Because of Coffe

xxx

Matahari sudah turun dari tahtanya, digantikan sinar Bulan yang lembut. Udara semakin dingin di bulan desember memang selalu menjadi favorit semua orang. Apalagi jika itu malam terakhir di bulan desember dan salju turun dengan indah.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Namun, ayam goreng pesanannya belum juga sampai. Di iklan bilang, pesanan akan sampai dalam waktu tiga puluh menit. Namun apa buktinya? sudah lewat dua menit dari waktu yang sudah ditentukan, belum juga sampai. Dasar pembohongan publik.

Baekhyun sudah dalam posisi siapnya. Tiduran di sofa dengan layar televisi yang menayangkan drama favoritnya. Akan lengkap jika ayam gorengnya sudah datang. Sialan, sepertinya mereka menangkap ayam dulu di hutan pedalaman Zimbabwe.

Namanya Byun Baekhyun. Umur enam belas tahun, duduk di kelas dua SMA Hannyoung atau mari kita sebut dengan SMA Han. Surai hitam pekat dan mata sipit serta bibir tipis adalah pesonanya sedangkan sweater kemanapun ia pergi adalah ciri khasnya.

Ibunya meninggal saat melahirkannya, tapi yang aneh, ia sama sekali tidak pernah merasakan kehilangan. Ayahnya seorang fotografer profesional yang selalu berkeliling dunia untuk memotret gambar. Jadi, jangan heran jika Baekhyun hanya mengisi harinya dengan berdiam diri di apartemennya dengan lampu dipadamkan. Lagi pula, ia terlalu malas untuk berpergian.

Selama hidupnya, Baekhyun tidak pernah memiliki teman. Bukan, Baekhyun bukan siswa yang si bully dengan kacamata bulat atau rutinitas pergi ke perpustakaan sama seringnya dengan rutinitas buang air kecil. Tidak. Baekhyun sangat tegas, bahkan bisa dibilang terlalu tegas. Di juga masuk deretan siswa tertampan (ini menurut dirinya sendiri) disekolah. IQ nya diatas rata-rata, membuat semua guru bidang studi berlomba-lomba membujuknya untuk ikut kedalam setiap perlombaan. Bahkan, dibidang keolahragaan, terutama panah, jangan pernah remehkan sosok Byun Baekhyun.

Baekhyun sedang pamer. Tidak suka? enyah saja kalian.

Mungkin dia akan populer layaknya sekumpulan siswa dengan rambut berlapisi pomade, sneakers keren, dan para perempuan yang memuja nya jika saja ia tidak terlalu cuek dan pemalas.

Jika ada orang yang mengatakan tidak bisa hidup tanpa teman, tolong ingatkan orang itu jika dia salah. Baekhyun adalah bukti nyatanya. Ia bahkan terlalu malas untuk berkomunikasi dengan gurunya. Saking malasnya, ia sering menyalahkan jawabannya saat di ulangan harian agar nilai nya jelek dan tidak jadi dipandang guru.

Oke, kadang-kadang Baekhyun menyesalinya karena ia jadi membuang waktu untuk kelas remedial.

Baekhyun tidak pernah suka bergantung pada orang lain. Jika masih mempunyai pikiran, tangan dan kaki sendiri, kenapa harys kinta tolong?

Bahkan saat keran air di apartemennya bocor, ia hanya mengambil kaus kaki yang entah milik siapa untuk disumpal agar air bocor dari keran itu berhenti mengalir. Yeah, terlalu mandiri. Walau dampaknya tidak terlalu lama karena setelahnya seisi apartemennya digenangi air.

Sebenarnya, Baekhyun pernah sekali mempunyai teman sebangku di TK. Namun semua itu berakhir dengan Baekhyun yang menguap ngantuk di ruang guru dengan teman sebangkunya yang sedang menangis dengan badan penuh lumpur sehabis Baekhyun tendang.

Payah. Padahal laki-laki. Ditendang ke dalam kubangan lumpur berisi cacing saja menangis.

Baekhyun kembali melihat jam dindingnya. Sudah jam delapan lima belas menit, dan kabar buruknya tukang pesan antar sialan itu belum juga datang. Hingga suara bel pintu terdengar.

Baekhyun bangun, meregangkan ototnya hingga terdengar bunyi 'kretek-kretek' dan memasang senyum pysco--maksudnya tampannya.

"Dengan Byun Baekhyun? Ini pesanan anda, totalnya menjadi segini." Tukang pesan antar itu menyerahkan bill pembayaran agar Baekhyun menerima bill tersebut dan membayar jumlah yang tertera. Namun Baekhyun hanya menatap datar bill itu, membuat si tukang pesan antar bingung.

"Nona, kenapa anda hanya--"

"Apa mereka tidak melatih karyawannya dengan baik? Di iklan, mereka mengatakan jika pesanan akan sampai dalam waktu tiga puluh menit. Dan kau sudah terlambat tujuh belas menit lebih. Atau ini hanya taktik penjualan agar makanannya laku? Aku akan melupakan masalah penipuan ini dan sebagai gantinya kau akan memberikan ayam goreng ini secara gratis. Jika bos mu bertanya, bayar saja pakai uangmu. Anggap itu konsekuensi dari kesalahan mu, oke? Ngomong-ngomong aku laki-laki. Jadi sebelum aku menendang selangkanganmu setelah memanggilku nona, lebih baik kau segera pergi. Baiklah selamat malam." Baekhyun langsung mengambil buket ayam goreng itu dan menutup pintu tanpa melihat ekspresi cengo milik tukang pesan antar.

Tukang pesan antar itu terdiam, menatap tangannya yang masih terangkat memegang kertas bill yang bahkan tidak dilirik sama sekali oleh Baekhyun.

Ia bersumpah tidak akan pernah mengantarkan pesanan apapun lagi kedalam apartemen ini.

Masa bodo dia menabrak sembarang orang, ia terlalu kesal.

Dan biarkan Baekhyun menikmati ayam goreng gratisnya di malam tahun baru ini.

xxx

Bukan ini bukan kandang sapi.

Tapi kenapa terlihat seperti kandang sapi?

Tidak, ini lebih terlihat seperti kandang babi.

Kamar itu benar-benar tidak layak. Bungkusan makanan ringan dimana-mana, gumpalan kertas berserakan di lantai juga celana dalam yang menyangkut begitu saja didekat jendela.

Chanyeol duduk didepan meja belajarnya dengan serius. Dahinya terus berkerut dan tangannya terus menggoreskan benda lonjong keatas benda logam pipih tersebut.

Chanyeol mengumpat. Les fisika sialan, bahkan hukum gaya newton tak akan membantunya dalam menyelesaikan deadline komiknya.

Apalagi suara tawa dari lantai bawah benar-benar menganggu. Apasih yang spesial dari kemenangan sepupunya-- Kris yang mendapatkan mendali emas di olimpiade sains? Orang tua memang selalu berlebihan.

Namanya Park Chanyeol. Dari luar kau akan melihat sosok laki-laki tampan berusia enam belas tahun, berkepribadian menyenangkan dan hidup di keluarga kaya serta pendidikan tinggi Terlihat sangat sempurna.

Jika banyak orang yang ingin masuk kedalam kehidupannya, Chanyeol sendiri malah ingin keluar dari kehidupan konyolnya.

Chanyeol hidup untuk menggambar. Sejak kecil, ketika ia melihat orang lain menggambar, secercah kebahagiaan bisa ia rasakan hanya dengan melihat orang menggoreskan pensilnya diatas kertas.

Usia enam tahun, ia memulai karya seninya di tembok kamarnya. Saat itu ia merasa bahwa dirinya fantastis. Namun diusia delapan tahun saat ia kembali melihat hasil karya nya di tembok itu, ia hanya melihat sebuah gambar stickman dengan tiga helai rambut diatasnya.

Membuat ia kembali mencoba, mencoba hingga dititik dimana ia tidak bisa berhenti untuk menggambar.

Tapi ia terlahir dikeluarga yang salah. Keluarga yang menganggap karir menggambar hanya akan berkahir menjadi seniman jalanan yang tak memiliki tujuan hidup.

Ayahnya telah mendaftarkannya ke lebih dua belas tempat les yang berbeda. Dan itu membuat Chanyeol muak.

Bahkan ayahnya tidak tahu jika anak satu-satunya ini bekerja sebagai salah satu peracik kopi untuk melampiaskan kekesalannya.

Chanyeol kembali fokus pada gambarnya. Selesai.

Ia tersenyum bangga melihat hasil karyanya dan dengan segera mengirimkannya kepada pihak Webtoon.

Sudah tiga bulan ini, dirinya membuat komik digital untuk Webtoon. Berawal dari iseng hingga pihak Webtoon menjadikannya sebagai komik resmi yang sekarang tengah ramai dibicarakan orang.

Dan tentu saja ayahnya tak tahu.

Karena dimata ayahnya, Chanyeol tidak lebih dari anak gagal yang harus terus belajar demi masa depan yang cerah.

"Chanyeol, apa kau tidak mau--"

Chanyeol membelalak begitu melihat ayahnya masuk tanpa mengetuk pintu. Begitupun ayahnya yang kaget serta marah melihat anaknya sedang melakukan hal yang paling ia benci.

Menggambar.

"Apa yang kau lakukan Chanyeol?! Apa kau kembali menggambar?!" Bentak ayahnya.

Chanyeol menutup matanya mendengar bentakan ayahnya. Tersenyum pahit mengingat bentakan yang terakhir kali ia dengar waktu duduk di bangku kelas satu SMP.

Chanyeol membuka matanya, menatap ayahnya menantang, "Kembali kata ayah? Memangnya kapan aku pernah berhenti? Kapan ucapan ayah pernah aku dengar?"

Ayahnya melotot mendengar jawaban Chanyeol. Tangannya terangkat keatas, hendak menampar. Chanyeol hanya tersenyum, menutup matanya.

Satu dua tamparan tidak membuatnya mati 'kan?

BRAK!!

Chanyeol sontak membuka matanya mendengar suara benda dihancurkan. Matanya membelalak marah melihat apa yang sedang dilakukan ayahnya.

Media gambar digitalnya sedang diijak-injak ayahnya hingga retak. Serta puluhan lembar gambar sejak ia masih kecil yang disimpan dakan satu buku tebal sedang di robek satu persatu hingga tak bersisa.

"Jangan pernah menggambar lagi. Kau pasti sudah tau kenapa, seni hanya untuk orang dengan fantasi berlebih tanpa tujuan hidup. Yang kita butuhkan adalah otak untuk mendapatkan uang. Cobalah hidup seperti Kris, bahkan setelah ia memenangkan olimpiade sains nya, ia akan pindah ke sekolah untuk mengikuti olimpiade Bahasa Inggris--"

"Kris, Kris, dan Kris. Anak mu sebenarnya yang mana? Oh bahkan mungkin namaku sudah kau hapus dari kartu keluarga Park 'kan sejak dulu? Baiklah aku akan berhenti menggambar. Kau ingin aku seperti Kris-Kris mu itukan?! Memenangkan puluhan olimpiade dan membuatmu bangga! Lupakan soal Kris yang akan pindah ke sekolah untuk olimpiade Bahasa Inggris, aku yang akan maju untuk olimpiade sialan itu dan membuat pak tua keparat sepertimu bangga seperti yang selalu kau inginkan!" Chanyeol tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

Dia segera menarik jaket birunya, mengambil ponselnya, melewati ayah serta bibi nya, juga melewati Kris yang sedang duduk diam di ruang tamu menatapnya tanpa ekspresi.

Tanpa menghiraukan panggilan ayahnya, ia segera melesat menggunakan motor ninjanya ke tempat satu-satunya yang bisa meluapkan emosinya.

Kedai kopi milik Hyunwoo.

xxx

Baekhyun menguap untuk kesekian kalinya. Makan dalam jumlah 'cukup' banyak adalah pilihan buruk jika kau mempunyai rencanan menonton drama hingga besok pagi.

Baekhyun berkali-kali mengucek matanya. Bahkan ketampanan Nam Joohyuk dalam drama gagal membuat matanya tetap terjaga.

"Kopi, aku butuh kopi."

Baekhyun bangun dari sofanya, berjalan menuju dapur dengan mulut yang tak berhenti menguap. Hingga mulutnya berdecak begitu membuka isi kulkas.

Kosong.

Kau bahkan bisa menemukan bangkai kecoak yang mati beku disana.

Membanting pintu kulkasnya dengan sedikit kencang, Baekhyun beralih membuka lemari dapurnya.

Kosong lagi.

Sekarang kamu bisa menemukan debu setebal 2cm disitu.

"Aishhh, kapan sih aku terakhir kali membeli persediaan isi kulkas. Bukannya baru kemarin?"

Yeah, Musim panas tahun yang sudah terlewat beberapa bulan yang lalu memang selalu terasa seperti baru kemarin.

"Tidak ada pilihan lain, aku harus beli kopi atau tertidur dengan rasa penyesalan melewatkan tubuh basah Joohyuk yang sedang berenang."

xxx

"Malam-malam begini tidak baik loh minum kopi banyak-banyak. Apalagi jika manis, bisa gendut loh wajah cantikmu. Lagipula dirimu 'kan sudah manis." Baekhyun menatap datar penjaga kasir yang sedang melontarkan kalimat-kalimat basi didepannya.

Baekhyun rasa, ia harus melaporkan ini kebagian surat konsumen.

"Aku ini laki-laki," Ujar Baekhyun singkat. Membuat penjaga kasir itu tertawa garing dan mengutuk Baekhyun yang sama sekali tidak mempunyai selera humor.

Jalanan kota Seoul sedang ramai-ramainya. Suasana penyambutan tahun baru begitu terasa.

Mulai dari papan reklame besar bertuliskan HAPPY NEW YEAR, kelap-kelip lampu natal, dan jalanan malam yang dipenuhi orang-orang entah sedang berbuat apa.

Ya berbuat apa lagi, tentu saja merayakan malam tahun baru. Bukannya berkeliaran cuma untuk membeli sekaleng kopi.

"Apa dia gelandangan?"

Baekhyun hanya memasang wajah temboknya dan meminum kopi instannya dengan sekali teguk tanpa memperhatikan pandangan orang kearahnya.

Lagian ini hanya pesta tahun baru. Apa salahnya keluar memakai celana tidur polkadot, sweater bergambar Pikachu, dan sendal jepit?

"AWAS!"

Mata Baekhyun menatap awas. Astaga, kenapa juga ada orang yang melakukan aksi kriminal di tengah malam tahun baru seperti ini. Jadi sebagai warga negara yang baik, Baekhyun memberi jalan untuk pencuri itu lari.

Tapi memang dasarnya kriminal.

Pencuri itu malah menarik kantong plastik belanjaan milik Baekhyun hingga terjatuh dan membuat kopi kalengannya bergelinding di jalanan. Baekhyun menatapnya geram, namun baru saja ia akan mengambilnya, sebuah kaki dengan indahnya menginjak kaleng kopi nya hingga penyok dan menendang kaleng lainnya ke arah jalanan sebelum kembali berlari.

Baekhyun diam terpaku. Menatap kaleng kopinya yang menggelinding secara dramatis sebelum akhirnya hancur dilindas sebuah mobil.

Dahi Baekhyun berkedut sebal. Byun Baekhyun sedang dalam mode kanibalnya.

"HEY KEMBALI KAU PENCURI KOPI!"

xxx

"Kak Hyunwoo, mau pergi kemana?" Chanyeol yang baru sampai langsung menatap pemilik kafe--Sohn Hyunwoo yang berpakaian super rapih, rambut yang disisir, aroma parfum yang menguar serta sebuket bunga di tangannya. "Kak, kau tak akan melamar kak Minhyuk 'kan? Kak sadarlah, dia masih ditingkat pertama perguruan tinggi!" Lanjut Taehyung.

"Bodoh. Ini malam tahun baru, semua orang pergi dengan orang terkasihnya. Lihat dirimu sendiri, seperti gelandangan menyedihkan yang menghabiskan tahun baru dengan menggiling biji kopi," Ejek Hyunwoo diakhiri tawa puas.

"Sialan kak," Gerutu Chanyeol. Ia turun dari motor dan meninju bahu pelan.

"Karena tahun baru, kafe tutup lebih awal. Tolong bersihkan meja nya. Kau bisa bebas bereksperimen dengan kopi setelahnya. Aku duluan ya!"

"Yeah-yeah, cepat pergi sana." Hyunwoo kembali tertawa sebelum masuk ke mobil dan pergi meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol masuk kedalam kafe yang amat sepi itu. Sudah tutup. Agak aneh melihatnya dalam keadaan super sepi mengingat kafe ini selalu ramai pengunjung.

Chanyeol melepaskan jaketnya, menggulung lengan baju nya dan mulai membereskan seisi kafe juga gelas-gelas kotor.

Chanyeol menghela nafas. Baru setengah jam. Rasanya malam ini akan menjadi panjang.

Chanyeol masuk kedalam ruang janitor atau lebih tepatnya markas besar dirinya dengan Hyunwoo serta sahabat sepercontekannya Sehun--si ketua kelas sok berkuasanya. Ngomong-ngomong jangan tanya apa yang mereka lakukan di sana setiap harinya. Serius, kalian tidak akan mau tahu.

Lalu Chanyeol duduk di sofa ditengah ruang janitor yang sebenarnya cukup besar itu. Membuka ponselnya diantara sapu serta kain pel baru yang mengelilingnya. Notif ponselnya ramai, tapi tidak ada satu pun notifikasi yang ditujukan untuk diirinya.

Hanya berisi postingan foto mereka yang merayakan tahun baru, kata-kata harapan di tahun baru ini serta beberapa iklan promo tahun baru.

Hingga dirinya berhenti di postingan milik Kris--sepupu menyebalkannya. Chanyeol menggeram marah begitu sepupunya itu memposting dirinya yang berfoto dengan ayahnya--si ketua yayasan sekolah, pemilik tempat les bergengsi dan bla-bla-bla. Dengan caption "Walaupun ini bukan hal yang harus dibanggakan, tapi terimakasih atas dukunganmu pak."

Chanyeol merasa tersindir. Jika bagi Kris itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, bagaimana dengan Chanyeol yang bahkan tak bisa mendapatkannya?

Mendadak, emosinya kembali tersulut.

Brak Bruk Brak

Sebuah suara terdengar ricuh dari arah meja kasir. Begitu Chanyeol keluar, ia melotot kaget begitu mendapati seorang pencuri yang sedang menguras habis isi kasir kafe ini.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" Seru Chanyeol membuat si pencuri itu kaget.

"Aku? Tentu saja mencuri, kenapa masih bertanya?" Dan tepat setelah ia mengatakan itu, si pencuri langsung melompati meja kasir dan berlari keluar dengan sangat cepat.

"Bajingan sialan!"

Chanyeol langsung mengejar pencuri itu dengan sekuat tenaga. Menerobos lautan manusia di malam tahun baru, bahkan ia tak peduli jika seorang gelandangan baru saja memakinya karena mungkin barang bekasnya ia injak.

Pencuri itu berlari menuju gang sempit, membuat Chanyeol menyeringai.

Itu jalanan buntu.

Begitu Chanyeol berbelok, ia langsung menarik sudut bibirnya mendapati sang pencuri kebingungan mencari jalan.

"Mencari jalan keluar hmm? Hari ini hari burukmu, beruntung sekali mood ku dalam keadaan buruk." Chanyeol meregangkan otot leher dan jarinya hingga menimbulkan backsound 'kretek-kretek'.

Pencuri itu tampak panik, namun saat Chanyeol makin dekat, ia langsung merubahnya menjadi sebuah seringai menyeramkan.

"Sepertinya, hari ini yang akan menjadi hari burukmu."

Dan di saat-saat seperti ini, Chanyeol baru menyadari sesuatu.

Saat Chanyeol sedang dalam mood buruk, dia akan menjadi pelupa.

Bahkan lupa pada kenyataan bahwa ia tidak bisa berkelahi sama sekali.

BUGH!

Satu pukulan Chanyeol dapatkan di pipinya hingga menimbulkan memar berwarna biru.

BUGH!

Satu pukulan lagi Chanyeol dapatkan disudut bibirnya hingga darah segar mengalir keluar.

Sebenarnya, siapa pelaku nya disini. Kenapa malah Chanyeol yang babak belur?

Chanyeol jatuh tersungkur, ketika si pencuri hendak melepas satu tonjokkan lagi, sebuah tangan mencengkeramnya kuat hingga ia sama sekali tidak bisa bergerak.

Baekhyun datang entah dari mana, langsung menatap galak si pencuri, "Jangan bunuh dia, dia belum mengganti rugi kopi-kopi malang ku."

Baekhyun memutar tangan si pencuri, membuat si pencuri beputar lalu terjatuh. Belum sempat si pencuri bangun, Baekhyun sudah terlebih dulu duduk diatas punggungnya dan mengunci kedua tangan si pencuri.

Chanyeol menatap si super hero kemalaman itu dengan mata menilai. Oke, kekuatan bar-barnya bisa diakui oleh dua jempol. Tapi sweater pikachu, celana polkadot dan sendal jepit? Avengers sedang bangkrut atau gimana?

"Hey, apakah kau punya borgol?" Baekhyun menatap Chanyeol yang masih tergeletak menyedihkan di tanah. "Ouh, oke. Kurasa tidak." Baekhyun mengambil sebuah tali--entah itu tali apa dan dari mana--mengikat kedua tangan si pencuri kencang seakan itu adalah borgol.

"Dengan kantor polisi Seoul?" Baekhyun menelpon kantor polisi. Chanyeol perlahan bangun dan duduk bersandar di tembok. Memejamkan matanya.

Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Satu, Masalah keluarga sialan.

Kedua, Berhadapan dengan pencuri.

Ketiga, babak belur.

Keempat, berurusan dengan gelandangan gila.

"Akhh!" Chanyeol meringis mendapati tas berisi uang hasil curian dari kasir kafenya dilemparkan ke atas perutnya yang terluka. Chanyeol menatap tajam Baekhyun yang memasang tampang songong.

"Apa-apaan?!" Protes Chanyeol.

"Bukannya kalimat terimakasih yang harusnya kau ucapkan?" Baekhyun menjawab sarkas. Berhasil membuat Chanyeol mengutuknya.

"Terimakasih dan aku akan pergi."

"Kau tidak boleh kemana-mana. Kau masih berhutang tiga buah kopi padaku."

"Huh, maksudnya?"

xxx

Baekhyun menatap seluruh pergerakan Chanyeol. Pemuda yang masih dipenuhi luka lebam itu mondar mandir mengambil biji kopi dari karung nya, mesangrainya sebelum dimasukkan ke sebuah alat seperti mesin press, memencet tombol hingga bau kopi hangat mulai menguar. Ya atau apalah karena fokus Baekhyun sekarang bukan pada tahapan apa yang sedang orang itu lakukan melainkan warna biru kemerahan pada luka pemuda itu.

"Milikmu?" Chanyeok menoleh, dan disaat itulah Baekhyun ingin tertawa rasanya melihat wajah babak belur Chanyeol. Kenapa ada pula orang bodoh yang mati-matian mengejar maling tali nyatanya tidak bisa berbuat apa-apa saat dipukuli malingnya.

"Bukan, ini milik mantan seniorku disekolah. Aku hanya membantu," Jawab Chanyeol sedikit meringis mendapati bibir bagian bawahnya terasa nyeri ketika ia bicara.

Chanyeol membawa nampan berisi secangkir kopi hitam ke meja Baekhyun. Membuat Baekhyun menatap cangkir kopi hitam itu dengan pandangan menilai.

"Kau yakin ini enak? Ini terlihat seperti kopi hitam biasa, mungkin kopi instan milikku lebih enak."

"Coba dulu baru komentar, dasar bawel." Chanyeol pergi dari meja Baekhyun, berjalan menuju kotak P3K dan kembali dengan obat merah serta kain kassa ditangannya.

Baekhyun menatap cangkir kopinya. Menghirup bau nya. Aneh, baunya sangat enak. Baekhyun mengangkat cangkir kopi itu dan menyesap nya perlahan, takut ada rasa pahit yang menjalar di lidahnya.

Tapi tidak.

"Ini enak! Serius kau yang buat ini?!" Ini pertama kalinya Baekhyun tersenyum di musim ini. Dan itu semua berkat kopi buatan si pemuda bodoh.

"Kan tadi kau sudah melihat sendiri siapa yang membuatnya." Chanyeol mendengus, mencari perekat luka namun tidak ia temukan. Jadi, dengan obat seadanya ia duduk didepan Baekhyun dan mulai membersihkan lukanya sendiri.

"Aww..." Chanyeol meringis sedikit ketika sensasi dingin alkohol terasa di luka nya yang masih basah. Agak kesusahan karena ia tidak bisa melihat lukanya secara langsung.

Baekhyun meletakkan cangkir kopinya, melihat Chanyeol gemas, "Berikan itu padaku, kau sengaja agar terlihat menyedihkan didepanku ya?"

Chanyeol menggeleng, "Aku bisa sendiri." Namun sedetik kemudian ia kembali meringis ketika ia terlalu kuat menekan lukanya.

"Bodoh, cepat berikan." Baekhyun merampas paksa kassa itu lalu menempelkannya dengan hati-hati di lukanya.

"Pelan-pelan, itu sakit!" Protes Chanyeol.

"Kau ini berlubang atau berbatang sih? Berisik sekali!" Decak Baekhyun.

"Aku hanya mengekspresikan rasa sa-Aww!" Chanyeol refleks berteriak begitu Baekhyun menekan lukanya sebagai penutup.

"Tidak punya plester luka atau semacamnya?" Dan sebagai jawaban, Chanyeol hanya menggeleng.

"Hah, aku terpaksa mengeluarkan ini." Baekhyun merogoh saku jaketnya, mengeluarkan serenceng plester luka berwarna kuning dengan motif bebek. Memakaikannya di luka milik Chanyeol.

"Ya! Lepaskan itu, norak sekali!" Tapi protesan Chanyeol langsung tertutup begitu Baekhyun memasang pose menonjok sebagai ancaman.

"Hah, sudah malam. Aku harus melanjutkan dramaku. Aku pergi dulu."

"Tidak ada yang menahan mu untuk pergi juga."

"Kau ingin kupukul ya?!" Dan Chanyeol kembali bungkam. Sialan, harga dirinya sebagai laki-laki tercoreng oleh gelandangan ini.

Namun baru selangkah, Baekhyun kembali berbalik dan menatap Chanyeol dari atas kebawah. Meneliti satu persatu bagian tubuh pemuda yang lebih tinggi. Yang diam-diam membuat Chanyeol sedikit salah tingkah.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Bukannya menjawab, Baekhyun malah bertanya. "Siapa namamu?"

"Park Chanyeol."

"Oh aku Byun Baekhyun. Setidaknya aku harus tahu ciri fisik dan namamu."

"Dan... untuk apa semua itu? Kau tidak berharap aku akan menyapamu jika suatu hari kita kembali berpapasan 'kan?"

"Bodoh. Kau baru membayar satu kopi. Masih ada empat kopi lainnya yang harus kau lunasi. Jadi, sampai ketemu lagi." Dan Baekhyun pergi keluar dengan santai nya tanpa menghiraukan badai salju yang mulai turun.

"Dia aneh, tapi rasanya familiar melihat gelandangan itu." Chanyeol menatap pintu kafe yang sedikit terbuka dengan punggung Baekhyun yang makin menjauh.

Ia mengambil ponselnya, berkaca dengan kamera depannya dan menyentuh plester luka berwarna kuning dengan corak bebek yang terlihat norak.

"Tapi dia cukup manis sih." Chanyeol mengangguk-ngangguk. Baekhyun itu mungil dengan kulit putih mulusnya. Bibir merah muda tipisnya, nata sipit layaknya anak anjing dan rambut hitamnya sangat mempesona dibawah hujan salju yang mengguyur.

Tapi tiba-tiba, perilaku bar-bar Baekhyun menghajar si pencuri, ucapan sakras dan tajam dari mulutnya serta perangainya yant kasar membuat Chanyeol sadar dari kegiatan mari memuji pesona Baekhyun.

"Gila, tonjokkan di perut sepertinya membuatku kehilangan setengah kewarasan."

Tapi mau gimana lagi, sepertinya sih Chanyeol suka.

xxx

kinda unmood, so i will stop in this chap.yaeh, akhirnya jadi oneshoot aja ehew soalnya draft nya kehapus (lagi) dan udh males nulisnua huhu jadi karena 1shoot emg biasanya gantung, jadi segini aja wkekwk.tengseu and mian :(((revision version