Those Awkward Moments…
…without Mocca-Marocchi
DISCLAIMER: Untuk yang terakhir kalinya, lihat di akhir cerita.
WARNING: Lots and lots and lots of chara trolling.
=0=0=0=
Siang itu, Ib, Garry, dan Mary sedang menikmati macaron di café favorit mereka sambil menunggu Mocca-Marocchi. Garry sudah melahap dua puluh macaron, namun tubuhnya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan bertambah gemuk.
"Oke deh…" Garry mencomot macaron kedua puluh satu yang berwarna biru. "Mana author edan itu? Katanya dia mau datang ke sini?"
"Hah, kayak kalian nggak kenal dia aja," dengus Mary. "Paling-paling dia sekarang sedang…"
Garry dan Ib menyambung kata-kata Mary sehingga mereka bertiga bicara bersamaan, "…ngebaca fanfic –fanfic lamanya di atas kasur sambil ngakak-ngakak sendiri, plus ngedengerin lagu-lagunya Amano Tsuki yang keren banget dan sangat nggak cocok sama dia."
"Tuh, kalian udah tahu, kan," ucap Mary sambil mencomot macaron berwarna kuning.
"Yah, tadi dia bilang mau datang, kan? Kali-kali aja moodnya lagi baik, terus dia beneran datang. Kalau sudah gini sih, kayaknya dia nggak bakalan datang. Baguslah kalau begitu. Aku udah berkali-kali nyaris gila gara-gara ulahnya," ucap Garry sambil mengambil macaron berwarna merah, calon macaron kedua puluh dua.
"Garry, itu punyaku!" seru Ib sambil mengambil macaron merah itu dari tangan Garry.
"Ups, sori," ucap Garry merasa bersalah. Ib tak menyahut, membuat Garry ingin menangis.
"Tisu?" tanya Mary sambil menyodorkan sekotak tisu. Garry sudah mengulurkan tangannya untuk mengambil tisu saat Mary kembali berkata, "Satu lembar seribuan, ya. Duka Anda adalah peluang bisnis saya~"
Garry langsung melemparkan tatapan membunuh pada Mary.
Mary langsung mengalihkan topik, "Oh ya, aku mendengar gosip kalau Mocca-Marocchi meragukan true endingnya Ib, ya? Berarti dia sama denganku~"
"Ah, yeah. Dia bilang kalau true endingnya Ib itu seharusnya Forgotten Portrait," sahut Garry sambil memutar bola matanya.
"Penghinaan!" seru Mary. "Yang jadi true ending itu seharusnya…"
"…Promise of Reunion, dong," sahut Ib enteng sambil sibuk mengunyah macaron. Mary langsung pasang tampang "Oh-God-Why".
"Iya, dong. Promise of Reunion is the best~" sahut Garry sambil mencomot macaron lain. "Yah, Memory's Crannies juga nggak apa-apa deh, asalkan ada sekuelnya."
"Ada yang bilang Ib versi 1.03 dan 1.04 sedang dalam tahap pengembangan, kan?" tanya Ib sambil melahap dua macaron sekaligus.
"Siapa yang bilang? Mocca-Marocchi? Kok percaya sih sama dia?" tanya Garry sambil melahap macaron ke duapuluh tiga.
"Nggak, Kouri-san sendiri yang bilang di blognya. Versi 1.03 itu persis 1.02, cuma mengurangi ukuran game plus memperbaiki bug-nya. Update-nya nanti di versi 1.04," ucap Ib. Garry langsung tersedak macaronnya, "CIYUS!? YANG BENER!?"
Mary memutar bola matanya, "Yee, itu berita kan sudah lama banget. Ketinggalan info banget, sih."
Saat itulah seorang pelayan mendekati ketiga orang ini dan meletakkan senampan macaron. Ib, Garry, dan Mary kontan saling berpandangan dengan bingung.
"Kami nggak pesan macaron lagi, lho. Ini pasti bukan milik kami," ucap Mary pada pelayan itu. Si pelayan tersenyum, "Ini servis spesial dari restoran kami untuk kalian karena kalian sudah memesan macaron dalam jumlah terbanyak selama seminggu terakhir."
"Oh, terima kasiiiih~" ucap Garry dengan gaya ala cewek moe, lalu melahap macaron itu tanpa curiga. Seketika itu juga wajah cowok jangkung kurus itu langsung berubah hijau.
"INI MACARON RASA APAAAA!?" jerit Garry. Si pelayan hanya tersenyum tanpa dosa, "Itu macaron rasa terbaru: campuran jengkol, bawang putih, dan sambal terasi. Silakan dinikmati~"
Garry langsung melesat ke toilet, sementara Mary dan Ib menatap macaron itu dengan ngeri. Si pelayan sendiri meninggalkan mereka dengan santai.
"Mengerikan…. Macaron itu jangan dimakan, deh…" ucap Mary.
"Jujur aja, kalau tiga rasa itu nggak dijadikan satu dan disajikan secara terpisah, aku masih bisa makan. Sayang sekali," gumam Ib penuh sesal.
"Sudah ah, nggak usah dibahas," Mary mengeluarkan laptop, sementara Garry keluar dari toilet dan menuju ke tempat duduk dengan wajah yang masih agak pucat.
"Bagh, makin lama dunia ini makin nggak aman…" gumam Garry sambil kembali duduk, "Aku merasa berada di fanficnya Mocca-Marocchi. Betul-betul nggak enak di sini."
"Sudahlah, teman-teman. Kita main aja~" Mary menyalakan laptop. "Aku mau menamatkan game Ib tanpa nge-save sama sekali dalam waktu setengah jam! Tentu saja endingnya Together, Forever dong!"
"Pret, setengah jam…" gumam Garry shock.
"Aku sudah hafal walkthroughnya, kok… Lagipula, ada beberapa puzzle yang bisa dilewati, kan?" sahut Mary enteng sambil nge-double click icon game Ib di desktop laptopnya. Beberapa saat kemudian, title screen Ib muncul di layar.
"Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap…"
"WUAPAAAAAAAA?!" Mary, Garry, dan Ib menjerit saat mereka menyadari BGM alias background music title screen yang seharusnya berupa alunan music box yang unyu malah berubah jadi lagu anak-anak nan legendaris, "Cicak-Cicak di Dinding".
"Kok bisa gini!?" seru Mary shock sambil terpekur menatap layar. Garry dengan cepat langsung mengambil alih laptop dan memilih opsi "New Game". Dugaannya benar. BGM intro game yang seharusnya berupa "Prelude in C Minor" sudah diubah menjadi lagu "Butiran Debu". Garry langsung membenturkan kepalanya ke tembok, sementara Mary mulai terisak-isak dan Ib masih terlalu shock untuk bereaksi apa pun.
"Kemarin malam… Laptop ini sempat dipinjam Mocca-Marocchi untuk update cerita di Fan*********et…" ucap Mary di sela-sela tangisnya.
"MOCCA-MAROCCHIIIIIIIIII!" Garry berteriak keras. "BERANI-BERANINYA ITU AUTHOR MENGGANTI BGM-NYAAAAA!"
Begitulah, wahai pembaca. Meski wujudnya tak terlihat, Mocca-Marocchi bisa meneror Anda dengan cara apa saja, di samping menulis fanfic yang meracuni pikiran-pikiran polos para pembaca. Stay cautious, okay~?
Thanks for reading and enjoy your day!
=0=0=0=
DISCLAIMER: Ib, Garry, dan Mary adalah milik Kouri sementara Mocca-Marocchi adalah saya sendiri. Once again, Amano Tsuki is not mine! "Cicak-Cicak di Dinding" itu lagu sejuta umat, jadi bukan milik saya. Lagu "Butiran Debu" dipopulerkan oleh band Rumor, jadi bukan punya saya juga. Semua BGM Ib yang jadi korban di sini jelas bukan milik saya. Eniwei, siapa yang merasa ketinggalan macaron rasa jengkol-bawang putih-sambal terasi yang nyangkut di cerita ini?
