Shin Key Can, Present
.
.
.
MY DREAM
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Cuma mau kasih tahu kalau fic ini berisi , AU, OOC, Typos, etc...
Pairing : Naruto Uzumaki, Ino Yamanaka, Sakura Haruno, Uchiha Sasuke
Summarry : Apalah aku ini. Aku hanya seorang anak pungut di keluarga Uchiha. Mereka memperlakukanku dengan baik, tapi berbeda dengan ayah angkatku. Meskipun ayah angkatku memperlakukanku berbeda, aku tetap menghormatinya.
.
.
.
~Dua hari kemudian
Ruangan bercat putih dengan aroma obat-obatan menyeruak di kamar yang di tempati Naruto beberapa hari ini. Naruto sudah tiga hari di rawat di rumah sakit. Keeadaanya lumayan membaik setelah di tangani dokter. Kini, Naruto sedang menikmati makan siangnya di temani oleh kedua kakak dan teman-temannya yang menjenguk. Sebenarnya ia baru saja bangun dan belum memakan makanan yang disediakan rumah sakit, namun karena ia harus minum obat, mau tidak mau ia harus makan.
"Aku benci makan bubur," kata Naruto menggerutu.
"Sudah makan saja," kata Sasuke cuek.
"Tapi ini tidak enak. Aku ingin makan ramen dan strawberry short cake buatan ibu, nii-chan," protes Naruto. Teman-temannya yang berada di ruang itu hanya tertawa melihat tingkah ke kanak-kanakan Naruto.
"Tidak sebelum kau benar-benar sembuh, Naruto. Kau belum boleh makan ramen," ucap Itachi singkat.
"Itachi-nii, ayolah. Aku bukan sakit parah yang harus menghindari ramen," kata Naruto memohon.
"Eh..sudah-sudah. Jangan bertengkar. Nah, Naruto, kebetulan tadi dari rumah aku bawakan strawberry short cake untukmu," kata Ino tersenyum. Ino ikut datang menjenguk Naruto bersama Sakura, Shikamaru, dan juga Sai.
"Wahhh, benarkah itu Ino. Aku mau mencoba strawberry short cake buatanmu," kata Naruto girang. Kemudian Ino memotongkan strawberry short cake itu untuk Naruto juga Itachi, Sasuke, Sakura, Shikamaru, dan juga Sai.
"Ino, bisa minta tolong?" tanya Naruto polos.
"Apa itu, Naruto?" sahut Ino bingung.
"Tolong suapin aku, ya. Tanganku susah di gerakan karena selang infus ini," kata Naruto malu-malu. Semua yang hadir di ruangan itu hanya bengong.
"Ino, jangan di turuti. Dan kau sebaiknya aku suapi, jangan merepotkan temanmu," kata Itachi menggoda. Sebenarnya ia tahu jika Ino memiliki tatapan yang berbeda pada Naruto, ia hanya bermaksud membuktikan dugaannya jika Ino menyukai adiknya.
"Itachi-nii," rengek Naruto.
"Itachi-nii, aku tidak merasa kerepotan,kok. Jadi Itachi-nii tidak usah merasa seperti itu. Biar aku saja yang menyuapi Naruto," kata Ino jujur.
"Asikkk," kata Naruto girang.
"Nah, sekarang buka mulutmu, Naruto," kata Ino memasukan potongan strawberry short cake ke dalam mulut Naruto. Itachi, Sasuke, Sakura, Shikamaru, dan juga Sai hanya tertawa saja. Berbeda dengan Ino, ia justru tampak merona.
"Nyam..nyam..nyam.. Ini enak sekali Ino. Mirip buatan ibuku. Kau pandai sekali membuatnya. Kelak suamimu pasti akan bangga jika punya istri sepertimu," puji Naruto pada Ino. Ino hampir saja terserang jantung ketika mendengar pujian itu.
"Ciee..." kata Sai menggoda. Ia tertawa saat Ino menyuapi Naruto. Sasuke, Sakura, Shikamaru, dan juga Sai sebenarnya sudah tahu kalau Ino menyukai Naruto dari dulu, namun Naruto sepertinya tidak peka terhadap perasaan Ino.
"Sai, kau iri padaku ya," kata Naruto bercanda.
"Tentu saja tidak. Aku kan sudah punya pacar," kata Sai bangga.
"Hei, Naruto, seharusnya kau juga punya kekasih seperti kami," sambung Shikamaru.
"Ino juga belum punya pacar, kan? Kenapa tidak sekalian saja kalian jadian saja," goda Itachi.
BLUSHH.. keduanya merona ketika Itachi berkata seperti itu pada Naruto dan Ino. Ino menutupi malunya dengan menatap piring yang ia pegang, sedangkan Naruto, ia hanya menggaruk kepalanya karena merasa pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"Ah, itu benar, kenapa tidak jadian saja dengan Naruto, Ino," goda Sakura ketika melihat pipi Naruto dan Ino memerah. Ino baru akan membuka suara malah terpotong oleh Sasuke yang ikut menggoda.
"Selama ini kalian terlihat dekat, jadi apa salahnya jika ada timbul getar-getar cinta," ucap Sasuke enteng. Ia masih sibuk makan strawberry short cake sambil berkomentar.
"Hei, kenapa kalian menggoda seperti itu, sih. Kasihan Ino jika kalian menggodanya seperti itu. Kalian bisa di hajar Garaa kalau kalian menggoda pacarnya," ucap Naruto.
"Jadi kau pikir Ino masih pacaran dengan Garaa?" tanya Sakura.
"Yang kutahu begitu. Tadinya aku mau menembak Ino," kata Naruto polos.
"Naru-" ucapan Ino terpotong.
"Eh, Ino, aku khilaf..heheh. Anggap saja kau tidak mendengarnya," kata Naruto keceplosan. Sebenarnya, jauh sebelum ia menyukai Sakura, ia terlebih dulu menyukai Ino. Namun Tuhan berkata lain, Ino telah berpacaran dengan Gaara sang kapten sepak bola di sekolahnya saat ia duduk dibangku kelas sepuluh.
"Nah, kalian sendiri mendengarnya, bukan?" kata Shikamaru mengkompori.
"Iya, aku mendengar apa yang dikatakan Naruto," sambung Sai menggoda.
"Naruto, jika dulu Ino tidak berpacaran apa kau akan mengatakan perasaanmu pada Ino?" pancing Sasuke kemudian.
"Tentu saja nii. Ups," kata Naruto keceplosan dan menutup mulutnya dengan tangan. Ini membuat kamar Naruto riuh penuh dengan suara tawa dari Itachi, Sasuke, Sai, Sakura juga Shikamaru. Sedangkan Ino, ia harus senang mendengar hal itu dari mulut Naruto, atau malu karena goodaan teman-temannya. Ia lantas menutup selimutnya karena malu.
"Ah, sudahlah. Habiskan strawberry short cake-nya saja," kata Ino mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
Naruto duduk bersandar di punggung ranjangnya. Ia kini hanya diam karena tidak ada teman-temannya yang menjenguknya. Temannya sudah pulang lima menit lalu di antar Sasuke, sedangkan Itachi, keluar untuk mengisi perutnya. Naruto menghela nafas, keadaannya kini sudah mulai membaik. Saat sedang asyik melamun, pintu terbuka dari arah luar. Seseorang telah masuk dari luar, yaitu dokter Tsunade.
"Apa kabar, Naruto? Kau lebih sehat hari ini, apa itu semua karena kehadiran teman-temanmu?" tanya dokter Tsunade. Ia sedang memeriksa tekanan darah Naruto.
"Umm, berkat mereka aku sedikit terhibur dengan keadaanku yang sekarang," kata Naruto singkat. Naruto kemudian melihat lagi ke arah jendela. Ia tidak ingin banyak bicara hari ini dengan dokter Tsunade. Melihat hal itu, Tsunade yang sejak tadi memperhatikan Naruto memberanikan bertanya.
"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan? Ceritakan padaku Naruto. Siapa tahu aku bisa membantumu," kata Tsunade.
"Tidak ada, hanya sedang berpikir sesuatu," kata Naruto singkat.
"Coba katakan padaku, apa hal yang saat ini mengganjal pikiranmu," bujuk Tsunade agar Naruto mau bercerita dengannya.
"Jika aku katakan, apa dokter akan menjawabnya?" tanya Naruto kemudian.
"Tentu saja," kata Tsunade tersenyum.
"Dokter,apa hasil labnya sudah anda terima? Bagaimana hasilnya? Aku sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Naruto panjang lebar.
"I-itu.. itu, ah, kalau bertanya satu-satu saja. Aku bingung menjawabnya," kata Tsunade mengalihkan pembicaraan.
"Dokter sudah janji padaku, jadi harus dokter tepati," kata Naruto serius.
"Ini sulit untuk menjelaskannya padamu. Jika aku katakan pasti kau akan sedih," kata Tsunade serius.
"Katakan yang sebenarnya, aku akan siap mendengar kemungkinan terburuknya," kata Naruto mantap.
"J-jadi, hasil labmu kemarin, baru aku terima pagi ini. Hasilnya tidak begitu baik Naruto," kata Tsunade basa-basi.
"Tolong katakan yang sebenarnya dokter," ucap Naruto penasaran.
"Naruto, gejala yang kau alami selama ini, mirip dengan kanker otak. Setalah aku pastikan hasil labnya, kau menderita kanker otak stadium dua," kata Tsunade sedih.
"Anda bercanda, kan? Bagaimana mungkin?" kata Naruto tak percaya.
"Ini benar Naruto. Hasil lab menunjukan hal demikian. Aku yakin kau sulit menerimanya," kata Tsunade menenangkan Naruto.
"Dokter, ini mimpi kan? Katakan ini bohong," kata Naruto terisak. Baru kali ini setelah kepergian orang tuanya, ia meneteskan air mata.
"Ini benar Naruto. Jika kau menjalani perwatan intensif, kau bisa sembuh," kata Tsunade menghibur. Tsunade kemudian memeluk Naruto untuk menguatkan hatinya. Jas putih Tsunade basah karena air mata Naruto yang perlahan menetes.
"D-dokter, apa ibu sudah tahu tentang hal ini?" tanya Naruto kemudian.
"Dia belum tahu. Aku baru saja akan memberitahunya jika ia kemari," kata Tsunade lembut.
"Tidak usah di beri tahu, aku tidak ingin membuatnya sedih. Kumohon jangan beritahukan hal ini dokter," kata Naruto seraya melepaskan pelukan Tsunade.
"Apa kau yakin? Ibumu pasti cepat atau lambat akan mengetahui hal ini," kata Tsunade meyakinkan.
"Tidak seorangpun boleh tahu, dokter. Aku akan melakukan apapun asalkan dokter tidak memberitahukan hal ini pada ibu," ucap Naruto lirih.
'Kau keras kepala seperti ayahmu, Naruto,' batin Tsunade.
.
.
.
~Uchiha House
Suasana sarapan begitu lengkap di keluarga Uchiha. Ada sang kepala keluarga, ibu, serta ketiga putranya. Hari ini hari sabtu, keluarga ini seperti biasa sangat sibuk saat pagi hari. Naruto yang sejak tadi malam pulang ke rumah setelah dirawat hampir seminggu di rumah sakit, juga ikut sarapan. Naruto belum boleh diperbolehkan masuk sekolah, tetap saja ia harus sarapan pagi bersama.
Acara sarapan diliputi suasana hening. Tidak ada yang saling bebicara satu sama lain. Sang kepala keluarga Uhiha memilih menghabiskan makanan tanpa menatap istri dan anaknya, sedangkan yang lain hanya sibuk memakan sarapannya. Bosan berada di ruang makan itu, Fugaku kemudian pergi meninggalkan meja makan.
"Ayah mau kemana sepagi ini, kopinya belum di habiskan," kata Mikoto seraya mengikuti ke mana arah suaminya.
"Bukan urusanmu," kata Fugaku ketus.
"Ayah-"
Ceklek.. blammm...
Mikoto hanya pasrah ketika suaminya lagi-lagi bersikap dingin padanya. Tanpa Mikoto sadari, ketiga putranya saling berpandangan. Mereka menduga ayahnya sedang marah pada ibunya. Mikoto yang berdiri kemudian berjalan ke arah meja makan untuk melanjutkan sarapannya bersama ketiga putranya.
.
.
.
"Huekkk...huekk.. Rasanya mual," kata Naruto setelah mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi yang berada di kamarnya.
"Naruto, kau di dalam?" tanya Itachi dari luar kamar Naruto.
"Aku di dalam nii-san," kata Naruto singkat. Ia kemudian membasuh mukanya, dan mengelapnya dengan handuk. Ia keluar dari kamar madi, dan segera membukakan pintu untuk Itachi.
"Lama sekali,"kata Itachi singakat.
"Pintunya tidak di kunci kok," kata Naruto nyengir.
"Huh.. kau kebiasaan. Aku tidur di sini ya, AC di kamarku mati," kata Itachi to the point.
"Tidur saja di sini. Lagian ranjangku luas," kata Naruto pada kakaknya.
"Aku hari ini libur kuliah, lumayan bisa tidur siang," ucap Itachi seraya membetulkan bantal dan kemudian berbaring. Naruto juga mengikuti apa yang dilakukan kakaknya itu.
"Itachi-nii, aku ngantuk. Aku tidur duluan," kata Naruto seraya menarik selimut.
"Ya. Aku juga ngantuk," kata Itachi singkat. Itachi berusaha memjamkan mata, namun sepertinya sulit sekali. Sudah sepuluh menit ia memejamkan mata, tapi ia sungguh tidak bisa tidur, padahal tadi ia mengantuk sekali. Ia kemudian duduk, dan melihat Naruto tertidur pulas. Itachi memperhatikan gurat wajah adik angkatnya yang terlihat pucat.
'Kau sebenarnya sakit apa? Kenapa keaadaanmu jadi seperti ini,' batin Itachi. Ia kemudian membetulkan selimut Naruto. Sekilas ia tampak sedih jika mengingat perlakuan ayahnya yang terkadang berlebihan. Sebagai kakak, ia sangat menyayangi adik-adiknya. Ia bahkan rela membela mati-matian apabila adiknya dilukai oleh seseorang.
.
.
.
~Hari yang sama, jam 12.00, Tokyo International School
"Sasuke, Naruto kapan masuk sekolah," tanya Ino penasaran.
"Mungkin tiga hari lagi. Memangnya kenapa? Kau kangen pada adikku itu," goda Sasuke.
"E-eh. Bukan itu maksudku. Et-to, aku hanya-"
"Merindukan Naruto, ya," tebak Sakura saat menghampiri Sasuke dan Ino.
"Sakura-chan, bukan seperti itu maksudku," kata Ino mengelak.
"Hei, jangan malu begitu, Ino. Kau tenang saja, Naruto kutolak karena aku mencintai Sasuke," kata Sakura jujur. Sasuke dan Ino terkejut dan memandang Sakura dengan tatapan tak di mengeti.
"Jadi Naruto pernah menyatakan perasaannya padamu?" kata Sasuke emosi.
"Jangan emosi begitu, Sasuke-kun. Dia hanya tidak tahu jika aku dari dulu mendekatinya hanya untuk bisa dekat denganmu," kata Sakura tanpa bersalah.
"Tidak seharusnya kau memanfaatkan Naruto seperti itu, Haruno Sakura. Tidak seharusnya kau mempermainkan perasaan Naruto seperti itu," kata Ino tidak terima.
"Hei, jangan dianggap serius Ino. Buktinya aku sekarang jadian dengan Sasuke dan bukan dengan Naruto," kata Sakura enteng.
"Aku permisi," kata Ino singkat. Ia pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke yang masih berdebat.
"Sasuke. Aku hanya mencintaimu. Bukan Naruto. Aku menolak Naruto setelah sebelumnya aku menerimamu," kata Sakura meyakinka.
"Aku ingin sendiri," kata Sasuke ketus. Sasuke meninggalkan Sakura yang masih berdiri di tempatnya.
.
.
.
Sasuke POV
Aku terkejut dengan pengakuan yang dilontarkan Sakura. Naruto telah mengatakan perasaannya pada Sakura, yang itu artinya ia juga menyukai Sakura. Oh, God. Bagaimana bisa kami mencintai dua orang yang sama. Pantas saja aku merasa jika hubungan Sakura dan Naruto seolah menjauh karena kami berpacaran. Dulu mereka begitu dekat sampai aku iri, tapi melihat keadaan yang sekarang justru sebaliknya. Sakura jadi jarang berbicara pada Naruto, begitu sebaliknya. Tapi kenapa Naruto tidak pernah menceritakan hal ini padaku, apa karena ia tidak ingin aku bertengkar dengannya gara-gara wanita. Ah, Naruto yang kutahu dia sangat mengalah, juga tidak ingin membuat masalah dengan orang lain apalagi dengan keluarganya. Ya, aku tidak boleh bertindak egois pada Naruto, kenyataan sebenarnya Sakura menjadi kekasihku, Naruto juga sekarang menjaga jarak dengan Sakura.
End Sasuke POV
.
.
.
~Tiga Hari Kemudian, Tokyo International School
Naruto dan Sasuke datang agak pagi ke sekolahnya. Hari ini Naruto sudah di perbolehkan masuk sekolahnya. Naruto tampak senang karena ia bisa kembali berkumpul dengan teman-temannya. Saat ini masih pukul 06.30, sekolah belum banyak yang datang. Mereka kemudian berjalan menuju kelas dalam diam. Bosan dengan keadaan seperti ini, Sasuke kemudian memulai obrolan.
"Naruto, jawab dengan jujur pertanyaanku," kata Sasuke to the point.
'Gawat, apa dia curiga kalau aku sedang sakit?' batin Naruto ketakutan.
"Err, soal apa nii-chan?" tanya Naruto tersadar dari pemikirannya.
"Ini soal Sakura," jawab Sasuke singkat.
'Fiuh, syukurlah bukan pertanyaan soal penyakitku itu yang terlontar dari mulutnya,' batin Naruto lega. Ia tampak berpikier sejenak mengenai Sakura. Apa dia juga tahu kalau Naruto pernah menembak Sakura.
"Memangnya ada apa soal Sakura?" tanya Naruto heran.
"Apa kau pernah menyatakan perasaanmu padanya," kata Sasuke to the pont. Naruto tamak berpikir. Ia bingung harus menjawabnya seperti apa.
"Pernah, tapi itu dulu dan sudah lama berlalu. Kenyataannya sekarang, dia lebih memilihmu di bandingkan aku, nii-chan," jawab Naruto jujur.
"Apa kau masih menyukai Sakura?" tanya Sasuke penasaran.
"Tidak lagi. Aku sudah melupakan Sakura. Aku harus fokus di sekolahku dan beasiswa ke luar negeri," kata Naruto mantap.
'Bagaimana bisa aku jatuh cinta jika sepertinya waktuku tidak lama lagi," batin Naruto sedih.
"Ayo sebaiknya kita masuk," ajak Sasuke. Ia lega dengan jawaban adiknya itu,
"Hanya soal itu saja? Tidak ada yang lain?" kata Naruto polos.
"Tidak ada lagi. Ayo segera ke kelas. Tugasmu belum selesai kan," ajak Sasuke. Naruto yang ingat jika tugasnya belum selesai akhirnya mengikuti langkah kakaknya masuk ke dalam kelas.
.
.
.
Makan siang di atap gedung sekolah merupakan kebiasaan yang rutin di lakukan Naruto dan teman-temannya. Ia kini di temani Sasuke, Sakura, Sai, Shikamaru, juga Ino yang sedang asyik melahap bento. Oborlan ringan tercipta diantara mereka.
"Naruto, yang aku dengar Kakashi-sensei mengajukan beasiswa untukmu dan juga Sasuke," kata Shikamru seraya duduk bersandar di dinding.
"Aku malah baru dengar," kata Naruto singkat.
"Kemarin, aku, Sasuke juga kau sebenarnya di panggil ke ruangannya untuk mendiskusikan masalah ini," kata Shikamaru.
"Kau akan mengambil tawaran itu, Naruto?" kata Ino.
"Kalau beasiswa itu di luar negeri, kenapa tidak. Sebenarnya sejak kemenanganku di kompetisi bulan lalu, banyak Universitas ternama yang menawariku kuliah gratis di sana," kata Naruto jujur. Memang benar yang di katakan Naruto, hampir setiap minggu, ada saja surat yang ditunjukkan untuk Naruto agar mengambil beasiswa di luar negeri.
"Kau tidak tertarik?" tanya Sasuke.
"Hahaha.. belum jika Coloumbia University atau Oxford University menawariku kuliah di sana," kata Naruto tertawa.
"By the way, kalian setelah lulus SMA ingin kuliah di mana," tanya Sakura pada teman-temannya.
"Mungkin, sama seperti Naruto," jawab Sai mantap.
"Aku mungkin akan Cambrigde Universty," jawab Shikamaru.
"Lalu, Ino?" tanya Sakura pada Ino yang sejak tadi memperhatikan obrolan teman-temannya.
"Jhon Hopkins University," jawab Ino mantap. Sebenarnya Ino masih malas menjawab pertanyaan Sakura karena insiden kemarin, namun demi menjaga perasaan, ia berusaha tidak egois.
"Wah, Ino ingin jadi dokter ya. Hebat. Semangat agar bisa masuk ke Jhon Hopkins University, ya," kata Naruto memberi dukungan.
"A-ah, iya. Terima kasih dukungannya Naruto," kata Ino tulus. Setelah kata terucap dari Naruto dan Ino itu, teman-temannya saling berpandangan menatap Ino dan Naruto . Ino yang sadar jika sedang di perhatikan, akhirnya ia memilih memakan bekalnya, sedangkan Naruto, hanya sibuk memainkan Hp nya. Ia tak menyadari telah di perhatikan oleh teman-temannya.
.
.
.
"Huekk...huekk. lagi-lagi perutku terasa mual," kata Naruto pada cermin di depannya. Ia kemudian membasuh mukanya. Naruto yang tidak menyadari ada orang selain dia di toilet sekolah, langsung kaget begitu melihat Shikamaru keluar dari dalam toilet
"Kau baik-baik saja, Naruto?" tanya Shikamaru cemas.
"Aku baik-baik saja. Hanya merasa mual," kata Naruto jujur.
"Sebaiknya kau segera periksa ke dokter," kata Shikamaru.
'Mungkin sebaiknya aku cek kesehatanku ke dokter Tsunade,' batin Naruto.
"Umm. Aku akan segera ke dokter. Ini hanya mual biasa," kata Naruto meyakinkan. Mereka kemudian ke luar dari toilet dan kembali ke kelas.
.
.
.
TO BE COUNTINUED
A/N: Shin kagak bisa ngomong lagi, lagi no ide. Seperinya fic ini harus tertunda update chapter selanjutnya. Ok, thanks udah RnR, FOLLOW, FAVORITE dsb.
