(re-do)

4/?


.

"Padahal kau bisa memakai bekas luka itu sebagai penguat untuk menggugat cerai." Soonyoung berkomentar.

Jihoon melirik padanya sebentar, lalu kembali melihat pada memar yang ada di lengannya, "Yah, aku juga berpikir begitu. Tapi aku tidak ingin menggunakan alasan DV sebagai alasan perceraianku."

Soonyoung masih memandanginya, beberapa saat yang lalu Jihoon sempat menangis. Lalu diantara kalimatnya yang tidak jelas karena senggukan, Soonyoung mendengarnya mengatakan bahwa Jihoon memang menyayangi suaminya.

Lalu rasanya hati Soonyoung yang menangis setelahnya. Jihoon tenang dengan sangat cepat, namun, ia mengatakan bahwa ia sudah yakin ia harus bercerai dengan suaminya. Soonyoung menanyainya lagi.

"Lalu mau pakai alasan apa?"

Jihoon memandangnya beberapa saat, terdiam memandangi mata Soonyoung yang juga balik menatap matanya.

"Aku akan menemui Seyong nanti. Aku harus mengatakan kalau aku ingin bercerai dengannya."

"Lalu, pura-pura pacarannya?"

Jihoon menghela nafasnya, meninggalkan Soonyoung di ruang makan sendirian. Ketika Soonyoung melemparnya dengan pertanyaan itu sekali lagi, jawaban yang ia terima dari mulut Jihoon adalah terserah.

Oh.

Soonyoung tersenyum miring. Apa Jihoon sudah memberinya kesempatan untuk mendekatinya lebih jauh?

"Ya yang mengajak untuk pura-pura pacaran tadi siapa?"

Mencintai Lee Jihoon membuatnya gila, kalau Soonyoung boleh jujur. Tapi ia tidak mau berhenti sebelum perasaannya ini dibalas.


.

Jeonghan pulang bersama Seungcheol subuh hari. Ia menemukan anak-anaknya masih tidur tapi Jihoon dan Soonyoung sudah ribut di dapur.

"Kenapa kau ikutan bangun, Soonyoung?"

"Kan mau membantumu menyiapkan sarapan. Eh, aku tidak tahu kau bisa memasak harum begini."

Jeonghan menyapa mereka berdua, "Duh, maaf merepotkan, Jihoon!"

Jihoon kaget ketika ia mendengar suara Jeonghan, "Eonni sudah pulang?"

Soonyoung yang sedang makan apel melompat mendekati sosok pria di belakang Jeonghan, "Astaga, hyung. Sudah lama sekali tidak melihatmu."

Jihoon ikutan melirik laki-laki yang sudah berpakaian kasual, tapi dari posturnya yang kekar dia yakin lelaki itu adalah suami Jeonghan—yang katanya tentara berpangkat kapten—Choi Seungcheol. Sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi fisiknya memang bagus sih.

Seungcheol tertawa, lalu menarik telinga Soonyoung mendekat. Berbisik, "Jadi itu istri orang yang kau taksir itu, Soonyoung."

Soonyoung menyengir, agak merinding jika kakak sepupu iparnya sudah bicara sambil berbisik begini—bukan karena takut tapi karena geli, "Iya, hyung. Cantik kan dia?"

"Cantik sih cantik, tapi itu istri orang bodoh." Seungcheol menjitaknya di kepala, "Jeonghan sudah menceritakan semuanya padaku, yah, kau tidak salah sebenarnya, tapi kau juga salah. Oi, semalam kalian menginap disini berdua untuk menjaga Hansol?!"

Soonyoung bingung dengan cara bicara Seungcheol, "Aku tidak mengerti—hei, hyung, tidak mau melihat Hansol dan membangunkannya? Dia pasti senang jika wajah pertama yang ia lihat setelah bangun tidur pagi ini adalah wajah ayahnya."

Soonyoung harus bisa mengesampingkan pembicaraan mengenai 'istri orang' ini kalau tidak mau hatinya sakit lagi. Sakit tapi tidak berdarah. Dan Seungcheol sebagai orang militer tidak punya hati sepeka itu untuk memahami perasaan sepupu istrinya. Untunglah Seungcheol sepertinya masih sangat peka terhadap anak, bagaimanapun dia juga sangat kangen Hansol setelah tiga bulan tidak bertemu.

Seungcheol segera menuju kamar anaknya sementara Jeonghan sudah menggantikan posisi Soonyoung untuk membantu Jihoon memasak—ya sebenarnya tadi Soonyoung tidak membantu, tapi hanya bicara saja.

Jam menunjuk pukul tujuh pagi ketika Seungcheol membawa turun Hansol yang sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanak ke meja makan. Soonyoung menguap setelah minum susu, sejak terbangun ketika Jihoon mengambil air di dapur tengah malam kemarin ia tidak bisa tidur lagi sampai pagi ini. Apalagi setelah mendengar Jihoon ingin menemui suaminya lagi hari ini.

Sementara yang dipikirkan kalem menyantap roti isi telur yang dimasak sendiri tadi pagi.

Soonyoung selesai makan lebih dulu dan berdiri. "Jihoon, mau kuantar ke rumahmu?"

Jeonghan terbelalak sementara Jihoon tersedak. Seungcheol masih fokus mengawasi makan Hansol, jadi ia tidak memperhatikan.

Jihoon meneguk air banyak-banyak, "Soonyoung, itu tidak per—"

"Aku akan tinggal saja di mobil, aku tidak akan ikut campur pembicaraanmu dengan suamimu, aku hanya berjaga-jaga saja kalau-kalau kau akan dipukuli lagi—jangan hentikan aku untuk memukulinya balik kalau nanti dia memukulimu."

Soonyoung tahu suasana hatinya tidak terlalu baik, dan nada bicara yang ia gunakan mungkin terlampau dingin—tapi karena itulah Jihoon jadi seperti tidak punya kuasa untuk membantahnya. Padahal Soonyoung tidak memberikan perintah, hanya menawarkan—penawarannya tidak untuk ditolak.

Jihoon akhirnya berpamitan pada Jeonghan dan Seungcheol—lalu membawa koper berisi barang-barangnya. Ya, Jihoon pikir ia tidak bisa tinggal di tempat Jeonghan lebih lama lagi, ia mungkin bisa mencari penginapan atau pulang ke rumah orangtuanya nanti. Hansol yang hari itu sedang libur bahkan berpesan hati-hati padanya. Jihoon gemas lalu mencium pipi anak itu dalam-dalam.

"Nanti auntie akan sering kesini, oke?"

Hansol mengangguk. Jeonghan pernah bilang pada Jihoon, bahwa meskipun Hansol sangat tenang dan kalem, bocah itu sebenarnya kesepian karena sering sendirian kalau dirumah, dan meskipun Hansol tidak banyak melakukan interaksi dengannya, Jeonghan bilang juga pada Jihoon kalau sebenarnya dia cukup kepo dengan Jihoon.

Jihoon masuk ke mobil Soonyoung dan pria itu membawanya pergi meninggalkan rumah Jeonghan. Mereka sempat pergi ke rumah orangtua Jihoon untuk menitipkan koper Jihoon disana, dan juga Jihoon berkata ada sesuatu penting yang harus ia bawa.

"Apa rumahmu jauh dari sini?"

Jihoon menggeleng, "Cuma perlu lima belas menit kesana. Setelah persimpangan ini, belok ke kiri, Soonyoung."

Soonyoung melakukan intruksi Jihoon dan Jihoon merasa aneh dengan Soonyoung yang serius seperti ini. Ia merasa takut mendadak, bukannya ia takut Soonyoung akan melakukan sesuatu padanya seperti perasaan takutnya pada Seyong, tapi entahlah.

Jihoon memilih diam sepanjang perjalanan, Soonyoung pun tidak mengajaknya bicara selain ketika menanyakan posisi rumahnya atau jalan mana yang harus mereka ambil.

Jihoon sama sekali tidak menghubungi Seyong untuk kedatangannya kali ini dan ia pikir ia juga cukup gila karena tidak bisa menolak tawaran Soonyoung. Astaga, apa yang akan tetangganya katakan jika tahu ia menghilang selama beberapa hari kemudian ia datang ke rumah dengan diantarkan seorang lelaki yang bahkan bukan suaminya. Sial. Sial. Kenapa pikiran Jihoon sementah ini.

"Tenang saja, sudah aku bilang aku tidak akan keluar dari mobil kecuali jika aku merasa kau dalam bahaya."

Jihoon menelan ludah. Ekspresinya mungkin sangat mudah dibaca oleh Soonyoung—ia memang gelisah sekarang. Sangat gelisah.

Ia harus secepatnya menyudahi keadaannya yang sesak mencekik ini.

Jihoon menyuruh mobil Soonyoung menepi untuk memasuki halaman rumahnya. Rumah Jihoon sebenarnya cukup luas—itu adalah rumah Seyong yang sudah dimilikinya sebelum menikah dengan Jihoon. Pekerjaan Seyong adalah arsitek, Soonyoung sendiri harus mengakui kalau rancangan rumah bergaya barat dengan langit-langit tinggi itu sangat bagus, meskipun nuansanya kuno. Di depannya ada mawar merambat dengan beberapa bunga yang mekar—Soonyoung tidak sempat menanyakan siapa yang menanamnya ketika Jihoon langsung turun tanpa mengatakan apa-apa.

Soonyoung memilih diam saja. Ia mematikan mobilnya dan memilih untuk menyandarkan punggung di jok. Mau tidur tapi tidak bisa.

Jihoon memencet bel rumah tiga kali sebelum pintunya terbuka. Ia mendapati Seyong membukakan pintu rumah dengan keadaan kacau balau.

Astaga, Jihoon tahu sebenarnya ia belum siap untuk ini.

"Jihoon?"

Jihoon memaksakan sebuah senyum tipis, lalu memperhatikan Seyong yang sepertinya jadi lebih kurus setelah beberapa hari ia tinggalkan.

"Apa kau makan dengan baik?"

Jihoon tidak tahu kenapa ia malah menanyakan hal tersebut, Seyong juga kelihatan bingung dengan pertanyaannya yang begitu tiba-tiba, dan begitu sadar, Jihoon langsung mengibaskan tangannya sekali, "Tidak, err, maksudku, boleh aku masuk? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Aneh. Seyong sama sekali tidak menunjukkan gelagat ingin marah ataupun kesal. Jihoon tahu dari gerakan bola mata suaminya kalau suaminya menyadari keberadaan mobil Soonyoung di belakang. Tapi, Seyong sama sekali tidak menunjukkan keinginan bahkan untuk sekedar bertanya.

"Masuklah, Jihoon."

Jihoon melangkah masuk. Dan dari dalam mobil, Soonyoung mengepalkan tangannya.

Seyong memberikan satu seringai kecil padanya ketika menutup pintu.


.

"Aku sejujurnya tidak ingin berlama-lama, jadi tidak usah repot membuatkanku minuman, Seyong." Jihoon memberikan jawaban itu ketika Seyong menyuruhnya duduk dan menanyai ingin minum apa.

Seyong tertawa kecil, "Baiklah, maumu apa Jihoon?"

Jihoon menyerahkan sebuah amplop cokelat pada Seyong, suaminya menerimanya dengan penasaran dan membukanya dengan cepat.

"Itu surat gugatan cerai, aku harap kau mau menandatanganinya." Jihoon berucap sambil menundukkan kepalanya. Sementara Seyong tertawa lagi, ia memegang kedua bahu Jihoon.

"Apa ini, Jihoon? Jadi kau benar-benar selingkuh dan memilih bersama direktur rumah sakit jiwa itu?" Seyong bertanya dengan tawa, tapi denial terdengar begitu jelas dalam nada suaranya. Jihoon menepis kedua tangan yang mencengkeramnya dan menatap pada Seyong.

"Seyong, aku… aku sama sekali tidak menginginkan ini, tapi, aku tidak bisa lagi bersamamu." Jihoon menggigit bibir, "Lagipula aku hanya membawa kesialan bagimu kan? Seperti yang sudah sering kau katakan padaku. Aku juga punya hati, Seyong. Aku tidak bisa menerima semua perlakuanmu padaku."

Jihoon sudah berbalik dan ingin keluar dari rumah saat tiba-tiba Seyong menarik tangannya dan membalikkan badannya dengan cepat. Tubuh Jihoon didorong ke dinding dan Seyong mengapitnya. Jihoon memalingkan wajahnya ke samping ketika ia tahu Seyong akan menciumnya. Sayangnya hal tersebut hanya membuat Seyong gregetan, ia menggeram dan mengarahkan dagu Jihoon untuk mengahadapnya sebelum melahap bibirnya dengan cara yang sangat rakus.


.

Soonyoung sudah benar-benar tidur ketika Jihoon mengetuk pelan pipinya. Soonyoung terbangun dengan mudah dan melirik jam. Ia mengernyit lalu bertanya pada Jihoon.

"Jam berapa kita sampai disini, Jihoon?"

Jihoon mengangkat bahu, memasang sabuk pengaman lalu menjawab pertanyaan Soonyoung tanpa memandangi pria itu, "Entahlah, mungkin sekitar jam delapan?"

Astaga, aku sudah tidur selama tiga jam. Soonyoung melirik pada Jihoon, dan mencium wangi asing yang sepertinya tadi bukan wangi Jihoon—seperti wangi sabun yang berbeda dan ia juga melihat rambut Jihoon agak basah. Soonyoung menyalakan mobil dan mereka meninggalkan pekarangan rumah tersebut.

"Apa urusanmu sudah selesai?"

Jihoon mengangguk, "Seyong sudah mau menandatangani surat gugatan cerai itu."

Soonyoung mengangkat alisnya, "Semudah itu?"

"Iya."

Jihoon fokus melihat ke jalan, sementara Soonyoung yang mengemudi sesekali masih melirik padanya. Soonyoung akhirnya menyadari ada bekas merah samar baru di perpotongan leher Jihoon. Perempuan itu menggunakan kemeja berkerah agak rendah, sehingga sebagian besar lehernya nyaris terlihat. Soonyoung berdeham.

"Kau sungguh baik, masih mau memberinya sesuatu untuk yang terahir kalinya bahkan setelah dia melakukan semua kekerasan padamu."

Jihoon tahu ia tidak bisa menatap wajah Soonyoung sekarang, ia tidak ingin Soonyoung berpikir bahwa ia adalah sejenis perempuan murahan atau apa—karena kentara sekali dari nada bicara Soonyoung bahwa pria itu tidak suka.

"Dia yang meminta—" Soonyoung bisa mendengar Jihoon menghela nafas sebelum melanjutkan, "—untuk yang terakhir, sebelum ia menandatangani suratnya."

Soonyoung membelokkan mobil di persimpangan, "Dia lebih terlihat ingin membuatku cemburu dengan memberimu tanda kemerahan yang terlihat di leher."

Jihoon kaget, lantas saja meraba lehernya, "Astaga."

"Kau membuat keputusan yang tepat dengan meninggalkannya, Jihoon. Ini musim panas dan dia meninggalkan bekas ciuman di leher, kau pergi ke kantor, dan orang akan mengira kalau aku yang membuat badanmu gemetar keenakan pagi ini." Soonyoung bicara lagi, dan Jihoon tahu pria itu memang benar-benar kesal. Ia ingin minta maaf, tapi ia tidak tahu ia harus meminta maaf untuk apa. Soonyoung belum jadi siapa-siapanya.

"Jangan pergi ke kantor, jangan pergi ke rumah orangtuaku." Jihoon akhirnya menoleh pada Soonyoung, "Bisa?"

"Lalu kau mau kemana?" Soonyoung bertanya padanya. Dan Jihoon diam.

Soonyoung memutar balik mobilnya dan membawa mereka menuju ke arah sebaliknya, "Kurasa kau tidak akan keberatan jika kubawa ke apartemenku. Tenang, aku tidak akan macam-macam."

Mereka benar-benar pergi ke apartemen Soonyoung. Jihoon memasukinya setelah Soonyoung membuka kuncinya dan mempersilahkannya masuk. Apartemen Soonyoung luas—seperti yang sudah ia duga dari hunian seorang direktur. Soonyoung melempar kuncinya ke sofa dan tanpa bicara ia menuju dapur.

Jihoon mengumpulkan keberaniannya untuk menyusul Soonyoung di dapur, ia menemukan Soonyoung yang bersandar di meja makan sambil meminum sekaleng cola.

"Soonyoung, apa kau kesal padaku?" Jihoon bertanya—pelan dan hati-hati.

Soonyoung meletakkan colanya di meja makan, "Aku kesal, tapi, yah, aku tidak berhak apa-apa terhadapmu. Aku cuma orang yang menyukaimu secara sepihak, dan pasti aku kesal mengetahui bahwa orang yang aku sukai baru saja melakukan hubungan badan, dengan suaminya." Soonyoung meminum colanya lagi, setelah meneguknya ia kembali bicara, "Dengan suaminya—yah, mana bisa aku marah padamu, yang jadi suamimu kan dia."

Jihoon tidak tahu apakah ia harus tertawa, atau malah tersentuh dengan ucapan Soonyoung. Ia tidak tahu sebenarnya, seperti apa perasaannya pada Soonyoung atau seperti apakah perasaan Soonyoung yang sebenar-benarnya padanya. Jihoon juga tidak tahu kenapa ia malah mendekati Soonyoung dan memberinya satu kecupan di pipi.

"Soonyoung, kau ingin aku segera bercerai, bukan?"

Soonyoung masih kaget, responnya jadi lambat. Ia mengangguk sekali beberapa puluh detik setelah Jihoon bertanya.

"Percayalah, aku tidak akan kembali padanya. Jadi, bantu aku untuk menyembuhkan sakit hatiku yang tersisa, apa kau bersedia?"

Soonyoung meletakkan colanya lagi di meja makan, ia memeluk Jihoon erat dan menciumnya dengan begitu dalam. Jihoon yang kaget mengeluarkan erangan kecil ketika Soonyoung memutarnya sehingga kali ini pinggang Jihoon yang membentur meja makan. Soonyoung menggerakkan bibirnya dalam, dan lembut, dan Jihoon yang awalnya mencengkeram lengannya beralih melarikan tangan ke tengkuk Soonyoung. Lengannya mengalung di leher pria itu dan ketika Soonyoung membuat ciumannya beralih liar, jemari Jihoon meremat rambutnya. Soonyoung melepaskan ciuman mereka beberapa menit kemudian, menyisakan Jihoon dengan wajah yang memerah dan mata yang sayu.

"Jihoon, coba katakan kalau kau sebenarnya menyukaiku."

Soonyoung mengecup daun telinganya, Jihoon tidak bisa berpikir jernih, ia bersiap mendorong Sooyoung, tapi Soonyoung sudah menahan kedua tangannya.

"Jihoon, jawab—"

Jihoon bingung, "Aku—aku tidak tahu."

"Jihoon, rasanya aku ingin menciummu sampai kau tidak bisa bernafas—"

"Soonyoung." Jihoon masih memberikan penolakan, "Jangan."

"Kenapa?" Soonyoung menatapnya, "Kau bahkan tidak menolak ciumanku, Jihoon."

Jihoon terdiam sejenak, mungkin ia akan memikirkan ini—tapi sebenarnya ia juga tidak ingin. Mengenai kenapa bisa-bisanya ia tidak menolak ciuman Soonyoung, bahkan membalasnya dan memberikan respon yang cukup berani. Jihoon tidak tahu kenapa rasanya takutnya terhadap Soonyoung hilang mendadak ketika pria itu sendiri memeluknya. Apakah sebenarnya ia hanya tidak ingin Soonyoung berhenti menyukainya? Apakah ia khawatir kalau Soonyoung akan menyerah dan berhenti berusaha memilikinya?

Jihoon menggigiti bibir, ia tahu ia tidak menginginkan hal itu—Soonyoung menjauh darinya hanya akan menambah lukanya.

"Jihoon, masih ingin diam?" Soonyoung menanyainya lagi. Jihoon sedikit berjinjit untuk menyejajarkan mulutnya di telinga Soonyoung.

Ia berbisik, "Aku menyukaimu, apa kau puas sekarang, Kwon Soonyoung?"

Jihoon tidak peduli jika seandainya ia dikatakan sebagai istri kurangajar atau wanita tidak baik. Orang-orang tidak tahu apa saja yang sudah ia lewati selama ini, dulu ia sempat memikirkannya, tapi memandang Soonyoung yang bahkan mengatakan bahwa pria itu mencintainya sementara dirinya sendiri adalah seorang wanita bersuami tanpa tahu malu membuat Jihoon sadar bahwa ada manusia yang jauh lebih sinting dibanding dirinya.

Soonyoung menciumnya lagi, kali ini lebih kuat dibanding sebelumnya. Lidahnya menyapu bibir Jihoon dan Jihoon langsung menyambutnya dengan bibir yang terbuka dan lidah yang terjulur sedikit. Lidah Soonyoung lihai menyentuh isi mulut Jihoon hingga Jihoon nyaris tersedak karena sulit mengimbangi. Soonyoung melepaskan ciumannya sejenak hanya untuk menyerang leher Jihoon dan perempuan itu mengerang. Ia membiarkan saja jari-jari Soonyoung bermain di tubuhnya—bahkan ketika Soonyoung membawanya ke tempat tidurnya yang berantakan dalam keadaan setengah telanjang, Jihoon tetap membiarkannya.

Jemarinya menjambak rambut Soonyoung ketika pria itu menenggelamkan wajah diantara kakinya yang terbuka, mengerjainya di bawah sana. Jihoon merasa geli, dan fakta bahwa Soonyoung yang menyentuhnya benar-benar terasa berbeda. Rasanya seperti baru pertama kalinya disentuh, hanya saja Jihoon sudah mengerti akan kemana alur permainannya. Punggung Jihoon melengkung dengan suaranya yang melengking ketika Soonyoung menghisapnya kuat di bawah sana dan membuatnya melihat putih beberapa saat. Tidak lama, sampai Soonyoung menghujaminya lagi dengan ciuman-ciuman intim yang membuatnya mau tidak mau larut lagi dalam instingnya yang liar dan melupakan norma hingga hal ini selesai.

Soonyoung memastikan ia siap, dan ketika Jihoon memberi anggukan, ia sudah merasakan Soonyoung menerobosnya. Jihoon melenguh, jemari mencengkeram seprai. Soonyoung bergerak perlahan, namun dalam dan itu membuat Jihoon gemetar ketika titiknya disentuh. Ia meminta Soonyoung untuk bergerak lebih, dan Soonyoung memberinya hujaman lebih cepat. Melihat bagaimana Soonyoung begitu luwes memanjakannya, Jihoon yakin bahwa Soonyoung sama sekali bukan pemula—tapi ia tidak peduli, bukankah dirinya juga sama?

Kakinya melingkar di pinggang Soonyoung dan Soonyoung sepertinya menjadi lebih beringas ketika menyadarinya—diiringi lenguhan Jihoon yang memintanya mengisinya dengan hentakan yang lebih keras. Ini luar biasa, emosinya membuncah dan pecah antara senang dan juga sisa kemarahannya. Soonyoung menggeram, ia tidak tahu ia bisa sebergairah ini hanya karena bisikan seorang Lee Jihoon. Yang mengatakan bahwa ia menyukainya—Jihoon membalas perasaanya, lalu sekarang tahu-tahu sudah dibawahnya sambil mendesahkan namanya.

Kaki Jihoon jatuh, terlalu lemas melingkar, namun ujung-ujung jari kakinya menekuk ke dalam—menahan getaran yang dibuat Soonyoung ke seluruh tubuhnya, lalu ia datang lagi ketika Soonyoung menciumi lehernya, turun ke dadanya, lalu pria itu sendiri datang setelah memberikan satu-dua hentakan yang keras dan dalam. Lalu Jihoon merasakan ada yang menyembur di dalamnya.

Tidak masalah, ia tidak dalam masa subur—dan jujur saja Jihoon tidak merasa ia akan hamil karena hal ini.

Soonyoung meraihnya dan Jihoon menyambutnya lalu mereka berciuman sekali lagi. Ini hal yang sangat gila, dan bodoh, dan menjijikkan mungkin—bagi sebagian orang. Soonyoung sudah menarik dirinya dari dalam Jihoon dan memilih untuk berbaring di sebelahnya, miring menghadap Jihoon.

"Jihoon—maaf, aku sudah menahannya selama ini tapi.."

"Tapi apa?" Jihoon memotong ucapannya.

"Tapi aku terlalu… senang?" Soonyoung menatapnya dalam, "Aku merasa seperti baru saja mendapatkan pengakuan besar, ini bahkan lebih hebat dibandingkan ketika Ayahku memintaku menjadi direktur." Pria itu lalu tersenyum, meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.

"Terima kasih."

Terima kasih karena dicintai? Jihoon bahkan belum yakin bahwa ia mencintai Soonyoung atau tidak. Ia hanya merasakan ketertarikan, lalu rasa nyaman. Mungkin itu akan berkembang seiring waktu, ia perlu waktu untuk membiarkan Soonyoung mengisi sebagian lagi hatinya yang masih terluka—membiarkan Soonyoung menyembuhkannya. Jihoon tidak pernah berharap dicintai sebesar ini terhadap lelaki, tapi Soonyoung sudah membuatnya berharap banyak bahkan hanya dalam waktu yang cukup singkat. Sudah cukup Jihoon mempertahankan gengsinya lalu memberikan kesempatan bagi pria di depannya ini untuk lebih mendapatkan hatinya.

Diam-diam, Jihoon masih merasa bersalah pada Seyong. Dia mungkin memang istri yang tidak pantas dipertahankan, Jihoon mengakuinya karena nyatanya ia tidak bisa menahan diri. Tidak apa. bibirnya melukiskan senyum karena akhirnya ia sadar bahwa menurutnya ia memang mengambil keputusan yang tepat.


.

Setelah beberapa proses dan waktu yang cukup lama, persidangan perceraian Jihoon bisa dibilang lancar, tidak alot dan Seyong memang benar-benar menepati janjinya untuk bekerjasama. Jihoon tidak tahu apa motifnya, apakah Seyong juga ingin lekas berpisah dengannya atau ingin menikah dengan wanita yang ia cintai—yang pasti itu bukan Jihoon. Mereka berhasil damai sebelum bercerai meskipun perceraian itu sendiri tetap berjalan. Seyong menjabat tangannya lebih dulu ketika hakim selesai mengetukkan palu sebanyak tiga kali. Jihoon menjabatnya balik dan sebenarnya Jihoon sedikit kaget juga dengan apa yang diucapkan mantan suaminya selanjutnya.

"Maafkan aku untuk dua tahun ini, seharusnya aku tidak menimpakan semuanya padamu, Jihoon."

Jihoon maklum, "Itu pasti sulit, aku tahu seberapa terpukulnya dirimu."

"Kau sudah bertahan cukup lama waktu itu, Jihoon. Kenapa kau bisa tahan denganku?" Seyong menggaruk tengkuknya, "Aku benar-benar malu jika mengingat semuanya."

Jihoon tersenyum padanya, "Tidak apa-apa. kita bisa melupakan semuanya dan memulai untuk menjadi teman baik, bukan?"

Seyong sejujurnya adalah orang yang baik. Jihoon sedikit menyayangkan kenapa Seyong baru memunculkan dirinya yang sebenarnya sekarang. Tapi ia tidak menyesal, ia sudah memutuskan semuanya, jadi kenapa ia harus mempertimbangkan semuanya lagi dari awal?

Jihoon pamit untuk pergi lebih dahulu. Ayah dan Ibunya mengajaknya untuk bersama tapi Jihoon menolak, Soonyoung sudah meneleponnya dan mengatakan akan menjemputnya sesaat setelah sidang selesai—ketika ia masih berbicara dengan Seyong, lalu Seyong memberikan senyum maklum dan menjauh—senyumnya sebenarnya agak terluka.

Soonyoung datang lima menit setelah orangtua Jihoon pergi. pria itu turun dan tersenyum pada Jihoon lalu mengucapkan selamat siang sok formal. Jihoon menyikutnya.

"Jihoon, blouse-mu bagus, tapi juga jelek." Soonyoung berkomentar, Jihoon cemberut.

"Tidak usah memuji kalau begitu."

"Itu bagus karena kakimu kelihatan, itu jelek karena akhirnya banyak orang yang melihat pahamu."

Sejak mereka menjadi dekat satu sama lain, rumah sakit sudah ramai dengan isu serupa aroma bangkai, mengenai mereka yang berselingkuh. Latar belakangnya macam-macam sampai Jihoon pusing mendengarnya. Soonyoung selalu mengatakan tidak apa-apa dan bersikap biasa saja karena, yah, pria itu memang sinting.

"Kau sudah makan?"

Jihoon tidak menjawab, tapi melewati Soonyoung dan masuk ke mobil pria itu tanpa bicara. Soonyoung menyusulnya dan duduk di samping Jihoon—di bagian kemudi tentu saja. Jihoon memainkan telunjuknya di dagu sambil mengecek ponsel.

"Soonyoung, makan siang di restoran temanku lagi ya, katamu disana enak kan?"

Soonyoung menurut, ia mengangguk sekali lalu menuju tempat yang disebutkan Jihoon. Ketika mereka menunggu lampu lalu lintas yang merah berubah warna, Soonyoung berdeham.

"Jihoon, kau sudah resmi bercerai bukan?"

"Iya."

"Kalau begitu bisa kan kita juga meresmikan hubungan kita ini? Maksudku, aku sudah bisa kan mengenalkanmu sebagai pacarku pada orangtuaku?"

Jihoon dulu pernah menikah karena perjodohan, jadi sudah jelas ia mengenal orangtua mantan suaminya terlebih dahulu baru ia mengenal Seyong, sementara Soonyoung… entahlah. Membayangkan bertemu dengan orangtua Soonyoung dan dikenalkan sebagai pacar?

Sialan, Jihoon gugup jadinya. Dia ini sudah pernah menikah, tentu saja ia khawatir dengan pendapat orangtua Soonyoung nantinya.

Soonyoung menginjak gas lagi ketika lampu lalu lintas berubah warna, ia tertawa, "Jangan terlalu kau pikirkan, Jihoon. Aku tidak akan membawamu untuk menemui orangtuaku sekarang."


.

(fin)

(canda ding, masih to be continue kok, hahahaha)

.


Ps: maaf ya, kayanya chapter ini mesum abis. Saya piktor seharian abis denger rekaman piipmoansnyapiip jihoon. Sialan banget, OI FANGIRL INTER MANA YANG UDAH BIKIN REKAMAN ITU HAH? MANTAP MBAKyu, aku padamu /ggg

Pss: hari ini poppomans team Cuma berdua di PH, anjir sy sedih banget. Cuma ot11 yg berangkat, cina line tinggal. Edan ini sedih.

PSSS: INI GA DI BETA YA, JADI MAAF KALAU BANYAK TYPO ATAU KALIMAT YANG KURANG BISA DI-NGEH, YA BIASALAH YANG BIKIN FF JUGA GA JELAS SIH /GGG