Sebelumnya ...

Di dalam kamar Sasuke.

Sasuke duduk di ujung tempat tidurnya.

Bodoh! Gara-gara masa lalu itu, aku jadi melibatkan Sakura ke dalam bahaya. Apa yang aku pikirkan? Tidak sepantasnya Sakura ikut dalam tingkah bahayaku ini – mungkin aku memang harus menjauhi Sakura... menjauhi Sakura... Apa bisa? Pikir Sasuke.

Perlahan ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Tanpa sengaja ia menoleh ke luar jendela. Dilihatnya bintang dan bulan yang sedang berdampingan. Mata Sasuke membulat – semua masa lalunya terputar ulang di pikirannya bagai déjà vu.

"Arrrggghhh!" Sasuke meringis kesakitan sambil mencengkram erat kepalanya yang terasa sangat sakit. "Tidak! Bukan aku!" Teriak Sasuke. "Ibu! Di dalam sana – tersenyum." Ucapnya terisak – ia memejamkan matanya menahan sebuah derita seumur hidup yang beberapa tahun lalu sempat hilang, namun kini kembali lagi menghantuinya.

Autor : Momomiya Hoshino Utai

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : OOC, Romance, dsb.

Pairing : Bla~bla~bla~bla ...

A/N : Bla~bla~bla~bla ...

***DÉJÀ VU***

Sasuke's POV

"Ibu! Lihat! Bintangnya banyak sekali." Ucapku – aku? Sewaktu kecil ya? Itu ... Ibu?

"Hn. Banyak sekali ya?" Kata-kata itu – apa aku bisa menyentuh ibu?

"Indahnya!" Ucapku lagi. Ku pandang langit malam yang begitu tenang, debur ombak membuat keadaan semakin tenang.

"Cita-cita Sasuke apa?" Tanya ibu padaku.

"Aku ingin jadi astornot." Sahutku pasti – haha ... aku salah pengucapan, ibu pasti akan membenarkannya setelah ini.

"Astronot?" Ibu membenarkan pengucapanku yang salah. Benarkan? Kenangan ini ... Sudah 10 tahun aku lupakan. Kenapa harus aku lupakan? "Kenapa Sasuke ingin jadi astronot?" Tanya ibu. Aku hanya tersenyum.

"Aku ingin memetik bintang, bintang yang paliiing teraanngg!" Ucapku sampai terpejam-pejam saking menggambarkan bintang yang paling terang itu.

"Benarkah? Untuk apa?" Tanya ibu – ia tersenyum. Polos sekali aku saat itu.

"Bintang yang pertama bisa ku petik, akan aku berikan ke ibu." Ucapku polos.

"Lalu? Yang kedua?" Tanya ibu.

"Untuk ayah. Dan yang ketiga untuk aniki." Lanjutku lagi.

"Yang keempat?" Tanya ibu.

Aku terdiam. "Yang keempat akan aku simpan untuk orang yang aku cntai." Jawabku.

Orang yang aku cintai ya? Sakura kah?

"Orang – yang Sasuke cintai? Seperti apa misalnya?" Tanya ibu yang mendekapku.

Ku peluk ibu erat, "Seperti ibu yang mencintai ayah." Sahutku.

Ibu tersenyum, ia mendekapku. Aku berlari ke bibir pantai berusaha menggapai bintang – tunggu! Jangan ke sana!

Ibu mengejarku, aku berlari terlalu dekat dengan ombak – Jangan! Jangan ke sana! Aku tidak mau lihat ini!

"Sasuke! Jangan ke sana!" Teriak ibu.

"Kyaaaaaa!" Aku terseret ombak ke tengah laut, ibu mengejarku. Jangan! Jangan kejar aku ... Jangan!

Tidak! Ibu! – ibu mengejarku ke dalam laut menyelamatkan ku. Aku ingat saat itu – ibu mendekapku dan tersenyum hangat, senyum terakhir yang aku lihat.

End of Sasuke's POV

.

.

.

Normal POV

Sasuke tersadar.

"Hosh! Hosh!" Ia berkeringat, diambilnya segelas air putih yang ada di meja di samping tempat tidurnya. "Seperti déjà vu." Ucapnya.

Ia kembali merebahkan diri di tempat tidur. Apakah aku harus menceritakan ini pada Sakura? Tapi – Sakura pasti akan dalam masalah, aku ... harus pergi dari hidup Sakura. Sesampainya di Konoha, aku akan pindah ke Suna. Harus!

#Selamanya Bersama, Right?#

Pagi hari ...

Di kamar Sakura.

"Hooaaahhh!" Sakura menguap panjang, ia bangun dari tidurnya, direnggangkannya otot-otot tubuhnya yang kaku. "Sudah pagi ya?" Ucapnya dan berdiri lalu pergi ke kamar mandi.

Tok! Tok! Tok!

"Ya." Sahut Sakura yang pintu kamarnya terdengar tengah diketok – kebetulan Sakura juga baru selesai mandi. Ia pun membuka pintunya setengah – menutupi tubuhnya gitu maksudnya, soalnya dia masih pakai handuk.

"Sakura." Panggil Sasuke.

"Eh, kamu. Ada apa?" Tanya Sakura.

"Aku ingin bi – ano ... itu ... sarapan sudah siap." Ucap Sasuke, Sakura mengrenyitkan dahinya bingung.

"Sasuke? Kau mau bicara apa?" Tanya Sakura.

Sasuke menggeleng, Sakura menggenggam tangan Sasuke tanpa sadar – terlihatlah sudah ia yang HANYA menggunakan handuk itu.

Sasuke yang melihat penampilan Sakura – wajahnya memerah.

"Kau kenapa Sasuke? Apa kau ada masalah? Kau bisa ceritakan padaku." Ucap Sakura.

Sasuke menggeleng cepat, "Tidak! Aku hanya ingin bilang sarapan sudah siap." Ucap Sasuke dan langsung berlari menjauh.

"Sasuke? Dia kenapa?" Ucap Sakura bingung. Ia pun kembali masuk ke kamarnya dan mengenakan baju.

#Selamanya Bersama, Right?#

Sasuke berjalan menuju ruang makan.

Sasuke! Sadar! Jangan tergoda begitu! Sakura ... Kenapa kamu harus ada di dalam hidupku? Pikir Sasuke.

Sesampainya di ruang makan.

"Selamat pagi tuan." Sapa orang yang ada di ruang makan itu aka pelayan.

"Eh? Pagi. Kau siapa?" Tanya Sasuke.

"Saya Sai, pelayan keluarga Haruno." Sahutnya dengan senyuman palsu khas Sai itu.

Sasuke menatap Sai heran melihat senyumnya. Tidak ikhlas sekali – senyumnya itu. Pikir Sasuke.

"Mari, sarapan anda dan nona Haruno sudah saya siapkan." Ucapnya.

"Oh – jadi kamu ya yang menyiapkan sarapan?" Tanya Sasuke.

Sai hanya mengangguk + senyum palsunya.

"Selamat pagi, Sasuke!" Sapa Sakura yang tiba-tiba muncul.

"Huaaa!" Sasuke terkejut dan terjengkang dari kursinya saat mau duduk.

"Hahaha ... Maaf." Ucap Sakura.

Sasuke bangun dan menggosok-gosok bokongnya. "Huft! Dasar!" Ucapnya cuit-cuit sendiri. Tiba-tiba saat ia sedang melihat Sakura yang tersenyum, ia teringat saat Sakura hanya menggunakan handuk tadi – wajahnya langsung memerah.

"Eh? Sa – Sai ya?" Tanya Sakura ragu.

Sai mengangguk – kali ini dia tidak tersenyum. Kali ini dia tidak berekspresi sama sekali, wajahnya datar – bukan maksudnya wajahnya rata ya?

"Lama tidak berjumpa." Ucap Sakura.

"Hn. Hanya musim panas." Ucap Sai.

Sakura duduk di kursinya yang berhadapan dengan Sasuke. Ia melihat wajah Sasuke yang memerah mengrenyitkan dahinya. "Sasuke? Kau sakit?" Tanya Sakura.

"Hn? Apa? Sakit? Hahaha ... Kau bercanda? Aku ini selalu sehat." Sahut Sasuke.

"Tapi – wajahmu merah." Ucap Sakura.

"Hn? Merah? Hahaha ... Hanya perasaanmu." Jawab Sasuke ia pun dengan cepat melahap sarapannya.

"Saya permisi dulu." Ucap Sai dan ia pun berlalu pergi.

Bertemu dengan Sai lagi ya? Pikir Sakura.

"Sakura? Kenapa diam? Kenapa tidak makan?" Tanya Sasuke.

Sakura tersenyum, "Iya. Ini aku mau makan." Sahut Sakura. Akhirnya mereka berdua pun melanjutkan sarapan. "Ano – Sasuke, aku hanya ingin bertanya boleh?" Ucap Sakura.

"Hn?" Sasuke agak bingung, tapi sepertinya ia tahu kemana tujuan pembicaraan ini.

"Soal malam tadi – kenapa kau jadi ke tengah laut Sasuke?" Tanya Sakura.

Sasuke menghentikan aktivitas sarapannya, wajahnya berubah menjadi sendu. "Sarapan lah dulu, tidak baik saat makan – bicara." Jawab Sasuke.

Sakura menatap wajah sendu Sasuke. Sepertinya ada yang Sasuke sembunyikan. Tapi apa? Pikir Sakura.

"Maaf, nona. Perahu menuju pulau sudah siap. Jika anda sudah siap, saya bisa antarkan anda ke makam." Ucap Sai yang datang ke ruang makan itu lagi.

"Iya. Terima kasih." Sahut Sakura datar.

Gara-gara aku, mood Sakura jadi buruk. Pikir Sasuke. "Sakura ..." Panggil Sasuke.

"Hn?" Sahut Sakura malas.

"Aku akan menceritakan semuanya setelah kita pulang dari jiarah." Ucap Sasuke.

Sakura tersenyum. Akhirnya! Sasuke mau juga terbuka denganku! Pikir Sakura. "Hn!" Sakura mengangguk pasti.

Sai hanya menatap mereka berdua bergantian tanpa berkomentar – ia langsung pergi.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N : Ceritanya di chap khusus ini dikit ya? Haha ... Gomen, saya seenarnya pusing mau bagaimana melanjutkan cerita ini. Tolong bagi readers yang bisa membantu saya memberi saran bagi chap selanjutnya – silahkan review ...

Penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya?

Mau tahu? Ada hubungan apa antara Sakura dan Sai? Dan ... masa lalu apa yang membuat Sasuke begitu tersiksa ketika berada di pantai?

Tunggu Chap selanjutnya?

Selanjutnya ...

"Tetaplah di sini ..."

BRUKKK!

"Sa – Sa – kura ..."

Sakura – bertahanlah, aku ada di sini.

REVIEW

.

P

.

L

.

E

.

A

.

S

.

E

.

.

.