Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Replay"
Yellow
.
.
.
.
Hari pertama, kedua, ketiga telah terlewati. Sudah 4 hari Jeonghan menuju kampung halamannya, Korea. Dan sudah 4 hari pula waktu Seungcheol terpusat hanya untuk Doyoon.
Tentu saja Doyoon lebih membutuhkan Seungcheol dibanding Jeonghan.
Keadaan Doyoon semakin kritis. Yah setidaknya dengan kehadiran Seungcheol, Doyoon mampu tersenyum. Walau senyum tipis ataupun senyum simpul.
Jeonghan? Bagaimana keadaannya? Apa ia baik-baik saja? Jangan tanyakan pada Seungcheol. Karena waktu Seungcheol terpusat hanya untuk Doyoon. Ia bahkan tak menghubungi Jeonghan semenjak kepergiannya.
"Seungcheol... Kau setiap hari kemari, apa Jeonghan tidak marah?" tanya Doyoon.
Seungcheol tengah menjaga Doyoon seorang diri. Appa Doyoon sibuk bekerja sedangkan sang eomma memiliki pertemuan dengan rekan-rekan sesama ibu-ibu.
"Jeonghan kembali ke Korea. Ia mengambil dokumen kelulusannya." Jawab Seungcheol cepat.
"Ne... arraseo..."
Mencoba menyamankan posisi bantal, Doyoon mulai tertidur kembali. Tubuhnya benar-benar lemah dan seolah berkeinginan untuk istirahat terus menerus.
Leukimia.
Itulah penyakit Doyoon. Penyakit yang membuat rambutnya hilang dan tubuhnya menjadi sangat kurus. Ia juga sangat lemah.
Drrt... drrtt...
Handphone Seungcheol bergetar. Seungcheol melihat layarnya dan terpangpang deretan nomor yang tidak ia ketahui.
"Hello..."
"Yes, I'm Jeonghan's husband."
"WHAT?! OK, I'll be there!"
Seungcheol langsung mengambil jaketnya dan meninggalkan ruangan Doyoon setelah sebelumnya mengecup bibir Doyoon kilat. Ia menancap gas mobilnya dengan cepat dan langsung menuju hospital yang berjarak cukup dekat dengan hospital yang Doyoon tempati.
Jeonghan kecelakaan saat pesawat yang ia tumpangi tengah landing. Pesawat itu miring disaat rodanya sudah menyentuh tanah.
Hanya 5 menit dan ia sudah sampai. Dengan segera Seungcheol memarkir mobilnya dan dengan cepat menuju ke pintu utama.
Drrt... drrtt...
'Apalagi kini?'
Handphonenya bergetar lagi.
"Hello..."
"Aunty? Yeah... Ini Seungcheol..."
"Tunggu... Kenapa aunty menangis? Ada masalah?"
Seungcheol tepat berada di ambang pintu utama rumah sakit. Dengan seksama dan jantung yang berdetak kencang ia mendengarkan tiap ucapan di seberang sana.
Trrakkk...
Semua begitu cepat. Terlalu cepat.
Seungcheol menjatuhkan handphonenya. Lengannya seolah kehilangan tenaga bahkan untuk mempertahankan benda persegi tipis itu tetap ada di genggamannya.
Dengan pandangan beribu makna ia menatap sisi dalam dan luar rumah sakit.
"Do...yoon"
Seungcheol berlari kembali ke parkiran dan kini ia langsung menancap gasnya kembali menuju rumah sakit tempat Doyoon dirawat. Meninggalkan hiruk pikuk rumah sakit itu dengan cepat.
Doyoon.
Doyoon.
Doyoon.
Hanya itu, dan akan selalu itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana ini, dokter belum juga datang!"
"Astaga. Suaminya juga tidak muncul- muncul!"
Kedua perawat dengan kewarganegaraan Korea itu saling memperlihatkan kebingungannya. Dokter belum ada yang datang sedangkan keluarga pasien juga tidak diketahui keberadaannya.
"Dokter!"
Secuil harapan muncul di wajah kedua suster ini.
"Siapa pasiennya?" Tanya sang dokter.
"Yoon Jeonghan..."
Deg.
"Yoon Jeonghan?! Apa pria berambut panjang?"
"Ne, dokter. Ia mengalami luka dan memar di banyak sisi. Yang paling parah adalah tulang rusuknya patah."
"Kenapa tidak langsung dioperasi?"
"Semua dokter spesialis dalam tengah sibuk mengoperasi pasien lain. Ketahuilah dok, pasien kita banyak sekali. Kami juga harus mendapat persetujuan dari pihak keluarganya."
"Saya sudah menghubungi suaminya dan katanya ia akan segera kemari. Namun sudah lebih dari 1 setengah jam, ia belum juga muncul."
Ekpresi kaget sang dokter dengan cepat melebur tergantikan oleh ekspresi murka.
"Aku pamannya dan sekarang, cepat bawa ia ke ruang operasi!" Tegas dokter dengan nama Dongho itu.
Choi Dongho seorang dokter spesialis dalam dan ia yang akan mengoperasi Jeonghan.
"Kau pasti selamat..." ucap Dongho sebelum operasi dijalankan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan dan Nyonya Jang serta Tuan dan Nyonya Choi juga Seungcheol menatap sosok dengan selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
Nyonya Jang dan Nyonya Choi tengah menangis sejadi-jadinya di pelukan suami masing- masing.
Suasana amat sangat kelam membuat hati siapa pun sakit menyaksikannya.
Untuk pertama kali di hadapan orang lain, Seungcheol meneteskan air matanya. Ia tak pernah mau dianggap lemah di hadapan orang lain, namun kini ia tak peduli lagi dengan hal itu.
Sosok yang ia cintai kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Terlihat Tuan Choi sembari menenangkan istrinya, menelpon seseorang yang diketahui adalah Tuan Yoon yang ada di Korea sana.
"Mereka akan kemari..." Ucap Tuan Choi sambil menutup ponselnya.
Samar- samar, Nyonya Choi bisa mendengar suara terkejut dari Nyonya Yoon di seberang sana tadi. Tentu saja, siapa yang tak akan kaget jika mendengar kabar bahwa sosok yang dekat dengan mereka meninggal dunia?
.
.
.
.
.
.
.
"Yoboseoyo..."
"Damn! You bastard!"
"Hei, kau kenapa hyung?"
"Kau bajingan Seungcheol! Istrimu sekarat dan kau kemana saja?! Sibuk mengurus cintamu?! Dimana tanggung jawabmu?!"
"Dongho hyung! Aku mengerti dan aku minta maaf. Namun ada yang jauh lebih penting!"
"Doyoon meninggal? Aku sudah bisa menebaknya. Dengan penyakitnya aku yakin ia tak akan hidup lama-"
"Jaga ucapanmu hyung!"
"Shut up! Untuk orang sepertimu aku tak bisa menjaga mulutku. Kau pikir sakit yang kau derita sangat dalam? Aku lebih sakit Seungcheol! Aku lebih! Aku merelakan Doyoon bersamamu, tapi ia malah merelakan kau bersama Jeonghan! Aku ingin dia bahagia namun ia ingin kau bahagia tanpa mementingkan aku dan Jeonghan!"
"..."
"Tak bisa menjawab, Choi Seungcheol? Kuakui, Doyoon sangat mencintaimu dan merelakanmu untuk bersama yang lain. Tapi bukankah Doyoon memanfaatkan cinta Jeonghan untukmu? Bukankah dia orang yang cerdik? Ia memang memikirkanmu dengan baik. Segala sesuatu hanya untuk kebahagiaanmu dan HANYA UNTUKMU. Kau harus satu hal. Jeonghan is the angel, the pure one. Person that really innoncene and easily fooled by your parent, Doyoon, and yourself. Aku tak berbicara karena aku mengingkan Doyoon bersamaku. Cukup sudah kau yang menjadi prioritasnya."
"…"
"Hingga kini 4 hari kau juga tak menjenguknya? Kau biarkan mertuamu, orang tuamu, bahkan sampai orang tua Doyoon yang merawatnya? Dimana tanggung jawabmu?! Kau sibuk bersedih seorang diri bahkan sampai menelantarkan istrimu! Jika kau tak memperdulikan istrimu, lebih baik kembalikan saja ia kepada orang tuanya! Sosok yang memiliki cinta sebesar Jeonghan tak pantas untuk orang sepertimu."
"..."
"Doyoon sudah tenang dan bisakah kau kembali ke kehidupan nyata?! SADARLAH! Kau seorang suami kini, bajingan! Dan bahkan kau tak mencoba mencari tahu kabar istrimu?! BANGSAT!"
"… Dongho hyung… Kuakui aku salah. Bagaimana keadaan Jeonghan?"
"Koma."
"!"
"Dan kau bahkan tak memperdulikannya... Jika yang psikolog katakan itu benar, maka Jeonghan akan susah untuk kembali... Aku membencimu, Choi!"
Dan sambungan telepon terputus.
Dongho memang benar. Sejak kematian Doyoon, ia tidak pernah menanyakan kabar Jeonghan. Ingat saja tidak. Ia hanya mengurung diri di kamarnya bagaikan seorang anak kecil yang ngambek.
"Jeonghan... koma?"
.
.
.
.
.
.
Tuan Yoon dan Nyonya Yoon menyadari masalah yang ada di hati ketiga sosok itu. Antara Seungcheol, Jeonghan, dan Doyoon. Bahkan Tuan-Nyonya Jang juga Tuan-Nyonya Choi juga mengetahui hal ini.
Namun mereka seolah buta. Mereka seolah tuli. Membiarkan ketiga namja itu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan inilah akibat dari ketidak ikut campuran mereka.
Jeonghan koma, Doyoon yang kini sudah tenang di alam sana, dan Seungcheol yang kini terus mengurung diri di kamarnya.
Ketiga sosok eomma itu kini berada di ruang perawatan Jeonghan. Wajah mereka terlihat letih.
Tentu saja. Seharusnya ketiga aegya mereka sudah dewasa dan mampu mengurusi diri sendiri. Namun melihat keadaannya, sepertinya mereka memperpendek umur mereka sendiri.
Para appa tengah melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda. Dan jangan tanyakan lagi karena mereka harus menebus ketertundaan yang mereka alami.
Terlihat Nyonya Yoon yang tengah meminjat-minjat kecil kaki Jeonghan. Nyonya Jang yang mengantikan vas bunga di meja nakas dan merangkai bunga-bunga cantik.
Jangan kira Nyonya Jang tidak bersedih. Ia sangat sedih dengan kematian Doyoon yang sudah dapat dipastikan. Ia tak ingin kehilangan lagi.
Ada juga Nyonya Choi yang sibuk berbicara dengan sang dokter, Dongho.
"Kau kenal hyung, Dongho-ya... Hyung orang yang tidak terlalu percaya pada hal gaib seperti itu. Namun untuk kali ini, apa ada hubungannya?" Tanya Nyonya Choi.
Dongho tampak menghela nafasnya.
"Menurut analisis Tuan Ahn, dikatakan bahwa Jeonghan menekan dirinya sendiri untuk tidak sadar. Banyak kasus seperti ini. Dari segi psikis seperti itu hyung. Jika saja paranormal itu benar, maka omongannya kemungkinan besar benar. Karena secara medis juga dikatakan seperti itu..." Jawab Dongho.
Saat makan siang, seorang anak kecil lewat di depan Nyonya Choi sambil menatapnya dengan tajam.
"Aku hanya memperingati... Ia akan sangat susah untuk dibangunkan. Jiwanya sangat tersakiti..."
Nyonya Choi bahkan masih ingat omongan anak itu.
Ia menanyai salah satu temannya yang aktif di dunia belakang dan mengatakan bahwa anak kecil yang dilihatnya memang seorang paranormal cilik yang sangat ahli.
Nyonya Choi tak ingin percaya hal seperti itu di jaman modern ini. Namun secara medis hal itu benar adanya. Maka ia ingin percaya dengan dua bidang itu.
"Apa yang harus hyung lakukan, Dongho-ya? Hyung bingung sekarang..."
"Kita hanya bisa berharap, hyung. Jika Jeonghan memang ingin bangun, maka ia pasti akan bangun."
Brakk...
Pintu terbuka dan menampakan sosok Seungcheol.
"Mianhe... Aku baru datang..." ucapnya dengan kepala tertunduk.
Seluruh orang yang ada di ruangan itu tersenyum lembut. Termasuk Dongho yang kita ketahui membentak habis-habisan Seungcheol lewat telepon.
"Temui Jeonghan..."
Perkataan Nyonya Choi membuat seluruh orang yang ada disana segera keluar dari ruangan, meninggalkan Seungcheol dan Jeonghan yang terbaring.
Seungcheol berjalan dengan perlahan ke sosok cantik yang tertidur. Apa ia akan bangun atau tidak, entahlah.
"Jeonghan..." suara lirih Seungcheol terdengar.
Seungcheol duduk di samping ranjang Jeonghan dan kini mengenggam tanganya.
"Hatimu sakit? Sakit karena namja sepertiku?"
"Ku yakin jawabannya iya. Sepertinya kau sudah mengetahui segalanya. Bahkan saat kau pulang ke Korea, aku mengira kau kembali ke tanah kelahiranmu karena ingin menenangkan diri. Jonghyun appa dan Minki eomma mengatakannya padaku."
Seungcheol kini merasa dirinya sangat bodoh.
"Kau pasti sangat membenciku eoh? Aku memang pantas dibenci..."
"Jika saja kau mendengarku, bisakah kau bangun, Jeonghan? Aku sangat kesepian. Tidak, jangan berpikir karena Doyoon sudah tidak ada makanya aku kesepian. Salah... Aku kesepian karena kau tidak ada..."
"Bangunlah Jeonghan..."
"Kau boleh menghukumku dengan segala cara namun jangan seperti ini..."
Cukup sudah pertahanan Seungcheol. Dinding baja yang selalu ia gunakan untuk tidak memberikan hatinya pada Jeonghan sudah hancur, kini air matanya jatuh.
Bagaimana pun, Seungcheol dalam dilema besar dan alam bawah sadarnya memaksa ia untuk tak merasakan apa pun pada Jeonghan.
"Kasihanilah Appa-eomma mu, Appa-eomma ku, bahkan Appa-eomma Doyoon. Mereka sangat terpukul karena kekacauan yang kita ciptakan..."
"Jangan begini... Kumohon Jeonghan... Ku..mohon..."
Apa dengan memohon segala hal akan terselesaikan, Seungcheol?
.
.
.
.
.
"Jeonghan? Kenapa kau berdiam diri disini? Masuklah."
Sapaan Nyonya Jang membuat Jeonghan yang sedari tadi berdiam diri di pintu kamar rawat Doyoon terkejut.
"Aunty? Hehe... Tadi aku sudah masuk. Ini juga aku baru keluar. Aku pamit dulu ya..." Ucap Jeonghan dengan senyuman mengembangnya.
Jeonghan mengecup pipi Nyonya Jang dan langsung meninggalkan Nyonya Jang.
'Wait... Seungcheol in here...'
Nyonya Jang menghilangkan pikiran negatifnya.
"Aniya... Gwechanayo..." pikir Nyonya Jang lagi.
Nyonya Jang masuk ke dalam ruangan serba putih itu dan kini melihat Seungcheol yang duduk sambil menatap Doyoon yang tertidur.
Lihatlah jemari keduanya yang saling bertautan dengan erat.
Nyonya Jang tersenyum lalu menyentuh bahu Seungcheol.
Seungcheol langsung menolehnya kepalanya.
"Sudah berapa lama Doyoon tidur?" Tanya Nyonya Jang.
"Baru saja aunty. Aunty, sepertinya aku harus kembali. Pekerjaanku masih menumpuk." Ucap Seungcheol.
Nyonya Jang mengangguk sebagai balasan.
"Oh iya Seungcheol... Jeonghan..."
"Ada apa dengan Jeonghan, aunty?" Tanya Seungcheol.
Nyonya Jang menggeleng.
"Tidak ada apa- apa. Kembalilah. Dan hati- hati di jalan..."
'Perasaanku tidak enak...' Bathin Nyonya Jang kemudian.
.
Tbc~
.
.
.
.
"Bukankah ini lebih baik?"
.
.
.
.
"Benarkan?"
