Title : PRIMROSE

Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

Other Cast

Rate : T – M

Genre : Crime, Little Hurt, Romance

.

.

.

.

By; Miss Galaxy

.

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.


:::::

You're dazzling, sunglass babe,

When you laugh at me it's so chic, are you crazy?

You're a natural beauty, so unique, so unique, my perfect dear!

My mind is so out of it, I'm possessed by you..

Blodd is rushing to that one place again, it's dangerous!

You're so dangerous! Save me babe, call the police babe… Big Bang–Bae Bae

:::::


.

.

.

Tuan Do menegang ditempat, lelaki paruh baya itu kemudian menatap ragu lelaki didepannya yang kini mengernyitkan dahinya bingung.

"Ada apa Tuan Do? Apa ada masalah?" Tanyanya nampak tak sabaran. Tuan Do mendongak menatapnya sejenak dengan gelisah, si mata hijau memainkan ekor matanya, menatap tajam ayah Kyungsoo tersebut.

"Jangan bilang bahwa Kai telah merampasnya terlebih dahulu?"

Tuan Do terdiam cukup lama, kemudian setelah tarikan nafas panjang, lelaki paruh baya itu mengangguk lemah. "Benar Tuan Park," Lelaki jangkung itu terdiam sebelum terkekeh, membuat Tuan Do menatapnya bingung. "Bagus," Gumannya masih terkekeh, lalu detik setelahnya lelaki itu terdiam dengan tatapan mengerikan. Ekspresinya berubah menjadi keras seketika.

"Sudah kuduga dari awal bahwa kau memang bukan orang yang becus. Aku akan mengambil milikku dengan tanganku sendiri."

.

.

.

Aroma jahe menguar memenuhi penjuru dapur saat Kyungsoo dengan sarung tangan khusus itu mengangkat loyangnya yang penuh kue jahe dari dalam oven.

"Nona hati–hati, jangan sampai menyakiti tanganmu sendiri." Xiumin tanpa sadar memekik histeris, wanita dengan mata sipitnya itu tak bisa untuk tidak khawatir sementara Kyungsoo yang berhasil meletakkan loyangnya dengan selamat keatas meja hanya terkikik tanpa dosa.

"Aku oke Xiumin." Guman Kyungsoo, gadis manis dengan apron merah muda berenda yang melingkar disekitar pinggangnya itu menatap hasil karyanya yang masih hangat mengepul dengan bahagia. Kue jahe berbentuk hati dengan warna coklat panggangan yang menggoda.

"Wow, sepertinya enak." Komentar Momoi sedikit mengintip dibelakangnya.

"Lebih bagus lagi jika kau berhenti membuatku khawatir Nona, kau tahu jika sampai jarimu terkena oven dan terluka, Tuan Kim pasti akan membuangku kedalam kolam ikan Piranhanya." Xiumin masih mengoceh tentang keselamatan Kyungsoo belajar membuat kue pagi ini. Well, Xiumin adalah koki wanita yang menyenangkan menurut Kyungsoo. Dia adalah tipikal wanita keibuan yang cerewet tapi penuh perhatian, tidak butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk menjalin hubungan dekat, karna sifat Kyungsoo yang memang pada dasarnya ramah sangat cocok dengan Xiumin yang supel.

"Kai tidak akan melakukan itu, lagipula aku sudah terbiasa jadi jangan terlalu khawatir," Balas Kyungsoo pelan, membayangkan lelaki itu tengah melemparkan tubuh sintal Xiumin kedalam kolam penuh ikan predator tersebut dan membiarkannya menjadi santapan ikan mengerikan tersebut. Hii!

"Tapi itu mengerikan," Lanjut Kyungsoo sambil bergidik.

"Jika kau tak ingin itu terjadi, maka berhentilah Nona." Xiumin mendelik sebal, mengabil alih pekerjaan Kyungsoo yang tengah menata kue tersebut keatas piring khusus yang cantik.

"Lagipula Kai sedang tidak ada disinikan?"

"Tapi dia memiliki banyak mata," Xiumin menatapnya dramatis, kemudian memberi kode pada jajaran pengawal yang selalu siap didepan pintu. Kyungsoo dan Momoi dibuat tertawa karnanya.

"Apa Kai suka kue jahe?" Tanya Kyungsoo kemudian, entahlah. Dia tidak tahu kenapa dia menanyakan itu. Biasanya jika dirumah, dia akan membuat kue brownies dan secangkir greentea untuk Hanbin. Yeah! Kyungsoo sangat rindu pada adiknya itu.

"Kau ingin memberikan ini padanya?"

"Apa itu masalah?"

"Tidak juga, berikan dia kopi."

"Apa harus?"

"Kau ingin memenangkan hatinya?"

"Entahlah."

"Berikan ini dengan manis dan dia setidaknya akan memperlakukanmu dengan baik."

.

.

.

"Momoi?"

"Ya Nona?" Sahut Momoi sambil menyisir rambut Kyungsoo yang terurai. Pelayan muda itu menatap bayangan Kyungsoo yang terpantul dicermin dan tersenyum kecil.

"Kau cantik,"

"Aku sedang tidak ingin mendengar pujian."

"Lalu?"

"Sebuah pengakuan,"

"Apa yang harus aku akui?"

"Kenapa kau bekerja disini?" Tanya Kyungsoo gamblang, Momoi berhenti sejenak untuk mendongak berfikir.

"Kenapa aku bekerja disini? hhm, ya karna aku membutuhkan pekerjaan ini."

"Bahkan setelah Kai melemparmu jatuh dari lantai dua kedalam kolam?" Mata Kyungsoo melebar dan Momoi hanya tertawa kecil.

"Kau ingin tahu sekali Nona. Kuberitahu secara logika. Pertama karna aku memang butuh pekerjaan, kedua karna gaji sebulan disini sangat mencukupi bagiku. Lalu kenapa aku harus pergi? Dan masalah pelemparan kekolam itu, yeah itu salahku juga yang tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik."

"Tapi Kai lelaki yang.. kau paham maksudku Momoi."

"Aku tahu," Sahut Momoi cepat, mengambil sebuah jepit kecil kemudian menyelipkannya dengan apik dirambut Kyungsoo. Gadis pelayan itu tersenyum. Wah, tahanan tuannya ini benar–benar manis bahkan hanya dengan menggunakan blous pink polos dengan rok selutut berwarna merah, tanpa make–up pula.

"Kau cantik sekali Nona, pantas tuan Kim tergila–gila padamu."

"Makadari itu dia membeliku?" Momoi mengangkat bahunya tidak tahu, sementara Kyungsoo tengah mengerutkan dahinya berfikir. Benarkah Kai membelinya hanya karna lelaki itu tergila–gila padanya? Dan Ayahnya secara sukarela menyetujuinya? 'Murahan' seketika kata itu melintas difikirannya.

"Masalah itu aku tidak tahu, tapi aku senang melayani Nona." Momoi tersenyum kemudian menyentuh pundak Kyungsoo dengan bersahabat. Kyungsoo menghela nafas, setidaknya didalam sangkar ini dia memiliki seorang teman. Kemudian suara mesin mobil terdengar memasuki pekarangan, Momoi segera berlari kearah jendela untuk mengintip kemudian kembali berdiri dibelakang Kyungsoo.

"Tuan Kim datang! Ayo Nona harus turun untuk makan malam,"

.

.

.

Makan malam terlewatkan dengan hening. Kyungsoo tidak banyak makan malam ini, dia terlalu gugup karna harus menyantap makanan berdua dengan Kai. Yeah, meski lelaki itu hanya diam dan sama sekali tidak berbicara padanya, namun Kai yang seperti ini tetap saja terasa mengerikan. Kyungsoo meletakkan sendok dan garpunya, membiarkan sup jagung buatan Xiumin yang luar biasa itu masih tersisa setengah dimangkuknya. Kai mendongak dari makanannya, menatap Kyungsoo.

"Apa makanannya tidak enak?" Tanyanya biasa, ekor matanya melirik makanan Kyungsoo.

"Aku sudah kenyang, sungguh." Balas Kyungsoo pelan dengan kepala menunduk. Kai hanya mengguman samar sebagai balasan, lelaki itu kemudian menyelesaikan makannya dalam keheningan, Kai lebih banyak diam hari ini. Hidangan penutup datang, Kai mengernyitkan alisnya menatap sepiring kue jahe dan kopi hitam didepannya. Tidak, bagaimana Xiumin itu bisa lupa kebiasannya setelah selesai makan? Ah, apa wanita itu sudah siap jatuh melarat?

"Xiumin," Panggil Kai murka.

"Aku yang menyuruhnya," Sahut Kyungsoo cepat menghentikan ucapan Kai, lelaki tan itu menatap Kyungsoo dengan alis berkedut. Menunggu penjelasan dari gadis yang masih menunduk itu.

"Pagi tadi, um..aku membuat kue itu bersama Xiumin. Ah, anu..kufikir, k–kau mau mencicipinya? Atau, jika tidak mau kau bisa membuangnya ke tong sampah," Kyungsoo menunduk sambil meremas tautan kedua tangannya, saat tak mendapat jawaban gadis itu mendongak dan rasa tidak percaya muncul dimanik matanya saat Kai tanpa suara sudah membawa satu potong kue kemulutnya, lelaki itu terdiam mengunyah seperti sedang menilai cita rasa kue itu dimulutnya, membuat Kyungsoo tiba–tiba merasa gugup sendiri. Sial! Ada apa dengannya hari ini?

"Tidak buruk." Komentar Kai, setengah potongan kue diatas piring itu ludes. Kyungsoo menarik nafas lega, itu artinya kuenya tidak terlalu buruk dan Kai menyukainya. Lelaki itu kemudian menyeruput kopi hitamnya sebelum bangkit dan meninggalkan meja makan tanpa suara. Ouh,benarkan? Seperti ada yang berbeda dari lelaki itu, tidak seperti biasanya.

.

.

.

Selesai makan malam, Kyungsoo berkeliling rumah seorang diri. Momoi dan semua pelayan sedang makan malam didapur, dan Kyungsoo merasa tidak enak diri mengganggu acara makan pelayan pribadinya itu. Gadis itu melewati ruang utama, menuju kesisi pintu kaca yang menuju taman. Tidak, Kyungsoo sedang tidak ingin ketaman. Gadis itu kemudian berbelok dan menemukan sebuah kolam yang berada tepat dibawah balkon kamarnya. Yeah, itu kolam tempat Momoi dijatuhkan dengan kejam. Menghela nafas mengusir trauma tersebut, Kyungsoo menelanjangi kaki mungilnya dari sandal rumah berbulu yang nyaman menuju kepinggir kolam. Cuaca malam sedang bagus, lampu disekitar kolam tersebut memantulkan wajah manisnya keatas permukaan air biru tersebut. Angin tak terlalu dingin, Kyungsoo berjongkok dan menyentuhkan tangan kanannya kedalam kolam, dingin tapi menghangatkan, menggoda Kyungsoo untuk menceburkan diri disana. gadis manis itu kemudian mendudukkan diri dipinggir kolam, mencelupkan kedua kakinya disana. bergoyang–goyang menendang–nendang air dengan menyenangkan. Sudah kubilang, airnya memang dingin tapi lama–lama terasa hangat. Kyungsoo lalu teringat masa kecilnya. Saat itu dia berusia tiga belas tahun dan Hanbin berusia sepuluh tahun, mereka bersama sang Ibu tengah menghabiskan hari minggu bermain ke Pantai. Hanbin yang gembira langsung berlari berniat berenang kepantai, Kyungsoo sebagai kakak merasa khawatir. Bagaimana jika Hanbin tenggelam? Tapi itu meninggalkan sebuah kenangan lucu karna Kyungsoo yang berniat sok melindungi adiknya malah tenggelam dan berbalik Hanbinlah yang melindunginya. Lucu! Kyungsoo tersenyum mengingat cerita itu, dia merasa konyol dan malu kepada Hanbin. Kenangan itu membuatnya trauma untuk sekedar menceburkan diri kedalam kolam, bagaimana jika dia tenggelam? Siapa yang akan menolongnya selain Hanbin? Tapi bagaimana adiknya itu akan menolongnya jika dia tidak ada disini?

"Naiklah Kyungsoo, kau bisa flu jika berenang dimalam hari."

Suara itu,

Kyungsoo menoleh cepat dan menemukan Kai tengah berjalan mendekatinya dengan gelas tinggi berisi sampanye. Lelaki itu terlihat santai dengan celana jins selutut dan kemeja putih polosnya.

"Kau mau berenang?" Kyungsoo diam saat lelaki itu melemparkan pertanyaannya, gadis manis itu kemudian menunduk dengan gelangan kepala, membiarkan Kai menyeruput minumannya dengan ekor mata tetap mengawasinya.

"Aku tidak bisa berenang." Jawab Kyungsoo lirih, tapi Kai cukup mampu untuk mendengarkannya. Lelaki itu meletakkan gelasnya diatas meja santai dekat kolam kemudian mendekati Kyungsoo, berdiri menjulang dibelakangnya, banyangan hitamnya melingkupi tubuh Kyungsoo yang mungil.

"Kau tidak akan mengatakan itu jika kau mencoba." Lelaki itu kemudian turun kedalam kolam, membuat mata Kyungsoo melebar dan bertanya apa yang lelaki itu ingin lakukan.

"Turunlah." Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Kyungsoo yang masih menatap uluran itu dengan ragu. Jika kolam itu tingginya mencapai hampir setengah dada lelaki itu, tandanya itu cukup dalam bagi Kyungsoo. Gadis manis itu menggelang menolak.

"Aku takut," Lirihnya. Kai menatapnya tanpa menurunkan ulurannya.

"Kau tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya air kolam jika kau masih dihantui rasa takut, turunlah Kyungsoo. Kau bersamaku,"

"Tapi–"

"Atau aku memaksamu?" Kyungsoo terdiam ditempat atas ancaman itu, dengan ragu gadis itu menyambut uluran tangan Kai kemudian dengan perlahan turun kedalam kolam. Kyungsoo memekik tertahan saat tubuh mungilnya hampir tenggelam bersamaan dengan hawa dingin yang perlahan menyusup kesendi–sendi tubuhnya.

"Dingin," Erangnya takut, benar kan? Kedalaman kolam itu sudah hampir mencapai dagu Kyungsoo sehingga membuat gadis itu kapan saja bisa tenggelam. Kai memegangi gadis itu, satu tangannya menahan pinggang Kyungsoo sementara satu lagi memeluk punggungnya, membuat tubuh Kyungsoo sedikit terangkat –kakinya tidak menyentuh lantai– dan tidak tenggelam.

"Bagaimana?" Kyungsoo menggelang, sebenarnya gadis itu luar biasa gugup. Karna satu dia takut pada kedalaman kolam ini, dan kedua dia merasa berdebar berada sedekat ini dengan Kai. Yeah, meski dia bahkan sudah lebih dari berciuman –terpaksa tepatnya– namun Kyungsoo tetap saja takut sekaligus gugup.

"Jangan pernah dibodohi oleh ketakutan Kyungsoo," Lelaki itu kemudian melepas pegangannya, membiarkan Kyungsoo terbiasa dan menapaki dasar kolam dengan kakinya. Sejenak gadis itu merasa takut dan panik, namun lama–kelamaan Kyungsoo menikmatinya juga, gadis itu bahkan sudah berani berjalan mendekati tengah kolam tanpa pegangan Kai.

"Jangan terlalu jauh, semakin keujung dasar kolam semakin dalam." Kai memperingati dan Kyungsoo yang mendengar itu merasa panic kembali, pasalnya dia sudah hampir mencapai pertengahan kolam.

"Tetap disana." Kyungsoo kemudian diam, membiarkan Kai mendekatinya. Kemeja lelaki itu basah, membuat dada bidangnya yang kecoklatan tercetak dengan jelas. Astaga! Kyungsoo jadi teringat dengan Kim Woo Bin, Actor Korea Selatan yang terkenal itu, tubuhnya bagus dan wajahnya tampan, membuat Kyungsoo kadang kala tanpa sadar berteriak histeris jika Actor itu tampil diacara TV. Dan sekarang didepannya sosok lelaki yang.. sama –bahkan– lebih tampan dan bertubuh atletis itu tengah berada didepannya. Mengangkat tubuhnya dengan sebelah tangan sementara tangan satunya menahan punggungnya. Ini terlalu dekat, telapak tangan kiri Kyungsoo tanpa sadar menyentuh dadanya yang keras, sedangkan tangan kanannya memeluk bisepnya yang melengkung dengan indah. Oh! Andai saja ekspresi serta tatapan tajam itu hilang, pasti Kai adalah sosok Malaikat yang sempurna. Perlahan memikirkan itu membuat wajah Kyungsoo terbakar.

"Kau menjadi gadis manis hari ini." Dipertengahan kolam sambil menggendong Kyungsoo seperti sedang menggendong seorang bocah, Kai berucap dengan serak. Lelaki itu mendekatkan wajahnya, mengendus pelan wajah Kyungsoo. "Dan aku suka itu," Lanjutnya diakhiri sebuah ciuman di bibir ranum Kyungsoo yang menggoda. Astaga! Kai mengerang dalam hati saat bibirnya dengan bebas melumat si kuncup. Manis, menyenangkan dan lezat. Kyungsoo adalah ekstasi terlarang, gadis itu berbahaya. Setiap jengkal tubuhnya membuat Kai selalu merasa melayang, bagai terbang ke angkasa dan BANG! Gadis itu membuatnya ketagihan dan akhirnya menjadi sebuah candu dimana jika Kai tidak mendapatkannya, tubuhnya seolah–olah akan lenyap oleh kesakitan. Terutama kuncup tersebut, bibir hati ranum yang menggoda untuk dihisap. Tangannya bergerak menekan belakang kepala Kyungsoo, memaksa untuk mendominasinya.

"Mmhp." Kyungsoo menekan dadanya, dalam hati lelaki itu mendesis dan melepaskan ciumannya dengan terpaksa. Ditatapnya wajah Kyungsoo yang memerah kekurangan oksigen. Ya Tuhan! Gadis ini manis, gadis ini cantik, gadis itu berbahaya! Kai menginginkannya.

"Dingin," Erang Kyungsoo pelan, seolah tersadar, Kai segara membawa gadis itu kepinggir kolam dan membawanya naik. Tubuh mungilnya menggigil, Kai segara memanggil salah satu pelayan untuk mengambil handuk, kemudian menyelimutkannya ketubuh Kyungsoo. Ouh, lihat lekuk tubuhnya yang tercetak jelas dibalik blous itu.

"Mandi dengan air hangat dan pergilah tidur," Diantara rasa menggigilnya, gadis manis itu mengangguk imut, kemudian menuruti apa yang lelaki itu ucapkan. Sepeninggalkan Kyungsoo, Kai terdiam, menatap kepergian gadis itu. Sialan! Bagaimana bisa ada wanita seperti itu? bersikap polos seolah tidak tahu apa–apa namun menyimpan Racun berbahaya? Argh! Kai tidak bisa menyentuhnya, tidak. Tidak sekarang. Lelaki itu kemudian menyeringai, melangkah meninggalkan kolam renang menuju kamarnya. Nanti, dia akan membuat Kyungsoo menyerah secara suka rela padanya.

.

.

.

"Pesta?" Kyungsoo bertanya pada Momoi yang tengah sibuk mencatok rambutnya. Hell, sebenarnya rambutnya sudah lurus tanpa bantuan alat itu, tapi yeah!

Pesta? Kenapa mendadak? Bahkan saat makan malam tadi Kai tidak mengatakan apapun untuk hal ini, tapi kenapa juga dia harus ikut?

"Pesta apa Momoi?"

"Pesta tahunan bisnis Tuan Kim. Setiap tahun Tuan Kim akan mengadakan pesta untuk merayakan kesuksesan bisnisnya, yeah tamu–tamu VIP dari berbagai kalangan pembisnis sukses di Korea Selatan." Kyungsoo hanya membulatkan mulutnya mendengar penjelasan Momoi. Dalam otak kecilnya mulai membayangkan acara pesta tersebut, pastilah sangat besar dan mewah mengingat Kai adalah salah satu manusia pembisnis dengan kekayaan tujuh turunan. Dan pertanyaannya saat ini, apa Kai ingin mengajaknya untuk pergi kepesta mewah itu?

"Tuan Kim ingin agar Nona sudah siap dalam satu jam lagi," Setelah membuat rambutnya lurus, Kini gadis pelayan itu sibuk memoles wajah manis Kyungsoo. Dimulai memberi foundasion, bedak dan apalah itu. Kyungsoo bukan tipe gadis pesolek, jarang sekali dia menggunakan make–up.

"Kenapa aku?" Momoi mengangkat bahunya.

"Mungkin Nona akan menjadi pasangannya malam ini,"

"Apa dia pernah mengajak seseorang sebelumnya dalam pesta ini?"

"Entahlah, tapi ada yang bilang dia selalu datang sendiri. Kecuali tahun lalu, media bilang dia mengajak Suzy, penyanyi cantik itu. Dan sekarang dia mengajak Nona, kau beruntung sekali Nona." Kyungsoo mencibir, apa untungnya pergi kepesta bersama iblis itu?

"Pejamkan matamu Nona, jangan diibuka sampai aku memberi intruksi." Kyungsoo menurut memejamkan matanya, kemudian membiarkan Momoi melakukan tugasnya. Setelah cukup lama, Momoi memekik kecil memberi intruksi, dengan perlahan Kyungsoo mulai membuka matanya dan detik itu juga dia tertegun pada bayangan cermin didepannya.

Astaga! Siapa gadis cantik itu?

"Kau cantik." Girang Momoi. Kyungsoo terpana, menyentuh pipinya sendiri dan banyangan didepannya melakukan hal yang sama, Kyungsoo tersenyum dan gadis cantik dicermin juga tersenyum. Kyungsoo! Itu dirimu, luar biasa. Kyungsoo bahkan baru sadar jika dirinya bisa secantik ini, serasa melihat sosok Kim Tae Hee! Wah, ternyata Momoi juga gadis multitalent yang pandai merias, jika begitu kenapa dia tidak bekerja sebagap make–up atau stylist artis saja daripada bekerja menjadi pelayan disini?

"Nah sekarang tinggal memakai gaun," Momoi berjalan kearah lemari kacar besar disebelahnya dan mencari–cari gaun yang dimaksud diantara puluhan gaun yang berjajar. Kyungsoo mengikuti pergerakan Momoi, ekor matanya menatap lemari besar dua pintu yang berisi macam–macam pakaian. Ada dua lemari besar didalam kamarnya ini, satu lemari besar berisi tas dan sepatu serta satu lemari besar lainnya berisi penuh pakaian, mulai dari gaun, puluhan dress, coat, t-shirt, rok, jins, piyama, bahkan celana dalam dan bra yang berpasang–pasangan. Astaga! Wajah Kyungsoo memerah menyebut benda terakhir tersebut. Ini terlalu berlebihan baginya dan Kyungsoo jadi teringat masa lalu, dulu Kyungsoo hanya punya dua potong gaun sederhana untuk pesta, itupun hasil jerih payahnya menabung dan rela melewati makan siangnya. Kyungsoo juga hanya punya satu heels, hasil bekerja paruh waktu. Makadari itu Kyungsoo selalu menghindar jika ada ajakan teman untuk pergi kepesta, alasan pertama karna warna gaunnya sudah memudar, lalu alasan kedua karna dia lebih memilih pergi bekerja membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bersama Hanbin daripada bersenang–senang. Dan sekarang Kyungsoo melirik dua lemari besar tersebut, segala keinginan sandang yang sedari dulu tidak pernah dia dapat sekarang sudah tersedia secara mudah didepannya. Apa ini semua karna Kai? Apa lelaki itu yang membelikan semua ini? Tapi kenapa?

"Ini gaun keluaran butik ternama, Wow!" Lamunan Kyungsoo buyar saat Momoi kembali dengan decakan kagum. Gadis manis itu melirik sesuatu ditangan Momoi, sebuah gaun berwarna pink cantik yang masih baru, bahkan masih terbungkus plastik serta cap lebel butik ternama.

"Wah.. ini desain khusus dari desainer ternama, limited edision. Aaa, Nona.. pasti harganya dua tahun gajiku disini." Momoi yang terpana pada kemewahan gaun tersebut tanpa sadar memekik senang, menatap gaun ditangannya dengan takjub. Bahkan tangannya cukup gemetaran karna baru kali ini dia memegang gaun dengan harga yang selangit. Kyungsoo jadi mengernyitkan dahinya melihat sikap berlebihan Momoi terhadap gaun tersebut, jika seandainya gaji Momoi sebulan disini besar, dan dihitung dalam dua tahun yang katanya baru sanggup membeli gaun tersebut, bisa Kyungsoo bayangkan betapa mahalnya gaun ini. Momoi kemudian membantunya memakai gaun tersebut dengan hati–hati dan penuh perasaan, semua sudah selesai dan tahap terakhir hanyalah menaikkan resleting gaun dibagian punggung belakang serta mengaitkan satu kancing krystalnya.

"Wow," Kyungsoo menatap dirinya. Astaga! Gaun ini cocok sekali, sangat bagus. Menempel pas ditubuh Kyungsoo yang kecil dan mungil. Kyungsoo tanpa sadar tersenyum senang kemudian memutar–mutar tubuhnya didepan cermin besar. Bahannya yang terbuat dari bahan satin kombinasi sifon yang halus membuatnya terasa sangat nyaman ditubuh, belahan dadanya juga tidak terlalu rendah, sempurna. Momoi kemudian mendekatinya dan menyematkan semacam bunga mawar dibagian dada sampingnya sebagai hiasan. Disusul sebuah kalung krystal dengan liontin mawar berwarna putih perak, awalnya Kyungsoo menolak memakai itu karna merasa ini terlau berlebihan, tapi akhirnya gadis itu mengalah setelah lelah menghadapi Momoi yang terus ngotot.

"Wah, kau cantik sekali Nona." Pekik Momoi luar biasa senang, menatap Kyungsoo dari atas kebawah dengan decak kagum. Kyungsoo menunduk, jadi merasa malu. Astaga! Dia merasa menjadi Cinderella malam ini, dan akan mendampingi sang Pangeran, tanpa sadar.. Kyungsoo merada gugup dengan debaran jantung yang terus bertalu–talu.

.

.

.

Kai melirik jam tangan dipergelangan tangan kirinya, masih ada setengah jam dari waktu satu jam yang Kai berikan pada Momoi. Lelaki itu mendesah, merasakan ponselnya bergetar disaku jasnya.

"Sehun?" Lelaki itu bersuara setelah meletakkan ponsel hitam tipi situ ketelinganya.

"…"

"Hm, bawa kehadapanku." Kai memutuskan sambungan setelah memberi perintah. Telunjuknya mengetuk pegangan sofa berirama, menghitung mundur dan seolah sudah diperkirakan, pintu dibelakangnya terbuka.

"Tuan,"

Bruk!

Suara ringisan pelan terdengar dari seseorang yang baru saja didorong paksa hingga mencium lantai, darah yang berasal dari luka diwajahnya muncrat, mengotori ubin lantai yang putih bersih. Sehun berdiri kaku dibelakangnya bersama beberapa pengawal berbaju hitam.

"Aku membawanya sesuai perintahmu." Kai membalikkan badannya, dahinya berkerut jijik menatap lantai rumahnya yang mahal kotor oleh noda darah. Cih!

"Jadi dia ya," Kai mengusap dagu mulusnya dengan sebelah tangan, menatap biasa lelaki sekarat yang kini susah payah mencoba berdiri demi kehormatan harga dirinya. Salah satu kakinya seperti patah karna dia sedari tadi terus memegang bagian itu, wajahnya juga sudah penuh oleh lebam membiru dan darah.

"Masih belum menyerah?" Kai menaikkan alisnya congkak, menatap remeh lelaki sekarat yang kini malah tertawa sumbing, terlihat aneh dimata Kai.

"Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerah padamu Kai!" Tantangnya dengan sisa keberanian mengebu, membuat Kai tak kuasa menahan kekehannya. Astaga! Manusia ini berani membuka gerbang nerakanya sendiri.

"Begitu? Jadi kau tidak mau memberitahu padaku siapa atasanmu?"

"Tidak akan! Bahkan jika kau membunuhku sekalipun."

"Wow." Kai menggelang sok prihatin, kemudian tatapannya berubah tajam, pupilnya mengecil sehingga manik tersebut terlihat menghitam kelam dengan mengerikan. "Aku akan membunuhmu, tentu saja. Tapi nanti." Kai tersenyum misterius kemudian menatap Sehun.

"Dia tidak menyerah, bagaimana ini Sehun?"

"Apa perintah Tuan?"

"Bagaimana dengan keluarga? Istri atau anak mungkin? Aku ingin memberikan hadiah kecil karna keberaniannya menentangku." Kai menyeringai, menatap lelaki sekarat tersebut yang kini sudah menegang dengan wajah kaku. "Bagaimana?"

"Seorang istri bernama Nahyun dan dua anak kembar perempuan."

"Ck, sepertinya akan menyenangkan!" Si lelaki sekarat mendadak gugup, menatap sekitar dengan wajah bodoh kebingungan. Fikirannya mulai berkelana kesana kemari membayangkan keadaan anak dan istrinya saat ini.

"Hm, menarik! Anak dan istri ya,"

"BERHENTI BRENGSEK! JIKA KAU BERANI MENYENTUH KELUARGAKU, MAKA AKU AKAN MEMENGGAL KEPALAMU." Kai menatapnya, dengan aura kematian yang kental. Lelaki tan itu bangkit, memandang murka lelaki didepannya murka.

"Apa? memenggal kepalaku? Tapi sebelum itu, aku dulu yang akan mengirimmu ke neraka bangsat!"

Dug!

Amarahnya naik, Kai sangat benci ada seseorang yang menentang ucapannya. Kai menggunakan kakinya untuk meninju perut lelaki tersebut sehingga kembali jatuh tersungkur dan muntah darah lagi. Kai mengatur nafasnya menahan emosi. Tidak tidak, dia tidak bisa menggunakan tangannya untuk mematahkan leher lelaki itu, dia akan pergi kepesta bersama Kyungsoo, dan jangan sampai bajingan ini menghancurkan penampilan serta moodnya.

"Katakan siapa, atau detik ini keluargamu akan mati. Sejauh apapun kau menyembunyikan mereka, aku akan tetap menemukannya Mark!" Kai sebenarnya tahu siapa orang yang dia incar, bahkan sebelum si brengsek Mark tertangkap, tapi dia ingin sekali mendengar nama itu disebutkan dari bibir manusia sekarat ini.

"Katakan padaku!"

"Ahk,"

"Sehun! Bilang pada Jongdae untuk mengebom tempat persembunyian mereka!"

"TIDAK! PARK CHANYEOL! PARK CHANYEOL YANG MENGUTUSKU!" Teriak Mark putus asa, akhirnya dia menyerah didalam tangisan kesakitan. Keluarganya harus selamat!

Benar, sesuai dugaan.

.

.

.

Lima menit sebelum waktu untuk Kyungsoo habis, Mark sudah berhasil dilumpuhkan setelah berhasil mengatakan kebenaran. Lantai yang kotor sudah dibersihkan dan Kai sudah memberi perintah pada Sehun untuk membuang Mark. Yeah, lelaki itu tidak mati, hanya sekarat. Dan kata membuang, untuk saat ini lelaki itu sedang tidak ingin berbuat sesuatu yang terlalu jauh, cukup membuang Mark kesisi jalan dan meninggalkannya pergi. Kai ingin tahu bagaimana reaksi atasan banjingan tersebut.

Kai merapikan sedikit Jasnya yang agak kusut setelah melampiaskan diri menendang sialan yang berani meledakkan gudangnya minggu lalu. Lelaki itu menatap jam tangannya sekali lagi dan tersenyum samar. Bersikap santai seolah dia tidak pernah menginjak dada seseorang sampai sekarat sebelumnya.

Tak!

Tak!

Tak!

Kai mendongak saat mendengar suara ketukan heels dilantai, kemudian manik kelamnya menatap seorang gadis, Oh tidak. Dia adalah Bidadari tanpa sayap yang tengah menuruni anak tangga dengan malu–malu. Sialan! Ketukan antara heels dan lantai itu masih terdengar, iramanya beralur, namun cukup mengganggu jalan fikiran seorang Kim Kai. Seperti hitungan mundur sebuah boom, menengangkan dan mengacaukan. Efeknya, kelopak matanya sulit sekali untuk mengedip. Oh Brengsek! Bahkan sampai Kyungsoo berdiri diatas lantai setelah melewati anak tangga terakhir, lelaki itu masih sulit mengontrol kedipan matanya, mulutnya terkatup rapat dengan gemelutuk gigi yang terdengar seperti desisan halus. Lelaki itu bangkit dari sofa, menatap Kyungsoo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu memakai gaun terusan warna Pink variasi Draperi model kemben tanpa lengan dengan bagian atasan dada sampai pinggul yang berkorset ketat serta bagian bawahnya yang menjuntai sampai mata kaki dengan model lipat–lipat serta payet–payet bunga yang cantik. Rambutnya yang hitam panjang itu terurai dan terlihat berkilau dengan hiasan berlian yang mengitari dari ujung seperti sebuah bando. Wow! Kai yakin bahkan Nefertiti sang pendamping Firaun dengan mahkota Cobra itu akan menangis melihat kecantikan Kyungsoo, luar biasa cantik, Kai sampai bingung harus bagaimana mengekspresikan kecantikan gadis itu. Ah, gaunnya cocok, Luhan memang jagonya dalam masalah ini. Namun satu hal yang membuat dahi lelaki itu berkerut tak suka adalah, model atasan gaun itu mengekpos sebagian punggung serta lehernya yang putih mulus, meskipun bagian punggung tertutup oleh rambut Kyungsoo yang terurai, tetap saja Kai tidak rela 'tubuh miliknya' dilihat secara gratis oleh orang lain. Hah untung belahan dada gaun itu tidak terlalu rendah sehingga Kai bisa menjamin keselamatan dada Kyungsoo dari orang lain. Ah sial, lihat juga lipstick merahnya yang kontraversial itu. Argh! Kyungsoo terlihat seperti mawar ranum yang sudah siap untuk dihinggapi oleh kumbang, dan tidak boleh ada kumbang manapun yang berhak menyentuh Kyungsoo selain dirinya. Dan itu mutlak!

"Nona Kyungsoo sudah siap Tuan." Momoi bersuara dibelakangnya membuyarkan lamunan Kai, lelaki itu mengangguk memuji hasil kerja Momoi, kemudian dengan irama yang terdengar menggoda ditelinga Kyungsoo, dia mengulurkan tangannya pada Kyungsoo. Membuat Cinderella itu tersentak kecil dengan wajah kaget.

"Ayo." Kai masih mempertahankan uluran tangannya dan Kyungsoo terlihat ragu dan malu. 'Ayo Nona, cepat!' Kyungsoo melihat Momoi yang memberinya kode saat dia menatap gadis pelayan tersebut, kemudian dengan satu tarikan nafas panjang, Kyungsoo meraih uluran itu dan tangan mungilnya tenggelam dalam remasan halus lelaki tersebut. Kai menggandengnya, membawanya pergi menuju halaman dimana kereta kuda mereka telah menunggu.

.

.

.

Kai terlihat tampan malam ini.

Kyungsoo tidak bisa munafik dengan menelan komentar yang tanpa sadar meluncur begitu saja dari dalam otaknya. Kai tampak gagah dengan setelan jas hitam resmi yang terlihat mahal dengan kantung dibagian depan yang berisi saputangan kecil serta dasi berwarna emas, rambutnya yang dipotong agak pendek kemudian dianggkat tinggi memamerkan dahi kokohnya yang mulus dan sexy. Ah! Kyungsoo tersipu sendiri, apalagi saat Kai membawanya menuju halaman dimana kereta kencana mereka sudah berada.

Dartz Kombat T98 hasil produsen Rusia dengan bahan anti –peluru.

Fantastic!

Kai membuka salah satu pintu mempersilahkannya masuk, sejenak Kyungsoo ragu dibuatnya. Hell, ini mobil anti peluru dengan harga yang bisa Kyungsoo pastikan selangit! Karna tak pernah menaiki kendaraan mewah macam ini, Kyungsoo jadi gemetar dibuatnya, gadis itu mendudukkan bokongnya dengan hati–hati takut jika dia menyakiti jok kulitnya yang halus dan nyaman. Setelah Kyungsoo masuk, Kai juga masuk ke jok penumpang dan duduk disisi Kyungsoo. Kemudian tanpa kata sang supir sudah melaju membawa keduanya pergi. Kyungsoo tidak tahu dimana pesta itu berlangsung dan suasana hening melanda keduanya selama perjalanan. Kai tidak banyak bicara, lelaki itu lebih banyak diam dan sesekali mengangkat telfon diponsel.

"Kita..ma–mau kemana?" Kyungsoo memberanikan diri bertanya saat lelaki itu selesai berbicara ditelfon.

"Pesta,"

"Kufikir kau memiliki orang lain untuk mendampingimu." Ah Kyungsoo! Kai menatapnya tajam setelah kalimat refleks itu meluncur dari bibir hati Kyungsoo. Ah, apa lelaki ini marah atas ucapannya?

"Apa itu masalah buatmu?" Balasnya tajam masih dengan tatapan menusuk yang tersemat untuk Kyungsoo, membuat gadis itu menunduk.

"Tidak," Balas Kyungsoo menggelang.

"Bagus," Kai menatapnya sinis sebelum memalingkan muka kearah lain.

.

.

.

Lalu setelah melewati perjalanan cukup jauh, mereka telah sampai ditempat tujuan. JW Marriott Hotel di derah Sinbanpo-ro, Gangnam Seoul. Kyungsoo keluar dari mobilnya, mendongak memandang gedung berlantai tinggi itu dengan binar mata penuh kekaguman. Apa pestanya diselenggarakan disini? Hebat! Lalu Kai kembali menggandengnya, kali ini dengan sangat formal, Kyungsoo jadi gugup dibuatnya.

Mereka masuk melewati Loby, beberapa petugas membungkuk memberi hormat pada mereka, ah pada Kai tepatnya.

"Selamat datang Tuan Kim, para tamu sudah menunggu anda." Lapor salah seorang pria paruh baya dengan kemeja coklat, ekor matanya sejenak melirik Kyungsoo ingin tahu sebelum kembali fokus pada Kai.

"Bagus, apa semua sudah disiapkan?"

"Sesuai permintaan anda."

"Lakukan dengan baik,"

"Laksanakan Tuan, ini adalah hotel anda."

Apa? hotel mewah ini milik Kai?

"Selamat bersenang–senang Tuan Kim dan..um," Pria paruh baya itu nampak bingung menatap Kyungsoo.

"Kim Kyungsoo! Gadisku."

Apa? kim Kyungsoo? Gadisnya? Sejenak hal itu membuat Kyungsoo terhenyak ditempat. Apa maksudnya ini? Kyungsoo melirik kesamping, namun raut wajah Kai tetap datar, seolah apa yang dia ucapkan barusan bukan sebuah hal besar yang perlu di khawatirkan.

"Ah ya, Nona Kim. Semoga malam anda menyenangkan." Setelah melewati rasa kaget atas ucapan Kai, pria paruh baya itu membungkuk kecil kemudian melenggang pergi membawa rasa penasaran yang luar biasa. Bagaimana tidak? Seorang gadis bersama Kim Kai yang selama ini dikenal publik sedang sendirian? Wow, ini berita hebat! Lalu Kai kembali menggandengnya menaiki lift menuju lantai paling antas, berjalan perlahan melewati lorong yang penuh oleh penjaga yang lagi-lagi memberi hormat. Ah, Kyungsoo merasa gugup, langkahnya terseret–seret diantara langkah kaki panjang lebar milik lelaki disampingnya. Kemudian mereka sampai kedalam ruangan peseta, sebuah ballroom bernuansa emas yang elegan. Keadaan ramai namun tetap terkendali, dan benar apa kata Momoi, semua orang yang ada disini adalah manusia–manusia VIP! Lihat saja model gaun dan jas yang mereka gunakan.

"Selamat datang Tuan Kim.." Semua aktifitas terhenti demi menyambut kedatangan sosok Kai, semua mata kini menatap kearah pintu dimana Kai masuk menggandeng seorang gadis cantik. Beberapa saat puluhan pasang mata nampak tidak berkedip menatap pasangan tersebut. Ouh! Seperti Aphrodite dan Arion! Lalu bisikan–bisikan kecil mulai terdengar dari beberapa gerombolan gadis didalam ruangan tersebut, membuat Kyungsoo takut dan menunduk. Namun sebuah remasan halus dia dapat ditangannya, seolah Kai tengah memberi tahu bahwa semua akan baik–baik saja. Kai harus menyambut beberapa tamu penting, maka dari itu dia melepasakan Kyungsoo dan berpesan agar tidak pergi jauh–jauh ataupun berniat pergi dari sini. Kyungsoo yang sendiri dan tidak mengenal siapapun disini celingak–celinguk, dia bingung harus melakukan apa. Lalu dia putuskan untuk berkeliling mencoba menikmati pesta meski semua tatapan mata tengah tertuju kearahnya. Yeah, pasti semua orang tengah berfikir siapakah dirinya sehingga bisa datang bersama Kim Kai?

Ruangan ini sangat luas, dengan lampu–lampu cantik serta lantai dansa ditengah–tengah ruangan. Didesain berbentuk lingkaran dengan setiap sisinya berjejer meja penuh berbagai hidangan makanan dan minuman, para pelayan juga tengah sibuk hilir mudik dengan nampan mereka menjajakan minuman kepada para tamu. Kyungsoo menghembuskan nafas, dia melangkah kearah meja berisi minuman, dia merasa haus karna kegugupannya tadi.

"Siapa dia? Apa dia pacar Kai?" Gadis berambut pirang dengan mata sebiru langit itu terkejut, menatap pasangan yang baru datang tersebut dengan kekagetan luar biasa. Kemudian matanya menilik Kyungsoo yang tengah sendirian dimeja minuman.

"Entahlah, kudengar Kai tidak punya pacar!" Salah seorang gadis yang berambut panjang menyahut acuh sambil menyeruput anggurnya.

"Apa mungkin gadis itu simpanannya?" Celetuk salah seorang lagi yang berambut pendek.

"Hush, jangan menuduh seperti itu Sulli," Tegur si pirang.

"Tapi hei, apa kau pernah melihat atau mendengar bahwa Kai punya hubungan resmi dengan seorang gadis selama ini? Kudengar dari beberapa orang, dia tengah mengajak seorang gadis tinggal dirumahnya. Apa yang kalian fikirkan jika bukan pelacur?"

"Tapi tahun lalu dia bersama Suzy kan?"

"Hanya seminggu setelah pesta, bahkan Suzy tidak pernah dia ajak berkunjung kerumahnya. Cih, wanita itu pasti pelacur yang tanpa sengaja menjadi simpanan istimewanya."

"Jangan bicara sembarangan Sulli."

"Aku bicara fakta kok, kita lihat saja nanti." Gadis berambut pendek bernama Sulli itu mengangkat bahunya acuh, menatap Kyungsoo dengan tatapan benci.

"Kau berkata seperti itu karna kau iri padanya kan?" Tebak si pirang. "Alasan utama karna Kai menolakmu?"

"Tutup mulutmu Krystal."

"Tapi aku bicara fakta kok," Balas Krystal meniru ucapan Sulli sebelumnya, membuat gadis berambut pendek cantik itu memutar bola mata malas, dia kembali menatap Kyungsoo tajam dan gadis itu kebetulan tengah menolah kearahnya, sekalian saja Sulli berikan ekspresi jijik kepadanya, membuat gadis bermata bulat itu langsung menunduk. Cih!

Kyungsoo tahu, bahwa gerombolan gadis cantik disebrang sana pasti tengah membicarakannya, bahkan salah seorang yang menggunakan gaun hitam sexy dengan rambut pendek itu tengah menatapnya jijik seolah menilai bahwa dirinya hanyalah seorang pelacur. Kyungsoo merasa tidak nyaman meski itu hanya lewat sebuah tatapan, maka dia putuskan untuk pergi sebelum ada seseorang yang menyapanya dari belakang.

"Hai.."


.

.

.

.

.

TBC!

.

.

.

.

.

Q : NC'nya Kaisoo yang banyak dan Hot! Ah, Tuan Park pasti Park Dobi :D terusss Kai sama Chanyeol musuh bebuyutan, terus lagi dia mau ngehancurin Kai lewat Kyungsoo. Gitu yah?

A : Buat NC *maaf* Laxy ngga bisa bikin adegan NC T.T Dan masalah musuh bebuyutan antara Kai dan Chanyeol, bisa tebak sendiri ya ^^

Q : chan suka sama kyung apa?

A : Menurutmu? :D

Q : Apakah Tuan Park itu Park Chanyeol?

A : Sudah terjawab disini ^^

Q : keren tapi kurang panjang *plak* aku setuju sih ga ada NC'nya. Paling suka kalo kyung uda direbutin sama Chan dan Jjong.

A : Chapter ini Laxy usahain panjang. Dan buat NC, Laxy ngga bisa nulis NC chingu^.^

Q : hanbin ada didunia ya kak? XD Kukira Hanbin ada diplanet mars *kidding XDD

A : SIAPA BILANG HANBIN DI MARS? HANBIN LAGI DIRUMAH LAXY YA! XDD

Q : btw, mungkin ini kesalahan kecil, tapi coba fikir ini perlu diperbaiki. Gimana caranya air masuk kejantung? Sedangkan jantung itu peredaran tertutup. Mungkin maksud kamu itu pasru-paru.

A : Aaaaa! Sumpah malu, ininih efek kalo pelajaran biologi rame sendiri :3 Iya iya aku juga baru sadar *haha* Thank's atas koreksinya ;)

Q : malang banget ya nasibnya kyung, jadi budaknya jongin, hah sabar ya kyung~

A : bukan budah juga sih, disini kyungsoo cuman nganggap dirinya sebagai budak. Tapi jongin belum tentu menganggap kyungsoo demikian kan? ;)

Q : jujur aja aku ga suka chansoo, benci malah tp ya sudah lah kan author yg punya cerita, hehehe.

A : Hei, bukan kamu aja, aku sebenarnya juga benci Chan is Baek mine and Kai is Kyung mine. Tapi demi kelancaran(?) fanfict ini, terpaksa Chanyeol menjadi pihak ketiga XDD

Q : Thor kalaupun ini terispirasi dari ceritanya kak shanty itu tapi gue mohon jangan buat kainya uda pernah nikah trs istrinya meninggal. Heung moga dikabulin.

A : Dengan kekuatan bulan, do'a kamu aku kabulin *haha* tenang ya chingu, kan dicuap–cuap chap sebelumnya uda aku koarkan(?) kalo nggak bakal ada istri yang meninggal

Q : Jongin mengalami masa lalu kelam ya?

A : Um, lihat chap selanjutnya yah ^^

Q : ini bdsm? Crime? Crime dalam artian jongin ke orang lain ato jongin crime ke baby soo?

A : Aa, mungkin keduanya ya ^^

Q : seneng kalo jongin manja puol senengnya, apalagi main endus leher babysoo, sering-sering gini napa, jong! Kan feelnya dapet, eaaaa..

A : Oke, diusahakan ^^

Q : semoga nilai ujian kak laxy bagus! Amin

A : Gomawo chingu, aku nerima rapot sisipan minggu depan. Do'ain nilainya stabil dan nggak hancur ya *haha*

.

Big Love and Thank's to :

Guest, Anon, soo sexy girl, radya, EPanda, Mamama, n, kyungie love, lisaaeri, pendyo, choidebwookyung1214, candelyrufela28, sukhyu, Azle Gwen, SNAmaliia, Misslah, MissPark92, nadhira, Kyungra26, NopwillineKaisoo, Kamsab, meyriza, dyokim12, AryaniL, Lady Azhura, Maudirein, Nana, Gigi Onta, Ruixi1, Kim Gyuna, Guest, .1, Fitria96, Raniraniku, Kimkaisoo.13, Lovesoo, Kaisoomin, Kim YeHyun, Watashiwaori, Rarkyolo, happyxiuhui, nikyunmin, Insoo-nim, SHL7810, Sweetykamjong, Flaming Teeth Rich, DKSlovePCY, Sushimakipark, Chocohazelnut07, Kim Fany, Pastelblossom, HappyHeichou, Kaisoo32, Aika Karnita, , Gril, Uchiha Annie, babykim, anaknyakyungsoo, Mr. Black9493, baekchu, Fitri22exo, Lolli Kyungsoo, Taman Coklat, DBSJYJ, dkysoo, exindira, kaisooship, 61, Chakajja13, yixingcom, luvjongin, beng beng max, Sofia Mangdalena, shinlophloph, kaisoodyo, kyung1225, Little Jasmine2, Frozen Peony.

.

Hello everbody~!

Miss the fanfict? XDD

Chapter ini special buat Lady Azhura! Dan khususnya buat semua readers yang mau menunggu disetiap chapnya *haha* Thank's very much guys :*

Ahya, apa lama menunggu terbitnya(?) Sebenarnya uda dari minggu kemaren kelar guys, cuman Laxy tiba-tiba ketiban papan(?) Laxy kecelakaan T.T Ada beberapa luka lecet dan salah satunya ditangan, so jadi mau ngedit agak sussah karna tangan laxy lagi sakit ^^ *curhat* Oke, mungkin next nunggu sampe tangan Laxy sembuh ya ^^

Semoga chapter ini memuaskan! Silahkan tinggalkan kritikan dan saran kalian dikolom komentar ^^

Arigatou ^^

And,

Saranghae :* :*