Naruto bukan milik saya.

-Chapter4-

Mata bersih Hinata mengawasi Sasuke. Yokai tampan itu berdiri di sampingnya, bersandar pada dinding kamar. Mata hitam pekatnya menatap Hinata tanpa ampun. Gadis yang menjadi objeknya pun balik meliriknya dari ekor mata dengan emosi campur aduk; risih, takut-takut, cemas, dan lain-lain. Demi menyudahi segala perasaan tak mengenakkan itu, Hinata beranikan diri bertanya.

"Um… ano—"

"Kau sedang apa?" potong Sasuke, tak lepas dari pandangan. Hinata menggaruk tengkuknya, gugup.

"Ngg… mm… m-me-menulis d-diary..."

Sasuke menelengkan kepalanya. "Diary? Apa itu? Kenapa kau jadi gagap begitu."

"A-aku s-s-selalu g-gagap—"

"Tidak, kalau kau tidak gugup," potong Sasuke lagi. "Masalahnya adalah, kau selalu gugup di dekat orang, sehingga kau selalu gagap. Lalu, apa itu diary?"

Entah mengapa, perasaan Hinata mengatakan Sasuke sebenarnya tahu apa arti diary. Namun toh, Hinata tetap mengatakannya, "Diary itu… jurnal harian. Tempat kita menuangkan semua curahan hati kita… dalam bentuk tulisan."

"Kenapa tidak dalam bentuk lisan?"

"Err, mmm… a-aku… tidak tahu…."

Sasuke terdiam. Hinata pikir, pembicaraan berakhir sampai sini jadi ia melanjutkan kegiatannya menulis diary. Saat itu malam memang telah larut, tinggal tunggu waktu sampai Hinata jatuh tertidur. Namun sebelum tidur, kini Hinata membiasakan diri menulis diary. Sambil tidur tengkurap di atas kasur, gadis itu menuliskan semua perasaannya.

"Boleh kulihat buku itu?" tanya Sasuke, mengagetkan Hinata. Otomatis, gadis itu memeluk diary yang ia tulis. Matanya mengerjap-ngerjap bingung dan kaget. Tak lama, ia tertawa kecil—agak dipaksa sebenarnya—seraya menjawab pertanyaan Sasuke, "Tentu tidak. Disini ada rahasiaku."

Alis Sasuke terangkat sebelah, membuat Hinata sadar, jawabannya barusan sama sekali salah. Gadis itu bersiap mendengar gertakan atau sindiran Sasuke yang tajamnya minta ampun. Namun Sasuke diam saja. Terlihat dari auranya makin menghitam, tapi ia diam saja.

Hinata ingin mencairkan aura di sekeliling Sasuke dengan memanggilnya. Tapi ia masih tak kuat memanggil nama Sasuke. Entah mengapa nama itu selalu tercekat di kerongkongannya. Apalagi kemarin ia tertidur di bahu Sasuke dan saat terbagun, ia menyadari telah memanggil nama Sasuke berulang-ulang, membuat yokainya itu harus mengeggam tangannya. Hinata menggelengkan kepala keras-keras. Mukanya pastilah sudah semerah kepiting rebus sekarang.

Terdengar hembusan napas dari sampingnya. Sasuke tersenyum kecil—hampir tak terlihat—namun, terbiasa dengan ekspresi Sasuke yang tak banyak menunjukkan emosi membuat Hinata percaya, barusan Sasuke menahan tawa gelinya.

"A-apa?" tanya Hinata dengan wajah yang ia yakin, sekarang lebih merah dari yang sebelumnya.

Sasuke menggeleng. "Tidak, hanya lucu melihatmu seperti itu. Heboh sendiri," ucapnya seraya mengacak-acak rambut Hinata. Gadis itu terperangah, ia mendongak—ingin tahu apakah aura Sasuke sudah kembali normal ataukan ia masih dalam bad mood—namun Sasuke sudah menghilang.


Hari itu, kejutan hadir di kelas Hinata saat istirahat.

Mejanya kini makin sesak dengan hadirnya si rambut kuning jabrik—Naruto—yang membawa bekalnya di hadapan Hinata. Biasanya, Hinata hanya makan berdua dengan Sakura. Namun kini… ah, Hinata tak sanggup berbicara saking senangnya. Naruto makan siang bersamanya, di depannya. Melihat langsung dan secara dekat Naruto tertawa, memamerkan gigi putih bersih, menyipitkan kedua matanya… Hinata tak bisa berkata-kata.

Kejutan itu bisa saja sangat membahagiakan… kalau tidak ada Sasuke Uchiha yang bersender di kusen jendela, menatap Hinata seakan polisi mengawasi buronan yang baru tertangkap. Berkali-kali Hinata melirik yokainya itu lewat ekor mata, risih. Begitu sering ia melirik Sasuke, sampai Naruto dan Sakura bingung sendiri.

"Hinata?"

Naruto, yang duduk di depan Hinata melambaikan tangannya tepat di depan wajah Hinata, "Hinata!"

Mata Hinata membulat seketika, melihat wajah Naruto mengkhawatirkan dirinya dan tangan besarnya melambai-lambai di depan wajah Hinata.

"Kau baik-baik saja?"

"Kau tak enak badan Hinata?" tanya Sakura cemas, "Kutemani ke UKS, kalau begitu."

Hinata kehilangan kemampuan berbicara. Wajahnya panas, memerah. Ia hanya bisa menggeleng. Matanya tak lepas dari wajah manis Naruto yang mengkhawatirkannya.

"Yakin? Wajahmu merah lho," sahut Sakura seraya menyentuh tangan Hinata, "Tidak panas sih."

"A-a-a-aku b-ba-baik-baik s-saja, k-k-ko-kok…," jawab Hinata susah payah.

"Kalau benar tidak enak badan, bilang padaku, nanti kuantar ke UKS," ujar Sakura masih khawatir.

"Sakura-chaan, aku juga pusiing," sahut Naruto tiba-tiba. Badannya menggeletak lemas diatas meja, "Antar akuuu ke UKS."

Hinata kembali tertawa melihat Naruto yang ditinju Sakura setelahnya. Tapi tawa itu hilang begitu ia melihat Sasuke membuang muka kesal, dengan aura dingin yang lebih-lebih dari sebelumnya.


Sejak itu, Hinata tak melihat Sasuke. Biasanya yokai itu muncul saat ia berjalan kaki santai sepulang sekolah, atau begitu ia sampai di rumah dan menyuruhnya latihan. Namun kini, ia tak ada dimana-mana. Hinata akhirnya pergi sendiri ke dojo dan latihan sebentar bersama Neji dan Hanabi. Latihannya benar-benar sebentar karena protes Neji dan Hanabi.

"Nee-san kenapa? Ada masalah apa sampai tidak konsentrasi sama sekali?" tanya Hanabi khawatir.

"Lagipula dimana yokaimu?" tanya Neji. "Bukankah seharusnya dia melatihmu?"

Pertanyaan berondong dari kedua saudaranya membuat Hinata gugup dan panik. Menghindar sebisanya, Hinata berlari keluar, menyusuri rumah. Ia tak tahu apa yang ia lakukan. Ia tak tahu kenapa ia berlari. Ia hanya tiba-tiba melakukannya. Entah apa yang ia cari.

Hinata berlari, mengecek ruangan satu-satu, namun tak kunjung menemukan jawaban. Bahkan sampai masuk ke ruangan ayahnya, membuat bingung Sang Ketua Klan dan seisi rumah. Sampai akhirnya ia kelelahan menyadari langit telah berubah kemerahan. Putus asa, ia berjalan ke arah kamarnya, memutuskan untuk menghentikan kelakuan bodohnya dan beristirahat. Betapa terkejutnya ia begitu menemukan Sasuke duduk di depan kamar.

Mata Hinata membulat, tak percaya. Entah mengapa kini kakinya punya tenaga lagi. Lesu dan letihnya seakan menguap. Ia berlari menuju kamarnya. Derap kakinya menggema, membuat Sasuke menoleh.

"Sasuke!"

Mata Sasuke melebar. Hinata berlari ke arahnya, memanggilnya—lagi. Peluh keringat melapisi seluruh badannya, bahkan telapak kakinya. Sasuke mendecih pelan, bisa saja Hinata jatuh terpeleset karena keringatnya sendiri.

Benar saja. Gadis itu jatuh. Tapi bukan karena terpeleset keringatnya sendiri, melainkan kelelahan. Untungnya, sedetik sebelum gadis itu ambruk, Sasuke telah merentangkan tangannya, menangkap Hinata—walaupun ujung-ujungnya gagal karena tangan Hinata terlalu licin oleh keringat saat Sasuke tangkap. Keduanya ambruk di lantai kayu.

Hinata bangkit, menahan wajah memerahnya, "Kau darimana saja, Sasuke?"

Sasuke terpana. Hinata sendiri ikut kaget. Begitu mudahnya nama itu keluar dari mulutnya. Tiba-tiba mulutnya bergerak sendiri. Kakinya berlari sendiri menyambut Sasuke. Semua gerakan badannya menjawab pertanyaan Hinata tadi. Apa tujuannya berlari, apa yang ia lakukan, semua adalah Sasuke.

"Sasuke," sebut Hinata lagi, masih tak percaya. Ia tersenyum sendiri, tak kepercayaannya akhirnya bisa mengalahkan rasa malunya. Ia mendongak, ingin melihat wajah Sasuke, tapi yokai itu sudah ada tepat di depan wajahnya.

"Aku disini," jawab Sasuke. Wajahnya masih sama datar, namun Hinata dapat melihat binar di mata Sasuke. Mata itu kini menyipit, bibirnya membentuk seringai. Yokai itu bangkit dan mengulurkan tangannya.

"Ayo bangun."

Hinata mengangguk. Ia menyambut tangan itu, membiarkan tangan itu menariknya hingga berdiri tegak. Dan Hinata tak bisa menahan senyumnya sepanjang malam.


Malam itu serasa déjà vu. Hinata tengkurap di atas kasurnya, menulis diary, sementara Sasuke berdiri, bersandar pada dinding kamar, menatap Hinata lekat-lekat. Ia memperhatikan wajah gadis itu berubah-ubah seiring apa yang ia tulis. Penasaran, ia mendekati Hinata dan mengintip diarynya sendikit.

Hinata mendelik pada Sasuke begitu yokai itu iseng mengintip. Ditutupnya buku harian itu dan mendekapnya erat.

"Jangan dibaca," ucap Hinata.

Alis Sasuke mengerut, "Kenapa?"

"Karena disini ada rahasiaku," jawab Hinata, makin erat mendekap diarynya.

"Lalu?"

Mata Hinata melebar, "lalu apa?"

"Kenapa aku tak boleh membacanya?"

Hinata menghela napas, "Karena disini—"

"Kenapa bagian dirimu yang lain tak boleh tahu rahasiamu?" tanya Sasuke, mengejutkan Hinata. "Aku adalah kau. Kau adalah aku. Kita telah menjadi satu, Hinata. Rahasiamu adalah rahasiaku juga. Masalahmu adalah masalahku juga. Bahkan makanan yang kau telan tiap hari pun adalah makananku juga. Napas yang kau hirup tiap detiknya juga kuhirup bersamaan denganmu."

Hinata langsung tak enak. Ia tahu Sasuke berkata yang sejujurnya. Dia selalu berkata yang sejujurnya. Selama ini, pastilah dia menahan semua perasaan itu. Dan Hinata baru saja menyadari kesalahan terbesarnya: ia masih menganggap Sasuke yokai, bukan bagian dari dirinya. Itulah mengapa ia masih tak mengerti jalan pikir Sasuke, ia masih tak tahu apa yang Sasuke pikirkan.

"Kenapa kau membuat sekat dalam dirimu sendiri, Hinata? Untuk apa?" tanya Sasuke. Pertanyaan itu seakan menghujam Hinata. Itulah masalahnya. Mereka berdua kini duduk berhadapan. Sasuke menatap Hinata. Tepat di bola mata. Membuat Hinata tak bisa kabur kemana-mana selain menatap Sasuke.

"Kau bahkan tak pernah memanggil namaku."

"Sasuke," panggil Hinata otomatis. Melihat reaksi spontan itu, Sasuke menepuk kepala Hinata, matanya masih fokus ke Hinata.

Sasuke menghela napas,"Kau masih menganggapku makhluk asing."

Pernyataan Sasuke tepat kena sasaran.

Hinata sungguh ingin menyangkal, tapi hati kecilnya berkata, itu benar. Hinata masih menganggap Sasuke sebagai yokai biasa—bukan satu kesatuan dalam dirinya. Rasa bersalah tumbuh makin besar, menyesaki Hinata.

"Maaf," ucap gadis itu lirih.

"Ini bukan salahmu," balas Sasuke. Terlepas dari itu semua, Sasuke memang tak terlihat marah ataupun kesal. Wajahnya sama datar seperti biasa. "Ikatan kita berdua memang berbeda dengan ikatan yokai-manusia biasa lainnya."

Hinata mengadah, menatap Sasuke bingung, "Maksudnya?"

"Biasanya, ikatan kerja yokai-manusia diikat dengan sake, seperti ayahmu lakukan. Namun kita menggunakan darah sebagai pengganti sake. Hasilnya, tubuhmu dan tubuhku mengalirkan darah yang sama. Darah kita telah bercampur. Itulah mengapa kubilang kita telah menjadi satu," jelas Sasuke. Ia mengelus pipi Hinata, berbisik, "Kau harus menghapus sekat yang kau buat sendiri Hinata. Itulah satu-satunya rintangan mengapa sampai sekarang kemajuanmu melambat."

Barulah Hinata mengerti dimana tujuan pembicaraan ini. Tujuan Sasuke dari awal mereka bertemu sampai sekarang, tak pernah berubah; membuat Hinata lebih kuat.

"Bagaimana caranya?" tanya Hinata, "A-aku sendiri tak mengerti…."

"Anggaplah aku adalah dirimu yang lain. Kau bisa menceritakan semuanya padaku," ujung bibir Sasuke tertarik sedikit, "Kau tak bisa menyembunyikan rahasia dari dirimu yang lain kan?"

Hinata tersenyum, mengangguk.

"Dan…," Sasuke berpikir sebentar, "Kupikir kita butuh bantuan Ino dan Sai juga."


Keesokan harinya, sepulang sekolah, Hinata menemukan Sai, Ino, dan Sasuke duduk santai di ruang khusus di rumahnya, menikmati teh panas dan angin sepoi-sepoi. Ino bahkan tidur-tiduran sambil membolak-balik majalah wanita, sementara Sai dan Sasuke minum ocha dengan damainya.

Hinata pun mengganti seragamnya dan ikut bergabung dengan mereka yang masih malas-malasan menikmati angin sore.

"Mmm," Ino meregangkan badannya. "Jadi? Apa yang ingin kalian bicarakan padaku?"

"Aku ingin tahu lebih lanjut soal perjanjian setia," ucap Hinata. "—terutama yang menggunakan darah."

"Kenapa kau menanyakan hal itu?" alis Ino terangkat sebelah.

"Karena itulah jenis perjanjian yang kami lakukan," jawab Sasuke sebelum Hinata sempat membuka mulut.

"K-kalian melakukan perjanjian itu?" mata Ino membulat. "Kau melakukan perjanjian itu dengan Sasuke, Hyuuga?"

Perlahan dan takut-takut, Hinata mengangguk. "M-memangnya, kenapa?"

Ino dan Sai saling lirik. Sambil menghela napas, Ino menjawab, "Perjanjian itu adalah perjanjian paling kuno yang kutahu. Sangat jarang ada manusia dan yokai yang masih menggunakannya."

Namun, desahan Ino berubah menjadi seringai, "Aah, jadi begitu! penasaran dengan perjanjian yang kalian lakukan sendiri, ya? Baiklah. Sai, jelaskan pada mereka!"

Dibalik senyumnya, Sai menjawab, "Perjanjian setia menggunakan darah adalah perjanjian pertama yang dibuat antara manusia dan yokai. Perjanjian ini menyatukan darah mereka sehingga keduanya menjadi satu kesatuan. Manusia akan dibebani yokai. Sang yokai mendapatkan makan dan minum, semuanya dari sang manusia. Sebagai gantinya, manusia dapat menyuruh yokai apa saja yang ia perintahkan dan yokai tak dapat membangkang. Apabila salah satu diantara keduanya mati, yang satu akan ikut mati.

"Karena itulah, yokai dan manusia membuat perjanjian lain—mengganti darah mereka dengan sake. Yokai dapat membangkang jika yokai itu benar-benar kuat dan dapat memutuskan ikatannya. Manusia pun bisa menurunkan yokainya kepada cucu atau anak mereka yang masih berdarah sama."

Ino tersenyum, menopang kedua dagunya, memandang Hinata dan Sasuke, "Puas?"

Keduanya menggeleng.

"Sebenarnya, apa masalah kalian?" tanya Sai. "Kalian juga ingin meminta saran kan?"

Sasuke melirik Hinata, yang dibalas gadis itu ragu-ragu. Hinata menelan ludahnya, akhirnya menceritakan segalanya, dari awal sampai akhir pada Sai dan Ino. Keduanya mengagguk-angguk paham.

"Jadi satu-satunya cara agar kau meningkat adalah menghapus sekat yang telah kau buat sendiri?" ulang Sai.

Hinata mengangguk.

"Itu kan sekat yang kau buat sendiri! Kenapa kau tak bisa menghapusnya sendiri juga?" lanjut Sai yang langsung disikut Ino. Hinata yang mendengar itu, membenarkan dalam hati.

Ino tersenyum, bangkit. Tangannya terulur pada Hinata yang menatapnya bingung, "Antarkan aku mengelilingi rumah ini, ya? Aku sangat suka rumah besar bergaya Jepang."

"T-tapi…."

Ino mengedipkan sebelah matanya, "Nanti kuberitahu kau sambil kita jalan."

Hinata menyambut tangan Ino namun masih melirik Sasuke. Sayangnya, yokai itu tak acuh. Tarikan tangan Ino membawa Hinata keluar dari ruangan.

Keduanya berjalan bersisian. Sangat aneh sebenarnya, karena Ino dan Hinata benar-benar bertolak belakang. Hinata jalan menunduk, rambut gelapnya digerai, jalannya pelan, dan ia memakai kimono—baju hariannya di rumah—tertutup dari ujung kaki sampai leher. Sementara Ino, berjalan dengan dagu terangkat, rambut blonde dikuncir, jalannya berderap dan bajunya pun cukup terbuka—mungkin kalau tadi ia melepas jaketnya, ia takkan dibiarkan masuk oleh para pelayan.

"J-jadi, Y-Yamanaka-san… bisakah kau beritahu aku?" tanya Hinata penasaran.

"Hmm… bolehkan kau kupanggil Hinata-chan?" tanya Ino dengan tawa kecilnya. Spontan, Hinata mengangguk.

"Hinata-chan, apakah kau menyukai Sasuke?"

Pertanyaan itu menusuk hati Hinata, menembus hatinya. Panas menjalari wajahnya. "A… umm… i-itu…ngg…."

"Hmm? Mm? Apa? Apa?" goda Ino.

"T-te-tentu saja… a-aku m-me-menyukainya. A-aku juga menyukai Yamanaka-san dan Sai-san!" ucap Hinata susah payah.

"Aah, begitu…. Lalu, apakah kau punya orang yang kau sukai, Hinata-chan?" tanya Ino bersemangat. "Kau tahu, bukan orang kau kau sukai sebagai sahabatmu tapi—"

Hinata cepat mengangguk, ia merasa seperti ditelanjangi, "T-tentu a-aku m-me-mengerti…."

"Jadi? Siapakah pria beruntung itu?"

Hinata menunduk dalam-dalam. Telinganya memerah, membuat Ino terkikik sendiri melihatnya. "T-teman s-se-sekelasku…."

"Hee, begitu yaa," Ino mengangguk. "Kasihan Sasuke."

Hinata menelengkan kepalanya, bingung. "Maksudnya?"

"Bisakah kau melupakan teman sekelasmu itu, Hinata-chan?" taya Ino serius. Matanya menatap Hinata, memohon.

"K-kenapa?" tanya Hinata.

"Aku tahu, ini semua terserah kau, tapi…," Ino menghela napas. "Aku kira-kira mengerti apa masalahmu, dengan sekatmu itu. Mungkin jalan keluarnya, kau harus mempercayai dirimu sendiri dan dirimu yang lain."

"Diriku yang lain?"

"Sasuke. Dia dan kau satu kan?" Ino tersenyum. "Jika seperti itu kau belum paham, maka batas antara kau dan dia masih ada."

"Mempercayai diriku sendiri…," ulang Hinata. "Maksudnya?"

"Percayalah bahwa kau adalah kepala keluarga Hyuuga yang sangat hebat di masa mendatang. Percayalah bahwa dirimu bukanlah gadis lemah, melainkan omyouji terkuat di daerah ini," ucap Ino seraya menepuk kedua pundak Hinata.

"A-a—aku… haruskah?" Mata Hinata menghindari tatapan Ino, "Ta-tapi aku tidaklah sekuat Yamanaka-san, aku tidak pintar ataupun cantik atau—"

"NAH!"

Hinata hampir meloncat kaget mendengar seruan Ino barusan. Tangannya menepuk-nepuk bahu Hinata berulang kali hingga rasanya kebas. Seringai muncul di wajah cantiknya.

"Nah!" ulang Ino, memelankan suaranya. "Justru itulah step pertama! Hapus semua keraguan itu!"

"B-b-bagaima—?"

"Tenang, aku selalu siap untuk membantumu," Ino mengedipkan sebelah matanya. Gadis itu berjalan mendahului Hinata, seakan tak ingin mendengar protes lagi. Ia melihat sekeliling, menyadari mereka telah kembali ke tempat awal mereka jalan-jalan tadi. Ia menggeser pintu ruangan tempat Sasuke dan Sai menunggu. Sementara Hinata melihat dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.


Malam itu rasanya sama seperti malam-malam sebelumnya.

Bersandar di depan pintu, Sasuke menatap Hinata yang tampak sibuk sendiri membereskan kamarnya. Setelah rapi, gadis itu membuka tempat persembunyian buku hariannya dan mengambil pulpen dari atas meja belajar. Ia membaringkan badannya, membalik-balik halaman diarynya, bersiap-siap menulis.

Ia baru saja menulis dear diary, saat menyadari mata Sasuke mengawasinya. Ujung bibirnya terangkat sedikit, tersenyum. Ia mendongak, mendapati Sasuke yang menatapnya tanpa ekspressi.

"Sasuke mau baca ini?" tangan Hinata menyodorkan buku harian miliknya. Mata Sasuke melebar. Apalagi Hinata menepuk-nepuk tatami disebelahnya, seakan menyuruh Sasuke duduk disana. Apa yang telah dilakukan Ino pada majikannya? Sasuke baru sadar Ino ternyata memang berguna. Walaupun begitu, Sasuke toh duduk juga disamping Hinata.

"Kita baca bersama-sama ya?" Gadis itu menyodorkan buku hariannya diantara mereka berdua dan membukanya dari halaman pertama. Sasuke memejamkan mata, meresapi pikiran Hinata. Gadis itu gugup. Ia pasti telah membulatkan tekad untuk menghapus sekat itu. Tanpa sadar, ujung bibir Sasuke terangkat tipis.

"Sasuke? Terbaca kan, tulisannya?"

"Hn. Tentu saja," balas Sasuke singkat. Kalaupun tak terbaca toh ia tinggal membacanya dari pikiran Hinata. Namun ia diam saja. Ia ingin menikmati kebulatan tekad Hinata. Kembali ia menjelajah alam pikiran Hinata.

Disana, sekat yang bagai tembok raksasa, runtuh perlahan-lahan.


Haii!

Yah, still not better than before, kayaknya yah -,- mencoba ngetik panjang-panjang tapi justru kalimatnya... apa ya? nggak bernyawa? nggak flow? apalah namanya, yang jelas saya masih kurang sreg. Emang susah ya kalo jadi orang moody, nulis mesti nunggu mood baru bagus *curcol tapi semoga bisa memuaskan kalian semua :')

dibawah ini ada corner-saya kasih nama sih behind the story, plesetan behind the scene-bakal ketauan banget cerita asli saya yang full of gajeness dan OOCness LOL


behind the story:

"Sasuke," sebut Hinata lagi, masih tak percaya. Ia tersenyum sendiri, tak kepercayaannya akhirnya bisa mengalahkan rasa malunya. Ia mendongak, ingin melihat wajah Sasuke, tapi yokai itu sudah ada tepat di depan wajahnya.

"Kau mencariku?" tanya Sasuke. Kedua ujung bibirnya tertarik, menyeringai. Ia mempersempit jarak antara badannya dan badan Hinata yang sama-sama terjatuh tadi, tak memberi ruang untuk majikannya bergerak. Keduanya sama-sama terduduk dengan wajah saling berhadapan dan kaki saling menyilang. Terlalu senang karena Hinata berhasil memanggil namanya dalam keadaan sadar, Sasuke menyentuh dagu Hinata, memaksa gadis itu melihatnya.

"S-Sasuke?"

Seringai Sasuke makin lebar. Benar, bukan hanya impiannya. "Maaf, tadi bicara apa?"

Hinata menelengkan kepalanya bingung. Bukan bingung lagi tapi panik saat Sasuke maju, membuatnya otomatis mundur. Tergagap, ia menjawab, "A-apa? a-a-aku hanya m-memanggil S-Sasuke-"

"Apa? Maaf, aku tak mendengar yang terakhir tadi?" balas Sasuke kembali maju hingga Hinata tak dapat lari lagi.

"SASUKEEEEE!" pekik Hinata akhirnya, membuat tawa Sasuke lepas.


bagian manakah itu? ya, pas Hinata nyariin Sasuke dan akhirnya mereka berdua jatoh karena... tangan Hinata yang licin karena keringat. Oh please, maafkan sayaaa, saya gak tahu alasan apa lagi m(_ _)m

balesan review:

aiza-chan kim: arigatouu ^^

sasuhina-caem: yah, perlahan-lahan muncul konflik inter dulu... nanti antagonisnya belakangan *senyumsokmisterius

ulva-chan: cukup panjangkah chap ini? semoga puas yaa ^^

mamoka: yak, semoga pertanyaanmu terjawab disini~ konfliknya pelan-pelan udah muncul kan?

Lizy94: hahaha, tengkyuu meen *sokanakgauljuga

chibi tsukiko chan: salam kenal juga ^^ makasiihh~ udah cukup panjang nggak? :3

kertas biru: semoga di chap ini jelas ya~ musuh kuat mesti disimpen terakhir-terakhir doong~ kekek #authorsadis

Niwa: semoga di chap ini konsep itu jelas ya... musuh, masih nanti~ santai ajaa *taboked

Chikuma unlogin: thanks sarannya! iya, yang bagian itu kelewatan ._.V hehe... makasih yaaa

kritik dan saran diterima! silahkan review~ ^^