Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ A DREAM ~
[ Chapter 3 ]
.
.
.
.
Apa aku mati?
Tidak! Aku tidak ingin mati!
Berusaha menggerakkan tubuh ini meskipun tidak ada hasilnya
Aku tidak ingin mati!
Aku tidak ingin mati!
"Sakura!"
Suara ini?
Terbangun, napasku sampai memburu seperti habis berlari, i-ini, aku mendapati diriku kembali ke rumah sakit.
"Sakura?" Kembali mendengar suara yang terdengar sangat khawatir, tiba-tiba sebuah pelukan erat.
Tunggu.
Ini, dokter Uchiha? Aku benar-benar kembali ke rumah sakit, kembali menjadi pasien yang entah sakit apa sampai harus berbulan-bulan di rumah sakit.
Seketika tangisku pecah, aku menangis sekeras mungkin dan memeluk erat dokter Uchiha, apa itu sebuah mimpi? Apa benar itu hanya mimpi? Aku bunuh diri? Mimpi yang sangat mengerikan.
Setelahnya, aku hanya terdiam dan dokter Uchiha masih memeriksa keadaanku.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya, masih dengan tatapan khawatir.
Mengangguk perlahan, aku sudah sadar dan merasa sangat malu dengan apa yang sudah aku lakukan tadi, memeluk pria yang bukan siapa-siapa untukku.
"Bagaimana dokter bisa berada di kamarku?" Tanyaku, saat membuka mata, hanya dia yang tetap berada di sisi ranjangku.
"Aku datang memeriksamu, namun kau terlihat aneh, tidurmu tidak tenang dan kau terus bergerak gelisah." Jelasnya.
"Sudah berapa lama aku tidur?" Tanyaku.
"Hanya beberapa jam saja." Ucapnya.
Beberapa jam? Tapi aku rasa seakan aku sudah tidur cukup lama, bahkan mimpi itu terasa begitu nyata, aku sampai merasakan sakit di sekujur tubuhku.
Tunggu.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Ucap dokter Uchiha, dia cukup terkejut saat aku membuka bajuku dan berlari ke arah cermin yang ada di kamarku.
Tidak ada?
"Apa dokter melihat bekas memar yang membiru di tubuhku?" Tanyaku, memastikan jika aku tidak salah lihat, aku yakin saat itu tubuhku penuh memar.
"Tidak, dan pakai pakaianmu sekarang juga." Ucapnya dan menatap marah padaku.
Wajahku merona, aku sampai lupa membuka baju begitu saja di saat dokter Uchiha masih berada di kamarku, aku hanya penasaran dan ingin melihatnya langsung, memakai pakaianku dan lagi, aku mengingat kejadian di gudang itu.
"Do-dokter Uchiha, apa kau bisa membantuku?" Tanyaku, lagi.
Dia menatap aneh kepadaku, aku yakin dia sedang menganggapku gila sekarang.
"Apa?" Ucapnya.
Aku sedikit malu mengatakan padanya untuk memeriksa apa aku benar masih perawan atau tidak, mereka melakukan pelecehan seksual padaku, mereka bahkan bergantian melakukannya, hal itu sungguh nyata.
Kembali wajah aneh yang di perlihatkan dokter Uchiha, dia membantuku, membawaku ke bagian ruangan untuk memastikan aku benar-benar masih perawan.
Hasil tesnya aku benar masih perawan, aku masih seorang gadis.
Mimpi aneh itu, aku tidak bisa melupakannya begitu saja dan berakhir dengan tragis, gadis itu, aku, memilih untuk mengakhiri hidupnya di saat dia benar-benar sulit untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan semua masalahnya.
.
.
Sehari setelah mimpi anehku itu, kembali bertemu dokter Uchiha, wajah itu mirip dengan orang baik yang menolongku saat itu, namanya juga Uchiha Sasuke, sama, tapi dia membuatku kecewa, dia tidak menolongku lagi, mungkin ada begitu banyak pengaruh dari teman-temannya, rumor buruk tentangku, dan aku pikir dia juga orang yang sama jahatnya.
Sadar Sakura!
Mencubit pipiku keras-keras.
Sakit...~
Jadi, yang mana mimpi dan mana yang dunia nyata? Semua terasa sama-sama nyata, aku sampai kebingungan.
Kembali lagi dia akan menyuruh perawat itu keluar dan kini hanya ada kami berdua.
"Apa kau sudah siapa bercerita padaku?" Tanyanya, dia masih menagih untuk hal itu, kenapa dia mau saja dengar aku bercerita? Konyol.
Menatapnya, tatapan dingin yang melembut saat hanya ada kami berdua.
"Aku akan cerita, tapi aku ingin memastikan sesuatu." Ucapku.
"Memastikan apa?"
"Apa dokter bisa mengajakku keluar dari rumah sakit?"
"Tidak, jika kau akan kabur." Tolaknya tegas.
"Bukan seperti itu, aku ingin dokter menemaniku, hanya dokter yang bisa aku percaya saat ini." Ucapku.
Sekali lagi, aku harap bisa percaya dokter Uchiha, aku harap jika benar dia orang yang baik dan tidak seperti pemuda yang ada di mimpiku itu.
Dokter itu seperti sangat peduli padaku, dia benar-benar membantuku dan sekarang, aku keluar dengan ijinnya dan juga mendapat pengawalan khusus darinya, dia mengancamku jika berani kabur, aku akan di ikat di tempat tidur dan akan di tempatkan di ruang isolasi, tidak boleh keluar kamar, tidak boleh bergosip dengan para perawat, dan tidak boleh bertemu teman-teman pasienku.
Mendengarnya saja aku tidak mau, kami hanya mendatangi sebuah sekolah, aku mengingat jelas sekolah itu, sekolah ini sangat berubah, aku hanya ingin memastikan jika mungkin itu adalah mimpi atau sebuah kenangan masa laluku yang buruk, meskipun aku sulit percaya jika aku masih tetap perawan dan juga luka memar di tubuhku tidak ada.
"Maaf, nona, anda bukan murid kami." Ucap kepala sekolah.
Ini aneh, aku bukan murid di sekolah ini.
"Apa pernah ada kasus bunuh diri salah seorang murid perempuan yang terjadi di sekolah ini? Aku yakin jika dia menggantung dirinya di dalam kelas." Ucapku, itu adalah ingatan terakhirku sebelum aku bangun dan berada di rumah sakit.
Apa mungkin itu aku dan aku di rumah sakit akibat masa lalu itu?
Kepala sekolah cukup terkejut, namun dia tidak mengatakan ada yang pernah bunuh diri di sekolah ini, sia-sia, aku tidak mendapatkan informasi apapun.
Berjalan keluar sekolah ini, aku sempat melewati kelas itu, kelas yang sedikit berbeda, apa mungkin sekolah ini telah di renovasi?
Dokter Uchiha mengajakku makan siang sebelum kembali ke rumah sakit.
"Jadi apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang ingin kau lakukan?" Tanya dokter Uchiha, aku tahu dia pasti menganggapku aneh, mencari informasi yang tidak jelas, apalagi tentang kasus gantung diri.
"Saat aku tertidur, aku bermimpi, mimpi yang sangat nyata." Ucapku.
Aku mulai menceritakan apa yang terjadi dalam mimpi itu, menatap dokter Uchiha, dia tidak sedikit pun terlihat bosan mendengar apa yang akan aku ceritakan, tatapannya terlihat antusias, mengatakan gadis itu mungkin saja aku hingga berakhir di rumah sakit, semua hal yang terjadi padaku aku ceritakan, termaksud luka di tubuh dan juga di lecehkan beramai-ramai, mimpi buruk yang seakan tidak ada habisnya, aku menghilangkan bagian dimana aku bertemu dengan sosok yang sangat mirip dengannya.
Akhirnya dokter Uchiha tahu, kenapa aku sampai ingin mengecek keadaanku dan luka di tubuh ini.
"Tidak, kau bukan gadis yang gantung diri dan di larikan ke rumah sakit." Ucap dokter Uchiha dan ini membuatku penasaran, tapi ucapannya itu ada benarnya, aku sudah memeriksa sekolah itu, aku bukan salah satu murid mereka.
"Lalu, bagaimana aku bisa berada di rumah sakit? Sejak awal aku tidak ingat apapun, saat membuka mata, aku sudah berada dirumah sakit." Ucapku.
Dokter Uchiha mengalihkan tatapannya. "Aku juga tidak tahu." Ucapnya dan terdengar dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Kejadian itu masih terus membuatku penasaran.
"Apa itu sebabnya kau ingin menyelidiki sekolah itu?" Ucapnya.
"Dokter benar, aku ingin tahu, tapi semua hal yang aku lakukan tidak membuktikan jika mimpi itu benar adalah aku."
Aku mengingat sesuatu.
"Masih ada tempat yang ingin aku kunjungi." Ucapku pada dokter Uchiha.
Setelah dari sebuah kafe, kami kembali berjalan, aku ingat rumah itu, pasti akan ada jawaban di sana, mengingat baik-baik arah jalan yang di lalui dari sekolah menuju rumah yang ada di mimpi itu.
Aneh, di sana tidak ada rumah dan hanya lapangan luas dengan berbagai macam tempat bermain anak-anak kecil, rumah itu berada di mana? Ada apa ini? Sekolah itu ada, tapi rumahnya tidak ada, aku benar-benar frustasi akan hal ini.
Dokter Uchiha mengajakku kembali ke rumah sakit, waktu ijinku sudah selesai, aku tidak boleh keluar terlalu lama.
Jadi mungkin saja, itu hanya sebuah mimpi, mimpi yang sangat nyata.
.
.
.
.
Menjalankan aktivitas seperti biasanya, aku harus rajin mandi, makan, berjalan-jalan agar lebih sehat, bergosip dengan para perawat yang sampai hapal padaku, berkumpul dengan teman-teman pasienku meskipun beberapa sudah pulang dan ada lagi pasien yang baru, kami jadi bisa berkenalan, dan kembali bertemu dokter Uchiha.
Aku sudah tahu dia akan tinggal setelah perawat itu keluar, dia memberikanku sesuatu, sebuah kertas dan sesuatu yang di print di sana.
"Apa kau mencari ini?" Ucapnya padaku.
Mengambil beberapa lembar kertas yang diberikannya padaku, mataku melebar dan aku sampai terkejut, foto ini bahkan sangat jelas, itu adalah foto murid yang gantung diri di kelas, aneh, ini bukan aku, rambut pendek coklat dan wajah kami tidak sama, segera membaca apa yang tertulis di bawah.
Telah terjadi kasus gantung diri dari seorang murid di sekolah O, gadis itu menggantung dirinya dan menyampaikan sebuah pesan aneh di papan tulis.
Apa kalian sudah puas?
Hasil otopsi, dia murni menggantung diri, namun ada begitu banyak luka lebam dan lagi dia seperti mendapatkan pelecehan seksual, semua teman-teman kelasnya sudah di introgasi dan tidak ada yang ingin menjadi saksi apa yang terjadi pada gadis itu, di duga dia mengalami bullyan di sekolahnya hingga memilih mengakhiri hidupnya.
Gadis ini hanya hidup sebatang kara akibat kecelakaan yang di alami kedua orang tuanya, paman dan bibinya sangat menyayangkan kasus yang terjadi pada keponakan mereka, pihak sekolah pun tidak ingin ikut campur dan menyalahkan murid itu, menganggap jika dia memilih keputusan yang salah dari pada harus menceritakan masalahnya pada mereka.
Kasus ini terus berlanjut hingga wali gadis ini menuntut kasus ini di usut tuntas, pihak sekolah ikut bersikeras jika itu kesalahan gadis itu sendiri, pada akhirnya, beberapa murid mulai berdatangan ke kantor polisi dengan mengaku jika mereka pelakunya, bersedia menerima semua hukuman yang akan di jatuhi pada mereka, pihak sekolah bahkan akan menanggung segalanya apapun permintaan dari wali gadis itu.
Ini benar-benar keterlaluan, gadis itu bernama Minami.
"Aku tidak mengerti, bagaimana mimpimu itu bisa menjadi nyata seperti ini." Ucap dokter Uchiha padaku.
"Aku juga tidak tahu, apa dokter yang mencarikan ini untukku?" Ucapku.
"Aku mencoba mencarinya meskipun pihak sekolah ini seperti menuntut siapapun yang menyebar berita ini, kepala sekolahnya berbohong pada kita."
Aku tahu, dia berbohong, dari cara bicaranya saja di ingin menutupi kasus itu agar nama baik sekolahnya tetap terjaga, aku sangat kecewa akan sikap kepala sekolah itu.
"Aku sampai memikirkan jika itu adalah aku." Ucapku.
"Aku sudah katakan jika kau bukan pasien gantung diri, kau sudah membuktikan segalanya, bukan?"
Mengangguk perlahan, kembali melihat kertas itu dan foto gadis itu, aku sangat kasihan padanya, nasibnya sangat buruk, terkejut, aku tidak melihat dengan baik kapan kasus ini terjadi, jika menghitungnya dengan sekarang, kasus ini sudah terjadi 40 tahun yang lalu, apa mimpi itu masa lalu?
"Dokter apa benar aku pasien yang normal? Jika tidak, apa aku akan di bawa ke rumah sakit jiwa?" Tanyaku khawatir, aku sudah seperti orang yang tidak waras di rumah sakit ini.
"Kau pasien normal, aku pastikan itu, mana mungkin aku merawat orang gila jika itu bukan keahlianku." Ucapnya.
"Dokter Uchiha spesialis apa?" Ucapku, aku penasaran.
"Spesialis saraf." Ucapnya.
Saraf? Aku rasa aku tidak punya saraf yang bermasalah, kenapa harus di rawat dokter ini.
"Ada apa? Tenang saja, kau bukan orang gila." Ucapnya.
"Iya, aku tahu, aku hanya ingin memastikannya." Ucapku.
Aku tidak gila, aku benar-benar sadar dan waras.
Rasa penasaranku sudah berakhir saat dokter Uchiha membawakan informasi itu, menghela napas, aku bukan Minami, wajah kami berbeda, kenapa aku merasakan penderitaan gadis itu? Padahal kita masih bisa berusaha, setiap mengingat mimpi itu terasa begitu sakit dan sesak.
Keluar dari kamar dan berjalan-jalan, aku tidak bisa tenang jika hanya di kamar, ada begitu banyak misteri yang belum sempat aku pecahkan dari mimpi itu, atau mungkin saja aku ini orang yang bisa melihat masa lalu seseorang, tapi untuk apa melihat masa lalu seseorang? Konyol, aku juga tidak bisa menghentikannya, saat itu, aku sangat berharap bisa mengubah kehidupannya itu.
.
.
TBC
.
.
update...~
author jawab review saja hari ini.
nurvieee96 : Author lanjut ini, jangan gentayangan yaa... :D
Guest : wetss. keren tuh alurnya, apa kira-kira seperti itu? mari kita lihat saja selanjutnya, hehehe.
sina : author pikir kamu tahu, XD kalau yang di webtoon judulnya in my dream, rekomen deh, kalau mau baca komik dengan alur rumit.
mrsyounya27 : belum jelas sih, si sasu jahat apa tidak, tapi sejauh ini, konsep alurnya, sasu orang baik, itu saja.
Dolphin1099 : webtoon, in my dream, karya cindy/angellina.
wintersnow530 : Halo juga. makasih. Uchiha di sini akan di tebak oleh Sakura sendiri, jadi harap sabar yaa..., banyak misterinya karena dari Sakura, banyak hal yang di tidak ketahui, dan author akan mengambil sudut pandangnya hingga beberapa hal akan menjadi ketahuan, XD sok bikin ide rumit, padahal sendirinya ikut bingung, wkwkwkwk
Saskey Saki : jangan mikir terlalu keras yaa, yang keras itu cuma batu(?) eh. (apaan sih) semoga tetap di baca sampai jelas semua XD.
.
pesan dari author, selamat memikirkan alur ini, semakin ke sana, kalian akan semakin memikirkan banyak hal, sampaikan saja apa yang kalian pikirkan tentang alur ini, XD
.
See you next chapter.
