Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story : Mine

Insaf

Chapter 4

Shino berjalan lunglai dari ruangan kepala sekolah. Bagaimana tidak? Ia memprediksikan kalau nanti sepulang sekolah ia akan didamprat ayahnya. Sudah begitu, Kankurou meninggalkannya duluan karena ia ada urusan.

Kenapa Tsunade bisa dengan mudahnya menyuruh ayah Shino untuk mengurusi film yang belum tentu laku? Mudah saja. Ayah Shino adalah produser dan sutradara film. Ia sudah memproduksi dan menyutradarai berbagai macam film-film terkenal. Selain itu, ayah Shino juga merupakan salah satu murid Tsunade ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Derap langkah kaki terdengar dari belakang Shino. Shikamaru, Sasuke, Gaara, Naruto, Sai, dan Neji menuju ke arahnya.

"Bagaimana hasilnya?" Naruto muncul dari belakang teman-temannya. Ia tampak bersemangat.

Shino menghela nafas sebentar,"Ini gila."

"Kenapa?" tanya Naruto. Shino menatap teman-temannya dengan pasrah.

"Tsunade-shisou meminta kita agar naskah drama buatan Kiba itu..." Shino menghentikan kalimatnya. "...untuk dijadikan film." lanjutnya.

"Bukankah itu berita bagus? Kenapa kau malah memelas seperti itu?" tanya Sai.

Shino mendengus,"Hei, kutebak kau belum membaca naskahnya.". Sai mengangguk. Melihat itu, Shino menyodorkan naskah yang dipegangnya sejak dari tadi.

"Bacalah sampai selesai!" suruh Shino. Sai menerimanya dan mulai membaca.

Naskah Kiba berisi tentang seorang pemuda sederhana yang bernama Takeru Yamada. Kehidupannya berbeda dengan di luar linkungan keluarganya. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Shizuko Yamada dan adik laki-laki yang bernama Youichi Yamada. Ayahnya sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk berat. Setiap malam pasti ada kegaduhan yang terjadi akibat efek samping minuman keras yang dikonsumsi kepala keluarga Yamada. Ibunya yang bernama Azami Yamada sering menangis akibat perlakuan kasar suaminya. Takeru berinisiatif untuk menyadarkan ayahnya untuk tidak meminum minuman berbahaya itu lagi dan membangun keluarga baru yang sejahtera. Takeru mulai menyelidiki ke mana perginya sang ayah setiap malam. Ternyata ia pergi ke klub malam bersama para gadis-gadis-menjijikkan- sambil meneguk berbotol-botol minuman keras. Takeru tidak tinggal diam. Ia menceritakan semua yang ia lihat kepada anggota keluarganya, tetapi tidak untuk Youichi, karena ia masih kelas 2 SD. Azami menangis pilu ketika melihat Takeru mengirim pesan panjang di ponselnya. Ia kemudian menulis sesuatu di laptop miliknya.

Latar tempatnya juga banyak. Dari bar, mall, rumah, taman, pantai, sampai ke luar kota. Biayanya pasti mahal.

Sai terlonjak ketika membaca naskah Kiba, apalagi isi tulisan yang tokoh utama buat.

"Kenapa kau Sai? Kok ekspresinya kaget begitu?" tanya Naruto penasaran. Sai tersenyum dan menyalurkan kertas yang ia pegang ke Naruto. "Baca tulisannya."

Naruto menuruti perintah Sai. Dengan perlahan, ia baca baik-baik makna yang terkandung dalam pesan itu.

Mungkin waktu tou-san buka laptop Takeru, tou-san akan kaget Takeru bilang seperti ini, tapi Takeru bilang seperti ini di publik karena tou-san

Tou-san sadar? Takeru kurang kasih sayang!

Jii-chan di atas akan bilang apa jika melihat tou-san seperti ini?

Takeru selalu kesepian, Onee-chan dan Youichi juga.

Kaa-san cari uang untuk Takeru, untuk Onee-chan, untuk Youichi

Tapi tou-san tidak ada untukku

Tou-san maki-maki, tou-san pernah merendahkanku seperti binatang-binatang di luar sana, tou-san bilang kalau aku ini anak tidak terdidik

Itu sangat membuatku sakit hati, tou-san!

Tou-san tidak sayang pada kaa-san, Takeru, Onee-chan, Youichi

Kaa-san kerja untuk kami bertiga!

Kaa-san sampai menangis gara-gara kaa-san melihatku sms tou-san untuk belain kaa-san

Apa tou-san pernah berpikir buat memberi kita berempat nafkah kebahagian? Kasih sayang? Tidak 'kan, tou-san?

Takeru mau ulang tahun, tapi sudah genap dua tahun bahkan hampir tiga tahun tou-san tidak punya perhatian sama kami

Takeru sakit apa pernah tou-san pernah ngurus Takeru? Seing jenguk Takeru? Takeru menuntut banyak dari tou-san!

Aku hanya ingin tou-san sadar, aku butuh kasih sayang dari tou-san!

Mengertilah aku sedikit, tou-san! Takeru harus bagaimana?

Sudah cukup! Tahun lalu tou-san cari pengganti kaa-san berulang kali

Oke, aku terima

Tapi tou-san lebih peduli sama LONTHE-LONTHE itu daripada Takeru, Onee-chan, bahkan Youichi!

Sekarang masalah datang lagi, aku hanya mencari hiburan bersama teman-temanku, menikmati masa remajaku

Tapi kaa-san yang tou-san maki-maki, Takeru malu punya tou-san yang butuh datang hanya untuk menghina kami, memarahi kami, merusak perabotan kami, merendahkan kami

Kapan tou-san berubah?

Jii-chan di atas pasti menangis melihat tou-san seperti ini! Menghardik kami seperti ini!

Apa tou-san masih punya HATI?

Maafkan aku, tou-san

Aku hanya ingin bilang jujur pada tou-san,

AKU BENCI SAMA TOU-SAN, AKU TIDAK MAU PUNYA AYAH MACAM TOU-SAN KALAU BEGINI CARANYA!

Takeru hanya bisa bahagia sama kaa-san, sama Onee-chan, sama Youichi, dan sahabat-sahabatku yang sekarang masih bisa sama Takeru!

Coba kalau Takeru sudah tidak ada nanti, apa tou-san masih maki-maki kaa-san!

Takeru sangat kecewa tou-san seperti ini.

Dan sekarang, Takeru sadar,

Kau tidak pantas untuk dipanggil tou-san

Terima kasih atas semua penderitaan yang telah kau buat selama ini pada kami

Takeru masih bersyukur pernah melihat tou-san tersenyum, walaupun itu sudah kenangan terdahulu.

Salam benci, Takeru Yoshida

Wajah Naruto memerah. Kertas yang dipegangnya terjatuh. Ia mematung. Dadanya menjadi sesak sejak membaca tulisan di naskah buatan Kiba. Mulutnya menganga.

"Bagaimana? Sudah terbukti 'kan kalau Kiba adalah penulis handal? Tak kusangka ia bisa berpikir sampai sejauh ini." Shino mengambil naskah yang terjatuh di depan Naruto.

Kiba datang bersama Lee dari arah utara mereka berdiri. Wajahnya terlihat biasa-biasa saja, tidak ada perubahan sama sekali.

Tiba-tiba, Naruto bertekuk lutut di hadapan Kiba. Menangis seperti bayi, hanya itu yang bisa ia lakukan. Naruto menggumamkan, "Hebat!", "Kau jenius!", dan kata-kata pujian lainnya.

"Jadi bagaimana hasilnya? Apa yang dikatakan Tsunade-shisou mengenai drama ini?" Kiba mengawali pembicaraan, menghiraukan keberadaan Naruto yang sedang menangis dan sedang di tenangkan oleh Hinata. Entah dari mana Hinata berasal, tiba-tiba saja muncul!

"Jadi... Tsunade-shisou meminta kita agar naskahmu ini dijadikan film. Mungkin nanti aku kana konsultasi dengan ayahku." Shino harap-harap cemas kalau nantinya Kiba akan kaget seperti yang lainnya. Tapi bukannya kaget, ia malah tersenyum senang. "Kenapa wajahmu lesu seperti itu? Bukankah itu menyenangkan?"

Hening.

"Baiklah. Akan kuusahakan."

Cavallone-Vesavillius Vanilla

"Err... tou-san." panggil Shino sambil membawa secangkir teh di tangannya. Shibi Aburame menengok dan menyudahi acara baca korannya. "Ada apa?"

"Begini, kalau tou-san memproduksi film lagi bagaimana?"

"Ide bagus! Tou-san sudah lama tidak bekerja! Mana naskahnya, nak?" ia langsung bangkit karena selama beberapa minggu terakhir ia menganggur di rumah.

Shino terkejut mendengar ayahnya mau menerima permintaannya. Jarang-jarang permintaannya terpenuhi. Ia pergi ke kamarnya dan mengambil naskah buatan Kiba di atas meja belajar, lalu kembali lagi.

"Ini naskahnya, buatan temanku." Shino menyerahkan maskah itu ke ayahnya. Shibi membaca dan bergumam sedikit.

"Ini bagus. Bilang pada temanmu itu ya, nak." Katanya memuji. Itu membuat hati Shino menjadi senang daripada siang tadi.

Shino melangkah pergi menuju ke kamarnya untuk meminum teh di balkon. Baru seteguk saja...

"SHINO! Sini turun sebentar!"

Bruuush!

Tehnya muncrat ke mana-mana. Shino terbatuk sebentar, lalu meninggalkan sejenak acara minum tehnya.

"Apa lagi, tou-san?" Shino menggerutu sambil mmenghapus bekas semprotan tehnya tadi.

"Bagaimana kalau dalam peran ini, teman-temanmu saja yang menjadi tokohnya? Lumayan untuk menghemat biaya~" sang ayah terkekeh pelan sambil meninggalkan anak semata wayangnya. Shino hanya mendengus pelan. "Dasar ayah. Selalu saja membuatku tersedak,"

Cavallone-Vesavillius Vanilla

Keesokan harinya, Shino datang tergesa-gesa. Penampilannya sedikit berantakan. Yah, walaupun hanya di bagian rambutnya saja yang tidak disisir. Sebagai murid yang selalu tampil disiplin, ia merasa sangat malu jika teman-temannya melihat keadaannya seperti ini. Selain itu, kaus kakinya tertukar sebelah dengan pasangan yang lain. Tapi untungnya, celananya panjang, sehingga menutupi bagian kaus kaki. Mungkin hari ini bukan hari keberuntungannya.

"Ohayo, Shino-eh?" sapa Kiba. Ia langsung terhenti melihat pemandangan tidak wajar yang terjadi pada temannya satu ini. "Ada apa? Berantakan begitu."

"Lupakan saja. Mengenai film itu, aku sudah diskusi dengan tou-san."

"Jadi...? Hasilnya?"

"Kata tou-san, kita harus memerankan peran kita masing-masing. Yah, menghemat biaya. Kadang dia memang licik," Shino pergi menjauh.

"Hm... Memerankan sendiri, ya?"

.

"Hohoho, sudah kuduga dia akan menyetujuinya. Dia memang benar-benar muridku!" Tsunade meringis-ringis penuh arti kepada Shino yang berderi dengan pasrah di depannya. Awalnya Shino hanya ingin memberitahukan tentang diskusi antara ia dan ayahnya, tapi entah kenapa Tsunade menjadi OOC. Setelah itu dia berhenti sendiri. "Oh ya, kenapa pakaianmu mejikuhibiniu begitu? Rambut tidak disisir, kacamata miring, lalu apa lagi? Terlalu gugup?" tanya Tsunade.

Bukan terlalu gugup, tapi terlalu pasrah, shisou, pikir Shino.

"Selain itu, tou-san-"

"Ahahahaha, yang penting ayahmu mau menerima permintaan itu. Sekarang kau boleh pergi." Tsunade mempersilahkan Shino pergi ke kelasnya.

Shino pergi dari ruang kepala sekolah dengan kesal karena kalimatnya dipotong. "Cih, kebiasaan,"

Tok... tok... tok...

Suara ringtone handphone Shino berbunyi. Walaupun hanya ketukan saja, ia masih bersyukur daripada menggunakan ringtone bernada panjang.

"Moshi-moshi?... Tou-san... Aa."

.

Suasana di klub jurnal sangat ramai. Setelah di beritahu Shino tentang pembuatan film itu, mereka langsung bereaksi.

"Shino-san, ayah anda membutuhkan kru atau tidak? Kami bersedia membantu." Shiho bertanya sambil membetulkan posisi kacamatanya. Ia memegang notes untuk mencatat tentang apa yang dibutuhkan.

"Tentu. Tou-san membutuhkan lebih banyak kru. Nanti akan kusampaikan juga untuk klub tata rambut dan klub PKK." jelas Shino. Ia bergegas pergi untuk megurusi keperluan lain. Ternyata menjadi anak produser penuh resiko.

.

"Tou-san jelek, tou-san jelek, tou-san jelek, tou-san jeleeeek!" Shino memekik kencang di tengah taman. Orang-orang beranggapan kalau ia sedang mengidap gangguan kejiwaan. "Huh, tidak berguna."

"Kau kenapa sih? Error ya?" Kankurou datang dari balik pohon, disusul Naruto dan Kiba dari atas pohon. "Santai saja tebbayo,"

"AKU TIDAK BISA SANTAI! Asal kau tahu, Tsunade-shisou-tidak-mau-mendengarkan-aku-ketika-aku-sudah-selesai-menyampaikan-tentang-diskusi-antara-aku-dan-tou-san,"

Hening.

Terlalu banyak aku.

"Hanya itu?" Kankurou memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti. Shino mengangguk cepat.

"Halaaaah~ Urusan sepele! Ngomong-ngomong, Paman Teuchi baru saja membuat ramen yang baru di kedainya. Kita ke sana yuk?" ajak Naruto mengalihkan pembicaraan. Kankurou dan Kiba mengangguk, kecuali Shino. Itu membuat Naruto sedikit kecewa.

"Shinoo~ Ayolah~ Sekali-kali kita bersama-sama ke kedai! Kau sedang stress 'kan? Makan ramen dapat mengurangi rasa stress dalam diri kita. Khusus untukmu, kau kutraktir deh!" Naruto merengek-rengek seperti anak kecil yang meminta permen.

Naruto mengucapkan kata yang tepat. Shino tidak mau ke kedai ramen karena ia tidak punya uang. Rezeki tidak baik ditolak 'kan?

"Ya sudah. Ayo ke sana. Aku sedikit lapar."

Cavallone-Vesavillius Vanilla

"Ahh~ Enaknya! Tambah lagi Paman!"

"Baiklah Naruto!"

Naruto sangat bersemangat. Karena diberi kupon gratis makan sepuasnya karena menjadi pelanggan setia, Naruto mengajak teman-temannya untuk makan bersama. Siapa yang mau menolak? Ramen di Kedai Ichiraku sangat menggoda orang-orang yang lewat, terutama aroma khas dari kedai itu.

"Semangat sekali Naruto. Kau lapar, eh?" tanya Kiba terheran-heran. Berpuluh-puluh mangkuk ramen kosong tertumpuk di sisi kiri Naruto.

"Aku sangat lapar tebbayo! Karena Hinata-chan tidak ada di sini, aku jadi sangat lapaaaaar~"

"Alasan saja," komentar Shino, lalu ia melanjutkan makannya

"Heh! Hinata-chan adalah hidup matiku! Kalau misalnya Hinata-chan mendahuluiku, aku akan ikut mati! Kalau aku mati duluan, aku tak tega melihatnya mati!" ujar Naruto berapi-api. Ayame, anak dari pemilik kedai mengikik pelan.

"Hihihi, cinta memang romantis Naruto. Apa kau mau ramen kebahagiaan agar kau merasa lebih baik?"

"Tentu saja! Aku pesan satu Kak Ayame!" seru Naruto. Ia tidak menyadari sudah banyak sekali mangkuk ramen yang tertumpuk di dekatnya.

Tak lama kemudian, pesanan Naruto datang. Ramen Kebahagiaan-nya dipenuhi dengan asap yang mengepul. Semua orang pasti tak tahan dengan godaan aroma dari jenis mi tersebut.

"Hei Naruto, kalau kau kebanyakan makan, nanti bisa meledak, lho!" seru Kankurou sambil menunjuk perut Naruto yang berisi ramen. Naruto cemberut. "Biar saja! Yang penting bisa makan!"

"Overamen," celetuk Kiba, kemudian ia mengikik. "Hah? Apaan tuh?"

Kiba berdehem sebentar. "Kalau overdosis berarti berlebihan bahan kimia, kalau overamen kelebihan makan ramen. Kalau kau kebanyakan makan ramen, bisa-bisa kau..." Ia menghentikan kalimatnya. Senyum jahil terhias di wajahnya. Kiba membisikkan sesuatu kepada kedua temannya. Naruto yang waktu itu ingin melahap telur rebusnya, tiba-tiba...

"DOOOORR!" teriak mereka bertiga. Telur Naruto dengan sukses mendarat dengan tidak elit di lantai.

Countdown

One...

Two...

Three...

"APAAN SIH? Tuh 'kan telurku nggak jadi masuk malah jatuh! Kalian ini jahil sekali!" seru Naruto. Ia ngedumel* setelahnya.

"Kalau nggak jahil bukan kami namanya, Naruto." kata Kankurou sedikit menghibur. Kiba dengan ikhlasnya memberikan telur rebusnya kepada Naruto. "Kau makan saja punyaku. Biar aku yang makan punyamu," ujarnya. Ia mengambil telur rebus yang tergeletak tak berdaya di lantai.

Naruto langsung bersemangat kembali. Ia tersenyum senang. "Terima kasih, Kiba! Kau baik sekali!"

"Apa kau tidak sakit perut makan makanan yang sudah jatuh begitu?" tanya Kankurou dengan tatapan aneh. Shino juga melihatnya begitu.

"Tidak apa-apa kok. Belum lima menit. Akamaru saja makan makanan yang sudah jatuh tidak sakit perut kok, pasti aku juga tidak akan sakit perut," jawab Kiba. Ia meminum kuah ramennya. "Lagipula kasihan Paman Teuchi, harus membersihkan sampah telur yang kita perbuat."

Hening. Hanya suara Naruto saja yang terdengar.

Kankurou dan Shino berpikir sama.

Niatmu sih baik, tapi Akamaru itu anjing, bodoh!

Cavallone-Vesavillius Vanilla

Kediaman Aburame sangat sepi. Lampu tak dinyalakan, padahal ini suda pukul tujuh malam. Shino menggerutu karena pintu rumahnya dikunci. Ia merogoh handphone-nya dan bersiap untuk membangunkan anjing tetangga.

Tak lama kemudian, ia menemukan kontak ayahnya. Namanya pun cukup jelek.

Daemon Aburame.

Kalau diingat-ingat, Daemon itu salah satu nama iblis yang mewakili tujuh dosa besar.

Shino segera menelepon ayahnya. Saking lamanya, Shino duduk-berdiri-duduk selama beberapa saat. Tak lama kemudian, teleponnya diangkat.

"Halo Shino? Ada apa?" tanya sang ayah di seberang. Shino dengan malas menjawab, "Ayah ada di mana?"

"Di rumahnya temanmu... Siapa namanya? Ah, iya. Naruto."

JDEEERRR!

Shino merasa sangat marah sekarang. Ia bela-belain pulang ke rumah untuk makan dengan tenang di balkon rumahnya, Ayahnya malah ke rumah anak hyperactive itu! Lalu untuk apa dia pulang ke rumah? Kesannya ia malah seperti orang kebingungan yang mencari sumbangan.

"AYAAAAAAAAHHH!"

Sedetik kemudian, ia digampar ibu-ibu tetangga menggunakan gayung.

"Hei, nak! Ini sudah malam! Jangan teriak-teriak!"

.

Ting... tong...

Suara bel kediaman Namikaze berbunyi. Sang pemilik rumah langsung membukakan pintu, melihat siapa yang datang.

"Ah, Shino-kun. Ayahmu ada di dalam. Silahkan masuk!" senyum ramah dari Minato Namikaze yang pertama dilihat oleh Shino ketika masuk ke kediaman Namikaze. Padahal sepertinya Shino belum pernah bertemu dengan pria tampan yang menjadi ayah Naruto itu.

"Terima kasih, Namikaze-san." ucap Shino. Dari suaranya, Minato sudah tahu kalau anak di depannya ini sedang memendam amarah yang sangat besar kepada ayahnya. Ia mempersilahkan Shino duduk dan memberikannya jamuan hangat.

"Jadi apa maksud kedatanganmu Shino-kun? Mau bertemu Naruto? Ia sedang diatas sekarang," ujar Minato sambil menunjuk tangga tempat kamar Naruto berada. Shino yang sudah kesal akhirnya memutuskan, "Sebenarnya aku ingin mendaprat ayah karena rumah dikunci dan pergi tanpa bilang. Tapi, sudahlah lupakan saja. Lebih baik aku belajar bersama Naruto."

Minato tersenyum miris. Ia berpikir kalau ayah dari anak pendiam di depannya ini benar-benar bertolak belakang dengan sifat ayahnya. Ia kemudian mengetuk pintu kamar Naruto yang berstiker Kyuubi di pintunya. "Naruto! Ada Shino nih!" seru Minato dari luar. Suara-suara aneh terdengar dari kamar Naruto.

"Sebentar, tou-san!" seru Naruto dari dalam. Beberapa saat kemudian, Naruto membuka pintu kamarnya. Shino bisa mengintip sedikit isi kamar Naruto melalui sela-sela rambut pemuda blonde di depannya itu.

"Selamat belajar. Maaf jika kamar anakku mirip kapal pecah. Atau mungkin memang kapal pecah ya?" kata Minato bergurau, disertai dengan keluhan dari sang anak semata wayangnya. "Apaan sih? Sana kencan sama ibu!" ledek Naruto seraya mendorong ayahnya sampai ke tangga. Ia pun kemudian meninggalkan ayahnya yang dihiasi semburat merah yang tipis.

"Kencan ya? Aku sudah terlalu tua untuk itu. Lupakan."

Sementara itu di kamar Naruto...

"HAHAHAHA! Kok bisa?" tawa Naruto sambil berguling di atas ranjangnya, menertawai cerita Shino yang barusan dikatakan kepadanya. "Aku tidak bohong dan iu sangat menyebalkan. Kau tahu? Angin dingin yang tadi itu menembus tulang. Bajuku basah karena disiram air sama ibu-ibu tetangga itu," kata Shino. Urat-urat kemarahan sudah muncul di kepalanya. Sangat terlihat kalau ia sedang bad mood. "Dan kau tahu satu hal? Kau sangat beruntung memiliki ayah yang peduli padamu, baik, ramah, aku iri padamu."
"Ah, ayahku biasa saja kok! Aku paling sebal kalau sudah menyangkut tentang hubunganku dengan Hinata-chan!" seru Naruto berapi-api. Semburat merah yang lumayan tebal muncul di kedua pipinya.

Tok...tok... tok...

Pintu diketuk lagi. Kali ini dari orang yang berbeda.

"Narutoo! Ada Kiba nih!" terdengar suara ibunya memanggil dari luar. Ibunya selalu mengeluarkan nada yang kencang karena Naruto sering mendengarkan mp3 playernya dengan kencang.

"Iya, Bu! Aku datang!" seru Naruto tak kalah kencangnya. Shino hanya bisa menutup telinganya dengan buku-buku komik yang berserakan di ranjang Naruto.

"Yo, Naruto! Eh, ada Shino juga." sapa kiba sambil melambaikan tangannya sedikit. Ia kemudian duduk di lantai dekat kasur Naruto, karena kasur Naruto itu bisa membuat orang gatal-gatal kurang dari lima menit. "Naruto, mana buku catatan Geografiku? Sudah selesai belum?" tanya Kiba. Naruto berlari menuju ke meja belajarnya dan mengeluarkan seluruh buku pelajarannya.

"Ah! Ini dia Kiba!" seru Naruto sambil menunjukkan buku catatan bersampul biru tersebut. Kiba terlihat sangat lega karena bukunya selamat. Shino hanya memangdanginya dengan pandangan heran.

"Kenapa kau?" tanya Shino. Ia membetulkan posisi kacamatanya.

"Ah~ Kau tahu? Biasanya anak yang meminjamkan buku catatannya ke Naruto akan berakhir dengan tertekuk, bahkan sobek. Mungkin ini hari keberuntunganku~" jawab Kiba sedikit berlebihan. Shino hanya mengangguk lalu terdiam.

Naruto memecah keheningan. "Kita ngapa gitu, jadi suasananya nggak kaya' kuburan begini!" ajaknya. Shino dan Kiba menjawab serempak, "Memangnya kita mau melakukan apa?"

Naruto terdiam kembali, menimang-nimang apa yang harus ia lakukan. Jika membaca komik, Shino terlihat tidak suka. Bermain musik? Kiba dan Shino pasti bisa, tapi tidak untuk Naruto. Bermain kartu? Naruto sudah lupa di mana ia meletakkan kartu-kartunya. Merenung? Kelihatannya malah seperti orang yang tidak punya semangat hidup yang tinggi.

"Ah!" Naruto menepuk tangannya satu kali. "Kita menceritakan tentang kisa cinta kita saja! Bagaimana?" tanyanya bersemangat. Ia melirik kepada Shino duluan.

"Aku tidak memiliki pengalaman cinta. Jangan tanya aku."

Naruto melihat ke arah Kiba. "Aku juga belum pernah. Aku tidak tahu apa itu yang dimaksud dengan cinta atau apalah. Karena aku belum pernah merasakan perasaan yang menurut semua orang menjadi gila semacam cinta."

"AAAAHHHH! AKU KEHABISAN IDE!"

.

"Terima kasih atas kedatangannya, Aburame-san. Kapan-kapan datang lagi," ujar Minato di depan ruang tamu. Kiba dan Shino berada di belakang Shibi, entah apa yang mereka bicarakan.

"Terima kasih Minato. Kuharap, kau dan Istrimu mau mengisi peran itu. Selamat malam!"

"Selamat malam!"

Mereka bertiga berjalan menuju ke Fang Street, tempat di mana Kiba tinggal. Selama perjalanan itu, Kiba memberanikan diri untuk bertanya pada produser terkenal di hadapannya itu.

"Paman, tadi paman minta apa kepada Namikaze-san dan Uzumaki-san?" tanya Kiba, berusaha mengoreksi apa ada kalimat yang salah. Karena kalau beliau sudah ngelantur, satu hari pun tidak akan selesai seperti burung beo.

"Ah, aku meminta keluarga Namikaze yang damai itu untuk memainkan peran dalam naskah itu, untuk kujadikan sebagai pedagang buah yang tampan bersama istrinya yang cantik dan anaknya yang keren." jawab Shibi sambil menerawang, menghitung-hitung jumlah hasil penjualan filmnya kalau Minato ikut berperan. Ia pasti bisa menjadi pedagang buah yang sukses. "Kalau dilihat-lihat, Minato itu seperti lelaki berusia 20-an tahun. Padahal kenyataannya dikali dua."

Dasar licik, pikir Shino dalam hati. Ia kembali melangkah sambil melihat bintang-bintang di angkasa. Tak sengaja ia melihat bintang jatuh di langit untuk pertama kalinya. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya.

"Ayah! Besok kalau jadi shooting, bagian akhir pakai background malam hari saja! Supaya lebih menyentuh!" usul Shino. Sang ayah berpikir sejenak, lalu mengangguk.

"Ayah pikir itu ide yang bagus. Terima kasih atas inspirasinya ya, nak."

Cavallone-Vesavillius Vanilla

Langit tampak mendung. Kiba datang lebih awal pagi ini. Mengingat hari ini ada tes lisan Geografi, ia harus buru-buru belajar sebelum bel berbunyi.

"Pagi Kiba! Gimana tidurmu, eh?" sapa Naruto ketika sedang mengambil peralatannya di lokernya. Kiba hanya mengangguk sekali saja. "Sama seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Hanya saja..." kalimat Kiba terhenti sejenak. Itu membuat Naruto bingung. "Hanya apa?"

"Hanya saja... Aku merasa firasat buruk akan terjadi." lanjut Kiba. Naruto manggut-manggut. "Apa Tsunade-shisou akan mengamuk lagi seperti waktu itu?"

Kiba menggeleng. Ia tidak merasakan hal itu sama sekali. Hal itu tidak terlintas di pikirannya.

"Bukan. Tsunade-shisou tidak marah hari ini. Kupikir ini lebih parah." lanjut Kiba. Ia menuju ke kelas duluan, meninggalkan Naruto hanya dalam jarak beberapa meter saja.

"Kiba! Jangan nakut-nakutin gitu dong! Aku jadi khawatir nih sama Hinata-chan!" seru Naruto, menyamai posisi Kiba berjalan saat ini. "Kalau kau merindukannya, tinggal ke kelas saja repot."

Naruto mengangguk-anggukan kepalanya dnegan cepat.

"Terima kasih, Kiba! Tak kusangka kau jenius!" seru Naruto, kemudian ia menjauh menuju ke kelas duluan. Meninggalkan Kiba yang masih bingung akan firasatnya.

Lupakan saja. Lebih baik tidak usah terlalu dipikirkan, pikir Kiba. Ia pun berlalu.

Kiba berjalan menuju kelasnya. Keadaan orang-orang sama seperti setiap pagi dan tidak ada perubahan. Mungkin hanya dirinya saja yang kurang tidur semalaman karena kebanyakan belajar Geografi.

Setelah Kiba sampai di dalam kelas, ia memilih duduk di pojok kelas. Ia paling suka melihat keluar jendela agar pikirannya tidak jenuh dengan pelajaran. Ia belajar Geografi sekali lagi dan mencerna setiap kata-kata yang di bacanya.

BRAAAKK!

Pintu membentur dinding dengan keras. Idate Morino, cowok kuciran yang terkadang suka heboh sendiri kali ini lebih heboh dari biasanya.

"Teman-teman, ada berita buruk! Sumaru ada di atap dan ingin bunuh diri!"

Bruk!

Tidak sengaja Kiba menjatuhkan buku Geografinya. Ia berdiri dengan penuh kecemasan

"A-apa?"

To Be Continued

Halo~ Saya kembali!(readers : Nggak ada yang mengharapkan!)

Terima kasih untuk riview-nya dari kalian! Saya membuat cerita bukan dari berdasarkan riview*itu juga boleh*. Tapi sesuai mood dan ide.

Balasan Untuk :

Nurama Nurmala : Hahaha, aku rasa kenakalannya terlalu lebay deh.. Maafkan saya*nangis*. Salam kenal juga, senpai!

Uchiha Kagamine : Cerita dengan karakter Kiba memang bisa dibilang sangat langka. Ini karena ide yang tiba-tiba terlintas dari otak saya, mengingat Kiba kadang usil*kayaknya gak pernah deh Kiba usil?*. Makasih riviewnya senpai!

Kiba Murasaki : Wah, di fav segala? Saya merasa tidak pantas. Matur nuwun...

Inainae-chan : Ini udah update. Maaf Hiatus lama banget. Makasih riviewnya!

Faiza : Fai-Fai, orang yang bikin aja aneh, apalagi ceritanya mba'e. Hahaha. Karena saya bodoh.

Untuk pengertian ngedumel diatas itu, maksudnya mengumpat dengan volume cukup kecil. Biasanya orang-orang kaya' gitu kalau mereka habis diusilin atau berbuat salah. Maaf, bahasanya campur-campur.

Sekali lagi, terima kasih.