Salam! xD Here's Jo~ kami sedang semangat... hehe :D
akhirnya kami update lagi fic ini! ahaha~ terima kasih banyak bagi yg bersedia meluangkan waktunya untuk mereview chapter sebelumnya, kami senang banget! xDD

baiklah, sebaiknya saya segera menghentikan omongan" gaje saya, selamat membaca & hope you enjoy!


Line of Truth

Disclaimer: ATLUS owns Persona 3 & Persona 4

Genre: Parody/Adventure

T-Rated Storyline


Chapter 3: School

"Apa kau… menginginkan kebenaran?"

Suara itu terdengar samar di telinga sang pemuda. Ketika Souji membuka kelopak matanya, kedua iris kristal keabu-abuannya hanya dapat melihat kegelapan malam yang kelam, kegelapan yang hampir sama dengan apa yang dilihatnya ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di stasiun Iwatodai.

Barisan peti-peti mati berlumuran darah berdiri tegak di sebelah kiri dan kanan sang pemuda, seakan-akan membentuk suatu tembok yang tidak dapat ditembus. Dan apa yang dapat dilakukan Souji, tidak lain hanyalah melangkahkan kakinya untuk menelusuri jalan satu arah yang terbentang di depannya, jalan yang penuh dengan genangan darah, menimbulkan bunyi cipratan kecil setiap kali ia melangkahinya. Kemudian pemuda itu mempercepat langkahnya, dan akhirnya ia mulai berlari, tanpa mengetahui apa yang ada di ujung jalan tersebut.

Akan tetapi jalan tersebut seakan-akan tidak memiliki akhir…

Namun langkah Souji akhirnya terhenti, ketika ia melihat jalan di hadapannya bercabang, masing-masing mengarah pada jalan yang tidak diketahui ujungnya…

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Sinar matahari mulai menembus kaca jendela yang dingin dan melelehkan embun, membuka paksa kedua kelopak mata sang pemuda yang menyembunyikan bola mata abu-abunya yang jernih dengan cahaya hangat dan lembutnya. Ketika sang pemuda terbangun dari mimpinya yang cukup aneh, ia terduduk di atas tempat tidurnya, kemudian memutar otaknya untuk menebak maksud dari mimpinya tersebut. Namun, usahanya untuk menerka berakhir nihil.

Souji menghela nafas, kedua kelopak matanya masih serasa berat. Sambil sedikit menguap, pemuda itu menginjakkan kakinya pada lantai asrama yang entah mengapa, terasa dingin. Tanpa banyak meributkan mimpi yang baru saja ia saksikan, pemuda itu mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah barunya.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Kedua gendang telinga Souji dapat mendengar suara ketukan pintu tepat setelah ia selesai mengenakan kemeja sekolahnya, dan terdengar suara seorang wanita yang tidak asing lagi di telinganya.

TOK! TOK!

"Halo, ini aku! Apa kau sudah bangun, Souji-kun?" terdengar suara Chie dari luar kamar, sementara suara ketukan pintu semakin mengeras.

"Ya, tunggu sebentar…" jawab Souji singkat dan cukup pelan. Kemungkinan besar Chie tidak dapat mendengar suara Souji. Pemuda itu lalu mengenakan jaket sekolahnya tanpa mengancingkannya lalu membuka pintu kamarnya. Didapatinya Chie berdiri di hadapannya sambil tersenyum bersemangat. Seragam sekolah membalut tubuh gadis itu, dengan jaket hijaunya yang ikut membungkus tubuhnya. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan semalam, hanya saja saat ini tidak ada sarung pistol melilit pada kaki kanannya, dan juga…

"Selamat pagi! Bagaimana tidurmu semalam? Cukup nyenyak?" Tanya Chie, ekspresinya sungguh cerah ceria, sangat kontras dengan keadaan gadis itu kemarin malam. Souji hanya dapat tersenyum setelah melihat Chie yang tampak bersemangat, ia mengangguk perlahan. Chie kembali membuka pembicaraan, "Yukiko-senpai memintaku untuk mengantarmu ke sekolah. Jadi… apa kau sudah siap?" tanya gadis berambut coklat pendek itu sementara senyumnya semakin melebar.

"Ya… ayo kita berangkat." Jawab Souji singkat sementara senyum simpul yang menghiasi wajahnya masih belum memudar.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Kereta meluncuri rangkaian relnya, melaju kencang menuju stasiun Inaba Island. Sementara di dalam kereta, Chie sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Souji yang anehnya, tidak ada satu pun dari pertanyaan-pertanyaan tersebut yang berhubungan dengan apa yang terjadi semalam.

"Jadi… tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Tanya Chie yang berdiri di samping Souji, masih tersenyum ramah. Souji mengangguk. "Ah! Kita sudah sampai, Souji-kun! Lihat!" Chie tampak semakin antusias, kedua bola matanya memandang ceria panorama indah di luar kereta. Iris kristal abu-abu Souji ikut melihat panorama luar kereta, dan dilihatnya sebuah pulau yang luas… atau lebih tepatnya, kota yang cukup besar.

Sesampainya mereka di tempat tujuan, Souji memperhatikan sekelilingnya. Jalanan dipenuhi oleh murid-murid berseragam hitam yang terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan kawan seperjalanannya, sambil berjalan kaki menuju sekolah. Terlihat diantara beberapa siswa ada yang melaju menuju sekolah dengan menggunakan sepeda mereka.

"Pagi...!" sapa salah seorang siswi pengendara sepeda kepada Chie.

"Selamat pagi...!" balas Chie sambil memperhatikan sekilas temannya yang melintasi dirinya dan Souji dengan sepeda yang dikendarainya.

Tidak sampai satu menit kemudian, langkah mereka terhenti ketika mereka sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Souji dapat melihat sebuah pintu gerbang yang cukup besar, yang dicat biru tua serta didesain dengan indah terbuka lebar, memperlihatkan sebuah gedung putih yang terlihat kokoh serta cukup megah untuk ukuran sebuah sekolah. Sungguh sebuah gedung sekolah yang besar dan luas, sesuai bagi ukuran suatu sekolah yang berdiri di tengah-tengah kota besar dengan teknologinya yang begitu maju.

"Jadi, ini dia...!" kata Chie riang sambil tersenyum seperti biasanya.

"Selamat datang di Gekkougami High School, kuharap kau menyukainya!!" ujarnya seperti sedang mengiklankan sesuatu di TV dengan senyum komersil, setidaknya itulah pendapat Souji pada saat itu.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

"Kau mungkin melihat sesuatu... yang aneh semalam," tiba-tiba saja Chie mengungkit masalah yang terjadi semalam ketika ia dan Souji sedang mengganti sepatu mereka di depan sederetan loker biru yang tersusun rapi.

'Sejujurnya, yeah... Tidak ada lagi hal lain yang lebih aneh, selain ketika secara tak terduga ada seorang gadis yang belum kukenal tiba-tiba saja menyerangku, kemudian ia berteriak keras kepadaku, lalu menodongkan pistolnya padaku,' gumam Souji dalam hati, namun tiba-tiba saja ia teringat tentang peristiwa ganjil yang ia rasakan pada saat kedatangannya pertama kali ke kota ini di stasiun Iwatodai larut malam kemarin.

"…Jangan katakan kepada siapapun tentang hal itu, oke?" tambah Chie kemudian, menyadarkan Souji dari lamunan sesaatnya. Ketika Chie melambaikan tangannya pelan pada Souji, ia terlihat seperti teringat akan suatu hal, lalu melanjutkan kembali ucapannya. "Oh iya, aku lupa mengatakan sesuatu kepadamu sebelumnya..." kata Chie sambil memukul pelan dahinya. "Pertama-tama, sebaiknya kau menghubungi wali kelasmu terlebih dahulu. Dari sini, kau hanya perlu berjalan ke arah kiri untuk menuju ruang guru." Jelasnya singkat. Setelah selesai memandu Souji dan merasa yakin bahwa pemuda tersebut akan baik-baik saja apabila ditinggal sendiri olehnya setelah ini, Chie lalu pergi meninggalkan Souji. "Sampai jumpa!" ujar gadis itu, kemudian berlari meninggalkan Souji.

Setelah berterimakasih dan membalas lambaian pelan Chie, Souji melihat-lihat suasana di sekelilingnya. Bagi Souji, semua yang ada di sini adalah baru baginya. Sekolah baru, seragam baru, teman-teman baru, suasana baru...

Ketika tengah mengamati lingkungan barunya, Souji menemukan sekelompok murid sedang berdiri di depan sebuah papan pengumuman berwarna biru tua. Souji lalu berjalan mendekati kerumunan murid-murid yang tidak terlalu ramai itu, dan ia menemukan hal penting lain yang sempat dilupakannya.

Di sana tertera begitu banyak kertas yang bertuliskan daftar nama murid Gekkougami High School, mulai dari daftar murid-murid kelas 1 beserta kelas barunya masing-masing sampai daftar kelas murid-murid kelas 3. Souji kemudian mulai memeriksa setiap kertas yang bertuliskan angka "2" pada bagian kelasnya, mulai dari kelas "2-A" hingga kelas "2-F". Namun ia tidak berhasil menemukan namanya tercantum pada daftar kelas-kelas tersebut.

Setelah itu, ia memeriksa kembali kertas-kertas yang menjadi objek perhatiannya barusan. "S, S... Seta Souji..." gumam Souji pelan menyebutkan namanya sendiri sambil terus memeriksa setiap deret nama yang tertera di setiap kertas yang ia periksa.

Akan tetapi hasilnya tetap saja nihil, Souji masih belum dapat menemukan namanya tertera di mana-mana. Pemuda itu sempat berpikir bahwa namanya mungkin saja lupa dicantumkan, ketika akhirnya matanya terkunci pada satu nama, yang ditulis di bagian bawah daftar nama murid lainnya (namanya ditulis dengan huruf yang kecil dengan menggunakan pulpen hitam) yang tercantum pada kertas bertuliskan 'Kelas 2-F'.

"Seta Souji... kelas 2-F" gumam pemuda tersebut perlahan.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Souji membuka pintu ruang guru dan memperhatikan ruangan itu. Seperti ruang guru pada umumnya, kertas-kertas serta dokumen-dokumen berserakan tidak rapi di atas meja para guru, sementara sederetan komputer tersusun rapi pada setiap mejanya. Hawa dingin AC menerpa wajah dan tangannya, sementara aroma kopi tersebar harum hingga ke setiap sudut ruangan tersebut.

"Oh, apa kau murid baru itu?" terdengar sebuah suara yang asing di telinga pemuda tersebut. Ketika Souji menoleh, ia mendapati seorang wanita berpakaian kurang sopan (jika dibandingkan dengan guru-guru yang lainnya), sedang berdiri dan tengah tersenyum kepadanya. Setiap helai rambutnya berwarna cokelat dan dandanannya terlalu berlebihan bagi ukuran seorang guru. Sementara pakaiannya berupa kemeja berwarna ungu muda yang terlihat sedikit terbuka dan agak sempit bagi ukuran tubuhnya, menimbulkan kesan bahwa baju yang dikenakannya sama sekali tidak pantas ia pakai. Tanpa banyak berkomentar dan berpikir macam-macam, Souji mengangguk.

"Seta Souji... kelas 11, benar?" tutur guru tersebut, bermaksud untuk menyamakan data yang tertera di sebuah kertas yang ia pegang dengan murid baru di hadapannya. "Wow, kau sering tinggal di beragam tempat yang berbeda-beda sebelumnya..." katanya sedikit terkejut. "Dan orang tuamu… ah, sudahlah… untuk apa aku mengurusi hal yang tidak penting dari seorang murid baru yang juga tidak penting?" Seringai tiba-tiba saja tersungging di bibir wanita itu seraya tangannya meletakkan secarik kertas yang dipegangnya di atas meja. "Hmm… sebagai murid baru, kau manis juga ya… berbeda dengan kebanyakan murid-murid di sekolah ini yang sangat membosankan, baik laki-laki maupun perempuan…" ia melanjutkan kembali opininya sambil mengibaskan rambutnya, kemudian mulai memilin-milin bagian ujung rambutnya sementara matanya terus memperhatikan sosok pemuda di hadapannya itu dengan seksama, menatapnya mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki; membuat Souji merasa sangat tidak nyaman.

Souji tidak dapat berkomentar apa-apa melihat guru 'unik' di hadapannya itu. Namun akhirnya ia membuka mulutnya sambil menyunggingkan senyuman yang sedikit dipaksakan. "…Senang berkenalan dengan anda, Sensei…"

Kalimat singkat yang dilontarkan Souji berhasil menarik perhatian wanita itu, membuatnya menghentikan kegiatannya; memperhatikan murid baru di hadapannya. Wanita itu kemudian menatap Souji dalam-dalam, membuat Souji terpaksa memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan tidak mengenakkan dari guru tersebut.

"Setelah ini, kau harus mengikuti upacara penerimaan murid baru dan mendengarkan ceramah panjang dan tidak berguna dari kepala sekolah tua bangka yang membosankan itu. Senang berkenalan denganmu, Seta… namaku Noriko Kashiwagi, yang akan menjadi wali kelasmu hingga satu tahun ke depan." Kata sang wali kelas sambil tersenyum menggoda.

Dan apa yang dirasakan Souji, adalah suatu rasa penyesalan atas kedatangannya ke sekolah ini, atau lebih tepatnya, ke kelas 2-F dengan wali kelas barunya yang cukup menghawatirkan.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

"Sehubungan dengan hari-hari yang akan kalian mulai di sekolah ini, mari kita menjalankan segala kegiatan sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Sekolah ini mempunyai visi dan misi, yaitu…"

Suara serak yang dihasilkan pita suara kepala sekolah uzur itu menggema hingga ke sudut-sudut aula melalui microphone, mengisi seluruh bagian ruangan dengan ceramahnya yang panjang dan bertele-tele. Hampir seluruh murid yang menghadiri upacara itu menguap lebar berkali-kali, beberapa di antara mereka justru telah tertidur. Beberapa murid perempuan saling bergosip dengan berbisik, sementara murid lainnya berusaha menahan kantuk dan mendengar pidato panjang lebar dari kepala sekolah. Terkecuali sang murid baru, Seta Souji, yang memperhatikan pidato tersebut hingga mengingat setiap detilnya, walaupun ia sendiri masih sedikit mengantuk akibat kurang tidur semalam. Tiba-tiba konsentrasi Souji terpecah ketika pundaknya ditepuk perlahan oleh salah seorang murid laki-laki yang duduk di belakangnya.

"Psstt… hei…" murid tersebut berbisik perlahan di telinga Souji. Setelah mendapat perhatian dari Souji, ia melanjutkan lagi. "Tadi pagi, aku melihatmu berjalan ke sekolah bersama Satonaka Chie, kau tahu…? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu…" Ia berusaha mengecilkan lagi suaranya sambil memperhatikan guru-guru yang duduk berjarak beberapa kursi darinya. "Apa Satonaka sudah memiliki pacar?" bisiknya perlahan, membuat Souji menaikkan sebelah alis matanya.

"Aku tidak tahu." Jawab pemuda tersebut singkat sambil berbisik.

"Ah, begitu… Lalu… seberapa jauh kau mengenal—"

"Aku mendengar suara seseorang berbicara di sebelah sana. Apa yang kalian bicarakan di tengah pidato kepala sekolah?" suara serak kepala sekolah tiba-tiba menggema dan mengagetkan Souji juga murid yang duduk di belakangnya. Murid tersebut segera membenarkan posisi duduknya.

"Hei… bersikaplah yang baik… jangan menghancurkan reputasiku sebagai guru terbaik di sekolah ini." Terdengar suara sang wali kelas, Kashiwagi, dari jarak beberapa kursi di sebelah Souji.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

"Akhirnya selesai juga…" batin Souji ketika bel tanda jam pelajaran sekolah usai berbunyi nyaring. Sang pemuda cukup terkesan dengan wali kelas barunya tersebut, mulai dari penampilannya, tutur katanya, hingga sikap dan tingkah lakunya yang sama sekali tidak mencerminkan sikap dan tingkah laku seorang guru pada umumnya.

Seusai merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, Souji segera berdiri dari tempat duduknya dan hendak berjalan keluar kelas, ketika tiba-tiba saja seorang murid laki-laki yang tidak dikenalnya datang menghampirinya.

"Hei! Murid baru di sini?" tanya murid laki-laki tersebut sambil tersenyum ramah. Souji mengangguk sambil menyunggingkan senyuman sebagai jawabannya. Murid laki-laki itu tertawa. "Ahahaha… kau merasa kesepian? Aku tahu bagaimana rasanya menjadi murid baru… aku pun begitu, saat kelas delapan dulu." Katanya lagi. Souji akhirnya membuka mulutnya.

"Siapa kau?" tanya sang pemuda pada murid lelaki di hadapannya.

"Aku? Namaku Hanamura Yosuke, murid yang duduk di sebelahmu… kau ingat?" tanya Yosuke berharap, sementara senyum yang tersungging di bibirnya semakin melebar. Souji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Uhm… maaf… aku lupa." Jawab Souji singkat dengan nada suaranya yang terkesan sedikit menunjukkan penyesalan. Sedari tadi ia memang kurang memperhatikan murid-murid di sekitarnya, mungkin karena ia masih lelah karena kurang tidur, atau mungkin juga karena ia harus berhadapan dengan wali kelasnya yang 'unik' sepanjang jam sekolah.

"Hm? Baiklah… tidak apa-apa. Mungkin aku tahu alasannya mengapa kau tidak mengamati murid-murid di sekitarmu. Jadi… senang berkenalan denganmu." Yosuke tertawa ringan, walaupun Souji dapat mendengar sedikit nada kekecewaan dari suara sang pemuda. Souji memperhatikan Yosuke, teman barunya tersebut. Rambutnya berwarna coklat, selaras dengan bola matanya. Headphone oranye menggantung di lehernya. Seragam sekolahnya rapi, dengan jaket sekolah yang terkancing.

Senyuman tersungging di bibir Souji. "Senang berkenalan denganmu." Jawab Souji.

"YOSUKEEE!!" terdengar teriakan keras dan tegas yang tidak asing lagi di telinga Souji. Souji menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, dan mendapati Chie berdiri tepat di samping mereka.

"Ch-Chie!?" Yosuke tampak terkejut. Souji dapat mendengar sedikit kecemasan dan perasaan takut pada nada suara Yosuke, sementara senyum Chie semakin melebar. Gadis itu kemudian membuka mulutnya.

"Sudah waktunya kau mengembalikan DVD milikku, kan? Itu film kung fu favoritku, Trial of the Dragon! Jangan katakan kau lupa membawanya, atau kau akan merasakan sendiri akibatnya!!" Chie berkata tegas, bahkan nyaris berteriak, sambil memandang Yosuke dengan tatapan berbinar-binar.

"I-itu… em… t-tenang, aku membawa DVD milikmu… ahaha…" Yosuke tampak ragu, keringat dingin mulai bercucuran dari wajahnya. Pemuda berheadphone itu kemudian menarik sebuah kotak tipis dengan cover bertuliskan 'Trial of the Dragon' dari tas sekolah yang disandangnya sejak tadi. Di bawah tulisan yang tertera pada cover DVD tersebut, terlihat wajah aktor-aktor kung fu ternama yang tidak asing di mata Souji. Yosuke kemudian mendekati Chie, menyerahkan benda itu padanya. Chie segera meraih DVD kesayangannya itu sambil tersenyum senang.

"Ehehe… terima kasih, Yosuke." Chie berniat membuka kotak tersebut. Namun sebelum Chie membukanya, Yosuke berkata terburu-buru.

"B-b-baiklah! Aku pulang dulu, sampai bertemu besok!" Yosuke mulai berlari ke luar kelas dengan kaki gemetar, seperti seorang pengecut yang sedang dikejar-kejar oleh hantu.

Seketika itu, Souji dapat merasakan hawa 'pembunuh' menyelimuti Chie ketika gadis itu membuka kotak DVD miliknya, mendapati kepingan DVD kesayangannya terbelah menjadi dua. "YOSUKE!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA DVD KESAYANGANKU…!?" teriaknya marah. Kemudian Chie segera berlari dengan kecepatan mengerikan ke luar kelas, meninggalkan Souji sendirian di dalam kelas.

Selang beberapa detik kemudian, dari kejauhan terdengar teriakan histeris penuh penderitaan keluar dari pita suara Hanamura Yosuke.

Souji, yang berdiri sendirian di kelas, hanya dapat menggelengkan kepalanya, lalu mendesah pelan.

'Mungkin tahun ini akan ada banyak peristiwa menarik… berhubung banyak orang-orang yang menarik pula… mungkin ini tidak buruk juga.' Batin Souji sementara sebelah tangannya menutupi wajahnya, menyembunyikan senyum samar yang terbayang di bibirnya.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

"Aku pulang…" Souji berkata singkat setelah ia memasuki asrama.

"Ah, kau sudah kembali, Souji-kun?" Yukiko adalah orang pertama yang menyambutnya. Gadis yang tampak elegan dan kalem itu sedang duduk di atas sofa, sementara bola matanya terus bergeser ke kanan dan ke kiri, membaca setiap rangkaian kata yang tertera pada koran yang dipegangnya. "Kau tampak lelah hari ini, beristirahatlah…" Yukiko melepaskan konsentrasinya pada koran tersebut sesaat, memandang hangat pemuda di hadapannya.

"Terima kasih, Yukiko-senpai…" Souji membalasnya sambil tersenyum.

O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O

Atas saran dari Yukiko, Souji akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamarnya. Hari ini sungguh melelahkan. Pemuda itu akhirnya menutup kedua matanya. Tidak lama kemudian, ia mulai tertidur.

"Hei." Terdengar suara yang pelan dan lembut memanggilnya. Souji segera membuka kedua matanya, dan mendapati seorang anak kecil berdiri di samping tempat tidurnya.

"K-kau…!" Souji segera terduduk, namun belum sempat Souji menyelesaikan kalimatnya, keadaan di sekitarnya menarik perhatiannya. Entah kenapa, ia merasa tidak nyaman. Seakan-akan ia berada di tengah-tengah sebuah kota mati. Ia bahkan nyaris tidak percaya bahwa ini adalah kamar yang sama dengan kamar yang ia tempati. Souji dapat merasakan atmosfer yang mencekam pada kamarnya.

"Fufufu… aku hanya ingin mengatakan hal ini: aku akan selalu mengawasimu… ingatlah hal itu…" suara anak kecil itu kemudian kembali menarik perhatian Souji. Souji ingat anak kecil itu. Ia adalah anak kecil yang ditemuinya kemarin, di hari pertama kedatangannya ke asrama ini. Anak kecil yang menyerahkan sebuah 'kontrak' padanya.

"Tidurlah lagi… dan jangan pedulikan atmosfer di sekitarmu… sebab begitulah seharusnya dirimu, Seta Souji…" anak kecil itu melanjutkan, dengan suara yang lembut.

"Siapa kau?" Souji mengajukan pertanyaan tersebut, tanpa berkeinginan untuk membaringkan tubuhnya kembali.

"Kau akan segera tahu…" tubuh anak kecil itu tiba-tiba tampak samar, kemudian menghilang, seakan-akan menyatu dengan udara.

Dan Souji akhirnya membaringkan tubuhnya kembali. Dan pemuda itu kembali tertidur, tanpa menyadari bahwa waktu telah berhenti berputar.


A/N: Kuro disini... XD
Yap, fic LoT-nya bersambung di sini dulu, ya.. :D memang sebelumnya kami pernah bilang kalau fic ini mau dihiatus dulu, tapi berhubung draftnya udah keburu jadi sebelum kami bilang kalau fic ini mau dihiatus... ya sudah, akhirnya kami lanjutkan kembali. :)

terima kasih untuk SS, Ryuamakusa4eva, MelZzZ, Mocca-Marocchi, Shina Suzuki, heylalaa, DeathCode dan Otomo Minato atas reviewnya yang berharga dan mendorong kami untuk lebih bersemangat!

Berhubung kami memegang 2 fic sekaligus, jadi mungkin kami akan mengupdate fic ini tidak dalam waktu yang dekat. :)
Akhir kata, semoga kalian menikmatinya, dan... review, please?