"Wonshik-ssi... Kamu...bisa melihat dia?"

Wonshik membalikkan tubuhnya pada Taekwoon, menatap Taekwoon dengan tatapan bertanya. Wonshik menatap Taekwoon dan Jaehwan bergantian.

"Dia terlihat jelas."

Taekwoon terdiam menatap Wonshik dengan tatapan tidak percaya. Taekwoon tidak mengerti bagaimana bisa Wonshik melihat Jaehwan yang merupakan malaikat maut?

"Jaehwan-ah!"

Taekwoon berlari mendekati Jaehwan lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Jaehwan.

"Bagaimana bisa? Kenapa dia bisa melihatmu?"

"Aku tidak tau! Harusnya yang bisa melihatku hanyalah nyawa yang aku jemput ke dunia sana."

"Apa itu artinya mereka akan mati?"

Jaehwan diam, menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak. Kamu jiwa terakhir yang aku jemput."

"M...mwo...?"

"Kamu jiwa ke-100, jiwa terakhir yang akan aku antar ke dunia sana. Itu pun kalau kamu tidak berhasil menemukan cinta sejatimu. Tapi kalau kamu berhasil...maka aku pergi ke surga sendirian."

Jaehwan tersenyum pada Taekwoon, tapi senyuman Jaehwan itu terlihat aneh. Taekwoon dapat merasakan ada kesedihan dibalik senyuman Jaehwan.

Sementara itu tanpa mereka sadari, Hakyeon terdiam melihat Jaehwan. Tubuh Hakyeon diam, seperti membantu. Mendengar nama dan wajah Jaehwan, Hakyeon merasakan kesedihan dan sesak didadanya.

"Saranghae..."

Hakyeon terbayang-bayang dengan senyum mantan kekasihnya. Sudah enam bulan berlalu, ingatan tentang wajah kekasihnya sudah memudar diingatan Hakyeon. Tapi Hakyeon masih bisa mengingat senyuman khas mantan kekasihnya, dan entah mengapa Hakyeon teringat dengan senyum itu setelah melihat Jaehwan.

Hakyeon berjalan mendekati Jaehwan dan Taekwoon perlahan, lalu tanpa sadar Hakyeon langsung memeluk tubuh Jaehwan dari belakang. Tentu hal itu membuat Jaehwan terkejut, begitu pula Taekwoon.

"Hyung? Kamu...memeluk dia?"

Hakyeon diam, tidak menjawab Taekwoon. Hakyeon membenamkan wajahnya pada punggung Jaehwan lalu menghirup aroma tubuh Jaehwan dalam-dalam. Hakyeon sangat familiar dengan aroma tubuh itu, aroma tubuh yang sangat Hakyeon rindukan, aroma tubuh kekasihnya yang sudah meninggal.

"Wae...?"

"Hyung...maaf."

Taekwoon berusaha membuat Hakyeon melepaskan pelukannya dari Jaehwan, dan itu membuat Hakyeon bingung.

"Maaf, aku ada urusan dengannya. Yaa, Jaehwan. Ikut aku."

Setelah Jaehwan menganggukan kepalanya, Taekwoon berjalan masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Jaehwan. Sementara Hakyeon terdiam, bingung.

Taekwoon menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menatap Jaehwan dengan tatapan serius seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kenapa dia bisa menyentuhmu?"

"Molla! Harusnya hanya jiwa yang aku jemput yang bisa menyentuh dan melihatku...ini aneh."

"Lalu kenapa kamu diam saja saat dia memelukmu?"

Jaehwan terdiam. Mendengar pertanyaan Taekwoon, Jaehwan teringat saat Hakyeon memeluknya tadi. Entah mengapa, saat Jaehwan mendengar nama Hakyeon dan saat Hakyeon memeluknya, Jaehwan merasakan kepedihan dan kerinduan dalam hatinya.

"Yakk, Jaehwan! Kenapa kamu diam saja?"

"Ah, sudahlah. Dari pada mengurusi aku, lebih baik kamu urusi tamu mu itu. Sampai kapan kamu mau membiarkan mereka menunggu disana?"

"Tapi_"

"Tenang saja, mereka bisa menyentuhku bukan karena mereka adalah jiwa yang akan aku jemput. Aku juga tidak tahu pasti kenapa itu bisa terjadi, tapi aku bersumpah kamulah tugas terakhirku."

Jaehwan menaikkan dua jarinya, beruha meyakinkan Taekwoon. Taekwoon menghela nafas. Dilihat dari ekspresinya, Jaehwan sepertinya tidak berbohong. Ya sudah, yang terpenting untuk Taekwoon adalah untuk Taekwoon adalah, Wonshik dan Hakyeon masih hidup.

"Arraseo."

Taekwoon membalikkan tubuhnya lalu membuka pintu kamarnya dan keluar. Sementara Jaehwan, terdiam di dalam kamar Taekwoon, menundukkan kepalanya. Ekspresi wajahnya terlihat sedih.

Taekwoon menghampiri Hakyeon dan Wonshik yang ternyata masih berdiri di ruang tengah dengan ekspresi kebingungan mereka. Taekwoon berusaha memasang tersenyum tipis pada mereka, berharap susana tidak enak yang tiba-tiba datang ini menghilang.

"Kalian lapar? Akan lebih baik jika kalian makan malam dirumahku saja."

"Kalau kamu tidak keberatan, boleh saja."

"Baiklah. Wonshik-ssi, kau boleh ke ruang makan terlebih dahulu. Aku mau bicara dengan Hakyeon hyung sebentar."

Wonshik menganggukan kepalanya lalu berbalik dan berjalan keluang makan. Taekwoon menatap Hakyeon, yang masih terdiam kebingungan.

"Hyung."

"Hm?"

"Apa alasan kamu memeluk Jaehwan tadi?"

Hakyeon terdiam. Sebetulnya, Hakyeon juga tidak mengerti apa tujuan Hakyeon memeluk Jaehwan tadi. Saat melihat punggung Jaehwan, Hakyeon seperti merasakan rasa rindu yang meluap-luap dan spontan tangannya langsung bergerak untuk memeluk Jaehwan.

"Err..molla. Mungkin aku tertarik pada temanmu itu? Dia sangat tampan sih, hahaha~! Wae? Kamu cemburu?"

"Eish, bicara apa kau ini? Mana mungkin aku cemburu?"

"Ah~ Taekwoonie hanya tertarik dengan Wonshik ya?"

"Aniyo!"

Taekwoon mengalihkan pandangannya menyembunyikan wajahnya yang terlihat memerah, namun kemudian ekspresi Taekwoon berubah.

"Tapi saranku, jangan tertarik padanya."

"Wae?"

"Kau akan terluka nantinya."

Setelah mengatakan hal itu, Taekwoon langsung berjalan pergi menuju ruang makan meninggalkan Hakyeon yang hanya diam dengan penuh tanda tanya di otaknya.

Keesokan harinya, Taekwoon kembali melanjutkan aktivitas biasanya. Dalam ruang kerja, Taekwoon tampak sibuk dengan laptopnya. Namun tidak lama kemudian, Taekwoon terdiam dan menghela nafas. Taekwoon masih memikirkan soal kejadian kemarin. Taekwoon sangat penasaran apa yang membuat Wonshik dan Hakyeon dapat melihat Jaehwan. Terutama Hakyeon, Taekwoon penasaran mengapa Naeun bisa menyentuh Jaehwan. Bahkan Jaehwan sendiri juga tidak tau apa masalahnya.

Tidak lama kemudian, Wonshik masuk ke dalam ruangan Taekwoon dan membuat Taekwoon sedikit terkejut karena kehadiran Wonshik yang tiba-tiba.

"Aku membuatmu terkejut? Mianhae."

"Tidak apa-apa. Duduklah."

Wonshik menutup pintu ruang kerja Taekwoon lalu duduk di bangku yang tersedia di depan meja Taekwoon, berhadapan dengan Taekwoon. Taekwoon melepaskan kacamata yang dia kenakan sejak tadi, lalu mentup laptopnya.

"Jadi...ada apa? Apa restaurant mu mengalami masalah?"

"Bukan, ini bukan masalah restaurant ini."

"Lalu?"

"Ini soal kamu, Taekwoon-ssi."

Taekwoon mengedip-ngedipkan matanya, bingung mendengar jawaban dari Wonshik. Taekwoon merasa tidam melakukan kesalahan apapun, lalu apa yang Wonshik maksud?

"Apa...maksudmu..?"

"Aku perhatikan sejak kemarin, semenjak aku dan Hakyeon datang ke rumahmu, ekspresi wajahmu terlihat aneh. Kamu terlihat seperti memikirkan sesuatu sepanjang waktu."

Setelah mendengar perkataan Wonshik, Taekwoon terdiam dan sedikit cengo. Namun kemudian Taekwoon tertawa pelan.

"Kenapa kamu tertawa?"

"Kau menghawatirkanku?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu bantu aku, beri aku hiburan. Ayo makan bersama?"

Ini adalah kesempatan emas untuk Taekwoon. Taekwoon ingat dengan saran yang Jaehwan berikan untuk mendekati Wonshik. Dan kebetulan dengan kesempatan ini datang. Dengan makan bersama dengan Wonshik, mungkin bisa tumbuh cinta diantara mereka berdua.

Bagusnya, Wonshik menerima ajakan Taekwoon. Wonshik dan Taekwoon langsung berjalan keluar dari ruang kerja Taekwoon. Hakyeon mengalihkan pandangannya pada Wonshik dan Taekwoon lalu mendekati mereka.

"Kalian mau kemana?"

"Hyung, kami mau pergi keluar untuk makan bersama sebentar. Bisa aku titipkan restauratku padamu?"

Hakyeon tersenyum aneh setelah mendengar jawaban Wonshik, lalu kemudian menganggukan kepalanya. Hakyeon mengacungkan jempolnya pada Wonshik dan tersenyum lebar.

"Ne! Serahkan semua padaku."

Wonshik tersenyum lega, lalu Taekwoon dan Wonshik pergi keluar dari restaurant itu. Hakyeon melambaikan tangannya sampai meyakinkan bahwa Taekwoon dan Wonshik sudah benar-benar pergi.

Hakyeon diam, tersenyum kecil seraya memegang sapu yang memang sudah dia bawa sejak tadi. Namun kemudian, Hakyeon menghela nafasnya.

"Jangan pergi."

Dibelakang tubuh Hakyeon, di meja paling ujung, terlihat Jaehwan yang baru saja berdiri dan hendak pergi. Jaehwan membulatkan matanya.

"Kau bicara padaku?"

Hakyeon membalikkan tubuhnya, lalu mendekati Jaehwan.

"Ne. Siapa lagi?"

Jaehwan semakin kebingungan. Jaehwan melihat sekelilingnya, orang-orang di restaurant ini tampak terlihat memandang Hakyeon dengan pandangan aneh. Tentu saja, orang normal tidak bisa melihat Jaehwan yang adalah seorang malaikat maut. Itu membuat Jaehwan semakin bingung.

"Err...sebaiknya kita berbicara di atab restaurant saja. Disini terlalu banyak orang."

Tanpa menunggu jawaban Hakyeon, Jaehwan langsung berjalan cepat menuju tangga. Hakyeon tampak heran melihat tingkah Jaehwan, namun kemudian Hakyeon mengikuti Jaehwan.

Hakyeon menaiki tangga menuju atab, lalu mendekati Jaehwan yang sedang berdiri di sisi atab. Karena kebetulan gedung restaurant milik Wonshik dan Hakyeon ini cukup tinggi, mereka dapat melihat pemandangan siang yang cerah ini.

Jaehwan menoleh pada Hakyeon. Masih memikirkan misteri ini, apa yang membuat Hakyeon bisa melihat bahkan menyentuh Jaehwan? Itu membuat Jaehwan penasaran.

"Nugu...?"

Hakyeon menoleh pada Jaehwan. Hakyeon tertawa pelan lalu Hakyeon mengulurkan tangannya pada Jaehwan.

"Aku lupa kalau kita belum berkenalan sejak pertama bertemu. Namaku Hakyeon. Cha Hakyeon."

Jaehwan masih terdiam. Ini aneh. Ada perasaan rindu dalam hati Jaehwan saat mendengar nama Hakyeon.

"Hak...yeon...?"

Hakyeon menganggukan kepalanya, lalu kemudian Hakyeon langsung meraih tangan kanan Jaehwan dan langsung menjabat tangan Jaehwan. Sekali lagi, itu membuat Jaehwan terkejut melihat Hakyeon dapat menyentuh tangannya.

"Ada apa denganmu, Jaehwan-ssi?"

"A-aniyo. Salam kenal, Hakyeon-ssi. Namaku Lee Jaehwan."

Lagi, Hakyeon merasa sesak di dadanya saat mendengar nama Jaehwan. Rasa sesak yang sama saat Hakyeon melihat Jaehwan pertama kali di rumah Taekwoon.

"Hakyeon-ssi?"

Hakyeon tersadar dari lamunannya, lalu tertawa pelan sambil menundukkan kepala.

"Maafkan aku. Kenapa aku malah melamun ya? Haha"

Hakyeon mengangkat wajahnya lalu tersenyum tipis pada Jaehwan. Senyum manis, namun membuat hati Jaehwan kembali merasakan kerinduan.

"Jaehwan-ssi, aku tertarik padamu."

"Mwo?!"

Jaehwan tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya Hakyeon pikirkan? Bagaimana bisa Hakyeon jatuh cinta pada Jaehwan yang seorang malaikat maut? Semua ini membuat Jaehwan seakan seperti mau gila.

Di tempat lain, Taekwoon dan Wonshik tampak sedang memakan gopchang disalah satu restaurant makanan Korea yang berada di dekat restaurant milik Wonshik.

"Sang pemilik restaurant makan di restaurant orang lain, ckckck."

"Hahaha. Kita kan tidak mungkin makan di restaurantku. Itu makanan untuk pelanggan."

"Aku bisa mentraktirmu."

"Dengan merelakan gajimu yang aku potong, Taekwoon-ssi?"

Taekwoon tertawa mendengar jawaban dari Wonshik itu. Sementara Wonshik hanya tersenyum kecil. Wonshik lebih terfokus pada wajah Taekwoon yang sedang tertawa itu.

"Yeppeo..."

Wonshik sangat suka semua yang ada pada Taekwoon. Wonshik sudah jatuh dalam pesona Taekwoon yang menurutnya sangat cantik itu, Wonshik jatuh cinta pada Taekwoon. Namun, Wonshik ragu. Apakah Taekwoon memiliki perasaan yang sama dengannya?

-to be continued-