, sehari sebelum kejadian.
Baekhyun menjilat bawah lidahnya sendiri, "Okee. Mungkin di sini sudah cukup." ia memutar rekaman CCTV itu dengan normal. "uhh... kenapa banyak orang yang datang? Menyebalkan sekali." ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi gaming miliknya dengan santai. Ia mempercepat rekaman CCTV itu 2x agar tidak membuang-buang waktu.
Dan ketika jam pada rekaman CCTV itu akhirnya menunjukkan pukul 08:56PM, Baekhyun melihat seorang lelaki jangkung dengan hoodie hitam yang terlihat mencurigakan masuk ke loby. Baekhyun menghentikan rekaman CCTV itu sejenak, kemudian membesarkan tampilan video itu hingga wajah lelaki itu dapat terlihat dengan jelas. "Hm... sepertinya wajah lelaki itu tidak asing." Tapi dimana Baekhyun pernah melihatnya?
Untuk berjaga-jaga, Baekhyun memutuskan untuk mengeprint wajah lelaki itu. Dia tidak ingin melewatkan sesuatu, terlebih jika itu adalah sebuah clue.
Baekhyun kembali melanjutkan rekaman CCTV itu; dan pada pukul 09:23PM DJ Chanyeol terlihat check-in ke dalam kamar hotel dengan nomor 2280. Ia bahkan mengikuti kemanapun Chanyeol pergi dengan mengganti rekaman pada kamera CCTV lain di dalam gedung hotel itu. Dan sejauh yang Baekhyun lihat, tidak ada pergerakan mencurigakan dari lelaki dengan tinggi badan 185cm itu.
"Oh ayolah... dia tidak keluar dari kamarnya sama sekali ya?" Baekhyun akhirnya mempercepat video rekaman CCTV itu hingga 8x agar tidak lama menunggu. Anehnya, ketika rekaman menunjukkan pukul 12:15AM, layar tiba-tiba berubah menjadi statis selama beberapa menit. Itu mencurigakan, tentu saja. Baekhyun memutar kembali video rekaman CCTV yang ada di lorong kamar DJ Chanyeol dari pukul 12:10AM.
Sesuai dugaannya. Layar berubah menjadi statis ketika Baekhyun melihat pintu kamar DJ Chanyeol sedikit terbuka. Kemungkinan besar DJ Chanyeol keluar dari kamar pada waktu yang sama.
Dan Baekhyun tidak tahu DJ Chanyeol pergi ke mana setelah layar statis selesai.
"Mungkinkah...?" ia menduga-duga. "kalau aku tidak salah dengar... sepertinya kamar korban ada di 2287."
Benar juga. Kenapa Baekhyun tidak memikirkannya sejak tadi?
Gadis itu mencari rekaman CCTV yang paling dekat dengan kamar korban, kemudian memutar ulang pada pukul 12:10AM—sama seperti yang ia lakukan ketika memperhatikan pintu kamar DJ Chanyeol.
"Eh? Itu bayangan seseorang?" dalam layar statis, samar-samar Baekhyun dapat melihat bayangan seseorang yang mendekati pintu kamar korban. Dan ketika Baekhyun tanpa sengaja menghentikan rekaman itu, ia dapat melihat dua orang berdiri di depan pintu korban. Anehnya, lelaki dengan hoodie yang tadi di temukan Baekhyun di loby, menatap tepat ke arah kamera CCTV dan menampakkan wajahnya dengan jelas. Sementara lelaki yang berdiri di belakangnya adalah Park Chanyeol yang menyeringai menakutkan seperti haus darah.
"D-dia..."
Baekhyun mengingat wajah lelaki itu. Namanya adalah Kris Wu. Dia adalah hacker handal yang berasal dari China. Dia di hukum mati karena telah menjual senjata ilegal dan membocorkan informasi rahasia mengenai strategi perang milik Amerika ke Korea Utara tahun lalu. Tapi bagaimana dia masih bisa hidup?
Sial. Apa Baekhyun salah lihat? Mana mungkin lelaki itu adalah Kris Wu. Kalaupun jika dia memang benar-benar Kris Wu... itu menjelaskan kenapa seluruh identitas mengenai DJ Chanyeol tidak pernah ada dalam deep web atau pun mesin pencarian biasa. Karena Kris Wu dapat membobol ratusan website lalu menghapus seluruh identitas mengenai DJ Chanyeol dengan mudah jika dia mau.
. . . .
Girl's bathroom at Auction
Baekhyun mencuci tangannya di washtub beberapa menit sebelum pelelangan dimulai. Dia benar-benar tidak nyaman dengan suasana ramai; itu membuat tangannya selalu berkeringat. Dia memang lebih suka menyelam ke dalam deep web dari pada berada di sekeliling manusia.
"Bagaimana posisimu? Kau mendapatkan kalung itu?" gadis itu menghentikan perbuatannya ketika mendengar suara seorang lelaki yang berbicara tepat di depan toilet wanita.
Apa maksudnya mendapatkan kalung?
Apakah lelaki itu berniat untuk mencuri?
Baekhyun mematikan kran washtub dengan hati-hati, kemudian ia berjalan mendekati pintu toilet agar dapat mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Samar-samar Baekhyun dapat mendengar ada seseorang menjawab di seberang sana. Suara seorang laki-laki dengan dialek aneh—seperti bukan orang Korea."Penjagaannya cukup ketat, Tuan. Aku baru saja mengalami kendala, tapi sekarang semuanya baik-baik saja. Aku akan tiba secepatnya."
Baekhyun akhirnya memberanikan diri untuk mengintip wajah lelaki itu dengan sangat hati-hati, dan oh sial! Dia adalah DJ Chanyeol!
Tunggu, DJ Chanyeol? Jadi lelaki yang ada di dalam telepon itu...?
Baekhyun melihat senyum jahil merekah di bibir lelaki itu, "Bagus. Jangan sampai tertangkap. Acaranya akan segera di mulai." setelah ia mengatakan itu, Chanyeol langsung pergi. Sepertinya ia tidak menyadari jika Baekhyun mendengar seluruh percakapannya.
Atau mungkin ia sengaja melakukannya?
Baekhyun menelan ludah dengan susah payah. "Mungkinkah lelaki itu...?" ia kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka jika akan mendengar sesuatu yang buruk dari mulut idolanya sendiri.
Park Chanyeol... bagamana caranya untuk mendeskripsikan lelaki bernama Park Chanyeol? Dia menyembunyikan wajah buruknya di balik senyuman yang menawan itu. Meski wajahnya terlihat tidak berdosa, tapi Baekhyun yakin jika dia adalah orang yang berbahaya.
Gadis berumur 19tahun itu menarik napas dalam-dalam sebelum ia menyimpulkan sesuatu. Lelaki yang di dalam rekaman CCTV yang ia lihat kemarin memang DJ Chanyeol dan Kris Wu.
Dan mereka berdua yang telah membunuh murid sekolah itu.
"Semuanya masuk akal sekarang..." Baekhyun menyandarkan punggungnya ke dinding marmer di dalam kamar mandi. "ah! Sialan! Aku tidak boleh kehilangan jejak!" gadis dengan dress putih di atas lutut itu menarik pintu toilet dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Dia berlari menuju lorong yang mengarah ke lantai dua agar dapat melihat DJ Chanyeol dari atas, karena gadis itu cukup yakin jika Chanyeol berjalan menuju kursi di lantai bawah.
Flashback OFF
. . . .
"...dia tersenyum."
Jaehyun melirik layar ponsel yang di pegang oleh majikannya meskipun ia tidak berani untuk berbicara karena mungkin akan terdengar oleh Kakaknya melalui penyadap itu. Dia terkejut ketika melihat Baekhyun tengah memperhatikan seorang lelaki di dalam pelelangan. Dia bahkan tidak pernah tahu jika Baekhyun dekat dengan lelaki lain selain dirinya.
Rasanya jantung Jaehyun seperti di remas. Mengetahui fakta jika Baekhyun melihat Chanyeol telah membuatnya emosi. Mungkinkah jika dia cemburu?
Jaehyun menggelengkan kepalanya. Memangnya siapa Jaehyun? Dia hanya anak dari seorang kepala pelayan yang memiliki banyak hutang kepada orangtua Baekhyun. Di bandingkan dengan lelaki tampan yang memakai setelan mewah yang sedang di perhatikan Baekhyun, dia bukanlah apa-apa.
Ketika Jaehyun hendak membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba lampu di seluruh ruangan mati.
Baekhyun berteriak dengan suara keras. Meskipun ia memegang ponsel Jaehyun yang masih berada dalam keadaan menyala, tapi tetap saja kegelapan adalah musuh besarnya. "A-ada apa ini!" ia berteriak sambil mengarahkan layar ponsel Jaehyun ke seluruh tempat. Dia tidak suka gelap.
"Nona!" Jaehyun dengan mudah dapat menemukan Baekhyun karena cahaya yang berasal dari ponselnya. "aku ada di sini, Nona!" ia berusaha untuk mencengkram tangan majikannya, tapi gadis itu malah ingin Jaehyun melepaskan tangannya.
Dan tanpa memberikan alasan yang pasti kepada pelayannya, Baekhyun langsung berlari turun dari lantai dua sambil menyalakan senter pada ponsel Jaehyun. Tunggu, apa?
Baekhyun yakin jika Chanyeol kabur di saat-saat seperti ini. Dan jika memang itu yang telah terjadi, pergerakan Chanyeol telah terbaca dengan jelas olehnya. Dengan pencahayaan seadanya, ia berlari menuju lorong gelap yang menghubungkan antara lantai dua dan lantai satu. Dia harus menemukan Chanyeol terlebih dulu sebelum ia kabur.
Ketika Baekhyun berhasil melewati lorong sempit dan gelap itu, ia terkejut ketika berpapasan dengan Chanyeol di depan lorong. "OH!" teriaknya seolah ia seperti sedang bertemu dengan hantu. Titik-titik keringan muncul di dahi gadis itu karena anehnya Chanyeol malah tersenyum padanya.
"Maaf mengagetkanmu," sapanya ramah.
Baekhyun menelan ludah dengan susah payah. Dia tidak bisa mempercayai lelaki ini dengan senyuman yang sialnya terlihat begitu cemerlang. Dia adalah lelaki yang berbahaya. "M-mau ke mana kau?" ia berkata tanpa berpikir. Dan tentu saja itu membuat Chanyeol menyernyitkan dahi karena kata-kata yang mengganjal itu.
"Aku? Hanya ingin pergi ke toilet," jawabnya tanpa menunjukkan ekspresi yang mencurigakan.
Tidak percaya dengan perkataan lelaki di depannya, Baekhyun kembali bertanya masih dengan nada yang sama. "Dalam keadaan lampu mati seperti ini?"
Raut wajah Chanyeol berubah sedikit serius, "Lalu bagaimana denganmu, Miss?" ia membalikkan pertanyaan gadis itu dengan penekanan pada setiap katannya.
Tepat sasaran.
"Apa kau memata-mataiku ke toilet?" Chanyeol berniat untuk menepis seluruh pemikirannya yang selalu waspada, dan bermaksud untuk bercanda. Tapi melihat reaksi yang di berikan gadis itu yang tampak sangat gugup, sepertinya tebakannya benar. "mungkinkah kau—" belum selesai ia bicara, seseorang tiba-tiba berbicara tepat di telinganya.
"Tuan, kamera CCTV dan lampu akan menyala dalam beberapa menit lagi."
Chanyeol menghela napas, "Tidak ada pilihan lain." ia mengeluarkan botol spray berisi chlorophyll dari dalam saku celana setelannya, kemudian ia menyemprotkan spray itu tepat di hidung Baekhyun sambil menutup hidungnya sendiri menggunakan lengan setelan mahalnya.
Ketika melihat tubuh gadis itu tumbang karena reaksi yang cepat dari chlorophyll, Chanyeol memeluk tubuh gadis itu sambil bergumam rendah, berbicara kepada seseorang di seberang sana menggunakan headset bluetooth yang menempel di telinganya.
"Perubahan rencana."
3
Baekhyun terbangun dengan sakit kepala yang menyiksa. Dia menyerjapkan mata beberapa kali karena pandangannya berbayang. "Mm..." ia mencoba menggerakkan kedua tangannya, tapi tidak bisa. Sesuatu yang erat telah mencengkram kedua pergelangan tangan dan kakinya yang kurus.
"Kau sudah bangun?" ia yakin jika mendengar suara seseorang tengah berbicara kepadanya, tapi ia tidak dapat melihat wajah si pemilik suara dengan jelas karena kepalanya benar-benar pusing sekarang. Baekhyun mengeram pelan untuk menjawab suara lelaki yang berbicara kepadanya. "kau menemukan sesuatu tentang identitasnya?" lanjut lelaki itu dengan suara serak.
Dari kejauhan lelaki lain bergumam rendah, "Tuan tidak akan percaya dengan data yang telah kudapatkan," kemudian ia menyeringai ketika menemukan hasil yang lebih dari yang ia harapkan.
Kesal dengan seluruh basa-basi itu, lelaki pertama mengeram tidak sabar. "Cepat katakan padaku!"
"Dia Byun Baekhyun; Putri dari pasangan Byun Jungsu dan Jessica Jung." jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang selalu ia bawa.
"Byun Jungsu? Jessica Jung? Sepertinya nama itu tidak asing...?" kata-katanya berhenti, sementara Baekhyun membuka matanya ketika ia mendengar nama kedua orangtuanya di panggil.
"Mereka public figure, Tuan." lelaki kedua menjelaskan sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Lelaki pertama menghela napas dengan suara keras, terdengar tidak senang. "Oh...begitu ya? Tidak ada yang menarik." gumamnya dengan nada mengejek.
Lelaki kedua kembali melanjutkan, "Menurut hasil yang kudapatkan... dia hanya keluar dari rumah sesekali dalam seminggu. Aku juga tidak menemukan catatan sekolahnya, kemungkinan besar dia tidak mengambil pendidikan di sekolah biasa."
Mendengar itu, lelaki pertama mengangat sebelah alisnya. "Benarkah? Hm...jadi seperti itu ya? Menarik juga," ia menyentuh dagu Baekhyun agar dapat melihat wajah gadis itu dari dekat.
"Masih ada yang lainnya, tuan. Dia—" belum selesai ia berbicara, lelaki pertama memotong.
"Aku tidak perlu mendengarnya lagi. Dia pas sekali." ia tersenyum melihat sesosok mungil dengan mulut yang di bekap oleh gag ball tengah menggeliat di atas ranjang.
Baekhyun memejamkan matanya sambil menarik napas dengan susah payah. Meskipun dia dapat mendengar suara-suara di sekelilingnya dengan baik, tapi penglihatannya tidak dapat di andalkan. Semuanya buram dan berbayang—seolah ia hanya melihat sekumpulan cahaya lampu dari dalam air.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kepadanya..." lelaki itu bergumam rendah. "rasanya aku ingin menyimpannya untuk diriku sendiri, bagaimana menurutmu?" tidak ada jawaban, lelaki itu meringis sambil memamerkan deretan giginya yang seputih salju, "heh? Jadi itu adalah ide yang bagus, Kris?"
"Aku tidak menyarankan itu, Tuan. Kita harus segera menyingkirkannya karena dia bisa jadi ancaman untuk and—" belum selesai lelaki yang di panggil Kris itu bicara, lelaki pertama tiba-tiba memukul wajah Kris dengan cukup kuat hingga tubuhnya yang jangkung membentur ke dinding.
Lelaki pertama menggertakkan gigi, "Beraninya kau menyuruhku!" ia berbicara dengan suara sedikit membentak.
"Maaf, Tuan Chanyeol." Kris menyentuh bibirnya yang berdarah karena pukulan dari majikannya.
Chanyeol menatap Kris dengan tajam, "Cepat keluar sebelum aku berubah pikiran." ia bergumam rendah, terdengar tidak sedang bermain dengan kata-katanya. Kris mengangguk, ia cepat-cepat mengambil laptop miliknya dan segera pergi. Ia tidak ingin berada di sana lebih lama karena akan merusak suasana hati majikannya.
Chanyeol menyingkirkan poni rambutnya ke atas kepala. "What a pain," desisnya. Lelaki itu berjalan mendekati ranjang, kemudian mengusap pipi Baekhyun menggunakan punggung tangannya, "apa yang harus kulakukan kepada gadis cantik sepertimu?" Baekhyun menutup kedua matanya sambil bergumam rendah karena gag ball yang ada dimulutnya agar ia tidak bicara.
"Huh? Apa?" Chanyeol melepaskan gag ball yang membungkam mulut gadis itu.
Dan Baekhyun berkata dengan satu kalimat yang sederhana.
"Bunuh aku," gumamnya rendah.
Jika di pikir lagi, Baekhyun sudah tidak punya alasan untuk hidup. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang orangtuanya seperti anak-anak yang lain. Sejujurnya, Baekhyun tidak pernah merasa bahagia di sepanjang hidupnya.
Jadi untuk apa ia bertahan?
Baekhyun juga telah siap menanggung seluruh dosanya karena pekerjaan yang ia perbuat sebagai hacker.
Jadi kenapa tidak?
Mata Chanyeol membulat. Dia tidak pernah berpikir akan mendengar hal itu dari mangsanya. Itu adalah kali pertama ia melihat seseorang yang benar-benar ingin mati, bukan hanya sebagai kata-kata yang di ucapkan ketika sedang sedih atau emosi.
Gadis itu memang ingin mati.
"Kau—" ia kehilangan kata-kata. Entah mengapa perkataan Baekhyun barusan terngiang dikepalanya seperti suara yang menggema didalam gua.
Chanyeol mengurungkan niat untuk menyakiti Baekhyun hari itu, belum; mungkin ia akan menyimpan Baekhyun untuk keesokan harinya. Sejujurnya Chanyeol tidak suka menyimpan pasokan darahnya lebih lama.
Sebelum keluar kamar, lelaki jangkung itu berbisik tepat ditelinga Baekhyun dengan suara serak yang sangat mengintimidasi, "Apartemen ini kedap suara, jadi berteriak sekeras apapun juga tidak ada gunanya." Katanya. "beristirahatlah dengan nyenyak, malaikatku." Ia kemudian mencium dahi gadis itu selama beberapa detik sebelum ia pergi.
3
"...hyung, kau mendengarku?" pertanyaan itu keluar dari mulut Tao ketika mereka berada dalam sambungan telepon dimalam yang sama setelah kejadian pelelangan itu.
Chanyeol tersentak mendengar suara Tao mendengung ditelinganya. "Yeah, aku mendengarmu." Ia berbohong, tentu saja. Lelaki itu tidak mendengar apapun yang dikatakan Tao mengingat pikirannya terganggu sejak tadi. "errr... kurang lebih?"
"Apa kau baik-baik saja?" suara Tao terdengar khawatir.
Tidak ingin membuat Tao bertanya lebih banyak, ia memutuskan untuk kembali berbohong. "Tentu saja." Sergahnya sebisanya.
"Kau tidak mendengarku, hyung! Ditambah, itu aneh karena kau tidak biasa menghubungiku selarut ini, jadi pasti ada sesuatu denganmu. Jadi cepat katakan padaku sebelum aku memukulmu!" suara Tao seperti sedang menginterogasi.
Chanyeol mendecak karena tebakan Tao memang benar. "Hari ini aku tertangkap... oleh seorang gadis. Dia mengetahui seluruh rencanaku." pada akhirnya ia mau mengaku.
Jantung Tao seperti diremas begitu mendengar pernyataan lelaki yang lebih tua. "BOHONG! Lalu apa kau diancam olehnya? Bisa jadi ini black mailing. Tunggu, memang apa yang kau lakukan?"
"A045,"
"Huh?" suara Tao terdengar tidak mengerti.
Chanyeol mengeram rendah, "A045, tolol."
"A045 apa—" tiba-tiba perkataannya terhenti. "KAU GILA HYUNG!" teriaknya heboh. Chanyeol bahkan menjauhkan ponsel dari telinganya karena terkejut dengan teriakan itu. "mungkin reaksiku sedikit berlebihan, tapi KAU MEMANG GILA!" ia sengaja menekan perkataannya ketika menyebutkan kata gila.
Puas dengan reaksi yang diberikan Tao, Chanyeol menyeringai—seolah ia sedang membanggakan dirinya sendiri. "Begitukah?"
"Lalu, lalu... dimana benda itu sekarang?" suara Tao berubah berbisik. Lelaki itu tau betul dimana ia harus menjaga mulut. "apa dia bersamamu?" Chanyeol bisa membayangkan mata Tao berbunga-bunga mengingat harga barang yang Chanyeol curi sangatlah mahal.
"Tentu saja." Chanyeol dengan singkat menjawab. "ngomong-ngomong, bukan hal itu yang ingin aku bicarakan padamu. Yang ini jauh lebih penting dari itu." Begitu ia selesai bicara, lelaki jangkung itu meneguk segelas darah segar dari gelas wine miliknya dengan nikmat untuk membuatnya relax.
"Apa maksudmu jauh-lebih-penting? Memang apa yang lebih berharga dari kalung ratusan juta itu?"
"Sebenarnya..." ketika Chanyeol hendak membuka mulut untuk berbicara, tiba-tiba ia mendengar suara pintu seperti dibanting.
Sial. Masalah muncul.
Seorang lelaki dengan rambut acak-acakan muncul dari balik kegelapan dengan membawa beberapa kantung plastik dikedua lengannya yang sekeras batu, "Oh? Kau belum tidur? Maaf untuk pintunya. Tanganku penuh," manager Kim memamerkan kantung-kantung plastik itu dengan bangga.
Chanyeol memberikan gerakan kepada manager Kim jika dia sedang berbicara dengan telepon, "Aku hubungi kau besok, manager Kim ada disini." Begitu ia selesai bicara, lelaki itu langsung memutus sambungan.
"Apa aku mengganggu ritual-mu?" manager Kim melirik segelas darah segar milik Chanyeol yang ada diatas meja sembari meletakkan isi dari kantung-kantung plastik itu ke dalam kulkas.
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, "Apa itu sebuah sindiran?"
Manager Kim mengangkat bahu tidak perduli, "Tergantung bagaimana kau menerjemahkannya,"
"Hm. Kalau begitu aku akan menganggapnya sebagai pujian," lelaki itu meneguk darah segar didalam gelas wine itu dengan nikmat. "ah... tidak ada yang lebih enak dari pada darah gadis cantik," gumamnya sambil merenggangkan otot-otot ditubuhnya yang kaku.
"Apa kau tidak pernah berpikir untuk berhenti?" manager Kim menutup pintu kulkas begitu ia memasukkan semua isi dikantung plastik belanjaannya. "tidakkah semua yang kau lakukan ini sudah cukup?"
Raut wajah Chanyeol berubah menjadi serius. Dia menatap manager Kim dengan tatapan mata yang tajam dan menakutkan, "Apa... kau baru saja menyuruhku?"
Manager Kim menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk meladeni sikap aneh dari Park Chanyeol. Meskipun didepan kamera Chanyeol terlihat begitu baik hati dan murah senyum, tapi tidak kehidupan nyatanya. Lelaki itu seperti jelmaan dari sosok iblis yang tidak memiliki hati.
"Sampai kapan kau mau terus seperti ini, Park Chanyeol!? Kau adalah seorang DJ! Banyak pasang mata yang memperhatikanmu karena kau terkenal! Tidakkah kau merasa aneh jika seorang DJ terkenal sepertimu tidak memiliki identitas apapun di media?"
Terbakar emosi, Chanyeol melempar gelas wine digenggaman tangannya hingga membentur lantai dan pecah berkeping-keping, "Tidak sedikit gadis-gadis didunia ini yang menyukai image-ku sebagai DJ misterius!" ia membantah.
"Mereka mungkin menyukaimu sekarang, tapi begitu mereka melihat sosok aslimu itu... aku berani bertaruh mereka akan meludah setiap kali melihat fotomu." Begitu manager Kim selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara aneh yang berasal dari kamar dilantai atas.
"Kau... tidak mungkin..." manager Kim menatap Chanyeol dengan tatapan horror.
3
To be continued. . .
.
.
Sorry for very very very late update :") author akhir-akhir ini di landa penyakit hilang ide :")
Terima kasih untuk kalian yang dengan sabar menanti :"D
Don't forget to share, like this story and comment down below ^^
