Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Love So Sweet by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Drama, Angst
Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fem!Fuji Syusuke aka Fuji Syuko)
Warning : Gender bender. AU (Little Canon), OOC, typos, etc. Niatnya ingin buat yang manis-manis saja, tapi who know? :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
#4 Second Year JHS; Classmate (Part 1)
"Tezuka-kun."
"...Tamura-senpai, ada apa memintaku datang ke sini?"
Gadis bernama Tamura Eiko itu tersenyum. Di kedua tangannya tergenggam tabung hitam berukuran sedang yang berisi piagam kelulusan. Hari ini ia lulus dari Seishun Gakuen bersama senior tingkat tiga lainnya. Entah karena alasan apa, Tezuka diminta untuk datang ke belakang gedung gymnasium setelah upacara kelulusan selesai.
"Err, kau tidak menduga... kalau aku akan menembakmu sekarang, Tezuka-kun?"
Alis kanan Tezuka terangkat. Ia menggeleng pelan.
Tamura berjongkok sambil menghela napas berat. "Kamu benar-benar clueless..."
Tanpa ada rasa canggung, apalagi gelisah, Tezuka bertanya. "Tamura-senpai serius ingin menembakku? Dengan pistol?"
"Bahkan kau tidak tahu makna menembak yang kubicarakan..."
"...maaf."
Senior itu menarik napas lalu membuangnya lewat mulut. Ia kembali berdiri tegak di depan Tezuka. Perbedaan tinggi badan mereka cukup jauh, sekitar sepuluh centi meter. Tapi itu tidak membuat Tamura illfeel atau semacamnya.
"Tezuka-kun, dengarkan aku. Aku hanya mengatakannya sekali."
Kepala Tezuka mengangguk sekali.
Kedua tangan Tamura menyentuh pundak Tezuka, meski tangan kanannya masih memegang tabung hitam berisi piagam kelulusan. Mereka saling tatap. Wajah Tamura terlihat memerah dan Tezuka hanya memandangnya tanpa ekspresi.
"Aku menyukaimu, Tezuka-kun. Aku memandangmu sebagai perempuan pada laki-laki yang dicintainya. Aku berharap kau mau mempertimbangkanku sebagai pacarmu, meski kita berbeda umur dan akan berbeda sekolah setelah ini."
Diam dengan wajah masih tanpa ekspresi. Hanya itu yang Tezuka berikan, sebelum kedua tangannya menarik pelan tangan Tamura untuk tidak menyentuh bahunya lagi. Pemuda itu membungkukkan badan.
"Maafkan aku, Tamura-senpai. Tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Tubuh Tezuka kembali tegak kemudian mendongakkan kepalanya. "Aku tidak tahu perasaan menyukai seseorang itu seperti apa."
Ekspresi Tamura tampak sedang menahan tangis. "Aku bisa mengajarkanmu—"
Tezuka menggelengkan kepalanya sekali.
"Jadi, kau tidak memberiku kesempatan?"
"Maaf, Tamura-senpai."
Kepala Tamura kali ini yang mendongak ke atas. Matanya mengedip beberapa kali, berusaha menghilangkan tumpukan air mata yang siap mengalir ke pipi. Setelah dirasa tumpukan air mata itu menghilang, ia tersenyum menatap Tezuka yang masih memandangnya tanpa ekspresi.
"Boleh aku bertanya?" tanya Tamura dengan nada bergetar di akhir.
"Ya." Dalam hati, Tezuka mulai merasa tidak nyaman.
"Apa kau menolakku karena tanpa kau sadari kau mulai tertarik dengan seseorang?"
Gelengan kepala dari Tezuka menjawab pertanyaan tersebut.
"Bagaimana dengan Fuji Syuko?"
Mendengar nama gadis yang pernah mengaku menjadi stalker-nya itu, kedua alis Tezuka mengernyit. "Kenapa nama Fuji-san yang harus dibawa-bawa ke dalam pembicaraan ini, Tamura-senpai?" tanyanya tidak mengerti.
Jari telunjuk Tamura menyentuh kerutan di antara alis Tezuka, namun pemuda itu langsung mengambil langkah mundur. Mereka diam sejenak. Rasa kaget jelas terpancar di mata mereka. Kilasan balik ketika Fuji menyentuh area yang hampir disentuh senior di depannya ini menyelinap masuk ke benak Tezuka, sementara Tamura hanya memasang ekspresi sedih dan ingin menangis.
Fuji-san... Mata Tezuka terpejam sebentar lalu menatap lurus pada Tamura. "Senpai."
"Hm?" Tamura tidak membalas tatapan itu. Kepalanya sedikit menunduk.
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjadi pacarmu, Tamura-senpai."
"Aa. Aku tahu. Terima kasih, Tezuka-kun."
Love So Sweet
Tezuka Kunimitsu memejamkan kedua matanya ketika mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Untuk pertama kalinya ia ditembak oleh lawan jenis. Hal yang membuatnya tidak habis pikir adalah gadis yang menembaknya memiliki umur dua tahun lebih tua darinya. Tapi ada hal lain yang buat Tezuka tidak tenang. Kenapa Tamura-senpai menyebut nama Fuji-san? pikirnya dalam hati.
Bukan hanya itu, Tezuka juga merasa heran. Kenapa ia tidak suka kerutan di antara alisnya disentuh orang lain. Bahkan ia tak ingin membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
Kalau kejadian dengan Fuji-san di perpustakaan?
Tanpa sadar tangan kiri Tezuka menyentuh area tersebut. Sentuhan Fuji masih bisa ia rasakan hingga sekarang. Terkadang Tezuka jadi malu sendiri ketika mengingatnya.
"Aa! Tezuka-kun, ohayou."
Dan orang yang dipikirkan sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tezuka berdeham sebentar. "Ohayou, Fuji-san."
Mereka jalan bersisian tanpa membicarakan apapun. Fuji berjalan di sisi kanan Tezuka sambil menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Otak Tezuka kembali berpikir, ia tidak tahu, sejak kapan dirinya merasa nyaman saat sosok Fuji Syuko berada di dekatnya seperti sekarang ini. Fuji sendiri juga terlihat nyaman ketika gadis itu berbicara panjang lebar dan hanya dibalas dengan ucapan singkat atau hanya sekedar bahasa tubuh, misalnya anggukan atau gelengan kepala.
Langkah kaki mereka terhenti tepat di depan mading. Bola mata hazel Tezuka bergerak mencari namanya. Saat matanya memindai nama-nama untuk kelas 2-4, ia menangkap kanji nama Fuji Syuko di sana.
"Aku masuk kelas 2-4," gumam Fuji.
"Aa." Tezuka kembali melanjutkan kegiatannya.
Tak jauh dari nama Fuji, namanya tercetak jelas di kertas yang sama. Itu berarti ia sekelas dengan Fuji selama satu tahun nanti di kelas 2-4. Tezuka ingin tersenyum, namun diurungkan niatnya itu.
"Kita sekelas, Tezuka-kun." Fuji menatapnya dan tersenyum manis. "Yoroshiku ne."
"Aa, yoroshiku onegaishimasu," balas Tezuka seraya menunduk sedikit.
"Wah! Aku juga sekelas lagi denganmu, Fuji-chan!"
Tiba-tiba seorang gadis berambut hitam cepak memeluk leher Fuji dari belakang. Melihat ekspresi senang Fuji, tanpa sadar Tezuka tersenyum tipis dan dilihat oleh gadis yang bernama 'Itou'. Sekilas Tezuka melihat Itou menyeringai seolah mengatakan, 'Kau ketahuan, Tezuka'. Mulai detik itu juga Tezuka merasa harus waspada dua kali lipat dari sebelumnya saat berada di dekat Itou.
Lengan kanan Fuji dipeluk oleh Itou dan membawanya pergi menuju kelas 2-4 yang berada di lantai tiga. Tezuka mengekor di belakang mereka. Dari cara bicara dan bahasa tubuhnya, mereka terlihat nyaman satu sama lain.
"Sejujurnya aku bosan karena harus sekelas denganmu lagi, Tezuka," ucap Itou.
Alis Tezuka mengernyit. Ia tidak ingat pernah sekelas dengan gadis bernama Itou Akari.
"Tezuka-kun, kalian pernah sekelas waktu di Seiharudai Daiichi, kata Itou-chan."
"Maaf, tapi aku tidak ingat," aku Tezuka.
Itou tertawa cukup keras dan mengibaskan tangan kanan ke depan wajahnya sendiri. "Benar, kan? Tezuka pasti lupa, Fuji-chan," ucap gadis itu.
Fuji geleng-geleng kepala. Ia heran kenapa Tezuka bisa lupa salah satu teman sekelasnya waktu SD. Namun dari sikap Tezuka, Fuji tahu kalau pemuda itu memang tidak bisa akrab dengan orang-orang. Terutama dengan lawan jenis.
"Aa! Fuji-chan! Itou-chan!" Suara feminim namun cukup nyaring tersebut menarik perhatian mereka.
"Wakaba-chan!" Itou melepas pelukannya dari Fuji dan kini memeluk gadis yang dipanggil 'Wakaba'.
Mata Tezuka memperhatikan gerak-gerik gadis yang sudah berada di samping kirinya. Fuji tersenyum. Dari pancaran matanya, ia terlihat senang. Gadis itu mendongak dan senyumnya makin mengembang. "Mereka teman dekatku sejak kelas satu," cerita Fuji.
"Apa kau senang?" Dalam hati Tezuka merutuk atas pertanyaan bodohnya.
"Tentu. Menyenangkan sekali punya teman seperti mereka."
Senyum Fuji menular pada Tezuka, mereka pun masuk ke ruang kelas 2-4.
TezuFem!Fuji
Sejak sebelum liburan musim dingin, Tezuka ditunjuk sebagai Wakil Ketua klub tenis putra oleh Ketua klub sebelumnya. Banyak yang setuju dengan hal itu, walau tidak sedikit juga yang tidak setuju. Tapi apapun pendapat orang lain, Tezuka tidak peduli. Yamato-buchou sudah menunjuk dirinya dan yang harus ia lakukan sekarang adalah menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Oleh karena dirinya adalah Wakil Ketua klub, Tezuka diperbolehkan melihat formulir murid baru yang ingin masuk klub tenis putra. Ia juga menawarkan diri untuk membantu Kuwahara Naoya, manajer klub, menyeleksi formulir. Dari puluhan formulir, ada satu kertas yang menarik perhatiannya.
"Fuji... Yuuta..." gumam Tezuka.
Kuwahara menengok. "Aku juga kaget saat membaca nama itu, Tezuka."
"Apa dia adik Fuji-san?" tanyanya.
"Sepertinya sih, begitu. Dari fotonya dia mirip Fuji-san, kan?"
Tezuka membaca isi formulir tersebut hingga baris terakhir. Alamatnya sama. Jauh dalam hati, ia bersyukur bisa mengetahui alamat rumah Fuji sehingga bisa memastikan identitas Fuji Yuuta sebagai adik kandung gadis itu.
Jika diingat-ingat, beberapa kali Fuji sempat mengungkit tentang adik laki-lakinya yang sering dijadikan korban kejahilannya bersama sang kakak. Tezuka mulai penasaran, apakah kemampuan Yuuta sama dengan Fuji yang berhasil mengalahkannya waktu akhir liburan musim panas dulu. Walau ia akui kalau pertandingan tidak resmi tersebut berat sebelah karena lengan kirinya cedera.
Tapi kemampuan Fuji yang sesungguhnya juga tidak bisa dianggap remeh. Tezuka menyadarinya tiap kali bola mendarat ke areanya dengan suara yang cukup keras. Satu-dua kali tempat bola itu mendarat menghasilkan sedikit lubang di permukaannya.
"Kau penasaran dengannya, Tezuka?" tanya Kuwahara.
"Aa." Tezuka menaruh formuir Yuuta ke tumpukan formulir yang lain.
"Tapi dari gelagatnya, dia tidak suka dibandingkan dengan Anekinya."
Kini alis kanan Tezuka terangkat. Bingung. "Kenapa?"
Kedua bahu Kuwahara terangkat. "Saat kutanya, 'Apa kau adik Fuji Syuko?', dia langsung menjawab, 'Kalau iya memang kenapa?'. Ekspresi dan nadanya terlihat kesal. Belum lagi waktu kupanggil 'Fuji-kun', dia memintaku untuk memanggilnya 'Yuuta' saja." Tawa pelan terdengar dari pemuda berambut belah tengah dan berwarna hitam itu. "Hubungan mereka jadi terlihat tidak akur, kan?"
"Apa hubungan kakak-adik selalu begitu?" tanya Tezuka penasaran.
"Yaaa, kebanyakan memang tidak akur, sih. Memang kau tidak punya kakak atau adik, Tezuka?"
Yang ditanya hanya menggeleng pelan.
"Oh, kau anak tunggal. Selamat, deh. Kau jadi tidak perlu merasakan pertengkaran antara saudara kandung, haha."
Tezuka tahu, Kuwahara bermaksud untuk mengajaknya bercanda, walau nadanya terdengar sarkastik di telinga. Rasa penasaran kembali muncul di benaknya. Bagaimana hubungan saudara di keluarga Fuji. Apa mereka rukun-rukun saja atau selama ini di balik keceriaan saat Fuji bercerita tentang adiknya itu, tersimpan kesedihan di hatinya.
Keesokan harinya, anggota baru dari tingkat satu diperbolehkan mengikuti kegiatan klub. Kali ini jadwalnya klub tenis putra yang menggunakan lapangan. Lusa besok baru akan ada latihan gabungan antara tenis putra dan tenis putri.
Di luar lapangan dekat ruang klub, Tezuka dan Wakamatsu Rei (Ketua Klub tenis putra) memperhatikan anggota tingkat satu yang sedang berlari mengelilingi area lapangan tenis. Fokus kedua bola mata hazel Tezuka tertuju pada pemuda berambut cokelat. Ia terlihat tidak kehabisan napas. Postur tubuhnya saat berlari yang membuatnya bisa mengontrol jalur pernapasan dengan baik meski sudah mengelilingi lapangan sebanyak lima kali.
"Apa kau tertarik dengan kouhai berambut cokelat itu, Tezuka?" tanya Wakamatsu.
Tanpa memalingkan wajah, ia menjawab. "Ya, Wakamatsu-buchou."
"Kau menyebalkan, Mamushi!"
"Kau yang menyebalkan, Peach Butt!"
"Apa katamu!?"
"Fsssh!"
Wakamatsu tertawa lemas. "Momoshiro dan Kaidou. Mereka selalu bertengkar, ckckck." Ia menengok ke samping kanan. Tezuka terlihat masih memperhatikan adik Fuji Syuko. Ekspresi Wakamatsu tampak sedang berpikir. "Tezuka, apa kau mau bertanding melawannya?"
Tezuka menengok. "Bertanding dengan siapa?"
"Yuuta-kun. Kau terlihat penasaran sekali dengannya."
Diam adalah respon yang diberikan Tezuka. Pemuda itu berpikir, meski Fuji Yuuta adalah adik kandung Fuji, bukan berarti kemampuannya akan sama. Matanya kembali fokus pada gerombolan anggota klub tingkat satu yang mulai memasuki lapangan tenis setelah berlari sepuluh kali keliling lapangan.
"Jika kau mengizinkan, Wakamatsu-buchou."
"Oke. Jadi penasaran juga, hmm~"
Perfect Pair
Fuji Yuuta sudah bersiap keluar ruang klub tenis putra ketika seseorang memanggilnya. Ia berbalik dan melihat Wakil Ketua klub berjalan mendekat. Sejujurnya Yuuta sadar kalau dirinya sering diperhatikan oleh seniornya ini, tapi ia tak mau ambil pusing.
Yuuta membungkukkan badan sebelum bertanya, "Ada apa, Fukubuchou?"
"Apa hari Sabtu kau ada waktu luang?"
"Ada."
"Aku ingin latih tanding denganmu, Yuuta-kun."
Wajah Yuuta tampak kaget. Banyak orang bilang kalau Wakil Ketua klubnya ini, Tezuka Kunimitsu, termasuk anggota terkuat di klub. Siapa sangka ia ingin mengajak latih tanding dengan junior sepertinya. Tapi Yuuta tidak langsung menerima ajakan tersebut. Pemuda itu yakin bahwa ada sesuatu di balik ajakan latih tanding dari Tezuka. Dari sekian banyak alasan, entah kenapa nama Fuji Syuko yang masuk dalam benak Yuuta.
"Apa karena Aneki?" tanya Yuuta memastikan.
Tezuka tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju gerbang sekolah.
Yuuta memasang ekspresi tidak suka dan kembali berjalan mengikuti langkah seniornya itu. Kemudian kedua matanya menyipit saat ia melihat sosok kakaknya sedang berdiri di dekat gerbang sekolah dan melambaikan tangan. Helaan napas terdengar ketika namanya dipanggil dengan nada penuh semangat.
"Kalian janjian pulang bersama, Yuuta-kun?" tanya Tezuka.
"Tidak. Aku sudah menyuruhnya pulang duluan," jawab Yuuta datar.
"Yuuta, okaeri~" Tanpa ba-bi-bu Fuji langsung memeluk adik kesayangannya, walau disambut seruan bernada kesal dari Yuuta. Ia pun berdiri di antara dua pemuda dengan kedua tangan memeluk lengan sang adik. Ekspresinya semakin ceria saat menengok pada Tezuka. "Halo, Tezuka-kun. Kita ketemu lagi."
"Kau menunggu Yuuta-kun?"
"Un. Aku ingin cepat-cepat mendengar cerita hari pertama Yuuta ikut latihan tenis."
"Padahal kau bisa menunggu dan mendengarnya di rumah, Aneki."
Fuji tersenyum lebar menanggapi ucapan Yuuta. "Jadi, bagaimana?"
"Aku belum boleh ikut latih tanding. Sama sepertimu waktu kau masih tingkat satu." Yuuta menatap Tezuka yang terlihat mencuri-curi pandang pada kakaknya. Ia mengernyit sambil memandang Fuji dan Tezuka secara bergantian. Ada yang aneh, pikir Yuuta.
"Kukira kau akan merubah peraturan setelah menjadi fukubuchou, Tezuka-kun."
"Menjadi fukubuchou bukan berarti punya hak untuk merubah peraturan, Fuji-san."
"Hmm~ sou ka."
Tidak ingin dirundung rasa penasaran dan aneh sendiri, akhirnya Yuuta bertanya, "Kalian teman dekat, ya?"
Baik Fuji dan Tezuka menengok pada Yuuta sebelum mereka saling pandang. Tezuka terlihat tidak ingin menjawab, sementara Fuji hanya tersenyum. Sebenarnya Yuuta pernah mendengar kakaknya itu menyebut nama Tezuka beberapa kali di rumah, tapi ia tidak tahu kalau mereka sedekat ini. Dengan sikap Fuji yang termasuk ekstrovert, Yuuta tidak merasa heran jika mereka bisa berteman. Hal yang membuatnya heran adalah pancaran mata Tezuka yang memandang kakaknya dengan tatapan berbeda.
Heeeh... jangan-jangan...
"Aa, Aneki, Tezuka-fukubuchou mengajakku latih tanding hari Sabtu besok," cerita Yuuta.
Dengan gerakan cepat, Fuji langsung menengok ke arah Tezuka. "Tezuka-kun."
Lagi-lagi Yuuta dibuat penasaran. Kakaknya menyebut nama Tezuka dengan nada memperingatkan. Belum lagi pelukan di lengannya makin mengerat. Apa ada yang salah dengan ceritanya?
"Tidak apa-apa. Hanya latih tanding biasa," sahut Tezuka dengan nada meyakinkan.
"Tapi aku tahu, pada akhirnya kalian akan bermain dengan serius," balas Fuji.
"Tidak apa-apa, Fuji-san. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Pokoknya kalian boleh latih tanding asalkan aku ikut melihat."
Tezuka menghela napas. "Aa."
"Kalian pacaran, ya?"
Pertanyaan spontan dari Yuuta membuat kedua sejoli terdiam. Tezuka memalingkan wajah dan Fuji memandang sengit pada sang adik. Yuuta jadi tidak berani mengeluarkan suara lagi karena kakaknya terlihat tidak suka dengan pertanyaan tersebut.
Kalaupun iya, tidak ada yang harus dipermasalahkan sih, pikir si bungsu keluarga Fuji.
To Be Continued
Thank you for reading this fanfic! XD Lagi semangat-semangatnya bikin fanfic TezuFuji ini. Mudah-mudahan ke depannya, semangat ini tidak surut. Saya memang sedang luang, makanya bisa update cepat. Chapter Classmate akan dibagi jadi 3 part. Part selanjutnya bakal ada klimaks aka permasalahan yang datang di antara TezuFuji, entah dari pihak internal atau eksternal. Kita lihat saja nanti, ya! :3 And again. Thank you for fav and follow this fanfic! #bow
