Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime
Rate T
Warning OOC
LeviHanji
Memories by Akinayuki
.
.
.
.
.
.
Side Four : Kesadaran
Levi tahu bahwa Hanji Zoe sangat mengagumi dan berusaha menjadi yang terbaik bagi komandan Scouting Legion, Irvin Smith. Tak dipungkiri bahwa Levi juga melakukan hal yang sama hingga mau tak mau dia sering kali bersaing dengan gadis berkacamata itu.
Hanji berusaha menarik perhatian pria berambut pirang pucat itu dengan semua hasil penelitian dan laporannya yang luar biasa mendetail sedangkan Levi berusaha— tidak, sejujurnya dia tidak berusaha. Levi hanya melakukan semua hal seperti biasa dan mungkin pada dasarnya dia mempunyai kemampuan di atas semua orang.
Meskipun kemampuan Levi tidak bisa dipandang sebelah mata, tetap saja jabatannya lebih rendah dari Irvin, Mike dan Hanji sehingga terkadang dia harus menerima keterbatasannya dalam memberi perintah dan menjalankan ekspedisi.
Contohnya saja seperti saat ini. Irvin menyuruhnya untuk tinggal dan memilih Hanji untuk menemaninya sebagai tangan kanannya dalam ekspedisi selama tiga hari. Alasannya sederhana dan bisa diterima, Hanji memerlukan titan baru dan Levi dibutuhkan untuk berjaga-jaga bila terjadi serangan mendadak.
Sejujurnya ini menyebalkan.
Hanji bisa bersenang-senang dengan Titan sedangkan dia harus menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna.
Mungkin kegiatan membersihkan bisa menjadi pilihan utama selama beberapa hari ini.
"Oi Rivaille!"
Levi menghentikan langkah kakinya menuju kamarnya dan melirik ke samping kanan, menunggu sosok pemanggilnya yang sangat dia kenal berdiri di sampingnya.
"Kau mau ke kamarmu?"
"Ya."
"Apa kau sudah tahu kalau Irvin menunjukku menjadi orang kedua dalam ekspedisi kali ini?"
Levi memandangi senyuman lebar Hanji yang benar-benar mengekspos luapan kebahagiaannya saat ini.
"Ya."
"Dan kau tidak ikut dalam—"
"Aku sudah mengetahui hal ini sedetil-detilnya dan kalau kau mau pamer, pergi ke atas dinding dan berteriak di sana. Aku yakin titan-titan brengsek kesayanganmu mau mendengarkannya."
"Aww.." Hanji menepuk punggung Levi dengan kasar hingga pria itu tersentak ke depan dan memberikan tatapan tajam kepada gadis itu. "Aku tahu kau kecewa tapi tenang saja, aku akan kembali secepat mungkin dan menceritakan ekspedisi itu kepadamu! Aku—"
"Sudah berapa lama kau tidak mengganti baju?"
"Eh?" Hanji menghentikan perkataan beruntunnya dan menatap Levi dengan kedua mata bulatnya. "Mungkin sejak lima hari yang lalu. Aku harus mempersiapkan semua hal yang perlu kuteliti untuk ekspedisi kali ini dengan baik."
Levi mengerutkan dahinya dan segera menyambar lengan kiri gadis itu. Mencengkeramnya erat dan menyeretnya untuk ikut dengannya ke dalam kamar Hanji.
"Kenapa kau tidak pernah rutin membersihkan tubuhmu? Aku tidak mau Irvin membawa gelandangan yang penuh kutu dan bau seperti kotoran sebagai orang keduanya."
Levi meraih kenop pintu kamar Hanji dan seperti dugaannya, tidak terkunci. "K-kau tak perlu menyeretku! Aku memang berniat mandi hari ini!" Keluhan Hanji terdengar begitu nyaring ketika dia mendorong masuk gadis itu ke dalam kamarnya.
"Jangan buat aku tertawa dengan perkataan kau akan mandi sehari sebelum ekspedisi."
Hanji mengelus lengannya yang terbungkus di dalam jaket Scouting Legion-nya. "Kau tidak pernah tertawa."
"Lepas bajumu."
Levi bisa mendengar helaan nafas Hanji saat dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar gadis itu sembari melepaskan jaketnya. Ruangan yang terasa lembab dengan ukuran empat kali tiga meter itu hanya dilengkapi oleh sebuah kloset dan sebuah single bathtub yang terletak tepat di bawah jendela kecil.
Levi memutar keran untuk memenuhi bathtub itu dengan air hangat dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga menyentuh sikutnya. Dia berdiri di pinggir bathtub sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya dan melihat air mengalir deras dari keran itu dengan seksama seakan hal itu adalah hal yang menarik.
Sejak seminggu yang lalu, kegiatan memandikan Hanji adalah urutan kedua dalam kegiatan bergunanya saat waktu senggang. Membersihkan gadis itu dari daki yang menempel atau mengikat rambutnya dengan rapi adalah hal yang berguna menurut Levi dan pada dasarnya Levi memang suka kegiatan membersihkan.
"Sekali-kali kau harus mencoba untuk tidak terlalu terobsesi dengan kebersihan," keluhan Hanji terdengar semakin jelas seiring langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.
Levi berbalik menghadap Hanji masih dengan kedua tangannya yang terlipat. Tepat di depannya, mungkin hanya sekitar empat hingga lima langkah, Hanji berdiri tegap tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya dan rambut cokelat gelapnya terurai menyentuh pundaknya.
Meski terhitung hanya empat kali dia pernah memandikan Hanji, Levi tak pernah merasa aneh saat dia melihat tubuh gadis itu secara langsung. Semuanya terasa wajar dan normal baginya. Lagipula, bukankah mereka berteman?
Mungkin Irvin dan Mike juga pernah melihat tubuh telanjang satu sama lain, ini sama seperti kedua pria itu, tidak ada bedanya.
"Cepat masuk ke dalam."
"Iya iya.." Hanji segera berjalan melewati Levi dan masuk ke dalam bathtub perlahan, menenggelamkan tiga perempat badannya di dalam air hangat itu hingga mendesah pelan saat dia bersandar di pinggiran bathtub.
Levi mengambil sebotol sabun yang berada di dekat kaki bathtub dan menuangkannya sedikit di telapak kanannya. Diliriknya Hanji yang masih menikmati air hangatnya kemudian tersentak ketika Levi meraih tangan kanannya.
"Dua hari lagi tubuhmu akan sama seperti ladang jamur," ucap Levi datar sembari menggosok-gosok lengan Hanji yang kini dipenuhi oleh busa wangi. "Pantas saja Titan menyukaimu, baumu sama dengan mereka."
"Hoh? Benarkah? Kalau aku mandi selama sebulan, mereka akan semakin menyukaiku?"
Satu jitakan keras mendarat di kepala Hanji hingga gadis itu meringis sembari mengelus kepalanya.
"Kenapa kau bodoh sekali?"
"Aku ini pintar, ingat aku ketua bagian penelitian!"
Levi hanya diam dan melanjutkan menggosok lengan bagian atas hingga pundak Hanji sedangkan gadis itu masih merengut meski akhirnya sebuah senyuman terlukis di wajahnya beberapa detik kemudian.
"Kemarin Mike bertanya padaku kenapa aku terlihat lebih rapi dari biasanya."
Levi kini beranjak untuk membersihkan bagian pinggang Hanji.
"Dan aku menjawab bahwa kau memandikanku."
"Berbalik," perintah Levi seakan tak peduli dengan ucapan Hanji. Gadis itupun segera berbalik dan memberikan punggungnya kepada Levi untuk dibersihkan.
"Lalu Mike terlihat terkejut, apa salah dimandikan oleh seseorang?"
"Tidak."
"Aa.." Hanji menganggukkan kepalanya dan memegang dagunya, "aku juga berpikir seperti itu. Dulu aku sering mandi dengan Irvin."
Gerakan tangan Levi di punggung Hanji terhenti.
"Jadi apa salahnya kalau aku dimandikan olehmu."
Dan tiba-tiba kamar mandi itu menjadi hening.
.
.
.
.
.
Levi berjalan tanpa suara melewati keramaian desa bersama Mike di sampingnya. Ini sudah hari kedua semenjak Hanji pergi bersama Irvin ke luar dinding dan Mike –yang juga ditinggalkan— mengajaknya untuk membeli perlengkapan tulis baru selama sebulan.
Sejujurnya, Levi tidak dekat dengan Mike. Jadi suatu kewajaran bila sejak mereka berangkat belum ada satupun kalimat yang keluar dari mulut masing-masing. Levi dengan wajah datarnya dan Mike yang tak bergeming.
Kedua orang itu menarik perhatian beberapa orang yang tak sengaja melewati mereka atau sedang berhenti di pinggir jalan.
"Kau sering memandikan Hanji?"
Levi melirik Mike dari kedua ujung matanya yang tajam.
"Pertanyaan yang langsung rupanya."
"Saat Irvin membawamu, aku mencium bau yang aneh darimu."
"Asal kau tahu aku belum mandi selama seminggu saat itu."
Mike terdiam, berdebat dengan Levi memang sangat susah dan membuat dirinya kesal.
"Apa bedanya dengan Irvin yang memandikan empat mata bodoh itu? Aku tidak suka ada diskriminasi jabatan."
"Ini bukan masalah diskriminasi jabatan." Mike menghela nafas. "Hanji sudah menganggap Irvin sebagai pengganti ayahnya. Kukira mereka mandi bersama bukanlah hal yang patut dikuatirkan."
Levi mengerutkan dahinya dan terus mengikuti langkah kaki Mike.
"Sedangkan kau—"
"Tuan!"
Seorang pria tua pemilik kedai kopi menghampiri mereka dan memasang senyuman yang luar biasa lebar hingga mengekspos gigi-gigi besarnya.
"Hari ini aku mempunyai potongan harga untuk pasangan—" Pria tua itu melirik ke arah Mike, "Oh? Hari ini kau tidak bersama nona Hanji?"
"Dia sedang pergi melakukan ekspedisi," terang Mike tersenyum tipis.
"Sayang sekali, aku tidak bisa memberikan potongan harga padamu hari ini. Lain kali ajaklah nona Hanji kemari untuk minum kopi bersama."
Levi memandangi pria tua itu, "aku dengan pria ini—" Jari telunjuknya teracung ke arah Mike. "—tidak bisa disebut pasangan?"
"Tentu tidak tuan!" Pria tua itu tertawa dan mengibas-ngibaskan tangannya, "pasangan itu terdiri dari seorang pria dan seorang wanita. Kau pria dan nona Hanji itu wanita. Kulihat kalian sering keluar bersama, apa kalian bukan sepasang kekasih?"
Levi mengerutkan dahinya sekali lagi.
"Kau sadar?" Kini suara Mike terdengar jelas di telinganya. "Itu masalahnya."
.
.
.
.
.
Levi membuka kedua jendela kayu yang berada di dalam ruangan santai para pemimpin pasukan. Hari ini adalah hari kepulangan Irvin serta Hanji dari ekspedisi mereka dan Levi memilih menghabiskan waktu dengan membersihkan beberapa ruangan yang agak berdebu.
Sebenarnya, dia masih tidak mengerti kenapa Irvin memandikan Hanji berbeda dengan dia memandikan gadis itu. Irvin juga seorang pria layaknya Levi, lalu dimana letak perbedaannya?
Kenapa hubungan Irvin dengan Hanji bisa dikatakan sebagai ayah-anak hingga mereka mandi bersama adalah hal yang wajar, sedangkan apa hubungannya dengan gadis berkacamata itu tidak cukup kuat untuk mandi bersama?
Mereka berteman kan? Kenapa teman tidak bisa mandi bersama?
Mike mengatakan bahwa hubungannya dengan Hanji yang selalu dikira hubungan sepasang kekasih adalah biang permasalahannya. Tunggu, kalaupun mereka menganggap seperti itu, apakah kekasih dilarang mandi bersama?
Sialan, ini sungguh rumit dan membuatnya ingin membanting sesuatu.
Baru saja Levi menggosok pinggiran jendela dengan kain lap putihnya, suara pintu yang terbuka dengan keras membuat gerakannya terhenti.
"Rivaille! Aku pulang!"
Levi memandang datar Hanji yang muncul secara menghebohkan. Di belakang gadis itu, dia bisa melihat sosok Irvin yang tersenyum kecil melihat tingkah laku bawahannya.
"Kau tahu? Aku menemukan Titan berkepala besar dan tubuhnya hanya sepuluh meter!"
"Kau kotor."
Hanji menaikkan kedua alisnya dan memandangi seragamnya, "Ah kau benar! Tapi Titan itu—"
"Sebaiknya kau mandi terlebih dahulu," sela Irvin dengan ekspresi maklumnya sembari menepuk kepala gadis itu. "Setelah itu kita bisa berbincang mengenai hasil ekspedisi ini, bukan begitu Levi?"
Levi hanya memandang datar ke arah mereka, "Ya. Aku tidak mau mendengarkan penjelasan aneh mengenai Titan dari orang bau."
"Baiklah baiklah.." Hanji menghela nafas kecewa, "Irvin! Bagaimana kalau kita mandi bersama seperti dulu? Levi sedang sibuk membersihkan ruangan ini, kau pasti bisa membantuku membersihkan ba—"
"Tidak!"
Ucapan Hanji terhenti seketika saat suara Levi terdengar lagi, bahkan Irvin ikut menoleh ke arah pria itu.
"Kau bukan anak kecil lagi bodoh, kau punya kedua tangan dan otak untuk membersihkan tubuhmu!"
"Tapi—"
Irvin kembali tersenyum, "Levi benar. Kau sudah besar, tidak mungkin kita mandi bersama seperti dulu. Kau itu wanita dan aku seorang pria, kurasa pria dan wanita dilarang mandi bersama kecuali mereka mempunyai hubungan yang spesial."
"Benar, kau harus sadar kalau kau itu wanita, dasar empat mata bodoh."
Hanji menatap kedua pria itu heran. "Aku harus mempunyai hubungan spesial supaya bisa mandi bersama dengan kalian? Tapi Levi sering memandikanku—"
"Sebaiknya kau cepat mandi karena bau badanmu sudah menyebar di dalam ruangan ini dan membuatku ingin muntah."
Hanji menghela nafas lagi ketika Levi melempar lap putih itu ke arahnya, "baiklah. Aku mandi dulu." Dengan malas, gadis itu segera beranjak pergi meninggalkan Irvin dan Levi berdua.
"Jadi kau sudah menyadari masalahnya Levi?"
Irvin tersenyum penuh arti ke arah Levi dan pemuda itu hanya terdiam sembari mengambil lap baru di atas meja.
Yang bisa dia mengerti hanyalah Hanji adalah seorang wanita. Mungkin selama ini dia tidak sadar bahwa rekannya yang sungguh berisik itu adalah lawan jenisnya. Dia sudah terbiasa dengan Hanji dan melupakan hal yang terpenting bahwa Hanji adalah seorang wanita.
Oh— dan satu hal lagi yang bisa dia mengerti.
"Ya, masalahku adalah mempunyai hubungan spesial dengan gadis bodoh itu."
Dia tidak suka Hanji mandi bersama dengan Irvin.
End
Author's note : Chapter empat sudah ku-update! Terima kasih telah membaca fic ringan ini! Sebenarnya ini bukan side story asli dari manga/anime-nya ya, jadi semua ini hanyalah khayalanku saja ahahaha Mungkin di chapter ke-enam aku mulai memunculkan Eren dan kawan-kawan. Aku berusaha untuk membuat fic ini Canon.
Sekali lagi terima kasih kepada Ana cii Bunny, Amai Yuki, Saerusa,lil'chrome-chan, afifah. Hantu dan Summer Dash yang telah mereview!
