IT IS ME: LUHAN
GIRL IN MUD 2017
I just own the story
Gender switch
-GIRL IN MUD-
SEHUN merasa hidupnya sudah sangat nyaman. Dia punya orang tua yang penuh kasih sayang, bonusnya orang tuanya punya harta berlebih yang kemudian bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan plus-plusnya. Katakan saja Sehun suka memeakai pakaian bermerk dan mobil keren. Walau mungkin yang orang lain lihat adalah wajah sengau dan tajamnya, Sehun sebenarnya cukup perhatian pada sekitar, juga tipikal yang mau bersyukur pada Tuhan atas semua yang dimilikinya.
Namun, itu semua adalah sosok Sehun yang dulu. Tepat seminggu yang lain.
Sehun yang ini, walau masih dipandang orang lain sebagai apatis-Sehun, adalah Sehun yang tiba-tiba kurang mau bersyukur dan gampang berpikiran jorok. Contohnya, kala dia tidur, seringkali mimpi-mimpinya dihinggapi adegan seks yang luar biasa panas sampai paginya dia menemukan tangannya sedang di dalam celananya sendiri yang basah dan berbau menyengat!
Momen lain adalah ketika dia sedang duduk santai di kafetaria kampus bersama teman-temannya. Tiba-tiba saja Sehun ingin menyentuh kejantanannya saat tidak sengaja melihat betis putih adik tingkatnya yang lewat. Demi Tuhan! Itu cuma betis dan kenapa dia bisa terangsang? Apa Sehun sejenis werewolf yang sedang musim kawin? Of course, no! Sehun manusia...yang sedang kurang belaian.
"Hey, dude!" ini Kim Jongin mengagetkan Sehun dengan tiba-tiba tanpa permisi masuk ke mobil yang biasa ia sebut Lambo keren Sehun. "Wajahmu makin minta ditabok saja." Ucap Jongin sambil memainkan ponselnya.
Sehun yang duduk di jok kemudi hanya mendengus dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Gila, cewek ini makin ngatur-ngatur, man. Padahal...orang tuaku saja santai saja. Nah ini cuman pacar malah rasa polisi. Sedikit-sedikit mantau." Celetuk Jongin sambil melempar ponselnya ke dashboard.
Sehun tidak tertarik mendengar curhatan teman hitamnya sekarang, jadi tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan lenggang di depannya, Sehun meraih tombol power music playernya. Dan musik rock seketika menghentak miniatur larva di tengah dashboardnya.
"Shit! Kupingmu tuli ya? Volumenya terlalu keras, man!" dan mungkin Jongin terlalu aneh karena malah menambah volumenya, bahkan sampai nyaris menunjukkan maksimal.
"Kupingmu yang tuli, idiot!" rutuk Sehun.
"Kau ngomong apa?!" Sehun melirik Jongin yang sibuk memasukkan jari kelingking ke telinga kirinya dan menghentak kepala. Sehun menghela nafas frustasi. Jongin dan musik, terlebih musik rock, adalah perpaduan penuh kotoran. Itu menjijikkan dan terlalu masokis untuk didekati.
Jadi, Sehun fokus mengkopling dan mengganti gigi ketika melihat lampu merah di depannya. Saat kecepatannya rendah nyaris berhenti, Sehun mengamati kendaraan di sekitar. Di sisi kanan ada mobil tua dengan sepasang pria dan wanita yang terang-terangan menatap mobilnya. Sehun tidak ingin terlihat begitu menyombongkannya, jadi dia menoleh ke kiri dan menemukan seorang pemuda dengan coat panjang dan motor sport bermesin besar. Sehun menajamkan matanya, bukan untuk menginspeksi motor pemuda itu, tapi untuk melihat lebih jelas wajah yang tidak tertutup moncong helm. Sehun merasa pernah melihat wajah itu.
Bukankah dia...
"Chanyeol!" Itu bukan Sehun, tapi pekikan Jongin.
Sehun baru akan mengucapkan sesuatu saat Jongin tanpa permisi mencondong ke jok Sehun dan meraih tombol untuk membuka kaca jendela di kiri Sehun. Saat kaca hitamnya turun sepenuhnya, Jongin berteriak di depan telinga Sehun. "Yo, Chan! What's up!" Suaranya keras sekali sampai Sehun yakin pemuda itu akan mendengar Jongin mengalahkan suara music kencang speakernya.
Sesuai dugaan Sehun, pemuda itu menoleh. Ketika matanya menemukan sosok Jongin setelah Sehun, Chanyeol membuka moncong helmnya dan tersenyum lebar. "What's up, man! Mobil temanmu keren juga." Katanya dengan suara bass disertai raut jenaka.
Jongin tertawa bangga untuk pujian yang bukan untuknya. "Namanya Lambo keren Sehun. Dan ini Sehun...sejurusan denganku."
Chanyeol menatap Sehun dengan senyuman konyol yang masih sama. Sehun pikir mungkin senyum itu memang ciri khas Chanyeol. "Yo, Sehun! Suara mobilmu ganas sekali, man!"
Sehun membalasnya dengan senyum tipis, kemudian setelah mengerling sebentar ke lampu lalu lintas yang masih merah, Sehun terpikir untuk menanyakan sesuatu. "Yo, Chanyeol...kau kenal Luhan?"
Senyum konyol Chanyeol hilang dalam sekejap. Alisnya bertatut hampir menjadi satu dan mata coklatnya memaku mata Sehun. "Kau kenal Luhan?" Chanyeol membeo pertanyaan Sehun dengan intonasi menghakimi.
Sehun mengendikkan bahu, tidak mengerti alasan kenapa raut wajah Chanyeol berubah, dan melirik lampu hijau yang sudah menyala. "Luhan sangat cantik. Itu yang aku tahu. Well, salam untuk Luhan."
Saat mobil Sehun berlalu dengan kencang, Chanyeol tiba-tiba ingat pernah melihat Sehun dan Luhan sedang duduk berdua di café dekat kampusnya. "Sehun teman sejurusan Jongin, 'kan. Wait, sejak kapan Luhan punya teman anak kuliahan?!"
-GIRL IN MUD-
Di dalam mobil Sehun, Kim Jongin berdiam di joknya mengamati Sehun yang senyum-senyum sendiri. Senyum ini jelas bukan tipikal Sehun yang biasanya. "Siapa itu Luhan yang kau bicarakan dengan Chanyeol? Kupikir itu cewek."
Sehun tidak mengatakan apapun. Hanya melempar sebuah seringai untuk Jongin.
"Cantik tidak?" suara Jongin bersahut-sahutan dengan musik rock yang mengalun keras. Sehun mengernyit merasa telinganya penuh dengan kotoran.
"Kecilkan musiknya dulu,"
"Jawab pertanyaanku dan kecilkan sendiri, pemalas!"
"Aku sedang menyetir, kau idiot."
Jongin terkekeh dan mengulurkan tangan kiri untuk mengecilkan volume music player. "Ok, jadi?"
"Well, kau ingat Baekhyun minggu lalu cerita padamu tentang aku sudah tidak perjaka atau sebagainya?"
Jongin menatap lekat sahabat sepopoknya dan mengangguk-angguk. Bukan untuk mengikuti musik rock yang mengiringi cerita Sehun, tapi anggukan untuk mengiyakan bagaimana Sehun terus mengutuk Baekhyun karena cewek hyper itu terus menyebarkan cerita Sehun tidak perjaka kepada semua orang yang ditemuinya minggu lalu. "Tentu saja."
"Yeah...jadi Luhan itu cewek pertamaku."
"What! Jadi cewek penikmat keperjakaanmu itu adalah Luhan-Luhan ini?!"
Sehun memutar bola mata untuk mulut Jongin yang terbiasa berbicara kotor. "Ya,"
"Ok ok, lalu apa hubungannya Chanyeol dengan Luhan ini?"
"Aku pernah bertemu Luhan di dekat kampus. Dia sedang menjemput Chanyeol. Kupikir Chanyeol mungkin adiknya."
"Chanyeol adalah adik Luhan?!" pekik Jongin.
Sehun mengendikan bahu dan tetap mengemudi dengan kecepatan diatas 70km/h. "Kubilang, mungkin."
"Tunggu! Memang Luhan setua itu? Bisa saja Luhan itu pacar Chanyeol."
"Luhan bilang dia adalah pekerja kantoran. Bukan tidak mungkin 'kan jika dia punya adik sebesar Chanyeol. Lagian Baekhyun si fans fanatik Chanyeol sering cerita kalau Chanyeol belum punya pacar. Jadi Luhan bukan pacar Chanyeol!"
"Well, betul juga sih."
"Sayangnya...Luhan tidak ingat saat dia menggenjot penisku." mungkin perkataan kotor Sehun disebabkan infeksi dari bakteri mematikan bernama Jongin.
"Kau serius? Kok bisa?!"
Sehun cemberut, "Luhan sedang mabuk, dan aku baru tahu itu keesokan harinya."
Jongin ikutan cemberut, "Kau sialan! Pengalaman pertama saja sudah berani memperkosa gadis mabuk! Ohoho Sehun!"
"Aku tidak memperkosanya, jerk! Juga, Luhan bukan gadis, cih!" Luhan tidak ingat tentang malam itu! Sehun merasa ingin membanting apapun.
Jongin bersiul, "Ow ow."
-GIRL IN MUD-
"Namanya Lu Han. Dia anak pertama dari keluarga Lu pemilik LUppo group...untuk apa sebenarnya semua ini?" Joonmyun menatap Sehun untuk kesekian kalinya.
Yang ditatap sedemikian rupa hanya duduk santai menikmati pemijat punggung yang ada di lounge room sambil memainkan tabletnya. "Sudah kubilang, hyung. Anggap saja wanita ini incaranku."
Sebuah gagasan logis melintas di benak Joonmyun. "Apa dia mengganggumu?"
Sehun tersenyum tipis sambil memejamkan mata sebentar,antara menikmati kursi pemijatnya dan membayangkan wajah cantik Luhan. Wajah orgasm Luhan kadang suka berseliweran di depannya. Sehun mulai berpikir, pikiran jorok yang sering membuatnya ereksi akhir-akhir ini terjadi setelah dia bertemu Luhan. Shit, pengaruh Luhan besar sekali! "Begitu juga boleh."
Joonmyun bukan tipe yang suka berprasangka buruk, tapi lingkungan bisnis mendorongnya menjadi pribadi yang harus memikirkan sisi baik dan buruk sesuatu. Sisi baiknya, mungkin Sehun tiba-tiba mengenal Luhan dan ingin tahu tentang wanita, yang Joonmyun akui cantik dan menarik itu. Sementara sisi buruknya, Luhan memanfaatkan Sehun untuk kepentingan kontrak kerjasama yang baru-baru ini mereka bahas karena jika Luhan tiba-tiba muncul di depan Sehun, rasanya hal itu jadi kebetulan yang berlebihan. "Oke itu tidak bagus." Joonmyun bergumam yang sayangnya terdengar oleh Sehun.
"Apa kau barusan mengatakan jika itu tidak bagus?" Sehun menegakkan tubuhnya dan meraih remot untuk mematikan pemijat punggungnya. "Kau tadi mengatakan jika dia dari keluarga LUppo. Kau tahu sendiri bagaimana bagusnya LUppo dalam bisnis, dan sejauh research yang sudah kulakukan, Luhan sama bersihnya dengan buku gambar kosongku. Malahan punya titik-titik perspektif mengagumkan." Katakan saja deskripsi terakhir itu berdasar Sehun si anak jurusan arsitek.
"Luhan adalah tipe wanita yang tidak tersentuh, Sehun."
"Apa maksudmu?" Sehun tiba-tiba ingat sebuah malam penuh sentuhan bersana Luhan.
"Kenapa wajahmu jadi mesum?! Dan dengar, Sehun, sekalipun Luhan berwajah cantik dan manis itu terlihat indah...Luhan tetap tidak baik, tidak untuk sekarang."
Sehun menyisihkan pikiran joroknya yang sedang kambuh dengan kembali menatap tabletnya. Setelah sejenak fokus pada tabletnya dan mengabaikan Joonmyun, Sehun mendongak dan menemukan Joonmyun masih setia berceramah. "Luhan ideal, hyung. Tidak bercela dan sangat cantik."
Joonmyun melongok pada tablet Sehun, kemudian terpingkal. "Itu yang kau namakan research?! Surfing internet tidak bisa disebut research, Sehun. Ya Tuhan~"
Sehun ikut tertawa sambil mengursor pencarian LUHAN di internetnya. Ada deretan foto Luhan dalam balutan pakaian formal sedang tersenyum tipis. "Lihat! Matanya indah sekali. Aku ingat kilaunya memang secerah ini."
"Sejak kapan mahasiswa arsitek sepertimu berusaha mengalahkan Shakespare, eh. Lagian aku juga sudah tahu bagaimana wanita itu kok."
Sehun menatap Joonmyun dengan laser matanya. "Kau sudah bertemu Luhan berapa kali?!"
"Jika kuberitahu kau pasti akan merengek."
Beranjak dari kursi pemijatnya, Sehun berdiri dan meraih bahu Joonmyun untuk diguncang. "Katakan, katakan!"
Joonmyun menghindar dengan limbung. "Ok, ok. Well aku baru sekali face to face dengannya," Joonmyun dalam balutan suit and tie-nya duduk menggantikan Sehun di singgasana kursi pemijat. "itu saat kau menjemput temanmu di Crown Restaurant. Kita ketemu di depan, 'kan. Well, aku baru selesai meeting dengan Luhan saat itu."
"Oh shit! Shit! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?! Kenapa juga aku tidak ikut Jongin saja waktu itu?! Sialan, aku kecolongan!" Sehun meraung-raung seperti anak kecil. Masih ada waktu lain! Tekad Sehun dalam hati. "Lupakan tentang itu! Sekarang jelaskan tentang data Luhan lagi, sepupu Kim. Katakan semua yang kau ketahui mengenai riwayatnya, karena aku akan menghajarmu jika kau menyembunyikan sesuatu!"
Joonmyun yang melihat wajah serius Sehun hanya tersenyum kalem. Sehun terlihat mirip Paman Oh. Yah... Sehun sudah dewasa dan tentu dia bisa memutuskan yang baik dan buruk. Juga dalam kasus Luhan.
"As you wish, sepupu Oh."
-GIRL IN MUD-
-To be continued-
Well, I know it is short wkwk.
Thanks for your review.
Your review is the food of this story.
Btw, i already written new story in another fandom, it is Naruto, If you wanna see, check this s/12533152/1/Alpha-Girl
see ya!
