"Siapapun kau, saat kau mencintai seseorang, kau bisa berubah menjadi seseorang yang berbeda.
Sekuat apapun kau, saat kau mencintai seseorang, kau bisa berubah menjadi lemah dan luluh, seperti es yang mencair menjadi air.
Setegar apapun kau, saat kau mencintai seseorang, kau bisa berubah menjadi polos dan tak berdaya, seperti anak-anak.
Segelap apapun jiwamu, saat kau mencintai seseorang, kau bisa berubah menjadi lembut dan baik hati, seperti malaikat.
Kau mungkin tidak menyadarinya.
Kau mungkin juga tidak mau mengakuinya.
Tapi memang sudah seperti itu adanya.
Cinta mengalahkan segalanya; itu bukan sekedar kalimat biasa.
Semua orang mengalaminya, hal-hal seperti itu selalu terjadi pada siapa pun.
Bahkan juga kepada orang seperti kau."
.
.
.
Summary:
Hinata bisa merasakan seseorang mengawasinya, menunggunya dari suatu tempat di balik dunia ini. Di sebuah dunia dimana eksistensi kehidupan tidak diizinkan untuk berada.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei. Kalo Naruto punyaku, mungkin Konoha bakal punya SMA. :p
Pairing: Sasuke – Hinata
Rate: M *kejang-kejang*
Genre: Romance/Supernatural
Warning: OOC (mungkin) terutama Sai (kelihatannya begitu), typo di suatu tempat, AU, still no sign of "something sour", alur yang kecepetan, monoton, ngebosenin, dan hal-hal lain yang bakal bikin aku dihujani kritik. Trus juga akan ada bagian yang berdarah-darah (aku nggak tau termasuk kategori gore atau nggak). Kalo nggak suka, tidak dilarang untuk mundur sekarang. Happy reading!
.
.
.
.
Fallen : Confession
by. Kazahana Miyuki
Hinata membuka mata.
Sepasang bola berwarna ungu pucat itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan sekitarnya. Sepertinya Sasuke telah memindahkan mereka ke suatu tempat.
Ruangan itu tidak terlalu luas, namun kesan mewah terasa sangat kental disana, terutama pada chandelier kristal besar yang tergantung beberapa meter di atas kepala mereka. Di depan mereka, Hinata melihat lima orang wanita dengan pakaian yang seragam tengah berdiri di depan sebuah tangga berlapis karpet warna cokelat karamel. Melihat kedatangan Sasuke, secara serempak mereka membungkukkan badan dan berkata,
"Selamat datang, Tuan."
"Hn." sahut Sasuke, tampak tidak peduli dengan sambutan itu. "Ini Hinata. Tunjukkan kamarnya, lalu siapkan dia untuk makan malam. Mulai sekarang, kalian akan menjadi pelayannya selama dua puluh empat jam. Apapun yang ia inginkan, segera layani."
"Baik, Tuan." jawab kelima wanita itu dengan serempak.
Sasuke berbalik untuk menghadap Hinata, lalu berkata,
"Aku tinggalkan dulu kau disini. Ikutlah dengan mereka. Mereka akan menunjukkan kamarmu."
Belum sempat Hinata mengangguk, Sasuke sudah lebih dulu berlalu. Menghilang ke sebuah ruangan di samping tangga.
"Nona Hinata," salah satu pelayan memanggil Hinata, membuat gadis itu menoleh. "Mari ikut kami."
Lima pelayan itu membimbing Hinata menaiki tangga, lalu berbelok ke bagian kanan, melalui sebuah koridor yang lebar dan sangat terang. Lantainya terbuat dari marmer berwarna putih gading yang sangat bersih dan licin, memantulkan bayangan setiap objek di atasnya dengan sempurna. Dindingnya didominasi oleh jendela-jendela besar yang tertutupi tirai berwarna krem, berselingan dengan lilin-lilin yang ditempatkan di atas tiang-tiang tinggi. Pilar-pilar ramping berwarna serupa dengan warna dinding berjejer rapi di sepanjang koridor tersebut, berakhir di atap cekung yang memiliki lukisan-lukisan di badannya. Hinata belum bisa melihat dengan jelas isi lukisan tersebut, namun rasa penasaran membuatnya harus mengingat untuk memperhatikan lukisan di atap itu lain waktu. Di ujung koridor panjang itu, Hinata melihat sebuah pintu besar yang melengkung di bagian atasnya. Pintu itu terbuat dari kayu berwarna cokelat terang sedangkan warna kusennya sedikit lebih gelap. Di kanan dan kiri pintu itu terdapat dua patung malaikat yang sangat cantik dan terpahat sempurna. Sedangkan di atas pintu itu ada sebuah kaca mosaik yang juga bergambar malaikat.
Hinata terpana melihat setiap detail yang luar biasa indah itu. Sejenak, ia bahkan lupa kalau ini adalah tempat kediaman iblis. Apa mungkin seindah ini? Mengapa semuanya sama sekali berbeda dengan yang biasa Hinata lihat di cerita-cerita atau film-film?
Kelima pelayan itu berhenti di depan pintu dan berjejer rapi disana.
"Silahkan, Nona." Salah satu dari mereka mempersilahkan Hinata untuk masuk lebih dulu ke dalam ruangan di balik pintu itu.
Hinata mengerutkan dahi. Apa mungkin ini kamarnya? Koridor besar begini, hanya untuk menuju satu buah kamar? Tidakkah itu terlalu berlebihan? Sebesar apa tempat ini sebetulnya?
Hinata menyimpan rasa penasarannya yang meletup-letup itu dan melangkah ke dalam ruangan yang dituju. Dan sekali lagi, Hinata terpana.
Kamar ini luasnya bahkan hampir sebesar rumah Hinata di Konoha. Tepat berseberangan dengan pintu adalah sebuah jendela besar yang memenuhi hampir tiga perempat luas dinding. Jendela itu ditutupi dengan tirai berwarna putih gading, sehingga suasana kamar masih terasa agak redup. Salah satu pelayan berjalan ke jendela itu untuk membuka tirai, dan dengan segera cahaya putih memenuhi kamar tersebut. Hinata pun lebih leluasa melihat-lihat. Di sisi kanan ruangan ada sebuah meja rias beserta kursinya, lemari besar yang ditutupi sebuah dressing screen—yang membuat Hinata tahu bahwa itu adalah tempat berganti baju—dan tempat tidur mewah dengan penutup tirai berwarna putih transparan. Sedangkan di sisi kiri kamar ada sebuah perapian dengan dua rak buku tinggi yang mengapitnya, serta sebuah sofa tunggal dan meja kopi yang tertata miring di atas karpet di depan perapian tersebut. Tak jauh di samping perapian itu, ada sebuah pintu yang mirip dengan pintu masuk kamar ini, namun sedikit lebih sempit.
"M..menuju kemana pintu itu?" tanya Hinata.
"Kamar mandi Anda, Nona." jawab salah satu pelayan.
Hinata menganggukkan kepalanya perlahan, tanda mengerti.
"Maaf, Nona. Tapi seperti yang dikatakan Tuan Sasuke, Anda harus segera bersiap untuk acara makan malam hari ini." lanjut pelayan itu.
Hinata menatap pelayan itu sejenak, lalu kepada lima pelayan yang lain. Dua di antara mereka sudah separuh baya, sedangkan tiga yang lainnya masih sangat muda—mungkin usianya sekitar dua puluhan atau malah belasan. Hinata mau tak mau bertanya-tanya dalam hati, darimana Sasuke mendapatkan pelayan-pelayan ini. Apakah mereka juga iblis? Sepertinya tidak. Wajah mereka tampak sangat lusuh dan ketakutan, tidak seperti wajah Sasuke yang pucat dan tampak dingin. Mereka berlima juga terus menerus menunduk, seperti pelayan pada umumnya. Kalaupun mereka juga iblis, mungkin mereka berbeda dari Sasuke. Mungkin mereka adalah... jenis iblis yang baik hati?
Bagaimanapun, suatu saat nanti Hinata juga pasti akan mengetahuinya.
"Ya," jawab Hinata. "m-mohon bantuannya."
Kelima pelayan itu sejenak tampak sedikit terkejut dengan tanggapan sopan Hinata. Sepertinya mereka sempat menduga sifat Hinata akan sama dengan majikannya, karena perlakuan spesial yang akan didapatkan oleh gadis itu. Namun, pelayan yang tertua kemudian cepat-cepat mengalihkan keterkejutan mereka dan segera menuntun Hinata ke kamar mandi.
Hinata melepaskan seragam sekolahnya yang belum diganti sejak pagi, lalu melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya, sementara pelayannya menyiapkan bak mandi untuk Hinata. Saat Hinata berjalan menghampiri bak untuk berendam, wangi bunga jasmine dari dalam air segera menguar ke dalam rongga hidung Hinata. Wangi itu membuat Hinata merasa lebih rileks. Para pelayan itu kemudian meninggalkan Hinata dan membiarkan gadis itu menikmati sendiri acara mandi pertamanya di tempat tinggal Sasuke—yang sepertinya berupa kastil.
Selesai acara mandi yang dipenuhi dengan pertanyaan di dalam benaknya, Hinata menghampiri para pelayan yang sudah berdiri di dekat lemari pakaiannya. Salah satu dari mereka sudah menenteng sebuah gaun berwarna hitam. Ia sempat ingin membantu Hinata memakai gaun itu, namun Hinata menolaknya dan berkata kalau ia bisa memakainya sendiri.
Hinata berjalan ke belakang dressing screen. Ia melepaskan lilitan handuk dan meloloskan gaun hitam itu ke tubuhnya dengan mudah. Tadinya, Hinata sempat berpikir kalau ia harus mengenakan korset dan semacamnya, namun ternyata gaun itu dapat dikenakan dengan mudah.
Hinata menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun hitam itu tampak sangat serasi dengan warna rambut Hinata yang gelap. Tanpa lengan dan melekuk di pinggang seperti gaun klasik pada umumnya, namun panjang roknya yang melebar hanya mencapai lutut, sehingga gaun itu terlihat lebih sederhana. Tadinya ia sempat takut pelayan-pelayan itu akan memberikannya gaun yang berat dan merepotkan, namun nyatanya gaun ini sangat sesuai dengan keinginannya, walaupun ia berharap akan ada warna yang sedikit lebih cerah.
Hinata berjalan dari balik dressing screen, disambut dengan tatapan kagum dari para pelayannya. Pipi Hinata sedikit bersemu merah saat ia mendengar salah satu pelayan berbisik kepada yang lainnya,
"Dia benar-benar cantik."
Hinata kemudian diberi riasan. Sesuai permintaannya sendiri, dia tidak ingin riasan yang terlalu heboh. Kalau bisa, ia malah berharap tidak perlu dirias sama sekali. Tapi ia menduga, mungkin Sasuke akan memarahi pelayan-pelayan ini jika tidak menjalankan tugasnya dengan maksimal, jadi Hinata biarkan saja mereka bermain-main dengan wajah dan rambutnya.
Beberapa saat kemudian, saat mereka hampir selesai, tiba-tiba saja Sasuke memasuki kamar. Wajahnya terlihat gusar.
"Kenapa kalian lama sekali?" sembur Sasuke.
Kelima pelayan itu tampak terkejut. Ketakutan berlipat ganda di wajah mereka. Hinata bangkit dari kursi dan berdiri di depan mereka, mencoba membela.
"Sa.. Sasuke. T-tunggu! Ini.. ini bukan salah mereka. Ini karena aku yang mandi terlalu lama. Jangan marahi mereka." ujar Hinata.
Sasuke menatap wajah khawatir Hinata. Amarah di mata Sasuke hampir padam, sampai kemudian ia melihat pakaian Hinata. Wajahnya kembali tampak kesal, lalu ia menatap kelima pelayan itu dengan tajam.
"Kenapa kau memberikan gaun itu padanya? Tidak bisakah kalian memberinya gaun yang lebih bagus dari itu? Itu terlalu sederhana! Kalian benar-benar—"
"Sasuke!" Hinata lagi-lagi menginterupsi. "Aku yang meminta gaun ini. Aku suka gaunnya. Jangan—"
"Kau jangan pernah sekali-kali memotong bicaraku lagi, Hinata. Aku memberi banyak fasilitas padamu, bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya padaku." ujar Sasuke, dengan nada yang mengancam.
Hinata langsung bungkam. Benar juga. Bagaimana mungkin ia bisa-bisanya berpikir kalau Sasuke akan mendengarkannya? Seharusnya Hinata sadar, kalau disini ia hanyalah tawanan.
"Kalau kau sudah selesai," Sasuke berbicara lagi, intonasinya lebih pelan. "segera ikut denganku ke bawah."
Pria berambut biru gelap itu segera berbalik meninggalkan ruangan. Hinata bisa mendengar helaan nafas lega dari orang-orang di belakangnya. Tidak mau membuat Sasuke lebih kesal lagi, Hinata cepat-cepat mengikuti pria itu dari belakang.
oOo
Hinata tidak yakin ia bisa menemukan jalan kembali ke kamarnya lagi nanti. Ada begitu banyak koridor besar dan foyer-foyer yang mereka lewati, sehingga Hinata hampir mengira kalau mereka hanya berjalan berputar-putar saja. Namun, saat Hinata hampir bertanya kepada iblis di depannya itu kemana tujuan mereka sebenarnya, mereka pun sampai.
Hinata bisa menebaknya dari keberadaan beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu.
Sebagian besar mengenakan seragam yang hampir mirip dengan kelima orang pelayan di kamar Hinata, namun kali ini ada yang laki-laki. Mereka sibuk mondar-mandir. Membawa piring, gelas, dan alat-alat makan ke tengah ruangan, ke sebuah meja makan kayu yang—jika dilihat dari atas—berbentuk seperti tapal kuda atau huruf U. Empat buah kursi kayu berlapis beludru dengan sandaran tinggi tertata rapi di depan meja itu, menandakan akan ada orang lain yang ikut bergabung dengan Sasuke dan Hinata dalam makan malam ini.
Benar saja. Tak lama setelah Hinata duduk di samping Sasuke, dua orang yang lainnya pun muncul. Dua orang itu sangat mirip dengan Sasuke, namun dengan aura yang sangat bertolak belakang.
Salah satu dari mereka berwajah lebih pucat dari Sasuke, namun tampak lebih ramah. Senyuman tipisnya langsung tersungging begitu ia melihat ada Hinata disana. Tangannya bahkan melambai pada gadis itu. Hinata balas melambai padanya dengan kikuk.
Sedangkan yang satunya, walaupun tidak terlalu pucat, namun tampak sepuluh kali lebih dingin dari Sasuke. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi, namun matanya tetap menatap sangat tajam kepada Hinata, membuat gadis itu merasa sangat tidak nyaman.
Yang kelihatan lebih ramah langsung berjalan cepat menghampiri Hinata dan duduk di sampingnya. Dengan wajah tersenyum, ia berkata,
"Kau pasti Hinata. Aku kakaknya Sasuke. Namaku Sai. Dan yang duduk disana itu, kakak kami berdua, Itachi. Salam kenal. Kau manis sekali."
Hinata membalas senyuman Sai dengan ragu-ragu. Kakaknya Sasuke ya? Kalau tidak salah, orang ini yang tadi diandalkan oleh Sasuke untuk memenuhi permintaan Hinata. Dia yang menghilangkan ingatan orang-orang yang pernah mengenal Hinata. Mungkinkah Hinata harus berterima kasih padanya?
"S.. salam kenal juga."
Hinata menoleh pada kakak Sasuke yang satunya, Itachi. Ia duduk di samping Sasuke, jauh di ujung meja yang satunya. Namun bagi Hinata, posisi itu justru dapat terlihat jelas olehnya. Pria itu tidak berbicara sama sekali, hanya menatap lurus kepada kegiatan para pelayan. Hinata hampir membuka mulut untuk memberikan salam kenal padanya, namun Sai sudah lebih dulu berbisik di dekat telinganya.
"Jangan pernah berbicara pada Itachi, kalau kau tidak mau dirimu terluka."
Hinata menatap bingung pada Sai. Hanya berbicara saja tidak boleh? Hinata jadi ingin tahu, apa yang mungkin akan Itachi lakukan kalau ia melanggar peringatan itu? Tapi sebaiknya ia memang tidak pernah mencobanya.
Kemudian, acara makan itu dimulai. Beberapa orang pelayan meletakkan piring di depan mereka. Para pelayan itu kemudian membuka penutup piringnya, dan Hinata terkejut setengah mati.
Warna merah terang di atas piring itu membuat Hinata terbelalak. Ia langsung membuang muka, tidak mau melihat lebih jelas pada apa yang tersaji. Hinata sudah bisa menebak dari teksturnya, bahwa sesuatu di atas piringnya itu bukanlah sesuatu yang patut dimakan. Kemudian, bau amis segera memenuhi indera penciumannya, membuat perut gadis itu semakin terasa diaduk-aduk.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" tanya Sai.
Sasuke dan Itachi yang sudah lebih dulu menyantap makanan pembuka itu langsung melirik pada Hinata. Sedetik kemudian, Itachi kembali asyik dengan hidangannya. Sementara Sasuke meletakkan garpu dan pisau di atas piring, lalu bergerak untuk mendekati Hinata.
Hinata tidak sanggup berada di ruangan itu lebih lama lagi dengan aroma amis dan karat yang tercium kuat di udara. Refleks, ia bangkit dari kursinya dan hampir berjalan meninggalkan ruang makan. Namun, setelah beberapa langkah keluar ruangan itu, Hinata merasakan tangan Sasuke dengan cepat langsung menahannya.
"Mau kemana kau?" tanya iblis itu.
"A..aku.. maaf, aku.. kurasa aku tidak bisa makan malam dengan kalian. M-makanannya.."
"Kau harus belajar makan makanan seperti kami selama kau tinggal disini."
"A-apa?" tanya Hinata.
"Kau mendengarku." sahut Sasuke. "Kau sudah menjadi bagian dari kami. Kau juga harus mengikuti cara hidup kami. Itu artinya, kau juga harus makan apa yang kami makan."
Hinata tidak bisa mempercayai pendengarannya. Hinata harus makan apa yang Sasuke makan? Hinata harus makan... itu?
Membayangkannya saja sudah membuat kepala gadis itu nyeri.
"A-aku tidak bisa. Kurasa aku tidak akan sanggup melakukannya. Apa kalian.. t-tidak punya makanan lain?"
"Makanan seperti apa maksudmu? Kau mau tulang? Atau organ dalam?" tanya Sasuke, membuat Hinata semakin mual.
"B.. bukan. Bukan itu maksudku. Apa kalian tidak punya.. uhm, roti atau mungkin buah?"
Sasuke mendengus.
"Makanan manusia." cibirnya.
"T-tapi aku memang manusia." bantah Hinata.
Sasuke mengerutkan dahinya.
"Kau sudah tidak tinggal di dunia manusia lagi, Hinata. Kehidupan seperti itu tidak ada di tempat ini. Kau harus menyesuaikan diri dengan dunia barumu. Sekarang, ayo kita kembali makan."
Hinata melepaskan pegangan tangan Sasuke. Sasuke berbalik dan menatap bingung pada Hinata.
"Aku benar-benar tidak bisa." ujar Hinata.
Ekspresi Sasuke berubah kesal. Ia berbalik ke arah ruang makan dan meninggalkan Hinata sendirian.
"Terserah kau saja." katanya.
oOo
Hinata bersyukur akhirnya ia bisa menemukan letak kamarnya lagi, walaupun ia sempat tersesat tadi. Hinata masuk ke dalam kamar. Ruangan itu ternyata sepi, sepertinya kelima pelayan itu sudah pergi. Perapian sudah dinyalakan, sehingga kamar itu terasa lebih hangat. Hinata tersenyum tipis. Akhirnya ia sendirian.
Gadis itu berjalan ke arah perapian, lalu duduk di sofa. Hinata menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia menghela nafasnya yang terasa berat. Satu hari terasa sangat panjang dan melelahkan baginya. Begitu banyak kejadian yang terjadi hari ini, menguras tenaga Hinata. Satu-satunya saat ia bertemu dengan tempat tidur adalah saat ia pingsan, sebelum kemudian terbangun di dekat Neji.
Neji.
Dada Hinata terasa sesak saat mengingat wajah setiap orang yang telah melindunginya. Temari dan kedua saudaranya. Sakura. Ino. Tenten. Naruto. Paman Hizashi. Ayah. Ibu. Hanabi. Neji. Orang-orang terdekat Hinata yang juga sekaligus orang-orang yang tidak akan pernah mengingat Hinata lagi. Temari dan kedua saudaranya tidak akan pernah mengetahui siapa yang membunuh ayah mereka. Begitupun dengan Neji. Teman-teman Hinata akan semakin jauh darinya, akan semakin banyak hal yang tidak bisa diungkapkan oleh Hinata kepada mereka. Ayahnya hanya akan mengenal Hanabi sebagai putri satu-satunya. Hanabi pun tidak akan pernah mengingat bahwa ia mempunyai kakak.
Hinata sedih, namun sekaligus juga lega. Karena dengan begitu, mereka juga akan melupakan rasa sakit yang pernah mereka rasakan. Mereka tidak akan ingat dengan kehilangan yang mereka alami. Hinata bisa membawa semua luka itu sendirian, sebagai bentuk balas budi atas semua yang telah mereka lakukan untuknya.
Sebuah ketukan di pintu membuat pikiran Hinata buyar. Sebelum Hinata sempat menjawab, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan sosok tiga orang pelayan yang membawa nampan berisi makanan. Hinata sempat was-was, namun saat ketiga pelayan tersebut meletakkan nampan di atas meja kopi, Hinata kebingungan.
Isi nampan itu adalah beberapa kerat roti tawar dan roti isi, beberapa buah apel, stroberi, dan anggur serta segelas besar penuh susu putih.
"M-maaf, ini apa ya?" tanya Hinata.
"Tuan Sasuke yang menyuruh kami mencari makanan ini dan membawakannya untuk Anda, Nona." jawab salah satu pelayan.
"O.. oh? Begitukah? K-kalau begitu, terima kasih."
"Kami permisi dulu."
Para pelayan itu meninggalkan ruangan.
Hinata menatap tumpukan makanan di dekat sofa itu. Roti-roti dan susunya tampak sedikit berasap, tanda bahwa makanan itu masih hangat. Buah-buahannya juga terlihat agak basah, sepertinya baru saja dicuci. Aroma manis buah-buah itu begitu menggugah selera, mengundang suara dari dalam perut Hinata. Tangan mungil gadis itu meraih sebuah stroberi yang sangat merah dan ranum, lalu dengan perlahan ia menggigit sedikit bagiannya.
"Manis." gumam Hinata tanpa sadar.
oOo
Sudah sekitar empat hari lebih Hinata tinggal di kastil itu. Walaupun baru sebentar, Hinata kurang lebih sudah mulai hapal akses menuju beberapa ruangan yang kira-kira akan menjadi favoritnya, misalnya perpustakaan.
Hinata harus mengakui kalau kastil itu mempunyai koleksi bacaan yang bagus, meskipun sebagian besar merupakan buku tua. Namun tetap saja Hinata selalu bisa memanjakan dirinya sendiri di ruangan itu. Duduk di sofa dekat jendela, dengan tumpukan buku di dekat kakinya. Ia terkadang membawa beberapa buku ke kamar agar ia bisa membacanya sebelum tidur. Setidaknya, kegiatan itu membantu Hinata merasa sedikit lebih betah di tempat itu dan tidak terlalu sering memikirkan keluarganya.
Selama empat hari itu juga, Hinata tidak pernah makan bersama Sasuke dan kedua saudaranya. Ia lebih sering makan di kamar. Bahkan sebenarnya, sebisa mungkin Hinata selalu berusaha untuk terus berada di kamar. Ia tidak ingin mendapat kemungkinan akan bertemu dengan Sasuke. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.
Memang benar kalau Sasuke sudah cukup berbaik hati padanya dengan memberikannya makan, pakaian, dan tempat untuk beristirahat. Tapi tetap saja, Hinata takut dan marah padanya. Hinata tidak tahu apa yang mungkin dilakukannya jika harus berhadapan dengan pria itu.
Malam itu ada badai, dan Hinata sama sekali tidak bisa tidur. Udara terlalu dingin dan api perapian di kamarnya terlalu kecil. Hinata memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, dimana perapiannya lebih besar, jadi ia lebih bisa menghangatkan diri disana. Selain itu, tadi sore masih ada buku yang belum selesai ia baca.
Tapi tampaknya, keputusan Hinata itu salah. Di depan perapian perpustakaan, Hinata melihat seseorang telah berdiri disana, menatap ke dalam api yang menyala, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Cahaya api yang hangat terpantul di rambut biru gelapnya dan wajahnya yang pucat. Sasuke.
Suara berat pintu perpustakaan yang dibuka membuat pria itu menoleh, dan sebuah senyuman tersungging saat ia melihat siapa yang datang. Hinata terkejut setengah mati saat menemukan ia disana. Ia hampir berbalik kembali, namun suara indah itu sudah lebih dulu terdengar.
"Selamat malam, Hinata. Belum tidur?" tanya Sasuke.
Hinata menggeleng perlahan, berusaha mencari berbagai macam alasan agar ia dapat kembali ke kamarnya.
"Masuklah." ujar Sasuke.
Hinata terdiam. Gadis itu memasuki ruangan, lalu berjalan cepat menuju rak buku. Beruntung, ia dengan mudah langsung dapat menemukan buku yang dicarinya. Cepat-cepat, Hinata menarik buku itu dari dalam rak dan kembali menuju pintu.
"Selamat malam, Sasuke." kata Hinata sebelum ia keluar. "Aku duluan."
oOo
Pagi harinya, buku itu tergeletak di atas meja rias dan tak tersentuh sama sekali oleh Hinata. Semalam, sekembalinya dari perpustakaan, gadis itu malah langsung menghempaskan diri di atas tempat tidur dan terlelap.
Hinata bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela. Di luar, badai sudah reda dan matahari sudah bersinar lumayan terang. Namun, suhu di dalam kamar masih terasa dingin.
Hinata berbalik dan mendapati kalau perapian sudah mati. Hinata berjalan ke dekat perapian untuk menyalakannya. Namun, ia tidak menemukan satu kayu bakar pun. Dimana kira-kira para pelayan menyimpannya, batin Hinata.
Ia pun kemudian pergi keluar kamar, bermaksud untuk ke dapur dan meminta kayu bakar pada seseorang disana. Sepanjang jalan, Hinata berusaha menahan rasa menggigil dari angin yang berhembus di setiap koridor yang dilaluinya. Lilin-lilin yang terpasang di sepanjang koridor-koridor itu hanya berfungsi sebagai penerangan, sama sekali tidak membantu menghangatkan.
Lalu, sekali lagi, Hinata kurang beruntung, karena ia bertemu lagi dengan Sasuke.
Pria itu tengah berjalan ke arah yang berlawanan dari Hinata, yang membuat mereka mau tak mau akhirnya bertemu. Hinata canggung, namun Sasuke terlihat senang. Ia berhenti, menghalangi langkah Hinata.
"Selamat pagi, Hinata." Ia menyapa Hinata lagi. "Kebetulan, aku juga sedang menuju ke kamarmu."
Hinata terdiam. Sekali lagi, ia berharap bisa lolos dari situ secepatnya. Namun saat mengetahui kalau Sasuke sedang ingin bertemu dengannya, Hinata tahu kesempatan itu nihil.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
"D-dapur." jawab Hinata singkat.
"Untuk?" tanya Sasuke lagi.
"Meminta kayu bakar."
"Oh, untuk perapian." sahut Sasuke mengerti. "Kau kehabisan kayu bakar di kamarmu?"
Hinata mengangguk.
"Mengapa kita tidak berjalan-jalan di luar saja? Matahari pagi bagus untukmu." Sasuke menawarkan. "Ikutlah."
Dengan enggan, Hinata pun mengikuti Sasuke dari belakang. Mereka berjalan dalam diam. Perjalanan mereka terasa sangat canggung, namun Hinata tidak mau memulai percakapan lebih dulu. Langkahnya saja sama sekali tidak bersuara.
Untuk pertama kalinya, akhirnya Hinata berjalan ke luar kastil. Sebelum ini, karena menstatuskan diri sebagai tawanan, Hinata sama sekali tidak berani pergi ke halaman luar. Ternyata, area luar kastil menampilkan sebuah pemandangan yang luar biasa indah.
Sebuah taman menyambut Hinata. Dengan berbagai macam semak bunga berwarna-warni yang dipangkas rapi, pohon beraneka jenis, serta sebuah jalan setapak putih bersih yang membelah taman itu sampai ke ujung sana, Hinata benar-benar tenggelam dalam keasrian tempat itu.
Sasuke tersenyum melihat ekspresi Hinata yang lucu. Dengan mata ungu pucat yang melebar dan bibir mungil yang sedikit menganga, Sasuke harus berusaha keras menahan dirinya agar tidak mendekap gadis itu saat itu juga. Sasuke mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan di atas jalan setapak taman itu. Melihat gerakan Sasuke, Hinata tersadar dan ikut berjalan beberapa langkah di belakang Sasuke. Namun, karena terlalu asyik melihat-lihat taman tersebut, Hinata malah jadi berjalan terlalu cepat. Sasuke pun jadi berjalan di belakang Hinata, tak bisa menahan rasa senangnya melihat wajah Hinata yang terus terkagum-kagum.
Jalan setapak itu mengarah ke sebuah bukit yang landai. Sebatang pohon besar berdiri kokoh di puncaknya. Serpihan-serpihan berwarna merah muda tampak berserakan di dekat akarnya. Saat Hinata mendekati pohon itu, ia langsung mengenalinya.
"Duskblossom.." bisiknya.
Ya, pohon itu adalah pohon bunga duskblossom yang selalu muncul di dalam mimpi Hinata. Pohon itu nyata, dan bunga-bunganya memang sedang berguguran saat ini—saat pagi hari.
Hinata melihat Sasuke sudah lebih dulu menyusulnya lagi. Pria itu berdiri di bawah naungan pohon, menunggu Hinata yang masih berusaha mendaki bukit tersebut.
"P-pohon ini.." ujar Hinata saat ia telah sampai di dekat Sasuke.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke. "Pohon ini lebih indah di dalam mimpi atau di alam nyata?"
Hinata tidak menjawab. Tangan mungilnya malah sibuk mengelus batang pohon itu, memastikan apa yang dilihat oleh matanya dapat dirasakan juga oleh kulitnya. Anehnya, saat yakin bahwa pohon ini memang benar nyata, Hinata merasa kecewa.
Karena ia benar-benar berharap pohon ini hanya mimpi.
Dan jika pohon ini hanya mimpi, itu artinya Sasuke dan kastilnya dan kedua saudaranya juga tidak nyata. Hinata bisa terbangun di dalam kamarnya lagi. Hinata bisa pergi ke sekolah bersama teman-temannya lagi. Hinata bisa..
"Hinata?"
Suara Sasuke membuyarkan harapan kecil Hinata, meruntuhkannya, membuat wajah gadis itu kembali muram. Sasuke melihat perubahan ekspresi itu, dan hal itu membuat dadanya sakit. Ia tidak tahu, hal apa lagi yang harus ia lakukan agar dapat mengembalikan wajah Hinata yang sebelumnya tadi.
"A.. aku.. aku ingin kembali ke kamar. M-maaf." ujar Hinata.
Gadis itu berbalik, hendak meninggalkan Sasuke. Namun, lagi-lagi, tangan Sasuke menarik tangannya.
"Jangan." kata sang iblis. "Aku tidak mau kau kembali ke kamarmu. Aku ingin kau duduk denganku disini. Aku ingin berbincang denganmu."
Hinata terdiam. Ia tidak berusaha melepaskan cengkeraman tangan Sasuke yang semakin menguat, seolah mengikat Hinata agar tidak kabur. Detik-detik berlalu dalam kesunyian. Namun kemudian terdengar suara Hinata memecahkannya.
"Kenapa aku?" tanyanya.
"Apa?" Sasuke balik bertanya, sedikit bingung mendengar nada bicara Hinata yang sedikit berubah, tidak gugup dan malah terdengar seperti marah.
"A-apa yang salah denganku sampai aku harus menjadi tawanan seorang iblis? Katakan, Sasuke, apa aku pernah berbuat dosa yang sangat besar sampai aku harus berada disini? Temari bilang, kau hanya menginginkan darahku. Lalu kenapa kau tidak langsung membunuhku saja? Apa ada alasan lain?"
"Alasan.." gumam Sasuke.
"Ya. Beritahu aku alasan kenapa kau membawaku ke tempat ini."
Sasuke tidak menjawab. Ia malah melepaskan genggamannya, membebaskan lengan Hinata. Hinata tidak beranjak. Ia menunggu jawaban dari Sasuke. Merasa terlalu lama, Hinata pun berbalik..
..dan terkesiap.
Mata Sasuke yang bagaikan batu onyx terlihat semakin kelam. Kegelapan terpancar kuat dari dalam sana, seperti lubang tak berujung yang membuat Hinata terperangkap dan ketakutan setengah mati.
"Menjadi tawanan seorang iblis.." Sasuke mengulangi, suara merdunya terdengar serak. "Kau membuatku terdengar begitu rendah."
Tangan Hinata gemetaran. Ap.. apakah Sasuke marah, batinnya.
"A-aku..."
"Kau tidak tahu apa-apa, Hinata." potong Sasuke. "Apa kau kira aku senang melakukan semua ini? Kau kira aku suka menyakiti keluargamu agar aku bisa membawamu? Aku juga tidak mau berurusan dengan Sabaku bersaudara dan sepupumu. Aku juga tidak ingin melibatkan mereka. Karena kau tahu apa?
"Karena yang kuinginkan hanya kau!"
Hinata terkejut mendengar Sasuke membentaknya pada kalimat yang terakhir itu. Ia memundurkan kakinya selangkah, namun Sasuke terlalu emosi hingga tidak menyadarinya.
"Kenapa kau tidak juga mengerti, Hinata? Aku memang egois dan jahat. Tapi karena kau, aku berusaha berubah. Aku berusaha bersabar. Aku berusaha menjadikan kau sebagai prioritas utamaku, walaupun aku tahu aku sangat payah akan hal itu. Itachi dan Sai bahkan sudah tidak mengenaliku lagi.
"Aku berubah menjadi orang lain. Tapi aku tidak menyesal. Demi kau, aku rela menjadi apa saja. Dan sekarang kau bertanya alasannya apa. Seharusnya kau bisa mengerti dengan sendirinya, seandainya kau mau memberiku kesempatan. Tapi kau terus menjauh. Kau terus menghindar dariku. Aku hanya ingin berbicara padamu, walaupun hanya beberapa menit. Apa kau tahu berapa tahun yang kuhabiskan untuk menunggu saat itu?"
Sasuke tersengal dan dadanya kembang-kempis. Ia telah meledakkan semuanya di depan Hinata, walaupun masih ada beberapa yang tersisa di dalam hatinya. Masih banyak hal yang belum ia sampaikan pada gadis itu.
Beberapa saat kemudian, saat Sasuke sudah mulai tenang, ia baru menyadari apa yang dikatakannya. Lebih tepatnya, ia baru menyadari cara ia mengatakannya. Hinata tampak menciut. Seolah takut bentakan-bentakan Sasuke akan menjadi kemarahan yang menyangkut masalah fisik. Hinata mengantisipasi kalau-kalau Sasuke akan memukulnya, jadi ia hanya bisa mematung disana dengan jari gemetaran.
Dahi Sasuke mengerut. Hinata melihat perubahan ekspresi itu. Sasuke yang tadi tampak beringas berubah menjadi seperti orang yang memohon. Wajahnya bahkan memucat. Entah kenapa, Hinata merasa saat itu Sasuke berubah menjadi lebih... manusiawi.
Tiba-tiba saja, tanpa terduga, Sasuke ambruk. Ia tak sadarkan diri dan Hinata pun panik. Sejenak, ia sempat menyangka kalau Sasuke sedang membuat lelucon. Tapi mengingat kalau ia baru saja marah, rasanya konyol jika mendadak Sasuke melucu begitu saja.
"Sasuke?" panggil Hinata pelan.
Sasuke tidak bereaksi.
"Sasuke!" panggil Hinata lagi, kali ini lebih keras.
Sasuke masih tidak bergerak. Karena panik, tanpa sadar Hinata mendekati Sasuke. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Sasuke.
"Sasuke!" panggilnya lagi.
Hinata tersentak. Wajah Sasuke sangat panas. Kulitnya memang masih pucat, namun suhunya terasa beberapa derajat di atas suhu normal—bagi manusia.
Tanpa memikirkan Sasuke manusia atau bukan, rasa panik Hinata pun mencapai titik tertinggi. Cepat-cepat ia berlari kembali ke dalam kastil untuk meminta bantuan seseorang. Beruntung, ia bertemu dengan beberapa pelayan laki-laki yang hendak menyiram taman. Ia memberitahu keadaan Sasuke pada mereka. Tanpa menunggu lagi, para pelayan itu segera bergegas ke bukit, lalu menggotong tubuh lunglai tuan mereka ke dalam kastil. Mereka membawa Sasuke ke dalam kamarnya. Hinata mengikuti mereka.
Sesampainya mereka di depan kamar Sasuke, Hinata bertemu dengan Sai. Wajah iblis ramah itu berubah cemas saat melihat adik bungsunya sedang digendong oleh pelayan.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada Hinata.
"A-aku tidak tahu. Ta.. tadi tiba-tiba saja Sasuke jatuh pingsan saat kami mengobrol di atas bukit." jawab Hinata.
Mata Sai terbelalak. "Ini pasti karena..."
Hinata menunggu lanjutan kalimat Sai yang menggantung. Namun, kakak Sasuke itu tidak melanjutkannya. Ia malah memberitahu Hinata,
"Kau tunggu dulu di depan sini. Aku akan keluar lagi nanti."
Lalu, Sai meninggalkan Hinata di depan kamar Sasuke. Sendirian. Hinata merasa sangat canggung. Karena tidak tahu harus berbuat apa, sembari menunggu Sai kembali, Hinata melihat-lihat sekitar kamar Sasuke.
Ini adalah bagian kastil yang belum pernah Hinata datangi. Mungkin bagian ini terletak di sayap kiri kastil, berseberangan dengan kamar Hinata yang berada di sayap kanan. Dari suasananya pun, bagian ini terasa bertolak belakang dengan area kamar Hinata yang terang benderang. Pilar-pilar tinggi besar memagari koridor, dengan masing-masing dua buah obor tersangkut di badannya. Patung-patung gargoyle menghiasi bagian depan kamar Sasuke, serasi dengan pintu kayu kamar yang berwarna hitam legam.
Tepat saat Hinata sedang memperhatikan pintu, pintu itu terbuka. Sai keluar dari dalam kamar dengan raut muka yang khawatir.
"Masuklah." katanya.
Hinata berjalan membuntuti Sai ke dalam kamar. Saat mereka sudah di dalam, Sai menyuruh para pelayan untuk meninggalkan ruangan. Kini tinggallah mereka berdua beserta Sasuke yang tengah terbaring di atas ranjang. Hinata dan Sai mendekati ranjang berseprai merah tersebut, dan Hinata bisa melihat dengan jelas keadaan Sasuke.
Mata Sasuke terpejam. Ia tertidur. Namun dahinya tampak berkeringat. Kesan dingin dan gelap yang selama ini Hinata lihat dari diri Sasuke lenyap entah kemana. Sasuke yang ada di hadapan Hinata saat ini begitu lemah dan rapuh. Dan jauh di dalam diri Hinata, entah kenapa, Hinata merasa tidak tega melihatnya seperti ini.
"Kau terlalu memaksakan dirimu." Hinata mendengar Sai bersuara, sepertinya sedang berbicara kepada Sasuke.
Hinata menoleh pada pria itu. Kakak Sasuke itu tampak sedang merapikan salah satu sisi selimut Sasuke yang berantakan.
"Padahal sudah kubilang kalau kau tidak harus melakukannya." Sai melanjutkan.
"M-maaf?" sahut Hinata. "K-kalau boleh tahu, kenapa Sasuke seperti ini?"
Sai memberi isyarat pada Hinata untuk mendekat. Ia kemudian mengajak Hinata untuk duduk di kursi yang mengitari sebuah meja bundar kecil di dekat jendela.
"Kurasa kau harus tahu, bahwa sejak empat hari yang lalu, Sasuke belum makan." ujar Sai.
"A.. apa?" tanya Hinata.
"Sewaktu ia menyuruhmu makan makanan kami beberapa hari yang lalu, ia baru saja bertengkar dengan Itachi, sehingga suasana hatinya sedang tidak baik. Karena itu, ia tidak bisa berpikir jernih dan malah memarahimu yang hendak kabur dari acara makan itu.
"Sasuke tahu betul kebiasaanmu sebagai manusia. Yang artinya, ia tahu betul kalau kau tidak mungkin menyentuh makanan itu. Karena hal itulah, Sasuke merasa sangat menyesal karena telah memaksamu untuk makan. Sebagai permintaan maafnya, ia menyuruh para pelayan mencarikan makanan agar kau bisa makan. Namun, ia bilang padaku, kalau kau masih belum memaafkannya. Kau masih menjauhinya. Dan hal itu membuat rasa bersalah Sasuke semakin menjadi-jadi.
"Maka, ia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri, dengan tidak makan apapun sampai kau mau bicara dengannya lagi. Ia bahkan bersumpah tidak akan meminum darah lagi selama kau terus bersamanya."
Hinata tercengang. "Apa.. apakah karena itu Sasuke jadi seperti ini?"
Sai mengangguk. "Reaksi alami yang sama yang pasti juga akan terjadi pada manusia, bukan?"
Hinata menunduk, lalu mengangguk perlahan.
"Hinata." Nada bicara Sai menjadi serius. "Yang akan kubicarakan ini, bukan bermaksud untuk menyalahkanmu. Sama sekali tidak. Aku kurang lebih bisa mengerti rasa bencimu pada Sasuke atas apa yang telah ia lakukan pada keluargamu.
"Tapi, sebagai kakaknya, aku juga telah melihat apa yang terjadi pada Sasuke. Aku yakin kau telah mendengar cerita yang disampaikan oleh pihak yang melindungimu. Dan kali ini, kuharap kau mau mendengarkan cerita dari pihak kami. Dari pihak Sasuke. Kuharap kau bisa mencerna dengan bijaksana, mana yang baik dan mana yang tidak. Kau mengerti maksudku, bukan?"
Hinata mengangguk lagi. Sai akan menceritakan sesuatu, sama seperti Temari waktu itu. Sebisa mungkin, Hinata mencoba memaksimalkan konsentrasinya.
"Sasuke memang senang mempermainkan wanita, terutama manusia. Tidak hanya dia, aku dan Itachi pun sama. Itachi bahkan lebih parah—kau tidak mau mengetahuinya.
"Tapi, yang kami lakukan itu bukan tanpa tujuan. Kami melakukan itu, karena kami membutuhkan darahnya. Kami memang bisa hidup tanpa darah, tapi kami tidak akan cukup kuat tanpa itu. Mungkin bagi manusia, darah itu setara dengan susu. Bukan kebutuhan primermu, tapi akan lebih baik jika dikonsumsi. Dan juga, selain karena rasanya—maaf—enak, kami membutuhkan darah agar kami bisa tetap bertahan dalam wujud ini."
"Maksudnya?" tanya Hinata.
"Maksudnya, wujud asli kami bukan seperti ini.
"Suatu saat nanti, kau akan melihatnya sendiri. Mungkin tak lama lagi, jika keadaan Sasuke terus menerus seperti itu, ia juga akan berubah ke wujud aslinya."
Hinata menoleh ke arah Sasuke. Matanya masih tertutup, namun terkadang badannya bergerak-gerak. Merasa tak nyaman atas sesuatu yang terjadi di dalam tubuhnya.
"Soal kutukan yang ia berikan pada leluhur keluargamu, itu memang benar." Sai melanjutkan lagi, membuat pandangan Hinata kembali terfokus padanya. "Aku memang tidak membenarkan tindakan Sasuke itu, tapi bagaimana pun aku memakluminya. Siapapun tidak suka dibohongi, bukan? Namun cara kami—para iblis—memberi pelajaran, tidak sama dengan manusia.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya Sasuke bertemu denganmu. Namun aku ingat, Sasuke pernah berkata kalau ia bertemu dengan seorang malaikat. Malaikat mungil yang sangat cantik dan sempurna, begitu katanya saat itu. Ia juga bilang bahwa ia ingin memiliki malaikat itu, ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama-sama, ingin selalu berada di dekatnya.
"Saat itu aku memang belum mengerti. Namun sekarang aku sudah mengetahuinya dengan jelas, malaikat yang ia maksud saat itu adalah kau, Hinata."
Pipi Hinata bersemu. Mendengar keinginan Sasuke saat ia pertama kali melihat Hinata rasanya tidak seperti mendengar kisah seorang iblis. Hanya seperti kisah seorang pria muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tunggu.
Jatuh cinta?
"Sejak hari itu, Sasuke berubah. Ia sangat jarang berkumpul bersama kami. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk memandangimu saat tidur di malam hari, memperhatikan dengan siapa kau berteman, mengingat setiap musik yang kau dengarkan dan berharap suatu saat bisa menyanyikannya untukmu. Sasuke yang cuek, dingin, egois, dan bertemperamen tinggi berubah menjadi seorang laki-laki yang lebih lembut dan penyabar. Terkadang aku senang melihatnya, namun juga di saat bersamaan merasa sedih, karena merasa kehilangan diri Sasuke yang sebenarnya.
"Kemudian orangtuamu ketakutan dengan keberadaan Sasuke. Padahal Sasuke sudah berusaha memberi tanda kepada mereka bahwa ia tidak akan menyakitimu, namun orangtuamu tetap tidak bisa membiarkan Sasuke di dekatmu. Saat itu, diam-diam, Sasuke menyesal setengah mati karena telah menjatuhkan kutukan pada keluarga kalian. Ia benar-benar berharap seandainya ada cara untuk mencabutnya."
"Apa tidak bisa dicabut begitu saja?" Hinata menyela.
"Tidak bisa. Setiap kutukan yang kami jatuhkan pada seseorang, tidak akan pernah bisa dicabut lagi. Sudah kodratnya seperti itu.
"Namun Sasuke menemukan jalan lain. Jika ia tidak bisa menghindarkanmu dari kematian, maka ia akan memberikan kehidupan padamu.
"Ia akan memberikan darahnya padamu. Darah iblis bisa membuat manusia hidup abadi, walaupun ia tetaplah manusia."
"Apakah makanan yang waktu itu..." Pertanyaan Hinata menggantung.
"Ya. Itu darahnya. Ia tahu, waktumu tidak akan lama lagi. Karena itu ia bermaksud untuk memberikannya padamu secepat mungkin. Namun ia juga tahu, caranya tidak mungkin semudah yang dibayangkan."
"Tapi, Sai, jika ia hanya menginginkanku, lalu kenapa ia harus menyakiti semua orang terdekatku?" tanya Hinata lagi.
"Terpaksa. Karena mereka semua menghalangimu darinya. Ia juga sebenarnya tidak ingin seperti itu. Karena ia mengerti, dengan menyakiti mereka, itu sama artinya dengan menyakitimu."
"Lalu kenapa ia membunuh pamanku?"
Sai menggeleng. "Sasuke tidak pernah membunuh pamanmu."
Mata Hinata mendadak berbinar cerah. "Jadi Paman Hizashi masih hidup? Ia sudah bersama Neji sekarang?"
Sai menggeleng lagi. "Aku tidak bilang kalau Hizashi masih hidup, Hinata. Ia dan ayah Sabaku bersaudara mengorbankan diri mereka sendiri dalam sebuah ledakan saat mereka menggempur kami. Hizashi hancur lebur—maaf karena kau harus mendengar hal ini."
Hinata membuang muka. Rasanya ia tidak mau mendengar lebih jauh. Namun saat kata-kata Sai yang sebelumnya terngiang kembali di dalam kepalanya, tentang bagaimana... manisnya sikap Sasuke, mau tak mau Hinata merasa hatinya luluh. Sasuke memang telah melukai Neji, tentu itu tidak bisa dimaafkan. Tapi, Sasuke juga menghormati banyak keinginan Hinata, walaupun hal itu bertentangan dengan keinginannya sendiri.
Singkatnya, seperti yang dikatakan oleh Sai, Sasuke telah banyak kehilangan dirinya sendiri untuk Hinata.
Persis seperti apa yang Hinata rasakan terhadap Naruto.
"Hinata..."
Tiba-tiba, suara Sasuke terdengar.
Dengan sigap, Sai langsung berjalan cepat ke arah Sasuke lalu membungkuk di sampingnya. Hinata mengikuti perlahan dari belakang, sedikit ragu-ragu.
"Hinata..." panggil Sasuke lagi.
Sai menoleh pada Hinata, tatapannya memohon. Seolah ingin agar Hinata bisa berjalan lebih cepat dan menghampiri Sasuke. Hinata mengerti sinyal itu, dan entah kenapa, Hinata menurutinya.
Gadis itu sampai di samping ranjang Sasuke tepat saat Sasuke memanggil namanya lagi.
"Hinata..."
"Sasuke, ini Hinata ada disini." kata Sai.
"Sa.. Sasuke..." Hinata bersuara, mencoba mempertegas kata-kata Sai, memberitahu Sasuke bahwa ia memang ada disana.
Sasuke membuka matanya sedikit. Ia mengintip dari balik kelopak matanya.
"Hinata..."
Tiba-tiba, hal lain terjadi. Tubuh Sasuke bergemetar sangat hebat. Tangannya mengepal sangat erat. Urat-urat di lehernya mengencang. Ia berteriak, seperti tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Sasuke akan berubah." ujar Sai kemudian. "Mundurlah, Hinata."
Hinata melangkah dua kali ke belakang, lalu berjalan cepat ke arah pintu saat ia melihat kulit Sasuke menghitam seperti habis terbakar. Saat Sasuke membuka matanya dalam teriakan kesakitannya, Hinata bisa melihat matanya berubah menjadi merah seperti beberapa waktu yang lalu. Rambut Sasuke menjadi lebih panjang dan berantakan. Lalu sesuatu muncul di punggung Sasuke, kelihatannya seperti sayap. Sepasang sayap berwarna hitam dengan cakar yang mencuat di ujungnya. Hinata menatap dengan ngeri. Inikah wujud asli Sasuke yang sebenarnya?
Sai tampak sedang menahan bahu Sasuke yang masih meronta-ronta. Sayap Sasuke menampar kesana-kemari, menyenggol sebuah vas bunga di meja kecil di samping ranjangnya. Wajah Sasuke tampak sangat menderita. Mengerikan, tapi menderita. Untuk alasan tertentu, Hinata merasa sangat iba pada keadaannya itu.
Dalam kepanikannya, mata Hinata kemudian menangkap sesuatu. Ia melihat sebuah pisau di atas meja bundar tempatnya duduk dengan Sai tadi. Entah kerasukan apa, Hinata berjalan mendekati pisau itu lalu meraihnya. Gadis itu kemudian berjalan kembali ke arah Sasuke sambil menorehkan mata pisau itu ke atas telapak tangannya, sehingga darah segar mengucur keluar dari balik kulit putihnya.
Sai melihat hal itu. "Hinata! Jangan lakukan itu!" serunya.
Hinata tidak menggubrisnya. Ia sekarang berdiri di hadapan Sasuke dengan telapak tangan yang berdarah. Setetes cairan berwarna merah menetes ke atas pipi Sasuke. Begitu mencium aromanya, Sasuke dengan cepat langsung mencari sumber asal cairan itu. Telapak tangan Hinata.
Sasuke meraih telapak tangan itu, tidak peduli siapa pemiliknya. Ia pun menghisap darah yang mengalir tersebut, tidak membiarkan satu tetes pun terbuang percuma. Perlahan, wujudnya berubah kembali menjadi Sasuke yang sebelumnya. Wajahnya kembali tampan. Pucat, namun lebih segar daripada yang tadi.
Sementara itu, Hinata hanya bisa meringis saat Sasuke menghisap telapak tangannya yang tersayat. Ia membuang muka saat gigi-gigi taring Sasuke menggigit luka itu, membuat sayatan itu semakin melebar. Pisau di tangannya pun terjatuh dengan bunyi dentingan kecil yang menyadarkan Sasuke.
Sasuke melepaskan hisapannya. Sedetik kemudian, matanya terbelalak ketakutan, seolah menyadari siapa pemilik tangan yang tengah ia nikmati itu. Pandangan Sasuke menelusuri lengan itu ke atas, dan saat ia sampai di wajah si pemilik tangan, Sasuke benar-benar berharap kalau ia mati saja saat itu juga.
Hinata terjatuh. Kali ini, ia yang tak sadarkan diri. Sasuke cepat-cepat menangkap tubuh mungil Hinata. Ia melompat turun dari atas ranjang kemudian membaringkan Hinata di atas ranjang yang acak-acakan itu.
"Hinata!" panggilnya.
Hinata sedikit membuka matanya. Ia masih tersadar.
"Jangan pingsan!" seru Sasuke. "Aku mohon, jangan pingsan."
Sai yang melihat kejadian itu, segera keluar untuk mencari para pelayan. Mereka pasti lebih tahu cara menangani hal ini.
Sasuke masih memanggil nama Hinata, terus berusaha agar gadis itu tetap sadar. Sasuke memegang tangan Hinata yang berdarah dengan hati-hati. Ia merasa seperti ditonjok saat melihat ada bekas gigitannya disana.
Bodoh, bodoh, batinnya.
"A-aku tidak apa.. apa.. S.. Sasuke." ujar Hinata. Suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Kenapa kau melakukan hal itu, Hinata? Kenapa kau.."
"Aku t-tidak tahu.." Hinata menyela.
Hinata merasa telapak tangannya seperti terbakar. Perih. Sangat perih. Tapi entah kenapa, melihat Sasuke yang berteriak-teriak seperti itu, Hinata merasa lega. Itu artinya, Sasuke sudah lebih baik sekarang.
Sejenak, ia sendiri juga tidak habis pikir, kenapa ia melakukan hal ini? Kenapa ia memberikan darahnya kepada Sasuke? Melakukan satu hal yang selama ini selalu ia hindari. Untuk apa?
Kemudian, pikirannya kosong. Kepalanya serasa berputar-putar. Ia tidak bisa berpikir lagi. Mata ungu pucat Hinata tertutup, dengan wajah seorang iblis tampan sebagai pemandangan terakhirnya.
Saat itu, untuk pertama kalinya, Sasuke menangis.
To Be Continued
A/N:
Hello hello, I'm back! Sebelumnya, aku mau minta maaf dengan amat sangat karena keterlambatan update ini. Makhluk bernama tugas menyanderaku dan dengan sadisnya bikin aku jadi kerja rodi. *nggak ada yang nanya* Yah, tapi harap dimaklumi.
Kayaknya aku CLBK lagi nih sama Sasu. Setelah beberapa waktu yang lalu sempet ilfil berat pas nonton Sasu vs Danzo. Apalagi liat mukanya Sasu yang hampir ngebunuh Karin itu. Errr, langsung aku matiin DVD-ku. Tapi, aku diselamatkan oleh fanart, terutama yang SasuHina. Jadinya, aku fangirling lagi deh sama Sasu. Hahaha. ^o^
Ok, here goes chapter four. Makin kesini makin bingungin ya? Hehehe, gomen-ne..
Maaf ya kalo di chapter ini jadi banyak deskripsi tentang bangunan dan ruangan. Aku sangat suka semua yang klasik2, baik arsitekturnya, pakaiannya, tamannya.. Jadi kubuat rumahnya Sasuke jadi kayak bangsawan abad 18. Kalo ternyata ada kekurangan, juga harap dimaklumi.
Disini Sasuke keliatan lemah dan labil banget ya? Maaf lagi, soalnya aku pengen mengangkat sisi manusiawi dari Sasuke. Selain itu juga teori2 yang dikasih tau sama Sai itu cuma karanganku aja. Nggak tau deh kalo mungkin emang beneran begitu, tapi itu murni dari pikiranku sendiri.
Oh ya, kalo ada yang kepikiran, Hina nggak meninggal kok. Cuma pingsan aja. Tenang. Tenang. ^o^
Trus juga, kalo readers ada yang sadar, waktu Sai ngejelasin cerita tentang Sasu ke Hina, ada satu hal penting yang masih belum disadari sama Hina. Ayo, readers mungkin ada yang lebih konsen daripada Hina? Ada yang tau? Pasti pada tau.
Ah, daripada banyak nyerocos nggak jelas, sebaiknya aku bales review-review dari readers semua.
Gudeg jogja: Sama2. Ini sudah di-update, maaf kalau lama.
ermaMothredglittle: Terima kasih sudah menunggu, juga sudah membaca. Ini sudah di-update ya.
uchihyuu nagisa: Iya, Hinata akan bahagia. Kalo yang bagian depan itu, nanti juga bakalan tau kok. :D
Tsubasa XasllitaDioz no-login: Uwaaa, terima kasih banyak atas pujiannya. Soal masa lalu Sasu, disini udah keliatan sedikit kan? Nanti deh aku munculin lagi. Tapi kalo untuk satu chap panjang, aku pikirin dulu ya.
lonelyclover: Happily ever after kok. Tapi yah banyak polisi tidurnya sebelum sampe tujuan. *apa sih* Masa sih kayak film? Wah, jadi tersanjung. *terbang* *ditabrak pesawat* Hehehe, makasih..
YamanakaemO: Hahaha, berarti imajinasiku keterlaluan. Kasian Dei, Kisa, sama Pein nggak salah apa2 jadi kebawa. *bugh* *ditabok samehada* Makasih, udah di-update nih. :D
RajaKelelawar: Yuk, sini. Sini. Kita belajar sama2. Hehehe. Aku sendiri juga masih banyak kesalahan, masih harus belajar. Tapi kalo sharing2 kayaknya asik tuh. *nyengir* Boleh sih, tapi kayaknya aku masih terlalu cetek kalo untuk dapet gelar "senpai". Hehehe. Yah, senyamannya kamu aja mau manggil apa. Hehehe. *ampun* Terima kasih banyak atas pujiannya. Banyak! Banyak! Banyak! :D
lavender hime chan: Begitukah? Ah, kayaknya nggak sebagus itu. Tapi makasih banyak atas apresiasinya. Kamu membuatku melambung tinggi. *kepentok genteng* Untuk pertanyaannya, ikutin aja ya. Mudah2an nanti terjawab. Update setiap hari? Wah, aku bisa gempor. Hehehe. :p
KatesCalifornia: Film? Produser mana yang mau terima cerita abal begini? Hehehe. Makasih banyak pujiannya. :)
choco momo: Udah aku update, tapi maaf kalo nggak kilat. Hehehe.
Hyou Hyouichiffer: Cerita yang sebelum summary? Nanti akan kejawab di chapter depan. Tunggu dan ikuti aja. Hahaha. Soal Sasu minum darah, kayaknya udah kejawab di chapter ini, dengan teoriku sendiri. *mengubah sejarah* *dorrrr* Apakah masih belum memuaskan? :)
Fujiwara Ami: Uwaaaa, tsunami pertanyaaaaaan! *kelelep* Makasih banget ya atas pujiannya. Muah! Muah! Kalo soal Hina, dia bukannya punya kepribadian ganda. Tapi aku ngeliat sendiri di anime aslinya, waktu Naru lawan Pein, yang berani nolongin siapa? Cuma Hinata kan? Nah disini, aku juga pengen nampilin sifat itu. Karena ngeliat Naru juga jadi korban, jadinya Hina rela ikut sama Sasu. Gitu loh. Apa malah sama sekali nggak keliatan sifat itunya? Maaf kalo ternyata nggak. Hehehe. Nggak ada akad nikah, tapi nanti mereka emang bakal "nikah" *perhatikan tanda kutipnya*. Nanti deh liat sendiri. Soal pihak ketiga, hmmm.. sempet kepikiran, tapi aku nggak tau jalan ceritanya jadi kayak gimana. Jadi untuk sementara, masih SasuHina dulu ya. Soal mimpi jeritan Saku, ya ampun.. Aku sendiri aja nggak kepikiran sampe kesitu. Nggak kok, suara Saku itu cuma perwakilan aja. Namanya mimpi, ya kan? *bughh* Nngg, kira2 di chapter ini Hina keliatan lemah apa agak berontak? Makasih lagi atas review-nya yang bikin saya ngos2an ini. Aku seneng banget. Hehehe. *dijitak*
finestabc: Makasih banyak udah ngikutin dari awal. Ahaha, kayaknya aku kurang berani bikin yang horor-setan. Udah di-update ya.
Miya-hime Nakashinki: Makasih banget pujiannya. Uwahaha, kasian amat Buto Ijo rambutnya pantat ayam! *yang kasian buto ijo apa sasu-nya?* Bener juga ya. Tapi aku sama sekali nggak kepikiran cerita Timun Mas loh. Hehehe. Udah di-update ya. ^^
YuGaemGyu3424: Tenaaang.. Tarik nafaaaass.. Keluarkaaaann.. Masih deg2an kah? Hehehe. Suaranya kayak Kyuhyun, mungkin? :p *bruaakk* Udah di-update. Maaf ya kalo chap ini ngebosenin. *bungkuk-bungkuk*
ulva-chan: Hehehe, masa sih kayak film? Aku seneng ngebacanya. Makasih banyak ya. Kenapa Naruto ada disitu, nanti ada ceritanya, tungguin aja. *ah, author kebanyakan nanti-nanti* Udah ku-update. Maaf kalo lelet. ^^
Maykyuminnie: Terima kasih banyak. Ini chap selanjutnya, maaf ya kelamaan.
Noverius2012: Sudah ku-LANJUTKAAAN! Hehehe. :p
Desy Cassiotaku: Buatku, nggak ada kritik yang abal kok. Nggak tau kenapa aku malah seneng kalo ada yang mengkritik. :p Wow, berasa dikejar2 beneran sama orang ganteng ya? Hehehe. *ditendang* ^o^
Fallen stars: Udah aku lanjutin nih. Maaf ya kalo lama. :)
Firah-chan: Makasih karena udah dukung aku. Makasih juga pujiannya. Makasih juga karena udah mau nunggu. Ini udah aku update. Maaf kelamaan ya. ^^
Mei Anna AiHina: Salam kenal juga. ^^ Gore? Aku nggak tau nih, chapter ini bisa termasuk gore apa nggak ya? Maaf soalnya chapter ini belum ada lemon, mungkin chapter berikutnya? Lihat saja nanti. *ditabok* Sasu psikopat ke Hina? Kayaknya aku nggak tega bikinnya, apalagi Sasu 'ada rasa yang tak biasa' ke Hina. ^o^ Makasih udah di-fave. Udah di-update ya.
Miss'Ree'moriku: Udah di-update, tapi maaf nggak bisa kilat. :)
yuu - chan v: Boleh kok. ^^ Maaf ya, kayaknya aku nggak tega kalo bikin Sasu psikopat. Mungkin di masa lalu iya, tapi kalo ke Hina, aku nggak bisa. *ampun* Udah di-update, maaf kalo lambat. :)
Ryuu Lawliet: Udah ku-update. Kelamaan ya? ^^
Azorami-clan: Makasih. Ini dia lanjutannya, un. ^o^
Peace n Love: Sabaku bersaudara dan Neji.. hmm, kita lihat nanti aja ya. *digaruk* Ini udah update. ^^
Winda.: Yap, bener banget, emang tampang Sasu itu mendukung banget buat dapet peran kayak gitu. Hehehe. Udah di-update. Belum sampe lumutan kan? :p
aiko: Sudah ku-update. Enjoy. :)
bluemaniac: Udah dilanjutkaaan.. *joget-joget*
Uwaaaaa, aku seneng banget karena banyak yang bilang, membaca fic-ku rasanya seperti nonton film. Makasih banyaaaaaak banget kalo begitu. Tentu saja, aku juga berterima kasih sama imajinasi readers yang luar biasa, karena menurutku imajinasi-lah yang membuat semuanya terasa lebih hidup. ^o^
Aku sama sekali nggak nyangka bakal dapet banyak review dan respon positif yang banyak banget. Sekali lagi, makasih untuk readers yang udah ngikutin sampe chapter ini.
Tapi kayaknya chapter ini agak kurang greget ya? Monoton dan ngebosenin. Ya nggak sih? Menurutku sih gitu. *pundung*
Saran dan kritik diterima dengan tangan yang amat sangat terbuka. Limpahkanlah sebanyak-banyaknya ya, readers. Ingat apa kata Pak Minato, "Budayakan Review"! ^o^ *dilempar kunai*
Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^
