Author : MinGyuTae00

Pair : HunHan

Rate : K+

Warning : Typo!Maaf jika ide cerita kampungan.

Length :Chaptered

Genre : Boy x Boy , Hurt/Comfort,Romance

.

.

.

"Apa? Apa maksudmu Kyunie-ah?" pekik Nyonya Oh.

"Eom-eomma".

Sial . Sial . Sial

"Apa maksud dari perkataanmu sayang?"tuntut Nyonya Oh.

"Aaa…igo eumm"Kyuhyun menatap Sehun penuh harap , meminta bantuan dari saudaranya tersebut.

"Ini salah Sehun eomma"Sehun mencoba mengalihkan perhatian sang eomma kali ini.

"Mworagu?".

"Kami pergi ke Lotte Word eomma".

"Jinjja?"kali ini bukan seperti pertanyaan tetapi seperti pernyataan entah untuk dirinya atau siapa.

"Ne eommanim, aku terlalu gembira bermain dengan Sehun hingga lupa waktu dan jatuh pingsan akibat kelelahan" Ujar Luhan menimpali perkataan Sehun.

"Aigoo Luhan-ah lain waktu kau tidak boleh mengulanginya, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu dan anak kalian hum?"dengan lembut penuh keibuan nyonya Oh membelai pucuk surai menantunya.

"Sehun-ah kau harus lebih memperhatikan istri dan calon anakmu arraseo!".

"Ne eomma".

"Sudah-sudah , lebih baik kalian segera beristirahat. Kau juga Kyunie-ah appa bangga padamu karena kau memberikan jasamu untuk mengobati para pasienmu tapi kau juga harus menjaga kondisimu. Biar appa , eomma dan Sehun yang menemani Luhan. Siwon juga membutuhkanmu baby"tuan Oh berujar bijak.

"Ne appa".

"Kyunie!".

"Ne waegeurae eomma?".

"Kau pasti belum makan , ayo eomma temani. Biarkan Luhan dan Sehun menghabiskan waktu terlebih dahulu. Yeobo kajja!"nyonya Oh mengerling jenaka kearah pasangan baru tersebut. Membuahkan rona merah muda diantara kedua pasang tersebut.

Setelah mereka menghilang dari balik pintu , lagi-lagi hanya kecanggung-an yang mendera mereka. Luhan pun menjadi salah tingkah saat ini. Sehun pun kembali menyibukkan dirinya sendiri walau sesekali menoleh secara diam-diam kearah istrinya. Suasana seperti ini seperti de javu bagi mereka.

Dilain tempat.

"Yeobo bisakah kau membelikan kami makanan? Aku ingin menghabiskan waktu terlebih dahulu dengan putra kesayangnku ini"pinta nyonya Oh kepada pasangannya.

"Arraseo. Chakaman ne!".

"Kyunie-ah".

"Ne eomma?".

.

.

.

.

Dret

Dret

Keheningan yang sempat terjadi terpecah begitu saja oleh suara deringan ponsel milik Luhan. Tanpa harus menebak pun Sehun sudah mengetahui siapa penelepon itu. Luhan dengan sigap menerima panggilan tersebut.

"Ne Irene-ah".

"….."

"Gwenchana. Neo gwenchana?".

"…."

"Ye?".

"…."

"A-aniyo , arraseo yaksokhe keun…".

Panggilan terputus begitu saja saat tiba-tiba Sehun merampas ponsel milik Luhan dan mematikan panggilan begitu saja. Luhan tentu saja memprotesnya.

"Yak! Apa maksudmu eoh?".

"Eomma dan appa bisa masuk kapan saja lagipula kau harus istirahat , aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa. Untuk sementara ponselmu aku sita , kau tenang saja aku akan mengembalikannya nanti "ujar Sehun dengan datar. Melihat sorot mata tajam Sehun sedikit membuatnya merinding.

Ada apa dengannya?

"Aku tidak tahu apa yang telah merasukimu, tapi jangan pernah kau campuri urusanku".

"Selama kau masih menjadi istriku , apapun urusanmu akan menjadi urusanku juga. Kau ingat perjanjian kita bukan?".

"Keparat kau!".

"Mulai saat ini kau tidak boleh berkata kasar , aku tidak ingin anakku mewarisi sifat kasarmu".

Luhan mencoba bangkit dari pembaringannya namun Sehun dengan sigap mencegahnya. Sontak membuat salah satu suster yang baru saja memasuki ruangan Luhan terpekik kaget mengira bahwa mereka tengah berpelukan.

Luhan menjadi salah tingkah sementara Sehun tetap memasang wajah datarnya namun didalam hatinya ia tengah mati-matian menenangkan debaran jantungnya yang berpacu cepat. Setelah difikir-fikir kenapa dirinya bisa begitu lemah tiba-tiba? Apa karna bayi sialan yang tengah dikandungnya?

"Jeongsheohamnida"suster tersebut berkali-kali membungkukkan tubuhnya meminta maaf pada pasangan didepannya tersebut. Ia mengira telah merusak suasana romantis antara mereka.

.

.

.

.

"Sialan! Rupanya kau ingin bermain-main denganku rupanya".

Sedari tadi yeoja cantik tersebut mengeluarkan sumpah serapahnya membuat seseorang disampingnya mengalami gejala sakit kepala mendadak akibat suara cemprengnya itu.

"Kau bisa tenang tidak?".

"Bagaimana aku bisa tenang oppa!".

"Tahan emosimu! Kau hanya memperkeruh suasana".

"M-mwo?".

"Sudah kukatakan jangan berteriak apa kau tuli?".

"Arraseo!Keundae harus sampai kapan?".

"Tak akan lama lagi".

.

.

.

.

Jika saja mertuanya tidak bersamanya saat ini mana sudi ia menerima suapan demi suapan dari Sehun. Perutnya terasa amat mual ketika melakoni hal-hal seperti ini. Ia merasa dilecehkan asal kau tahu. Apalagi ditambah ia harus memasang tampang manis seolah-olah menikmati perlakuan Sehun padanya. Ingin rasanya ia menampis lengan sehun dan membanting makanan tersebut.

"Aigoo melihat kalian seperti ini membuat eomma mengenang masa lalu"gumam Nyonya Oh yang membuahkan kecanggungan antara pasangan pengantin baru tersebut. Sang suami hanya bisa tersenyum sesekali mengangguk menyetujui pendapat istrinya.

"Sudahlah yeobo kau membuat mereka salah tingkah" goda Tuan Oh.

"Mianhae , kalian begitu serasi dan romantis. Ahh..aku tidak sabar lagi menggendong cucuku. Kalian berdua harus selalu akur dan menjaga baik-baik cucuku arraseo!".

"Ne/Ne eommonim".

"Selama ini kau mengidam apa Hannie-ya?". Luhan yang baru saja menelan makannnya tersentak karena pertanyaan yang diujarkan oleh ibu mertuanya.

"Ye?".

"Aee..kau tidak perlu malu begitu. Sehun selalu mewujudkan keinginanmu bukan?"

"Ne eommonim"ujar Luhan seraya menatap Sehun ragu.

"Sudahlah eomma , istriku perlu beristirahat. Lagi pula ini sudah malam , sebaiknya kalian pulang. Kalian juga perlu istirahat"Sehun berjalan menuju kedua orangtuanya. Ketika dirinya tepat berada didepan sang eomma ia pun membubuhkan kecupan dipipi tirus eommanya.

"Kau seperti mengusir kami"goda Nyonya Oh.

"A-ani..".

"Hahaha sudah-sudah. Biarkan pasangan baru ini menikmati hari-hari mereka tanpa kita yeobo"kali ini Tuan Oh tak ingin ketinggalan menggoda anak dan menantunya tersebut. Apalagi jika dihadiahi pemandangan manis Luhan yang kini menunduk, ia yakin sang menantu kini tengah merona.

"Appa eomma!"pekik Sehun.

"Arraseo kami pergi. Annyeong!" Keduanya pergi meninggalkan ruangan tersebut ditemani Sehun yang berniat mengantar sebenarnya itu hanya alasannya saja. Ia merasa tak enak hati pada istrinya.

Luhan menyandarkan dirinya pada dashboard ranjang rumah sakitnya. Rautnya amat datar. Pandangannya nampak kosong saat ini. Entahlah akhir-akhir ini sepertinya ada yang tidak beres darinya. Jika berada didekat Sehun ia merasakan perasaan yang tak menentu. Ia pun mengacak surainya gemas.

"Sepertinya ini pengaruh bayi sialan ini hingga aku menjadi melankolis begini" dengan raut kesal ia membaringkan tubuh mungilnya tak lupa menyelimuti dirinya hingga kepala. Ia pun mencoba memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Pasti Sehun fikinya.

"Oppa!".

Seketika Luhan membuka kedua kelopak matanya dan terbelalak mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Mendudukan dirinya secara tiba-tiba dan berakibat kepalanya didera pening tiba-tiba.

"Irene".

"Oppa mianhae"Irene berlari dan mendekap erat tubuh Luhan. Menangis terisak. Luhan segera menenangkan gadis tersebut dan mengusap lelehan air mata yang mengaliri pipi gadis tersebut.

"Uljima, kenapa kau menangis? Dan bagaimana kau bisa berada disini?"tanya Luhan beruntun.

"A-aku merasa bersalah padamu oppa, seharusnya aku tidak kekanakkan hari itu sehingga kau tidak akan terbaring disini. Mianhae oppa. Maka dari itu aku menyusulmu kemari".

"Gwenchana Irene-ah, kau tidak salah. Hanya keadaannya saja yang tidak memungkinkan saat itu".

"Jinjja? Gomawo oppa".

"Ne chagiya".

"Umm bagaimana keadaanmu oppa?"Irene mendudukan dirinya diatas kursi tepat disamping ranjang Luhan. Tangannya menggenggam lengan Luhan yang mungil.

"Aku baik-baik saja Irene-ah" Luhan membelai lengan yeoja yang tengah menggenggamnya itu seraya tersenyum manis tak memperdulikan seorang lelaki yang berdiam diri didepan pintu ruangan tersebut.

Sehun merasa harga dirinya diinjak-injak begitu saja. Mengapa ia tidak bisa menerima perlakuan manis dari Luhan sedangkan gadis itu bisa? Ia juga ingin merasakan hangatnya lengan mungil Luhan dalam genggamannya , jangankan menggenggam menatapnya saja Luhan sepertinya enggan.

"Syukurlah, lalu kapan kau dibolehkan pulang?".

"Entahlah , mungkin tidak akan lama lagi. Waeyeo?".

"Waeyeo kau bilang? Oppa ini bagaimana , wajar bukan jika aku merindukan kekasihku sendiri. Jika kau masih lama dirawat aku tidak bisa menemuimu dengan oppa tidak merindukanku?".

Luhan tak kuasa menahan tawanya lebih lama lagi ternyata ia berhasil menggoda gadis disampingnya ini. Ia terlihat semakin manis jika tertawa seperti itu bahkan Irene kalah manis dan cantik dari Luhan.

"Oppa, berhenti tertawa!".

"Mianhae..Mianhae. Tentu saja oppa merindukanmu".

Sungguh Sehun tidak tahan lagi menyaksikan kemesraan istrinya dengan kekasihnya tersebut. Kepalanya terasa ingin meledak menahan luapan demi luapan emosi yang timbul dan tumbuh didalam dirinya. Ia mencengkram erat gagang pintu digenggamannya. Memandang penuh amarah kedepan.

"Oppa bolehkan aku mengusap perutmu?".

"Ye?".

"Waeyeo? Apa tidak boleh?".

"Umm .. ten.."

"Jauhkan tanganmu nona. Kau tidak lihat? Jadwal menjenguk pasien sudah habis" keduanya tersentak kaget ketika mendengar suara yang terdengar amat dingin ditelinga mereka. Menoleh dengan serentak dan menemukan sosok Sehun yang terlihat menakutkan. Mereka merasa melihat aura-aura gelap disekeliling namja tersebut. Berlebihan memang namun memang seperti itu yang terlihat.

Irene segera mendirikan tubuhnya , ia sedikit trauma jika berada didekat Sehun. Luhan yang merasa gadis disampingnya terlihat gugup mencoba menenangkannya dengan cara menggenggam lembut lengan Irene dan mengelusnya. Ia bisa merasakan Sehun yang kini menatapnya makin dingin.

"Apa kau tidak bisa sopan sedikit dengan yeoja?"Luhan mencoba memecahkan keheningan yang terjadi. Lagi pula ia merasa tidak nyaman jika harus ditatap sedemikian rupa oleh Sehun lebih lama lagi.

"Bagaimana aku bisa sopan pada yeoja yang telah membuatmu seperti ini".

"Dia kekasihku dank kau tidak ada hub.. ".

"Ada. Kau istriku dan aku suamimu".

"Ini tubuhku!".

"Dan didalam tubuhmu ada anakku!".

Irene hanya bisa terdiam menatap pertengkaran sepasang suami-istri dihadapannya. Ia merasa seperti tidak dianggap. Kenapa juga Sehun muncul dimoment seperti ini. Ia berdecih. Pemandangan tersebut tak dilewatkan begitu saja oleh Sehun.

Sehun mulai mendekati yeoja tengil tersebut , Luhan menatapnya tak percaya dan mencoba menghentikan Sehun namun sialnya ia terhalang tiang infuse tepat disampingnya.

"Kau pergi sendiri atau aku akan memanggil petugas untuk mengusirmu dari sini" Irene merasakan tubuhnya sedikit gemetar ketika berhadapan dengan Sehun seperti ini. Lebih baik ia segera menyelamatkan dirinya sekarang juga. Tak lupa ia memberikan kecupan dibibir Luhan dan berlari begitu saja.

Luhan menatap nyalang pada Sehun yang dibalas oleh tatapan datar dari Sehun.

"Kenapa kau selalu saja bertindak semena-mena padaku!" Luhan memukuli Sehun brutal dengan bantal ditangannya. Sehun sama sekali tidak mencoba menghindar apalagi menepis pukulan dari Luhan. Sakit dihatinya tidak sebanding dengan sakit yang diderita tubuhnya akibat pukulan dari Luhan. Ia berjalan semakin dekat menuju Luhan.

Dengan paksa ia menggenggam kedua lengan mungil Luhan setelah ia membuang bantal sialan itu sebelumnya. Sedetik kemudian ia meraup bibir mungil yang selama ini selalu memakinya, melumatnya dengan kasar dan sesekali menggigitnya , membuahkan pekikan nyaring dari Luhan.

Luhan memberontak sedemikian rupa namun tenaganya tak sebanding dengan Sehun yang kini tengah kalap dimakan kecemburuannya. Merasa usahanya sia-sia ditambah dengan tubuhnya yang mulai lemas entah karena lelah atau karena efek ciuman ganas dari Sehun. Izinkan setelah ini Luhan memukul kepalanya. Entah apa yang kini merasukinya , ia malah mengalungkan lengan mungilnya ditengkuk Sehun dan menikmati ciuman dari Sehun.

Semakin lama pagutan mereka berdua semakin panas dan mesra karena kini Luhan juga ikut membalasnya. Lidah keduanya saling melilit satu sama lain. Posisi tubuh Sehun hampir menindih tubuh mungil Luhan. Sesekali terdengar desahan halus yang mengalun dari bibir tipis Luhan. Luhan makin mendekap erat tengkuk jenjang Sehun begitu pula dengan Sehun yang semakin memperdalam ciumannya.

Jantung keduanya kian berdebar kencang , terus menerus memompa aliran darah didalam tubuh mereka. Kali ini Luhan dan Sehun saling berpandangan.

.

.

.

TBC


Annyeong ...

Mianhae baru bisa update sekarang , semoga kalian masih mau mampir kesini ya. Maaf belum bisa bales review kalian satu-satu. Ngepost ini aja udah untung kkk. Maaf kalau ada kata-kata yang hilang atau typo bertebaran.