"Ingatlah pak tua, kau masih punya utang yang harus dibayar!".Ketiga polisi militer itu pun membopong 2 orang prajurit lainnya dan tergesa-gesa pergi. Kamu memandang mereka dari jauh sambi tersenyum puas.

Sesaat kemudian pria tua yang kamu tolong tadi menghampirimu dan berkata, "Oh, terima kasih banyak nona muda. Tanpamu mungkin mereka sudah membunuhku".

"Sama-sama pak. Mereka tidak seharusnya memeras uang dari rakyat miskin... Apa mau mereka sih?", balasmu.

"Yaah, begitulah polisi militer... Uang dari rakyat di permukaan sepertinya tidak cukup bagi mereka...", ucap pria tua itu.

Kamu memandang pria tua itu iba, dan sekali lagi kamu merogoh isi kantong kecil di pinggangmu, namun kali ini kamu mengeluarkan sebuah gelang berukir yang terbuat dari emas.

"Jual lah gelang ini pak, mungkin bapak akan mendapat cukup uang untuk melunasi utang bapak.", ucapmu seraya menyodorkan gelang emas mu ke pria tua itu.

"Aah, kau baik sekali nona muda... T-tapi".

"Sudahlah pak, aku... Juga tidak mau melihat gelang itu lagi...".

Pria itu masih terbengong-bengong menatapmu, sambil menyelipkan gelang itu kedalam saku celananya. Kemudian sesaat kemudian pria tua itu angkat bicara lagi, "Oh iya, aku tidak pernah melihat kalian di sekitar sini, dari mana asal kalian?"

Kalian pun saling berpandangan untuk sesaat, lalu Anthony angkat bicara, "Ehm, kami dari permukaan, pak..."

"Apa? Permukaan?!", tanya pria tua itu kaget.

Kalian bertiga mengangguk perlahan. Untuk sesaat pria tua itu termangu-mangu tanpa mengucapkan suatu patah kata pun, lalu berkata lagi dengan nada lebih pelan, "Anu... Kalau bapak boleh beri saran ya... Mungkin sebaiknya kalian pulang saja."

Kamu memandang bapak itu heran. Tapi bapak itu segera melanjutkan, "Wilayah ini tidak aman, terutama bagi kalian yang berasal dari permukaan sana."

"T-tapi... Itu, memangnya kenapa?", tanya Eliot penasaran.

"Di dareah sini sangat berbahaya," jawab pria itu, "kabarnya, ada komplotan preman yang sering membuat keributan di sini..."

Kamu menelan ludah, lalu saling bertatapan dengan kedua teman mu.

"Seram juga ya...", ucap Anthony seraya menatapmu dan Eliot cemas.

"Terima kasih atas peringatannya pak, tapi menurutku kami akan baik-baik saja! Selama ada (your name) bersama kami! Ya kan, (your name)?", ucap Eliot sambil merangkulmu. Kamu tertawa sedikit seraya balas merangkul sahabat mu.

"Aah, nona muda yang pemberani ini ya... Memang sih, kau sungguh baik hati dan berani. Tapi kumohon kalian berhati-hati ", ucap pria itu dengan cemas.

Kalian semua mengangguk mantap, lalu berpamitan dengan pria tua itu. Kalian pun kembali berjalan berdampingan menyelusuri sebuah kompleks perumahan.

Namun sepertinya tindakan nekatmu yang melompat keluar dari persembunyian dan langsung adu senjata dengan polisi militer itu cukup untuk membuat jantung kedua sahabatmu hampir copot dari tempatnya. Ditengah perjalanan, Anthony yang sejak tadi menahan untuk berbicara akhirnya tidak tahan lagi.

"Oi, (your name)! Tindakan mu tadi itu bisa membuatmu terbunuh tahu!", bentak Anthony, ia memegang bahumu dan menatapmu cemas.

"Iya! Kau beruntung mereka tidak mengeroyokimu bersamaan!", sahut Eliot sama cemasnya.

Kamu janya tersenyum lembut pada mereka. "Tapi pada akhirnya kita berhasil mengusir mereka kan?", ucapmu.

Kedua sahabatmu menatapmu dengan agak gelisah, namun kamu tersenyum lembut penuh keyakinan.

"Nah, sejak tadi kan Eliot yang memimpin di depan, sekarang giliranku! Ayo jalan!", ucapmu bersemangat.

"E-eh, iya!"

Kedua sahabatmu pun berjalan mengikutimu, dan kamu berjalan tenang di depan mereka. Eliot berjalan mengikutimu tanpa curiga sama sekali, namun Anthony merasa tidak enak. Kalian berjalan meninggalkan wilayah elit, memasuki kawasan yang jauh lebih kumuh dari sebelumnya. Kamu berjalan seolah sudah mengenal daerah itu dengan tenang, sementara Eliot pun sudah mulai cemas.

"Uhm, (your name)? Kita kemana?", tanya nya.

"Entah...", jawabmu sambil mendesah, "tapi kuharap tempat itu masih disana..."

Perkataan mu itu membuatnya bingung, namun ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya terus berjalan mengikutimu. Untuk sesaat ia menoleh kearah Anthony, dan ia bisa membaca raut wajahnya yang penuh kegelisahan.

Kalian terus berjalan, dan bangunan-bangunan yang kalian lewati pun makin bertambah kumuh. Sesaat kemudian kamu berjalan makin cepat, dan akhirnya berlari. Tak terasa pelupuk matamu mulai basah oleh air mata, dan pandangan mu tertuju pada suatu deretan rumah tua.

"(Your name), tunggu!", teriak Eliot yang tergesa-gesa berlari mengikutimu bersama Anthony.

Berbagai ingatan, pahit, manis, sedih, bahagia, berkelebat silih berganti dalam benakmu, sementara air matamu mulai bercucuran. Eliot dan Anthony yang tertinggal di belakang melihatmu berhenti didepan sebuah rumah, dan berjalan memasukinya. Keduanya juga masuk beberapa saat sesudahmu, dan yang pertama mereka lihat adalah sebuah ruang tamu dengan perabotan lengkap, yang tentunya sudah berdebu.

"Wah, ini seperti rumah yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun ya", ucap Eliot seraya berjalan menyelusuri ruangan itu.

Beberapa saat kemudian mereka masuk lebih dalam dan mendapatimu berdiri mematung didepan sebuah meja. Kamu berdiri bercucuran air mata sambil memandangi sebuah figura, didalamnya terdapat foto sebuah pasangan muda. Sang pria tersenyum gagah, sedangkan sang wanita terlihat anggun dan lembut. Kedua tangannya memegang bahu seorang gadis kecil yang tersenyum bahagia.

Anthony dan Eliot berjalan mendekatimu. Keduanya menatapmu iba, dan Anthony meletakkan sebelah tangannya di punggungmu.

"(Your name), i-ini... Rumahmu ya... Anthony sudah menjelaskan semuanya padaku...", ucap Eliot.

Kamu mengangguk tanpa bersuara, lalu menyeka air matamu perlahan.

"Mereka orangtua mu ya...", ucap Anthony sambil ikut memperhatikan bingkai foto yang kamu pegang.

"Hm", gumam mu.

"(Your name), aku sunggyh menyesal...", ucap Eliot.

"A-aku juga", sahut Anthony.

"Nn, tidak apa-apa", ucapmu lembut, "Jujur saja aku rindu mereka, sangat rindu... Tapi ketika aku menghujamkan pisau ke tubuh anggota polisi militer itu, aku berjanji. Pada diriku dan juga orang tua ku, juga kakak yang telah menyelamatkan ku hari itu..."

Eliot dan Anthony tertegun, suatu semangat dan tekad yang kuat tiba-tiba meluap di hatimu. Mataku berbinar-binar dan kamu berkata dengan mantap, "...Kalau aku akan menjadi kuat! Aku tak boleh jadi anak cengeng yang hanya bisa meratap seharian! Dan suatu hari nanti, aku pasti akan membalaskan dendam ayah dan ibu!".

"Tapi, (your name), siapa sih sebenarnya 'kakak' yang selalu kau sebut-sebut itu? Kau tidak pernah menceritakannya sama sekali", sergah Anthony yang diserbu rasa penasaran.

"Iya, apa kalian sudah kenal lama?", sahut Eliot.

Tak terasa wajahmu terasa panas dan berubah kemerahan, kamu menunduk tersipu-sipu sambil menjawab kedua orang yang penasaran itu, "E-eh, s-sebenarnya aku hanya hidup dengannya selama 3 tahun... Selama itu dia mengajariku cara bertarung, cara bertahan hidup, dan juga berbagai macam pekerjaan rumah. Ia juga yang mengajari ku banyak tentang kehidupan dunia atas. Ia sangat baik dan perhatian padaku, meskipun orangnya memang sangat kasar dan bisa tidak sopan...". Kamu tenggelam dalam lamunanmu sesaat seiring kamu bercerita.

"Hmmm...", Anthony termangu-mangu mendengar ceritamu. "Tapi... Siapa namanya?"

Kamu tersadar dari lamunanmu, dan sekelebat bayangan laki-laki berambut hitam kembali terngiang dalam ingatanmu. Tapi ia tidak tersenyum, dan justru menatapmu dengan kekecewaan dan kesedihan. Sorot matanya memancarkan kemarahan sekaligus agak memelas.

Kamu berpikir keras untuk sesaat, semua ingatan yang tak rumpun itu bagai potogan puzzle yang tersebar dalam pikiran mu.

"A-aku... Lupa..."

.

.

.

.

.

A/N:

Chapter 4! Yg udh baca sejauh ini makasih yaaaa, saran kritik komentar kalian saya terima! Just info, chapter berikutnya ganti POV :)
Yg mau baca versi wattpad bisa cek username saya di profile yaaaa. Udh ada 6 chapter disana. Proses pemindahan fic hampir selesai jadi chapter 5, 6 bentar lagi tak publish

Utk sekarang mohon yg sabar~

Arigatou gozaimasu!

PS: Yg libur tengah semester sapaaaaaaa! bagi yg ngga libur semangat yaa