Disclaimer:

Naruto [Masashi Kishimoto] and High School DxD [Ichie Ishibumi]

Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang saya publish.

.

Lime or Lemon

Drama, Suspense, Romance, Friendship, Family, Fantasy, Spiritual, and etc.

Rate : M

Type : Crossover

.

Warning! : OOC, OC, Typo(s), AU, AR, AT, Lime, Lemon, NTR and many more!

.

Chapter 4 KARMA

.

.

Di antara rerintikkan hujan yang turun, kedua insan berjalan cepat menuju sebuah rumah kecil berlantai dua. Naruto tidak mengindahkan seorang gadis yang mengikutinya sedari tadi sampai ia tiba di teras rumahnya sendiri.

Ia mengambil kunci rumah yang ada di saku kanan celananya lalu ia membuka pintu rumah itu.

KREK!

Pintu rumah yang berwarna cokelat berhasil ia buka dari luar, tak lama sang gadis Gabriel datang menghampiri Naruto.

"Huh! Dinginnya." Seraya berjalan mendekat ke arah Naruto.

"Ja-jadi, jadi ini rumahmu, Naruto?" tanya Gabriel yang masih tetap membawa barang belanjaannya.

Tubuh gadis berambut pirang panjang itu tampak kedinginan, seluruh tubuhnya basah karena terkena hujan. Begitupun dengan Naruto yang tak menyangka jika hujan deras tiba-tiba akan datang.

"Masuklah," ucap Naruto kepada Gabriel.

Gadis bersurai panjang itu kemudian masuk ke dalam rumah Naruto, sebuah rumah yang sudah berdinding bata. Saat ia masuk terlihatlah ruang tamu mini yang terdapat tiga sofa mini berwarna merah yang di susun berbentuk huruf U miring ke arah sebelah kiri.

Di samping kursi-kursi itu ada sebuah lantai kosong yang mana jika maju sedikit ada sebuah kamar berukuran 3x3 meter yang tampak hanya ada sebuah kasur berukuran 200x180 cm. Dan sebuah lemari kayu yang ada kacanya.

Gabriel lalu masuk ke dalam kamar itu sambil membawa barang belanjaannya, sesuai permintaannya ia ingin berganti pakaian. Naruto pun menunggu di depan kamar sambil menonton televisi di atas sebuah karpet tipis berwarna merah, ia berniat mengusir sang gadis setelah urusannya selesai.

Tak lama kemudian, Gabriel keluar dari kamar. Dengan penuh percaya diri ia memberi tahu Naruto jika ia sudah berganti pakaian.

"Sudah selesai, Naruto. Terima kasih," ucap Gabriel sambil tersenyum ramah.

Naruto menoleh ke arah Gabriel yang berada di depan pintu kamar, tapi suatu pemandangan mengerikan ia lihat di depan kedua matanya.

"Apa?! Ka-kau!"

Naruto terbata, ia tidak tahu harus berkata apa saat melihat seorang gadis cantik berpakaian bikini putih di hadapannya.

"Hem, aku sudah berganti pakaian Naruto." Gabriel berjalan mendekati Naruto.

"Tu-tunggu! Kau di situ saja, jangan mendekat!" Naruto memundurkan tubuhnya ke belakang saat Gabriel mendekat ke arahnya.

Naruto terpojok karena Gabriel terus mendekatinya, ia sudah tidak bisa lari kemanapun. Melihat hal itu, Gabriel membungkukkan tubuhnya sambil berdiri lalu menatap Naruto.

"Apa ada yang aneh denganku, Naruto?" tanya Gabriel sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto.

Naruto memalingkan pandangannya saat melihat tubuh mulus yang hanya berbikini itu, yang mendekatinya, menatapnya dan mengajaknya berbicara.

"Tadi, tadi kau bilang ingin berganti pakaian. mengapa sekarang kau hanya berbikini seperti itu, Gabriel?"

Naruto bertanya sambil memejamkan kedua matanya dan menoleh ke arah kanan menghindari pandangan Gabriel.

Kedua bukit ranum yang tergantung terlihat jelas di kedua mata Naruto, membuat sesuatu mulai terasa sesak di bawah sana, ditambah dinginnya udara karena hujan. Lengkap sudah! Lengkap sudah penderitaan Naruto.

"Hemmmm."

Gabriel menormalkan kembali posisi tubuhnya, ia berdiri sambil bertolak pinggang lalu berkata, "Kau kan tahu aku tidak membawa pakaian, jadi aku hanya memakai ini. Ini juga kan sama dengan berganti pakaian Naruto. Sudahlah, aku ingin mengeringkan pakaianku dulu. Dan di mana kamar mandimu?" tanya Gabriel lalu mengambil pakaiannya yang basah.

Pelan-pelan Naruto membuka matanya, menutup kembali, membuka kembali. Ia mencoba mengintip apakah gadis berbikini itu sudah pergi dari hadapannya atau belum.

"Huufftt..."

Ternyata Gabriel sudah tidak berada di hadapannya, Naruto pun mengelus dadanya sendiri.

'Untung saja, untung saja ia tidak berlama-lama di hadapanku. Kalau tidak!' Naruto mengambil napas sesaat.

'Kalau tidak, sudah pasti aku akan menerkamnya sampai dia merintih memohon untuk berhenti,' gumam Naruto di dalam hati.

Gabriel meneruskan langkah kakinya menuju dapur di kediaman Naruto, ia mulai menjemur kembali pakaiannya yang basah total itu di sebuah jemuran besi yang berada di dekat dapur. Setelahnya ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas rambutnya yang terkena air hujan.

.

.

.

Beberapa menit kemudian...

Gabriel keluar dari kamar mandi, ia menuju ruang TV untuk menemui Naruto. Tapi sayang, di sana tidak ada siapa-siapa. Melainkan hanya ada sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih yang tergantung di sebuah paku yang berada di dinding.

Pakai ini!

Sebuah pesan tertulis di sebuah kertas yang menempel di dinding di dekat baju yang tergantung. Ternyata Naruto meminjamkan kemeja lengan putihnya untuk Gabriel.

"Baik sekali dia," gumam Gabriel sambil tersenyum manis. Ia kemudian memakai baju itu dan ternyata panjangnya sama persis dengan rok mini yang ia pakai. Cukup untuk menutupi sebagian pahanya yang mulus dan bersih.

"Naruto ..."

Selesai memakai baju tersebut Gabriel mencari di mana keberadaan Naruto. Ia berkeliling di lantai satu, tapi sayang, ia tidak menemukan sosok pemuda tampan nan baik hati.

Gabriel memberanikan diri menaiki anak tangga menuju lantai dua kediaman Naruto. Sesampainya di lantai dua ia mendapati sebuah kamar yang tertutup pintunya. Ia kemudian mendorong pintu itu mencoba masuk ke dalam kamar yang gelap.

"Apa yang kau lakukan?!" tanya sosok yang menyenter wajahnya dari arah bawah dagu. Tubuhnya memakai singlet hitam dan celana boxer berwarna merah.

"AAAAA"

Sontak saja hal itu membuat Gabriel ketakutan. Hampir-hampir saja Gabriel jatuh pingsan melihat sosok yang menakutkan seperti hantu.

"Hei, jangan pingsan! Ini aku Naruto, Gabriel." Naruto memegangi tubuh Gabriel dari samping agar tidak terjatuh.

"Kau kah itu, Naruto?" tanya Gabriel yang hampir menangis melihat wajah yang tersenter dari arah bawah.

Naruto membenarkan posisi tubuh Gabriel. Ia kemudian melepaskan pegangan tangannya.

"Aku sudah meminjamkanmu baju, sekarang pulanglah ke rumah mu. Aku mau beristirahat!" ucap Naruto kemudian.

Gabriel membelalakkan kedua matanya saat mendengar ucapan Naruto yang bernada mengusir seperti itu.

"Apa? Kau menyuruhku pulang di malam selarut ini? Apa kau tidak punya hati?!" balas Gabriel sambil menatap Naruto.

"Bukannya aku tidak punya hati, tapi aku merasa risih ada seorang perempuan yang baru kukenal berada di dalam rumahku," sahut Naruto ketus sambil menutup pintu kamarnya dari luar.

"Jadi kau keberatan aku menumpang di sini semalam?" tanya Gabriel kemudian.

Naruto sejenak berpikir mengenai permohonan Gabriel yang meminta izin menginap semalam di rumahnya.

"Hei, Naruto! Aku bukan seorang penjahat untuk kau cemasi. Aku benar-benar butuh tempat menginap untuk malam ini saja. Lihat, jam di dinding sudah hampir pukul sebelas malam. Di mana hati nuranimu menyuruh kupulang di malam yang selarut ini. Ditambah di luar hujan!" gerutu Gabriel sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

Mereka mengobrol tepat di depan pintu kamar Naruto.

'Hem, benar juga apa katanya. Jika aku membiarkannya pulang, malah nanti lebih merepotkan,' gumam Naruto di dalam hati.

"Ya, baiklah. Kau tidur saja di kamar yang berada di lantai satu. Jangan lupa kunci pintu. Toh tidak ada barang mewah di rumahku ini. Sudah ya, aku mau beristirahat!" ucap Naruto lalu segera masuk ke dalam kamarnya.

"Tapi, Naruto!" Gabriel berusaha menolak.

"Tak ada tapi, huh!" Naruto kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam, ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur berbahan foam tersebut.

"Hufft, menyebalkan anak itu!" Gabriel kesal melihat tingkah Naruto yang sangat acuh kepadanya.

Sementara itu di dalam kamar, tampak Naruto yang sedang membuka celana boxer yang ia pakai. Ia melihati ular kasurnya yang telah meneteskan bisa.

"Gawat, semakin lama berada di dekatnya semakin aku menginginkan hal itu," gumam Naruto sambil menormalkan kondisi sang ular kasur.

.

.

.

Malam semakin larut, keadaan perumahan itu tampak sunyi. Hanya terdengar suara katak-katak yang sedang bermain dan bernyanyi.

Di dalam kamar di kediaman Naruto, terlihat Naruto yang begitu terlelap dalam tidurnya. Sampai-sampai saliva itu berceceran kemana-mana. Baik di bantal maupun di guling.

Dari balik pintu sang gadis bersurai pirang panjang berusaha membuka kunci dengan kunci kamar yang ada di lantai satu.

KREK

Ternyata kunci kamar itu cocok dan segera saja Gabriel berjalan mengendap-endap mendekati Naruto. Ia kemudian membuka kancing kemeja putih panjang yang dipinjamkan oleh Naruto.

Satu kancing dari bagian atas, dua, tiga dan kemudian semua kancing kemeja itu terlepas dari kaitnya. Kemeja itu kemudian dijatuhkan oleh Gabriel ke lantai kamar dan segera saja dia tertidur di samping Naruto. Mencoba merebahkan diri menghadap kiri sambil menatap wajah Naruto yang miring ke arah kanan.

"Hmmm."

Naruto mengusap wajahnya dengan guling yang sedang ia peluk. Terdengar dirinya mengeluarkan gumaman-gumaman yang aneh.

Gabriel membelai wajah Naruto dengan jemarinya yang lentik, lalu turun ke arah bibir sang Uzumaki. Sesekali ia mengusap lembut bibir itu, tangannya meraba-raba tubuh Naruto yang sekarang sudah mulai gelisah dengan apa yang dia rasa. Naruto kemudian mencoba membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi.

"Gabriel!"

Naruto melihat Gabriel yang tengah memakai bikini putih tertidur di sampingnya. Ia mencoba bangun tapi Gabriel menahannya.

"Naruto, aku tidak akan mengganggumu. Tidurlah ...," pinta Gabriel dengan pandangan mata yang sayu dan memaksa.

"Gabriel!" Naruto terkejut dengan ucapan sang gadis.

"Tak apa."

Gabriel menelentangkan tubuhnya di samping Naruto dan kemudian memegang tangan kiri sang Uzumaki yang sedang memeluk guling itu.

"Gabriel ini-"

Pikiran Naruto menjadi tidak terfokus dengan tidurnya saat Gabriel mengarahkan tangannya untuk hinggap di pertengahan kedua bukitnya yang besar.

"Naruto ..."

Gabriel mulai mendekati wajah Naruto dan mencoba meraih bibir itu.

"Gabriel, kita baru kenal-" Naruto berusaha mengingatkan.

Gabriel tidak memperdulikannya ia malah menyentuh lembut bibir Naruto dengan bibir peach miliknya.

"Mmmhh..."

Mereka berciuman dengan lembut dan perlahan, membuat sesuatu di balik celana boxer itu mulai menegang.

"Gabriel, mmmmhh..."

Dan beberapa saat kemudian Gabriel menghentikan tindakkannya yang nakal.

"Naruto, aku kedinginan. Bisakah kau memelukku?" tanya Gabriel kepada Naruto dengan nada setengah berbisik.

"Tapi, Gabriel-"

"Tak apa, Naruto."

Gabriel kemudian menarik tubuh Naruto lalu mendekapnya dengan erat. Naruto yang mendapatkan pelukkan itu semakin berpikir tidak karuan.

'Hangat dan besar,' gumam Naruto dalam hati.

Kedua bukit kembar itu menyentuh dada Naruto. Tubuh mulus, pinggang ramping dan perut rata mencengkram tubuh Naruto dengan erat. Hampir saja rasa sesak di dalam celana boxer itu ingin ia keluarkan. Tapi Gabriel memeluk tubuhnya sangat erat sehingga sang ular kasur hanya bisa menegang sambil tetap berada di posisinya.

Dan kejadian itu berlangsung hingga pagi...

.

.

.

07.00 am, di kediaman Naruto.

Terdengar suara pintu terketuk dari luar, tapi tak ada yang membukakan pintu.

Pintu itu terketuk lagi dan lagi, membuat sang tamu menjadi bermuram durja karena tidak ada yang membukakan pintu untuknya.

"Hah, terpaksa aku memakai kunci ini," ucap seorang gadis bersurai merah panjang memakai mantel abu-abu setinggi lutut sambil menjinjing tas kecilnya. Sepatu high heels silver terlihat membalut kakinya yang jenjang.

KREK!

Pintu itu berhasil ia buka, segera saja sang gadis mencari seseorang yang ditujunya.

"Naruto!" panggil sang gadis sambil mencari-cari.

Ia mencari sang pujaan hati ke dalam kamar yang berada di lantai satu tapi tidak ada, ke arah dapur tapi tak kunjung ia temukan. Ia lalu menuju kamar mandi yang berada di samping dapur tapi tidak ada orang.

Sang gadis kemudian berinisiatif menuju lantai dua untuk mencari Naruto. Dengan hati yang berdebar, sang gadis menaiki anak tangga, satu persatu menuju sebuah kamar yang sering menjadi tempat tidurnya dulu.

Ia kemudian sampai juga di lantai dua dan langsung menuju kamar Naruto.

KREK...

Pintu itupun dibuka dari luar dan terlihatlah pemandangan yang memilukan hati.

"Naruto," Sang gadis mendapati Naruto sedang tertidur bersama gadis lain di bawah selimut yang biasa ia pakai.

Gadis bersurai merah panjang itu kemudian berjalan cepat mendekati keduanya lalu membangunkan Naruto.

"Naruto!"

Sang gadis menarik tangan kanan Naruto yang sedang memeluk gadis lain lalu menghempaskannya. Merasa terganggu, gadis yang sedang terlelap itu terbangun lalu melihat kedatangan sang tamu.

"Siapa, siapa kamu?!" tanya gadis itu sambil mengucek matanya, ia kemudian duduk di atas kasur di samping Naruto yang mulai terjaga. Dan terlihatlah tubuhnya yang berbikini putih.

"Hei! Seharusnya aku yang bertanya siapa kau!" seru sang gadis bersurai merah panjang.

Naruto yang mendengar keributan, ter bangun dari tidurnya dan melihat apa yang terjadi.

"Ri-rias?!"

Naruto terkejut saat melihat kedatangan Rias.

"Bagaimana, bagaimana kau bisa masuk?" tanya Naruto kepada sang tamu yang tak lain adalah Rias, kekasihnya sendiri.

"Bangun kau! Bangun! Wanita murahan!" Rias menarik Gabriel dengan sekuat tenaga.

"Kau benar-benar tidak tahu malu merebut kekasihku, ya!" Rias marah, wajahnya merah padam.

"Kau ini sebenarnya siapa sih? Datang kok langsung marah-marah kepadaku?" tanya Gabriel yang pura-pura tidak tahu.

"Kurang ajar kau!"

Rias berusaha menjambak rambut Gabriel tapi Naruto segera menghalanginya.

"Rias tenangkan dirimu," pinta Naruto sambil memegangi kedua tangan Rias.

"Naruto, kau sungguh tega padaku. Jadi ini alasannya kau tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat teleponku. Jadi karena ada dia!" Rias menunjuk Gabriel dengan telunjuk tangan kanannya.

"Rias, aku mohon tenangkan dirimu, ini salah paham, Rias." Naruto berusaha menenangkan.

"Naruto, kau jahat! Kau jahat, Naruto!" ucap Rias yang mulai menitikkan air mata.

Rias kemudian menghempaskan kedua tangan Naruto yang memegangi kedua tangannya, ia segera berbalik dan keluar dari kamar.

"Rias!"

Naruto berusaha mengejar Rias tapi Gabriel menahannya.

"Naruto,"

"Gabriel, aku ingin mengejarnya," ucap Naruto kepada Gabriel.

"Sudah jangan dikejar, dia tidak baik untukmu," sahut Gabriel kepada Naruto.

"Tapi-"

"Naruto." Gabriel berusaha meyakinkan sambil memegangi tangan Naruto.

Entah mengapa seperti sebuah nada perintah yang Naruto dengar, Naruto hanya dapat menuruti ucapan sang gadis bersurai pirang panjang itu.

Sementara Rias keluar dari kediaman Naruto sambil menangis pilu. Ia tidak menyangka jika ia akan mendapatkan hal seperti ini. Ia berjalan cepat sambil menunduk dan mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, menuju sebuah halte bus untuk kembali ke kost-annya.

.

.

.

Di dalam bus..

Rias duduk sendiri di kursi nomor tiga dari belakang. Ia duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan yang berlalu begitu cepat. Ia pun teringat dengan pesan sang ibu saat hatinya terasa sakit seperti sekarang ini.

Saat itu Rias berniat meninggalkan sang ibu yang tinggal di desa, ia berniat untuk tetap tinggal di kota. Ia tak mengindahkan ucapan sang ibu dan tetap kukuh dengan pendiriannya.

"Rias, ibu mohon hentikan aksi balas dendammu itu, Nak."

Sang ibu bersurai cokelat memperingatkan sang anak. Tubuhnya masih terlihat berada di bilangan usia muda dengan rambut sebahu dan mengenakan daster hijau tanpa lengan setinggi lutut.

"Ibu, jangan karena kita orang tidak punya keluarganya bisa menginjak-nginjak kita seperti ini!" seru Rias kepada ibunya.

"Tapi Akeno tidak bersalah, Rias. Semua ini kesalahan kami para orang tua kalian. Ini tidak ada hubungannya dengan Akeno."

Sang ibu berbicara sambil berurai air mata.

"Tidak, Bu. Buah tidak akan terjatuh jauh dari pohonnya. Begitu pun dengan Akeno tidak akan jauh berbeda dengan ibunya. Aku akan tetap membalaskan dendamku dan membuatnya menanggung penderitaan. Sama seperti yang aku rasakan."

Rias kemudian beranjak pergi meninggalkan ibunya.

"Rias, tunggu! Hukum karma itu akan selalu berlaku, Rias."

Sang ibu berusaha mengejar anaknya.

"Tidak ada hukum karma bagiku, Bu. Yang ada hanya balas dendam."

BRAK!

Rias kemudian menutup pintu rumahnya dari luar, ia segera pergi meninggalkan sang ibu, meninggalkan desanya dengan menaiki sebuah taksi.

"Rias ..."

Sang ibu hanya bisa menangis melihati kepergian anaknya.

Kejadian itu sudah sangat lama, tapi Rias masih mengingatnya. Ia kemudian mengambil handphonenya dan membuka sebuah foto kenangan lama.

"Ibu, ternyata benar hukum karma itu berlaku. Sekarang aku merasakan apa yang Akeno rasakan. Begitu pedih, di saat melihat kekasih kita tidur bersama gadis lain di hadapan kedua mata kita sendiri."

"Ibu ...," Rias memeluk handphonenya, menaruhnya di dalam dekapannya sambil berurai air mata. Ia tidak menyangka jika semua itu akan ia rasakan.

Apa yang ditanam itulah yang akan dituai, Rias menanam kepiluan untuk Akeno dan akhirnya ia sendiri mengalami kepiluan yang sama seperti yang Akeno rasakan.

.

.

.

08.00 am.

"Naruto, aku minta maaf. Aku tahu aku salah." Gabriel tertunduk di hadapan Naruto.

"Sudahlah, semua sudah terjadi."

Naruto berbicara sambil menutup pintu rumahnya, ia memakai t-shirt kuning berlapis jaket hitam, jeans biru dan sepatu sport putih. Sambil membawa tas punggung hitamnya yang ia sampirkan di pundak kanannya.

"Naruto, aku ..." Gabriel merasa sangat tidak enak hati dengan kejadian yang baru saja ia alami.

"Sudah, tak apa." Naruto mengusap-ngusap kepala Gabriel, ia berusaha bersikap biasa saja atas apa yang telah terjadi.

"Hemm." Gabriel kemudian tersenyum senang karena Naruto berbaik hati kepadanya.

"Naruto, aku berterima kasih karena kau sudah berbaik hati memberiku tempat inap. Sebagai balasannya aku tinggalkan semua barang belanjaanku untukmu," ucap Gabriel sambil berjalan keluar halaman rumah Naruto

"Kau tidak perlu repot-repot, Gabriel," sahut Naruto sambil terus berjalan bersama Gabriel.

"Tak apa," balas Gabriel yang tampak malu-malu berjalan bersama Naruto.

Akhirnya tak lama mereka pun tiba di sebuah halte bus dan selang beberapa menit kemudian sebuah mobil Lexus hitam berhenti di hadapan keduanya.

"Naruto, aku duluan ya. Sekali lagi, terima kasih."

Gabriel membungkukkan tubuhnya ke arah Naruto, membuat Naruto semakin merasa bingung menjadi-jadi akan sosok gadis yang ia beri tempat inap semalam.

'Siapa sebenarnya gadis ini?' tanya Naruto di dalam hati.

"Naruto,"

Gabriel menyapa lagi sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Naruto.

CUP!

"Mmh..."

Sebuah kecupan mesra Gabriel berikan untuk Naruto sambil memegangi kepala Naruto dengan kedua tangannya.

"Gabriel?" Naruto terkejut dengan tingkah Gabriel yang sangat berani itu.

"Sampai jumpa, Naruto. Daaah..."

Gabriel kemudian meninggalkan Naruto setelah melepas cumbuannya. Ia segera masuk ke dalam mobil Lexus hitam itu.

"Gabriel," Naruto terkesima atas apa yang ia rasakan, sambil melihat kepergian Gabriel dari hadapannya.

Gabriel sendiri terlihat melambaikan tangannya ke arah Naruto sambil tersenyum, kemudian menutup kaca mobilnya.

"Gabriel, aku akan mengingatmu," bisik Naruto pelan yang tak lama sebuah bus datang menghampirinya.

Naruto kemudian menaiki bus yang menuju ke arah kampusnya, kebetulan ia mendapat jam kuliah pagi di hari itu.

.

.

.

Tujuh jam kemudian di kampus Naruto.

Naruto telah menyelesaikan semua jam kuliahnya pada hari itu, ia tengah berjalan bersama Sasuke sambil melihat mahasiswa lain yang sedang bermain basket. Mereka mengobrol kosong tentang mata kuliah yang baru saja mereka dapat.

Keduanya lalu melintasi sebuah lapangan basket yang tampak sedang dipakai bermain basket oleh beberapa orang mahasiswa.

"Naruto, kau lihat itu?" tanya Sasuke yang memakai t- shirt putih dibalut jaket hitamnya, jeans hitam dan juga sepatu sport hitam. Ia membawa tas punggung hitam yang ia sampirkan di pundak kirinya.

"Yang mana?" tanya Naruto lagi.

"Itu yang memakai kaca mata!" tunjuk Sasuke ke arah seorang pemuda yang sedang bermain basket.

"Siapa dia, Sasuke?" tanya Naruto lagi.

"Dia Sai, dia calon anggota baru kita," jawab Sasuke sambil tersenyum kecil.

"Apaa?!" Naruto terbelalak mendengarnya.

"Iya, Naruto. Dia sangat jago bermain keyboard. Dia sangat pantas mendapatkan posisi itu di dalam band kita," lanjut Sasuke.

"Kau yang benar saja, Sasuke. Dia itu berkaca mata. Bagaimana bisa mengiringi band kita nanti?" tanya Naruto.

"Hei, Naruto. Jangan pernah melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Jangan sok tahu! Kau belum mengenalnya lebih jauh." desak Sasuke.

"Bukan begitu, Sasuke. Aku hanya khawatir jika nanti dia tidak dapat mengiringi lagu yang kita bawakan. Bisa habis kita berdua dilahap si shanaro itu," tutur Naruto sambil mengingat sebuah nama seorang gadis yang tak lain adalah kekasih Sasuke sendiri.

"Hahaha, kau tenang saja, Naruto. Aku sudah membicarakan hal ini kepada Sakura dan dia menyetujuinya," balas Sasuke berusaha menenangkan temannya.

"Huuftt, baiklah kalau begitu," sahut Naruto yang pasrah.

"Yosh! Sudah diputuskan. Besok kita akan bertemu di studio jam sepuluh pagi. Jangan sampai kau telat datang ya, Naruto." Sasuke berpesan kemudian.

"Hah, baiklah," sahut Naruto yang malas.

Mereka kemudian berjalan bersama menuju gerbang kampus. Kedua sahabat itu kemudian berpisah, Sasuke pulang bersama Sakura sedang Naruto pulang sendiri. Ia berjalan kaki keluar dari kampusnya lalu pergi menuju stasiun kereta.

"Untung saja hari ini aku tidak bertemu Raynare-sensei. Kalau iya, habislah aku!" ucapnya sambil terus berjalan menuju stasiun kereta api bersama khalayak ramai.

.

.

.

Di stasiun kereta api.

Beberapa menit kemudian, Naruto telah sampai di stasiun kereta api yang berada tak jauh dari kampusnya. Seperti biasa, Naruto menunggu kedatangan kereta api di gerbong kelima.

Dia menunggu sambil berdiri, sesekali melihat ke arah kanan dan kiri menghilangkan rasa suntuknya.

Tak lama yang dinanti pun datang menghampiri, sebuah kereta api berhenti di stasiun kereta tepat pada jamnya. Dan Naruto pun menunggu para penumpang turun terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalamnya.

Tanpa sengaja, ia melihat sesosok gadis berambut hitam panjang terkuncir satu dengan pita warna hitam yang sedang berusaha turun dari gerbang ketujuh. Gadis itu berpakaian kemeja putih lengan pendek dengan rok hitam ketat setinggi lutut, bersepatu pantofel hitam sambil membawa sebuah tas yang berwarna krim.

"Akeno ..."

Terbesit nama sang mantan saat ia melihat sosok gadis yang hanya dipisahkan satu gerbong kereta. Merasa diperhatikan, sang gadis lalu menoleh ke arah sebelah kanannya tepat di mana barisan gerbong keenam, kelima dan seterusnya berada.

Sang gadis pun terkejut di saat melihat seorang pemuda yang ia kenal sudah sangat lama.

"Naruto ..."

Sang gadis menyebut nama Naruto sambil menatapnya dari jarak yang cukup jauh.

"Akeno, ternyata benar itu kau, Akeno." Naruto masih memandangi sang gadis sambil berusaha tersenyum.

Ada kenangan yang terlintas di benak Naruto dan gadis itu yang memang benar adalah Akeno.

Mereka berdiri sambil tetap berdiam, menatap satu sama lain di antara banyaknya penumpang di stasiun kereta yang lalu-lalang.

Akeno pun teringat kenangannya bersama Naruto.

.

.

.

Lebih dari setahun yang lalu...

"Naruto ...."

Akeno tengah tertidur di dada Naruto yang bidang. Tubuh keduanya hanya tertutupi selimut tebal berwarna putih. Mereka sedang berada di sebuah hotel di dekat pantai.

"Naruto, bagaimana jika suatu hari nanti aku hamil?" tanya Akeno sambil merebahkan kepalanya di dada Naruto.

Naruto membelai mesra rambut Akeno yang terurai panjang itu.

"Akeno, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu. Aku berjanji, Hime ...," ucap Naruto menyakinkan.

"Benarkah, walau masalah apapun yang mendera kita?" tanya Akeno lagi.

"Iya, Sayang," balas Naruto sambil memeluk erat tubuh Akeno lalu mengecup kening sang hime.

"Naruto, apa kau juga berjanji tidak akan pernah meninggalkanku?" tanya Akeno lagi.

"Iyah, aku janji." Naruto kemudian mencium mesra bibir Akeno.

Akeno kemudian membalas pelukkan itu, rasa nyaman Akeno rasakan saat Naruto berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.

Tapi, semua itu hanya tinggal kenangan, hanya sebuah janji yang tidak pernah terjadi, tidak pernah ditepati.

.

.

.

"Akeno!"

Perlahan-lahan Naruto mendekati Akeno, ia berjalan di antara keramaian menuju sang hime. Sementara Akeno masih terdiam sambil berlinang air mata.

"Naruto," ucap Akeno pelan, ia tidak percaya jika dapat berjumpa kembali dengan sang mantan.

Akeno menatap Naruto penuh haru sambil menahan sesak di dada. Ya, sang mantan sekarang tengah berada di hadapan kedua matanya.

.

.

.

TBC